Buddayah Jurnal Pendidikan Antropologi
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

21
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By State University Of Medan

2549-9173, 2549-824x

2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 7
Author(s):  
Ayu Lestari ◽  
Tumpal Simarmata
Keyword(s):  

dijadikan bahan dasar jamu serta khasiat tanaman, proses pembuatan jamu dengan bahan-bahan yang digunakan, khasiat pengobatan tradisional dengan jamu bagi konsumen, pengetahuan masyarakat Jawa terhadap jamu tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu teknik penelitian yang memaparkan data yang ada berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui penelitian lapangan (field research) dengan metode observasi tanpa partisipasi dan wawancara tidak terstruktur. Dari hasil penelitian lapangan bahwa sejarah jamu ada di tengah-tengah masyarakat Jawa lebih dari seratus tahun yang lalu yang dikembangkan dilingkungan istana atau keraton yaitu Kesultanan di Yogyakarta dan Kasununan di Surakarta kemudian racikan jamu diperkenalkan pada masyarakat luas oleh dukun atau tabib yang merupakan ahli pengobatan tradisional jaman dulu.  Jamu tradisional adalah salah satu pengobatan tradisional masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat untuk memelihara kesehatan, kecantikan maupun menyembuhkan penyakit. Ada 18 macam bahan-bahan berupa tumbuh-tumbuhan atau rempah-rempah yang digunakan untuk membuat jamu tradisional yang dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan. Dalam proses pembuatan jamu tradisional ada enam tahap yang dilakukan dalam proses pembuatan jamu tradisional yaitu memilih bahan, menimbang atau menakar bahan, mencuci bahan, menyiapkan peralatan, menghaluskan bahan, dan merebus bahan yang sudah dihaluskan termasuk didalamnya proses memberi garam, mencicipi, menyaring, dan mengisi jamu kedalam wadah botol. Ada berbagai macam penyakit yang bisa disembuhkan dengan jamu tradisional, yang dahulunya jamu tradisional ini hanya digunakan oleh kaum wanita tetapi sekarang dapat digunakan oleh semua jenis kelamin dan usia. Masyarakat Jawa tidak secara keseluruhan mengetahui tentang sejarah jamu ada di tengah-tengah mereka, segala jenis-jenis tanaman yang digunakan beserta khasiatnya, dan proses pembuatan jamu tradisional.



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 14
Author(s):  
Devi Rianti Sinaga ◽  
Puspitawati Puspitawati

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana kepercayaan masyarakat Desa Simanampang terhadap adanya sigumoang (roh jahat) dan bagaimana kepercayaan ini dapat bertahan sampai sekarang di Desa Simanampang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriftif yang bertujuan agar data yang diharapkan sesuai dengan data yang diperoleh. Penelitian ini dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada informan. Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Simanampang dengan informan kunci adalah orang-orang yang mengetahui permasalahan dalam penelitian ini. Penelitian ini menemukan bahwa masyarakat percaya terhadap adanya sigumoang (roh jahat) yang pelihara oleh seseorang untuk kepentingan tertentu tetapi merugikan orang lain kemudian untuk menghindari ulah sigumoang tersebut masyarakat mempercayai bahwa darah babi dapat mengusir sigumoang dan mereka dapat terlindung dari ulah jahatnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan ini dapat bertahan sampai sekarang ialah kebiasaan lama, mitos, adanya oknum yang telah mengaku memelihara sigumoang, dan kondisi masyarakat yang belum keseluruhan tersentuh budaya modern sehingga masyarakat sulit menerima perubahan.



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 72
Author(s):  
Roro Sri Hariyani

