135 article(s) in Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca

PEMANFAATAN SKEMA DAYTIME MICROPHYSICS RGB HIMAWARI 8 UNTUK MENDETEKSI AWAN CUMULUS POTENSIAL DALAM KEGIATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA

intisariawan cumulus potensial, dalam kegiatan teknologi modifikasi cuaca (tmc) merupakan awan target semai untuk menghasilkan hujan. selama ini, penentuan kemunculan awan cumulus potensial biasanya didasarkan pada pengamatan radar cuaca dan pengamatan kanal tunggal satelit maupun beberapa kombinasi kanal satelit yang terpisah-pisah. keberadaan satelit geostasioner himawari 8 dengan frekuensi observasi tiap 10 menit dan memiliki banyak kanal panjang gelombang menawarkan potensi baru untuk mengamati dinamika awan. pada artikel ini, penulis mencoba menggunakan skema daytime microphysics rgb himawari 8 untuk mendeteksi kemunculan dan perkembangan awan cumulus potensial pada wilayah tmc di kalimantan barat pada bulan agustus 2018. berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa terdapat karakter awan cumulus potensial seperti yang ditunjukkan oleh hasil klasifikasi dari skema daytime microphysics rgb himawari 8 pada rute semai pesawat tmc. selain itu, selama 4 hari kegiatan tmc, terlihat bahwa skema daytime microphysics rgb himawari 8 dapat mendeteksi awal kemunculan awan cumulus potensial dengan selang waktu 1 hingga 2 jam lebih awal sebelum pesawat tmc terlihat sampai ke lokasi awan cumulus potensial tersebut. sehingga, skema daytime microphysics rgb himawari 8 bisa dicoba sebagai panduan informasi pelengkap data radar cuaca bagi pesawat tmc untuk menentukan lokasi awan cumulus potensial.  abstractpotential cumulus clouds, in weather modification technology (tmc) activities are seedling cloud targets to produce rain. during this time, the determination of the appearance of a potential cumulus cloud is usually based on weather radar observations and observations of single satellite channels as well as several separate satellite channel combinations. the existence of the himawari 8 geostationary satellite with an observation frequency every 10 minutes and has many wavelength channels offers new potential for observing cloud dynamics. in this paper, the author tried to use the himawari 8 rgb daytime microphysics scheme to detect the emergence and development of potential cumulus clouds in the tmc region in west kalimantan in august 2018. based on the research results, it appears that there are potential cumulus cloud character traits, as shown by the classification results of the scheme daytime microphysics rgb himawari 8 on the tmc aircraft seedling route. in addition, during the five days of tmc activities, it was seen that the himawari 8 rgb microphysics daytime scheme could detect the beginning of the appearance of potential cumulus clouds at intervals of 1 to 2 hours before the tmc aircraft was seen up to the location of the potential cumulus clouds. thus, the himawari 8 microphysics rgb daytime scheme can be tried as a supplementary information guide on weather radar data for tmc aircraft to determine the location of potential cumulus clouds Show More ... ... Show Less

  • Cumulus Clouds
  • Weather Radar
  • Supplementary Information
  • Microphysics Scheme
AEROSOL OPTICAL DEPTH (AOD) OVER FOUR INDONESIAN CITIES FROM THE AERONET MEASUREMENT: AN OVERVIEW

abstract a large amount of aerosol, commonly known as particulate matter (pm), is emitted to the atmosphere from land-use conversion, urbanization, and the use of fossil fuels from a variety of sectors. aerosol affect climate, environment, to human health. each location might have different aerosols types due to various sources, sinks, and local characteristics. aerosol robotic network (aeronet) has been established to investigate and monitor aerosol world-wide included in indonesia. this work aims to study aerosol optical properties retrieved from aeronet in four locations namely bandung, jambi, pontianak, and palangkaraya. seasonal and daily variability in aod and angstrom exponent (α), also aerosol classification, is analyzed. the result shows that aerosol characteristics such as aod and α in bandung are different from jambi, palangkaraya, and pontianak due to different aerosol sources. aod clearly increases during the burning period (dry period) in jambi, palangkaraya, and pontianak. the highest aod monthly maximum recorded in palangkaraya as of 4.51 during september. on the other hand, aod in bandung does not show significant variation during dry and rainy season. mixed aerosols (coarse and fine mode) are present in all locations. however, the dominance of fine mode is depicted from high percent frequency of occurrence in jambi, palangkaraya, pontianak, and bandung, which are 33.4%, 31.38%, 25.14% (α range bin 1.6-1.8) and 37.16% (α range bin 1.4-1.6) respectively. there was a period of α1 with 1aod6 in jambi, palangkaraya, and pontianak suggesting smoke fire from peatland, while aod close to 1 with α1 as the character of urban aerosol is prominent in bandung.   intisarisejumlah besar aerosol, atau yang dikenal dengan partikulat, diemisikan ke atmosfer dari aktivitas konversi penggunaan lahan, urbanisasi, dan pembakaran bahan bakar fosil dari berbagai sektor. aerosol memengaruhi iklim, lingkungan, hingga kesehatan manusia. setiap lokasi memiliki jenis aerosol berbeda karena perbedaan sumber polusi dan cara penyerapannya, serta karakteristik lokal daerah tersebut. aerosol robotic network (aeronet) dibentuk untuk menginvestigasi dan memantau aerosol di seluruh dunia termasuk di indonesia. tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari sifat optik aerosol yang diperoleh dari aeronet di empat lokasi yaitu bandung, jambi, pontianak, dan palangkaraya. variabilitas musiman dan harian parameter aod dan angstrom eksponen (α) serta klasifikasi aerosol juga dianalisis. hasil dari studi menunjukkan karakteristik aerosol seperti aod dan α di bandung berbeda dari jambi, palangkaraya, dan pontianak karena perbedaan sumber aerosol. aod meningkat selama periode kebakaran lahan (musim kemarau) di jambi, palangkaraya, dan pontianak. maksimum bulanan aod tertinggi tercatat di palangkaraya sebesar 4.51 pada september. di sisi lain, aod di bandung tidak menunjukkan variasi yang besar pada musim kemarau dan hujan. aerosol campuran (partikel kasar dan halus) terdapat di semua lokasi. namun, dominasi aerosol berukuran halus digambarkan oleh tingginya frekuensi kejadian di jambi, palangkaraya, pontianak, dan bandung masing-masing 33,4%, 31,38%, 25,14% (α range bin 1,6-1,8) dan 37,16% (α range bin 1,4-1.6). terdapat periode dimana α 1 dengan 1 aod 6 di jambi, palangkaraya, dan pontianak menunjukkan sumber aerosol berasal dari kebakaran asap dari lahan gambut, sementara aod mendekati 1 dengan α 1 sebagai karakter dari aerosol perkotaan menonjol di bandung Show More ... ... Show Less

  • Fine Mode
  • Land Use
  • Optical Properties
  • Daily Variability
  • Aerosol Sources
PERFORMA KONVERGENSI ANGIN PERMUKAAN DIURNAL MODEL REANALISIS ERA5 DI BENUA MARITIM INDONESIA

intisaripada penelitian ini, penulis mengkaji uji performa kualitatif konvergensi angin permukaan model reanalisis era5 di bmi yang dibandingkan dengan hasil penelitian menggunakan limited area model (lam) oleh qian, im dan eltahir serta alfahmi et al. konvergensi angin permukaan dan anomali angin permukaan dihitung dengan menggunakan finite difference.  hasil penelitian menunjukkan bahwa model reanalisis era5 mampu mensimulasikan konvergensi anomali angin permukaan dengan baik terhadap model regional climate model (regcm) maupun the mit regional climate model (mrcm) resolusi 27 km di pulau jawa dan sekitarnya serta bmi bagian barat dengan nilai konvergensi yang lebih tinggi. sedangkan terhadap model weather research forecast (wrf) 9 km di bmi bagian timur, model reanalisis era5 juga dapat mensimulasikan konvergensi angin permukaan, tetapi dengan nilai yang lebih rendah. selain itu, model reanalisis era5 mensimulasikan konvergensi angin permukaan lebih cepat 2 jam di bmi bagian barat dan timur dibandingkan mrcm27 dan wrf. abstractin this study, we discuss the qualitative performance testing of era5 surface wind convergence over the indonesia maritime continent (bmi) compared with research based on limited area model (lam) by qian, im, and eltahir and also alfahmi et al. wind surface convergence and wind surface anomalies convergence is calculated using finite-difference. the results show that the era5 reanalysis model can simulate convergence of surface wind anomalies compared with both regional climate model (regcm) and 27 km mit regional climate model (mrcm) over java and also western bmi with higher convergence values. while era5 reanalysis model can also simulate convergence of surface winds, but with lower values compared to 9 km weather research forecast (wrf) model over eastern bmi. besides, the era5 reanalysis model simulates convergence of surface winds, which is 2 hours faster over western and eastern bmi compared to mrcm27 and wrf Show More ... ... Show Less

  • Regional Climate Model
  • Finite Difference
  • Limited Area
KARAKTERISTIK KETINGGIAN DASAR AWAN YANG DIUKUR DENGAN SENSOR INFRA MERAH RADIOMETER PADA PUNCAK MUSIM HUJAN DI JABODETABEK

intisariinformasi mengenai tinggi dasar awan penting bagi penelitian atmosfer dan juga sebagai masukan bagi pemodelan cuaca. pada kegiatan modifikasi cuaca, informasi ini juga sangat penting dalam menentukan awan yang akan disemai. dalam tulisan ini, pengukuran tinggi dasar awan dilakukan dengan menggunakan sensor infra merah yang terpasang pada radiometer. sensor infra merah ini akan mengukur suhu dasar awan yang kemudian dapat diketahui ketinggiannya dengan melihat temperatur lapse rate. hasil pengukuran dibandingkan dengan hasil pengamatan awan oleh micro rain radar yang terletak di lokasi yang sama. hasil pengukuran dari kedua peralatan ini menunjukkan kesesuaian antara kemunculan awan pada micro rain radar yang ditunjukkan dengan struktur vertikal awan dengan hasil pengamatan dengan irt dari radiometer. pengamatan selama puncak musim hujan di jabodetabek (januari – maret 2019) menunjukan adanya pola harian yang cukup jelas. abstractinformation on cloud properties is important for atmospheric research and as well as for weather modeling. in weather modification, this information is very important for cloud seeding strategy. the observation of cloud base height is carried out using infrared sensors mounted on a radiometer. these infrared thermometer sensors are capable of detecting the cloud base temperature, the cloud base height is obtained by looking at the temperature lapse rate retrieved from radiometer observation. the results were compared with the cloud observation by micro rain radar which is located at the same location. the comparison results of these two instruments show that the consistency of cloud detection was good. based on the observation during the peak of the rainy season in jabodetabek (january-march 2019), it is shown a fairly clear daily pattern Show More ... ... Show Less

