Jurnal Teknologi Berkelanjutan
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

28
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Center For Journal Management And Publication, Lambung Mangkurat University

2620-9276, 2302-8394

2019 ◽  
Vol 8 (02) ◽  
pp. 49-52
Author(s):  
Muhammad Muhammad

Jenis konstruksi pembangunan ruko di kota Banjarmasin ada bermacam-macam. Ada yang menggunakan pondasi terpusat pada kolom dan ada pula pondasi menerus pada sloof. Konstruksi lantai ada yang menggunakan sistem panggung dan ada pula yang menggunakan sistem urug, sehingga biaya per meter persegi biaya pembuatan ruko juga bervariasi. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui/menemukan variasi biaya konstruksi per-m2 berdasarkan jenis konstruksi pondasi dan lantai dan bagaimanakah biaya konstruksi per-m2 yang paling minimum dalam pembangunan ruko di kota Banjarmasin jika dikaitkan dengan jenis-jenis konstruksi pondasi dan lantai. Penelitian ini berusaha menggali dan memanfaatkan data yang diperoleh dari pembangunan ruko yang dibangun di sekitar wilayah kota Banjarmasin, baik yang sudah selesai maupun dalam yang masih dalam tahap pelaksanaan konstruksi. Studi ini meliputi perhitungan analisa biaya pembangunan ruko pada 4 jenis konstruksi yang dikombinasikan, yaitu 2 jenis konstruksi pondasi dan 2 jenis kontruksi lantai, sehingga dapat diketahui biaya minimum dari kombinasi kedua jenis konstruksi pembangunan ruko di kota Banjarmasin.



2019 ◽  
Vol 8 (02) ◽  
pp. 10-18
Author(s):  
Edwin Hasymi

Ruang terbuka merupakan ruang yang direncanakan sebagai tempat untuk berbagai aktivitas sosial. Ruang terbuka hijau yang dibuat pada bantaran siring Jl. Piere Tendean merupakan taman kota yang menjadi lahan bebas bangunan. Akan tetapi, bangunan yang memiliki empat lantai yang disebut dengan Menara Pandang sudah dibangun di area ini di mana seharusnya tidak ada bangunan sama sekali. Bangunan Menara Pandang ini berada pada kawasan Taman Wisata Kota Piere Tendean Kota Banjarmasin. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji sejauh mana kelayakan keberadaan Menara Pandang tersebut. Penelitian ini berdasarkan dari peraturan utama sebuah fasilitas atau aset bangunan yang bisa dibangun sebagai pengecualian di mana ditempat tersebut seharusnya tidak ada bangunan sama sekali. Analisis dari aspek legal telah dilakukan berdasarkan peraturan. Dan untuk aspek ekonomi, analisis dilakukan dengan analisis nilai manfaat (BCR) dan analisis tingkat pengembalian (ROR). Hasil penelitian memberikan bahwa Menara Pandang yang berdiri pada lokasi tersebut bertentangan dengan beberapa peraturan. Namun, analisis aspek ekonomi menunjukan bahwa bangunan ini menguntungkan dan bermanfaat. Disarankan penelitian selanjutnya untuk mempertimbangkan dampak bukan hanya dari pengguna, tetapi juga pengelola dan seluruh masyarakat di sekitar fasilitas ini.



