JURNAL PAKARENA
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

27
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Negeri Makassar

2714-6081, 2528-6994

2020 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 34
Author(s):  
Suhartini Supriadi

Penelitian ini menjawab rumusan masalah yang tercantum dalam Tari Kalegoa pada Sanggar  Keraton  Laode  Umuri Bolu kota  Bau-Bau  Kabupaten  Buton yaitu: 1). Bagaimana Bentuk Gerak Tari Kalegoa pada Sanggar Keraton Laode Umuri Bolu. 2). Bagaimana Makna Gerak yang terkandung dalam setiap ragam Tari Kalegoa pada Sanggar Keraton Laode Umuri Bolu. Penelitian ini merupakan  penelitian  deskriptif  kualitatif.  Penelitian  ini  dilaksanakan  di Sanggar Keraton Laode Umuri Bolu jalan Muh. Husni Thamrin kelurahan Tomba Kecamatan Wolio pada Bulan Juli sampai Oktober 2019. Tari ini diciptakan pada tahun 1987 oleh seorang budayawan  yang bernama  Laode Umuri Bolu.  Data yang diperoleh dengan melakukan teknik pengumpulan data (observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi). Hasil penelitin ini menunjukan  bahwa: 1).  bentuk  gerak  Tari  Kalegoa  pada  Sanggar  Keraton Laode Umuri Bolu adalah tari tradisional yang menggambarkan suka duka gadis-gadis Buton sewaktu berada di dalam pingitan dengan bentuk berupa gerakan memakai sapu tangan. Jumlah penari yang menarikan tarian ini berjumlah genap antara 2,4,6,8, dan seterusnya. Sudah menjadi suatu tradisi sejak zaman lampau seorang gadis yang menjelang dewasa haruslah menjalani masa pingitan (posuo) selama delapan hari delapan malam. 2). makna ragam gerak Tari Kalegoa pada Sanggar Keraton Laode Umuri Bolu terbagi menjadi tiga yaitu:a. gerak lego/lengan bergoyang yang dimaknai bahwa perempuan dipersiapkan untuk bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri, karena seorang wanita dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu dan menjadi istri. Wanita juga dipersiapkan untuk bisa mengurus dirinya sendiri dan keluarga.b. gerak pobura/memakai bedak yang dimaknai bahwa meraka yang sudah dewasa sudah bisa merias diri, menjaga diri, dan mempercantik diri. Memakai bedak tidak hanya dimaknai untuk mempercantik wajah tetapi makna sesunggunya adalah mempercantik hati dan perilaku wanita tersebut, agar meraka lebih mengerti maksud dari upacara yang mereka lakukan.c. gerak Karia/pesta yang dimaknai sebagai gambaran suka cita kegembiraan semua gadis-gadis yang sudah berhasil melewati prosesi upacara  Posuo. Wanita yang sudah dewasa sudah diberikan tanggung jawab. Keberadaanya sudah bisa diperhitungkan di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat 



2020 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 9
Author(s):  
Ari Wibowo

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei, survei dilakukan di SMA Negeri 2 Sinjai, Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Perencanaan pembelajaran seni kriya dari bahan stik es krim bagi peserta didik kelas XI, (2) Pelaksanaan pembelajaran seni kriya dari bahan stik es krim untuk peserta didik kelas XI, dan (3)Evaluasi pembelajaran seni kriya dari bahan stik es krim bagi peserta didik kelas XI. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan data tentang (1) Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru bidang studi, (2) Langkah-langkah pembelajarn yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, (3) Evaluasi pembelajaran yang meliputi penialaian sikap dan keterampilan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) perencanaan pembelajaran seni kriya dari bahan stik es krim mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) telah disusun dengan baik, (2) Pelaksanaan Pembelajaran seni kriya dari bahan stik es krim bagi peserta didik kelas XI IIS III telah dilaksanakan sesuia dengan RPP yang telah disusun, baik pada kegiatan pendahuluan, inti, maupun penutup, dan (3) Evaluasi pembelajaran seni kriya dari bahan stik es krim bagi peserta didik kelas XI IIS III telah dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun, baik pada penilaian sikap maupun keterampilan.