  • Rain Radar
  • Lapse Rate
  • Cloud Base Height
  • Comparison Results
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC) UNTUK MENGURANGI INTENSITAS CURAH HUJAN (STUDI KASUS: KEGIATAN TMC DI AREA PEMBANGUNAN PROYEK JALAN TOL BALIKPAPAN-SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2018

intisaripenerapan teknologi modifikasi cuaca (tmc) di indonesia terus mengalami perkembangan. tidak hanya untuk menambah curah hujan, belakangan tmc kerap dijadikan solusi yang menjanjikan untuk mengurangi curah hujan si suatu daerah. melalui konsep metode kompetisi dan metode jumping process, curah hujan di suatu daerah dapat dikurangi intensitasnya. penerapan tmc untuk mengurangi curah hujan pernah diterapkan di area proyek pembangunan jalan tol-balikpapan-samarinda, kalimantan timur. melalui evaluasi terhadap curah hujan secara spasial maupun temporal, dapat diketahui indikasi pengurangan curah hujan di wilayah tersebut. secara spasial, aktivitas tmc mampu meredistribusi hujan di daerah upwind sehingga area pembangunan tol mendapatkan curah hujan yang lebih kecil. menggunakan pendekatan statistik dengan membandingkan curah hujan prediksi dan curah hujan aktual, didapatkan estimasi tingkat pengurangan curah hujan selama kegiatan tmc berlangsung di kisaran nilai 40%. abstractthe application of weather modification technology (wmt) in indonesia continues to develop. not only to increase rainfall, but wmt is often used as a promising solution to reduce rainfall in an area. through the concept of the competition method and the jumping process method, the intensity of rainfall in an area can be reduced. the application of wmt to reduce rainfall has been applied in the project area of the balikpapan-samarinda toll road construction, east kalimantan. through the evaluation of rainfall spatially and temporally, it can be seen as an indication of a reduction in rainfall in the region. spatially, wmt activity can redistribute rainfall in the upwind area so that the toll road construction area gets smaller rainfall. using a statistical approach by comparing predicted rainfall and actual rainfall, an estimated level of rainfall reduction during the tmc activity takes place in the range of 40 Show More ... ... Show Less

  • Road Construction
  • Toll Road
  • Statistical Approach
  • Weather Modification
  • Process Method
KONVERGENSI ATMOSFER LAPISAN BAWAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN HUJAN EKSTRIM (STUDI KASUS: BANJIR CIREBON 15 FEBRUARI 2017

intisaritelah dilakukan analisis kondisi atmosfer di berbagai lapisan ketinggian untuk melihat keterkaitannya dengan kejadian hujan ekstrim di wilayah perbatasan jawa barat-jawa tengah pada tanggal 15 februari 2017. area penelitian difokuskan di area 108.00-109.50 bt dan 6.50-7.50 ls yang merupakan area hujan ekstrim (ahe). analisis sebaran dan waktu kejadian hujan menggunakan data gsmap dengan resolusi 0.10 x 0.10 dan periode setiap satu jam, data satelit merra2 dengan resolusi 0.6250 x 0.50 dengan periode setiap 3 jam, data radiosonde stasiun cengkareng jam 07.00 dan 19.00 wib, serta citra satelit himawari 8. hujan di wilayah ahe berlangsung pada jam 13.00–23.00 wib dengan puncak hujan terjadi pada jam 18.00 wib. saat terjadi hujan ekstrim, terdapat perlambatan angin baratan di wilayah ahe serta adanya pertemuan angin dari utara dan dari selatan di wilayah tersebut. area ahe merupakan area dengan konvergensi kuat pada level ketinggian 925 mb dan 850 mb, sebaliknya terjadi divergensi pada level ketinggian 700 mb dan 500 mb. data radiosonde menunjukkan kelembapan udara dari permukaan hingga lapisan 400 mb umumnya lebih dari 80%. freezing level pada jam 07.00 wib terdapat di level 571 mb (4.622 m) dan pada jam 19.00 wib terdapat di level 585 mb (4.820 m).  abstracthave been analyzed of the atmospheric conditions at various altitudes in its relationship with extreme rainfall over west java-central java border area on february 15th, 2017. the study area is focused on the 108.00-109.50 east and 6.50-7.50 south, which is the extreme rainfall area (ahe). the data used in this study are gsmap hourly rainfall (0.10 x 0.10), merra2 satellite three-hourly data (0.6250 x 0.50), cengkareng radiosonde data at 07.00 lt and 19.00 lt, and himawari 8 satellite imagery. the rainfall in the ahe area occurred at 13.00–23.00 lt, with the peak rainfall, occurred at 18.00 lt. the lower atmospheric westerly wind became slower over the ahe area, while the northerly and southerly wind converged at this area. the ahe area has a strong convergence at level 925 mb, and 850 mb, conversely divergence occurred at level 700 mb and 500 mb. the radiosonde data shows that the air humidity is generally more than 80% from the surface to 400 mb. the freezing level at 07.00 lt found at 571 mb (4,622 m) while at 19.00 lt found at 585 mb (4,820 m Show More ... ... Show Less

  • Extreme Rainfall
  • Radiosonde Data
  • Freezing Level
  • Hourly Rainfall
  • Hourly Data
DETEKSI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT HIMAWARI-8 DI KALIMANTAN TENGAH

intisarikebakaran hutan dan lahan terjadi hampir setiap tahun di indonesia, terutama di wilayah sumatera dan kalimantan saat musim kemarau. deteksi kebakaran hutan dan lahan dengan citra satelit menggunakan indikator yang disebut titik panas. titik panas yang digunakan saat ini di indonesia diperoleh dari pengolahan data citra satelit berorbit polar (modis dan viirs) dengan resolusi temporal yang rendah, yaitu hanya 6 kali dalam sehari. tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan data citra satelit himawari-8 untuk deteksi kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan titik panas dengan resolusi temporal 10 menit, dimana hasilnya di validasi dengan citra polar dan data kebakaran lapangan. lokasi penelitian berada di provinsi kalimantan tengah dan waktu penelitian adalah bulan september 2019. data yang digunakan untuk pengolahan adalah 5 saluran advanced himawari imager, peta batas administrasi dan tutupan lahan. pemrosesan data citra satelit mencakup pemilihan piksel penutup lahan dan batas administrasi, penentuan waktu pengamatan, eliminasi piksel awan, algoritma pemantau kebakaran aktif, dan validasi hasil. data citra himawari-8 dapat diolah menjadi titik panas dengan temporal 10 menit. validasi terhadap citra polar memiliki tingkat akurasi 66,2%-75,4%, comission error 28,2-46,9% dan omission error 24,6-33,8%. tingginya comision error terhadap citra viirs dikarenakan citra viirs memiliki resolusi spasial yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan citra himawari-8.  abstractforest and land fires occur almost every year in indonesia, especially in sumatra and kalimantan during the dry season. detection of forest and land fires with satellite imagery uses an indicator called a hotspot. the hotspots used today in indonesia are obtained from the processing of polar orbital satellite image data (modis and viirs) with a low temporal resolution, which is only six times a day. the purpose of this study is to utilize himawari-8 satellite imagery data for the detection of forest and land fires that produce hotspots with a temporal resolution of 10 minutes, where the results are validated with polar imagery and field fire data. the research location is in central kalimantan province, and the time of the study is september 2019. data used for processing are 5 advanced himawari imager channels, administrative boundary maps, and land cover. processing of satellite imagery data includes the selection of cover pixels and administrative boundaries, determination of observation time, elimination of cloud pixels, active fire monitoring algorithm, and validation of results. himawari-8 image data can be processed into hotspots with a temporal 10 minutes. validation of polar images has an accuracy rate of 66.2% -75.4%, commission error 28.2-46.9% and omission error 24.6-33.8%. the high commission error on the viirs image is because the viirs image has a much higher spatial resolution compared to the himawari-8 image Show More ... ... Show Less

  • Satellite Imagery
  • Temporal Resolution
  • Image Data
  • Omission Error
  • Commission Error
PERBAIKAN ESTIMASI CURAH HUJAN BERBASIS DATA SATELIT DENGAN MEMPERHITUNGKAN FAKTOR PERTUMBUHAN AWAN

intisari permasalahan utama dalam mengestimasi curah hujan menggunakan data satelit adalah kegagalan membedakan antara awan cumuliform dengan awan stratiform dimana dapat menyebabkan nilai estimasi hujan under/overestimate. dalam penelitian ini teknik estimasi curah hujan berbasis satelit yang digunakan adalah modifikasi convective stratiform technique (cstm). cstm memiliki kelemahan ketika harus menghitung sistem awan konveksi dengan inti konveksi yang sangat luas karena akan memiliki nilai slope parameter kecil, sehingga menghasilkan estimasi curah hujan yang underestimate. dengan melibatkan perhitungan faktor pertumbuhan awan di algoritma cstm permasalahan tersebut dapat diatasi. penelitian ini menerapkan algoritma cstm dan faktor pertumbuhan awan (cstm+growth factor) untuk mengestimasi kejadian hujan lebat yang menyebabkan banjir di jakarta pada tanggal 24 januari 2016 yang digunakan juga sebagai studi kasus di proyek pengembangan model nwp di bmkg. hasil penelitian menunjukan bahwa perlibatan faktor pertumbuhan awan sangat efektif memperbaiki kelemahan teknik cstm, diperlihatkan dengan peningkatan nilai korelasi dari 0.6 menjadi 0.8 untuk wilayah kemayoran dan -0.1 menjadi 0.83 untuk wilayah cengkareng. secara umum gabungan teknik cstm dan faktor pertumbuhan awan dapat memperbaiki estimasi nilai intensitas dan fase hujan. abstract  the main problem in estimating rainfall using satellite data is a failure to distinguish between cumuliform and stratiform clouds, which can cause under/overestimate of rains. in this research, the modified convective stratiform technique (cstm) has been used to estimate rainfall based on satellite data. the weakness of the cstm technique is defined when calculating the convective cloud system within a widely convective point. cloud convective will have a low value of parameter slope and produce an underestimate of rainfall. this issue can be resolved by calculating the cloud growth factor on cstm. cstm algorithm and cloud growth factor (cstm+growth factor) has been applied to this research to estimate heavy rainfall for floods event in jakarta area on january 24th, 2016. the result showed that the cloud growth factor is very effective in improving the weakness of rainfall estimation using the cstm technique. correlation between estimation and observation rainfall has increased from 0,6 to 0,8 on kemayoran and from -0,1 to 0,83 on cengkareng. the coupled method of cstm and cloud growth factor significantly improve in estimating phase and intensity of rainfall Show More ... ... Show Less

