Oseanika
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

15
(FIVE YEARS 7)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT)

2723-7338

Oseanika ◽  
2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 1-16
Author(s):  
Muhamad Irfan ◽  
Yudo Haryadi ◽  
Dwi Haryanto ◽  
Alfi Rusdiansyah

Pengembangan teknologi sistem peringatan dini tsunami sudah dilakukan oleh BPPT sejak tahun 2006. Sejalan dengan perkembangannya, tahun 2021 BPPT mendapatkan tugas pemasangan sistem peringatan dini tsunami dengan platform buoy di laut lepas menggunakan wahana survei Kapal Riset Baruna Jaya BPPT. Metode penempatan platform buoy di dasar laut harus direncanakan secara baik, mulai dari desain, spesifikasi teknis, rencana operasi, dan teknis pelaksanaan yang sesuai dengan prosedur standar. Hal ini cukup penting mengingat platform buoy dibangun dengan biaya yang cukup besar, dan biaya operasi survei yang besar juga, sehingga sistem ini harus ditempatkan di laut lepas secara akurat dengan menggunakan teknologi survei kelautan yang handal. Selain itu, kondisi cuaca juga harus diperhatikan dengan baik karena lokasinya adalah di samudera lepas. Kondisi arus laut juga harus diketahui secara akurat agar sistem mooring buoy bisa tegak terpasang dengan baik, dan sistem OBU mampu mendeteksi tinggi muka laut dan mengirimkannya ke buoy permukaan, selanjutnya dikirimkan ke pusat data Ina-TOC di Jakarta via satelit.



Oseanika ◽  
2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 38-52
Author(s):  
Ghifari Raihan Silam Siregar ◽  
Muslim Muslim ◽  
Ali Ali ◽  
Baskoro Rochaddi ◽  
Sugeng Widada

Material radioaktif alam atau NORM (naturally occurring radioactive materials) adalah material yang terkandung di bumi dan umumnya berasal dari beberapa sumber seperti pembakaran batubara, produksi migas, dan penambangan. Daerah pesisir laut banda, khususnya sepanjang Luwuk, Morowali, dan Kendari, Sulawesi Tengah, adalah daerah yang menjadi lokasi untuk beberapa kegiatan, seperti industri pertambangan, migas, dan pembangkit listrik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji sebaran laju dosis serap material NORM pada sedimen dasar Laut banda, khususnya sepanjang Luwuk, Morowali, dan Kendari, Sulawesi Tengah, serta menganalisis nilainya terhadap baku mutu yang ada. Pengukuran laju dosis serap dari 226Ra, 232Th, dan 40K yang dilakukan pada 5 stasiun dan didapatkan hasil sebesar 52,53 nGy/jam; 355,75 nGy/jam; 45,88 nGy/jam; 131,86 nGy/jam; dan 35,38 nGy/jam. Hasil kajian yang didapatkan menunjukan bahwa sebaran nilai laju dosis serap dipengaruhi oleh kegiatan industri penghasil NORM yang dekat dengan lokasi stasiun pengukuran. Pola arus dan batimetri sendiri tidak terlalu berpengaruh dalam wilayah kajian ini. Tingkat bahaya laju dosis serap yang didapatkan masih berada <1 sehingga mengindikasikan bahwa risiko terhadap organisme di sekitar perairan tersebut tergolong rendah.



Oseanika ◽  
2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 17-30
Author(s):  
Dwi Haryanto ◽  
Adam Budi Nugroho ◽  
Muhamad Irfan ◽  
Yudo Haryadi
Keyword(s):  

