111 article(s) in Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)

IDENTIFIKASI KROMOSOM HOMOLOG MELALUI DETEKSI NUCLEOLUS ORGANIZER REGIONS DENGAN PEWARNAAN Agno3 PADA TANAMAN BAWANG MERAH - IN PRESS -

generally, the standard procedure for karyotype analysis of shallot is sorted by chromosome sizes. therefore, the identification of homologous chromosomes is difficult without using a specific probe. nucleolus organizing regions (nors) can be used as a probe for precise identification of homologous chromosomes. however, the use of nors for plant karyotyping in indonesia is poorly investigated. in this study, shallot chromosomes were prepared using modified carnoy’s solution ii, fixed in carnoy’s solution, and stained by using aceto-carmine and agno3 for detecting nors. chromosome images were analyzed by chias iv. one locus nor bearing chromosome pair was detected at metaphase and interphase, and it was located at short arms of subtelomeric chromosome number 6. nors can be used as a probe for precise identification of homologous chromosomes in shallot. therefore, this technique has the potential to be applied on species closely related to shallot and on other plant species.keywords: agno3, chromosome condensation, nors, shallot chromosome, shallot karyotype abstrakprosedur kariotipe untuk bawang merah umumnya masih disusun berdasarkan ukuran kromosom, sehingga diperlukan suatu penanda yang dapat mengidentifikasi kromosom homolog secara presisi. identifikasi kromosom homolog secara presisi menggunakan suatu penanda, khususnya deteksi nucleolus organizing regions (nors), yang di indonesia masih jarang dilakukan. penelitian ini bertujuan untuk membuat kariotipe dan mengidentifikasi kromosom homolog bawang merah melalui deteksi nors menggunakan metode pewarnaan agno3. proses fiksasi akar dilakukan dengan menggunakan modifikasi larutan carnoy ii, lalu difiksasi dengan larutan carnoy, dan kromosom diwarnai dengan aceto-carmine dan larutan agno3 untuk mendeteksi nors. selanjutnya, citra kromosom dianalisis menggunakan chias iv. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sepasang nors yang terdeteksi pada fase metafase dan interfase yang  terletak pada bagian lengan pendek di kromosom subtelosentrik nomor 6. hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar di bidang sitogenetika bawang merah untuk mengidentifikasi kromosom homolog secara presisi menggunakan penanda nor. oleh karenanya, teknik ini dapat diaplikasikan pada spesies yang berdekatan dengan bawang merah dan komoditas tanaman lainnya.kata kunci: agno3, kariotipe bawang, kondensasi kromosom, kromosom bawang, nors Show More ... ... Show Less

  • Homologous Chromosomes
  • Carnoy’S Solution
  • Precise Identification
  • Chromosome Number
  • Chromosome Pair
PENGARUH SEREAL BERBAHAN SAGU DAN Moringa Oleifera TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS YANG DIINDUKSI ALOKSAN - IN PRESS -

the effects of cereal made from sagu and moringa oleifera on the blood glucose level of alloxan-induced ratsdiabetes mellitus (dm) type 2 could increase oxidative stress and blood glucose level. resistant starch compounds in cersa mori have an antidiabetic properties.this research aimed to analyze the effect of cersa mori on fasting blood glucose (fbg) level of diabetic white rats induced by alloxan. this is a true experimental study with a randomized pre-post control group design using 27 male wistar strain rats divided into 3 groups randomly, i.e (kn) feed and aquades, (kp) glibenclamide 0.126mg/200gbb/day, (p) cersa mori 5g/200gbb/day. kp and p groups were given alloxan 125 mg/kgbb subcutaneously and the intervention was carried out for 30 days. fbg level was measured using the god-pap method. the results of paired t-test showed the effect of cersa mori on lowering fbg level in hyperglycemic rats (p=0,006). one-way anova test showed that cersa mori reduced fbg level, which was equalent to those given glibenclamide (p=0,366). it can be concluded that giving cersa mori 5g/200gbb/day for 30 days had a significant effect on lowering fbg level. keywords: alloxan; cersa mori; diabetic rats; fasting blood glucose level; resistant strachabstrakdiabetes mellitus (dm) tipe 2 dapat memicu stres oksidatif dan meningkatkan kadar glukosa darah puasa (gdp). senyawa pati resisten dalam sereal siap saji cersa mori memiliki sifat antidiabetik. penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian cersa mori terhadap kadar glukosa darah tikus putih diabetes yang diinduksi aloksan. penelitian true-experimental ini menggunakan randomized pre-post control group design. sampel sebanyak 27 ekor tikus jantan galur wistar dibagi menjadi 3 kelompok secara acak yaitu; (kn) pakan dan akuades, (kp) glibenklamid 0,126 mg/200gbb/hari, (p) cersa mori 5g/200gbb/hari. kp sampai p diberikan aloksan 125 mg/kgbb secara subkutan dan intervensi dilakukan selama 30 hari. pengukuran gdp menggunakan metode god-pap. hasil uji-t menunjukkan pengaruh cersa mori dalam menurunkan gdp tikus hiperglikemia (p=0,006). uji anova satu arah menunjukkan penurunan gdp pada kelompok cersa mori (p) setara dengan tikus yang diberi glibenklamid (p=0,366). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian cersa mori dosis 5g/200gbb/hari selama 30 hari berpengaruh terhadap penurunan gdp secara signifikan Show More ... ... Show Less

  • Blood Glucose Level
  • Moringa Oleifera
  • Control Group
EKSTRAKSI DAN IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER DARI ISOLAT AL6 SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Escherichia Coli

extraction and identification of secondary metabolites from al6 isolates and its potential as antibacterial against escherichia coliabstractsecondary metabolites in the form of antibiotics can be produced by rhizospheric bacteria. al6 bacterial isolate, which is one of the bacterial isolates from the rhosphere of saccarum officinarum l., is known to produce antibiotic compounds. this study aims to determine the activity of antibiotics from al6 ethyl acetate extracts produced by al6 bacterial isolates, to analyze the minimum inhibitory concentration (mic) and the similarity of the active substances using gcms. the ethyl acetate extract obtained was tested for mic at 1.25%, 2.5%, 5.0%, 10.0%, 20%, and 40% concentrations. detection of potential antibiotic spots was carried out using bioautographic thin layer chromatography (tlc). compounds responsible for antibiotic activity were analyzed using gcms. minimum inhibitory levels obtained reached 2.5%. the active spots responsible for antibiotic activity against escherichia coli at rf 0.94. components detected using gcms and suspected to be antibiotics include chloroform; ethane, 1,1-dimethoxy-(cas) dimethyl acetal; dan 1,3-dioxolane, 2-methoxymethyl-2,4,5-trimethyl.keywords: al6 bacterial isolate; antibiotic; escherichia coli; gcms; micabstrakmetabolit sekunder berupa antibiotik dapat diproduksi oleh bakteri rizosfer. isolat bakteri al6, salah satu isolat bakteri dari rizosfer saccarum officinarum l., diketahui dapat menghasilkan senyawa antibiotik. penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibiotik dari ekstrak etil asetat antibiotik al6 yang dihasilkan isolat bakteri al6, menganalisis kadar hambat minimum (khm), serta kemiripan zat aktif menggunakan gcms. ekstrak etil asetat yang diperoleh diuji khm-nya pada konsentrasi 1,25%, 2,5%, 5,0%, 10,0%, 20%, dan 40%. deteksi bercak yang berpotensi sebagai antibiotik dilakukan menggunakan kromatografi lapis tipis (klt) bioautografi. senyawa yang berperan dalam aktivitas antibiotik dianalisis menggunakan gcms. kadar hambat minimal yang diperoleh mencapai 2,5%. hasil uji klt bioautografi memperlihatkan bercak aktif sebagai antibiotik terhadap escherichia coli pada rf 0,94. komponen senyawa yang terdeteksi menggunakan gcms dan diduga sebagai antibiotik antara lain chloroform; ethane, 1,1-dimethoxy-(cas) dimethyl acetal; dan 1,3-dioxolane, 2-methoxymethyl-2,4,5-trimethyl Show More ... ... Show Less

  • Escherichia Coli
  • Ethyl Acetate
  • Dimethyl Acetal
  • Bacterial Isolates
IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT PURPLE SYNDROME PADA KARANG FUNGIA DI PULAU HARI SULAWESI TENGGARA

identifikasi bakteri patogen penyebab penyakit purple syndrome pada karang fungia di pulau hari sulawesi tenggara nowadays coral disease is one of the causes of damage to coral reefs in indonesia. causative agents were found for some types of coral disease. this study aims to identify the type of pathogenic bacteria that cause purple syndrome which attacks fungia corals. the study was conducted using descriptive exploratory methods. corals infected with purple syndrome were collected on pulau hari, southeast sulawesi, through scuba diving. then, microbiological analysis was carried out which included isolation using the scatter method, purification using a scratch method, a challenge test (antagonistic), a koch postulate test, and dna analysis of putative bacterial isolates. results showed that 5 bacterial isolates lived in symbiosis with the corals infected with purple syndrome (psmh1, psmh2, psmh3, psmh4, and psmh5). based on the koch postulate test, 2 bacterial isolates which were pathogenic were obtained, namely pshm2 and pshm4 isolates. these bacteria infected the test corals with the characteristics of coral skeleton damage and coral bleaching (dead). based on biomolecular testing, the two isolates were members of enterobacter cloacae with a 99% similarity level.keywords: coral disease; enterobacter cloacae; fungia coral; hari island; purple syndromeabstraksaat ini penyakit karang menjadi salah satu penyebab kerusakan terumbu karang di indonesia. penyebab pembawa untuk beberapa jenis penyakit karang sudah ditemukan. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri patogen penyebab penyakit purple syndrome yang menyerang karang fungia. penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif eksploratif. sampel karang yang terinfeksi purple syndrome diambil di pulau hari, sulawesi tenggara, melalui scuba diving. selanjutnya, analisis mikrobiologi dilakukan yang meliputi isolasi menggunakan metode sebar, purifikasi menggunakan metode gores, uji tantang (antagonistik), uji postulat koch, dan analisa dna isolat bakteri yang diduga bersifat patogen. hasil penelitian menemukan 5 isolat bakteri yang bersimbiosis dengan karang yang terinfeksi penyakit purple syndrome (psmh1, psmh2, psmh3, psmh4, dan psmh5). berdasarkan uji postulat koch, 2 isolat bakteri yang bersifat patogen didapatkan, yaitu isolat pshm2 dan pshm4. bakteri tersebut menginfeksi karang uji dengan ciri kerusakan skeleton karang dan pemutihan karang (mati). berdasarkan uji biomolekuler kedua isolat tersebut merupakan anggota enterobacter cloacae dengan tingkat kemiripan 99 Show More ... ... Show Less

  • Coral Disease
  • Enterobacter Cloacae
  • Bacterial Isolates
  • Scuba Diving
  • Coral Reefs
OPTIMASI TEKNIK WESTERN BLOT UNTUK DETEKSI EKSPRESI PROTEIN TANAMAN PADI (Oryza Sativa L.)

optimization of western blot technique for protein expression of rice plant (oryza sativa l.) western blot (wb) technique has been widely used for analyzing protein expression and for identifying specific proteins derived from animals, plants, and microorganisms. during the use of wb, especially in agricultural studies, some difficulties are encountered such as unclear or unspecific protein bands, the presence of bubbles, and the absence of protein bands on membrane. this study aims to determine the wb conditions appropriate for the protein expression of rice plants (oryza sativa l.). protein from rice plant was extracted and the obtained protein lysate was then used for proteomic analysis using western blot with β-actin antibody. our experiment showed that some optimized parameters like blocking buffers, the concentration of primary antibody and the ratio of secondary antibody determined the clarity of the results. β-actin was used as internal control that measured the success of the wb technique. results showed that lysis process was important in determining good wb results in addition to the optimal blocking solution using a bsa of 0.2%, a primary antibody concentration of 1 μg ml–1, and a secondary antibody of 1:10,000. optimizing techniques during extraction, incubation, and documentation facilitated good wb results.keywords: β-actin; optimization; protein; rice plant; western blotabstrakteknik western blot (wb) telah banyak digunakan untuk analisis ekspresi protein dan mengidentifikasi protein spesifik dari hewan, tumbuhan dan mikroorganisme. dalam implementasi teknik wb, khususnya studi dalam bidang pertanian, beberapa kesulitan ditemui seperti pita protein tidak jelas, tidak spesifik, adanya gelembung, hingga tidak munculnya pita protein pada membran. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi wb yang tepat untuk deteksi protein tanaman padi (oryza sativa l.). protein tanaman padi diekstraksi, kemudian lysate protein yang didapat dianalisis dengan metode westernblot menggunakan antibody β-actin. penelitian kami menunjukkan bahwa beberapa parameter yang dioptimasi seperti larutan blocking, konsentrasi antibodi primer dan rasio antibodi sekunder akan menentukan hasil yang jelas. β-actin digunakan sebagai kontrol internal yang menjadi tolok ukur keberhasilan teknik wb. hasil menunjukkan bahwa proses lisis menjadi hal penting dalam menentukan hasil wb yang baik disamping larutan blocking yang optimal menggunakan bsa 0,2%, konsentrasi antibodi primer 1 µg ml–1 dan antibodi sekunder 1:10.000. mengoptimalkan teknik selama ekstraksi, inkubasi dan dokumentasi membantu mendapatkan hasil wb yang baik Show More ... ... Show Less