  • Growth Factor
  • Satellite Data
  • Point Cloud
  • Heavy Rainfall
  • Slope Parameter
PERANAN CROSS EQUATORIAL NORTHERLY SURGE TERHADAP DINAMIKA ATMOSFER DI WILAYAH INDONESIA BAGIAN BARAT

intisaripada saat monsun dingin asia berlangsung pada oktober hingga maret, sebagian wilayah indonesia mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan dibandingkan saat periode april hingga september. selain dari pengaruh monsun, cuaca di wilayah indonesia juga dipengaruhi oleh sirkulasi skala global dan regional yang terjadi secara simultan. hal ini dapat memengaruhi dinamika atmosfer di sebagian wilayah indonesia. pada penelitian ini, dikaji aktivitas cross equatorial northerly surge yang terjadi pada skala regional serta dampaknya terhadap dinamika atmosfer di wilayah indonesia bagian barat khususnya laut china selatan bagian selatan hingga laut jawa. hasil penelitian menunjukkan bahwa cross equatorial northerly surge pada tahun 2013 terjadi paling kuat pada saat bersamaan dengan cold surge, dan memengaruhi pola divergensi, transpor kelembapan, dan omega, terutama di wilayah utama pada penelitian ini yaitu perairan laut china selatan hingga laut jawa, yang berpotensi mendukung terjadinya cuaca buruk di wilayah bangka belitung dan jawa bagian barat.   abstractduring the asia winter monsoon from october to march, parts of the indonesian region experienced significant rainfall increases compared to the period from april to september. apart from monsoon influence, the weather in the indonesian region was also influenced by global and regional scale circulations, which occurred simultaneously. this can affect atmospheric dynamics in parts of the indonesian region. in this study, the activities of cross-equatorial northerly surge that occurred on a regional scale and its impact on atmospheric dynamics conditions in western indonesia, especially the southern south china sea to the java sea, are examined. the results showed that the cross-equatorial northerly surge in 2013 occurred most strongly at the same time as cold surge, and influenced divergence, moisture transport, and omega patterns, particularly in the main research areas including south china sea to the java sea, which have the potential to excite severe weather in bangka belitung and western part of java Show More ... ... Show Less

  • South China Sea
  • Regional Scale
  • Atmospheric Dynamics
  • Cold Surge
APLIKASI RADAR CUACA UNTUK IDENTIFIKASI FLUKTUASI KONDISI CUACA EKSTRIM (STUDI KASUS: BANJIR DI KOTA MEDAN TANGGAL 5 OKTOBER 2018

intisari data radar cuaca enterprise electronics corporation (eec) selama 24 jam pada tanggal 5 oktober 2018 mulai pukul 07.00 wib hingga 07.00 wib tanggal 6 oktober 2018 digunakan pada penelitian ini. data ini diperoleh dari balai besar meteorologi klimatologi dan geofisika wilayah i dalam format volumetric (.vol) dan memiliki selang waktu per 10 menit. metode yang digunakan yaitu analisis deskriptif hasil produk turunan radar yang diolah menggunakan perangkat lunak yang berasal dari produsen radar yaitu enterprise doppler graphic environment (edge) berupa coloumn maximum (cmax), momen intensitas horizontal, momen rata-rata curah hujan, dan vertical integrated reflectivity (vir), serta grafik curah hujan (rhg). penelitian ini memperlihatkan bahwa fluktuasi kondisi cuaca yang terjadi pada tanggal 5 oktober 2018 sangat tinggi. secara umum, curah hujan intensitas tinggi yang terjadi di kota medan pada tanggal 5 oktober 2018 umumnya terbagi menjadi tiga periode, yaitu hujan pada siang hingga sore (pukul 14.00 – 15.50 wib), hujan pada petang (pukul 18.20 – 19.40 wib), dan hujan pada malam hari (21.10 – 23.40 wib). fluktuasi tertinggi terjadi pada periode pertama dengan kenaikan curah hujan tertinggi terjadi di kecamatan medan helvetia dengan kenaikan curah hujan sebanyak 32 mm dalam 10 menit yang terjadi pada pukul 14.50 wib, pada periode kedua terjadi di kecamatan medan kota dengan kenaikan 24 mm pada pukul 18.20 wib, dan periode ketiga terjadi di kecamatan medan johor dengan kenaikan 17 mm pada pukul 21.20 wib. abstract enterprise electronics corporation (eec) data radar for 24 hours on october 5th, 2018, starting at 7:00 lt until 07.00 lt on october 6th, 2018, were used in this research. these data were obtained from the center for meteorology, climatology and geophysics in region i in the form of volumetric (.vol) and has an interval of 10 minutes. the method used were descriptive analysis of radar products processed by software from radar manufacture, namely enterprise doppler graphic environment (edge) software which in the form of column maximum (cmax) moments of horizontal intensity and moments of average rainfall, vertical integrated reflectivity (vir), and rainfall graph (rhg). we found that there were high fluctuations in weather conditions that occurred on october 5th, 2018. in general, the high-intensity rainfall occurred in medan city on october 5th, 2018 was generally divided into three periods, namely rain in the afternoon until evening (at 14:00 - 15:50 lt), rain at dusk (18:20 - 19:40 lt), rain at night (21.10 - 23.40 lt). the highest fluctuation occurred in the first period with the highest increase of rainfall occurred in medan helvetia subdistrict with an increase of 32 mm rainfall in 10 minutes which occurred at 14.50 lt; the second period occurred in medan kota district with a 24 mm increase at 18.20 lt, and the third period occurred in medan johor district with a 17 mm increase at 21.20 lt Show More ... ... Show Less

  • Graphic Environment
  • High Intensity
  • Descriptive Analysis
  • Weather Conditions
  • The Third
UJI AKURASI PRODUK ESTIMASI CURAH HUJAN SATELIT GPM IMERG DI SURABAYA, INDONESIA

curah hujan merupakan parameter meteorologi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan. saat ini, pengamatan secara in situ sangat kurang representatif untuk digunakan sebagai analisis karena jangkauannya yang sangat sempit sehingga memerlukan instrumen pendukung seperti satelit agar dapat memberikan gambaran yang lebih baik terkait distribusi hujan. namun, data satelit juga belum tentu sepenuhnya benar karena resolusi dan kondisi dari setiap wilayah berbeda. penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai akurasi, bias, korelasi, root mean square error (rmse), dan mean absolute error (mae) data estimasi curah hujan gpm imerg dengan data curah hujan pengamatan langsung. penelitian ini dilakukkan di surabaya dengan menggunakan data estimasi curah hujan gpm imerg dan data curah hujan pengamatan langsung dari stasiun meteorologi kelas i juanda surabaya selama tahun 2017 mewakili musim hujan, musim kemarau, dan periode transisi. hasil penelitian menunjukkan bahwa data curah hujan produk gpm imerg memiliki korelasi yang sangat baik untuk memperkirakan akumulasi curah hujan bulanan. sedangkan, untuk akumulasi harian, memiliki korelasi yang sangat rendah. sementara itu untuk akumulasi sepuluh harian, data curah hujan produk satelit gpm imerg memiliki korelasi yang baik terutama di periode musim hujan dan musim kemarau, akan tetapi memiliki korelasi yang rendah selama periode transisi dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. pada umumnya, produk ini sangat bagus dalam menentukan ada atau tidaknya hujan, tetapi performanya sangat rendah dalam menentukan besarnya intensitas curah hujan Show More ... ... Show Less

  • Root Mean Square Error
  • In Situ
  • Mean Absolute Error
KORELASI INDEKS NINO 3.4 DAN SOUTHERN OSCILLATION INDEX (SOI) DENGAN VARIASI CURAH HUJAN DI SEMARANG

semarang merupakan salah satu wilayah di indonesia yang rawan terdampak bencana hidrometeorologi. sejumlah wilayah di semarang merupakan daerah rawan kekeringan, sementara di wilayah lainnya merupakan daerah langganan banjir tiap tahunnya. salah satu parameter yang memiliki keterkaitan erat dengan fenomena hidrometeorologi adalah el nino southern oscillation (enso). sebagai sirkulasi tropis non musiman, enso memiliki peran penting terhadap variasi curah hujan yang diamati. penelitian terkait enso telah banyak dilakukan sebelumnya, namun belum ada penelitian tekait yang dilakukan di semarang yang notabene merupakan daerah rawan bencana hidrometeorologi, sehingga fluktuasi enso menarik untuk dikaji di wilayah ini. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi fenomena global laut atmosfer terhadap distribusi curah hujan di wilayah semarang. dalam jangka waktu 15 tahun (2001-2015), pengaruh dari enso dianalisis menggunakan korelasi temporal untuk menentukan dampak dari enso pada curah hujan yang diamati di enam pos pengamatan hujan di semarang. analisis tersebut menunjukkan bahwa korelasi antara anomali suhu permukaan laut (spl) di wilayah nino 3.4 dengan curah hujan diamati secara signifikan pada lima pos pengamatan hujan selama periode september oktober november (son) dengan rentang nilai korelasi antara -0.598 sampai dengan -0.679. sementara itu, korelasi variabilitas curah hujan dengan southern oscillation index (soi) menunjukan nilai yang berkisar antara 0.561 sampai dengan 0.780. curah hujan yang diamati umumnya selalu berkurang pada tahun-tahun dimana nilai indeks nino 3.4 positif dan nilai soi negatif, sedangkan curah hujan diamati meningkat pada tahun-tahun dimana nilai indeks nino 3.4 negatif dan nilai soi yang positif Show More ... ... Show Less

