Jurnal Pedagogiana
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

73
(FIVE YEARS 62)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Lembaga Kajian Dan Pengembangan Profesi Pendidik Indonesia

2684-8929, 2089-7731

2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
MAKMUR MAKMUR

Keberhasilan pendidikan pada satuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh peran kepala sekolah sebagai peneliti dalam kepemimpinan pembelajaran terhadap para guru. Kepala sekolah pada satuan pendidikan memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan guru dalam pembelajaran yang di dalamnya ada sistem evaluasi pembelajaran. penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang berjudul “Meningkatan Mutu Pembelajaran Melalui Supervisi Akademik Di Smkn 1 Cikampek”. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka masalah yang muncul dapat diidentifikasi oleh penulis sebagai berikut : 1) Rendahnya minat belajar siswa, dibuktikan dengan hasil nilai ulangan harian kurang memenuhi KKM; 2) Hanya 15% siswa mempunyai minat belajar tinggi, dibuktikan dengan jumlah pengunjung perpustakaan rata-rata 70 s.d. 80 siswa/hari; 3) Hanya 35% siswa mempunyai minat belajar sedang, dibuktikan dengan jumlah siswa yang mengumpulkan tugas praktek/kokurikuler kurang dari setengah jumlah siswa per kelas; dan 4) Hanya 65% siswa mempunyai minat belajar rendah. Maka, penulis menetapkan beberapa rumusan masalah antara lain; 1) Apakah dengan supervisi akademik bagi guru dapat meningkatkan kinerjanya?; 2) Apakah dengan supervisi akademik dapat merubah minat kemauan melaksanakan pembelajaran yang baik sesuai dengan aturan dan langkah-langkah proses belajar mengajar?, 3) Apakah dengan supervisi ini dapat merubah budaya belajar di kelas menjadi membaik dengan pola belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan?. Suatu kegiatan mustahil dilakukan jika tanpa ada tujuan. Begitu pun dengan penelitian ini, dilakukan dengan tujuan : 1) Meningkatkan mutu pembelajaran siswa; 2) Meningkatkan minat belajar siswa 3) Meningkatkan kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Hasil presentasi keberhasilan pada siklus 1 yaitu rata-rata keberhasilan perencanaan 71,98%, Pelaksanaan 72,44%, penilaian 81,3%, dan tindak lanjut 59,76%, sedangkan pada siklus II rata-rata keberhasilan perencanaan 92,44%, Pelaksanaan 93,81%, penilaian 90,56%, dan tindak lanjut 83%.



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
MUTIA PURNAMAWATI

Berdasarkan hasil observasi penulis di kelas XII SMK Negeri 1 Cilamaya penulis mengetahui bahwa keterampilan membaca pada siswa masih cukup rendah, karena siswa hanya tertarik membaca ketika ditugaskan oleh gurunya. Siswa masih kesulitan memahami suatu teks, sehingga hanya membaca tanpa mendapatkan pemahaman. Beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh guru agar siswa tertarik untuk membaca, tetapi nampaknya guru belum menemukan metode yang tepat untuk membimbing siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah peningkatan keterampilan membaca intensif untuk penemuan fakta dan opini dengan penggunaan teknik OPQRST pada siswa kelas  XII TKR 2 SMK Negeri 1 Cilamaya?. selanjutnya tujuan dari penelitian adalah 1) Mendeskripsikan kemampuan membaca intensif siswa 2) Mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca intensif setelah menggunakan teknik OPQRST. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif dan kuantitaf sederhana dengan perhitungan persentase. Hasil dari analisis penelitian adalah sebagai berikut: terdapat peningkatan keterampilan membaca intensif untuk menemukan fakta dengan menggunakan teknik OPQRST, pada siswa kelas XII TKR 2 SMK 1 Cilamaya. Hal ini dapat dibuktikan dengan analisis data yang diperoleh dari siklus I dan siklus II yang sangat meningkat dibandingkan pretest. Nilai rata-rata yang diperoleh saat pretest adalah 64,30 atau 54,23%. Nilai yang didapat belum mencapai KKM, kemudian dilakukan tindakan pada siklus I dengan teknik OPQRST sehingga nilai rata-rata yang didapat lebih tinggi dari nilai rata-rata pretest yaitu 74,36 atau 63.65%. Nilai rata-rata pada siklus I belum mencapai KKM, tetapi pada siklus II nilai rata-rata siswa berhasil mencapai KKM dengan nilai rata-rata 82,5  atau 95,96%. Respon siswa terhadap pembelajaran membaca intensif untuk menemukan fakta dengan menggunakan teknik OPQRST sangat baik, terbukti dari hasil yang didapat siswa selama pretest, siklus I, dan siklus II selalu mengalami peningkatan. Dengan demikian, teknik OPQRST dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca intensif untuk menemukan fakta.