  • Western Blot
  • Oryza Sativa L
  • Protein Expression
  • Rice Plant
OPTIMASI PERMUKAAN RESPON MEDIUM FERMENTASI Streptomyces Prasinopilosus SEBAGAI ANTIFUNGI TERHADAP PATOGEN Ganoderma Boninense - (IN PRESS-FUTURE ISSUE)

response surface optimization of medium fermentation for streptomyces prasinopilosus as an antifungal against ganoderma boninenseabstractganoderma boninense is one of the pathogenic fungi that cause basal stem rot (bpb) on oil palm plants. this research aims to study the effect of carbon sources, nitrogen sources, and minerals on the production of streptomyces prasinopilosus active compounds. lactose, yeast extract, and minerals are medium components that show a real influence on the production of s. prasinopilosus active compounds. optimization of the factors that have significant influence was predicted by the second-order model, statistically through a central composite design (ccd). the highest s. prasinopilosus active compound production, with a medium composition of 44.77 g l-1 lactose, 13.02 g l-1 yeast extract, and 15.95 ml l-1 mineral solution, was predicted by the quadratic model to reach 32,269,366.338 peak area unit on high-performance liquid chromatography (hplc). the verification of the mathematical model of the production of the active compounds through experiments in the laboratory was 27,203,907.310 peak area unit. this result was 15.7% lower compared to the result of the quadratic model. optimization increased s. prasinopilosus active compound 9-fold compared to that before optimization.keywords: active compound, g. boninense, optimization, rsm, s. prasinopilosus abstrakganoderma boninense merupakan salah satu jamur patogen yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang atau biasa disebut bpb pada tanaman kelapa sawit. penelitian bertujuan mempelajari pengaruh sumber karbon, sumber nitrogen, dan mineral terhadap produksi senyawa aktif s. prasinopilosus. laktosa, yeast extract, dan mineral adalah komponen medium yang menunjukkan pengaruh nyata terhadap produksi senyawa aktif s. prasinopilosus. optimasi terhadap faktor yang berpengaruh nyata diprediksi dengan model orde dua melalui rancangan statistis central composite design (ccd). produksi senyawa aktif s. prasinopilosus tertinggi diprediksi oleh model kuadratik mencapai 32.269.366,338 luasan puncak kromatografi cair kinerja tinggi (kckt) dengan komposisi medium laktosa 44,77 g l-1, yeast extract 13,02 g l-1, dan larutan mineral 15,95 ml l-1. verifikasi model matematis produksi senyawa aktif yang dihasilkan melalui percobaan di laboratorium adalah sebesar 27.203.907,310 luasan puncak kromatogram kckt. hasil ini lebih rendah 15,7% dibandingkan dengan model kuadratik hasil optimasi. optimasi meningkatkan senyawa aktif s. prasinopilosus 9 kali lipat dibandingkan sebelum optimasi.kata kunci: g. boninense, optimasi, rsm, senyawa aktif, s. prasinopilosus Show More ... ... Show Less

  • Yeast Extract
  • Active Compounds
  • Central Composite Design
DEKSTROSA MONOHIDRAT KUALITAS FARMASI DARI PATI Manihot Ecsulenta, Metroxylon Sagu, Zea Mays, Oryza Sativa, Dan Triticum - (IN PRESS-FUTURE ISSUE)

pharmaceutical grade dextrose monohydrate from manihot ecsulenta, metroxylon sagu, zea mays, oryza sativa, dan triticum starch abstract pharmaceutical-grade dextrose monohydrate, one of raw materials used as active pharmaceutical ingredients (api) and additives, can be made from starch. there are five types of local indonesian commercial starch that are potentially used, namely tapioca (manihot esculenta), sago (metroxylon sagu), corn (zea mays), rice (oryza sativa), and wheat (triticum) starch. this study aimed to compare these five starches as raw materials for preparing pharmaceutical-grade dextrose monohydrate which was expected to meet the requirements of the indonesian pharmacopoeia (5th edition) and the united states pharmacopeia (usp). the starch was converted into dextrose monohydrate through liquefaction hydrolysis, saccharification hydrolysis, activated carbon purification and filtration, ion exchange purification, evaporation, crystallization and drying.  high performance liquid chromatogram (hplc) and the luff-schoorl methods were used for dextrose equivalent value (de) analysis. the results showed that only three of the starch types produced pharmaceutical-grade dextrose monohydrate, namely (de) sago starch (107.23% and 100.77%), corn starch (97.86% and 96.19%), and tapioca starch (85.18% and 99.20%).keywords: dextrose equivalent, dextrose monohydrate, hydrolysis, pharmaceutical grade, starchabstrakdekstrosa monohidrat kualitas farmasi, salah satu bahan baku yang digunakan sebagai active pharmaceutical ingredient (api) dan bahan tambahan, dapat dibuat dari bahan pati-patian. terdapat lima jenis pati komersial lokal indonesia yang berpotensi digunakan yakni pati tapioka (manihot esculenta), pati sagu (metroxylon sagu), pati jagung (zea mays), pati beras (oryza sativa), dan pati gandum (triticum). penelitian ini bertujuan membandingkan lima jenis pati tersebut sebagai bahan baku pembuatan dekstrosa monohidrat kualitas farmasi yang diharapkan mampu memenuhi standar persyaratan dari farmakope indonesia edisi v dan united states pharmacopeia (usp). pati diubah menjadi dekstrosa monohidrat melalui hidrolisis likuifikasi, hidrolisis sakarifikasi, pemurnian karbon aktif dan filtrasi, pemurnian ion exchange, evaporasi, kristalisasi dan pengeringan. metode high performance liquid chromatogram (hplc) dan luff-schoorl digunakan untuk analisis dextrose equivalent (de). hasil penelitian menunjukkan hanya tiga jenis pati yang menghasilkan dekstrosa monohidrat kualitas farmasi, yakni (de) pati sagu (107,23% dan 100,77%), pati jagung (97,86% dan 96,19%), dan pati tapioka (85,18% dan 99,20%).kata kunci: dekstrosa monohidrat, dextrose ekuivalen, hidrolisis, kualitas farmasi, pati Show More ... ... Show Less

  • Zea Mays
  • Oryza Sativa
  • Metroxylon Sagu
  • Dextrose Equivalent
  • States Pharmacopeia
SKRINING DAN IDENTIFIKASI MIKROBA LIGNINOLITIK PADA PENGOMPOSAN ALAMI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT

screening and identification of ligninolytic microbes in the natural decomposition of oil palm empty fruit bunch  abstractopefb (oil palm empty fruit bunch)could potentially be utilized as organic fertilizer or animal feed through composting. information on microorganisms that play important roles in the natural decomposition of opefb is to date not much known yet. this research was aimed to obtain and, subsequently, to molecularly identify lignin-degrading microbial isolates responsible for naturally decomposing opefb in the oil plant plantation and palm oil refinery plant, ptpn viii cikasungka, bogor. screening for active lignin-degrading isolates was carried out on 17 naturally decomposing opefb samples. a total of 19 isolates of fungi and 80 isolates of bacteria were obtained. ligninolytic activity was measured by sundman and nase testing methods. ligninolytic activity was found on 13 fungal isolates and 15 bacterial isolates. the active isolates were subsequently identified molecularly based on its sequence in the ribosome dna area for fungi and in 16s rrna genes for bacteria. the results showed that the lignin-degrading microorganisms obtained consisted of 5 bacterial isolates from the genus bacillus and 3 fungal isolates from the genus rhizopus and aspergillus. keywords: composting, lignin, microbes, opefb, 16s rrna abstraktkks (tandan kosong kelapa sawit) berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pakan ternak dengan cara pengomposan. informasi mikroba yang berperan dalam pengomposan alami tkks hingga saat ini belum banyak diketahui. penelitian ini bertujuan mendapatkan isolat mikroba pendegradasi lignin dalam pengomposan alami tkks asal perkebunan dan pabrik pemerasan kelapa sawit, ptpn viii cikasungka, bogor, serta mengidentifikasi mikroba tersebut secara molekuler. skrining mikroba aktif pendegradasi lignin dilakukan terhadap 17 sampel tkks yang sudah lapuk secara alami. sebanyak 19 isolat jamur dan 80 isolat bakteri telah dihasilkan. aktivitas ligninolitik diukur dengan metode pengujian sundman dan nase. isolat jamur yang memiliki aktivitas ligninolitik sebanyak 13 isolat, sedangkan bakteri sebanyak 15 isolat. isolat-isolat aktif tersebut selanjutnya diidentifikasi secara molekuler berdasarkan pada sekuen its di daerah dna ribosom untuk jamur dan menggunakan gen 16s rrna untuk bakteri. hasil menunjukkan bahwa 5 isolat bakteri yang memiliki kemampuan mendegradasi lignin berasal dari genus bacillus, sedangkan 3 isolat jamur pendegradasi lignin berasal dari genus rhizopus dan aspergillus kata kunci: lignin, mikroba, pengomposan, tkks, 16s rrna Show More ... ... Show Less

  • 16S Rrna
  • Oil Palm Empty Fruit Bunch
  • Fungal Isolates
TRANSFORMASI GENETIK DAN EKSPRESI MUTAN SUCROSE PHOSPHATE SYNTHASE PADA TANAMAN TOMAT

genetic transformation and expression of sucrose phosphate synthase mutant in tomato plant abstractsucrose phosphate synthase (sps) is a key enzyme responsible for sucrose biosynthesis. in its regulation, sps activity is modulated by an allosteric effector glucose-6-phosphate (g6p) suggested to have an ability to bind sps n-terminus domain. to understand the role of n-terminus in regulating sps, the sps gene was mutated with the deletion of n-terminus domain (∆n-sps). the ∆n-sps gen was transformed into tomato plants with 5% transformation efficiency. three transgenic tomato plant 4.20, 5.5.1, and 5.10 were obtained and confirmed by pcr analysis. transgenic tomato expression was characterized by enzymatic analysis. result showed that the g6p allosteric regulation in transgenic ∆n-sps had lost and the sps activity increased by 2-fold compared to non-transgenic plant. this showed that n-terminus domain-deleted sps could be actively expressed in plant. keywords: enzyme, genetic transformation, n-terminus domain deletion, sucrose phosphate synthase, tomato abstraksucrose phosphate synthase (sps) merupakan enzim kunci yang bertanggung jawab dalam sintesis sukrosa. dalam regulasinya, aktifitas sps dipengaruhi oleh alosterik efektor glukosa-6-fosfat (g6p) yang diduga dapat berikatan pada domain n-terminus sps. untuk mengetahui peran n-terminus pada regulasi sps, dilakukan mutasi sps dengan penghilangan domain n-terminus (∆n-sps). gen ∆n-sps diinsersi pada tanaman tomat melalui transformasi genetik dengan efisiensi transformasi 5%. tiga tanaman transgenik tomat (event4.20; 5.5.1; dan 5.10) didapatkan dan positif terkonfirmasi melalui analisis pcr. ekspresi mutan dikarakterisasi melalui analisis enzimatik. hasil menunjukkan bahwa tanaman tomat transgenik ∆n-sps tidak dipengaruhi regulasi alosterik g6p dan aktifitas sps 2 kali lipat lebih tinggi daripada tanaman bukan transgenik. ini menunjukkan bahwa sps dengan delesi domain n-terminus dapat terekspresi aktif pada tanaman.  kata kunci: delesi domain n-terminus, enzim, sucrose phosphate synthase, tomat, transformasi genetik Show More ... ... Show Less

  • N Terminus
  • Sucrose Phosphate Synthase
  • Genetic Transformation
PERBANDINGAN TIGA KIT EKSTRAKSI RNA UNTUK ANALISIS TRANSKRIPTOMIKA PADA KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq

comparison of three rna extraction kits for transcriptome analysis of oil palm (elaeis guineensis jacq.) abstractobtaining high-quality rna is very important at an early stage of molecular biology research. to isolate rna, high skill and caution are required in following laboratory procedures because rna is easily degraded, especially samples from plant tissue culture. one of the parameters used to check the total rna quality is rin (rna integrity number). the aim of this study was to obtain rna extraction methods on oil palm leaves, callus and somatic embryos that were of good quality and high concentrations for transcriptomic analysis. rna extraction was carried out using plant rna purelink (ambion), genezol rna extraction (geneaid) and ribospintm plant (geneall) kit methods. the results showed that oil palm leaf, callus and somatic embryo rna were successfully extracted using the ribospintm (geneall) kit. based on the total rna number of more than 4 μg and the rin value of more than 7, the extracted rna could be used in rna sequencing for transcriptomic analysis. keywords: callus, oil palm, rna analysis, rna quality, somatic embryo abstrakmenghasilkan rna berkualitas tinggi sangatlah penting pada tahap awal penelitian biologi molekuler. untuk mengisolasi rna diperlukan keterampilan dan kehati-hatian tinggi dalam mengikuti prosedur di laboratorium karena rna lebih mudah terdegradasi, khususnya sampel hasil kultur jaringan tanaman. salah satu parameter yang digunakan pada pengecekan kualitas rna total adalah rin (rna integrity number). penelitian bertujuan mendapatkan metode ekstraksi rna pada daun, kalus dan embrio somatik kelapa sawit yang berkualitas baik dan memiliki konsentrasi tinggi untuk analisa transkriptomika.  ekstraksi rna dilakukan menggunakan metode kit plant rna purelink (ambion), genezol rna extraction (geneaid) dan ribospintm plant (geneall). hasil menunjukkan bahwa rna daun, kalus dan embrio somatik kelapa sawit telah berhasil diekstraksi dengan menggunakan kit ribospintm (geneall). rna hasil ekstraksi tersebut dapat digunakan untuk sekuensing rna dengan tujuan analisis transkriptomika, dilihat dari jumlah total rna yang lebih dari 4 μg dan nilai rin lebih dari 7. kata kunci: analisis rna, embrio somatic, kalus, kelapa sawit, kualitas rna Show More ... ... Show Less