  • Southern Oscillation Index
  • El Nino
  • El Niño Southern Oscillation
PERBAIKAN PREDIKSI CUACA NUMERIK KEJADIAN CURAH HUJAN LEBAT TERKAIT DENGAN KEJADIAN LONGSOR DI BANJARNEGARA MENGGUNAKAN ASIMILASI DATA SATELIT

wilayah banjarnegara terekspos dengan kejadian tanah longsor yang terjadi hampir setiap tahun. hujan lebat merupakan salah satu faktor penting pemicu terjadinya longsor yang paling mungkin untuk diprediksi, sehingga prediksi hujan lebat yang akurat sangat dibutuhkan dalam sistem peringatan dini longsor. namun demikian, keterbatasan peralatan pengamatan cuaca di banjarnegara memberikan kendala tersendiri sehingga dibutuhkan teknik lain dalam pembuatan informasi prediksi cuaca di wilayah ini. penelitian ini dibuat untuk memberikan kontribusi landasan ilmiah dalam membuat prakiraan cuaca menggunakan model weather research and forecasting (wrf) dengan mengintegrasikan data pengamatan satelit menggunakan wrf data assimilation (wrf-da) untuk memperbaiki kualitas data awal model. hasil penelitian menunjukan bahwa prosedur asimilasi data satelit cuaca dapat memperbaiki data awal kandungan uap air di atmosfer (+60%) beberapa jam sebelum kejadian hujan lebat. sehingga hasil prediksi model cuaca numerik dengan menggunakan asimilasi data satelit (da-sat) menjadi lebih baik dibandingkan dengan yang tidak menggunakan asimilasi data (non_da). hal ini ditunjukan dengan nilai bias model yang mengecil (-32%) jika dibandingkan dengan data pengamatan penakar hujan stasiun. hasil perbandingan data series waktu akumulasi curah hujan antara da-sat dan non-da memperlihatkan adanya perbedaan waktu tercapainya hujan maksimum dan juga perbedaan intensitasnya dimana skema non-da lebih lambat (+5 jam) dengan bias (-40%) sementara da-sat lebih lambat 0.5 jam dengan bias (+8%). dapat disimpulkan bahwa asimilasi data satelit dapat memperbaiki kesalahan prediksi jumlah hujan dan waktu kejadiannya. hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi penggunaan asimilasi data satelit dalam pembuatan informasi prediksi cuaca numerik di wilayah banjarnegara Show More ... ... Show Less

PERFORMA MODEL WRF ASIMILASI DATA SATELIT CUACA PADA KEJADIAN CURAH HUJAN LEBAT DI JABODETABEK

prediksi cuaca numerik saat ini terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan prakiraan curah hujan beresolusi tinggi. namun, prediksi cuaca numerik di indonesia masih bermasalah dalam hal akurasi model numerik. beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa akurasi pemodelan sangat dipengaruhi oleh error pada data kondisi inisial. penelitian ini mengkaji upaya untuk memperbaiki data inisial model weather research and forecasting (wrf) dengan menggunakan prosedur asimilasi radiance satelit untuk prakiraan curah hujan di wilayah jabodetabek untuk empat studi kasus pada musim yang berbeda selama 2017. enam eksperimen model dijalankan dengan data satelit amsua, mhs, hirs4, dan atms menggunakan wrfda 3dvar. penelitian ini dilakukan dengan analisis pengaruh asimilasi terhadap data inisial model, analisis skill model berdasarkan diagram taylor, kriteria curah hujan, curah hujan spasial, dan akumulasi curah hujan time series dibandingkan dengan data observasi curah hujan bmkg dan data curah hujan gsmap. hasil penelitian menunjukkan bahwa eksperimen da amsua, mhs, dan mix dapat memodifikasi data kondisi inisial model dengan baik. sementara itu, hasil verifikasi diagram taylor mengungkapkan bahwa eksperimen da-mhs memiliki performa terbaik dibandingkan dengan asimilasi lainnya, sedangkan verifikasi prediksi curah hujan berdasarkan kriteria hujan, verifikasi spasial, dan akumulasi curah hujan time series pada eksperimen da-amsua adalah yang terbaik dengan skill model yang cukup konsisten di wilayah jabodetabek pada berbagai musim Show More ... ... Show Less

  • Time Series
  • Weather Research And Forecasting
APLIKASI SATELIT DALAM MENGESTIMASI EVAPORASI DI DAERAH WADUK (STUDI KASUS: WADUK SAGULING-JAWA BARAT

estimasi evaporasi di daerah waduk menggunakan metode empiris dengan input data satelit dilakukan untuk mengatasi masalah ketersediaan data meteorologi dari observasi permukaan. data satelit berupa land surface temperature dari satelit himawari dan profil atmosfer dari satelit modis digunakan untuk memperoleh informasi parameter temperatur, kelembapan relatif dan radiasi matahari untuk mengestimasi besaran evaporasi di daerah waduk. metode empiris yang digunakan antara lain adalah blaney-criddle, kharuffa, hargreaves, schendel dan schendel yang dimodifikasi (modified schendel). hasil estimasi evaporasi dibandingkan terhadap evaporasi acuan yang dihitung menggunakan metode kombinasi (penman) dengan input parameter meteorologi hasil observasi. observasi dilakukan menggunakan automatic weather station di dua titik pengamatan di waduk saguling. hasil penelitian menunjukkan estimasi evaporasi waduk dengan input data satelit dapat dilakukan dengan metode yang ada namun diperlukan modifikasi. metode estimasi evaporasi waduk yang terbaik adalah modified schendel, namun belum bisa menunjukkan variasi spasial yang sesuai observasi. penggunaan regresi linier berganda dan menambahkan parameter radiasi matahari pada modified schendel, didapatkan suatu persamaan yang baik secara statistik dan dapat menunjukkan variasi spasial evaporasi di waduk saguling yang sesuai observasi Show More ... ... Show Less

  • Input Data
  • Land Surface Temperature
  • Automatic Weather Station
UJI PERFORMA WRF DENGAN DATA ASIMILASI RADAR, SATELIT DAN SYNOP UNTUK PREDIKSI HUJAN DI JAKARTA

asimilasi data merupakan suatu metode estimasi yang diperoleh dari penggabungan antara output model nwp dan data-data pengukuran. dalam beberapa tahun terakhir, model mesoscale resolusi tinggi diinisialisasi dengan menggunakan teknik data asimilasi (3dvar/4dvar) yang diterapkan untuk mempelajari fenomena meteorologi. penelitian ini dilakukan di wilayah jakarta dengan memanfaatkan data observasi sinoptik, data radiance satelit dan data radar doppler c-band eec (enterprise electronics corporation) di jakarta. penelitian ini menggunakan model numerik weather research and forecasting (wrf) untuk menjalankan model tanpa asimilasi dan model dengan asimilasi data radar, satelit dan sinoptik menggunakan sistem 3dvar. analisis dilakukan secara kuantitatif untuk menguji performa model terhadap data observasi dan analisis spasial dengan mencari nilai selisih curah hujan dengan data gsmap melalui metode overlay. hasil membuktikan performa terbaik dari hasil prediksi distribusi hujan spasial adalah model asimilasi satelit kemudian model asimilasi radar dan terakhir model asimilasi synoptic. uji performa melalui tabel kontingensi untuk mengetahui nilai pc, ts, far, dan pod. model asimilasi satelit memiliki performa paling baik daripada model asimilasi lain. untuk prediksi sesuai kategori hujan ringan model asimilasi satelit yang terbaik, sementara untuk kategori hujan sangat lebat model asimilasi synop adalah yang paling unggul Show More ... ... Show Less

  • Weather Research And Forecasting
KARAKTERISTIK CURAH HUJAN BERDASARKAN RAGAM TOPOGRAFI DI SUMATERA UTARA

wilayah sumatera utara (sumut) memiliki kondisi geografis dan topografi yang beragam, mulai dari pesisir, dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, serta kepulauan. hal ini dapat menyebabkan variabilitas curah hujan semakin beragam. untuk itu, kajian ini akan membahas mengenai variabilitas curah hujan sumut di beberapa wilayah dengan kondisi geografi dan topografi yang berbeda. data curah hujan bulanan dari 17 pos hujan badan meteorologi klimatologi dan geofisika (bmkg) dengan periode 1986-2016 (31 tahun) digunakan dalam kajian ini. metode analisis deskriptif, statistik sederhana berupa perata-rataan, standarisasi anomali, dan interpolasi pembalikkan bobot jarak digunakan dalam kajian ini. letak pos hujan dibagi berdasarkan kondisi geografis dan topografinya sehingga diperoleh enam wilayah yaitu pesisir timur, lereng timur, pegunungan, lereng barat, pesisir barat, dan kepulauan nias. hasil yang diperoleh yaitu variabilitas curah hujan sumut dalam skala bulanan, antar musiman dan antar tahunan di keenam wilayah topografi berbeda satu sama lain. curah hujan rata-rata sumut umumnya menurun dari wilayah barat ke timur sehingga menyebabkan perbedaan yang cukup signifikan antara wilayah timur dan barat. curah hujan tertinggi terjadi di wilayah pesisir barat yaitu 230-570 mm/bulan atau >4550 mm/tahun sedangkan terendah terjadi di pesisir timur yaitu 100–150 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. puncak musim hujan sumut umumnya terjadi pada bulan november, kecuali wilayah pesisir dan lereng timur yang terjadi pada bulan oktober. curah hujan tahunan wlayah topografi sumut umumnya menunjukkan nilai anomali standar negatif pada tahun 90-an dan menunjukkan anomali positif setelah tahun 2000, kecuali di wilayah lereng timur dan kepulauan Show More ... ... Show Less

