Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

26
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Balai Arkeologi Jawa Barat

9786025249679

Author(s):  
Yayat Hendayana ◽  

Babasan (perumpamaan) dan paribasa (peribahasa) yang terdapat dalam bahasa Sunda, merupakan warisan budaya takbenda yang masih tetap hidup dan digunakan oleh masyarakat Sunda hingga saat ini. Bahasa Sunda termasuk rumpun bahasa-bahasa Austronesia, yang mempunyai hubungan erat dengan rumpun bahasa Austro-Asia. Keduanya disebut sebagai rumpun bahasa Austris. Bahasa Sunda merupakan anggota dari keluarga bahasa yang besar dan penting sekali di dunia. Bahasa Sunda mengenal tiga tahapan perkembangan, yaitu bahasa Sunda Buhun (kuno), bahasa Sunda Klasik (peralihan) dan bahasa Sunda Kiwari (Masa Kini), yaitu bahasa Sunda yang mulai digunakan sejak tahun 1900-an, ketika kolonialisme Belanda mulai melancarkan politik balas budi (politik etis). Sejak saat itulah awal mula berkembangnya perumpamaan dan pribahasa dalam bahasa Sunda, yang masih tetap digunakan di zaman kini. Babasan dan paribasa tersebut merupakan teks yang diciptakan oleh para leluhur (Sunda) ketika itu, yang sudah tentu disesuaikan dengan kebutuhan zamannya, dengan konteksnya. Zaman sudah berubah. Konteks pun berubah pula. Babasan dan paribasa produk para leluhur Sunda itu tentu saja tidak semuanya cocok untuk digunakan pada masa sekarang, yang sudah jauh berubah dari masa lalu. Pikiran bahwa semua produk masa lalu bersifat adiluhung (berkualitas sangat tinggi) tidak sepenuhnya benar.. Terhadap babasan dan paribasa yang merupakan produk masa lalu itu harus dilakukan langkah-langkah penyesuaian bertahap agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari zaman kini. Langkah-langkah bertahap itu ialah: (1) reseleksi, (2) redeskripsi, (3) reorientasi, dan (4) reimplementasi.



Author(s):  
Wahyu Iryana ◽  

Masyarakat Indramayu dikenal memiliki budaya yang khas, dan unik. Identitas budaya Indramayu dianggap sebagai deskripsi dari generalisasi jatidiri individual maupun komunal etnik Indramayu dalam berperilaku dan berkehidupan. Kehidupan mereka di tempat asal maupun di perantauan kerapkali terbawa budaya asal daerah. Konteks Tradisi Kidung Rahayu karya Sunan Kalijaga misalnya oleh masyarakat Cikedunglor selain sebagai upaya pelestarian budaya juga diaplikasikan sebagai upaya mengusir gangguan dari roh-roh jahat diwujudkan dengan penggunaan berbagai kidung selamat. Data yang digunakan adalah kidung Rahayu berbentuk teks dan lisan yang masih dan pernah digunakan. Metode penelitian diawali dengan heuristik, kritik sumber, intepretasi dan Historiografi. Hasil dari penelitian adalah Pertama, struktur teks yang terdiri atas analisis formula sintaksis, ragam diksi dan gaya bahasa serta tema atau isotopi. Kedua, referensi leksikon dalam kidung Rahayu Ketiga, cermin konsep hidup rahayu orang Cikedunglor Kabupaten Indramayu dideskripsikan oleh kalimat-kalimat dan penggunaan leksikon dalam kidung Rahayu. Ada beberapa kalimat yang mencerminkan konsep hidup rahayu orang Indramayu di Cikedunglor kemunculan leksikon wardaya (sanubarinya), rinaksa (dijaga), sarira hayu (selamat), kinarya (digunakan), pinayunga (dipayungi), ingideran (dikelilingi) lebih dominan dibandingkan leksikon lainnya.



