At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

35
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

2614-4980, 2598-585x

2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 96
Author(s):  
M. Yusuf M. Yusuf

ABSTRAKNikah siri merupakan perkawinan yang dilaksanakan sesuai dengan rukun syarat nikah menurut agama Islam tetapi tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama seperti yang diatur dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat 2. Perkawinan dibawah tangan akan membawa perilaku tidak baik terhadap keluarga, bermasalah hukum bagi anak yang dilahirkan, terhadap harta benda dan pasangan suami istri tersebut, karena nikah siri tidak mempunyai bukti yang autentik sehingga perkawinan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum, Maka munculah penelitian tentang Dampak Nikah Siri terhadap Perilaku Keluarga, Permasalahan yang dikaji adalah,  Apa itu nikah siri dan bagaimana dampak nikah siri terhadap perilaku keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan nikah siri adalah nikah yang dilakukan diluar Kantor Urusan Agama, artinya pernikahan ini dilakukan tidak berdasarkan hukum negara tetapi pernikahan ini dilakukan berdasarkan hukum syari’at Islam.Dampak  Nikah siri terhadap perilaku keluarga antara lain hilang tanggung jawab, sulit terjadi keharmonisan dalam keluarga, tidak saling menghormati, berbeda kasih sayang terhadap anak, .Dampak nikah siri bagi anak dan istri adalah: Anak itu tidak diakui oleh negara menurut UUD. Anak itu secara hukum dia tidak bisa mendapatkan hak waris. Tidak memiliki akte. Dampak yang lebih fatal apabila ada kasus hukum maka tidak punya kekuatan hukum yang mengikat bagi anggota keluarga karena dia tidak punya bukti autentik tentang nikah nya yang diakui oleh negara.Kata Kunci: Nikah Siri dan Perilaku Keluarga



2020 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 29
Author(s):  
Mahdi NK

Abstrak Bimbingan konseling merupakan kebutuhan manusia, karena manusia tidak luput dari masalah, untuk itu terserah kepada manusia itu sendiri mau menggunakan jasa atau siapa yang dianggap mampu memberikan jalan keluar dari permasalahan mereka. Islam meyakini bahwa Nabi dan Rasul itu adalah konselor agung yang dipersiapkan Allah untuk manusia. Mereka sanggup memberikan solusi terhadap berbagai macam keluhan dan permasalahan  umatnya. Ulama (teungku bhs Aceh) merupakan pewaris dari Nabi dengan segala tugasnya, tidak terkecuali memberikan solusi terhadap aneka ragam permasalahan umat, dengan berbagai macam metode yang diwariskan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam.



2020 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 48
Author(s):  
Azhari Azhari ◽  
Sulistia Ningsih

Abstrak : Penelitian ini membahas mengenai konseling kelompok dengan menggunakan salah satu pendekatan psikologi yaitu cognitive behavior therapy (CBT) pada remaja yang kurang menganggap penting pendidikan dalam jenjang yang lebih tinggi. Tujuan CBT adalah mengajak klien untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi .Tujuan artikel ini adalah untuk melihat kegunaan konseling kelompok melalui pendekatan cognitive behavior therapy (CBT) dalam upaya meningkatkan kesadaran melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi pada remaja di dusun Banaran Kulonprogo. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Kata Kunci : Konseling Kelompok; Cognitive Behavior Therapy; Kesadaran Pendidikan



2020 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 86
Author(s):  
Juli Andriyani

