Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

27
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Institut Agama Islam Negeri Kerinci

2715-6273, 2714-6510

2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 146-175
Author(s):  
Risqo Ulya ◽  
Hafizzullah
Keyword(s):  

Artikel ini membahas tentang Konsep Jihad dalam Tafsir al-Maragi (Studi Tafsir Tematik tentang Jihad dalam QS. At-Taubah). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap: 1) Konsep jihad dalam surah at-Taubah pada tafsir al-Maragi, dan 2) Relevansi jihad dengan konteks masa kini menurut tafsir al-Maragi. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research) dengan metode penelitian tematik surah. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber data primer, yaitu Tafsir al-Maragi, sedangkan sumber data sekunder, yaitu Kitab al-Mu’jam al-Mufahrasy li al-Fazdil Quran Karim, ensiklopedia, jurnal dan literatur yang relevan dengan jihad. Teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan studi dokumen, yang dianalisis menggunakan langkah-langkah dalam metode tematik. Kesimpulan  penelitian ini adalah: 1) Adapun al-Maragi membagi konsep menjadi beberapa bagian: a. Objek jihad yakni orang-orang musyrik, munafik dan kafir. b. Media jihad seperti harta dan diri mereka. c. Cara berjihad: untuk melawan  orang-orang kafir dan munafik yaitu berjihad dengan tangan dan berjihad dengan lisan. d. Macam-macam jihad: jihad yang haq dengan tujuan untuk membatalkan yang batil. e. Tujuan berjihad atau berjuang di jalan Allah yaitu merupakan jalan untuk memelihara keberadaan umat dan ketinggian kalimatnya, membersihkan mereka dari keimanan yang lemah dan kelalaian terhadap hak-hak Islam, menegakkan neraca keadilan, serta menegakkan yang haq. f. Keutamaan jihad yaitu lebih agung derajatnya, kemuliaannya, tinggi kedudukannya dalam martabat keutamaan dan kesempurnaan, lebih besar pahalanya, menikmati kesenangan di dunia, serta Allah menjanjikan bahwa yang berjihad  akan memperoleh berbagai kebahagiaan abadi di akhirat. Dengan melihat beberapa konsep yang ditawarkan tafsir al-Maragi apabila telah mengikuti cara yang tertera di atas. Maka, langkah selanjutnya tafsir al-Maragi ini menekankan bahwa menggerahkan segenap kekuatan, kemampuan, dan kesanggupan  untuk melawan musuh. sedangkan 2) Relevansi  jihad  masa kini pada kitab tafsir al-Maragi dalam surah at-Taubah ialah jihad dengan media, jihad dengan ekonomi, jihad dengan ilmu dan jihad dengan diri



2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 121-145
Author(s):  
Eko Zulfikar

Al-Hakim adalah tokoh ahli hadis yang berpengaruh dalam dunia Islam. Salah satu karyanya yang familiar adalah al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, yang merupakan bentuk manifestasi aplikasi metode al-Hakim dalam menentukan kesahihan hadis. Tulisan ini bermaksud melakukan eksplorasi lebih jauh metode al-Hakim dalam menentukan kesahihan hadis yang dia manifestasikan dalam karyanya tersebut. Dengan metode deskriptif-analitis, didapati kesimpulan bahwa al-Hakim menggunakan prinsip ijtihad dalam menentukan metode kesahihan hadis, dan ia membaginya menjadi empat paradigma sudut pandang; (1) dilihat dari kriteria kesahihan hadis, (2) dilihat dari klasifikasi hadis, (3) dilihat dari pendekatan status sanad dan matan, dan (4) dilihat dari standar penentuan kesahihan hadis. Adapun langkah yang dilakukan dalam menentukan kesahihan hadis berdasarkan syarat perawi, al-Hakim membagi menjadi lima kategori, yakni; (1) hadis yang sesuai dengan syarat Shahihain, (2) hadis yang sesuai dengan syarat al-Bukhari, (3) hadis yang sesuai dengan syarat Muslim, (4) hadis yang sesuai dengan syarat al-Hakim, dan (5) hadis yang tidak dinilai al-Hakim.  