2020 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Irawan Sukma

AbstrakArtikel ini berkeinginan untuk memahami aspek-aspek yang melatar belakangi bagaimana suatu kesenian tradisi yaitu Kesenian Senjang yang berasal dari Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan dikadikan sebagai sarana Propaganda sehingga mengalami pergeseran fungsi. Oleh karena itu artikel ini berusaha menjelaskan pergeseran fungsi yang dimaksud yang awalnya Kesenian Senjang digunakan sebagai sarana hiburan menjadi sarana propaganda untuk menyampaikan misi tertentu dari pengguna jasa Kesenian Senjang. Selain itu menjelaskan Kesenian Senjang dalam konteks sosial-budaya masyarakat Musi Banyuasin, mendeskripsikan bentuk Kesenian Senjang, pemaknaannya sampai pada fungsinya.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tekhnik analisis interpretasi dan pendekatan kebudayaan, dan oleh karena itu menggunakan data kualitatif di mana peneliti sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data. Sumber data yang menjadi sasaran penelitian adalah visual penyajian Senjang dan rekaman audio visual Senjang di Sekayu ibukota kabupaten Muba. Selain itu metode etnografi juga digunakan dengan pendekatan emik dan etik guna menemukan permasalahan yang sebenarnya terjadi.Senjang Musi Banyuasin adalah subjek utama dari penelitian ini, dengan menggunakan metode kualitatif interpretatif dalam pengolahan data, menganalisis keberlangsungan Senjang dari masa ke masa yang mengalami perubahan baik bentuk maupun fungsinya. Senjang yang pada awal keberadaannya memiliki bentuk yang sederhana tanpa instrumen musik, terus bergerak dan berkembang mengikuti arus zaman sampai pada era saat ini. Tampilan Senjang sudah lebih pada komersial tergantung keinginan pengguna jasa. Fungsi Senjang dimanfaatkan sebagai media propaganda bagi penguasa. Senjang masih eksis dan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat kabupaten Musi Banyuasin.



2020 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 16
Author(s):  
Zul Id`han

Penelitian berjudul “ Analisis karakter Pangeran Badar dalam pertunjukan Teater Bangsawan Palembang” ini berusaha untuk menterjemahkan Karakter tokoh pada lakon teater Bangsawan dengan pendekatan teori psikologi dan teori penokohan. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka peneliti membuat beberapa pertanyaan dalam rumusan masalah yang berkaitan dengan: 1. Bagaimana sikap, perilaku, dan nada bicara Pangeran Badar kepada tokoh yang lain, 2.Seperti apakah pola pikir Pangeran Badar terhadap tokoh yang lain. dan 3.Seperti apakah peran Pangeran badar pada sudut pandang Penokohan. Adapun metode yang di gunakan dalam pengumpulan data adalah diskriftif analisis. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Lakon Dua Korban di Gunung Meru merupakan karya Johar Saad, dan karakter tokoh dari Pangeran Badar menjadi sosok terpenting dalam lakon tersebut, karena pada sebuah penampilan teater akan muncul sebuah konflik yang di bangun oleh tokoh-tokoh. Hasil penelitian ini memberikan sebuah analisis pengambaran kehidupan cerita yang dibangun pada konsep teater bangsawan yang dapat dipetik pembelajaran di dalamnya, Bagian terpenting adalah mengacu terhadap tokoh yang menjadi sasaran jalan cerita, tabiat atau karakter yang muncul dari Pangeran Badar merupakan cerminan karakter antagonis seorang penguasa yang arogan hingga akhir hayatnya.