Masa remaja merupakan suatu periode yang penuh dengan perubahan serta rentan munculnya masalah terutama yang berhubungan dengan perasaan atau kesadaran akan jati dirinya. Remaja dihadapkan pada berbagai pertanyaan menyangkut keberadaan dirinya, masa depannya,peran-peran sosialnya dalam keluarga dan masyarakat serta kehidupan beragama. Ada tiga lingkungan perkembangan yang harus dijalani oleh remaja  yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan teman sebaya.  Yang paling berperan adalah lingkungan keluarga karena kehidupan individu sejak awal berada dalam keluarga. Keluargalah yang memenuhi segala kebutuhan remaja baik kebutuhan fisik maupun psikologis.  Kenakalan remaja merupakan salah satu perilaku menyimpang yang  perlu adanya perhatian khusus serta pemahaman yang baik serta penanganan yang tepat terhadap proses penyelesaiannya karena merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja di kehidupan selanjutnya, mengingat masa transisi remaja merupakan masa yang paling menentukan. Adapun beberapa peran yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja meliputi proses pembinaaan dan bimbingan yang dilakukan oleh keluarga.  Orang tua berusaha menciptakan keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja serta membantu remaja dalam proses penyesuaian diri dan sosialnya.Kata kunci : Lingkungan Keluarga. Kenakalan Remaja



2020 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 14
Author(s):  
Sugandi Miharja
Keyword(s):  

Membentangkan definisi bimbingan konseling Islam tidak mudah, terlebih lagi sifat bimbingan konseling Islam merupakan integrasi religi, teoritis, dan empiris. Keberadaannya bersinggungan dengan realitas di para pelaku sekitarnya. Dalam sorotan historis, perbedaan antara konseling Islam dengan konseling pada umumnya dalam kemungkinan mempengaruhi atau dipengaruhi. Tujuan penelitian ini untuk membentangkan definisi bimbingan konseling Islam, kajian atas pola pemikiran falsafah Islam dan konvensional, serta dinamika dalam upaya rumusan yang menyeluruh. Penelitian menggunakan kepustakaan (library research). Jenis penelitian termasuk kualitatif deskriptif pada literatur-literatur dan sumber-sumber, dan atau penemuan terbaru mengenai bimbingan konseling. Sifat penelitian kepustakaan ini kajian kritis dan historis. Pengumpulan data dalam bentuk verbal simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumusan definisi bimbingan konseling Islam telah menunjukkan ketegasan pada misi Islam. Unsur-unsur definisi dalam bimbingan konseling Islam, setidaknya mencakup: (1) layanan yang proaktif, bukan apatis apalagi pasif, (2) dilakukan oleh ahli, (3) dilakukan kepada individu, baik dalam konseling perorangan maupun kelompok dan massal, (4) berupa nasehat, dukungan, dan saran yang sesuai dengan kaidah agama Al-Qur'an, Sunnah dan turunannya, (5) ditujukan untuk mengembangkan diri, mencegah penistaan dan memecahkan masalah agar individu dapat mengoptimalkan potensi, (6) memperhatikan aspek jasmani, rohani dan lingkungan, (7) meraih kebahagiaan kehidupan dunia dan akhirat.



2020 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 74
Author(s):  
Maturidi Maturidi
Keyword(s):  

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana zikir digunakan sebagai sebuah terapi penyakit hati dalam perspektif bimbingan dan konseling Islam. Hal tersebut berguna untuk mengembangkan terapi yang berlandaskan pada ajaran Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an, al hadis dan diterapkan dalam proses bimbingan dan konseling Islam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang dilaksanakan dengan mengumpulkan data dari berbagai jenis literatur dari perpustakaan. Hasil penenelitian menunjukkan bahwa zikir dapat digunakan sebagai terapi penyakit hati. Hasil penelitian ini didukung dengan banyaknya ayat Al-Qur’an dan al hadis yang menjelaskan bermacam-macam keutamaan zikir yang salah satunya adalah sebagai obat dan juga sebagai terapi penyakit hati.Kata Kunci: Zikir, Terapi, Bimbingan dan Konseling Islam



