scholarly journals UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) DAN MEDIA FLASH CARD KELAS IX.1, SMP NEGERI 3 CIKARANG TIMUR , KABUPATEN BEKASI, TAHUN PELAJARAN 2018-2019

2021 ◽  
Vol 9 (8) ◽  
Author(s):  
SAMAH DALIPAH

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen mata pelajaran bahasa Indonesia menggunakan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Media Flash Card siswa kelas IX.1 SMP Negeri 3 Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, . Kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen yang dimakud dalam penelitian ini adalah kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen dengan indicator alur cerita, penokohan, latar belakang, gaya Bahasa, sudut pandang, tema, dan amanat. Subjek dalam penelitian ini adalah 30 siswa kelas kelas IX.1 SMP Negeri 3 Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Metode yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah tes,unjuk kerja, observasi dan catatan lapangan. Instumen yang digunakan adalah lembar observasi rating scale siswa dan guru, lembar soal isian singkat dan lembar catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa menganalisis unsur intrinsic cerpen. Berdasarkan penelitian ini, Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Media Flash Card dapat meningkatkan kemampuan menulis kemampuan menganalisis unsur intrinsic cerpen


Pena Literasi ◽  
2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 70
Author(s):  
Eri Syafitri Hasudungan ◽  
Wika Soviana Devi

Media game ini sebagai media pembelajaran karya sastra dari berbagai angkatan bagi siswa SMP. Tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui peran media pembelajran game sastra untuk pembelajaran karya sastra dari berbagai angkatan bagi siswa SMP dan untuk menarik minat anak dalam belajar. Metode penelitian ini menggunakan Research and Development dan menggunakan desain penelitian posttest-only control design. Langkah-langkah penelitian: 1) penelitian dan pengumpulan informasi 2) perencanaan 3) pengembangan bentuk awal produk 4) uji lapangan awal 5) revisi produk 6) uji lapangan utama 7) revisi produk oprasional 8) uji lapangan oprasional. Dalam penelitian ini terdapat dua tahapan, 1) metode penelitian tahap I, 2) metode penelitian tahap II. Penelitian ini dilakukan di dua sekolah yaitu, SMP Keluarga Widuri dan SMP Al-Hidayah Jakarta Selatan. Pengembangan media game ini melibatkan dua ahli media dan dua ahli materi, melibatkan dua guru bahasa Indonesia dan 26 murid di SMP Keluarga Widuri, 30 murid di SMP Al-Hidayah dalam uji coba produk. Instrumen yang digunakan dalam penelitian menggunakan posttest-only control design dengan angket dan uji validator dengan skala rating scale. Berdasarkan hasil penelitian pada validasi ahli media diperoleh skor 71%, ahli materi dengan skor 73% dan validator butir soal materi 75% dari skor maksimum 75%. Skor murid 19% dan 20% dari skor maksimal 20%. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan media game sastra layak di gunakan sebagai media pembelajaran karya sastra dari bebagai angkatan bagi siswa SMP.Kata kunci : Pengembangan game sastra, karya sastra dari berbagai angkatan. 



Sari Pediatri ◽  
2016 ◽  
Vol 14 (3) ◽  
pp. 191
Author(s):  
Tjhin Wiguna ◽  
Noorhana Setyawati WR ◽  
Fransiska Kaligis