  • Rna Extraction
  • Oil Palm
  • Total Rna
  • Somatic Embryo
  • Elaeis Guineensis Jacq
PENGARUH TEKNIK PENGAPUNGAN HAYATI MELALUI FERMENTASI Rhizopus Sp. TERHADAP KANDUNGAN NUTRISI PAKAN IKAN APUNG

influence of biofloatation technique through rhizopus sp. fermentation on the nutritional quality of the floating fish feedabstractsolid fermentation using the mold rhizopus has been used as an alternative method to improve the physical quality of fish feed, namely stability in water and floatability. although the fermented fish feed produced had been shown previously to have better stability in water and floatability, the effect of the fermentation on the fish feed nutrition has not yet been known. this study aimed to determine the effect of solid fermentation using the mold rhizopus sp. on the nutrient content of the fermented feed. in addition, the effect of adding tapioca as much as 0, 1, 2, 3, and 4 g to the dry weight loss and density of the fermented feed was investigated. the results showed that the fermented feed contained higher levels of ash and protein than that before fermentation. the addition of tapioca up to 4 g had no significat effect (p>0.01) on the dry weight loss of the fermented feed, but tended to increase its density compared to those without tapioca addition.keywords: density, fermentation, fish feed, nutrition, rhizopus abstrakfermentasi padat menggunakan kapang rhizopus telah digunakan sebagai metode alternatif untuk memperbaiki kualitas fisik pakan ikan, yakni stabilitas dalam air dan daya apung. meskipun pakan ikan fermentasi yang dihasilkan sebelumnya sudah dibuktikan memiliki stabilitas dalam air dan daya apung yang lebih baik, namun pengaruh fermentasi terhadap nutrisi pakan ikan tersebut belumlah diketahui. penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh fermentasi padat menggunakan kapang rhizopus sp. terhadap kandungan nutrisi pakan fermentasi, dan pengaruh penambahan tapioka sebanyak 0, 1, 2, 3, dan 4 g terhadap kehilangan berat kering dan mass jenis pakan hasil fermentasi. hasilnya menunjukkan bahwa pakan fermentasi mengandung kadar abu dan protein lebih tinggi dibandingkan sebelum difermentasi. penambahan tapioka hingga 4 g tidak berpengaruh nyata (p>0,01) pada kehilangan berat kering pakan fermentasi, namun cenderung meningkatkan massa jenis dibandingkan tanpa penambahan tapioka.kata kunci: fermentasi, massa jenis, nutrisi, pakan ikan, rhizopus Show More ... ... Show Less

  • Fish Feed
  • Fermented Feed
  • Rhizopus Sp
  • Weight Loss
  • Dry Weight
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI METANOL DAN LAMA INDUKSI TERHADAP EKSPRESI PROINSULIN OLEH Pichia Pastoris SECARA INTRASELULER

the effects of variation in methanol concentration and induction time on intracellular proinsulin expression by pichia pastoris abstractdiabetes is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia. there were 215 million diabetic patients in 2014 and the number is expected to rise in 2040. generally, insulin is used to treat diabetic patients. insulin production by recombinant technology has been done, though still inefficient, by using e. coli and s. cerevisiae expression system. another alternative expression system is methylotrophic yeast pichia pastoris. in this research, proinsulin has been expressed by p. pastoris intracellularly. p. pastoris strains used in this research were x33, gs115, and km71h. all recombinant strains were muts. best cultivation media was bmgy. proinsulin expression was observed at 25°c. pichia pastoris strain that expressed proinsulin best was gs115-pi. it was supported by pcr in which the strain gs115-pi gave 504 bp-sized bands. based on proinsulin formation time, the final methanol concentration of 0.5% in 72 hours was found to be the best treatment.keywords: bmgy, methanol, phenotype, pichia pastoris, proinsulin abstrakdiabetes melitus merupakan kelainan yang ditandai dengan hiperglikemia. penderita diabetes pada tahun 2014 di dunia mencapai 215 juta dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2040. umumnya penderita diabetes diberi pengobatan insulin sehingga menunjukkan akan ada peningkatan kebutuhan insulin. produksi insulin dengan teknologi dna rekombinan telah dilakukan dengan menggunakan sistem ekspresi e. coli dan s. cerevisiae namun masih belum efisien. sistem alternatif lain adalah ragi metilotropik pichia pastoris. dalam penelitian ini dilakukan ekspresi proinsulin dari p. pastoris secara intraseluler. galur p. pastoris yang digunakan dalam penelitian ini adalah x33, gs115, dan km71h. semua galur rekombinan adalah muts. media tumbuh terbaik adalah bmgy. ekspresi proinsulin terlihat pada suhu 25°c. hasil pcr menunjukkan bahwa galur gs115-pi yang dapat menghasilkan pita amplikon berukuran 504 bp. hasil pcr ini dibuktikan oleh hasil seleksi galur yang menunjukkan bahwa galur gs115-pi dapat mengekspresi proinsulin dibandingkan galur lainnya. berdasarkan kecepatan pembentukan pita protein proinsulin, variasi konsentrasi akhir metanol 0,5% dengan lama induksi 72 jam merupakan perlakuan terbaik.kata kunci: bmgy, fenotipe, metanol, pichia pastoris, proinsulin Show More ... ... Show Less

  • Pichia Pastoris
  • Expression System
  • Methanol Concentration
  • Diabetic Patients
  • E Coli
Copyright Transfer Statement
  • 2017;
  • Copyright Transfer
EMBRIOGENESIS SOMATIK IN VITRO DAN REGENERASI PLANLET DARI TIGA VARIETAS ALFALFA (Medicago Sativa L

in vitro somatic embryogenesis and plantlet regeneration of three varieties of alfalfa (medicago sativa l.)abstractalfalfa (medicago sativa l.) is a valuable plant as a source of food for animal, forage, pharmaceutical, medicine, food supplement, and human consumption.  in vitro selection technology combined with induction or spontaneous mutagenesis has been effective in altering or isolating genetic variability for desirable characters.  consequently, a reproducible in vitro propagation technique of that plant is mandatory. the aim of the research was to obtain information on the embryogenic callus induction, somatic embryogenesis, and plantlet regeneration of three varieties of alfalfa. the results showed that an optimum embryogenic callus induction (82%) was obtained on murashige & skoog (ms) basal medium containing 2 ppm 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-d), 2 ppm kinetin and 2 ppm a-naphthaleneacetic acid (naa). those embryogenic calli could subsequently develop into somatic embryos, which germinated and regenerated into normal plantlets on r1 medium consisting of ms nutrients without the addition of plant growth regulator.keywords: alfalfa, callus, embryogenic, plantlets, regeneration abstrakalfalfa (medicago sativa) adalah tanaman berharga sebagai sumber makanan untuk hewan, yaitu hijauan pakan ternak, farmasi, obat-obatan, suplemen makanan dan konsumsi manusia. teknologi seleksi in vitro yang dikombinasikan dengan induksi atau mutagenesis spontan telah terbukti efektif dalam mengubah atau mengisolasi variabilitas genetik untuk karakter yang diinginkan. oleh sebab itu, keberhasilan teknik perbanyakan in vitro yang telah terbukti dapat direproduksi dari tanaman tersebut menjadi syarat yang harus terpenuhi. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai induksi kalus embriogenik, embriogenesis somatik dan regenerasi planlet dari tiga varietas alfalfa. hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi kalus embriogenik optimal (82%) didapat pada media murashige & skoog (ms) dengan  2 ppm 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-d), 2 ppm kinetin dan 2 ppm a-naphthaleneacetic acid (naa). kalus embriogenik tersebut dapat membentuk embrio somatik, embrionya berkecambah dan beregenerasi membentuk planlet normal pada perlakuan media r1 yaitu nutrisi ms tanpa penambahan zat pengatur tumbuh.kata kunci: alfalfa, embriogenik, kalus, planlet, regenerasi Show More ... ... Show Less

  • In Vitro
  • Medicago Sativa L
  • Somatic Embryogenesis
  • Callus Induction
EKSTRAK KAYU TEGERAN (Cudrania Javanensis Trécul) SEBAGAI ANTI JAMUR Peniophora Sp

antifungal activity of tegeran wood (cudrania javanensis trécul) extracts against fungus peniophora sp.  abstractthe fungus peniophora sp. can degrade natural dyes, causing discoloration on batik cloth. this study was aimed to evaluate the antifungal activity of tegeran wood (cudrania javanensis) extracts against peniophora sp. isolated from the aqueous extract of mahogany (swietenia mahagoni) bark. aqueous and methanol extraction procedures gave tegeran wood extracts whose concentrations were then varied into 100, 250 and 500 ppm. phytochemical analysis of the extracts were carried out, and the results showed that the average values of the total polysaccharides and terpenoids of both aqueous and methanol extracts did not differ significantly (p<0.05), whereas those of polyphenols did (p<0.05). the total polyphenols of the methanol extract (484.723 mg gae/g) was higher than that of the aqueous extract (389.903 mg gae/g). results showed that the methanol extract of tegeran wood showed higher antifungal activity against peniophora sp. than the aqueous extract, and was also higher than ketoconazole control (100 ppm). the minimum inhibitory concentration of the methanol extract against peniophora sp. growth was of 500 ppm with the antifungal activity value (afa) of 76.30%.keywords: antifungal activity, cudrania javanensis, peniophora sp., swietenia mahagoni, wood extract abstrakjamur peniophora sp. dapat mendegradasi zat warna alam sehingga warna yang dihasilkan pada kain batik lebih pudar. penelitian ini dilakukan untuk mempelajari aktivitas anti jamur dari ekstrak kayu tegeran (cudrania javanensis) terhadap peniophora sp. yang diisolasi dari ekstrak air kulit mahoni (swietenia mahagoni). ekstraksi menggunakan metanol dan air, menghasilkan ekstrak kayu tegeran, yang kemudian konsentrasinya divariasi menjadi 100, 250 dan 500 ppm. analisis fitokimia ekstrak kayu tegeran dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa nilai rata-rata total polisakarida dan terpenoid ekstrak metanol dan air kayu tegeran tidak berbeda nyata (p<0,05). sedangkan total polifenol kedua ekstrak berbeda nyata (p<0,05). total polifenol ekstrak metanol kayu tegeran (484,723 mg gae/g) lebih besar dibandingkan dengan ekstrak air (389,903 mg gae/g). hasil menunjukkan bahwa aktivitas anti jamur ekstrak metanol lebih baik dibandingkan dengan ekstrak air kayu tegeran, dan juga lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol ketoconazole (100 ppm). konsentrasi minimum ekstrak metanol kayu tegeran yang dapat menghambat pertumbuhan jamur peniophora sp. adalah 500 ppm dengan nilai penghambatan (afa) sebesar 76,30%.kata kunci: aktivitas anti jamur, cudrania javanensis, ekstrak kayu, peniophora sp., swietenia mahagoni Show More ... ... Show Less

  • Antifungal Activity
  • Swietenia Mahagoni
  • Aqueous Extract
  • Methanol Extract
  • Wood Extract
EFFECT OF TROGLITAZONE ON MORPHOLOGICAL CHANGES AND PPAR-Γ GENE EXPRESSION IN 3T3-L1 ADIPOCYTE CELLS

efek troglitazone terhadap perubahan morfologi dan ekspresi gen ppar- γ di dalam sel adiposa 3t3-l1 abstract3t3-l1 cells are extensively used as a model to study adipogenesis. however, one major concern is the prolonged period of time it takes the cells to differentiate into adipocytes form. to induce this differentiation, the adipogenic induction media is required. in this study, troglitazone, a hypoglycemic agent was added to adipogenic induction media and observed in order to determine the morphological changes and peroxisome proliferator-activated receptor gamma (ppar-γ) gene expression in 3t3-l1 differentiation. it is generally known that ppar-ꝩ plays an important role as a transcription factor in adipocyte differentiation. based on oil red o staining, adipogenic induction with or without troglitazone changed the 3t3-l1 pre-adipocytes into mature round fat cells characterized by red droplet lipids. this cell also had a high absorbance level and degree of droplet accumulation of p≤ 0.05 in each group. in addition, cells treated by troglitazone had the highest ppar-ꝩ mrna level (1.9 fold) than those treated by adipogenic induction media without troglitazone or cells un-treated at all. keywords: 3t3-l1, adipocyte, differentiation, ppar-ꝩ, troglitazone abstraksel 3t3-l1 adalah jenis sel yang banyak digunakan dalam studi adipogenesis. namun, salah satu kelemahan sel tersebut adalah lamanya waktu yang dibutuhkan bagi sel pre-adiposa untuk berdiferensiasi menjadi sel adiposa. selain itu, dibutuhkan pula media induksi khusus untuk mengubah sel menjadi sel adiposa. pada penelitian ini, kami mengobservasi fungsi troglitazone, sebagai antidiabetes terhadap perubahan morfologi dan ekspresi gen peroxisome proliferator-activated receptor gamma (ppar-γ). telah diketahui bahwa ppar-ꝩ berperan penting sebagai factor transkripsi dalam diferensasi sel adiposa. berdasarkan pewarnaan oro, induksi sel pre-adiposa 3t3-l1 dengan media induksi dengan dan tanpa troglitazone merubah sel preadiposa menjadi sel berbentuk bulat yang dikarakterisasi dengan akumulasi droplet lemak. nilai absorbansi sel adiposa juga menandakan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok sel yang diberi troglitazone dan tidak, dan sel tanpa diberi media induksi. sementara, pada kelompok sel yang diberi troglitazone memiliki ekspresi mrna ppar-ꝩ (1,9 kali) tertinggi jika dibandingkan dengan sel yang diberi media induksi tanpa troglitazone, dan tanpa media induksi sama sekali.kata kunci: 3t3-l1, adiposa, diferensiasi, ppar-ꝩ, troglitazone Show More ... ... Show Less