2020 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Samsiyah Jayos

Poligami merujuk kepada seorang lelaki yang mempunyai isteri lebih dari seorang. Manakala kajian mengenai cabaran yang dihadapi oleh isteri atau wanita yang berpoligami secara lebih mendalam dan terperinci masih lagi kurang dijalankan (Mohd Amirruddin, 2005; Jaymess, 2007). Jika isu poligami ini dibahaskan, ia membuatkan kaum lelaki menyenanginya, manakala wanita mencemuhnya (Zuhayati, 2010). Sehubungan itu, kajian ini berkaitan dengan poligami dan dikhususkan kepada wanita Islam yang berpoligami iaitu wanita yang berpoligami ingin dijalankan. Melalui poligami iaitu hidup bermadu pastinya akan mengalami pelbagai cabaran bagi seorang wanita. Oleh itu, kajian ini dijalankan untuk mengkaji cabaran luaran dan dalaman yang dihadapi oleh wanita yang poligami secara lebih mendalam. Kajian ini menggunakan kaedah kualitatif sepenuhnya dan reka bentuk kajian ini adalah reka bentuk kajian kes dengan menggunakan kaedah temu bual secara bersemuka (Kamarul Azmi, 2012; Kamarul Azmi, 2012; Rusli Ahmad et al., 2014). Sampel kajian adalah bertujuan. Responden yang terlibat dalam kajian ini terdiri daripada wanita Islam yang sedang bermadu di sekitar Bukit Mertajam, Pulau Pinang. Kajian ini melibatkan seorang responden yang merupakan isteri pertama sebagai kajian rintis. Seterusnya empat (4) orang responden sebenar yang terdiri daripada seorang isteri pertama, dua (2) orang isteri kedua dan seorang isteri ketiga. Hasil kajian mendapati terdapat dua (2) skop cabaran iaitu cabaran dalaman dan luaran. Didapati tiga (3) cabaran luaran yang dihadapi oleh responden iaitu aspek jasmani, aspek ekonomi dan aspek interaksi sosial. Manakala, cabaran dalaman terdapat tiga (3) aspek iaitu aspek emosi, aspek intelektual dan aspek rohani. Secara keseluruhannya, kajian ini adalah untuk mengetahui dan memberikan sedikit sebanyak gambaran tentang cabaran yang dihadapi oleh wanita yang bermadu terhadap kaunselor dan masyarakat. Selain itu, kajian ini perlulah diperluaskan lagi pada masa akan datang agar keluarga, kaunselor dan masyarakat mendapat pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu ini dengan harapan klien dalam golongan ini dapat dibantu dengan lebih berkesan. Kata kunci: Perkongsian, cabaran, cabaran dalaman, cabaran luaran, klien, poligami dan wanita.



2020 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 60
Author(s):  
Jarnawi Jarnawi
Keyword(s):  

AbstrakPenyebaran Virus Corona atau Covid.19 secara masif dan sangat cepat ke seluruh penjuru dunia telah membuat rusaknya tatanan kehidupan serta menyebabkan berbagai ganguan baik fisik maupun Psikologis. Rusaknya tatanan ekonomi, sosial, politik, pendidikan, budaya, agama dan kesihatan tercabik cabik dengan munculnya terror kematian yang telah mencapai lebih ribuan orang. Rentetannya adalah mucul pula gangguan psikologis berupa ketakutan dan kecemasan di tengah-tengah masyarakat dalam situasi pandemik Covid.19.Berbagai upaya telah dilakukan guna mengeliminir bertambahnya jumlah korban jiwa, diantaranya adalah lewat pendidikan menyangkut Corona serta penularan, pencegahan dan pemutusan infeksi virus lewat social distancing, cuci tangan, dan tetap beraktifitas di rumah serta tetap mejaga imunitas tubuh lewat makan yang bergizi, berolahraga intensitas sedang, dan istirahat yang cukup. Pemahaman komprehensif menyangkut stressor yaitu virus corona covid.19 dipadukan dengan psikoterapi sederhana seperti relaksasi, assist terapi, play terapi, Spiritual, emotional Freedome Teqnnique (SEFT) dan terapi Islami lewat Wudhuk, Shalat dan Sabar guna menghadirkan sakinah di dalam diri menjadi pilihan bijak dalam mengelola cemas. Maka diharapkan setiap manusia lebih tenang dan lebih siap menghadapi segala kemungkinan di tengah wabah corona yang melanda. Pada akhirnya setiap orang dapat memutus sumber ketidak pastian menjadi suatu yang pasti tanpa ada kecemasan berlebihan.Kata Kunci: Covid.19, Cemas, Terapi dan Sakinah.