Latar belakang.Kesulitan belajar merupakan masalah tersering ditemukan pada anak dan remaja. Penelitian terakhir menunjukkan hubungan antara kesulitan belajar dan defisit working memory, namun sampai saat ini penentuan defisit working memorymasih sulit dilakukan. Tujuan.Mendapatkan alat ukur working memoryyang sahih dan andal bagi guru di sekolah dasar dalam Bahasa Indonesia. Di samping itu, penelitian kami juga bermaksud mengidentifikasi besar proporsi anak dengan kesulitan belajar dan defisit working memorydi Jakarta. Metode.Penelitian uji diagnostik dan potong lintang; (1) uji diagnostik working memory rating scale (WMRS) versi Bahasa Indonesia. Sembilanpuluh sembilan anak dari 5 sekolah dasar yang dipilih secara acak proporsional; (2) Studi potong lintang untuk mendapatkan proporsi anak dengan kesulitan belajar yang disertai dan tanpa disertai defisit working memorydi wilayah Jakarta. Empatratus duapuluh tiga anak dari 27 sekolah dasar di Jakarta yang dipilih secara acak proporsional. Hasil.Titik potong WMRS versi Bahasa Indonesia pada kelompok usia 6–9 tahun, T score> 60 adalah 20 danT score>70 adalah 30 (sensitivitas 0,161 dan spesifisitas 0,674). Pada kelompok usia 10–12 tahun, T score>60 adalah 29 dan T score>70 adalah 42 (sensitivitas 0,186 dan spesifisitas 0,929). Dari 423 anak usia sekolah dasar dengan usia rerata 9,34 (1,78) yang diikutsertakan, didapat 104 (24,6%) anak yang mengalami kesulitan belajar. Usia rerata anak dengan kesulitan belajar 9,58 (1,76). Proporsi anak sekolah dasar yang mengalami kesulitan belajar murni dengan defisit workingmemory 8,04% dengan usia rerata 9,82 (1,79). Kesimpulan.Working memory rating scale(WMRS) versi Bahasa Indonesia spesifik dalam menilai defisit working memorypada anak sekolah dasar dengan kesulitan belajar. Proporsi kesulitan belajar pada anak sekolah dasar dan defisit working memorycukup besar dan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar kualitas anak dapat ditingkatkan



Sari Pediatri ◽  
2021 ◽  
Vol 23 (2) ◽  
pp. 88
Author(s):  
Evi Evi ◽  
Fransiska Kaligis ◽  
Tjhin Wiguna ◽  
Anak Agung Ayu Agung Kusumawardhani

Latar belakang. Penelitian menunjukkan memori kerja merupakan prediktor kapasitas belajar yang lebih bermakna daripada intelligence quotient (IQ). Bila fungsi ini terganggu, anak dapat mengalami kesulitan belajar. Studi melaporkan gangguan memori kerja banyak ditemukan pada gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data proporsi gangguan memori kerja pada anak GPPH dan perbandingan dengan anak tanpa GPPH. Data ini diharapkan dapat menjadi data dasar bagi pengembangan intervensi selanjutnya.Metode. Penelitian ini dilakukan dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode randomized sampling. Instrumen Working Memory Rating Scale (WMRS) yang telah divalidasi dalam Bahasa Indonesia oleh Wiguna, dkk. (2012) digunakan untuk menentukan ada tidaknya defisit memori kerja. Hasil. Proporsi gangguan memori kerja pada kelompok anak dengan GPPH berbeda bermakna dibandingkan kelompok anak tanpa GPPH (44% vs 0%, p<0,05). Pada uji analisis, didapatkan prevalence ratio (PR) 40,4 (95% IK 2,22 - 738,01), artinya anak dengan GPPH berisiko mengalami gangguan memori kerja 40,4 kali lebih besar dibandingkan anak tanpa GPPH. Kesimpulan. Gangguan memori kerja lebih banyak ditemukan pada anak dengan GPPH. Pemeriksaan memori kerja pada anak dengan GPPH diperlukan untuk mengantisipasi kesulitan belajar yang mungkin timbul. Intervensi tambahan dapat dipertimbangkan untuk memperbaiki gangguan memori kerja pada anak dengan GPPH.



Pena Literasi ◽  
2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 70
Author(s):  
Eri Syafitri Hasudungan ◽  
Wika Soviana Devi

Media game ini sebagai media pembelajaran karya sastra dari berbagai angkatan bagi siswa SMP. Tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui peran media pembelajran game sastra untuk pembelajaran karya sastra dari berbagai angkatan bagi siswa SMP dan untuk menarik minat anak dalam belajar. Metode penelitian ini menggunakan Research and Development dan menggunakan desain penelitian posttest-only control design. Langkah-langkah penelitian: 1) penelitian dan pengumpulan informasi 2) perencanaan 3) pengembangan bentuk awal produk 4) uji lapangan awal 5) revisi produk 6) uji lapangan utama 7) revisi produk oprasional 8) uji lapangan oprasional. Dalam penelitian ini terdapat dua tahapan, 1) metode penelitian tahap I, 2) metode penelitian tahap II. Penelitian ini dilakukan di dua sekolah yaitu, SMP Keluarga Widuri dan SMP Al-Hidayah Jakarta Selatan. Pengembangan media game ini melibatkan dua ahli media dan dua ahli materi, melibatkan dua guru bahasa Indonesia dan 26 murid di SMP Keluarga Widuri, 30 murid di SMP Al-Hidayah dalam uji coba produk. Instrumen yang digunakan dalam penelitian menggunakan posttest-only control design dengan angket dan uji validator dengan skala rating scale. Berdasarkan hasil penelitian pada validasi ahli media diperoleh skor 71%, ahli materi dengan skor 73% dan validator butir soal materi 75% dari skor maksimum 75%. Skor murid 19% dan 20% dari skor maksimal 20%. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan media game sastra layak di gunakan sebagai media pembelajaran karya sastra dari bebagai angkatan bagi siswa SMP.Kata kunci : Pengembangan game sastra, karya sastra dari berbagai angkatan. 