  • Ppar Γ
  • Gene Expression
  • Adipocyte Differentiation
  • Morphological Changes
  • Peroxisome Proliferator
MIKROPROPAGASI TANAMAN TALAS BENENG (Xanthosoma Undipes K. Koch) DENGAN PERLAKUAN BENZIL AMINOPURIN, TIAMIN, DAN ADENIN

micropropagation of beneng taro (xanthosoma undipes k. koch) with benzyl amino purine, thiamine, and adenine treatmentabstractconventional production of beneng taro seeds (xanthosoma undipes k. koch) is constrained by the limited number of tubers, thus an alternative solution is needed such as in vitro propagation. this study was aimed to obtain a micropropagation technique of beneng taro on ms media with bap, thiamine, and adenine treatment, and to determine its growth at the acclimatization stage. this research consisted of shoot multiplication and acclimatization. shoot propagation was carried out on ms media with 8 treatments, namely ½ms and ms without addition of growth promoting substance, and ms with 1, 2 and 3 mg×l-1 bap, with or without addition of 1 mg×l-1 thiamine and 2 mg×l-1 adenine. each treatment was replicated four times, each consisting of four shoots. growth observation was made from 1st to 5th week on petiole length, and number of shoots, leaves and roots. acclimatization was carried out on soil media, compost, and husks in a ratio of 1: 1: 1. the results showed that the best media for shoot multiplication was ms + 1 mg×l-1 bap + 1 mg×l-1 thiamine + 2 mg×l-1 adenine with an average of 3.5 shoots, while the best medium for the petiole length was ½ms with an average value of 6.97 cm. the results of acclimatization showed that 100% planlets survived, and plantlets grown on ms media + 3 mg×l-1 bap had the highest number of shoots with an average of 4.2.keywords: adenine, beneng taro, benzil amino purine (bap), micropropagation, thiamineabstrakpenyediaan bibit talas beneng (xanthosoma undipes k. koch) secara konvensional terkendala terbatasnya jumlah umbi, sehingga perlu solusi alternatif, diantaranya melalui perbanyakan in vitro. tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknik mikropropagasi talas beneng pada media ms dengan perlakuan bap, tiamin, adenin, dan untuk mengetahui pertumbuhannya pada tahap aklimatisasi. penelitian ini meliputi perbanyakan tunas dan aklimatisasi. perbanyakan tunas menggunakan media ms dengan 8 perlakuan yaitu ½ms dan ms tanpa penambahan zat pengatur tumbuh (zpt), serta ms dengan 1, 2 dan 3 mg×l-1 bap dengan atau tanpa penambahkan 1 mg×l-1 tiamin dan 2 mg×l-1 adenin. setiap perlakuan mempunyai empat ulangan, setiap ulangan terdiri atas empat tunas. pertumbuhan diamati mulai minggu ke-1 hingga ke-5 terhadap panjang petiol serta jumlah anakan, daun dan akar. aklimatisasi dilakukan pada media tanah, kompos dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. hasil menunjukkan bahwa media terbaik perbanyakan tunas adalah ms + 1 mg×l-1 bap + 1 mg×l-1 tiamin + 2 mg×l-1 adenin dengan rata-rata 3,5 tunas, sedangkan media terbaik untuk panjang tangkai daun adalah ½ms dengan nilai rata-rata 6,97 cm. hasil aklimatisasi menunjukkan bahwa 100% planlet hidup dan planlet yang ditumbuhkan pada media ms + 3 mg×l-1 bap mempunyai jumlah anakan terbanyak dengan rata-rata 4,2.kata kunci: adenine, benzil amino purin (bap), mikropropagasi, talas beneng, tiamine Show More ... ... Show Less

  • In Vitro
  • Shoot Multiplication
  • Petiole Length
  • Number Of Shoots
  • Growth Promoting
ISOLASI KHAMIR DARI BATANG TANAMAN TEBU DAN IDENTIFIKASINYA BERDASARKAN SEKUENS INTERNAL TRANSCRIBED SPACER

isolation of yeasts from sugarcane stems and their identification based on internal transcribed spacer sequences abstractfermentative yeasts used in food, health, and energy industries need to be explored to discover their potential. the purpose of this study was to obtain fermentative yeast isolates from sugarcane stems and subsequently to undertake morphological, biochemical, and molecular identification. the isolation of epiphytic and endophytic yeasts was carried out by spread plate method using sugarcane soak water and sugarcane juice on potato dextrose agar (pda) and yeast-glucose-peptone (ygp) agar media. morphological identification was based on macroscopic and microscopic observations. biochemical identification was performed using carbohydrate fermentation and 50%-glucose media tests. selected isolates were identified molecularly using internal transcribed spacer (its). seven yeast isolates were obtained, of which isolate ed 1b was selected. isolate ed 1b was of round colonies, creamy white colour, shiny, embossed, and wavy appearance, ovoid cell shape with a cell diameter of 4.74 µm. it had budding cells, was able to ferment glucose and sucrose (but not lactose), and grew on 50 %-glucose media. results of blast showed that isolates ed 1b had 99% homology with kodamaea ohmeri.keywords: isolation, its, molecular identification, saccharum officinarum l., yeast abstrakkhamir fermentatif yang digunakan dalam industri pangan, kesehatan dan energi perlu dieksplorasi untuk mengetahui potensinya. tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh isolat khamir fermentatif dari batang tebu dan untuk kemudian diidentifikasi secara morfologi, biokimia dan molekuler. isolasi khamir epifit dan endofit dilakukan dengan metode cawan sebar dari air rendaman tebu dan jus tebu pada media potato dextrose agar (pda) dan yeast-glucose-peptone (ygp). identifikasi morfologi berdasarkan pengamatan makroskopis dan mikroskopis. identifikasi biokimia menggunakan uji fermentasi karbohidrat dan uji media glukosa 50%. isolat terpilih diidentifikasi molekuler menggunakan internal transcribed spacer (its). hasil isolasi memperoleh 7 isolat khamir. satu isolat terpilih (ed 1b) didapatkan dan memiliki ciri-ciri koloni bulat, putih krem, mengkilap, timbul, bergelombang, bentuk sel ovoid dengan diameter sel 4,74 µm, memiliki budding cell, mampu memfermentasi glukosa dan sukrosa, tidak memfermentasi laktosa, serta tumbuh pada media glukosa 50%. hasil blast menunjukkan bahwa isolat ed 1b memiliki homologi 99% dengan kodamaea ohmeri.kata kunci: identifikasi molekuler, isolasi, its, khamir, saccharum officinarum l Show More ... ... Show Less

  • Internal Transcribed Spacer
  • Molecular Identification
  • Saccharum Officinarum
  • Potato Dextrose Agar
  • Fermentative Yeast
TELAAH METODE DIAGNOSIS CEPAT DAN PENGOBATAN INFEKSI Salmonella Typhi

review on rapid diagnosis method and treatment of salmonella typhi infection abstractsalmonella is a genus of gram-negative bacilli which are pathogenic for human. recently over 2,500 serotypes of salmonella have been reported. of these, the most common serotype causing typhoid fever which is acute infectious disease in small intestine due to s. typhi entering the body through contaminated food or drink. s. typhi infection remains a major public health concern worldwide because of the subsequent economic burden for the cost of surveillance, prevention, and treatment. in indonesia, typhoid fever is an endemic disease that threatens public health and becomes a complex problem because it increases career cases and drug resistance, so its diagnosis is needed. although there is already a diagnosis method of typhoid fever conventionally, a fast, easy and reliable diagnosis method is needed to diagnose typhoid fever by medical personnel in endemic countries. typhoid fever is treated by antibiotics and prevention efforts are carried out through vaccination.keywords: antibiotics, pathogen, rapid detection, salmonella typhi, typhoid fever abstraksalmonella adalah bakteri basil gram negatif yang bersifat patogen terhadap manusia dan saat ini telah dilaporkan lebih dari 2.500 serotipe. salah satu serotype salmonella diketahui menyebabkan penyakit demam tifoid yaitu infeksi akut pada usus halus akibat s. typhi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang tercemar. infeksi s. typhi menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena bebani ekonomi yang ditimbulkannya untuk biaya pengawasan, pencegahan, dan pengobatan. di indonesia, demam tifoid merupakan penyakit endemis yang mengancam kesehatan masyarakat dan menjadi masalah kompleks karena demam tifoid meningkatkan kasus-kasus karier dan resistensi obat sehingga diperlukan diagnosisnya. meskipun sudah ada diagnosis demam tifoid secara konvensional, tetapi diperlukan metode diagnosis yang cepat, mudah dan andal untuk mendeteksi demam tifoid oleh tenaga medis yang bekerja di negara-negara endemik. demam tifoid diobati dengan pemberian antibiotika dan dilakukan upaya pencegahan melalui vaksinasi.kata kunci: antibiotika, demam tifoid, deteksi cepat, patogen, salmonella typhi Show More ... ... Show Less

  • Typhoid Fever
  • Salmonella Typhi
  • Diagnosis Method
  • Public Health
  • Prevention And Treatment
METODE EKSTRAKSI DNA TANAMAN TANPA PRESIPITASI ETANOL UNTUK KEGIATAN POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)

a simplified plant dna extraction protocol without ethanol precipitation for polymerase chain reaction (pcr) activities abstractmolecular-based research in agriculture includes dna extraction stage involving dna precipitation using ethanol or isopropanol which tends to take a long time. the purpose of this study was to obtain a plant dna extraction method for polymerase chain reaction (pcr) activities without going through the ethanol precipitation stage. five important agricultural commodity crops, namely rice, corn, soybeans, chilies, and shallots were extracted by dna using the modified doyle and doyle method. after the extraction phase using chloroform and isoamil alcohol solvents, the supernatant obtained was not precipitated using ethanol but was directly diluted and used as a template in pcr activities using two pairs of simple sequence repeat (ssr) markers. the results showed that all samples could be well amplified, and amplicon tape visualized in both 1% agarose gel and 6% polyacrylamide gel were clearly visible. this method could save time and material, and reduce the dependence on liquid nitrogen. but this method is still limited to pcr requirements only, and cannot be used for activities that require high quality and quantity of dna such as next generation sequencing (ngs), digestion, and hybridization.keywords: dna extraction, ethanol precipitation, liquid nitrogen, pcr, ssr,  abstrakpenelitian berbasis molekuler pada bidang pertanian mencakup tahapan ekstraksi dna yang melibatkan presipitasi dna menggunakan etanol atau isopropanol yang cenderung memakan waktu lama. tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh metode ekstraksi dna tanaman untuk kegiatan polymerase chain reaction (pcr) tanpa melalui tahapan presipitasi etanol. lima tanaman komoditas pertanian penting yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, dan bawang merah diekstraksi dna-nya menggunakan metode doyle and doyle yang dimodifikasi. setelah tahap ekstraksi menggunakan pelarut kloroform dan isoamil alkohol, supernatan yang terbentuk tidak dipresipistasi menggunakan etanol melainkan langsung diencerkan dan digunakan sebagai template dalam kegiatan pcr menggunakan dua pasang marka simple sequence repeat (ssr). hasil menunjukkan bahwa seluruh sampel dapat teramplifikasi dengan baik serta pita hasil amplikon yang tervisualisasi baik pada gel agarosa 1% maupun gel poliakrilamid 6% terlihat jelas. metode ini dapat menghemat waktu dan bahan serta mengurangi ketergantungan pemakaian nitrogen cair. tetapi metode ini masih terbatas hanya untuk kebutuhan pcr saja dan tidak dapat digunakan untuk kegiatan yang membutuhkan dna dengan kualitas serta kuantitas tinggi seperti next generation sequencing (ngs), digesti, maupun hibridisasi.kata kunci: ekstraksi dna, nitrogen cair, pcr, presipitasi etanol, ssr Show More ... ... Show Less