Artikel yang merupakan hasil dari penelitian desertasi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola asuh anak etnik Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang. Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu penduduk desa sekerak kanan kecamatan Sekerak dan dan desa Paya Udang kecamatan seruwei. Sedangkan sampel dalam penelitian yaitu penduduk etnik Tamiang yang ada di desa Sekerak kanan dan Paya Udang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi langsung, wawancara, serta studi literatur. Tujuan penelitian ini ingin menguraikan suatu kebiasaan yang menjadi pola dalam sistem pengasuhan anak pada etnik Tamiang dan melihat perubahan-perubahan yang terjadi yang diakibatkan oleh beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Selanjutnya mengungkapkan berbagai resistensi yang dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan adat istiadat dan tata nilai dalam kebudayaan etnik Tamiang yang berhubungan dengan pengasuhan anak. Dari penelitian ini, diperoleh hasil bahwa kelompok etnik Tamiang menjalankan suatu pola pengasuhan secara tradisional yang meliputi: masa kehamilan, kelahiran, dan sampai proses pembesaran anak-anak.  Kelompok ini memiliki cara-cara tersendiri dalam mengasuh anak mereka mulai dari membedung, mendodoi, serta menabalkan nama. Anak-anak etnik Tamiang  juga diajarkan untuk menerapkan sikap menghormati dan menghargai orang yang lebih tua dengan cara menggunakan istilah penyebutan menurut tingkat kelahiran mereka. Kebiasaan ini mengekspresikan suatu identitas budaya etnik Tamiang yang masih dipertahankan sampai saat ini. Dari hasil penelitian juga ditemukan beberapa perubahan dalam pengasuhan anak-anak pada orang etnik Tamiang. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pola pikir. Meskipun demikian, sebagian dari kelompok etnik Tamiang masih melakukan resistensi sebagai upaya untuk mempertahankan tata nilai dan pola asuh menurut adat istiadat etnik Tamiang.



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 97
Author(s):  
Millati Millati

Artikel ini merupakan hasil dari penelitian tindakan kelas yang berjudul ”Peningkatan Hasil Belajar Siswa Tuna Daksa Kelas VIII Dengan  Alat Peraga Model Pencernaan  Pada Materi Sistem Pencernaan Manusia di SMPLB  Negeri Pembina Aceh Tamiang TP 2015/2017” ini mengangkat masalah bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII Tuna Daksa SMPLB Negeri Pembina Aceh Tamiang menyelesaikan pembelajaran pada materi sistem pencernaan. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII tuna daksa SMPLB Negeri Pembina Aceh Tamiang. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII tuna daksa SMPLB Negeri Pembina Negeri Aceh Tamiang tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 1 siswa. Metode yang digunakan adalah dengan model menggunakan alat peraga pencernaan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan pengolahan data menggunakan statistik sederhana dalam bentuk penghitungan nilai siklus. Acuan yang digunakan sebagai parameter adalah hasil nilai belajar dengan ketuntasan minimal yaitu nilai 65. Hasil penelitian menunjukkan perubahan secara individual.



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 57
Author(s):  
Afriyani Simanjuntak ◽  
Bakhrul Khair Amal
Keyword(s):  

Arus urbanisasi yang pesat di perkotaan ditandai oleh timbulnya pemukiman-pemukiman kumuh menggambarkan kemiskinan suatu daerah. Banyak anggapan masyarakat bahwa kumuh identik dengan kemiskinan. Kondisi lingkungan yang kotor dan bau tak sedap serta bentuk rumah yang mereka tempati, secara fisik dapat dikategorikan masyarakat miskin. Berkaitan dengan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik kemiskinan serta strategi-strategi yang dilakukan untuk bertahan hidup di pemukiman kumuh bantaran rel kereta api Kelurahan tegal Sari Mandala II Medan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu teknik penelitian yang memaparkan data yang ada berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui penelitian lapangan (field research) dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian lapangan bahwa  kemiskinan yang terjadi di  pemukiman kumuh bantaran rel kereta api Kelurahan Tegal Sari Mandala II Medan adalah kemiskinan yang terjadi karena faktor individual dan struktural yang kerap menjerat mereka dalam lingkaran kemiskinan. Hambatan-hambatan struktural yang menjerat di perkotaan membuat mereka untuk mengambil pilihan untuk bekerja dalam lingkup starta sosial rendah di perkotaan. Motif warga di kawasan pemukiman bantaran rel memilih untuk tinggal di kawasan tersebut adalah karena daerah atau kawasannya startegis bagi mereka untuk memelihara hewan berkaki empat (babi). Karena jauh dari wilayah perkotaan (pinggiran kota) mereka memilih untuk mempertahankan dan meingkatkan perekonomian keluarga dengan beternak babi dan bekerja sebagai pemulung. Butuh strategi untuk mencoba keluar dari jerat kemiskinan yang sulit untuk dilepas bagi masyarakat miskin di perkotaan. Pandangan pihak luar merupakan tindakan irrasional, dalam kenyataannya, mungkin merupakan satu-satunya pemecahan dari himpitan kesulitan sosial ekonomi. Adapun strategi atau yang digunakan adalah dengan meningkatkan asset dengan melibatkan lebih banyak anggota keluarga untuk bekerja, memulai usaha kecil-kecilan, memulung barang-barang bekas, menyewakan kamar, menggadaikan barang, meminjam uang di bank atau lintah darat. Meningkatkan asset merupakan salah satu cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya.