Indonesia terletak di perbatasan tiga lempeng tektonik yang bergeser satu sama lain, Lempeng Indo- Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia. Pergerakan relatif antara lempeng tektonik ini dapat  menyebabkan terjadinya gempak tektonik di laut. Gempa tektonik di laut merupakan salah satu penyebab utama tsunami di Indonesia. Ina-Buoy merupakan sistem teknologi peringatan tsunami yang meliputi sensor yang terpasang di dasar laut Ocean Bottom Unit (OBU) dan sensor tersebut mengirimkan sinyal ke stasiun surface buoy yang mengapung di atas permukaan air laut menggunakan  sistem mooring. Pemasangan buoy tsunami harus berada pada lokasi yang tepat dan mempertimbangkan  beberapa parameter, yaitu: parameter kedalaman, gradien dasar laut, dan tipe material dasar laut. Studi penempatan lokasi buoy tsunami di Selatan Jawa-Bali berdasarkan hasil penilaian tiga parameter telah    menghasilkan tiga lokasi yang tepat untuk pemasangan buoy tsunami.  Lokasi pertama berada di selatan Malang pada  koordinat 112°31’34”BT, 9°11’41”LS yang memiliki kedalaman 2042m, gradien dasar laut 2° atau 2.5%, dan tipe material dasar laut berupa lempung abu kehijauan dengan ketebalan sekitar 20 cm. Lokasi kedua berada di Selatan Selat Sunda pada koordinat 104°00’22”BT, 6o30’19”LS yang memiliki kedalaman 2038m, gradien dasar laut 0.31° atau 0.5% (< 5°), dan tipe material dasar laut berupa lempung abu kehijauan dengan ketebalan sekitar 25 cm. Sedangkan lokasi ketiga berada di Selatan Bali pada koordinat 115°12’37”BT, 9°44’22”LS memiliki kedalaman 4282.5m, gradien dasar laut 0.31° atau 0.5%, dan tipe material dasar laut berupa lempung abu kecoklatan dengan ketebalan sekitar 30 cm.



Oseanika ◽  
2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 53-65
Author(s):  
Tris Handoyo ◽  
Rizki Adi Nugroho ◽  
Arfis Maydino Firmansyah Putra ◽  
Dinar Novandia Sunjayani

Keselamatan kapal menjadi isu global dan komisi keselamatan maritime dari IMO (International Maritime Organization) mengembangkan persyaratan untuk diterima oleh para pihak yang menandatangani Konvensi Internasional untuk keselamatan jiwa di laut SOLAS 1974 (Safety Of Life At Sea 1974). Sementara itu, stabilitas kapal adalah faktor penting dalam menjaga keselamatan kapal dari kecelakaan kapal oleh faktor ketidak setimbangan. Melalui uji kemiringan (inlcining test) dan pembebanan pada kapal. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas kapal pada KR. Baruna Jaya II sebagai kapal riset khusus survei seismik. Hasil Analisis stabilitas kapal kemudian dibandingkan dengan kriteria umum stabilitas kapal menurut standar IMO dan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Sebagai hasil, tinggi metacenter dan nilai penegak (GZ) memenuhi ketentuan menurut BKI dan IMO. Lebih lanjut, seluruh uji stabilitas kapal secara umum juga menunjukkan hasil yang sesuai standar IMO. Sementara itu, beberapa kondisi yang tidak memenuhi persyaratan dapat menjadi normal melalui pengaturan ballas secara penuh.  Kajian lebih lanjut diperlukan terutama terkait penentuan spesifikasi dan penempatan ballas tetap untuk perhitungan stabilitas kapal dengan ballas tetap.



Oseanika ◽  
2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 31-37
Author(s):  
Taufan Wiguna

Rekonstruksi paleobatimetri dan penentuan batas pengendapan dalam eksplorasi migas telah digunakan untuk mengetahui sejarah geologi suatu cekungan. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan proksi mikrofosil, salah satunya foraminifera. Penelitian ini menggunakan data kelimpahan foraminifera untuk merekonstruksi paleobatimetri dan menentukan batas pengendapan pada sedimen inti SO189/2-04KL 600-900 cmbsf di Cekungan Bengkulu. Metodologi yang digunakan adalah dengan rasio P/B dan kelimpahan foraminifera planktonik. Sebagai hasil, perubahan parameter foraminifera menunjukkan adanya perubahan paleobatimetri antara neritik luar dan batial bawah. Batial bawah hanya muncul pada interval 780-785 cmbsf. Bidang banjir maksimum (MFS) berada di kedalaman 640, 736,5, dan 825 cmbsf, sedangkan bidang transgresif (TS) berada di kedalaman 701, 765, dan 890 cmbsf.



Oseanika ◽  
2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 1-12
Author(s):  
Trevi Jayanti Puspasari ◽  
Sumirah Sumirah