  • Polymerase Chain Reaction
  • Dna Extraction
  • Ethanol Precipitation
PRODUKSI LIPASE DARI ISOLAT KAPANG HASIL MUTASI UNTUK TRANSESTERIFIKASI

lipase production by mutant fungal isolates for transesterification abstractlipase is used amongst others in biodiesel production, namely in the transesterification reaction. kernel b (kb) was a fungus isolated from the waste of palm kernel and seed. the fungus produced lipase that catalysed the transesterification reaction with a lower activity compared to that of ak amano commercial lipase. the purpose of this study was to obtain mutant fungi with higher transesterification activities than the wild type (kb). the mutation process was carried out using ultraviolet (uv) light, ethyl methane sulfonate (ems), and n-methyl-n’-nitro-n-nitrosoguanidine (nmng) on kb fungus. the mutations using uv light produced 11 isolates, of which isolate m4.1kb1 produced a higher transesterification activity (0.172 u·mg-1) compared to the wild type. mutant m5.7kb, which was generated from mutant m4.1kb1 treated using ems, had its transesterification activity decreased to only 0.051 u·mg-1. mutant m6.0,3kb2, which was resulted through nmng treatment, experienced an increase in transesterification activity which was 91.2% higher than that of kb.keywords: ethyl methane sulfonate, lipase, mutant fungi, n-methyl-n’-nitro-n-nitrosoguanidine, ultraviolet abstraklipase dimanfaatkan salah satunya dalam produksi biodiesel, yaitu dalam reaksi transesterifikasi. kernel b (kb) merupakan kapang yang diisolasi dari limbah inti dan biji kelapa sawit, yang menghasilkan lipase sebagai katalis dalam reaksi transesterifikasi. namun aktivitas transesterifikasi yang dihasilkan oleh lipase dari kb lebih rendah dibandingkan dengan lipase komersial ak amano. tujuan penelitian ini adalah mendapatkan mutan kapang dengan aktivitas transesterifikasi yang lebih tinggi dibandingkan tipe liarnya (kb). proses mutasi dilakukan dengan menggunakan sinar ultraviolet (uv), ethyl methane sulfonate (ems), dan n-methyl-n’-nitro-n-nitrosoguanidine (nmng) terhadap kapang kb. mutasi kb dengan menggunakan sinar uv menghasilkan 11 isolat, dimana isolat dengan kode m4.1kb1 menghasilkan aktivitas transesterifikasi yang lebih tinggi dibandingkan tipe liar, yaitu 0,172 u·mg-1. mutan m5.7kb, yang dihasilkan dari mutan m4.1kb1 dengan perlakuan ems, mengalami penurunan aktivitas transesterifikasi hingga hanya sebesar 0,051 u·mg-1. mutan m6.0,3kb2 hasil perlakuan nmng mengalami peningkatan aktivitas transesterifikasi sebesar 91,2% lebih tinggi dari kb.kata kunci: ethyl methane sulfonate, kapang mutan, lipase, n-methyl-n’-nitro-n-nitrosoguanidine, ultraviolet Show More ... ... Show Less

  • Ethyl Methane Sulfonate
  • Uv Light
  • Wild Type
MORFOLOGI SPORA DAN PERKEMBANGAN GAMETOFIT Davallia Denticulata Dan Davallia Trichomanoides

spore morphology and gametophyte development of davallia denticulata and davallia trichomanoidesabstractdavallia denticulata and d. trichomanoides are two attractive and decorative fern species for ornamental. spore morphology has an important role in fern taxonomy, while media composition has important role in the growth and development of their gametophytes. such information on the two fern species was lacking. therefore, this study aimed to reveal the information of the spore morphology and gametophyte developmental stages of d. denticulata and d. trichomanoides on three different media. the spores were collected from bogor, west java. the spores were sown in three sterile media. spore morphology and gametophyte development were observed under a stereoscopic microscope. both gametophyte species reached their mature stage at 25 weeks after planting on the different media compositions. d. denticulata showed the best gametophyte development, and formed mature gametophytes on the media of vermiculite, sphagnum moss, and perlite, while d. trichomanoides grew best into maturity stage on the media containing vermiculite, and sphagnum moss. thus, the presence of sphagnum moss in the media is an important material for the growth and development of davallia gametophyte.keywords: davallia, development, gametophyte, growth, media  abstrakdavallia denticulata dan d. trichomanoides merupakan dua spesies tumbuhan paku yang menarik dan indah untuk tanaman hias. morfologi spora memiliki arti penting dalam taksonomi tumbuhan paku, sedangkan komposisi media berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan gametofitnya. informasi seputar hal ini terkait dua spesies tumbuhan paku tersebut belumlah ada. penelitian ini bertujuan untuk mengungkap informasi mengenai ciri morfologi spora dan tahapan perkembangan gametofit d. denticulata dan d. trichomanoides pada tiga komposisi media berbeda. pengambilan spora dilakukan di bogor, jawa barat. spora ditumbuhkan pada tiga media steril. morfologi spora dan perkembangan gametofit diamati menggunakan mikroskop stereo. kedua spesies memiliki waktu perkembangan terbaik untuk mencapai tahap gametofit dewasa yaitu 25 minggu pada komposisi media yang berbeda. d. denticulata berkembang dengan baik, dan membentuk gametofit dewasa pada media vermiculite, lumut sphagnum, dan perlite. d. trichomanoides berkembang hingga tahap gametofit dewasa dengan baik pada media vermiculite, dan lumut sphagnum. dengan demikian keberadaan lumut sphagnum pada media sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan gametofit davallia.kata kunci: davallia, gametofit, media, perkembangan, pertumbuhan Show More ... ... Show Less

  • Spore Morphology
  • Sphagnum Moss
  • Gametophyte Development
  • The Media
  • Growth And Development
PENINGKATAN KUALITAS BIJI KAKAO (Theobroma Cacao L) MELALUI FERMENTASI MENGGUNAKAN Lactobacillus Sp. Dan Pichia Kudriavzevii

the improvement of cacao beans quality through fermentation by using lactobacillus sp. and pichia kudriavzeviiabstractindonesia is one of the main cacao producers in the world. indonesian cacao product is, however, relatively of low quality. quality improvement of cacao beans is thus needed to increase added value of the product through such method as fermentation using bacteria and yeast. this study was conducted using four fermentation treatments, namely f1 (spontaneous fermentation without the addition of inoculum), f2 (addition of lactic acid bacteria inoculum), f3 (addition of yeast inoculum), f4 (addition of mixed lactic acid bacteria and yeast inoculum). the fermentation was carried out for 5 days. the parameters measured were the microbial cell number, ph, ethanol, total reducing sugar, and total acid concentration, as well as cacao seed quality. results showed that, compared to the other treatments, the f4 treatment gave the best result, namely 83% of the cacao seeds being fermented, 2% non-fermented, 14% unfermented, 1% moldy, and 2% germinated. the liquid produced during the fermentation contained the highest reducing sugar of 123.38 mg·ml-1, the highest total acid of 24.42 mg·ml-1, and 3.57% ethanol.keywords: cacao beans, fermentation, lactic acid bacteria, starter, yeast abstrakindonesia adalah salah satu penghasil kakao utama di dunia. namun berdasarkan mutu, produk kakao indonesia masih relatif tergolong rendah. peningkatan kualitas biji kakao diperlukan untuk memberikan nilai tambah pada produk melalui metode seperti fermentasi menggunakan bakteri dan khamir. penelitian ini dilakukan dengan empat perlakuan fermentasi yaitu f1 (fermentasi secara spontan tanpa penambahan inokulum), f2 (dengan penambahan inokulum bakteri asam laktat (bal)), f3 (dengan penambahan inokulum khamir), f4 (dengan penambahan inokulum campuran bakteri asam laktat dan khamir). fermentasi dilakukan selama 5 hari, dan parameter yang diukur selama fermentasi adalah jumlah mikroba, ph, kadar etanol, gula pereduksi, total asam serta kualitas biji. hasil menunjukkan bahwa, dibandingkan perlakuan lainnya, perlakuan f4 memberikan hasil terbaik yaitu 83% biji terfermentasi, 2% tidak terfermentasi, 14% terfermentasi sebagian, 1% berjamur, dan 2% berkecambah. cairan fermentasi tersebut mengandung gula reduksi yang paling tinggi 123,38 mg·ml-1, total asam tertinggi 24,42 mg·ml-1, dan kadar etanol mencapai 3,57%.kata kunci: bakteri asam laktat (bal), biji kakao, fermentasi, khamir, starter Show More ... ... Show Less

  • Lactic Acid Bacteria
  • Reducing Sugar
  • Total Acid
  • Yeast Inoculum
KERAGAMAN GENETIK 22 AKSESI PADI LOKAL TORAJA UTARA BERBASIS MARKA SIMPLE SEQUENCE REPEATS (SSR)

genetic diversity of 22 local rice accessions from north toraja based on simple sequence repeats (ssr) markersabstractone way to explore the potential of local rice is by the characterization that could obtain genetic diversity of that plants. the aim of this study was to obtain the genetic diversity of 22 local rice accession from north toraja. twenty-two of local rice accessions from north toraja were characterized by 30 ssr markers and using ntsys pc 2.1 program to analyze genetic diversity. the results showed that twenty-six ssr markers that had been analyzed produced some alelles with a size between 106.75-311 bp, the average number of alleles were 3 and the polymorphism rate was 0.53. on coefficient genetic similarity at 0.38, the population formed three clusters. cluster i and ii were dominated by rice that had no hair on the tip of the grain and cluster iii were dominated by rice that had hair on the tip of the grain. there were 105 opportunities to crossing between accessions when the genetic distance was above 0.7.keywords: genetic diversity, local rice, north toraja, polymorphism rate, ssr markers abstraksalah satu cara untuk menggali potensi padi lokal adalah dengan karakterisasi. dengan adanya kegiatan karakterisasi tersebut maka dapat diketahui bagaimana keragaman genetik dari suatu tanaman. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dari 22 aksesi padi lokal toraja utara. duapuluh dua aksesi padi lokal toraja utara dikarakterisasi menggunakan 30 marka ssr dan dianalisis keragaman genetiknya menggunakan program ntsys pc 2.1. hasil penelitian menunjukkan bahwa duapuluh enam marka ssr yang dianalisis memiliki kisaran ukuran alel antara 106.75-311 bp, dengan jumlah alel rata-rata 3 dan tingkat polimorfisme sebesar 0,53. koefisien kemiripan genetik 0,38 dan terbentuk 3 klaster. pada klaster i dan klaster ii didominasi oleh padi yang tidak memiliki rambut pada ujung gabahnya, dan pada klaster iii didominasi oleh padi yang memiliki rambut pada ujung gabahnya. selain itu, pada jarak genetik diatas 0,7 terdapat 105 peluang persilangan.kata kunci: keragaman genetik, marka ssr, padi lokal, tingkat polimorfisme, toraja utara Show More ... ... Show Less

  • Genetic Diversity
  • Ssr Markers
  • Simple Sequence Repeats
  • Polymorphism Rate
MANURE UNGGAS: SUPLEMEN PAKAN ALTERNATIF DAN DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN

manure poultry: alternative feed supplements and impacts on the environmentabstractthe increase in protein demand is now of serious concern as the human population is forecasted to rise to as much as 9.6 billion by 2050. the poultry industry is one of the largest and fastest growing sectors of livestock production in the world. increased production results in increased sewage so that the impact on the emergence of environmental problems associated with increased air pollution, water, and soil. the sustainability of animal feeds is crucial in the development of livestock production systems, and feed efficiency can be improved by reusing poultry waste in livestock diets, thus diminishing the use of feed grains. there are several ways of disposing of poultry waste including burial, incineration, composting, fertilizer or source of biogas energy and feed for livestock. poultry manure is a rich source of lignocelluloses, polysaccharides, proteins, minerals, and other biological materials. it is currently expected some problems can be overcome by utilizing poultry manure waste as an alternative feed source for livestock. this paper aims to review the negative effects of excessive chicken manure and its benefits as an alternative feed for livestock and fish.keywords: alternative feed, livestock, pollution, poultry industry, poultry manure abstrakkenaikan permintaan protein menjadi perhatian serius karena populasi manusia diperkirakan akan meningkat menjadi sebanyak 9,6 miliar orang pada tahun 2050. industri perunggasan merupakan salah satu sektor produksi ternak terbesar dan tercepat di dunia. meningkatnya hasil produksi tersebut akan menambah jumlah limbah sehingga berdampak pada munculnya masalah lingkungan yang terkait dengan peningkatan polusi udara, air dan tanah. ketersediaan pakan hewan secara berkesinambungan sangat penting dalam pengembangan sistem produksi ternak dan efisiensi pakan dapat ditingkatkan dengan menggunakan kembali limbah unggas sebagai bahan pakan ternak, sehingga mengurangi penggunaan biji-bijian sebagai sumber pakan. ada beberapa metode mengurangi jumlah manure ayam termasuk penguburan, insinerasi, pengomposan, pemupukan atau sumber energi biogas dan pakan ternak. kotoran unggas adalah sumber lignoselulosa, polisakarida, protein, mineral dan bahan biologi lainnya. saat ini diperkirakan beberapa permasalahan bisa diatasi dengan memanfaatkan limbah manure unggas sebagai sumber pakan alternatif bagi ternak. tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dampak negatif dari manure ayam yang berlebihan dan manfaatnya sebagai pakan alternatif untuk ternak dan ikan.kata kunci: industri perunggasan, manure ayam, pakan alternatif, polusi, ternak Show More ... ... Show Less