2020 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 54
Author(s):  
Wastu Adi Mulyono

Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien telah hampir ditinggalkan oleh perawat. Respon subjekti perawat terhadap isu spiritualtias dicurigai berkontribusi terhadap tidak adekuatnya asuhan spiritual. Oleh karena itu penelitian terhadap persepsi perawat terhadap isu spiritual ini perlu dikaji, sayangnya alat ukur untuk persepsi  spiritual dan asuhan spiritual masih perlu kajian lebih dalam. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakan SSCRS BI sama atau berbeda dengan versi aslinya.  Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan untuk mengkaji persepsi 131 mahasiswa Program Ners yang sedang praktik profesi di beberapa rumah sakit di Jawa Tengah. Confirmatory Factor Analysis diaplikasikan untuk menguji struktur model SSCRS satu faktor dan dua faktor. Reliabilitas SSCRS RS-Bahasa Indonesia juga diukur dari nilai koefisien  Alpha.Cronbach. Hasil penelitian menunjukkan Nilai CMNI/DF, CFI, TLI, RMSEA setiap model adalah sebagai berikut: Model 1 Original: 1.43, 0.875,0.844,0.875; Model 2, satu factor  17 items: 2.225, 0.420, 0.38125, 0.097; Model 3, satu Factor 15 items: 1.924, 0.728, 0.683, 0.84; Model 4 dua factor model 15 items:1.851, 0.753, 0.78, 0.081. Struktur model dua faktor dengan 15 item terlihat lebih baik dibandingkan dengan yang 17 item (original). Meskipun demikian, Koefisien Alfa Cronbach masih dibawah nilai yang dapat diterima. Tapi  MIIC dapat diterima.



2018 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 124 ◽  
Author(s):  
Adelia Marcella ◽  
Imanuel Adhitya Wulanata ◽  
Tanti Listiani

<p>Based on observations of grade 8B students in a Christian junior high school in Kupang, it was found that students were not able to demonstrate the ability to cooperate in mathematics lessons. To overcome this, the researcher implemented a Team Quiz to assist students in developing their cooperative skills. This research used Kemmis &amp; McTaggart’s model for Classroom Action Research (CAR). The research was done in two cycles. The instruments used were mentor’s and peer’s observations, student’s questionnaires, and tests. The findings showed that Team Quiz could help grade 8B students to improve their cooperation skills in mathematics subjects.</p><p><strong>BAHASA INDONESIA ABSTRAK: </strong>Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas VIII-B di salah satu SMP Kristen Kupang, ditemukan bahwa siswa belum mampu menunjukkan kemampuan kerja sama dalam pelajaran Matematika. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti menerapkan Team Quiz untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan kerja sama. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Mc Taggart. PTK ini berlangsung dalam dua siklus. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi check-list mentor dan teman sejawat, lembar observasi rating scale mentor dan teman sejawat, lembar angket siswa, dan lembar wawancara mentor. Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menunjukkan bahwa penerapan Team Quiz dapat meningkatkan kemampuan kerja sama antar siswa kelas VIII-B pada mata pelajaran Matematika.</p><p> </p>



2017 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 88
Author(s):  
Nur Aida ◽  
Azimatul Karimah ◽  
Iswinarno Doso Saputro