Author(s):  
Zukhrufa Ken Satya Dien ◽  

Indonesia merupakan salah satu bagian dari peradaban Austronesia. Sebelumnya peradaban Austronesia berasal dari Taiwan yang mana teori mengenai ini banyak diikuti oleh peneliti yang mendukung adanya peradaban budaya Austronesia. Populernya teori tersebut tidak lepas dari dukungan data linguistik, antropologi, DNA, pertanggalan dan data dari arkeologis. Interaksi antar budaya yang kolonisasi Austronesia di Kepulauan Indonesia dapat dirangkum dalam kebudayaan masa neolitik datang di Kepulauan Indonesia, budaya tersebut di bawa oleh masyarakat penutur bahasa Austronesia. Akibat dari peristiwa tersebut, terjadi perkembangan budaya Neolitik di Kepulauan Indonesia, terjadinya evolusi dan interaksi antara masyarakat pendatang Austronesia dengan komunitas Non Austronesia yang telah menghuni kawasan ini sejak masa sebelumnya. Ketika masyarakat Austronesia datang di kawasan Non Austronesia, komunitas Non Austronesia juga telah memiliki pengetahuan yang kurang lebih sama dengan bangsa Austronesia bahkan lebih bersifat adaptif dalam beberapa penguasaan teknologi seperti alat kerang dan alat tulang, teknologi pelayaran, teknologi dalam pembudidayaan tanaman umbi-umbian.



Author(s):  
Gunadi Kasnowihardjo ◽  
Keyword(s):  

Terinspirasi oleh teori “Out of Taiwan” atau “Express Train Hypothesis”, bahwa imigran penutur bahasa Austronesia mencapai Pulau Jawa kira-kira 500 BC. Melacak jejak budaya Austronesia di kawasan pantai utara Pulau Madura ini adalah penelitian lanjutan dari tema penelitian “Melacak Jejak – Jejak Budaya Austronesia di Kawasan Pantai Utara Jawa”. Dalam pelacakan jejak budaya Austronesia digunakan tiga kajian yaitu Geomorfologi, Arkeologi, dan Etnografi yang dilakukan dengan kegiatan lapangan yaitu survey dan ekskavasi. Sedangkan kegiatan pasca lapangan antara lain analisis laboratorium yang hasilnya sebagai data pendukung dalam interpretasi.



Author(s):  
Lia Nuralia ◽  

Perkebunan peninggalan zaman Hindia Belanda banyak ditemui di wilayah Jawa Barat. Kawasan perkebunan memiliki jejak budaya akibat kolonisasi orang-orang Barat di Hindia Belanda. Kolonisasi sekelompok manusia ke wilayah baru yang sudah berpenghuni, mengakibatkan interaksi budaya. Budaya lokal mengalami perkembangan dengan sentuhan budaya pendatang. Sebelum kedatangan bangsa Barat telah terjadi intrusi budaya di kepulauan Nusantara yang dibawa oleh masyarakat penutur bahasa Austronesia. Ada tiga jenis intrusi budaya, yaitu budidaya tanaman, tata kelola air, dan pola pemukiman menetap. Dalam tulisan ini hanya dua jenis intrusi budaya yang dibahas, yaitu budaya tanaman dan tata kelola air. Kedua instrusi budaya tersebut telah mengalami pembaruan dengan masuknya unsur budaya modern Barat, yang dibawa para koloni Eropa. Pembaruan budaya dari budaya tradisional (Austronesia) dan budaya Modern (Barat) menghasilkan budaya baru dengan pola baru hasil adaptasi, evolusi, dan interaksi budaya.



Author(s):  
Lutfi Yondri ◽  

Proses awal penghunian rumpun Austronesia di wilayah Jawa bagian barat atau khususnya Jawa Barat sampai sekarang masih menjadi misteri. Sebagian ahli berpendapat hal itu sulit ditemukan disebabkan karena situs-situs neolitik awal di pantai utara Jawa Barat telah terkubur oleh di bawah endapan aluvial. Gagasan untuk pencarian lokasi awal pendaratan Masyarakat Austronesia di pantai Utara Jawa sudah dikembangkan sejak beberapa tahun belakangan, termasuk yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada November 2015 di daerah Cilamaya (Karawang). Lokasi lain yang patut diduga sebagai bagian dari kawasan hunian awal dari pendaratan Austronesia di masa lalu adalah situs Subanglarang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Lokasi tersebut berada di kawasan aliran sungai yang cukup ideal sebagai lokasi hunian pada masa lalu dan berada di ketinggian garis pantai yang termasuk dalam penafsiran para ahli sebagai lokasi hunian masyarakat berbudaya Austronesia pada masa lalu. Untuk menjajaki tinggalan tersebut dilakukan survey dan ekskavasi. Dari hasil dua kegiatan tersebut memberikan beberapa bukti arkeologi berupa sisa rangka manusia dengan temuan serta berupa gigi babi, tembikar selip merah, beliung persegi, dan manik-manik dari berbagai bahan, bentuk, ukuran dan bahan yng terkait erat dengan keberadaan budaya Austronesia pada masa lalu di lokasi tersebut.