2020 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 26
Author(s):  
Sartika Sartika

Naskah Tari ini merupakan uraian tentang karya tari dengan judul MAPPERE’. Yang di dalamnya menguraikan beberapa permasalahan, yakni 1) Bagaimana proses eksplorasi gerak pada penggarapan karya tari Mappere di Kab. Bone. 2) Bagaimana komposisi tari dalam karya tari Mappere’ di Kab. Bone. Metode yang digunakan dalam garapan karya tari ini yaitu, tahap eksplorasi dan komposisi tari dimana suatu proses penjajagan terhadap konsep yakni munculnya suatu ide-ide gerak yang muncul dari tahap penjajagan konsep (eksplorasi), serta komposisi tari di mana tahap ini dijadikan sebagai struktur atau alur menjadi suatu pola gerakan, sehingga muncul gerak secara spontanitas yang kemudian membuat gerak-gerak dalam karya Mappere’. Hasil karya ini yaitu 1) Proses eksplorasi yang dilakukan pada penggarapan karya tari “Mappere”yang bersumber dari pesta rakyat masyarakat Bugis Bone tepatnya Desa Mattoanging yaitu Mappere’ yang merupakan salah satu pesta rakyat sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas keberhasilan panen yang mereka proses sehingga melakukan tradisi Mappere’ maka dari itu dalam karya ini yang disampaikan penata yakni pentingnya melestarikan dan menjaga budaya, sehingga terciptalah karya tari Mappere’. 2) Komposisi tari dalam karya tari Mappere’ yaitu. a) Gerak tari dalam karya ini yaitu gerak tradisi Bugis yang dikembangkan dalam gerak kreasi. b) Penari dalam karya ini jumlah penari yang digunakan yaitu 8, 3 penari laki-laki dan 5 penari perempuan. c) Musik dalam karya ini menggunakan musik langsung atau live. d) Tata rias yang digunakan pada penari perempuan yaitu rias cantik, sedangka penari laki-laki menggunakan tata rias yang lebih mempertajam dibawah mata. e) Tata busana dalam karya ini penari perempuan memakai kostum yang menyerupai baju bodo mempunyai dalaman warna kuning,luaran warna kuning,ikat pinggang dan memakai celana aladin, sedangkan penari laki-laki memakai kostum baju lengan pendek,ikat pinggang dan celana aladin setengah lutu. f) Properti pada karya ini menggunakan properti lilin, dupa, penapis (pattapi) dan ayunan. g) Tata cahaya pada karya ini menggunakan beberapa pencahayaan, seperti merah, hijau, putih dan kuning.



2020 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 41
Author(s):  
Nelan Fenty Mardian M ◽  
Syakhruni Syakhruni ◽  
Bau Salawati Bau Salawati

Peneliti ini bertujuan memperoleh data yang jelas dan akurat mengenai: Struktur Gerak Tari Pakarena Bura’ne Canggolong-Golong Di Kelurahan Anrong Appaka (Pacce’lang) Kecamatan Pangkaje’ne Kabupaten Pangkep yang dianalisis atau diuraikan dari latar belakang tari Pakarena Bura’ne dan tataran-tataran geraknya hingga tersusun suatu bentuk tari secara utuh dimulai dari Motif gerak, Frase gerak dan Kalimat gerak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data-data dalam penelitian ini yaitu studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian Struktur Gerak Tari Pakarena Bura’ne Canggolong-Golong Di Kelurahan Anrong Appaka (Pacce’lang) Kecamatan Pangkaje’ne Kabupaten Pangkep terdapat dua ragam gerak yang terdiri dari 3 motif gerak, 3 frase gerak diantaranya 1 frase angkatan dan 2 frase seleh, dan terdapat 2 kalimat gerak.