  • Alternative Feed
  • Poultry Manure
  • Livestock Production
  • Poultry Waste
  • Poultry Industry
VARIASI GENETIK KAMBING BENGGALA DI KABUPATEN MANGGARAI BARAT BERDASARKAN METODE RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA

genetic variation of benggala goats in west manggarai regency based on random amplified polymorphic dna method abstractindonesia has several types of local goats that have had an extended period of adaptation to the natural conditions in indonesia. goat is one of the most important germplasm in supporting the economy of rural communities. benggala is a local breed of goat originating from flores island, east nusa tenggara province and has distinctive characteristics. the rapd technique has several advantages and has been widely used in studies of the genetic diversity of goats. a total of 50 blood samples of benggala goats were taken from four sub-districts in west manggarai regency. this study was conducted to estimate genetic variations of benggala goats using opa-6 and opa-16 primers. the opa-6 primer consisted of 0-11 bands, while the opa-16 primer consisted of 0-7 bands. the total bands produced on the opa-6 primer from all samples was 456, whilst opa-16 primer was 314. the lowest genetic similarity between individuals of benggala goats was 44% from the sample k46. based on the sample population, the average genetic similarity level was 72%. these results show that the genetic diversity of benggala goats is low.keywords: benggala  goat, genetic similarity,genetic variation, rapd, west manggarai abstrakindonesia memiliki beberapa jenis kambing lokal yang memiliki periode adaptasi yang panjang dengan kondisi alam di indonesia. kambing merupakan salah satu plasma nutfah yang sangat penting dalam mendukung perekonomian masyarakat pedesaan. benggala adalah jenis kambing lokal yang berasal dari pulau flores, propinsi nusa tenggara timur dan kambing benggala memiliki ciri khas. teknik rapd memiliki beberapa keunggulan dan telah banyak digunakan pada studi keragaman genetik kambing. total 50 sampel darah kambing benggala yang diambil dari empat kecamatan di kabupaten manggarai barat. penelitian ini dilakukan untuk menguji variasi genetik kambing benggala dengan menggunakan primer opa-6 dan opa-16. primer opa-6 terdiri dari 0-11 band, sedangkan primer opa-16 terdiri dari 0-7 band. total jumlah pita yang dihasilkan pada primer opa-6 dari semua sampel adalah 456, sementara primer opa-16 adalah 314. kemiripan genetik terendah antara individu-individu kambing benggala adalah 44% dari sampel k46. berdasarkan populasi sampel, tingkat kemiripan genetik rata-rata adalah 72%. hasil ini menunjukkan bahwa keragaman genetik kambing benggala tergolong rendah.kata kunci: kambing benggala, kemiripan genetik, manggarai barat , rapd, variasi genetik Show More ... ... Show Less

  • Genetic Similarity
  • Genetic Diversity
  • Genetic Variation
  • Random Amplified Polymorphic Dna
  • Sample Population
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KAPANG ENDOFIT Cb.Gm.B3 ASAL RANTING KAYU MANIS (Cinnamomum Burmanni)

antioxidant activity of endophytic fungi cb.gm.b3 extract from cinnamon (cinnamomum burmanni) twigsabstractthere are many degenerative diseases that are caused by a free radical effect. cinnamon (cinnamomum burmanni) contains cinnamaldehyde compounds that have activity as a powerful antioxidant and fight free radicals. endophytic fungi can be found in cinnamon plants living symbiotically. endophytic fungi produce a variety of bioactive metabolites including antioxidants. this research was conducted to isolate endophytic fungi from c. burmanni plant which is active as antioxidant. endophytic fungi isolation was carried out using surface sterilization method and cultivated in pda media. antioxidant activity test was performed using free radical 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (dpph) method. selected isolates were then identified molecularly to determine their species. a total of nine fungi were isolated from cinnamon twigs. the result showed that the highest antioxidant activity was obtained from cb.gm.b3 with ic50 of 13.219 ± 0.755 µg/ml. the selected isolate cb.gm.b3 taxonomically has a high similarity with neofusicoccum parvum isolate pel23 (accession no: ky053054.1).keywords: antioxidant, cinnamomum burmanni, 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl, endophytic fungi, neofusicoccum parvum abstrakkayu manis (cinnamomum burmanni) mengandung senyawa sinamaldehid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan kuat dan dapat menangkal radikal bebas. dalam tanaman kayu manis terdapat kapang endofit yang hidup bersimbiosis. kapang endofit dapat menghasilkan berbagai senyawa metabolit bioaktif termasuk antioksidan. penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi kapang endofit dari tanaman c. burmanni yang aktif sebagai antioksidan. isolasi kapang endofit dilakukan menggunakan metode sterilisasi permukaan dan ditanam pada media pda. pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode peredaman radikal bebas dengan reagen 2.2-difenil-1-pikrilhidrazil (dpph). isolat terpilih diidentifikasi secara molekuler untuk menentukan spesiesnya. sebanyak 9 isolat kapang berhasil diisolasi dari jaringan ranting tanaman kayu manis. aktivitas antioksidan tertinggi (ic50) didapatkan dari isolat cb.gm.b3 sebesar 13,219 ± 0,755 µg/ml. isolat terpilih cb.gm.b3 secara taksonomi memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan neofusicoccum parvum isolat pel23 (no. aksesi: ky053054.1).kata kunci: antioksidan, cinnamomum burmanni, 2.2-difenil-1-pikrilhidrazil, kapang endofit, neofusicoccum parvum Show More ... ... Show Less

  • Endophytic Fungi
  • Neofusicoccum Parvum
  • Antioxidant Activity
  • Free Radical
  • Dpph Method
KEMAMPUAN EKSTRAK SENYAWA AKTIF BAKTERI ENDOFIT DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Fusarium Oxysporum F.Sp. PADA KELAPA SAWIT

ability of active compound extract of endophytic bacteria to inhibit the growth of fusarium oxysporum f.sp. in oil palm abstractwilt vessels disease in oil palm plants is caused by fusarium oxysporum f.sp. this disease is very harmful because of its ability to kill the infected oil palm plant in less than a year. endophytic bacteria are likely to be biological controllers for the disease because of their ability to produce bioactive antifungal compounds. isolation of endophytic bacteria from oil palm plant and activity test of their active compounds against f. oxysporum f.sp. in vitro had been done. antagonistic test of endophytic bacterial isolates against f. oxysporum f.sp. was carried out using a double culture method. the potential endophytic bacterial isolates were extracted using ethyl acetate solvent for their active compounds, which were then tested for its activity in inhibiting the growth of f. oxysporum f.sp. the results showed that the active compound extract of b11 endophytic bacteria with the incubation time of 24 and 54 hours gave the growth inhibition of f. oxysporum f.sp. at the level of 29.23% and 43.85%, respectively.keywords: antagonistic test, bioactive compound, endophytic bacteria, f. oxysporum f.sp., oil palm abstrakpenyakit layu pembuluh pada tanaman kelapa sawit disebabkan oleh fusarium oxysporum f.sp. penyakit ini menjadi penyebab kematian tanaman kelapa sawit yang telah terinfeksi dalam waktu kurang dari setahun. bakteri endofit asal tanaman kelapa sawit dimungkinkan menjadi pengendali hayati bagi penyakit ini karena kemampuan bakteri tersebut memproduksi senyawa bioaktif yang bersifat antifungi. isolasi bakteri endofit dari tanaman kelapa sawit dan uji aktivitas senyawa aktifnya terhadap f. oxysporum f.sp. secara in vitro telah dilakukan. uji antagonis isolat bakteri endofit terhadap jamur patogen f. oxysporum f.sp. menggunakan metode kultur ganda. isolat bakteri endofit potensial diekstrak senyawa aktifnya dengan menggunakan pelarut etil asetat, kemudian senyawa aktif ini diuji aktivitasnya dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen f. oxysporum f.sp. hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak senyawa aktif bakteri endofit b11 dengan waktu inkubasi 24 dan 54 jam memberikan daya hambat terhadap f. oxysporum f.sp. sebesar masing-masing 29,23% dan 43,85%.kata kunci: bakteri endofit, f. oxysporum f.sp., kelapa sawit, senyawa aktif, uji antagonis Show More ... ... Show Less

  • Oil Palm
  • Endophytic Bacteria
  • Fusarium Oxysporum
  • In Vitro
  • Active Compound
PENGARUH PEMBERIAN MANUR BROILER DENGAN FERMENTASI Lactobacillus Casei TERHADAP KONVERSI PAKAN AYAM KAMPUNG

the effect of broiler manure with lactobacillus casei fermentation on the kampung chicken feed convertion ratio abstracthusbandry of kampung chicken is constrained by high feed prices and poor productivity. this study aims to utilize alternative feed materials derived from broiler manure to obtain a cheaper feed with good quality. manure contains high nutrients. manure was fermented using lactobacillus casei to improve feed conversion. two hundred chickens were divided into 4 groups (n = 50). groups p1, p2, and p3 were given 4%, 8%, and 12% fermentation of l. casei, respectively. group p0 was given a regular feed without l. casei. each treatment group consisted of four replicates and were maintained for 60 days. the research design used was completely randomized design subjected to analysis of variant (anova) followed by duncan test. the feed conversion values of groups p0, p1, p2, and p3 were 4.46; 4.38; 4.21; and 4.54, respectively. the results showed that the feed conversion was not significant in all groups. it was concluded that l. casei fermenter could not improve the feed conversion ratio (fcr).keywords: fcr, fermentation, kampung chicken, lactobacillus casei, manure abstrakbudidaya ayam kampung terkendala tingginya harga pakan dan rendahnya produktivitas. penelitian ini bertujuan memanfaatkan pakan alternatif bersumber manur (limbah kotoran) ayam broiler untuk memperoleh pakan murah dengan kualitas baik. manur broiler masih mengandung nutrisi yang tinggi. manur difermentasi menggunakan lactobacillus casei untuk memperbaiki konversi pakan. dua ratus ekor ayam dibagi menjadi 4 kelompok (n=50 ekor). kelompok p1, p2, dan p3 masing-masing diberi ransum yang ditambah fermentasi l. casei sebanyak 4%, 8%, dan 12%. kelompok p0 diberikan pakan biasa tanpa penambahan l. casei. setiap kelompok perlakuan terdiri dari empat ulangan dipelihara selama 60 hari. penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (ral) dengan analisis ragam yang dilanjutkan dengan uji duncan. konversi pakan dari kelompok p0, p1, p2, dan p3 berturut-turut 4,46; 4,38; 4,21; dan 4,54.  hasil penelitian menunjukkan konversi pakan tidak berbeda nyata pada semua kelompok perlakuan. dari hasil penelitian disimpulkan penggunaan fermenter l.casei pada pakan belum mampu memperbaiki konversi pakan.kata kunci: ayam kampung, fcr, fermentasi, lactobacillus casei, manur Show More ... ... Show Less

  • Lactobacillus Casei
  • Feed Conversion
  • Treatment Group
  • Research Design
  • Completely Randomized Design
PEMURNIAN ENZIM SEFALOSPORIN-C ASILASE DAN OPTIMASI PROSES KROMATOGRAFI PENUKAR ION

purification of cephalosporin-c acylase and its optimization of ion-exchange chromatographyabstractcephalosporin-c acylase (cca) has an important role in the one-step conversion of cephalosporin-c into 7-aca. purification process aims to increase specific activity of cca enzyme. purification began with cell lysis, ammonium sulphate precipitation, dialysis, ion exchange chromatography (iec) and size exclusion chromatography. iec optimization of elution step was also done to compare gradient and isocratic elusion. purification was capable to increase the enzyme purity upto 33.66 fold, with specific activity of 3.00 u/mg and the yield reached 41.41%. optimization of elusion during iec showed that isocratic protein elusion was more efficient (taking shorter time, 3 column volume (cv) only) than that of gradient batch (up to 9 cv). sds-page analysis demonstrated that the recombinant cca enzyme existed in two types, active enzyme containing α-subunit (25 kda) and β-subunit (58 kda), and inactive enzyme (83 kda) as precursor. furthermore, 30% ammonium sulphate saturated precipitation was able to precipitate this inactive cca.keywords: 7-aca,cca, cephalosporin c, protein purification, specific activity abstraksefalosporin-c asilase (cca) merupakan enzim yang berperan penting dalam konversi satu tahap sefalosporin-c menjadi 7-aca. proses purifikasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas spesifik enzim cca. proses purifikasi dimulai dari memecah sel, diikuti dengan tahap presipitasi menggunakan amonium sulfat, dialisis, kromatografi penukar ion (iec) dan kromatografi eksklusi. optimasi proses iec pada tahap elusi juga dilakukan untuk membandingkan elusi enzim cca secara gradien dan isokratik. proses purifikasi pada penelitian ini mampu meningkatkan kemurnian enzim hingga 33,66 kali, dengan aktivitas spesifik sebesar 3,00 u/mg dan perolehan enzim sebesar 41,41%. hasil optimasi iec pada proses elusi secara isokratik lebih efisien dari segi waktu (hanya membutuhkan 3 kolom volume (cv) dibandingkan dengan secara gradien (sampai 9 cv). hasil sds-page menunjukkan bahwa cca rekombinan merupakan enzim dengan 2 macam bentuk yaitu enzim aktif, yang terdiri dari subunit α (25 kda) dan β (58 kda), dan enzim tidak aktif berupa prekursor (83 kda). proses presipitasi menggunakan amonium sulfat 30% tersaturasi dapat mengendapkan prekursor cca.kata kunci: 7-aca, aktivitas spesifik, cca, purifikasi protein, sefalosporin c Show More ... ... Show Less