Latar Belakang: Luka bakarmerupakan respon lokal suatu jaringan dengan atau tanpa respon sistemik terhadap suatu perpindahan energi dari sumber fisik atau kimia. Perawatan luka bakar memerlukan waktu yang lama. Dampak pada individu karena luka bakar dirasakan sejak awal cedera dan meluas di seluruh kehidupan seseorang. Pada luka bakar tejadi pelepasan mediator inflamasi khususnya interleukin-6 dan terganggunya berbagai faal tubuh, salah satunya homeostasis mikrobiota usus. Komorbiditas psikiatrik yang terjadi berkisar 45,5 %, dimana depresi yang hadir akan memperberat kondisi pasien. Probiotik dapat menurunkan kadar interleukin-6 dan mencegah gejala depresi secara langsung maupun tidak langsung. Studi ini untuk menilai efek suplementasi probiotik pada gejala depresi, parameter menggunakan biomarker IL-6 serum.Tujuan: Membuktikan efek probiotik terhadap interleukin-6 serum dan skor depresi pada pasien luka bakar.Metode: Desain penelitian adalah non randomized control trial. Sampel diambil dengan consequtive sampling. Pemberian probiotik pada hari ke 4 sampai hari ke 19 perawatan, kadar interleukin-6 serum diukur pada hari ke-4 (sebelum pemberian probiotik) dan hari ke 19 (setelah pemberian probiotik) dengan ELISA. Kelompok kontrol tidak menerima probiotik. Kriteria depresi diukur dengan Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). Kedua alat ukur tersebut telah melalui uji validitas dan reliabilitasnya dari penelitian sebelumnya dan HDRS telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan uji komparatif.Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kontrol.Kesimpulan: Pemberian probiotik tidak berpengaruh terhadap kadar interleukin-6 serum dan derajat depresi dibandingkan kontrol.



2020 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Herdiyan Maulana ◽  
Anna Armeini Rangkuti ◽  
Bambang Sumintono ◽  
Lussy Dwi Utami

Teachers who have self-efficacy regarding their abilities play an important part in the educational process. The instrument “Teachers’ Sense of Efficacy Scale (TSES)”, which consists of 24 items, measures the self-efficacy of a teacher in conducting his or her role in the classroom. This research was aimed at testing the psychometric properties of the Indonesian language version of the TSES, using Rasch testing. 245 State Primary School teachers in the Special Capital District (Daerah Khusus Ibukota - DKI) of Jakarta, Indonesia, took part in the study. Analysis results indicated that the reliability index and the separation of item and person scales of the TSES fulfil the criteria well. In the study of the structure of the organisation of the instrument, tests of the unidimensional quality and accuracy of the items/models showed they fulfil the conditions for measurement by Rasch modelling. In the rating scale, data analysis indicated the necessity of simplification of the range of response choices, and also of the variation in the difficulty of the items, which is not very uniform, so that a large proportion of respondents were not easily measurable, via this instrument. The results of the research indicated two items which showed bias, when dealt with by different groups of respondents. Based upon the information resulting from this testing, this script discusses recommendations for the modification of the Indonesian language version of the TSES instrument, with the aim of producing an instrument having good psychometric qualities, to measure the self-efficacy of teachers.   Guru yang mempunyai efikasi diri akan kemampuannya merupakan bagian penting dalam proses pendidikan. Instrumen Teachers’ Sense of Efficacy Scale (TSES), yang berisi 24 butir, mengukur efikasi diri seorang guru dalam menjalankan perannya di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji properti psikometrik TSES versi Bahasa Indonesia dengan menggunakan pemodelan Rasch. Sebanyak 245 orang guru SD Negeri di DKI Jakarta berpartisipasi dalam studi ini. Hasil analisis menunjukkan indeks reliabilitas serta separasi item dan person skala TSES memenuhi kriteria yang baik. Dalam kajian struktur penyusun instrumen, uji unidimensionalitas dan ketepatan butir-model memenuhi syarat dalam pengukuran pemodelan Rasch. Dalam hal skala peringkat (rating scale), analisis data menunjukkan perlunya penyederhanaan rentang pilihan jawaban; juga variasi tingkat kesulitan butir yang tidak terlalu beragam sehingga sebagian besar responden tidak dapat terukur dengan baik melalui instrumen ini. Hasil penelitian ini menunjukan dua butir yang memiliki bias ketika di kerjakan oleh kelompok responden yang berbeda. Berdasarkan informasi hasil pengujian tersebut, tulisan ini membahas usulan modifikasi instrumen TSES versi Bahasa Indonesia dengan tujuan menghasilkan instrumen efikasi diri guru yang memiliki properti psikometrik yang baik.