KAJIAN PENGELOLAAN TATA AIR DAN PRODUKTIVITAS SAWIT DI LAHAN GAMBUT (Studi Kasus : Lahan Gambut Perkebunan Sawit PT Jalin Vaneo Di Kabupaten Kayong Utara, Propinsi Kalimantan Barat

pengembangan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit sudah demikian pesatnya akibat terbatasnya lahan mineral yang tersedia dalam hamparan yang luas. tidak sedikit pemahaman akan karakteristik lahan gambut untuk pengembangan kebun kelapa sawit juga sangat terbatas baik aspek ekologi maupun agronomi dan tanah. tujuan dari kajian ini adalah untuk mengkaji sistem tata air pada lahan gambut dalam kaitannya dengan karakteristik lahan baik aspek biofisik maupun lingkungan. hasil kajian menunjukkan bahwa saluran reklamasi baik pada saluran utama maupun pada saluran blok banyak terjadi overdrainage dan hal ini sangat rentan terhadap bahaya kebakaran lahan gambut. pemahaman karakteristik lahan gambut yang kurang memadai serta pengelolaan ketinggian muka air saluran yang kondisinya dibawah kedalaman lapisan pirit mengakibatkan terbentuknya oksidasi pirit. saluran yang terindikasi terjadi oksidasi pirit terjadi pada saluran blok lahan pertanaman berimplikasi terbentuknya racun (jarosit), sehingga hal ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan tanaman dan produksi kelapa sawit. pirit yang teroksidasi ini mempunyai ph yang sangat masam sehingga kelaruran logam seperti al sangat tinggi dan berdampak pada keracunan bagi tanaman. pengendalian muka air diatas lapisan pirit, flushing dengan fresh water dan pengapuran merupakan solusi dalam penangan oksidasi pirit, sehingga produktivitas sawit bisa berkelanjutan Show More ... ... Show Less

  • Fresh Water
DETEKSI ES DAN HAIL DI ATMOSFER DENGAN RADAR POLARIMETRIK X-BAND FURUNO WR-2100 (STUDI KASUS: 24 JANUARI DAN 14 FEBRUARI 2016

informasi keberadaan es di atmosfer sangat penting, tidak hanya untuk studi meteorologi, namun juga untuk kegiatan modifikasi cuaca maupun pengembangan sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi. pada makalah ini, kami mendemonstrasikan tiga teknik deteksi es dengan memanfaatkan observasi radar x-band polarimetrik furuno wr-2100. data constant altitude plan position indicator (cappi) untuk parameter horizontal reflectivity (zh), differential reflectivity (zdr) dan specific differential phase (kdp) pada kejadian presipitasi konvektif di wilayah banten dan bogor tanggal 24 januari dan 14 februari 2016 dianalisis dengan menggunakan metode hail differential reflectivity (hdr), metode konsistensi kdp (cm) dan metode fuzzy logic (fl). produk data yang dihasilkan oleh ketiga metode tersebut saling dibandingkan secara horizontal pada ketinggian 500 meter, 2 kilometer dan 5 kilometer, serta secara vertikal hingga ketinggian 15 kilometer. hasil analisis menunjukkan metode hdr paling sensitif dan konsisten untuk identifikasi es pada setiap level ketinggian, sedangkan metode fl dapat membedakan jenis es secara spesifik. di sisi lain, rendahnya sensitivitas metode cm dalam penelitian ini menunjukkan tidak adanya konsentrasi es yang signifikan pada waktu observasi dan mengindikasikan metode tersebut lebih sensitif untuk deteksi jenis es dengan ukuran yang lebih besar Show More ... ... Show Less

  • X Band
  • Differential Reflectivity
  • Fuzzy Logic
  • Differential Phase
  • Position Indicator
PERBANDINGAN PARAMETER ATMOSFER RADIOSONDE DI PALEMBANG DAN PANGKALPINANG SELAMA INTENSIVE OBSERVATION PERIODE (IOP

beberapa kondisi udara atas yang bagus untuk mendukung pertumbuhan awan adalah udara dalam kondisi labil, kelembapan yang cukup basah dan angin yang tidak terlalu kencang. profil udara atas ini biasa diukur dengan menggunakan radiosonde. namun selama ini terjadi keterbatasan dalam hal lokasi peluncuran radiosonde yang tidak banyak di indonesia, seperti di palembang tidak ada peluncuran radiosonde yang rutin dilakukan kecuali ada event tertentu seperti intensive observation period (iop) sehingga dalam kondisi biasa untuk mengetahui profil udara atasnya menggunakan lokasi peluncuran radiosonde terdekat yaitu di pangkalpinang. penelitian ini bertujuan untuk membandingkan parameter dari pengukuran radiosonde palembang saat kegiatan iop dengan radiosonde pangkalpinang, guna mengetahui apakah parameter yang dihasilkan dari radiosonde pangkalpinang bisa digunakan untuk wilayah palembang. parameter yang dibandingkan adalah k-index, lifted index, showalter index, convective temperature (tc), cape, rh 850 mb, rh 700 mb dan rh 500 mb. perbandingan dilakukan secara visual dan uji statistik. secara visual dengan metode grafik dan secara statistik menggunakan wilcoxon signed rank test. hasil secara visual menunjukkan semua parameter memiliki pola yang mirip dan berdekatan. hasil uji statistik menunjukkan hampir semua parameter yang diuji memiliki nilai probabilitas di atas 0.05 yang berati tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran di palembang dan pangkalpinang kecuali parameter showalter index yang memiliki nilai probabilitas 0.008 atau di bawah 0.05 yang menunjukkan bahwa parameter showalter index ini ada perbedaan yang signifikan dari kedua lokasi Show More ... ... Show Less

  • Intensive Observation
  • Wilcoxon Signed Rank Test
  • Observation Period
ANALISIS HUJAN LEBAT TANGGAL 27 SEPTEMBER 2017 DI DKI JAKARTA

intisaripada 27 september 2017 beberapa wilayah di dki jakarta dilanda hujan dengan intensitas lebat yang memicu genangan di beberapa wilayah. wilayah dki jakarta pada bulan september masih dalam periode transisi dari musim kemarau menuju musim hujan, sehingga potensi kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang cukup tinggi, meski umumnya masih bersifat sporadis. dengan menggunakan data reanalysis model diketahui bahwa pada saat kejadian terdapat anomali pola angin di lapisan 850 hpa dibandingkan dengan klimatologisnya, serta didentifikasi adanya anomali kelembapan udara di lapisan bawah hingga 500 hpa yang lebih basah dibandingkan dengan klimatologisnya. pertumbuhan awan hujan tipe nimbustratus yang optimal pada saat kejadian dipicu oleh daerah konvergensi yang terbentuk di wilayah banten, dki jakarta, hingga jawa barat, serta kondisi atmosfer yang basah hingga di lapisan menengah.   abstracton september 27, 2017, several areas in dki jakarta were surge by heavy rain that triggered inundations in some areas. dki jakarta area in september is still in the transition period from the dry season to the rainy season, so the potential for the occurance of rain with mild to light intensity accompanied by thunder/lightning and strong winds is still quite high, although generally still sporadic. using the reanalysis data model it is known that at the time of the event there was wind pattern anomaly in layer 850 hpa compared with its climatology, and also been identified an anomaly of air humidity in the lower layer of the atmosphere up to 500 hpa wetter than its climatology. the optimum growth of nimbustratus cloud at the time of the incident was triggered by the convergence area formed in banten, dki jakarta, and west java, as well as the wet atmospheric conditions up to the middle layer Show More ... ... Show Less

  • Light Intensity
  • Data Model
  • Rainy Season
  • Optimum Growth
  • Air Humidity
PENGARUH MADDEN-JULIAN OSCILLATION TERHADAP DISTRIBUSI TEMPORAL DAN PROPAGASI HUJAN BERDASARKAN PENGAMATAN RADAR CUACA (Studi Kasus : Intensive Observation Period 2016 Di Wilayah Jakarta Dan Sekitarnya

intisaridistribusi temporal dan propagasi hujan selama intensive observation period 2016 (iop 2016, 18 januari – 16 februari 2016) di wilayah jakarta dan sekitarnya dianalisis berdasarkan rataan longitudinal dan latitudinal data constant altitude plan position indicator (cappi) radar cuaca, pada periode sebelum, saat dan sesudah fase aktif madden-julian oscillation (mjo). hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi temporal hujan berkurang secara signifikan pada periode mjo aktif dan sesudah mjo, terutama pada dini hari. di sisi lain, intensitas hujan semakin meningkat dengan nilai rata-rata di atas 30 mm/jam pada periode setelah mjo. pada komponen zonal, arah propagasi hujan umumnya dominan dari barat ke timur pada ketiga periode analisis, sedangkan untuk komponen meridional, terdapat variasi yang cukup signifikan pada periode saat dan setelah mjo aktif . pergerakan hujan dari selatan ke utara pada kedua periode tersebut menunjukkan pengaruh siklus diurnal yang semakin kuat dibandingkan pengaruh monsun, setelah mjo melintasi wilayah barat benua maritim indonesia.   abstracttemporal distribution and propagation of rainfall during intensive observation period 2016 campaign (iop 2016, january 18 – february 16, 2016) in jakarta and surrounding area were investigated based on the longitudinal dan latitudinal averages of constant altitude plan position indicator (cappi) dataset of weather radar, during the active madden-julian oscillation (mjo) phase, as well as, pre-mjo and post-mjo periods. the results show a significant decrease of rainfall temporal distribution during the active mjo and post-mjo periods, particularly in the early morning, meanwhile, the rainfall intensity shows significant increase, with the averages of more than 30 mm/hr during the post-mjo period. on the zonal component, the rainfall mostly has eastward propagation for all period while having more significant variations on the meridional component during the active and post-mjo periods. northward rainfall propagation during the active and post-mjo periods indicates the strengthen effect of diurnal cycle over monsoon after the mjo passed by the western part of indonesian maritime continent Show More ... ... Show Less

