scholarly journals SIMULASI DISTRIBUSI TEMPERATUR DAN KELEMBABAN RELATIF RUANGAN DARI SISTEM DEHUMIDIFIKASI MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUIDS DYNAMICS (CFD)

ROTASI ◽  
2017 ◽  
Vol 19 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Eflita Yohana ◽  
Bambang Yunianto ◽  
Ade Eva Diana

Dehumidifikasi merupakan proses pengurangan kadar uap air  yang berpengaruh terhadap besar nilai kelembaban relatif dan temperatur suatu ruangan. Dalam mengkondisikan kadar uap air dalam suatu ruangan tersebut agar dapat sesuai dengan kebutuhan, maka perlu diketahui distribusi kelembaban relatif dan temperatur dalam ruangan menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD). Pada penelitian ini, pengambilan data dilakukan selama 20 menit dan dilakukan pada pukul 08.00 WIB.  Liquid desiccant yang digunakan dijaga pada temperatur 10°C dengan variasi konsentrasi 40% dan 50%. Sensor DHT 11 dipasang pada lima sisi, atap, dinding, lantai, inlet, outlet, yang berfungsi untuk mencatat perubahan kelembaban dan temperatur selama pengujian berlangsung. Pada kondisi normal tanpa menyalakan alat dehumidifier, sensor mencatat temperatur rata-rata di dalam ruangan sebesar 29,9°C dan RH 58,9%. Simulasi dilakukan menggunakan software CFD Solidworks Flow Simulation 2014. Validasi hasil eksperimen dengan hasil simulasi dengan membandingan bahwa liquid desiccant 40% dan 50%, nozzle sprayer 0.2 mm dengan temperatur yang dijaga pada 10°C mempunyai distribusi yang cukup merata dengan konsentrasi 40% memiliki nilai RH terendah sebesar 65,21%, nilai RH tertinggi sebesar 68,99%, nilai ω = 18 gr/kg, serta mempunyai temperatur tertinggi 31,11°C dan temperatur terendah 30,05°C. Sedangkan dengan konsentrasi 50% distribusi dalam ruangan juga cukup merata karena memiliki nilai RH terendah sebesar 59,21%., nilai RH tertinggi sebesar 62,80%, nilai ω = 17 gr/kg, serta mempunyai temperatur tertinggi 31,71°C dan temperatur terendah 30,93°C. Sehingga liquid desiccant dengan konsentrasi 50% mempunyai nilai Humidity Ratio (ω) lebih rendah dibandingkan dengan yang memiliki konsentrasi 40%.

Author(s):  
Mai Hanna Shahda ◽  
Mahmod Alfattamah ◽  
Youssef Johar

The research aims to predict the efficiency of capturing the soot particles generated by the diesel generator within the Hydro Cyclone by conducting the applied study using the Computational Fluid Dynamics (CFD) application through modeling and simulation of the turbulent flow within the Hydro Cyclone using SOLIDWORKS Flow Simulation. The ability to predict the impact of such flows on your product performance is time consuming and costly without some form of simulation tools...SOLIDWORKS Flow Simulation uses Computational Fluid Dynamics (CFD) analysis to enable quick, efficient simulation of fluid flow and can easily calculate fluid forces and help the designer to understand the impact of a liquid or gas on product performance and comparing the results with experimental reality. In this research, the engineering simulation confirmed the importance of using Hydro Cyclone in the capture of diesel soot particles by an error rate of only 4% compared to experimental reality.


2021 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 88
Author(s):  
Dandun Mahesa Prabowoputra

<p>Energi listrik merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi mengakibatkan meningkatnya kebutuhan energi listrik setiap tahunnya. Energi baru terbarukan memasok kebutuhan energi listrik nasional sebesar 14%. Di sisi lain, pemerintah mengharapkan komposisi energi baru terbarukan sebesar 23% hingga 31% pada tahun 2050. Hal ini menunjukan bahwa energi baru terbarukan masih memiliki gap yang cukup tinggi. Penelitian ini merupakan salah satu upaya dalam pengembangan energi baru terbarukan, terutama pada pembangkit listrik mikro-pico hidro. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode <em>Computational Fluid Dynamics</em> menggunakan Aplikasi Ansys dengan CFX <em>Solver</em>. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu pada hidro-turbin <em>cross-flow</em> terhadap performa <em>Coefficient of Power</em>. Peneltian dilakukan pada rotor dengan dimensi diameter 80 mm, panjang 130 mm dan sudut sudu 15°. Variasi jumlah sudu dilakukan pada jumlah sudu 8, 12, 16, dan 20. Simulasi dilakukan pada <em>steady state,</em> dan menggunakan tipe turbulen <em>Shear Stress Transport</em>. Turbin <em>cross-flow</em> beroperasi pada kecepatan air 3m/s dengan kecepatan sudut pada interval 50 sampai 350 RPM.  Hasil menunjukan <em>Coefficient of Power Maximum</em> yang dihasilkan untuk sudu 8,12, 16 dan 20 adalah 10,8%; 14,1%; 16,8% dan 20,1%. Dari hasil tersebut menunjukan performa maksimal dihasilkan oleh hidro-turbin tipe <em>cross-flow</em> dengan jumlah sudu rotor 20.</p>


Author(s):  
J. S. Shang

The development of computational fluid dynamics (CFD) can be traced back as far as the early 1900’s. The pioneering efforts by Richardson [1], Courant, Friedrichs, and Lewy [2], Southwell [3], Von Neumann [4], Lax [5], as well as Godunov [6] address the fundamental issues in numerical analyses for CFD. It is immediately clear that a major portion of these efforts was focused on one of the most difficult problems in resolving the discontinuous fluid phenomena in a discretized space — the Riemann problem [7]. As it will be seen later, it remains the most studied problem in CFD. However, if one is interested in the viscous flow simulation, Thom [8] probably obtained the first-ever numerical solution by solving the partial differential equation for a low speed flow past a circular cylinder. For a scholarly description of the CFD historical perspective, the books by Roach [9] and Tannehill, Anderson, and Pletcher [10] are highly recommended.


Author(s):  
Jay A. Cossentine ◽  
Jere J. Matty ◽  
Robert J. Shaw

The Arnold Engineering Development Center (AEDC) and the NASA Lewis Research Center (LeRC) have formed a government alliance aimed at establishing and supporting a national, application-oriented computational fluid dynamics (CFD) capability, centered around the NPARC flow simulation software. The Alliance is supported by and responsive to an association made up of more that 100 active users at over 60 government, industry, and academic institutions. This paper discusses the history, structure, and philosophy of the NPARC Alliance.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document