  • Specific Activity
  • Cephalosporin C
  • Ion Exchange
  • Ammonium Sulphate
  • Sds Page
DAMPAK TEKNIK PENGIRISAN DAN PENCETAKAN TERHADAP DAYA APUNG PAKAN IKAN YANG DIFERMENTASI MENGGUNAKAN Rhizopus Sp

impact of slicing and moulding techniques on the floatability of the fish feed fermented by rhizopus sp.abstractthe use of rhizopus sp. mycelium as biocoating, biostabilizing, and biofloating agent in the production of floating fish feed through solid fermentation had already been studied as a much simpler alternative to mechanical extrusion. the fermented fish feed, however, had poor floatability in aerated water, probably due to structural damage during the size reduction process of the feed. thus, this study used alternative size-reducing methods, namely slicing and moulding, to improve the floatability of the fermented feed. other physical characteristics were also measured and compared to those of commercial sinking and floating fish feeds. results showed that both the moulded and the sliced fermented-feeds had lower density as well as higher water stability, absorption capacity, floatability, and durability compared to those of the commercial sinking feed used as the fermentation substrate. the hydrophobicity of all the feeds tested were similar, however. the floatability of the fermented feeds obtained in this study was much higher than those of the previous studies. keywords: floatability, floating feed, sinking feed, water absorption, water stabilityabstrakpenggunaan miselium rhizopus sp. sebagai pelapis permukaan, penstabil, dan pengapung hayati dalam pembuatan pakan ikan apung melalui fermentasi padat telah diteliti sebagai alternatif yang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan metode ekstrusi mesin. namun, pakan ikan fermentasi ini memiliki daya apung yang buruk dalam air bergelembung udara, yang mungkin disebabkan kerusakan struktural selama proses pengecilan ukuran pakan. karenanya, penelitian ini menggunakan metode lain untuk mengecilkan ukuran, yakni pencetakan dan pengirisan, dalam rangka meningkatkan daya apung pakan yang difermentasi. karakteristik fisik lainnya juga diukur dan dibandingkan dengan pakan ikan tenggelam dan terapung komersial. hasil menunjukkan bahwa proses fermentasi serta metode pengecilan dimensi yang digunakan menghasilkan pakan yang memiliki massa jenis lebih rendah, serta stabilitas air, daya serap air, daya apung, serta ketahanan benturan lebih tinggi dibandingkan dengan pakan tenggelam komersial yang digunakan sebagai substrat fermentasi. namun, nilai hidrofobisitas semua pakan yang diuji adalah sama. daya apung pakan fermentasi dalam penelitian ini jauh lebih tinggi daripada penelitian sebelumnya.kata kunci: daya apung, daya serap air, stabilitas dalam air, pakan apung, pakan tenggelam Show More ... ... Show Less

  • Rhizopus Sp
  • Fish Feeds
  • Sinking And Floating
  • Solid Fermentation
PENGARUH WADAH KULTUR DAN KONSENTRASI SUMBER KARBON PADA PERBANYAKAN KENTANG ATLANTIK SECARA IN VITRO

the effect of culture container and carbon source concentration on in vitro shoot propagation of atlantic potatoabstractpotato is a food commodity that has the potential to support food diversification in indonesia. there is an increasing demand for atlantic potatoes as the raw material for processed potato products. the demand, which has not been met by the increased production, has been the cause of the ongoing potato import activities in indonesia. the limitation of producing quality atlantic potato seeds economically is one of the obstacles to increasing the production of atlantic potatoes in indonesia. the aim of this research was to study the effect of various table sugar concentrations as the carbon source and the type of the culture containers used for atlantic potato shoot multiplication in vitro. the propagation was carried out in bioreactors and culture bottles with ms liquid medium + coconut water at a concentration of 150 ml/l medium, and 3 concentration levels of table sugar, namely 0; 7.5; and 15 g/l medium. the use of bioreactor significantly increased the height of the atlantic potato plantlets. the use of bioreactor combined with table sugar addition decreased hyperhydricity level. the highest number of shoots, leaves, and roots were found at the table sugar concentration of 15 g/l medium in both containers.keywords: bioreactor, micropropagation, shoot culture, solanum tuberosum, sucrose abstrakkentang merupakan komoditas pangan yang berpotensi mendukung program diversifikasi pangan di indonesia. peningkatan permintaan terhadap kentang atlantik sebagai bahan baku kentang olahan yang tak diimbangi dengan peningkatan produksi kentang atlantik menjadi penyebab masih berlangsungnya impor kentang atlantik di indonesia. keterbatasan menghasilkan benih kentang atlantik berkualitas yang ekonomis merupakan salah satu hambatan dalam meningkatkan produksi kentang atlantik di indonesia. penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh variasi konsentrasi sukrosa teknis sebagai sumber karbon dan penggunaan jenis wadah terhadap perbanyakkan tunas kentang atlantik secara in vitro. perbanyakkan tunas kentang atlantik menggunakan media ms cair + 150 ml/l air kelapa dalam wadah bioreaktor dan botol kultur dengan 3 taraf konsentrasi sukrosa, yaitu 0; 7,5; dan 15 g/l media. penggunaan bioreaktor secara signifikan meningkatkan tinggi planlet kentang atlantik yang dihasilkan. penggunaan bioreaktor yang dikombinasikan dengan penambahan sukrosa teknis menurunkan tingkat hiperhidrisitas. tunas, daun, dan akar terbanyak dihasilkan oleh perlakuan sukrosa teknis 15 g/l media dalam kedua jenis wadah.kata kunci: bioreaktor, kultur tunas, mikropropagasi, solanum tuberosum, sukrosa Show More ... ... Show Less

  • In Vitro
  • Solanum Tuberosum
  • Carbon Source
  • Food Commodity
  • Potato Plantlets
IDENTIFIKASI AKTINOMISETES SEDIMEN AIR TAWAR MAMASA, SULAWESI BARAT DAN AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN PELARUT FOSFAT

identification of actinomycetes in freshwater sediments from mamasa, west sulawesi and their antibacterial and phosphate solubilizing activitiesabstracta large number of actinomycetes that have been isolated and screened were obtained from soil and marine samples. consequently, the possibility of isolating novel actinomycetes and secondary metabolites compounds strains from soil and marine samples have limited. exploration of actinomycetes from freshwater sediment is rare. in this study, 30 isolates of actinomycetes from freshwater sediments in mamasa district, west sulawesi were isolated, identified, and screened for their antibacterial and phosphate solubilizing activity. actinomycetes were isolated by serial dilution method and were identified based on morphological and 16s rrna gene sequence. antibiotic activity was screened using the agar plug diffusion method, while soluble phosphate ability was observed by clear zone ratio in pka medium. most of the isolates belong to the genus streptomyces (80%). out of 30 isolates, 56.6% showed antibacterial activity and 36.6% had potential as solubilizing phosphate which belong to genus streptomyces, actinomadura, and kitasatospora.keywords: 16s rrna, actinomycetes, antibacterial, freshwater sediment, phosphate solubilizing abstraksebagian besar aktinomisetes yang telah diisolasi dan dilakukan penapisan metabolit sekundernya berasal dari sampel tanah dan laut. konsekuensinya, kesempatan untuk menemukan aktinomisetes jenis baru maupun yang menghasilkan metabolit sekunder baru dari tanah dan laut semakin berkurang. eksplorasi aktinomisetes dari lingkungan lain seperti sedimen air tawar jarang dilakukan. pada penelitian ini, 30 isolat aktinomisetes yang diisolasi dari sedimen air tawar di kabupaten mamasa, sulawesi barat, telah diidentifikasi dan dilakukan penapisan antibakteri dan kemampuan isolat dalam melarutkan fosfat. aktinomisetes diisolasi dengan metode pengenceran secara langsung dan selanjutnya diidentifikasi secara morfologi dan molekular berdasarkan gen 16s rrna. metode yang digunakan dalam penapisan aktivitas antibakteri adalah agar plug diffusion method, sedangkan kemampuan aktinomisetes dalam melarutkan fosfat diuji dengan cara menumbuhkan isolat pada media pka. isolat yang paling banyak diisolasi termasuk ke dalam marga streptomyces (80%). dari 30 isolat, 56,6% isolat menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dan 36,6% dari isolat berpotensi sebagai pelarut fosfat, yang termasuk ke dalam marga streptomyces, actinomadura, dan kitasatospora.kata kunci: 16s rrna, aktinomisetes, sedimen air tawar, antibakteri, pelarut fosfat Show More ... ... Show Less

  • 16S Rrna
  • Phosphate Solubilizing
  • Diffusion Method
  • Genus Streptomyces
  • Agar Plug
EKSTRAK DAUN SEMBUNG (Blumea Balsamifera) MEMPERBAIKI HISTOLOGI TESTIS TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PAKAN TINGGI LEMAK

sembung (blumea balsamifera) leaf extract improves testis histology of high-fat diet-induced ratsabstracthigh fat and high cholesterol diet cause hyperlipidemia, leading to various health problems including reproductive health. the purpose of this study was to examine the effect of sembung (blumea balsamifera) leaf extract on testicular histology profile of high-fat-diet-induced wistar. this research used 16 adult male rats (rattus norvegicus), aged 3-4 month, weighing 150-200 g, and randomly divided into two groups. eight rats were treated with distilled water and eight rats were treated with 2 mg/ml b. balsamifera extract. high-fat diet was a 30 days of porcine fat feed. the results showed that the diameter of seminiferous tubules, the number of spermatogenic cells of spermatogonium a, spermatocytes pakiten and spermatid 16 were increased by giving sembung leaf extract for 50 days (p <0.05). these results suggested that the sembung leaf extract improves testis histology of high-fat diet-induced rats. keywords: high-fat diet, rat, sembung leaf, seminiferous tubules, spermatogenic cellsabstrakmakanan tinggi lemak dan tinggi kolestrol menyebabkan hiperlipidemia yang menimbulkan masalah pada sistem reproduksi. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat pemberian ekstrak daun sembung (blumea balsamifera) terhadap profil tubulus seminiferus dan sel-sel spermatogenik pada tikus wistar yang diinduksi pakan tinggi lemak. sebanyak 16 ekor tikus wistar jantan dewasa (rattus norvegicus) umur 3-4 bulan, berat 150-200 g, secara random dibagi dua kelompok, yaitu 8 ekor tikus kelompok kontrol (aquades steril) dan 8 ekor tikus kelompok perlakuan (ekstrak daun sembung dosis 2 mg/ml). tikus diinduksi pakan tinggi lemak berupa lemak babi selama 30 hari. pada prettest dilakukan pemeriksaan diameter tubulus seminiferus dan sel-sel spermatogenik. hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata diameter tubulus seminiferus tikus meningkat signifikan setelah pemberian ekstrak daun sembung. peningkatan secara signifikan juga diikuti oleh spermatogonium a, spermatosit pakiten dan spermatid 16 (p<0,05). dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sembung memperbaiki histologi testis tikus wistar yang diinduksi pakan tinggi lemak.kata kunci: daun sembung, pakan tinggi lemak, sel spermatogenik, tikus, tubulus seminiferus Show More ... ... Show Less

  • High Fat Diet
  • Leaf Extract
  • Rattus Norvegicus
  • Seminiferous Tubules
HISTOLOGI LIMPA DAN HEMATOLOGI MENCIT YANG DIINFEKSI Escherichia Coli SETELAH PEMBERIAN ASAM HUMAT GAMBUT KALIMANTAN

spleen histology and hematology of mice infected by escherichia coli after oral administration of humic acid from borneo peatabstracthumic acid compounds have an immunostimulatory effect. the aim of this research was to determine the effect of humic acid on the spleen of mice infected with escherichia coli. the study used a completely randomized design with six treatments and five replicates. the treatments were normal control, negative control, positive control of isoprinosine, humic acid dose of 62.5; 125; and 250 mg/kg body weight (bw). the results showed that e. coli infection caused diarrhea symptoms and significant weight loss. there were significant differences (p<0.05) on hematocrit value and a total leukocyte count of humic acid, in which isoprinosine treatment was higher than those of negative control and normal control. there was no significant difference in the spleen weight of the mice subjected to the different treatments, but through histologic observations a significant difference (p<0.05) was found in the histologic size of the spleen. humic acid treatment of 250 and 125 mg/kg bw resulted in the widest white pulp (495.8 ± 58.2 µm) and the highest leukocytes count (6725 ± 1018 cell/ml), respectively. on the red pulp serving as negative control numerous clusters of lymphocyte cells were found.keywords: escherichia coli, humic acid, peat soil, spleen, white pulp abstraksenyawa asam humat mempunyai potensi imunostimulan. penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian asam humat terhadap organ limpa mencit yang diinfeksi bakteri escherichia coli. penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan lima ulangan. perlakuan tersebut yakni kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif isoprinosin, asam humat dosis 62,5; 125; dan 250 mg/kg berat badan (bb). hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi bakteri e. coli pada mencit menyebabkan mencit mengalami gejala diare dan penurunan berat badan yang signifikan. perbedaan signifikan (p<0,05) pada nilai hematokrit dan jumlah leukosit total perlakuan asam humat dan isoprinosin lebih tinggi dibandingkan kontrol negatif dan kontrol normal. tidak terdapat perbedaan nyata (p>0,05) pada berat limpa mencit antar perlakuan, melalui pengamatan histologi ditemukan perbedaan ukuran histologi limpa mencit. perlakuan asam humat 250 mg/kg bb mempunyai ukuran pulpa putih (495,8 ± 58,2µm) dan perlakuan asam humat 125 mg/kg bb mempunyai nilai leukosit tertinggi (6725 ± 1018 sel/ml). pada pulpa merah perlakuan kontrol negatif ditemukan banyak sel limfosit yang menggerombol.kata kunci: asam humat, escherichia coli, limpa, pulpa putih, tanah gambut Show More ... ... Show Less