  • Madden Julian Oscillation
  • Intensive Observation
  • Observation Period
  • Position Indicator
  • Constant Altitude
ANALISIS CUACA PADA PENERAPAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA DI DAS PLTA Ir. PM NOOR BULAN APRIL - MEI 2017

intisari pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (tmc) di das plta ir pm noor dilakukan pada tanggal 18 april sampai 17 mei 2017. kondisi cuaca selama pelaksanaan kegiatan tmc dipengaruhi oleh adanya fenomena enso netral dengan adanya kemungkinan menuju nino lemah, sedangkan nilai anomali olrnya lebih dominan negatif. massa udara yang masuk daerah target didominasi massa udara yang berasal dari lautan pasifik  barat dan laut banda yang cukup mengandung uap air, kondisi kelembapan udara di wilayah kalimantan selatan cukup basah dan terdapat daerah konvergensi yang mendukung terjadinya pertumbuhan awan. total rata-rata curah hujan wilayah di das plta ir. pm noor selama periode pelaksanaan tmc adalah sebesar 205,7 mm.  abstractthe implementation of weather modification technology in the ir. pm noor hydroelectric plant catchment area was conducted on 18 april to 17 may 2017. weather conditions during the implementation of weather modification are influenced by the phenomenon of neutral enso condition with the possibility to nino weak, while the value of the olr anomaly is more dominantly negative. the air mass that entering the target area is dominated from the west pacific ocean and banda sea which contains enough moisture, the humidity conditions in south kalimantan are quite wet and there is a convergence area that supports the occurrence of cloud growth. total average rainfall in the ir. pm noor hydroelectric plant catchment area during the weather modification implementation period is 205.7 mm Show More ... ... Show Less

  • Weather Modification
  • Catchment Area
  • Hydroelectric Plant
  • Pacific Ocean
  • Total Average
VARIASI HARIAN DAN TAHUNAN HUJAN DI SERPONG BERDASARKAN PENGAMATAN DENGAN MICRO RAIN RADAR

intisarikemampuan mrr untuk mengamati profil hujan sampai ketinggian di atas 7500m dapat digunakan untuk mengamati kemunculan jenis hujan. dari parameter yang diperoleh dapat dibedakan menjadi dua jenis hujan, konvektif dan stratiform berdasarkan keberadaan brightband. pengamatan kemunculan jenis hujan dengan mrr di serpong menunjukkan bahwa hujan konvektif relatif muncul lebih banyak dibandingkan stratiform pada puncak musim kering, sedangkan pada musim hujan sebaliknya. untuk variasi hariannya, puncak hujan konvektif muncul sekitar pukul 15.00-16.00 wib sedangkan stratiform sekitar pukul 18.00 wib.  abstractthe ability of micorain radar to observe precipitation profiles up to 7500m height can be used to observe the precipitation types. precipitation can be classified into two types of rain, convective and stratiform based on the existence of brightband. mrr observation in serpong shows that convective rain relatively appears more than stratiform rain during the peak of the dry season, while in the rainy season vice versa. for daily variations, the peak of the convective rain appears at about 15.00-16.00 lt while the stratiform is around 18.00 lt Show More ... ... Show Less

  • Convective Rain
  • Rainy Season
  • Dry Season
  • Stratiform Rain
  • Rain Radar
PENYEBARAN POLUTAN DALAM KASUS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SUMATERA SELATAN TAHUN 2015

intisarikebakaran hutan dan lahan di sumatera selatan tahun 2015 menimbulkan bencana kabut asap yang sangat masif sehingga kualitas udara dalam beberapa hari mencapai kategori berbahaya. dalam tulisan ini dibahas penyebaran polutan di wilayah sumatera selatan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah tersebut. data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hotspot dari satelit modis dengan tingkat kepercayaan 70 %, curah hujan trmm serta curah hujan dari penakar yg ada di sumatera selatan,data kualitas udara (ispu), data black carbon dari merra-2 model m2t1nxaer v5.12.4. dengan resolusi 0.5o x 0.625o, serta arah dan kecepatan angin lapisan 925 mb. analisis spasio temporal penyebaran black carbon yang dipadukan dengan arah dan kecepatan angin menggunakan perangkat lunak grid analysis and display system (grads). intensitas hujan dari 16 penakar hujan sejak minggu kedua bulan agusus 2015 hingga akhir oktober 2015 sebesar 36 mm. selama bulan juni-november 2015, jumlah hotspot terbanyak terjadi pada bulan september (6.839 titik) dan oktober (7.709 titik). lokasi hotspot sebagian besar berada di kabupaten oki dengan jumlah mencapai 10.581 titik. kualitas udara pada bulan september 2015 dominan masuk kategori tidak sehat sedangkan bulan oktober 2015 dominan masuk kategori sangat tidak sehat – berbahaya. angin pada lapisan 925 mb umumnya bertiup dari arah tenggara hingga timur sehingga black carbon dari kebakaran di daerah oki menyebar ke arah wilayah kabupaten musi banyuasin serta kabupaten banyuasin.  abstractin 2015, forest and land fires inflict serious and massive smoke disaster so that air quality in several days laid in dangerous category. this paper discussed pollutant dispersed in south sumatera due to forest and land fire in this area. data that used in this paper were modis satellite hotspot data with 70 % confidence level, rainfall from trmm satellite and from ground observation at south sumatera, air quality data (ispu), merra-2 model m2t1nxaer v5.12.4 black carbon data, also wind direction and speed at 925 mb height. spatio temporal analysis of black carbon dispersion combined with wind speed and direction using grid analysis and display system (grads) software. rain intensity from 16 rainfall gauge since week two of august 2015 until end of october 2015 was 36 mm. during june-november 2015, the number on highest hotspot observed was in september (6.839) and october (7.709). hotspot location mainly in oki district as much as 10.581. air quality in september 2015 mainly laid in unhealthy category, meanwhile in october 2015 laid mainly stated as unhealthy to dangerous. wind at 925 mb height generally came from south east and east so black carbon came from fires at oki district dispersed to musi banyuasin and banyuasin district Show More ... ... Show Less

  • Black Carbon
  • Air Quality
  • Display System
  • Grid Analysis
  • Area Data
METODE PENCUPLIKAN NILAI ECHO CITRA RADAR *.PNG DENGAN REFERENSI SPASIAL DAN KOMBINASI WARNA RGB

intisaridata meteorologi yang berupa citra/gambar sulit dianalisis dan dikombinasikan dengan data lain. dalam karya tulis ini akan dijelaskan metode pencuplikan citra/gambar radar yang dipublikasikan oleh bmkg menjadi data teks. proses pengolahan terdiri dari dua tahap yaitu proses pemetaan setiap pixel dalam citra radar menjadi koordinat bumi (latitude dan longitude) dan penentuan nilai echo radar (dbz). dari legenda pada citra radar didapatkan 9 pola warna rgb yang digunakan sebagai penentu nilai dbz setiap pixel dalam citra radar. hasil pengolahan citra radar berupa data teks yang terdiri dari longitude, latitude, dan nilai dbz. untuk membandingkan dengan data asli, data radar teks hasil pengolahan ditampilkan pada website global informasion system (webgis). warna data radar pada webgis ditentukan dengan persamaan warna sebagai fungsi dari nilai dbz. secara kualitatif, hasil perbandingan gambar radar asli dengan data numerik yang ditampilkan pada webgis menunjukkan bahwa hasil data numerik cukup presisi pada posisi longitude dan latitude. namun, dari segi nilai numerik echo radar (dbz) yang dihasilkan terdeteksi kurang akurat pada batas awan karena latar belakang gambar yang berwarna hitam. selain itu, pada keterangan nama kota dan batas wilayah yang berwarna abu-abu menujukkan pixel yang kosong walaupun disekelilingnya terlihat adanya awan, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menambahkan filter untuk mengoreksi nilai pixel pada batas gambar dan teknik interpolasi untuk mengisi kekosongan nilai pada area pixel. abstractmeteorological data in the form of image has difficulty in further analysis such as to combine the data with other data sources. in this research, the proposed method for converting image data into texts using image processing for bmkg data provided is presented. the processing scenarios consist of two main steps; mapping process of every pixel of the images into the earth coordinate (latitude and longitude) step and radar echo values estimation in dbz step. from the analysis, the 9 color patterns of rgb are obtained and used as the dbz justification tool for the pixel color of radar image. the results of this image processing step are the texts data of latitude, longitude and the radar echo values in dbz. in order to compare the analysis results with the original data, the processing data are then reshown to global information system website (webgis). the radar color data on webgis is determined based on color equation as a function of the echo radar. qualitatively, the results of this comparison show that the numerical data results are precise in terms of longitude and latitude positions. however, in terms of numerical values echo radar (dbz), the results perform less accurate especially on the boundary of the cloud due to the black color of background image. in addition, the description of the city name and the border of the gray area show the data are empty although by visual inspection there are surrounding clouds. thus, further research is needed to solve the problem by adding filters to correct the pixel value at the image boundary and applying the interpolation technique to fill the void value in the pixel area Show More ... ... Show Less

  • Echo Radar
  • Image Processing
  • Radar Echo
  • Global Information System
  • Black Color
INDEKS LABILITAS UDARA UNTUK MEMPREDIKSI KEJADIAN BADAI GUNTUR PADA PERIODE PUNCAK MUSIM HUJAN TAHUN 2016

intisariprediksi kejadian badai guntur menjadi perhatian masyarakat luas karena biasanya disertai dengan curah hujan yang tinggi, terutama untuk wilayah rawan banjir seperti provinsi dki jakarta. penelitian ini bertujuan untuk analisis potensi hujan disertai badai guntur dengan menggunakan data radiosonde, analisis indeks labilitas berdasarkan parameter yang didapat dari radiometer dan analisis tren indeks labilitas 6 jam sebelum kejadian hujan. ada beberapa tanggal yang menjadi perhatian yaitu hari dimana kejadian hujan disertai badai guntur tinggi pada tanggal 28 - 31 januari 2016 serta tanggal 14 februari 2016 dan kejadian hujan tanpa badai guntur pada tanggal 3 - 4 februari 2016. hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan hasil sounding sebelum hujan dan pada saat hujan. hasil sounding sebelum kejadian hujan memiliki labilitas moderat dan sounding pada saat kejadian hujan/badai guntur memiliki labilitas kuat. selain itu, data dari radiometer menunjukan perbedaan signifikan antara perubahan tren indeks labilitas pada 6 jam sebelum kejadian hujan yang disertai badai guntur, dan pada kejadian hujan tanpa badai guntur.   abstractpredictions of a thunderstorm event become an attention for wide society because it is usually accompanied by heavy rainfall, especially for the flood prone area like the province of jakarta. the objective of this study is to analyze the potential of rain with thunderstorms using radiosonde data, to analyze the lability indices based on parameters that obtained from radiometer, and to analyze the trends of instability indices in 6 hours before the storm event. there are a few dates that become attention, the day where rain events with thunderstorms is high which is on january 28th - 31st, 2016 and february 14th, 2016, and the rain event without thunderstorm on february 3rd - 4th, 2016. the results showed that there are different sounding results before rain event and when it rains. the sounding result before rain event has moderate lability and sounding result when rain event has strong lability. in addition,  the data from the radiometer showed a significant difference between the predicted 6 hours prior to the event of rain with a thunderstorm and rain without thunderstorm events Show More ... ... Show Less

