scholarly journals Kebahagiaan dan Kebaikan-Kebaikan Eksternal: Sebuah Perbandingan antara Stoa dan Kristen

2019 ◽  
Vol 12 (2) ◽  
pp. 165-184
Author(s):  
Bedjo Lie

Di dalam artikel ini, penulis akan berargumentasi bahwa pandangan Kristen dan Stoa tentang kebahagiaan memiliki kesamaan signifikan yang membedakannya dengan pandangan popular modern tentang kebahagiaan Sejalan dengan Stoisisme, kekristenan lebih menekankan sisi obyektif dari kebahagiaan sebagai sesuatu yang jauh dari sekadar feeling good namun lebih terkait dengan karakter manusia. Bagi keduanya, kebahagiaan lebih merupakan kondisi etis daripada psikologis manusia. Hal ini secara jelas bertentangan dengan konotasi modern dari kata kebahagiaan yang menekankan sisi subyektif psikologis seperti perasaan senang atau puas dari manusia. Di sisi lain, penulis akan berargumentasi bahwa prasuposisi utama yang menopang konsep kebahagiaan Stoisisme bertentangan dengan wawasan dunia Kristen. Sebagai akibatnya, perilaku dan emosi yang diidolakan oleh Stoisisme menjadi bertentangan dengan Alkitab, secara khusus sebagaimana diajarkan dan dihidupi oleh Tuhan Yesus saat di bumi. Artikel ini akan dimulai dengan deskripsi pandangan Stoa tentang kebahagiaan dan peran dari kebaikan-kebaikan eksternal di dalamnya. Tanpa meninggalkan yang lain, maka tokoh Stoa yang lebih banyak dirujuk dalam tulisan ini adalah Lucius Annaeus Seneca (4 BC – 65 AD) yang hidup sezaman dengan Yesus. Ajaran Seneca sendiri telah dihargai oleh tokoh-tokoh Kristen mula-mula seperti Tertulianus, Jerome dan Agustinus. Selanjutnya, perspektif Stoisisme tersebut akan dibandingkan dengan kekristenan, terutama Sabda Bahagia Yesus dalam Kotbah di Bukit (Matius 5) yang memuat konsep kebahagiaan (makarisme) Kristen. Akhirnya, penulis akan memberikan sebuah analisa persamaan dan perbedaan dari kedua pandangan di atas sambil menunjukkan implikasinya bagi spiritualitas Kristen. Mari kita mulai dengan pandangan Stoisisme tentang kebahagiaan.


1980 ◽  
Vol 27 (2) ◽  
pp. 147-157 ◽  
Author(s):  
Gerard B. Lavery

The purpose of this paper is an examination of the metaphors of life as warfare and life as a journey in the prose writings of the philosopher Lucius Annaeus Seneca. The discussion will centre on the essays and letters; the tragedies will not be directly considered. The philosopher's use of these metaphors will be related to a review of the teachings of Seneca and of the Stoic school on death and on certain other central Stoic concepts.







1929 ◽  
Vol 23 (2) ◽  
pp. 16 ◽  
Author(s):  
Jacob Hammer ◽  
Otto Apelt


Revue Romane ◽  
2020 ◽  
pp. 1-21
Author(s):  
Álvaro Luque Amo

Abstract This work presents a comparison between the writing styles of Lucius Annaeus Seneca and Michel de Montaigne. Montaigne is influenced by the writing style of the Moral Epistles, which will be a fundamental source for the development of his Essays. From Seneca, Montaigne carries out a poetics based on the honesty; this is related with a textual construction of the subject. Following Foucault, the development of the subject by this narrative style is analyzed. This explains the origin of a contemporary genre such as the Literature of the Self. In this line, one ends up analyzing the influence of senecan style, through Montaigne, in some of the most relevant authors of the autobiographical genres.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document