2019 ◽  
Vol 8 (02) ◽  
pp. 1-9
Author(s):  
Micky Prasetia

Isu sentral dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah peningkatkan kualitas pendidikan dasar. Salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas pendidikan dasar adalah kualitas infrastrukturnya yaitu bangunan gedung SDN/MIN. Bangunan SDN/MIN di Kabupaten Pulang Pisau sebagian besar adalah bangunan lama yang rata-rata kondisinya memprihatinkan. Untuk mengembalikan fungsi bangunan yang telah rusak dan menurun maka Dinas Pendidikan Pulang Pisau melakukan rehabilitasi fisik terhadap bangunan-bangunan yang dianggap perlu diperbaiki. Dalam kenyataannya seringkali keputusan rehabilitasi bangunan SDN/MIN ini tidak tepat sesuai kebutuhan. Ketidaksesuaian keputusan Pemerintah Daerah dengan kebutuhan yang ada memerlukan solusi berupa sebuah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) rehabilitasi bangunan SDN/MIN sebagai bahan acuan dalam pengambilan keputusan. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel satu sekolah untuk satu kecamatan. Data primer didapat dari penyebaran kuisioner secara purposive sampling dan data sekunder didapat dari Badan Pusat Statistik. Pembuatan SPK diawali dengan pengumpulan data kerusakan sekolah. Data kerusakan bangunan dimasukan ke dalam sebuah basis data. Basis data dibuat dengan aplikasi komputer. Data-data kerusakan ditentukan bobotnya. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan sebagai cara yang ilmiah untuk menentukan urutan keputusan prioritas rehabilitasi bangunan SDN/MIN. SPK dibuat berbasiskan aplikasi komputer, sehingga cepat dan mudah digunakan dalam menentukan keputusan. SPK berbasiskan komputer telah divalidasi dan dibandingkan dengan perhitungan manual dan kesimpulannya tidak ada perbedaan. Sistem aplikasi SPK yang dibuat telah diverifikasi dan terbukti mudah dioperasikan.



2019 ◽  
Vol 8 (02) ◽  
pp. 29-36
Author(s):  
Raden Haryo Saputra

Pengelolaan daerah rawa tidak terlepas dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Erosi dan sedimentasi pada DAS mempengaruhi kualitas maupun kuantitas air sungai yang masuk ke daerah rawa. Salah satu indikator adanya erosi terlihat dari keruhnya air Sungai Kahayan sedangkan sampai saat ini belum diketahui berapa besar erosi dan potensi sedimentasi yang terjadi pada DAS Kahayan sehingga kajiannya sangat diperlukan bagi pengelolaan DAS Kahayan yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki besarnya erosi, menganalisis tingkat bahaya erosi (TBE) dan besarnya hasil sedimen yang terjadi pada DAS Kahayan. Analisis luasan lahan dan unit lahan berbasis Sistim Informasi Geografis. Perhitungan perkiraan besarnya erosi menggunakan metode Universal Soil Loss Equation (USLE), dan hasil sedimen menggunakan metode Soil Conservation Service-United States Department of Agriculture (SCS-USDA) dengan mempertimbangkan bobot luasan unit lahan terhadap luas totalnya.  Perkiraan besarnya erosi yang terjadi pada DAS Kahayan sebesar 13,19 ton/ha/tahun dengan TBE terdiri dari kategori sangat ringan 47,65%, ringan 50,99%; sedang 0,25%; berat 1,12% dan sangat berat 0%. Khusus areal dengan TBE kategori berat, skor total ketiga faktor karakter fisik DAS (kemiringan lereng, jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi, dan intensitas curah hujan) diperoleh sebesar 184 dengan arahan penggunaan lahan adalah kawasan lindung. Berdasarkan nilai Sediment Delivery Ratio (SDR), hasil sedimen pada DAS Kahayan adalah sebesar 169.115 ton/tahun dan menurut Peraturan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, hasil sedimen pada DAS Kahayan termasuk dalam kategori baik.



