ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

120
(FIVE YEARS 48)

H-INDEX

1
(FIVE YEARS 0)

Published By Institut Pertanian Bogor

2655-559x, 2549-1326

2022 ◽  
Vol 4 (3) ◽  
pp. 295-305
Author(s):  
Ronny Irawan Wahju ◽  
Am Azbas Taurusman ◽  
Muji Nopriansah

Sidat merupakan ikan yang unik karena dalam siklus hidupnya melakukan migrasi dari perairan tawar menuju ke perairan laut (katadromus) untuk memijah. Informasi mengenai perikanan jenis sidat serta komposisi hasil tangkapan menjadi penting dalam pemanfaatan sidat secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifkasi jenis dan sebaran hasil tangkapan sidat, serta menganalisis komposisi dan keraragaman hasil tangkapan bubu sidat. Penelitian dilakukan dengan melakukan penangkapan menggunakan bubu di bagian hulu dan hilir sungai pada bulan Januari-Februari 2020 di Sungai Terusan Kabupaten Kaur, Bengkulu. Hasil identifikasi ciri morfologi dan perbandingan nilai ano-dorsal  terhadap tangkapan sidat yang diperoleh selama penelitian ditemukan tiga spesies sidat yakni A. bicolor bicolor dengan nilai perbandingan ano-dorsal sebesar 3,43-3,58 % tertangkap pada bagian hilir sungai sedangkan A. marmorata (13,7-18,81 %) dan A. nebulosa (9,21-9,36 %) tertangkap pada bagian hulu sungai. Komposisi spesies hasil tangkapan antara hulu dan hilir sangat berbeda dengan indeks keragaman (H’) hasil tangkapan perairan hulu sungai sebesar 1,73 dan perairan hilir sungai 1,64. Kata kunci: A. bicolor bicolor, A. marmorata, A. nebulosa, bubu, sidat


2022 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 159-168
Author(s):  
Miftahol Arifin ◽  
Zulkarnain ◽  
Wazir Mawardi ◽  
Dwi Putra Yuwandana

Sumberdaya ikan teri di Kabupaten Sumenep salah satunya adalah ikan teri nasi (Stolephorus sp.) yang umumnya ditangkap menggunakan alat tangkap payang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pendugaan pola musim penangkapan teri pada alat tangkap payang teri di Pasongsongan. Pola musim penangkapan teri diambil menggunakan data sekunder dari Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep, sedangkan keragaan alat tangkap payang teri menggunakan data primer yang diambil secara langsung dari nelayan setempat. Penelitian ini dilakukan selama 30 hari dengan menggunakan metode purposive sampling untuk mendeskripsikan keragaan alat tangkap payang teri. Sampel yang diambil sebanyak 8 perahu payang teri yang beroperasi di Kecamatan Pasongsongan. Pola musim penangkapan dihitung menggunakan metode rata-rata bergerak (moving average), sedangkan keragaan payang teri di analisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menujukkan bahwa musim penangkapan ikan teri yang baik dilakukan pada bulan Januari, Februari, Maret, Oktober, November, dan Desember ditunjukkan oleh IMP lebih dari 100%. Kata kunci: ikan teri, musim ikan teri, Pasongsongan, payang, Sumenep


2022 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 147-160
Author(s):  
Nymas Sidratus Sakina ◽  
Fis Purwangka ◽  
Mustaruddin
Keyword(s):  