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 27
Author(s):  
Sintauli Edlina Situmorang ◽  
Payerli Pasaribu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang pelaksanaa tradisi panjopputan, proses pelaksanaan tradisi panjopputan, simbol-simbol dan makna yang terkandung dalam tradisi panjopputan saat memasuki masa panen padi di Desa Poldung Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labuhanbatu Utara. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui penelitian lapangan (field research) dalam teknik observasi non partisipasi (non partisipan observer) dengan teknik observasi, wawancara (interview) dan dokumentasi untuk menambah data yang relevan. Informan ditentukan dengan purposive sampling. Adapun yang menjadi informan dalam penelilitan ini adalah tiga orang penatua desa, tiga orang aparatur desa dan sembilan petani padi yang melakukan tradisi panjopputan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis memperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) Latar belakang pelaksanaan tradisi panjopputan saat memasuki masa panen padi berasal dari mitos yang berkembang ditengah masyarakat akan janji seorang nenek untuk menjemput bulir-bulir padi miliknya setelah tamu nenek kembali kerumahnya masing-masing. (2) Proses pelaksanaan tradisi panjopputan dikenal dalam tiga tahapan yaitu mamulung (tahap persiapan), partumonaan (tahap pelaksanaan), dan marhobas (tahap akhir pelaksanaa) yang dilakukan satu hari di waktu pagi. Pelaksanaan tradisi panjopputan biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. (3) Simbol-simbol dan makna yang terkandung dalam tradisi panjopputan  merupakan bentuk interaksi dan penghormatan kepada jiwa atau roh yang bersemayam pada tanaman padi, nenek moyang penguasa alam yang memiliki kekuatan atau makhluk lain yang menghuni lahan pertanian padi. Meskipun demikian penghormatan tertinggi tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kesimpulan menunjukkan bahwa tradisi panjopputan saat memasuki masa panen padi merupakan warisan dari nenek moyang terdahulu yang hingga saat ini masih dilaksanakan oleh petani padi di Desa Poldung. Tradisi panjopputan pada masyarakat petani padi di Desa Poldung mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat petani padi juga percaya bahwa tradisi panjopputan dapat mendatangkan keberkahan terhadap hasil panen. 



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 19
Author(s):  
Lamria Simamora ◽  
Nurjannah Nurjannah

Artikel ini mendeskripsikan mengenai “Kehidupan Petani Kemenyan dalam Menjaga Kearifan Lokal di Desa Pandumaan Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan”. Skripsi ini menjelaskan tentang hal-hal yang melatarbelakangi kehidupan petani kemenyan dalam menjaga kearifan lokal. Melihat bagaimana gambaran perjuangan petani kemenyan agar tetap eksis dan bertahan bertani kemenyan walau kehadiran perusahaan industri merusak dan mengganggu kemenyan sebagai kearifan lokal. Kemudian penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dalam hal ini yang menjadi informan adalah masyarakat desa Pandumaan yang bekerja sebagai petani kemenyan dan terlibat dalam mempertahankan kemenyan dari pihak industri maupun permerintahan. Sementara itu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal yang melatarbelakangi petani kemenyan menjaga kearifan lokal di Desa Pandumaan Kecamatan Pandumaan adalah dikarenakan (1) Kemenyan merupakan sumber kehidupan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup, (2) Merawat nilai-nilai kultural yang terkadung dalam pengelolaan kemenyan serta menjadi tanaman unggul yang menjadi kearifan lokal, (3) Kemenyan sebagai warisan budaya yang sudah dikelola sejak ratusan tahun, (4) Kemenyan merupakan tumbuhan endemik yang tidak dapat tumbuh disemua tempat. Kehidupan petani kemenyan yang tetap mempertahan kearifan lokal kemenyan didukung oleh organisasi-organisai masyarakat adat yang ikut perpartisipasi dalam menjaga kearifan lokal kemenyan. Mekanisme dan srategi yang petani kemenyan lakukan yaitu demonstrasi dan mencoba menghentikan pihak perusahaan saat beroperasi di wilayah hutan kemenyan.