2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 96-120
Author(s):  
Ummi Kalsum Hasibuan ◽  
Risqo Faridatul Ulya ◽  
Jendri Jendri

Tulisan ini mengkaji tentang metode, pendekatan dan corak tafsir Alquran. Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui makna-makna dari metode, pendekatan dan corak ketika hendak melakukan penelitian tafsir, untuk mengupas tentang metode, pendekatan dan corak dalam tafsir Alquran. Dari pembahasan dalam tulisan ini, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa: pertama, metode tafsir adalah suatu cara, langkah-langkah ataupun kerangka yang harus ditempuh ketika melakukan penafsiran Alquran, sehingga dalam hal ini terdapat beberapa metode penafsiran Alquran, yaitu; metode tafsir tahlili, ijmali, muqaran, maudhu’iy dan hermeneutika. Kedua; pendekatan tafsir adalah sudut pandang dari prosesnya tafsir dan dari pendekatan itu akan membuahkan corak, sehingga antara pendekatan dan corak tafsir itu saling keterkaitan antara keduanya. Adapun pendekatan dalam tafsir adalah pendekatan tekstual, kontekstual, bahasa, historis dan sosio-historis. Ketiga; corak tafsir adalah suatu nuansa, dominasi, warna ataupun kecenderungan pemikiran atau ide yang mendominasi suatu karya tafsir dan yang termasuk kepada corak tafsir Alquran adalah corak  falsafi, fiqhi, sufi, ‘ilmi, adabi al-ijtima’iy.



2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 76-95
Author(s):  
Nicolas Habibi ◽  
Jalwis ◽  
Izzat Muhammad Daud

Dalam titik-titik sejarah perang Uhud, perang ini merupakan perang kedua yang terjadi sejak didirikannya pemerintahan Islam oleh nabi Muhammad di Madinah. Perang ini disebabkan oleh faktor agama, faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor politik. Beberapa literatur menyebutkan bahwa nabi Muhammad dan pasukannya mengalami kekalahan dalam peperangan ini karena banyaknya jumlah mujahid yang wafat. Namun, dalam perspektif ketercapaian tujuan awal faktor penyebab dari perang ini, tidak satupun keberhasilan yang diperoleh Quraisy dan infantrinya. Setelah perang ini, legitimasi kepemimpinan nabi Muhammad dan pemerintahannya justru semakin eksis di Madinah. Kelihaian dan kepiawaian nabi Muhammad mengatur strategi pada perang Uhud, menjadi mir’ah dalam sejarah dunia Islam.



2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 52-75
Author(s):  
Siti Syamsiyatul Ummah

Abstract  As one of the most prominent Muslim thinkers of modern times, Ali Syari 'ati's role in resisting the repression of Pahlevi's regime is undeniable. He presented himself as a propagandist gusting the spirit of youth in Iran in the 1970's to rise up and resist the authoritarian and oppressive regime of Pahlevi. Ali Syari 'ati had succeeded in building a revolutionary islamic ideology on the foundations of tauhid to elevate degrees and support egalitarianism in humans. In the view of Ali Syari 'ati, tauhid is a oneness between god, human, and the universe. Therefore, any form of social discrimination, injustice, depotism, and persecution must be opposed because it is separate from the rivals of tauhid. It's a library research which deals with liberation theological thinking in the perspective of Ali Syari 'ati in lifting and fighting for emancipation, responsibility and human freedom. The subject of this post is the biography of Ali Syari 'ati, the views of the tauhid world: the tauhid is the free previews of Ali Syari 'ati, the religious humanistic concept Ali Syari'ati, and the tauhid scheme of thought in the religious humanistic concept of Ali Syari'ati. Abstrak Sebagai salah satu pemikir Muslim terkemuka di zaman modern, peran Ali Syari’ati dalam melawan penindasan rezim Pahlevi tidak dapat dimungkiri lagi kebenarannya. Ia tampil sebagai propagandis yang membakar semangat kaum muda di Iran pada 1970-an untuk bangkit dan melawan rezim Syah Pahlevi yang otoriter dan menindas. Ali Syari’ati berhasil membangun ideologi Islam yang revolusioner dengan fondasi tauhid untuk mengangkat derajat dan menyokong egalitarianisme (persamaan) pada manusia. Dalam pandangan Ali Syari’ati, tauhid adalah kesatuan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta. Maka, segala bentuk diskriminasi sosial, ketidakadilan, kedzaliman, dan penindasan harus dilawan karena termasuk hal yang syirik (lawan tauhid). Tulisan ini merupakan library research yang membahas tentang pemikiran teologi pembebasan dalam prespektif Ali Syari’ati dalam mengangkat dan memperjuangkan emansipasi, tanggung jawab dan kebebasan manusia. Sub pembahasan dalam tulisan ini adalah biografi Ali Syari’ati, pandangan dunia tauhid: Tauhid yang membebaskan prespektif Ali Syari’ati, konsep religius humanistik Ali Syari’ati, serta skema pemikiran tauhid dalam konsep religius humanistik Ali Syari’ati.