2019 ◽  
Vol 8 (02) ◽  
pp. 19-28
Author(s):  
Rina Aryani

Lahan parkir pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimatan Selatan telah mengalami over kapasitas. Hal ini berakibat pada sebagian besar kendaraan parkir pada badan jalan yang menyebabkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan bagi pengunjung fasilitas tersebut maupun lalu lintas pada jalan tersebut. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan tiga RSUD di kabupaten lainnya yang terdekat yaitu RSUD Kabupaten Hulu Sungai Tengah, RSUD Kabupaten Balangan dan RSUD Kabupaten Tabalong yang lahan parkirnya lebih luas dan kendaraan yang parkir lebih teratur akan membuat orang nyaman dan aman berkunjung ke rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variabel-variabel bebas yang ditinjau terhadap kebutuhan parkir roda dua dan parkir roda empat pada rumah sakit umum daerah serta mengetahui model kebutuhan parkir pada empat rumah sakit umum daerah. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari pihak rumah sakit dan data primer yang didapat dari survey langsung di lapangan. Dari hasil analisis didapatkan variabel bebas yang  dominan berpengaruh terhadap kebutuhan parkir roda dua adalah jumlah pengunjung poliklinik (x3), jumlah pasien rawat inap (x5) dan jumlah pasien poliklinik (x6) sedangkan terhadap kebutuhan parkir roda empat adalah jumlah pengunjung poliklinik (x3), jumlah pasien rawat inap (x5) dan jumlah pasien poliklinik (x6). Model tarikan kebutuhan parkir pada RSUD Amuntai adalah Y1 = 5,317 + 3,909x3 + 1,586x2 dan Y2 = 3,383 + 0,282x6, pada RSUD Balangan adalah Y1 = 35,329 + 1,079x3 dan Y2 = 5,683 + 0,351x3, pada RSUD Barabai adalah Y1 = 75,630 + 1,533x6 dan Y2 = 27,994 + 0,179x6 dan pada RSUD Tanjung adalah Y1 = 4,269 + 0,761x3 + 7,895x5 + 0,444x2 dan Y2 = -0,155 + 0,215x2 + 0,111x3 + 1,086x5.



2019 ◽  
Vol 8 (02) ◽  
pp. 38-41
Author(s):  
Ahmad Gama Feriko

Volume lalu lintas di Ruas Jalan Simpang Bereng Bengkel – Tumbang Nusa relatif cukup padat dengan beban yang relatif cukup berat. Seiring dengan waktu dimana terjadi penurunan nilai konstruksi perkerasan, sehingga mengakibatkan timbul kerusakan pada perkerasan jalan. Di ruas jalan tersebut, sudah diadakan pelebaran jalur lalu lintas, lapis tambah perkerasan (overlay).  Pada daerah perkerasan jalan yang rusak, sering diadakan perbaikan dengan cara tambal sulam (patching), tetapi tetap saja terjadi kerusakan perkerasan jalan di ruas tersebut. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian terhadap penghematan bahan dan bagaimana cara melakukan perbaikan sesuai dengan peraturan atau standar yang berlaku, dengan penambahan biaya pelaksanaan yang sesuai. Tujuan penelitian untuk menetapakan jenis kerusakan, mengevaluasi kerusakan jalan. Hasil evaluasi dan analisis nilai kondisi perkerasan dengan metode asphalt institute MS-17 (Pavement Condition Rating/PCR), penanggulangan kerusakan segmen/sta. 28+850 s/d 30+050 penanganan dengan lapis tambah (overlay), segmen/sta. 31+150 s/d 31+650 penanganan dengan lapis tambah (overlay), dan segmen/sta. 33+500 s/d 33+700 penanganan dengan pemeliharan rutin. Hasil analisisis dan evaluasi tebal perkerasan dengan metode PtT-01-2002-B, penanggulangan kerusakan segmen/sta. 28+850 s/d 30+050 penanganan dengan lapis tambah (overlay), segmen/sta. 31+150 s/d 31+650 penanganan dengan lapis tambah (overlay), dan segmen/sta. 33+500 s/d 33+700 penanganan dengan lapis tambah (overlay). Tebal perkerasan segmen/sta. 28+850 s/d 30+050 overlay dengan aspal beton tebal 23 cm, overlay dengan kombinasi aspal beton 7 cm dan LPA 46 cm. Segmen/sta. 31+150 s/d 31+650 overlay dengan aspal beton tebal 24 cm, overlay dengan kombinasi aspal beton 7 cm dan LPA 49 cm. Segmen/sta. 33+500 s/d 33+700 overlay dengan aspal beton tebal 28 cm, overlay dengan kombinasi aspal beton 7 cm dan LPA 61cm.