2019 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 56
Author(s):  
Hendri Hendri

ABSTRAKArtikel ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan bagaimana Peran Orang Tua terhadap Pembentukan Konsep Diri pada Anak. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan studi literatur atau kajian kepustakaan. Tulisan ini merupakan bentuk gagasan atau pandangan yang dihasilkan dari studi literatur atau kajian kepustakaan yang dilakukan oleh penulis dari buku-buku dan jurnal-jurnal terkait tentang Peran Orang Tua terhadap Pembentukan Konsep Diri pada Anak. Hasil yang diperoleh dari kajian yang dilakukan menjelaskan bahwa Pola Asuh Orang Tua Memiliki Peranan Penting terhadap Pembentukan Konsep Diri pada Anak. Anak yang mendapat perlakuan yang positif, seperti jika anak berbuat salah maka diarahkan, diberi pengertian dan dinasehatin sehingga anak dapat mengerti untuk memperbaiki keselahanya dengan cara yang tepat, maka akan diprediksi anak tersebut akan memiliki konsep diri yang positif juga. Konsep diri yang positif terindikasi dari kualitas penyesuaian diri yang baik, tidak ragu dalam bertindak, berani mencoba, dan berani mengambil keputusan. Pola asuh seperti ini dinamakan dengan pola asuh demokratis. Sebaliknya anak yang mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang tuanya, seperti sering memberikan stigma negatif dengan kata-kata “nakal dan bodoh” terhadap anaknya disaat melakukan suatu kesalahan atau gagal dalam satu kompetisi, maka akan diprediksi anak tersebut akan memiliki konsep diri yang negatif. Konsep diri yang negatif terindikasi dari kualitas penyesuaian diri yang kurang baik, ragu pada diri sendiri, takut mencoba, dan tidak berani dalam mengambil satu keputusan dengan bijak. Pola asuh seperti ini merupakan bentuk dari pola asuh otoriter. Pola asuh orang tua adalah hal yang paling urgen untuk diperhatikan, diketahui dan dipahami oleh setiap orang tua, karena merupakan salah satu faktor yang paling utama yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri pada anak. Kata Kunci : Peran Pola Asuh Orang Tua, Konsep Diri



2019 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
M. Jamil Yusuf

Abstrak            Mahasiswa yang telah menyelesaikan studi di suatu perguruan tinggi berhak memperoleh gelar sarjana. Mengejar adanya gelar ini idealnya ditempuh sesuai prosedur, mencurahkan segenap potensi pikir dan ikhtiar, dan tujuannya pun untuk mengemban amanah keilmuwan dan memaksimalkan pengabdiannya kepada agama, bangsa dan Negara. Fenomena yang mengemuka akhir-akhir ini bahwa gelar tersebut  diupayakan dengan cara-cara melanggar etika keilmuwan, untuk tujuan-tujuan popularitas hingga merendahkan martabat kesarjanaan, bahkan tidak memperlihatkan produktifitas keilmuwannya dalam meneliti atau menulis karya ilmiah.  Dalam perspektif konseling Islam, fenomena ini dipandang sebagai sebuah “kasus” penyakit yang mulai menggejala di kalangan generasi muda melenial, yakni tidak mampu berpikir logis dan tidak terampil menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Generasi melenial ini perlu dibantu dengan layanan konseling Islam untuk pengembangan kebermaknaan hidupnya. Konseling Islam sudah seharusnya membantu mereka ini untuk mampu merumuskan tujuan hidup yang sejalan dengan kebermaknaan hidup sebagai seorang Muslim. Dalam konsep kebermaknaan hidup ini seorang Muslim harus mampu mendorong dirinya untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti kuliah, bekerja dan berkarya agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Kata Kunci: Wisuda Sarjana, Konseling Islam



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document