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
RUNAH SOLIHATI

Metode tanya jawab termasuk metode yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Bertanya memiliki peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Pertanyaan yang tersusun dengan baik dan tehnik pengajuan yang tepat akan meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan yang sedang dibicarakan, mengembangkan pola berpikir dan belajar aktif siswa dan memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang sedang dibahas. Menurut Drs. Soetomo metode Tanya jawab adalah suatu metode dimana guru menggunakan/memberikan pertanyaan kepada siswa dan siswa menjawab, atau sebaliknya siswa bertanya pada guru an dan guru menjawab peranyaan siswa. Pengumpulan data ini dilakukan dengan cara melakukan teknik tes dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh data hasil belajar materi membaca dan menulis lambang bilangan siswa setelah proses pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari pembelajaran setelah diterapkannya metode tanya jawab pada tes formatif siklus I, dan siklus II. Tingkat hasil belajar membaca dan menullis lambang bilangan pada siswa kelas II.A SDN Mekarsari 06 Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi,  sebelum diterapkannya metode tanya jawab masih sangat rendah belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan untuk mata pelajaran membaca dan menulis lambang bilangan yaitu ≥65. Hasil peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mateamtika dengan metode tanya jawab sudah mencapai indikator. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar materi membaca dan menulis labang bilangan yang mengalami peningkatan dari mulai pra tindakan ke siklus I, dari siklus I ke siklus II



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
ASEP MULYANA

Pada dasarnya kinerja guru ditujukan untuk mendukung kelancaran dan ketepatan pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan. Baik oleh guru maupun yang dilakukan oleh siswa, dalam pelaksanaannya belum tentu berjalan dengan baik, karena berbagai hambatan, baik yang disebabkan oleh faktor manusia maupun yang disebabkan oleh sistem atau sasarannya. Ketidaklancaran manajemen kinerja guru dan kemampuan siswa juga akan mempunyai pengaruh besar terhadap pelaksanaan tugas. Perumusan masalah : 1) Apakah terdapat pengaruh pengelolaan kelas terhadap kinerja guru di SMAN 3 Karawang, Kabupaten Karawang?, 2) Apakah terdapat pengaruh keterampilan mengajar terhadap kinerja guru di SMAN 3 Karawang, Kabupaten Karawang?, 3) Apakah terdapat pengaruh pengelolaan kelas dan keterampilan mengajar secara bersama-sama terhadap kinerja guru di SMAN 3 Karawang, Kabupaten Karawang?. Kesimpulan: 1) Koefisien korelasi antara pengelolaan kelas dengan kinerja guru adalah sebesar 0,805 menunjukkan hubungan yang sangat kuat karena lebih besar dari 0,5 artinya apabila terjadi perubahan pada pengelolaan kelas maka akan segera merubah kinerja guru. Sedangkan koefisien determinasinya (r2) adalah 64,8 % yang berarti kinerja guru ditentukan oleh pengelolaan kelas dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain sebesar 35,2%. 2) Koefisien korelasi antara keterampilan mengajar dengan kinerja guru adalah sebesar 0,796 menunjukkan hubungan yang kuat karena lebih besar dari 0,5, artinya apabila terjadi perubahan pada keterampilan mengajar maka akan segera merubah kinerja guru. Sedangkan koefisien determinasinya (r2) adalah 63,4% yang berarti kinerja guru ditentukan oleh keterampilan mengajar dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain sebesar 36,6%. 3) Koefisien korelasi berganda (R) = 0.841 yang berarti hubungan variabel pengelolaan kelas (X1) dan keterampilan mengajar (X2) dengan variabel terikat kinerja pegawai (Y) menunjukkan hubungan yang positif. Sedangkan besarnya koefisien determinasi atau R Square sebesar 0.708 yang merupakan pengkuadratan dari koefisien korelasi. Hal ini menunjukkan 70,8% variabel kinerja guru ditentukan oleh faktor variabel pengelolaan kelas dan keterampilan mengajar, sedangkan sisanya 29,1% ditentukan faktor-faktor lain, yang dalam penelitian ini tidak dapat diteliti