2019 ◽  
Vol 8 (01) ◽  
pp. 13-18
Author(s):  
Aunur Rafik

Pemerintah melalui Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat menyatakan bahwa rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Oleh sebab itu perlu diciptakan kondisi yang dapat mendorong pembangunan rumah yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, dapat dibangun secara bertahap (rumah tumbuh) dan mampu memenuhi kebutuhan penghuni. Kebutuhan penghuni dapat dikaji dari pengembangan rumah yang dilakukan penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep desain renovable pada rumah tipe 36 dengan menganalisis kebutuhan dasar penghuni rumah, luasan ruang dan pengembangannya serta komponen–komponen bangunan. Dalam penelitian ini data dikumpulkan dari populasi perumahan di Kota Banjarmasin. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster sampling dan proportional sampling. Pengambilan sampel responden di setiap perumahan dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling. Data dari 241 penghuni kemudian diuji dengan Uji Validitas dan Uji Reliabilitas kemudian dianalisis dengan metode deskriptif dan hasilnya dipergunakan sebagai dasar untuk penerapan konsep desain renovable. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebutuhan dasar penghuni yang tidak terpenuhi adalah ukuran luas ruang, luas perlengkapan rumah (aksesoris rumah), pola hubungan antara ruang, tingkat kesempurnaan ventilasi/angin-angin, bentuk dan tampilan (estetika) serta warna rumah. Ruang yang dominan dirombak adalah ruang keluarga, kamar mandi/wc dan ruang tamu. Ruang yang dominan ditambah adalah dapur dan ruang makan. Komponen bangunan yang dominan dikembangkan adalah dinding. Pola dasar pengembangan yang dijadikan dasar denah konsep renovable adalah pola tipe 3 (letak asal kamar mandi/wc berada didalam rumah bagian tengah antara dua kamar) karena memiliki efisiensi ruang, biaya dan waktu pelaksanaan.



2019 ◽  
Vol 8 (01) ◽  
pp. 7-12
Author(s):  
Ginanjar Priadikusumah

Bandar Udara Syamsudin Noor, yang fungsinya telah berubah menjadi Bandar Udara Pusat Penyebaran sejak tahun 2007, pasti akan mengalami pertambahan pergerakan pesawat, pergerakan penumpang dan barang. Sehingga untuk menyediakan prasarana dan sarana yang sesuai dengan kebutuhan tersebut, perlu diadakannya prediksi tentang kebutuhan yang akan terjadi.  Kebutuhan penumpang angkutan udara adalah fungsi dari peubah bebas, dimana pada umumnya kandidat peubah bebas tersebut adalah karakteristik pada kegiatan penduduk yang tercermin dalam bentuk penggunaan lahan dan karakteristik demografi dan sosio-ekonomi penduduk.  Dengan menggunakan dasar daerah pelayanan disekitar bandar udara serta menggunakan faktor demografi dan sosio-ekonomi di daerah pelayanan dibuat suatu model bangkitan perjalanan dari bandar udara Syamsudin Noor. Rumus pemodelan berdasarkan formulasi terbaik untuk keberangkatan penumpang adalah: Y = 28626,596+5,861.X1+215,232.X2  dengan nilai R2 = 0,890, variabel yang menentukan Wisatawan Mancanegara (X1) dan Tenaga Kerja Industri (X2). Formulasi untuk kedatangan penumpang: Y=29371,093+6,346.X1 +201,443.X2  dengan nilai R2 = 0,891, variabel yang menentukan Wisatawan Mancanegara (X1) dan Tenaga Kerja Industri (X2). Dari model transport demand yang diperoleh tersebut digunakan sebagai dasar prediksi jumlah penumpang udara domestik di Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin.  