2021 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 495
Author(s):  
Raden Mutiara ◽  
P. Tommy Y.S. Suyasa

The Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) is one of the most widely used mindfulness measurement instruments due to the ability of the instrument to assess not only how the individual is at present, but also provides accurate conclusions about the impact of each mindfulness practice that has been practiced before. Unfortunately, the Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) is not available in Indonesian. The study was conducted to redesign the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) developed by Baer et al. (2006) in English which consisted of 39 items representing 5 aspects, namely acting with awareness, non-assessing experiences, observing, non-reactivity of inner experiences, and describing in words. The questionnaire redesign in Indonesian version and developed into 40 items consisting of 8 items representing acting with awareness, 9 items representing non-judging of experience, 8 items representing observing, 7 items representing non-reactivity of inner experiences, and 8 items represent describing with words. The questionnaire was arranged in a submitted rating scale format with choices that had  been arranged in semantic differential format where response options are presented on a bipolar scale. Kuesioner lima aspek mindfulness atau yang lebih dikenal Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) adalah salah satu instrumen pengukuran mindfulness yang paling banyak digunakan disebabkan oleh kemampuan instrumen ini menilai bukan hanya bagaimana individu pada saat ini, namun juga memberikan penilaian yang akurat tentang dampak dari setiap praktik mindful yang telah dipraktekkan sebelumnya. Sayangnya saat ini instrumen Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) belum tersedia dalam bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan untuk membuat rancangan kuesioner lima aspek mindfulness atau Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) yang telah dikembangkan oleh Baer et al. (2006) menggunakan bahasa Inggris yang terdiri dari terdiri dari 39 butir yang mewakili 5 aspek yaitu acting with awareness, non-judging of experience, observing, non-reactivity of inner experience, dan describing with words. Kuesioner tersebut yang dirancang kembali dalam bahasa Indonesia dan berkembang menjadi 40 butir yang terdiri dari 8 butir pernyataan mewakili aspek acting with awareness, 9 butir pernyataan mewakili aspek non-judging of experience, 8 butir pernyataan mewakili aspek observing, 7 butir pernyataan mewakili aspek non-reactivity of inner experience dan 8 butir pernyataan mewakili aspek describing with words. Kuesioner disusun dalam format submitted rating scale dengan pilihan respon disusun dalam format semantic differential dimana pilihan respon disajikan dalam skala bipolar.



2019 ◽  
Vol 28 (4) ◽  
pp. 1381-1387
Author(s):  
Ying Yuan ◽  
Jie Wang ◽  
Dongyu Wu ◽  
Dahua Zhang ◽  
Weiqun Song

Purpose Severe dysphagia with weak pharyngeal peristalsis after dorsal lateral medullary infarction (LMI) requires long-term tube feeding. However, no study is currently available on therapeutic effectiveness in severe dysphagia caused by nuclear damage of vagus nerve after dorsal LMI. The purpose of the present investigation was to explore the potential of transcutaneous vagus nerve stimulation (tVNS) to improve severe dysphagia with weak pharyngeal peristalsis after dorsal LMI. Method We assessed the efficacy of 6-week tVNS in a 28-year-old woman presented with persisting severe dysphagia after dorsal LMI who had been on nasogastric feeding for 6 months. tVNS was applied for 20 min twice a day, 5 days a week, for 6 weeks. The outcome measures included saliva spitted, Swallow Function Scoring System, Functional Oral Intake Scale, Clinical Assessment of Dysphagia With Wallenberg Syndrome, Yale Pharyngeal Residue Severity Rating Scale, and upper esophagus X-ray examination. Results After tVNS, the patient was advanced to a full oral diet without head rotation or spitting. No saliva residue was found in the valleculae and pyriform sinuses. Contrast medium freely passed through the upper esophageal sphincter. Conclusion Our findings suggest that tVNS might provide a useful means for recovery of severe dysphagia with weak pharyngeal peristalsis after dorsal LMI. Supplemental Material https://doi.org/10.23641/asha.9755438



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document