Ikan tuna (Thunnus sp) merupakan sumberdaya perikanan dan kelautan di Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dalam jumlah besar. Salah satu sentra produksi tuna berada di Provinsi Jawa Timur tepatnya di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap, Kabupaten Malang. Kualitas ikan tuna di PPP Pondokdadap sebagian besar memiliki kualitas sedang (grade B) dan tidak sedikit pula yang memiliki kualitas C dan D. Hal ini terjadi karena fasilitas penanganan yang kurang memadai dan kurangnya pengetahuan para pelaku usaha bahwa dalam setiap kegiatan penanganan dan transportasi yang kurang baik terdapat risiko yang mengakibatkan terjadinya penurunan mutu sehingga nilai jualnya kurang maksimal. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan memetakan risiko prioritas dalam aktivitas penanganan dan transportasi ikan tuna di PPP Pondokdadap dengan pendekatan FMEA. Sehingga didapatkan risiko kritis dan harus segera dilakukan pengembangan mitigasi pada perikanan tuna di PPP Pondokdadap. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2020. Metode pengumpulan data  menggunakan metode wawancara dan observasi langsung. Hasil yang diperoleh bahwa penurunan mutu terbesar berada pada spesies tuna albakor dengan berat ≥20kg. Terdapat 4 mode kegagalan (failure mode) yang menjadi risiko prioritas dalam penurunan mutu selama penanganan dan transportasi ikan tuna albakor ≥20kg di PPP Pondokdadap. Mode kegagalan tersebut yaitu pencucian ikan dengan air kotor, ikan dilempar saat penyortiran, ikan diletakkan di lantai tanpa alas dan penggunaan moda transportasi dengan mobil bak terbuka. Kata kunci: Albakor, FMEA, penanganan, pondokdadap, risiko, transportasi


2022 ◽  
Vol 4 (3) ◽  
pp. 283-293
Author(s):  
Gondo Puspito ◽  
Sugeng Hartono ◽  
Fakhri Kurniawan ◽  
Wazir Mawardi

Peluang keberhasilan operasi penangkapan ikan dengan jaring insang hanyut sangat ditentukan oleh arah ruaya ikan terhadap posisi jaring. Ikan akan tertangkap jika arah renangnya terhadang oleh jaring. Penelitian mencoba meningkatkan peluang ikan tertangkap dengan memanfaatkan lampu celup. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa penggunaan lampu celup akan meningkatkan jumlah ikan hasil tangkapan tanpa mengurangi komposisi jenisnya. Dua unit jaring insang dioperasikan secara bersamaan. Salah satu unit jaring insang dilengkapi dengan lampu celup. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lampu celup tidak mempengaruhi komposisi jenis ikan yang tertangkap, tetapi hanya mempengaruhi jumlah tangkapannya. Jumlah total ikan hasil tangkapan jaring insang yang dilengkapi lampu celup mencapai 3.521 ekor, atau 58,82% dari seluruh ikan hasil tangkapan, sedangkan jaring insang tanpa lampu celup sebanyak 2.465 ekor (41,18%). Rincian hasil tangkapan jaring insang yang dilengkapi lampu celup dan tanpa lampu celup adalah mackerel tuna (Euthynnus affinis) sebanyak 218 ekor dan 129 ekor, spanish mackerel (Scomberomorus commerson) (80; 50), needlefish (Tylosurus crocodilus) (7; 3), Indo-Pacific sailfish (Istiophorus platypterus) (4; 2), driftfish (Psenes cyanophrys) (2.838; 2.051), dan moonfish (Mene maculata) (374; 230). Kata kunci: high-brightness LEDs, jaring insang hanyut, komposisi jenis ikan, lampu celup


2022 ◽  
Vol 4 (3) ◽  
pp. 271-282
Author(s):  
Khairil Ibaad ◽  
Zulkarnain ◽  
Sulaeman Martasuganda ◽  
Tri Nanda Citra Bangun

Bubu merupakan alat tangkap yang umum dikenal nelayan sebagai alat tangkap yang biasa dioperasikan pada dasar perairan menggunakan sistem rawai serta memiliki karakteristik pasif, selektif, dan ramah lingkungan. Lampu bawah air untuk alat tangkap bubu belum pernah dipraktekkan oleh nelayan khususnya pada pengoperasian bubu lipat rajungan. Penelitian ini bertujuan menentukan komposisi hasil tangkapan dan pengaruh penggunaan lampu bawah air yang berbeda pada bubu lipat penelitian terhadap hasil tangkapan serta menghitung produktivitas bubu lipat penelitian terhadap hasil tangkapan dan persentase kelayakan hasil tangkapan bubu lipat penelitian. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah experimental fishing dengan total bubu yang digunakan adalah 30 buah (masing-masing 10 unit bubu setiap perlakuan) dan dilakukan sebanyak 20 kali ulangan (trip). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji normalitas, uji T dan uji Wilcoxon. Komposisi hasil tangkapan yang diperoleh pada bubu kontrol (bubu nelayan) 9 jenis dengan total 248 ekor seberat 23,39 kg, bubu modifikasi lampu putih mendapatkan 10 jenis dengan total 224 ekor seberat 25,94 kg, bubu modifikasi lampu biru juga mendapatkan 10 jenis hasil tangkapan dengan total 167 ekor seberat 17,42 kg. Penggunaan lampu LED berwarna putih dinyatakan berpengaruh nyata dalam hasil tangkapan bernilai ekonomis baik dilihat dari jumlah (ekor) dan berat (kg) apabila dibandingkan dengan bubu kontrol dan bubu modifikasi lampu biru. Kata kunci: bubu lipat, lampu LED, rajungan, warna lampu