2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 32-51
Author(s):  
Ummi Kalsum Hasibuan

Tulisan ini mengkaji tentang pemikiran tafsir Djohan Effendi yang terdapat dalam buku Pesan-Pesan al-Qu’ran Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci. Tujuan tulisan ini untuk menyingkap potret kehidupan intelektual Djohan Effendi, untuk mengetahui, mengkaji dan menganalisa tentang pemikiran kontemporer dari Djohan dalam melakukan penafsiran al-Qur’an yang dikemukakan dalam bentuk contoh dan untuk menganalisa karakteristik penafsiran dari buku pesan-pesan al-Qur’an yang dikarang oleh Djohan. Adapun metode yang dipakai adalah metode deskriptif-analisis dengan memakai pendekatan historis. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa Djohan Effendi merupakan intelektual Islam yang berasal dari Banjarmasin dan sudah tidak asing lagi  di dengar dari kalangan pemikir Islam, selain itu ia juga sangat antusias terhadap penafsiran al-Qur’an, sehingga lahirlah karya terakhirnya yang monumental tersebut. Selanjutnya terkait pemikiran kontemporer tafsir Djohan dalam melakukan sebuah penafsiran ia bersumber kepada bi al-ra’yi dan berupaya membuat sebuah pemahaman pribadinya dengan modal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dilaluinya, sebagaimana ketika menafsirkan kata rabb dengan Tuhan pelantan. Kemudian Djohan juga tidak mencantumkan ayat-ayat al-Qur’an di dalamnya, hanya tulisan kaligrafi saja yang terdapat di dalamnya. Bahkan penafsiran kontemporer Djohan yang teruang dalam bukunya tersebut ia lebih menggunakan bahasa-bahasa sastra maupun indah bagi para pembaca. Tulisan ini akan mencoba untuk mendiskusikan atau meninjau lebih dalam lagi seputar terbitnya buku Pesan-pesan al-Qur’an Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci karangan dari Djohan Effendi.



2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 1-31
Author(s):  
Adriansyah Muftitama

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan jendela wacana baru yang memaparkan suatu bentuk strategi komunikasi kepemimpinan untuk mengatasi konflik internal kelompok. Kajian di dalam  tulisan ini berangkat dari akar masalah atau konflik individu yang sering terjadi di dalam suatu kelompok kecil ataupun besar karena pada dasarnya setiap kelompok membutuhkan sosok yang mampu mengayomi secara massive setiap langkah kelompok dengan benar agar tujuan  kelompok dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Melalui studi literatur, terciptalah gagasan/proposisi atau konsep tentang strategi komunikasi yang disingkat menjadi LCCVASE (listening, clarifying, confirming, verifying, action-solving, evaluating) ini dapat diterapkan pada berbagai proporsisi komunikasi dan manajemen konflik individu di dalam kelompok, jika dilakukan dengan baik dan benar maka permasalahan kelompok diharapkan dapat mereda atau selesai dengan cepat yang level pencapaiannya tetap dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti: kecerdasan pemahaman (kognisi), sense atau feeling, pendidikan, emosi, dan lain-lain. Strategi ini diterapkan sebagai sebuah teknik membaca dan memahami situasi-situasi yang terjadi



2020 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 93-111
Author(s):  
Dendy H Nanda