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
NOTO SUPRAPTO
Keyword(s):  

Masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa terhadap mata pelajaran matematika yang dikemas dalam bentuk soal cerita sangat rendah. Masalah tersebut dirumuskan sebagai berikut : (1) Faktor – faktor apa yang menjadi penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan pengerjaan soal Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar? (2) Bagaimana cara agar siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengerjakan soal Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar? (3) Apakah Metode Pemecahan Masalah ( Problem Solving ) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan pengerjaan soal Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar. Tujuan penelitian adalah untuk meningjkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika, khususnya pada pengerjaan soal yang dikemas dalam bentuk soal cerita, melalui identifikasi factor penyebab rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap soal Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar. Dengan demikian penulis dapat mengetahui tindakan yang paling efektif dalam pembelajaran dan penggunaan metode pembelajaran. Sebagai landasan teoritis dari masalah tersebut, dikemukakan hal – hal sebagai berikut: Konsep belajar, Desain pembelajaran, Metode Pembelajaran, Konsep Metode Pemecahan Masalah, Kelemaha dan Kelebihan Metode Problem Solving, Langkah-langkah Pembelajaran Problem Solving. Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan terbagi dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari Perencanaan, Pelaksanaan Tindakan, Observasi atau Pengamatan, dan Evaluasi. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi yang dilakukan penulis ketika proses pelaksanaan tindakan berjalan. Data yang diperoleh merupakan data kualitatif kemajuan proses belajar siswa dan pelaksanaan dari persiapan yang telah dibuat oleh guru. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari tes akhir setiap siklus berupa evaaluasi secara tertulis. HasiL akhir Penelitian Tindakan Kelas menunjukan kemajuan yang positif dan cukup signipikan antar siklus I dan siklus II. Perbedaan ditunjukan oleh data kualitatif hasil observasi proses belajar seperti aktivitas, kreativitas siswa dan guru, data kuantitatif dari penilaian akhir.