2021 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 133-146
Author(s):  
Zakyatul Muna ◽  
Fis Purwangka ◽  
Wazir Mawardi

Kelaiklautan kapal merupakan salah satu syarat yang wajib dipenuhi oleh kapal pada setiap aktivitas pelayaran, begitupun juga keselamatan dan keamanan kapal ditandai dengan kondisi terpenuhinya persyaratan kelaiklautan kapal. BASARNAS Aceh (2019) membuktikan kasus kecelakaan kapal di Provinsi Aceh mengalami peningkatan, pada tahun 2018 sebanyak 22 kasus meningkat menjadi 36 kasus pada tahun 2019. Kecelakaan ini dipicu karena adanya indikasi pengabaian aspek keselamatan dalam berlayar. Tujuan penelitian yaitu menentukan tingkat implementasi kelaiklautan kapal pada armada kapal penangkap ikan yang berbasis di PPS Kutaraja. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2021 di PPS Kutaraja, Kota Banda Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara (kuesioner) dan pengamatan langsung di lapangan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ada 3 yaitu purposive sampling, proportionate stratified random sampling dan accidental sampling. Berdasarkan pengolahan data, didapatkan hasil penelitian berikut: penerapan aspek kelaiklautan kapal yang berbasis di PPS Kutaraja berdasarkan aspek keselamatan, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan kapal, kesejahteraan awak kapal dan kesehatan penumpang, status hukum kapal, manajemen dan kesehatan penumpang serta kelengkapan surat dan dokumen masing-masing memiliki persentase skoring sebesar 43,32% (sangat baik), 98,31% (sangat buruk), 65,15 % (baik), 79,38% (ada), 82,39 % (ada), 57,27% (sangat baik), dan 59,09 % (ada). Kata kunci: kapal perikanan, kelaiklautan kapal, keselamatan pelayaran, laik laut


2021 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 121-132
Author(s):  
Elvanri Anggi Widianti ◽  
Tri Wiji Nurani ◽  
Muhammad Fedi Alfiadi Sondita ◽  
Fis Purwangka ◽  
Prihatin Ika Wahyuningrum

Perairan Pantai Kebumen memiliki kekayaan sumberdaya perikanan yang tinggi pada jenis ikan-ikan pelagis dan jenis krustasea, terutama lobster. Terdapat enam jenis lobster yang berada di Perairan Pantai Ayah Kabupaten Kebumen yaitu lobster pasir (P. homarus), lobster batu (P. penicillatus), lobster batik (P. longipes), lobster mutiara (P. ornatus), lobster bambu (P. versicolor) dan lobster pakistan (P. polyphagus). Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan unit penangkapan lobster dan mengidentifikasi komposisi hasil tangkapan lobster di Perairan Pantai Ayah Kabupaten Kebumen. Pengambilan data dilakukan di PPI Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen pada bulan November 2020-Januari 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat penangkapan lobster yang digunakan oleh nelayan yaitu jaring insang dan bubu. Nelayan setempat masih menggunakan kapal berukuran <5 GT untuk melakukan operasi penangkapan lobster secara one day fishing. Hasil tangkapan terbanyak yaitu jenis lobster pasir (P. homarus) sebesar 5657 ekor dan paling sedikit diperoleh lobster jenis pakistan (P. polyphagus) sebanyak 7 ekor. Berdasarkan distribusi jenis lobster di Perairan Pantai Ayah Kabupaten Kebumen dapat disimpulkan bahwa 75% lobster sudah layak tangkap. Penetapan ukuran layak tangkap tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 tahun 2021. Kata kunci: komposisi hasil tangkapan, lobster, Panulirus spp, perairan Kebumen


2021 ◽  
Vol 5 (3) ◽  
pp. 235-242
Author(s):  
Muhammad Nur Arkham ◽  
Perdana Putra Kelana ◽  
Tyas Dita Pramesthy ◽  
Djunaidi ◽  
Sri Yenica Roza ◽  
...  