Melihat pemberitaan tentang etnis rohingya beberapa waktu belakangan ini seringkali kita disuguhkan dengan gambaran atau pemberitaan oleh media kita terutama media yang bernafaskan Islam. Berbagai bentuk pemberitaan di tampilakan oleh media tersebut. Dengan kemasan yang berbeda-beda antara satu media dengan media yang lain. Tentu akan berbeda antara media yag beraliran nasionalis dana media yang berideologikan agama. Mulai dari sudut pandang berita, pembahasaan di teks, maupun foto atau gambar yang ada di media tersebut. Menarik bila kita cermati bagaimana media yang berideologikan Islam dalam mengemas pemberitaanya. Seringkali kita melihat media Islam di Indonesia menampilkan berita tentang etnis rohingya dengan sangat mengebu-gebu. Terkadang penulisannya cendrung provokatif dan  kelihatan seperti sangat mendramatisir. Mulai dari judul berita, konten dari berita tersebut hingga foto-foto yang ditampilakan. Seperti yang menjadi kepala berita di media online Arrahmah.com ketika mengemas berit dengan judul “Setan Gundul Budha Myanmar Harus Diberi Pelajaran Setimpal” (Arrahmah.com, akses15 Juni 2013), ini tentu sangat terlihat provokatif dan sebagai media yang membawa simbol agama tentu hal ini akan sulit diterima dengan akal sehat. Contoh lainnya “Muslim Rohingya menderita diskriminasi dan penganiayaan yang hampir tak pernah henti” (Arrahmah.com, akses 15 Juni 2013). Dari dua contoh pemberitaan diatas dapat kita lihat bagaimana ada dua dikotomi yang berbeda yang ditampilkan oleh media Arrahman.com. Disatu sisi orang Budha Myanmar di hadirkan dengan sangat hina dengan kata-kata yang cendrung sangat melecehkan dengan kata “Gundul”, sedangkan disisi lain orang muslim rohingya ditampilkan dengan kondisi sangat memprihatinkan dengan menggunakan kata “penganiyaan yang hapir tak penah henti”. Tentu berita itu sangat sangat provokatif dan mengandung unsur propaganda. Padahal bila kita pelajari dalam kaidah jurnalistik, setiap wartawan harus bersikap profesional dan netral. Dimana harus ada keseimbangan fakta dalam suatu pemberitaan, namu tidak dengan apa yang terjadi di media Arrahmah.com. Keberpihakan inilah yang semakin penulis anggap relefan dengan apa yang dikatakan oleh paradigma kritis bahwa tidak ada media yang bisa netral, selalu ada kepentingan di balik pemberitaanya.



2020 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 16-31
Author(s):  
Budi Sujati ◽  
Ilfa Harfiatul Haq

Permasalahan Gender di Indonesia dapat dilihat dari aspek ruang dan  waktu atas dasar kultur yang berlaku di berbagai tempat dan dalam waktu tertentu. Pada masa itu, kultur budaya Jawa khususnya menempatkan kaum perempuan sebagai kaum yang memiliki hak-hak sosial yang lebih sempit dibandingkan dengan kaum laki-laki di tengah kondisi penjajahan Belanda. Penelitian ini bertujuan untuk melacak jejak langkah gerakan perempuan di Jawa pada masa Pergerakan Nasional. Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Sejarah yang melalui tahapan: Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi. Gerakan Perempuan mulai melakukan perjuangannya dengan mendirikan sekolah-sekolah, lalu disertai dengan pendirian organisasi-organisasi dan pada perkembangannya menyelenggarakan kongres-kongres. Melalui sarana pendidikan tentunya akan menghasilkan perempuan-perempuan terdidik yang nantinya akan dapat memperjuangkan haknya dengan menuangkan gagasan dan pemikiran, baik secara lisan maupun tulisan.



2020 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 112-126
Author(s):  
Berlian Susetyo ◽  
Ravico

Masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam upaya pembebasan Papua menjadi agenda besar dalam penghapusan kolonialisme. Sehingga upaya diplomatik dilakukan baik itu diplomasi terbuka maupun tertutup. Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan penelitian sejarah dengan menggunakan langkah-langkah metode penelitian yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian meliputi diplomasi terbuka dengan cara melalui sidang umum PBB tahun 1954-1957, Konferensi Asia-Afrika 1955 dan kebijakan kofrontasi. Selanjutnya Diplomasi Tertutup melalui diplomat Amerika Serikat Ellsworth Bunker yang diperintah langsung oleh Sekjen PBB U Thant, usulan ini menjadi jalan keluar menuju perdamaian untuk menghentikan perselisihan antara Indonesia dan Belanda atas masalah Papua.  



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document