2019 ◽  
Vol 8 (01) ◽  
pp. 1-6
Author(s):  
Rano Laurent

Mengingat tingginya biaya pemeliharaan perkerasan aspal maka diperlukan suatu alternatif lain selain perkerasan aspal yang mampu memberikan hasil yang optimal dan biaya ekonomis, dalam hal ini memakai perkerasan konstruksi interblok. Perkerasan konstruksi interblok memiliki beberapa kelebihan dari perkerasan aspal diantaranya dapat dikerjakan secara manual sehingga biaya konstruksi dan pemeliharaan jalan dapat ditekan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kajian perancangan tebal perkerasan aspal dan konstruksi interblok menggunakan metode AASHTO’93. Menghitung biaya konstruksi masing-masing perkerasan dan menyusun skenario biaya pemeliharaan serta melakukan analisa ekonomi selama umur rencana untuk menentukan jenis perkerasan yang ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ruas jalan penelitian dengan panjang 285 m dan lebar 20 m dengan nilai W18 adalah 12.714.787,73 SS didapat tebal perkerasan aspal yang digunakan adalah 10 cm untuk lapis permukaan, 15 cm untuk lapis pondasi dan tanpa menggunakan lapis pondasi bawah, sedangkan pada perkerasan konstruksi interblok, tebal yang digunakan adalah 10 cm untuk paving dan 5 cm untuk pasir alas (lapis permukaan), 15 cm untuk lapis pondasi dan tanpa menggunakan lapis pondasi bawah. Biaya konstruksi dan pemeliharaan selama 20 tahun untuk kedua jenis perkerasan adalah sebesar Rp. 691.580.145,00 untuk perkerasan aspal dan Rp. 567.160.545,00 untuk perkerasan konstruksi interblok, hal ini menunjukan bahwa perkerasan aspal lebih mahal 18% dibandingkan dengan perkerasan interblok sehingga perkerasan interblok lebih ekonomis digunakan untuk perkerasan jalan yang digunakan sebagai jalan lalu lintas petikemas.



2019 ◽  
Vol 8 (01) ◽  
pp. 36-40
Author(s):  
Mohammad Riza Dauly

Kota Martapura dan Kota Banjarbaru merupakan dua kutub pertumbuhan yang sedang mengalami perkembangan pesat di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Kedua kota ini juga merupakan bagian dari Kawasan Metropolitan Banjar Bakula. Perkembangan yang cepat, mengakibatkan sektor transportasi memiliki posisi yang penting dan strategis. Perkembangan ini menyebabkan turunnya tingkat pelayanan jalan. Turunnya tingkat pelayanan jaringan jalan antara lain diindikasikan dengan penurunan kecepatan operasi kendaraan, kemacetan di kawasan-kawasan tarikan perjalanan. Permasalahan tersebut menyebabkan banyak ruas jalan yang beroperasi dengan kapasitas jauh lebih rendah di bandingkan dengan kapasitas seharusnya, sehingga perlu mencari solusi yang optimal dalam pembangunan infrastruktur transportasi dengan menganalisis komponen ekonomi pembangunan infrastruktur jalan dan memperhatikan fungsi zona di sepanjang Koridor Jalan Jend. A. Yani Km.33 s/d.  Km 41. Penelitian dilakukan dengan menganalisis rencana tata ruang, kondisi eksisting kinerja lalulintas pada jaringan Jalan A. Yani Kota Martapura dan Kota Banjarbaru. Selanjutnya dilakukan analisis pembobotan (scoring) terhadap alternatif pembangunan infrastruktur transportasi yang dapat meningkatkan kinerja Jalan A. Yani. Tahap berikutnya dilakukan analisis ekonomi dengan memperhatikan komponen-komponen seperti Nilai Waktu, BOK, estimasi komponen biaya konstruksi, NPV dan BCR sehingga didapat solusi pembangunan infrastruktur transportasi yang optimal. Berdasarkan hasil penelitian, untuk meningkatkan kinerja jaringan jalan pada Jalan A. Yani terpilih sebuah solusi berupa pembangunan infrastruktur jalan tol ruas Banjarmasin (Sungai Lulut) - Martapura. Adapun hasil analisa ekonomi yang ditemukan masing-masing adalah NPV sebesar - Rp.3.406.043.000.000,00; BCR sebesar 0,001.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document