  • Rain Event
  • Heavy Rainfall
  • Radiosonde Data
  • Significant Difference
  • Instability Indices
ANALISIS KORELASI KERAPATAN TITIK API DENGAN CURAH HUJAN DI PULAU SUMATERA DAN KALIMANTAN

intisarikebakaran hutan dan lahan merupakan bencana yang rutin terjadi di indonesia. pulau sumatera dan kalimantan menjadi wilayah yang paling sering dilanda kebakaran hutan dan lahan. munculnya titik api di wilayah sumatera dan kalimantan mempunyai pola tersendiri. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara spasial-temporal konsentrasi titik api di wilayah sumatera dan kalimantan serta korelasinya dengan curah hujan. berdasarkan hasil pengolahan data titik api yang bersumber dari hasil perekaman citra modis (satelit terra & aqua) tahun 2006-2015, didapatkan bahwa kerapatan titik api di pulau sumatera dan kalimantan akan mencapai puncaknya pada bulan september. wilayah yang memiliki konsentrasi titik api paling tinggi adalah provinsi riau dan sumatera selatan di pulau sumatera serta provinsi kalimantan tengah dan kalimantan barat di pulau kalimantan. hasil pengolahan data curah hujan bulanan juga menunjukkan bahwa pada bulan september curah hujan di pulau sumatera dan kalimantan mencapai nilai terendah dalam satu tahun, yaitu 25-150 mm/bulan. selain itu, korelasi antara jumlah titik api dan curah hujan menunjukkan nilai korelasi yang cukup (r = 0,307) dengan pola hubungan yang negatif. hasil pengolahan terhadap data historis titik api ini bisa menjadi acuan dalam kesiapan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di pulau sumatera dan kalimantan.  abstractforest fire is one of disasters that occur regularly in indonesia. sumatera and borneo are regions with the most frequently hit by forest fires disaster through years. the emergence of hotspots in sumatera and borneo have it own patterns. this study aimed to figure hotspot density in sumatera and borneo spatial-temporally and their correlation with rainfall. based on the results of data processing hotspots sourced from recording of modis satellite (terra and aqua) 2006 - 2015, it was found that the density of hotspots in sumatra and kalimantan will reach its peak in september. riau and south sumatera province are the regions that has highest concentration of hotspots in sumatera island, meanwhile central borneo and west borneo province become the regions that has highest concentration of hotspots in borneo island. the processing of monthly rainfall data also shown that in september rainfall in sumatra and kalimantan reach its lowest level in a year, which is 25 - 150 mm/month. in addition, hotspot density and rainfall are correlated enough (r = 0,307). the results of the processing of historical hotspots data in this paper could become a reference for forest fires disaster management that often happens in sumatera and borneo Show More ... ... Show Less

  • Forest Fires
  • Data Processing
  • Disaster Management
  • Monthly Rainfall
  • Rainfall Data
ANALISIS SPASIAL PENGARUH KEJADIAN EL NINO KUAT TAHUN 2015 DAN LA NINA LEMAH TAHUN 2016 TERHADAP KELEMBAPAN, ANGIN DAN CURAH HUJAN DI INDONESIA

intisarikejadian el nino kuat tahun 2015 dan la nina lemah tahun 2016 sangat berpengaruh terhadap beberapa parameter cuaca di indonesia seperti kelembapan udara, angin dan curah hujan. dilihat dari kelembapan udara pada saat el nino, kelembapan udara memiliki anomali negatif dan pada saat la nina cenderung anomali positif. dari pengaruhnya terhadap angin, saat el nino angin zonal lebih dominan angin timuran, dan angin meridional lebih dominan angin selatan yang menyebabkan berkurangnya suplai uap air di indonesia. sedangkan saat la nina, angin zonal lebih dominan baratan dan angin meridional lebih dominan dari utara. pengaruh yang jelas terlihat dari adanya fenomena el nino dan la nina adalah kejadian hujan di wilayah indonesia. pola spasial kejadian hujan di wilayah indonesia pada tahun 2015 dan tahun 2016 memperlihatkan pengaruh dari fenomena el nino dan la nina yang telah terjadi. data hujan yang digunakan dalam tulisan ini adalah data observasi per 1 jam dari satelit trmm pada tahun 2015, 2016 dan data historis dari tahun 2001 - 2014. dari hasil analisis spasial menunjukkan bahwa kejadian el nino mulai terlihat dampaknya pada musim kering yaitu berupa penurunan curah hujan di bawah normalnya sekitar 50 – 300 mm/bulan terjadi pada bulan agustus hingga oktober 2015 terutama di wilayah indonesia bagian selatan sedangkan pada musim basah november 2015 – maret 2016 tidak terlalu signifikan dampaknya. kejadian la nina terlihat dampaknya pada bulan september – desember tahun 2016 dimana terlihat adanya penambahan curah hujan dibandingkan normalnya sekitar 50 – 400 mm/bulan. abtractthe strong el nino in 2015 and the weak la nina in 2016 are very influential on weather in indonesia. in this case will be seen the influence of them againts relative humidifty, wind, and rainfall. the relative humidity during el nino tends to be a negative and when la nina tends to be a positive anomaly. impact to the wind during el nino, zonal winds are dominant northern and meridional winds are dominant southern which leads to reduced supply of water vapor in indonesia. while during la nina, zonal winds are dominant western and meridional winds are dominant northern. the obvious influence of el nino and la nina are the occurrence of rainfall in indonesia. spatial pattern of rainfall events in indonesia can show the effects of the el nino and la nina. rainfall data used in this paper are the observation data from trmm satellite hourly from 2001 – 2016. data were analyzed by monthly and seasonal analysis. from the result of spatial analysis shows the impact of el nino began on dry season. that is decrease of rainfall below the normal around 50 – 300 mm/month occurs in august to october 2015, especially in southern indonesia. while in wet season november 2015 – march 2016 the impact is not significant. the impact of la nina is seen in september – december 2016, where there is an increase of rainfall above the normal around 50 – 400 mm/month Show More ... ... Show Less

  • El Niño
  • El Nino
  • La Niña
  • La Nina
  • The Impact
PENGAMATAN KEJADIAN HUJAN DENGAN DISDROMETER DAN MICRO RAIN RADAR DI SERPONG

intisaripengamatan hujan dengan menggunakan beberapa peralatan yang mempunyai metode berbeda telah dilakukan di wilayah serpong. peralatan yang digunakan adalah disdrometer dan micro rain radar (mrr). kedua peralatan tersebut dipasang pada satu lokasi yang sama agar dapat mengukur kejadian hujan yang sama. pengamatan dilakukan pada akhir tahun 2016 selama 5 bulan, disesuaikan dengan kondisi dimana musim hujan sudah mulai masuk untuk wilayah ini. perbandingan pengukuran yang telah dilakukan menunjukkan kesesuaian hasil antara kedua peralatan tersebut.  pengamatan distribusi ukuran butir air pada empat kejadian hujan antara bulan agustus-desember 2016 menunjukkan bahwa hujan konvektif mempunyai distribusi ukuran yang lebih besar dibandingkan hujan stratiform.  abstractrain observation by using several instruments having different method has been done in serpong area. the instrument used is disdrometer and micro rain radar (mrr). both instruments are installed in the same location in order to measure the same rain events. observations were made at the end of 2016 for 5 months, adjusted to the conditions in which the rainy season has begun to enter for the region. comparison of measurements that have been done indicate the suitability of the results between the two instrument. drop size distribution of four rain event during august - december 2016 shows that the drop size distribution on convective rain broaden than on stratiform rain Show More ... ... Show Less

  • Rain Radar
  • Drop Size Distribution
  • Rainy Season
PEMANFAATAN DATA SATELIT GMS MULTI KANAL UNTUK KEGIATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA

intisaritulisan ini menyajikan pemanfaatan data satelit gms (geostationary meteorological satellites) multi kanal untuk informasi perawanan dalam rangka mendukung kegiatan teknologi modifikasi cuaca. pemanfaatan data satelit meliputi proses pengunduhan data, proses kalibrasi dan visualisasi citra satelit sehingga dapat diinterpretasi. pemrosesan data satelit juga meliputi jenis dan tipe awan serta ukuran butir awan. dengan diketahuinya tipe dan jenis awan maka pemilihan target awan dalam pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (tmc) dapat lebih efektif. data satelit gms yang berupa data pgm untuk berbagai kanal telah dimanfaatkan untuk analisis cuaca dan mendukung pelaksanaan kegiatan teknologi modifikasi cuaca (tmc). dari analisis beberapa kanal infra merah (ir) dapat diperoleh tipe/jenis awan dan ukuran butiran awan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan teknologi modifikasi cuaca. diperlukan pengelolaan data yang lebih intensif baik manajemen data maupun kontinuitas pengunduhan data untuk menjamin kelancaran analisis. selain itu juga diperlukan validasi lapangan misalnya dengan data radar analisis menjadi semakin akurat.  abstractthis paper presents the utilization of gms (geostationary meteorological satellites) multichannel satellite data for cloud cover information in order to support the activities of weather modification technology or cloud seeding. these utilizations covering the process of data downloading, process calibration and visualization of satellite imagery so that it can be interpreted. processing of satellite data also includes the type of cloud as well as cloud grain size. by knowing the type of cloud, the cloud target selection in the execution of weather modification technology can be more effective. from the analysis of several infrared (ir) channels can be obtained type/kind of cloud and grain size of the clouds that are beneficial to the interests of cloud seeding. it is required a more intensive data management and continuity of data download. it is also necessary field validation for example with radar data. the purpose of data management was the data processing became more efficient Show More ... ... Show Less