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
MOHAMAD KASIM

Pada tingkatan SMP secara umum menunjukan penguasaan materi yang masih tergolong rendah pada mata pelajaran Penjaskes. Hal tersebut dapat disebabkan oleh banyak factor antara lain,cara guru mengajar yang tidak dikaitakan dengan kehidupan nyata dan materi yang tidak secara langsung dikonstuk oleh siswa akan mengakibatkan siswa sulit untuk menguasai suatu materi serta kurangnya pemberian motivasi pada siswa yang dilakukan oleh guru. Untuk menanggulangi hal tersebut diatas, diperlukan suatu model pembelajaran yang lebih menarik dimana siswa akan termotivasi untuk belajar dan materi yang akan dikaitkan dengan kehidupan nyata sehingga siswa dapat mengkonstruk materi dengan kemampuannya sendiri. Hal tersebut dapat terwujud dalam suatu model pembelajaran berdasarkan masalah. Penelitian dilaksanakan berdasarkan pada beberapa pertanyaan penelitian yaitu : 1) Bagaimana aktifitas guru dalam pembelajaran dengan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah 2) Bagaimana aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah 3) Bagaimana pencapaian hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas IX.3 SMP Negeri 7 Tambun Selatan Kabupaten Bekasi pada materi pokok Penyusunan Gerak ritmik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan disain one-shot case studydesign.Penelitian dilakukan selama tiga pertemuan dengan menggunakan beberapa metode penelitian, yaitu; metode observasi digunakan untuk mengetahui aktifitas yang dilakukan guru dan siswa dan metode tes digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa. Dari hasil analisis data diperoleh bahwa: 1) Pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan aktifitas guru 2) Pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan aktifitas siswa 3) Pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa.



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
ENDANG SETYOWATI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan Motivasi Belajar dan Pemahaman Konsep IPA, pada pokok bahasan Tekanan Benda Cair, Padat dan Gas dengan menerapkan model pembelajaran Projectbased Learning. Penelitian dilakukan terhadap siswa Kelas VIII-1 di SMP Negeri 21 Kota Bekasi Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan teknik eksperimen. Data motivasi belajar diperoleh melalui angket motivasi dan minat belajar siswa. Data pemahaman konsep menggunakan test hasil belajar. Instrumen utama dalam penelitian ini menggunakan angket motivasi dan minat belajar, dan test hasil belajar. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa Pemahaman Konsep dapat ditingkatkan, terlihat dari adanya peningkatan Hasil Belajar IPA, demikian pula dengan motivasi belajar yang juga mengalami peningkatan, dengan menerapkan model pembelajaran Projectbased Learning, pada pokok bahasan Tekanan Benda Cair, Padat dan Gas. saat pre-test diperoleh rata-rata pemahaman konsep Pada siklus 1 terdapat kenaikan rata-rata pemahaman konsep siswa sebesar 7,17 % dari saat pre-test (dari pre-test = 56,50 menjadi siklus 1 = 63,67). Pada siklus 2 terdapat kenaikan rata-rata pemahaman konsepsiswa sebesar 23,01 % dari saat pre-test (dari pre-test = 56,50 menjadi siklus 2 = 69,50). Pada siklus 3 terdapat kenaikan rata-rata nilai hasil belajar siswa sebesar 37,75 % dari saat pre-test (dari pre-test =56,50 menjadi siklus 3 = 77,83). Dengan kata lain model pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan pemahaman konsep IPA Motivasi siswa pada siklus 1 sebesar 2,29 (kurang baik), pada siklus 2 sebesar 3,39 (cukup baik) dan pada siklus 3 sebesar 4,26 (baik). Minat siswa pada siklus 1 sebesar 2,49 (kurang baik), pada siklus 2 sebesar 3,39 (cukup baik) dan pada siklus 3 sebesar 4,49 (baik). Ketuntasan belajar siswa yang juga mengalami kenaikan dalam tiap siklusnya, siklus pertama 1 (3,33 %), siklus kedua 14 (46,47 %); siklus ketiga 29 (9 %6,67). Dari Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini, diharapkan dapat dijadikan bahan referensi untuk meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman konsep siswa. Untuk Pengawas Sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi untuk meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana dalam menciptakan media belajar yang inovatif di tiap sekolah sebagai upaya meningkatkan hasil belajar