2020 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 35
Author(s):  
NUR JANNAH MUSTAKIM ◽  
Hasnawati Hasnawati ◽  
Yabu Mallabasa

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data yang akurat mengenai kemampuan Mahasiswa Angkatan 2017  Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Univesitas Negeri Makassar dalam  Mendesain Motif Batik. Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluatif pada taraf deskriptif kuantitatif yang menjelaskan mengenai kemampuan mahasiswa dalam mendesain motif batik. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan mahasiswa pendidikan seni rupa dalam mendesain motif batik. Sumber data diperoleh dari Dosen dan Mahasiswa. Populasi pada penelitian ini sebanyak 2 kelas sebanyak 69 orang mahasiswa. Seluruh populasi dijadikan sampel dalam penelitian ini, sehingga teknik pengambilan sampel adalah sampel total. Teknik pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini yaitu, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa angkatan 2017 Program  Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Univesitas Negeri Makassar dalam  Mendesain Motif  Batik termasuk dalam kategori cukup.



2020 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 27
Author(s):  
Setiorini Rahma Safitri

ABSTRAKAnak Usia Sekolah Dasar (usia 6-13 tahun) memerlukan sebuah metode yang tepat dalam pembelajaran khususnya di bidang music (vocal).  Pada usia tersebut, kondisi psikologis dan kognitif yang baik perlu diciptakan guna mencapai proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. Objek penelitian ini adalah pembelajaran vocal di Purwa Caraka Musik Studio (PCMS) Semarang. Adapun metode yang digunakan adalah qualitative research dengan tahapan: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini bahwa pembelajaran vocal di PCMS sangat relevan dengan metode Reception Learning. Pembelajaran tersebut dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu: 1). advanced organizer, yang berupa kegiatan pengkondisian psikologis dan kognitif siswa; 2). Pemberian tugas belajar yang bertujuan untuk pendalaman teknik vocal; dan 3). Evaluasi tahapan sebelumnya dengan maksud mengetahui capaian hasil belajar siswa.



2020 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 14
Author(s):  
Radawanti Radawanti ◽  
Rahma M ◽  
Andi Padalia

ABSTRAK Penelitian ini menjawab masalah yang terjadi selama proses Revitalisasi Pattu'du 'Kumba yang dilakukan oleh Sanggar Seni Uwake' yaitu: (1) Bagaimana Proses Revitalisasi Pattu'du 'Kumba oleh Sanggar Seni Uwake' di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar, (2) faktor apa yang mempengaruhi Revitalisasi Pattu'du 'Kumba oleh Sanggar Seni Uwake' di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Teknik mengumpulkan data yang dibeli adalah: (1) Studi Pustaka yang diperoleh adalah dokumen-dokumen, dan buku-buku. (2) Pengamatan dilakukan dengan cara melihat langsung dan kondisi Sanggar Seni Uwake 'yang merevitalisasi Tari Pattu'du' Kumba.(3) Wawancara dilakukan dengan beberapa narasumber yaitu Bapak Ahmad Asdy, Bapak H Alimuddin, Bapak M Rahmat Muchtar, Bapak Muhammad Ridwan Alimuddin, Ibu Siti Adila, dan Bapak Muh Naim Sail. (4) Dokumentasi yang diperoleh terdiri dari foto-foto, video serta rekaman hasil wawancara dengan beberapa Narasumber. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Kualitatif sesuai dengan permasalah yang ada. Objek penelitian adalah Tari Pattu'du 'Kumba. Hasil dari penelitian ini yaitu: (1) Proses Revitalisasi Pattu'du 'Kumba oleh Sanggar Seni Uwake' di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar dilakukan dengan cara mengajak anak-anak anggota sanggar untuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kesenian tradisional,Selain itu, proses revitalisasi juga dilakukan dengan menerapkan kembali Tari Pattu'du 'Kumba terhadap anggota Sanggar, kemudian setelah mereka membahas hal-hal tentang Tari Pattu'du' Kumba mereka membuatkan jadwal untuk latihan minimal sekali atau dua kali latihan agar pada saat dipentaskan penari tidak kaku dalam bergerak. Anggota Sanggar yang direkrut adalah siswa-siswi pelajar SMP dan SMA. Wujud gerak yang mengubah perubahan adalah pada Ragam Mioro 'Mi'undur (2) Revitalisasi Pattu'du'Kumba didukung oleh dua faktor yaitu faktor pendukung dan penghambat, hal tentang faktor pendukungnya adalah dukungan SDM, dukungan dari Tokoh Budayawan serta masyarakat donor, pendukung dari pemerintah terdiri dari sarana untuk menyajikan serta menyediakan alat musik untuk Sanggar Seni Uwake '.Faktor penghambat selama proses Revitalisasi adalah kurang memakan waktu oleh para anggota jadi pada saat latihan. Tidak ada beberapa penari atau pemusik yang berhalangan hadir, tidak ada baju dan perhiasan. luar. hal tentang faktor pendukungnya adalah persetujuan SDM, dukungan dari Tokoh Faktor penghambat selama proses Revitalisasi tidak memerlukan waktu oleh para anggota sehingga pada saat latihan Tidak ada penari atau pemusik yang hadir, tidak ada baju dan perhiasan Pattu'du 'Kumba yang ditanyakan oleh Sanggar harus pada saat akan dipentaskan jika perlu kostum dari luar.hal tentang faktor pendukungnya adalah dukungan SDM, dukungan dari Tokoh, Budayawan, dan masyarakat lokal, dukungan dari pemerintah, penyediaan fasilitas untuk memulai, serta penyediaan alat musik untuk Sanggar Seni Uwake '. Faktor penghambat selama proses Revitalisasi adalah kurang memakan waktu oleh para anggota jadi pada saat latihan Tidak ada beberapa penari atau pemusik yang berhalangan hadir, tidak ada baju dan perhiasan Pattu'du 'Kumba yang diminta oleh Sanggar sehingga pada saat akan dipentaskan sesuai kebutuhan pembeli luar.