Author(s):  
Ratna Nurlaila ◽  

Era revolusi industri 4.0 yang diawali di Jerman ditandai dengan perubahan teknologi otomatisasi yang sangat efektif terlebih dengan terkoneksinya internet di setiap perangkat komunikasi ataupun perangkat elektronik lain sebagai contohnya teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligent) yang diterapkan pada rumah pintar (smart house). Di era yang penuh dengan disrupsi dan dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informasi menjadikan setiap orang bisa saling terkoneksi secara lebih luas melewati batas-batas negara. Saat berkomunikasi dengan orang lain dari bangsa dan budaya yang berbeda baik termediasi dengan perangkat komunikasi maupun komunikasi secara langsung, tentunya pertemuan budaya pun akan terjadi. Oleh karena literasi mengenai komunikasi antar budaya menjadi hal yang sangat penting saat ini agar setiap orang dapat saling menghargai budaya satu dan lainnya. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur secara sistematis (systematic literature review / SLR) guna menemukan urgensi mengenai kompetensi komunikasi antar budaya dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 yang memungkinkan percampuran dan pertukaran SDM antar bangsa dan negara baik berkomunikasi termediasi maupun komunikasi secara langsung, Kajian ini mendapatkan bahwa dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 diperlukan pembinaan SDM dalam hal literasi kompetensi komunikasi antar budaya dan literasi komunikasi antar budaya termediasi teknologi.



Author(s):  
Nanang Saptono ◽  
◽  
Rusyanti Rusyanti ◽  
Endang Widyastuti

Teknologi logam dikenal masyarakat mulai pada akhir masa bercocok tanam. Masa awal dikenalnya teknologi logam sering juga disebut masa paleometalik. Pada masyarakat Austronesia, teknologi logam sering kali dikaitkan pula dengan budaya Dongson. Kebudayaan ini berkembang dari Vietnam pada sekitar 1000 SM atau awal Masehi. Dari Vietnam menyebar ke seluruh Asia Tenggara termasuk nusantara. Beberapa benda hasil budaya Dongson yang ditemukan adalah berupa benda-benda perunggu seperti misalnya nekara, bejana perunggu, dan kapak perunggu. Pada masa-masa yang lebih muda yaitu pada masa Hindu-Buddha (Masa Klasik) di Lampung banyak juga ditemukan benda-benda logam. Pada benda-benda perunggu yang berasal dari masa paleometalik seperti nekara dan bejana perunggu mungkin merupakan benda impor. Berdasarkan benda-benda tersebut terlihat ada pewarisan budaya khususnya teknologi pengolahan logam (perunggu) dari masa paleometalik hingga masa Islam-Kolonial. Kajian ini berusaha untuk mengungkap adanya pewarisan budaya tersebut. Pengungkapan adanya pewarisan budaya akan diulas berdasarkan temuan-temuan hasil penelitian di kawasan Gunung Rajabasa. Berdasarkan ulasan tersebut akan diketahui adanya pewarisan budaya dimaksud



Author(s):  
Mohamad Maulana Magiman ◽  
◽  
Norhuda Salleh ◽  
Ahmad Nasir Mohd Yusoff

Komunikasi ritual dalam sesebuah masyarakat sudah tidak asing lagi terutamanya yang berkaitan dengan upacara ritual. Bagi masyarakat pengamal, ritual dijadikan sebagai sumber untuk menyampaikan hasrat yang dihajati melalui pelbagai bentuk persembahan. Persembahan ini lah yang dijadikan alat komunikasi yang berbentuk verbal dan non-verbal dengan memperlihatkan pelbagai bentuk-bentuk simbol. Simbol itu kemudiannya diungkap melalui bentuk-bentuk komunikasi ritual yang hanya difahami oleh masyarakat pengamalnya. Makalah ini membincangkan peranan simbol keagamaan yang terdapat dalam komunikasi ritual masyarakat Kadayan di Sarawak. Data kajian diperoleh melalui keadah etnografi di lapangan yaitu di daerah Sibuti, Sarawak. Data kajian kemudiannya dianalisis menggunakan Teori Ritual Turner yang melihat simbol dalam ritual digunakan untuk tujuan kebersamaan. Hasil kajian mendapati komunikasi ritual yang dilaksanakan dalam sesebuah masyarakat mengandungi tiga peranan utama yaitu pemikiran, diri dan masyarakat. Ianya penting kerana tanpa pemahaman yang jelas ia akan mewujudkan krisis kehidupan dalam sesebuah masyarakat.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document