Jurnal Penelitian Karet
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

329
(FIVE YEARS 14)

H-INDEX

2
(FIVE YEARS 0)

Published By Riset Perkebunan Nusantara

2503-0469, 0852-808x

Author(s):  
Tri Rapani Febbiyanti ◽  
Charlos Togi Stevanus ◽  
Radite Tistama

Penyakit gugur daun Pestalotiopsis (PGDP mengalami outbreak dengan luas serangan di Indonesia mencapai 382.000 ha pada tahun 2019. Akibatnya, penurunan produksi karet lebih dari 30%. Hingga saat ini,  cara yang efektif untuk pengendalian penyakit ini belum dilaporkan. Upaya pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan meningkatkan sistem pertahanan tanaman dan menekan jumlah inokulum di perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk dan fungsida terhadap kerapatan tajuk dan penambahan produksi pada klon GT 1 yang terserang  PGDP. Dibandingkan kontrol, pemupukan 100 % dosis rekomendasi meningkatkan kerapatan tajuk 4% dengan kenaikan produksi 3 g/p/s. Pemberian ekstra 25% Nitrogen dan ekstra Kalium dapat memicu  kerapatan tajuk berturut-turut 5% dan 6% dengan kenaikan produksi 5 dan 6 g/p/s. Kerapatan tajuk terbukti meningkat baik dengan penyemprotan fungisida di gawangan maupun pengasapan pada daun muda masing-masing 9%, dan diiringi kenaikan produksi berturut-turut 5 g/p/s. Kombinasi aplikasi pupuk ektra 25% N, K dan fungisida pada gawangan dan fogging memberikan kerapatan tajuk 9% dan kenaikan produksi 10 g/p/s.  Pemupukan berperan dalam meningkatkan tajuk dan produksi.  Aplikasi fungisida di gawangan dan fogging dapat mempertahankan tajuk lebih baik.



Author(s):  
Alchemi Putri Juliantika Kusdiana

One of the causal of the low rubber production is the presence of plant diseases. Important diseases in rubber plants generally cause symptoms of leaf fall, due to Colletotrichum spp., Corynespora sp., and Oidium sp. Currently, there is an incidence of new rubber leaf fall disease with symptoms that are different from the diseases previously found in rubber plantations. This disease is widespread in Sumatra, Kalimantan, and Southeast Asia. There are many suspicions about the pathogens that cause the disease, but there is no precise diagnosis. Therefore, an accurate diagnosis is needed as a basis for determining an effective and efficient disease control strategy. This research was carried out to determine the causal agents of leaf fall disease with symptoms of round leaf spots that can cause leaf fall. Diagnosis was carried out by isolating the pathogen from several rubber clones, inoculating the pathogen to healthy rubber plants, identifying morphologically and molecularly, and re-isolating from inoculated plants. The results of Koch's postulates and morphological and molecular identification determined that the causal agents of leaf fall disease at rubber plants with round spots was the fungus Pestalotiopsis microspora.



Author(s):  
Fetrina Oktavia

Salah satu upaya untuk menghasilkan klon karet unggul baru adalah melalui persilangan buatan antar klon tetua yang memiliki karakter spesifik dan hubungan kekerabatan genetik yang jauh. Berdasarkan Standart Operatioal Procedure (SOP) seleksi progeny F1 hasil persilangan terdiri dari beberapa tahap yaitu seleksi progeni F1 di Seedling Evaluation Trial (SET), uji pendahulan (Small Scale Clone Trial (SSCT), uji lanjutan (Large Scale Clone Trial/LSCT) dan uji multilokasi (adaptation trial). Pada penelitian ini dilaporkan hasil seleksi 215 progeni F1 hasil persilangan tiga kombinasi klon tetua yaitu BPM 24 x PB 260, IRR 104 X PB 260 dan PB 260 X TJIR 1 dengan klon pembanding AVROS 2037. Pengamatan dilakukan terhadap lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, panjang alur sadap, produksi normal dengan sistem sadap S/2d3 dan aplikasi ethrel 2,5% setiap bulan, serta ketahanan progeny terhadap penyakit gugur daun utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara parameter produksi dengan lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks dan panjang alur sadap. Berdasarkan seleksi 1% parameter produksi lateks, terpilih tujuh progeny yaitu HP2011/215, HP2011/54, HP2011/170, HP2011/200, HP2011/213. HP2011/158 dan HP2011/18. Progeni tersebut selanjutnya akan diuji ke tahap SSCT.