Kota Dumai memiliki nelayan perikanan tangkap skala kecil yang menjadikan ikan demersal sebagai target utama. Daerah penangkapan ikan demersal yang relatif mudah dan dekat untuk diakses serta memiliki milai ekonomis yang cukup tinggi menjadi daya tarik bagi nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung tingkat pemanfaatan, nilai MSY dan JTB di perairan Dumai. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu jumlah trip dan jumlah hasil tangkapan jaring insang, sondong dan pengerih sejak tahun 2014 hingga 2018. Nilai MSY dan upaya optimum dianalisis menggunakan model produksi surplus oleh Schaefer. Persamaan regresi antara upaya standar (f) dengan CPUE adalah  dengan nilai R2 = 0,9273. Jumlah upaya optimum (Fopt) adalah 4.604 trip/tahun dan nilai MSY sebesar 918,47 ton/tahun. Rata-rata tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan mencapai 83% termasuk dalam kategori optimum. Nilai JTB ikan demersal sebesar 734,78 ton. Status pemanfaatan ikan demersal di perairan Dumai masuk kedalam kategori tangkap berlebih. Perlu ada pengaturan ulang mengenai upaya penangkapan (f) guna menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan kegiatan perikanan tangkap ikan demersal di Kota Dumai. Kata kunci: CPUE, Dumai, ikan demersal, MSY


2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 159-165
Author(s):  
Muhammad Nur Arkham ◽  
Perdana Putra Kelana ◽  
Tyas Dita Pramesthy ◽  
Djunaidi ◽  
Sri Yenica Roza ◽  
...  

Kota Dumai memiliki nelayan perikanan tangkap skala kecil yang menjadikan ikan demersal sebagai target utama. Daerah penangkapan ikan demersal yang relatif mudah dan dekat untuk diakses serta memiliki milai ekonomis yang cukup tinggi menjadi daya tarik bagi nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung tingkat pemanfaatan, nilai MSY dan JTB di perairan Dumai. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu jumlah trip dan jumlah hasil tangkapan jaring insang, sondong dan pengerih sejak tahun 2014 hingga 2018. Nilai MSY dan upaya optimum dianalisis menggunakan model produksi surplus oleh Schaefer. Persamaan regresi antara upaya standar (f) dengan CPUE adalah  dengan nilai R2 = 0,9273. Jumlah upaya optimum (Fopt) adalah 4.604 trip/tahun dan nilai MSY sebesar 918,47 ton/tahun. Rata-rata tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan mencapai 83% termasuk dalam kategori optimum. Nilai JTB ikan demersal sebesar 734,78 ton. Status pemanfaatan ikan demersal di perairan Dumai masuk kedalam kategori tangkap berlebih. Perlu ada pengaturan ulang mengenai upaya penangkapan (f) guna menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan kegiatan perikanan tangkap ikan demersal di Kota Dumai. Kata kunci: CPUE, Dumai, ikan demersal, MSY


2021 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 043-051
Author(s):  
Ladestam Sitinjak ◽  
Risma Mariva Tua Lumban Gaol ◽  
Juni Susanti Banurea

Hasil tangkapan dengan menggunakan bubu dasar masih tergolong rendah dan tidak ramah lingkungan karena dapat merusak terumbu karang. Untuk itu dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas bubu apung serta mengetahui waktu dan lama perendaman bubu yang terbaik. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental yang didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hasil tangkapan paling banyak pada bubu apung dengan lama perendaman 6 hari yaitu sebanyak 15 ekor, jenis ikan adalah ikan baronang, ikan tanda, dan ikan jarang gigi. Kata kunci:        bubu apung, hasil tangkapan, lama perendaman, produktivitas


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document