2020 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Agussalim Djirong ◽  
Sukarman B

Penelitian ini berjudul ”Keefektifan Tata Ruang Kuliah dan Ruang Laboratorium/Studio Program Studi Pendidikan Seni Rupa pada Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar Ditinjau dari Aspek Desainnya”. Penelitian ini dilatari oleh pemikiran bahwa beberapa ruang pada kampus Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar, telah mengalami perubahan tataan yang diduga tanpa didahului dengan kajian yang mendalam terhadap berbagai aspek yang mempengaruhi kenyamanan penggunaan ruang tersebut serta dengan pengerjaan yang tidak maksimal karena berbagai keterbatasan. Akibatnya, tata ruang yang dilakukan juga sangat mungkin kurang efektif dalam upaya memenuhi kebutuhan kenyamanan penggunaan ruang tersebut. Alasan ini mendasari sehingga dipandang perlu penelitian yang dapat mengungkap secara ilmiah keadaan yang sesungguhnya. Masalah penelitian yang akan menjadi fokus penelitian ini, yakni “bagaimanakah keefektifan tata ruang kuliah dan ruang laboratorium/studio Program Studi Pendidikan Seni Rupa pada kampus Fakultas Seni dan Desain Universitas ditinjau dari aspek desainnya”. Tujuannya adalah mengetahui secara akurat serta menjelaskan keefektifan tata ruang dalam kampus Fakultas Seni dan Desain UNM ditinjau dari aspek desainnya. Tujuan berikutnya apabila tata ruang tersebut ternyata kurang efektif adalah mengetahui dan mengungkapkan unsur-unsur dari tata ruang tersebut yang dipandang kurang mendukung. Manfaatnya antara lain adalah memberikan informasi mengenai keefektifan tata ruang dalam (interior) yang dilakukan pada kampus FSD-UNM selama ini, sekaligus menjadi masukan kepada pihak berwenang dalam melakukan penataan ruang di masa datang. Metode yang ditempuh untuk memperoleh data yang dibutuhkan adalah survei dan dokumentasi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif berasarkan teori-teori desain (interior) yang lazim digunakan. Kesimpulan, beberapa unsur pendukung suasana ruang tidak secara efektif mendukung terwujudnya kenyamanan penggunaan dan pencitraan dan estetika ruang. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan melakukan redesain atau penataan ulang terhadap ruangan tersebut untuk meningkatkan efektivitasnya.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document