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 66
Author(s):  
Purnama Sari ◽  
Rosramadhana Rosramadhana

Artikel ini menjelaskan tentang eksistensi tari Serampang Dua Belas, pewarisan tari Serampang Dua Belas serta perubahan yang terjadi setelah masuknya tari modern di Kelurahan Simpang Tiga Pekan, Kabupaten Serdang Bedagai. Tari Serampang Dua Belas merupakan jenis tari tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesan tentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan. Tari Serampang Dua Belas memiliki gerakan yang gesit dengan tempo yang cepat. Tarian dengan gerakan tercepat yang terdiri dari 12 (dua belas) gerakan. Pewarisan nilai budaya melalui pertunjukan tari Serampang Dua Belas dapat semakin berkembang, maju dan eksistensinya tetap terjaga dari masa kemasa. Eksistensi tari Serampang Dua Belas dapat kita lihat dari aspek sosial budaya, pewarisan (enkulturasi) dan fungsi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tari Serampang Dua belas tetap eksis dan dijaga kelestariannya serta diwariskan (enkulturasi) melalui keluarga, sanggar dan festival. Walaupun banyak tari modern yang masuk dan menarik minat para generasi muda tidak membuat mereka melupakan dan mengabaikan tari Serampang Dua Belas. Namun perlu adanya perhatian lebih dari pemerintah terhadap tari Serampang Dua Belas yang terlihat dari kurangnya fasilitas seperti sanggar, kostum tari dan pelatih profesional.



2018 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 49
Author(s):  
Sisriyani Sisriyani ◽  
Trisni Andayani

Penelitian ini bertujuan mengetahui sejak kapan pertunjukan keyboard bongkar mulai muncul di desa Martebing Kecamatan Dolok Masihul; mengetahui perilaku menyimpang yang dilakukan remaja ketika menonton keyboard bongkar; mengetahui dampak yang muncul setelah adanya keyboard bongkar dikalangan remaja; dan menegtahui tanggapan masyarakat dengan adanya pertunjukan keyboard bongkar. Data dikumpulkan dan diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara, melakukan observasi langsung di pertunjukan hiburan keyboard bongkar dengan observasi tanpa berperan serta (non participant observation), studi pustaka dilakukan untuk melengkapi hasil penelitian lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa hiburan keyboard bongkar sudah tidak diperbolehkan bermain di Desa Martebing. Namun di Desa yang berbatasan langsung dengan Desa Martebing masih diperbolehkan menjadikan hiburan keyboard bongkar pada hajatan seorang pemilik hajatan namun disertai beberapa pengawasan dari pemilik keyboard. Disaat hiburan keyboard ini berlangsung banyak para remaja yang melakukan kegiatan perilaku menyimpang seperti merokok, minum minuman keras, terlibat perkelahian, seks komersial, narkoba, kasus pencurian serta pacaran. Berdasarkan dari hasil penelitian maka penulis menyimpulkan bahwa pertunjukan hiburan keyboard dapat menimbulkan perilaku menyimpang pada para remaja yang melihatnya terutama pada point seks bebas.



2018 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 124
Author(s):  
Daniel Harapan Parlindungan Simanjuntak ◽  
Payerli Pasaribu ◽  
Waston Malau ◽  
Tumpal Simarmata

Artikel ini merupakan hasil dari penelitian mengenai implementasi pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan berfikir kritis mahasiswa pada mata kuliah Antropologi Pariwisata. Pemilihan model pembelajaran di masing-masing mata kuliah  diharapkan dapat mengembangan pemikiran kritis mahasiswa dalam menyikapi berbagai permasalahan di masyarakat. Pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Antropologi Pariwisata mampu meningkatan berfikir kritis mahasiswa. Penerapan enam penugasan dalam model pembelajaran kontekstual pada mata kuliah Antropologi Pariwisata dapat membantu merangsang peningkatan berfikir kritis mahasiswa. Berfikir kritis mahasiswa yang dimaksud dalam tulisan ini dapat dilihat berupa artikel ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa. Mahasiswa berfikir kritis tentang kondisi pariwisata dan kendala yang dihadapkan pariwisata di kota Medan serta memberikan ide-ide sebagai upaya merekayasa solusi untuk pengembangan kepariwisataan di kota Medan khususnya.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document