  • Grain Size
  • Data Management
  • Satellite Data
  • Cloud Seeding
  • Weather Modification
ANALISIS PROFIL CAPE (CONVECTIVE AVAILABLE POTENTIAL ENERGY) SELAMA KEGIATAN INTENSIVE OBSERVATION PERIOD DI DRAMAGA BOGOR

intisariprofil nilai cape(convective available potential energy) telah didapatkan dari analisis data radiometer untuk wilayah dramaga kabupaten bogor dan sekitarnya. kegiatan pengamatan dilakukan dari tanggal 18 januari – 16 februari 2016. radiometer mampu mengamati profil atmosfer sampai level ketinggian 10 km. dengan kemampuan tersebut maka kandungan air (liquid water content), kelembaban relatif (rh) dan suhu bisa teramati sampai level atas. hasil pengolahan dan analisis menunjukkan bahwa nilai cape, sesaat akan terjadi hujan, cenderung terlihat turun dan bernilai mendekati 0 (nol). ketika terjadi hujan dengan instensitas sedang maka nilai cape turun perlahan dan mendekati 0 (nol), ketika terjadi hujan dengan instensitas ringan maka nilai cape turun namun tidak mendekati 0 (nol) dan nilai cape ketika hari tidak hujan cenderung tidak ada yang mendekati 0 (nol). besarnya nilai cape tidak berpengaruh terhadap intensitas curah hujan. pada saat hari terjadi hujan maka akan disertai terjadinya penurunan nilai cape karena tidak ada konveksi.  abstractcape value profile has been obtained from the radiometer data analysis for dramaga region and its surrounding. observation activities conducted from january 18th to february 16th, 2016. radiometer can observe atmospheric profiles up to 10 km altitude level. with this capability, the water content (liquid water content), relative humidity (rh) and temperature can be measured up to 10 km. the results of processing and data analysis shows that the value of cape, just before the rain occur, tends to decline and approaching 0 (zero). when it rains with moderate intensity the value of cape decrease slowly and close to 0 (zero), when it rains with light intensity cape values is decrease but not close to 0 (zero) and cape value when it is not rain, tends to not approaching 0 (zero). the cape value does not affect the rain intensity. when the rain occurred, the cape value has been decrease because there is no convection Show More ... ... Show Less

  • Water Content
  • Data Analysis
  • Liquid Water
  • Convective Available Potential Energy
PERBANDINGAN PENGUKURAN RADIOMETER DAN RADIOSONDE PADA MUSIM HUJAN DI DRAMAGA BOGOR

intisaribalai besar teknologi modifikasi cuaca (bb-tmc) bppt bekerjasama dengan badan meteorologi klimatologi dan geofisika (bmkg) melakukan kegiatan intensive observation period (iop) selama puncak musim hujan pada tanggal 18 januari - 16 februari 2016 di wilayah jabodetabek. salah satu peralatan yang digunakan untuk observasi adalah radiometer dan radiosonde. pada penelitian ini akan difokuskan bagaimana perbandingan hasil dari pengukuran radiometer dan radiosonde selama kegiatan iop terutama untuk parameter temperatur dan kelembapan relatif. hasil dari perbandingan pada profil atmosfer di lapisan tertentu terlihat adanya data yang mempunyai kecenderungan jauh dan tidak memiliki kedekatan nilai. untuk pengukuran temperatur dengan radiometer jika dibandingkan dengan radiosonde, korelasi data semakin kecil di lapisan atas, sebaliknya jika untuk pengukuran kelembapan relatif, korelasi data di lapisan atas lebih tinggi daripada korelasi data di lapisan bawah. sedangkan jika dibandingkan pada satu waktu antara radiometer dan radiosonde menunjukkan kecocokan untuk kedua data, meskipun kecocokan data kelembapan relatif lebih kecil dibandingkan data temperatur.  abstractnational laboratory for weather modification (bb-tmc) bppt has colaborated with meteorological climatology and geophysic agency (bmkg) in conducting intensive observation period (iop) during the peak of rainy season in jabodetabek area on january 18th- february 16th 2016. one of the tools used in the observation is radiometer and radiosonde. this study will focus on comparison result between radiometer and radiosonde measurement during iop especially for temperature and relative humidity parameters. the result in a particular layer of profile atmosphere indicates that the data  tends to deviate away. the temperature difference measured using radiometer and radiosonde in the upper layer shows smaller value than that in the lower layer.  in contrast,  the correlation for relative humidity data in the upper layers is higher than in the lower layers. meanwhile when compared at one time indicate a good match for both data, although the data matches of  the relative humidity are lower than the temperature data Show More ... ... Show Less

  • Intensive Observation
  • Observation Period
  • Temperature Difference
  • Relative Humidity Data
ANALISIS KEJADIAN EL NINO DAN PENGARUHNYA TERHADAP INTENSITAS CURAH HUJAN DI WILAYAH JABODETABEK (Studi Kasus : Periode Puncak Musim Hujan Tahun 2015/2016

intisaribeberapa lembaga riset dunia dan badan-badan meteorologi beberapa negara di dunia menyatakan adanya kejadian el nino tahun 2015 terus berlanjut hingga tahun 2016. adanya kejadian el nino tersebut secara umum akan mempengarui intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah indonesia termasuk wilayah jabodetabek. analisis kejadian el nino tahun 2015/2016 dilakukan dengan menganalisis nilai nino 3.4 sst index, southern oscillation index (soi), indian ocean dipole (iod), pola sebaran suhu permukaan laut (sea surface temperature) dan juga gradient wind di samudra pasifik tropis. sedangkan analisis curah hujan dilakukan dengan menggunakan data trmm (tropical rainfall measuring mission). dari penelitian ini dapat diketahui bahwa berdasarkan parameter nino 3.4 sst index dan southern oscillation index (soi) pada pertengahan tahun 2015 hingga awal tahun 2016 telah terjadi fenomana el nino pada level kuat, adanya peningkatan suhu permukaan laut di sebagian besar wilayah indonesia sejak bulan november 2015 yang diikuti dengan penurunan indeks dipole mode hingga menjadi bernilai negatif (-) sejak awal tahun 2016 serta dengan adanya peralihan angin muson timur ke angin muson barat di wilayah indonesia telah menyebabkan peningkatan curah hujan yang cukup signifikan dalam batas normal di wilayah jabodetabek pada puncak musim hujan tahun 2015/2016 (november 2015 - februari 2016) walaupun pada bulan november 2015 hingga februari 2016 tersebut masih berada pada level el nino kuat.   abstractvarious research institutions in the world that work in the field of meteorology and climatology predicted an el nino events in 2015 continued into 2016. the el nino events phenomenon in general will affect to intensity of the rainfall in most parts of indonesia, including the greater jakarta area. el nino events phenomenon analysis by nino 3.4 sst index, southern oscillation index (soi), indian ocean dipole (iod), sea surface temperature (sst) and gradient wind in the tropical pacific ocean. while rainfall intensity analysis using trmm (tropical rainfall measuring mission) data. from this research it is known that based on the parameters nino 3.4 sst index and the southern oscillation index (soi), it is known that there was a strong el nino event occurred in mid-2015 to early 2016, the increase of sea surface temperature in most parts of indonesia since november 2015 followed by declines dipole mode index to be negative (-) since the beginning 2016 as well as the shift east monsoon to west monsoon in indonesia has led to significant rainfall increased within normal limits in the greater jakarta area at the peak period of the rainy season 2015/2016 (november 2015 - february 2016) although in november 2015 until february 2016 el nino event is still at the strong level Show More ... ... Show Less

  • El Niño
  • El Nino
  • Southern Oscillation Index
  • Surface Temperature
PERBANDINGAN PROFIL HUJAN VERTIKAL RADAR CUACA DENGAN MICRO RAIN RADAR SELAMA KEJADIAN HUJAN SEDANG (Studi Kasus : Intensive Observation Period 2016

intisarimicro rain radar (mrr) merupakan suatu instrumen pengamatan hujan, yang beroperasi secara vertikal. sementara itu, radar cuaca wr-2100 biasa digunakan untuk membuat suatu profil yang berupa cakupan area.  akan tetapi, dengan pengolahan lebih lanjut, data suatu radar cuaca seperti radar cuaca wr-2100 tersebut juga dapat digunakan untuk menampilkan profil vertikal salah satu parameternya di suatu lokasi tertentu. penelitian kali ini membandingkan profil vertikal hujan di dramaga, bogor berdasarkan nilai rain rate nya yang diperoleh dari mrr yang beroperasi secara langsung di lokasi tersebut dengan profil serupa yang diperoleh dari radar cuaca wr-2100 yang beroperasi di lokasi berbeda, yaitu di serpong, tangerang selatan. hasil penelitian menunjukan bahwa kedua instrumen tersebut mendeteksi adanya nilai rain rate pada waktu-waktu yang bersamaan, namun dengan nilai yang lebih tinggi oleh radar cuaca wr-2100 untuk lapisan-lapisan yang lebih tinggi, yang terutama diduga karena atenuasi yang lebih besar dan signifikan yang terjadi pada proses pengukuran oleh mrr untuk lapisan-lapisan yang lebih tinggi pada saat kejadian-kejadian hujan sedang.  abstractmicro rain radar (mrr) is an instrument to observe precipitation, especially rainfall, that operate vertically. besides, a weather radar, wr-2100, is an instrument making profile in an area scope. by doing further processing, data of weather radar wr-2100 can be used to show vertical profile of a certain parameter in a certain location. this study compared vertical profile of rain rate at dramaga, bogor, based on data of mrr operated in same location with that based on data of weather radar wr-2100 operated in different location, which is serpong, tangerang selatan. results of the study showed that both instruments detected rain rate values on same times, while the values are higher at higher altitudes for weather radar wr-2100 than for mrr due to higher and more significant attenuation happened in mrr operation at higher altitude in moderate rainfall events Show More ... ... Show Less

  • Rain Rate
  • Weather Radar
  • Rain Radar
  • Vertical Profile
  • Intensive Observation