  • Escherichia Coli
  • Humic Acid
  • Negative Control
  • Normal Control
  • Significant Difference
EVALUASI AKTIVITAS INHIBISI XANTIN OKSIDASE DAN KANDUNGAN SENYAWA POLIFENOL DARI EKSTRAK SAPPAN

evaluation of xanthine oxidase inhibitory activity and polyphenolic content of sappan extractabstracthyperuricemia is a disease that is characterized by a high uric acid level, in which the number of patients tends to increase every year. this research was intended to evaluate the xanthine oxidase (xo) inhibitory activity and determinate the total polyphenol content of heartwood sappan (caesalpinia sappan l.) extract. the extract was prepared by macerating the dry powder wood using 70% ethanol at room temperature. the quality of ethanolic extract obtained was evaluated based on bpom guideline. xo inhibitory power was determined by measuring uric acid produced in the xanthine/xo system in vitro. the polyphenol content of the extract was measured using folin-ciocalteu reagent spectrophotometrically. the results showed that the quality of sappan semisolid extract fulfilled the required standard. sappan extract inhibited xo activity by 98% relative to the positive control, allopurinol, at the final extract concentration of 100 µg/ml. the total polyphenol content was 26% of the crude extract. it could be concluded that sappan ethanolic extract has the potential to be developed as an ingredient for hyperuricemia treatment.keywords: hyperuricemia, sappan, total polyphenol, xanthine, xanthine oxidase abstrakhiperurisemia adalah penyakit yang dicirikan dengan kadar asam urat tinggi dimana prevalensi penderita cenderung meningkat. penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aktivitas esktrak kayu sappan (caesalpinia sappan l.) dalam menginhibisi enzim xo (xantin oksidase) secara in vitro dan penentuan kadar senyawa polifenol total yang terkandung di dalamnya. ekstrak dibuat dengan cara maserasi serbuk kayu menggunakan pelarut etanol 70% pada suhu kamar. kualitas ekstrak dievaluasi mengacu pada parameter karakterisasi ekstrak yang ditetapkan oleh bpom. aktivitas inhibisi xo ditetapkan dengan mengukur kadar asam urat yang terbentuk pada sistem xantin/xo in vitro. kadar polifenol ekstrak diukur menggunakan pereaksi folin-ciocalteu secara spektrofotometri. hasil analisis menyatakan bahwa kualitas ekstrak kental sappan memenuhi persyaratan yang ada. pengujian inhibisi xo dengan pembanding positif allopurinol pada konsentrasi akhir ekstrak sebesar 100 µg/ml menunjukkan bahwa ekstrak mempunyai kekuatan menginhibisi xo sebesar 98% relatif terhadap pembanding positif allopurinol. kadar senyawa polifenol total dalam ekstrak sappan sebesar 26% dari ekstrak kasar. dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak sappan mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bahan untuk mengatasi hiperurisemia.kata kunci: hiperurisemia, polifenol total, sappan, xantin, xantin oksidase Show More ... ... Show Less

  • In Vitro
  • Xanthine Oxidase
  • Polyphenol Content
  • Total Polyphenol
  • Uric Acid
UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR BEBERAPA SENYAWA MONOKARBONIL ANALOG CURCUMIN HASIL SINTESIS

antifungal activity of some synthesized mono-carbonyl analogue compounds of curcuminabstractfungal resistance can pose a threat to future fungal infections, therefore studies to find other compounds that have antifungal activity need to be done. the aim of this study was to examine antifungal activity of synthesized curcumin analogue compounds i.e. 2,6-bis-(2'-furilidin)-cyclohexanone (26fuh); 2,5-bis-(2'-furilidine)-cyclopentanone (25fup) and 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on (15fua). the curcumin analogue compound was successfully synthesized with aldol condensation using koh 7.5% as the catalyst. the compound was purified and characterized by melting point, thin layer chromatography, gas chromatography with mass spectrometry, ftir spectrophotometry, spectrophotometry 1h-nmr. the results showed pure compounds and have a structure that corresponds to the target compounds. all compound were assayed as antifungal against candida albicans, pityrosporum ovale, aspergillus niger, and trichophyton mentagrophytes. the activity of each compound represented by inhibitory diameter was analyzed by one-way anova followed by post hoc tukey (p<0.05). all three compounds showed antifungal activity against candida albicans, pityrosporum ovale, and aspergillus niger. the best antifungal activity was shown by 26fuh against pityrosporum ovale.keywords: antifungal activity, curcumin, monocarbonyl, pityrosporum ovale, synthesis abstrakresistensi jamur dapat menjadi ancaman pada kasus infeksi jamur di masa mendatang, oleh sebab itu penelitian untuk menemukan senyawa lain yang memiliki aktivitas antijamur perlu dilakukan. penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antijamur senyawa analog curcumin hasil sintesis yaitu senyawa 2,6-bis-(2’-furilidin)-sikloheksanon (26fuh); 2,5-bis-(2’-furilidin)-siklopentanon (25fup) dan 1,5-difuril-1,4-pentadien-3-on (15fua). senyawa analog curcumin sudah berhasil disintesis dengan metode kondensasi aldol menggunakan katalis koh 7,5%. senyawa hasil sintesis dimurnikan dan dikarakterisasi dengan menggunakan pemeriksaan organoleptis, titik lebur, kromatografi lapis tipis, kromatografi gas dengan spektrometri massa, spektrofotometri ftir, spektrofotometri 1h-nmr. hasil menunjukkan senyawa murni dan struktur sesuai senyawa target. hasil sintesis diuji aktivitas antijamur terhadap candida albicans, pityrosporum ovale, aspergillus niger dan trichophyton mentagrophytes. hasil diameter daya hambat dianalisis dengan anova satu arah dilanjutkan post hoc tukey (p<0,05). ketiga senyawa memiliki aktivitas antijamur terhadap jamur candida albicans, pityrosporum ovale, dan aspergillus niger. aktivitas antijamur terbaik adalah senyawa 26fuh terhadap jamur pityrosporum ovale.kata kunci: aktivitas antijamur, curcumin, monokarbonil, pityrosporum ovale, sintesis Show More ... ... Show Less

  • Antifungal Activity
  • Pityrosporum Ovale
  • Candida Albicans
  • Aspergillus Niger
  • 1H Nmr
PENINGKATAN AKTIVITAS LIPASE KAPANG LIMBAH KERNEL DAN NUT KELAPA SAWIT DENGAN RADIASI GAMA DAN ULTRAVIOLET

enhancement of lipase activity of molds isolated from kernel and nut waste of oil palm with gamma and ultraviolet irradiationabstractmolds isolated from oil palm waste sampled from malingping, lebak, banten, west java have the potential for lipase production. this study aimed to increase the fungal lipase activity with gamma radiation and ultraviolet light (uv). na and kc mold spores were exposed to various gamma radiation doses of 1, 2, 3 and 4 kgy. the best of these na and kc resulted mutants were followed by ultraviolet mutations for 1, 2, 3, and 4 hours, at dose of 0.1 j/cm2, 254 nm, 20 cm. lipase activity was tested by the lindfield method. the results showed that gamma radiation affected the lipase activity of na1kgy mutants (8.58 u/ml) and kc1 kgy (8.25 u/ml), each increased the lipase activity by 4.6% and 3.13% from the wild type, respectively. mutations with ultraviolet had an effect on mutant lipase activity of kc4h 10u/ml and na3h 9.25 u/ml, each increased the lipase activity by 25% and 15.63% from the wild type, respectively. based on phenotypic and phylogenetic (28srrna) approaches, a mold of kc had a 100% similarity with aspergillus fumigatus strain ra204.keywords: gamma radiation, kc mold, lipase, na mold, ultraviolet light abstrakkapang dari limbah kelapa sawit diisolasi dari malingping, lebak, banten, jawa barat berpotensi untuk menghasilkan lipase. penelitian ini betujuan meningkatkan aktivitas lipase kapang dengan radiasi sinar gama dan sinar ultraviolet (uv). spora kapang na dan kc dipaparkan pada berbagai radiasi gama dosis 1, 2, 3 dan 4 kgy. hasil terbaik dari mutan na dan kc dilanjutkan dengan mutasi ultraviolet dengan lama inkubasi 1, 2, 3, dan 4 jam, dosis 0,1 j/cm2, 254 nm, 20 cm. aktivitas lipase diuji dengan metode lindfield. hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi gama berpengaruh pada aktivitas lipase mutan na 1kgy 8,58 u/ml dan kc1 kgy 8,25 u/ml, masing-masing menaikkan aktivitas lipase sebesar 4,6% dan 3,13% dari wild type-nya. hasil mutasi dengan ultraviolet berpengaruh pada aktivitas lipase mutan kc4h 10u/ml dan na3h 9,25 u/ml, masing-masing menaikkan aktivitas lipase sebesar 25% dan 15,63% dari wild type-nya. berdasarkan pendekatan fenotipik dan filogenetik (28s rrna), isolat kapang kernel c memiliki similiaritas 100% dengan spesies aspergillus fumigatus strain ra204.kata kunci: kapang kc, kapang na, lipase, radiasi sinar gama, sinar ultraviolet Show More ... ... Show Less

  • Lipase Activity
  • Gamma Radiation
  • Wild Type
  • Aspergillus Fumigatus
  • Ultraviolet Light
ISOLASI DAN ANALISIS GENISTEIN DARI TEMPE BUSUK MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI KOLOM

isolation and analysis of genistein of overripe tempe using column chromatography methodabstractgenistein is one of the aglycone isoflavone compounds in tempe that has various biochemical activities, including anticancer, antitumor, and antioxidants. commonly used isoflavone extraction methods resulted in isoflavone crude extract. the aim of this study was to isolate the genistein of overripe tempe through determining the appropriate combination of mobile phases in genistein isolation and the determination of genistein content in both crude extract and isolate. the overripe tempe was first extracted, then genistein was isolated from the crude extract using column chromatography method. the determination of mobile phase combination was done by thin layer chromatography while the genistein content was quantitatively determined by using high performance liquid chromatography. the results showed that the appropriate combination of mobile phase for genistein isolation was chloroform : methanol (15 : 1, v/v). genistein content in the crude extract and isolates were 4737.50 and 31.36 μg/g extract, respectively. the genistein purity in the isolates was 63.80%, while the purity in the isoflavone extract was 31.98%.keywords: genistein, hplc, isoflavone, overripe tempe, tlc abstrakgenistein merupakan salah satu senyawa isoflavon aglikon dalam tempe yang memiliki bermacam-macam aktivitas biokimia, diantaranya antikanker, antitumor, dan antioksidan. metode ekstraksi isoflavon yang umum diterapkan, menghasilkan ekstrak kasar isoflavon yang masih berupa campuran. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi genistein dari tempe busuk melalui tahap penentuan kombinasi fase gerak yang tepat dalam isolasi genistein serta penentuan kandungan genistein baik dalam ekstrak kasar maupun isolat. tempe busuk mula-mula diekstrak, selanjutnya genistein diisolasi dari ekstrak kasar menggunakan metode kromatografi kolom. penentuan kombinasi fase gerak dilakukan secara kromatografi lapis tipis, sedangkan kandungan genistein secara kuantitatif ditentukan dengan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi. hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi fase gerak yang tepat untuk isolasi genistein adalah kloroform : metanol (15 : 1, v/v). kandungan genistein dalam ekstrak kasar dan isolat genistein berturut-turut sebesar 4737,50 dan 31,36 μg/g ekstrak. kemurnian genistein dalam isolat adalah sebesar 63,80%, sedangkan kemurniannya dalam ekstrak isoflavon adalah sebesar 31,98%. kata kunci: genistein, hplc, isoflavon, tempe busuk, klt Show More ... ... Show Less

  • Crude Extract
  • Column Chromatography
  • Mobile Phase
  • Chloroform Methanol
MULTIPLIKASI IN VITRO ANGGREK HITAM (Coelogyne Pandurata Lindl.) PADA PERLAKUAN KOMBINASI NAA DAN BAP

in vitro multiplication of  black orchid (coelogyne pandurata lindl.) using the combination of naa and bapabstractblack orchid is an indigenous plant from kalimantan, indonesia. it becomes endangered because of forest over-exploitation and its low natural reproduction rate. tissue culture is considered to offer a solution to conserve and propagate this species. the aim of this research was to evaluate the effect of naphtalene acetic acid (naa) and 6-benzile amino purine (bap) on shoots multiplication of black orchid. the basic medium used was a half of murashige & skoog (ms) composition supplemented with 150 mll-1 coconut water. initial explants used were 6-month-old shoots of germinating seeds. the shoot cultures were incubated for 23 weeks. results showed that the best combination for shoot multiplication was naa 0.0 mgl-1 with bap 0.2 mgl-1. shoot grew better on medium with bap and without naa while roots growth was better on medium without the two plant growth regulators. the addition of bap up to 0.3 mgl-1 increased the leaf number, which however decreased at higher bap concentration.keywords: bap, black orchid, coelogyne pandurata, multiplication, naa abstrakanggrek hitam merupakan flora langka asli kalimantan, indonesia. keberadaa anggrek ini di alam semakin langka akibat eksploitasi berlebihan dan sulitnya perbanyakan secara alami. kultur jaringan merupakan metode untuk mengatasi kelangkaan anggrek ini. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi naa dan bap terhadap multiplikasi anggrek hitam. media dasar yang digunakan adalah ½ ms dengan penambahan air kelapa 150 mll-1. eksplan yang digunakan adalah tunas hasil semai biji umur 6 bulan. kultur tunas diinkubasi selama 23 minggu. hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi terbaik untuk multiplikasi tunas adalah naa 0 mgl-1 dengan bap 0,2 mgl-1. tunas tumbuh lebih baik dalam media dengan penambahan bap tanpa naa, sedangkan akar pada media tanpa naa dan bap. penambahan bap sampai 0.3 mgl-1 mampu meningkatkan jumlah daun, namun menurun dengan penambahan di atas konsentrasi tersebut.kata kunci: anggrek hitam, bap, coelogyne pandurata, multiplikasi, naa Show More ... ... Show Less

  • In Vitro
  • Tissue Culture
  • Acetic Acid
  • Plant Growth Regulators