Author(s):  
Charlos Togi Stevanus ◽  
Andi Nur Cahyo

Kelemahan cocopeat sebagai media tanam root trainer yaitu rendahnya kandungan nutrisi dalamnya sehingga perlu dilakukan suatu penelitian untuk meningkatkan kemampuan cocopeat dalam menahan hara, serta bagaimana meningkatkan serapan hara oleh tanaman. Salah satu pembenah tanah yang dapat digunakan adalah zeolit dan asam humat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis zeolit dan asam humat terhadap pertumbuhan dan serapan hara bibit karet dalam root trainer. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Pembibitan Balai Penelitian Sembawa pada April 2018 sampai January 2019. Bibit tanaman karet yang digunakan adalah klon IRR 112. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAL) dua faktor. Faktor yang pertama adalah dosis zeolit, yang terdiri atas empat aras, yaitu 0; 7.5; 15; dan 22.5 g/tanaman. Faktor yang kedua adalah dosis asam humat, yang terdiri atas empat aras, yaitu 0; 7.5; 15; dan 22.5 mL/L. Pengamatan dilakukan terhadap parameter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, diameter batang, dan biomassa akhir) dan serapan nutrisi (N, P, dan K). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi zeolit berpengaruh nyata pada peningkatan biomassa akar lateral, sedangkan aplikasi asam humat berpengaruh nyata terhadap peningkatan biomassa daun. Selain itu, aplikasi zeolit mampu meningkatkan penyerapan hara N dan P pada akar lateral serta N pada daun. Sementara aplikasi asam humat mampu meningkatkan penyerapan hara P dan K pada daun serta N batang. Peningkatan serapan hara dan biomassa tanaman tersebut mencapai puncaknya pada dosis zeolit 7,5 g/tanaman dan dosis asam humat 7,5 mL/L air (kecuali untuk serapan P daun).



2021 ◽  
pp. xvii-xxii
Author(s):  
Santi Puspitasari

Sampul Belakang 37 1 2019



2021 ◽  
pp. 1-11
Author(s):  
Tri Rapani Febbiyanti

Penyakit akar putih yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus merupakan salah satu penyakit penting diperkebunan karet karena mengakibatkan kerugian yang cukup berarti. Mulai tahun 2003, Balai Penelitian Sembawa telah memperoleh suatu pengendalian alternatif yang murah, mudah didapat dan diterapkan di perkebunan rakyat yaitu pemanfaatan tumbuhan antagonis. Tumbuhan antagonis adalah suatu tumbuhan dari alam sekitar yang mempunyai kemampuan untuk menekan atau menghambat perkembangan penyakit akar putih. Tumbuhan antagonis memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perkembangan jamur akar putih dalam tanah. Faktor utama yang berpengaruh secara langsung adalah eksudat akar yang bersifat antibiotik, sedangkan faktor sekunder yang berpengaruh secara tidak langsung adalah sifat biokimia-fisik tanah. Dari 12 tumbuhan antagonis yang telah diuji di lapangan, lidah mertua merupakan tanaman yang paling efektif  dalam mengendalikan jamur akar putih karena tanaman tersebut lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang ektrim dan adanya zat anti mikroba pada tumbuhan ini.  Penelitian ini bermaksud mengeksplorasi jamur dan bakteri yang terdapat di rizosfer tanaman lidah mertua secara laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa terdapat 11 jenis bakteri dan 7 jenis jamur yang diperoleh dari rizosfer  lidah mertua.  Dari 11 isolat bakteri tersebut, 4 diantaranya tergolong bakteri gram positif dan 7 tergolong bakteri gram negatif, kemudian terdapat suatu interaksi antagonisme antara isolat bakteri L. M. 5 dan L. M. 6 dengan jamur Rigidoporus microporus. Kemudian, dari 7 isolat jamur yang ditemukan terdapat 4 isolat jamur yang merupakan jamur antagonis terhadap jamur Rigidoporus microporus. Diterima : 11 April 2012; Disetujui : 10 Juli 2012 How to Cite : Febbiyanti, T. R. (2016). Penapisan jamur dan bakteri antagonis terhadap jamur akar putih (Rigidoporus microporus) dari rizosfer tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain). Jurnal Penelitian Karet, 30(1), 1-11. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/115



2021 ◽  
pp. i-xiii
Author(s):  
Santi Puspitasari

Sampul Depam 29 2 2011



2021 ◽  
pp. i-iv
Author(s):  
Santi Puspitasari

Sampul Belakang 29 2 2011



2021 ◽  
pp. i-xvi
Author(s):  
Santi Puspitasari

Sampul Depan 36 2 2018



2021 ◽  
pp. i-xv
Author(s):  
Santi Puspitasari

Sampul Depan 36 1 2018



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document