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
SITI MARIYAH

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Mangunjaya 01 menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dengan model Kemmis dan Mc Taggart. Langkahnya terdiri dari, perencanaan, tindakan, refleksi, dan observasi. Subyek PTK ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Mangunjaya 01 dengan jumlah 38 siswa. Pelaksanaan tindakan kelas dilakukan dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data melaluites, observasi, dan dokumentasi. Pada setiap siklus terdapat kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pada akhir siklus dilaksanakan tes yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar matematika menggunakan model kooperatf tipe Number Head Together pada siswa kelas IV SD Negeri Mangunjaya 01. Peningkatan tersebut dibuktikan dengan hasil tes pada siklus I ada 17 siswa atau 44.73% dari seluruh siswa yang mendapat nilai ≥70, sedangkan hasil tes pada siklus II ada 32 siswa atau 84.21% dari seluruh siswa yang mendapatkan nilai ≥70. Hal ini berarti mengalami peningkatan persentase siswa yang mendapat nilai ≥70 dari siklus I ke siklus II sebanyak 38.48%. Nilai rata-rata hasil tes dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan sebanyak 9.6 yaitudari 67.76 menjadi 77.36. Demikian juga dalam proses pembelajarannya, hasil observasi menunjukkan aktivitas belajar siswa meningkat dari 53.75% pada siklus I meningkat menjadi 78.75% pada siklus II dengan kategori baik



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
EDI PRIYANTO
Keyword(s):  

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar IPA materi objek IPA dan pengukurannya dengan penerapan model pembelajaran direct instruction melalui metode diskusi. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 2 Cikarang Barat Kabupaten Bekasi sejumlah 26 siswa. waktu peneltian ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 selama 4 Bulan. Data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dari hasil tes formatif pada setiap siklus. Sedangkan data kualitatif berupa hasil observasi pada tiap siklus pembelajaran. Data yang diperoleh kemudian konversikan dengan kriteria keberhasilan untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa dapat diketahui bagaimana peningkatannya. Hasil penelitian penerapan model pembelajaran direct instruction melalui metode diskusi untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi objek IPA dan pengukurannya, pada pada pra siklus 58,27 dengan 11 yang tuntas dari 26 siswa, meningkat pada siklus I pertemuan 1 yaitu 63,27 dengan 12 siswa yang tuntas, pada siklus I pertemuan 2 yaitu 68,27 dengan 13 siswa yang tuntas selanjutnya pada siklus II pertemuan 1 meningkat lagi yaitu 74,81 dengan 16 siswa yang tuntas dari 26 siswa, pada siklus II pertemuan 2 meningkat lagi yaitu 87,50  dengan 24 siswa yang tuntas dari 26 siswa kelas VII SMPN 2 Cikarang Barat Kabupaten Bekasi. Sedangkan persentase ketuntasan juga meningkat dari pra siklus 42,31%, meningkat pada siklus I pertemuan 1 sejumlah 46,15%, pada siklus I pertemuan 2 sejumlah 50%, meningkat menjadi 61,54% pada siklus II pertemuan 1 dan meningkat lagi menjadi 92,31% pada siklus II pertemuan 2.. Dari data penelitian didapatkan bahawa adanya peningkatan hasil belajar IPA materi objek IPA dan pengukurannya pada siswa kelas VII SMPN 2 Cikarang Barat Kabupaten Bekasi setelah penerapan model pembelajaran direct instruction melalui metode diskusi sehingga layak untuk diterapkan di SMPN 2 Cikarang Barat Kabupaten Bekasi.



2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
SAMAH DALIPAH

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen mata pelajaran bahasa Indonesia menggunakan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Media Flash Card siswa kelas IX.1 SMP Negeri 3 Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, . Kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen yang dimakud dalam penelitian ini adalah kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen dengan indicator alur cerita, penokohan, latar belakang, gaya Bahasa, sudut pandang, tema, dan amanat. Subjek dalam penelitian ini adalah 30 siswa kelas kelas IX.1 SMP Negeri 3 Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Metode yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah tes,unjuk kerja, observasi dan catatan lapangan. Instumen yang digunakan adalah lembar observasi rating scale siswa dan guru, lembar soal isian singkat dan lembar catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa menganalisis unsur intrinsic cerpen. Berdasarkan penelitian ini, Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Media Flash Card dapat meningkatkan kemampuan menulis kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document