ABSTRAK Tuntutan untuk mengikuti perkembangan kebutuhan industri migas menjadi motivasi dalam mengembangkan teknik penerapan dan aplikasi akuisisi seismik multichannel 2D. Perkembangan kebutuhan eksplorasi industri migas tidak diimbangi dengan  anggaran peningkatan alat survei seismik milik negara termasuk yang terpasang di K.R. Baruna Jaya II – BPPT. Penerapan metode pseudo 3D pada disain survei dan pengolahan data dapat menjadi solusi efektif dan efisien dalam mengatasi persoalan tersebut. Metode Pseudo 3D merupakan suatu teknik akuisisi dan pengolahan data dengan menitik beratkan pada disain akuisisi dan inovasi pengolahan data seismik 2D menghasilkan penampang keruangan (3D) berdasarkan input data seismik yang hanya 2D. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode pseudo 3D seismik di Cekungan Jawa Barat Utara menggunakan wahana KR. Baruna Jaya II yang dilakukan pada Desember 2009. Sebagai hasil, pengolahan data 2D lanjutan telah dilakukan dan diperoleh profil penampang seismik keruangan (3D). Profil hasil pengolahan data Pseudo 3D ini dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan dan rencana survei berikutnya. Kata Kunci: Seismik Pseudo 3D, Seismik multichannel 2D, K.R. Baruna Jaya II, Cekungan Jawa Barat Utara. ABSTRACT [Aplication of Seismic Pseudo 3D in Nort West Java Basin Using K.R. Baruna Jaya II] The demand to follow the growth of  needs in the oil and gas industry is a motivation in the developing of techniques for assessment and applying 2D multichannel seismic acquisition. The development of exploration needs for the oil and gas industry is not matched by budget for an upgrade Government’s seismic equipment including equipment installed in K.R. Baruna Jaya II. Applied Pseudo 3D method in survey and seismic data processing can be an effective and efficient solution. The pseudo 3D method is a data acquisition and processing technique with an emphasis on the acquisition design and 2D seismic data processing innovation to produce a 3D seismic volume. This study aims to apply the pseudo 3D seismic method in the North West Java Basin using the K.R. Baruna Jaya II which was held in Desember 2009. As a Result, advanced seismic processing was carried out to output a seismic volume (3D) profile. This profile can be used as a reference in making decisions and planning the next survey.   Keywords:          Pseudo 3D Seismic, Seismic 2D multichannel, K.R. Baruna Jaya II, Nort West Java Basin.



Oseanika ◽  
2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 34-47
Author(s):  
Dwi Haryanto ◽  
Hendra Kurnia Febriawan ◽  
Yudo Haryadi ◽  
Rahadian Rahadian ◽  
Djunaedi Muljawan
Keyword(s):  

Tsunami merupakan kejadian alam yang dipengaruhi oleh aktifitasyang terjadi di dasar laut seperti gempa laut, gunung berapimeletus, dantanah longsor di dasar laut. Indonesia yang berada pada kawasan “Pacific ring of fire” merupakan negara yang rawan akan bencana tsunami. Saat ini, BPPT telah mengembangkan beberapateknologi untuk mendeteksi tsunami, salah satunya dengan Indonesia Cable Base Tsunamimeter (Ina-CBT). Teknologi ini dapat mendeteksi tsunami dengan menggunakan sensor di Ocean Bottom Unit (OBU) yang terpasang di dasar laut dan kemudian OBU dapat mengirimkan sinyal melalui kabel di dasar laut ke stasiun di darat. Pada tahun 2020 ini, BPPT berencana akan melakukan pemasangan empat kabel laut Indonesia (Ina-CBT) di beberapa lokasi yang memiliki potensi tsunami yang cukup besar yaitu segment Labuan Bajo,segment Rokatenda, segment Ibu Kota Negara (IKN) dan segment Cilacap – Krui.Untuk mendukung kegiatan Ina-CBT, perlu dilakukan survei pemetaan dasar laut untuk mengetahui kondisi dasar laut agar didapatkan lokasi penempatan kabel laut yang tepat dan terhindar dari bahaya (hazard) baik pada saat penggelaran maupun untuk keperluan pemeliharaan kabel.  Penelitian ini menjelaskan prosedur pelaksanaan survei pemetaan bawah laut untuk perencanaan sistem kabel laut Indonesia (Ina-CBT).Prosedur pelaksanaan survei meliputi lingkup pekerjaan survei, metode survei, wahana dan peralatan survei, proses data hasil survei, dan laporan hasil survei. Pengembangan prosedur survei yang tepat diperlukan untuk menghasilkan data yang berkualitas.    



Oseanika ◽  
2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 23-33
Author(s):  
Afif Widaryanto ◽  
Fineza Ilova

Kebanyakan aktifitas yang berkaitan dengan laut sangat memerlukan data prediksi pasang surut. Hal ini menuntut adanya sistem prediksi dengan akurasi yang tinggi. Penerapan kecerdasan artifisial yang semakin meluas dengan berbagai keandalannya menginspirasi penelitian ini untuk mengaplikasikan model prediksi pasang surut menggunakan jaringan saraf tiruan. Dengan masukan data pasang surut tujuh hari sebelumnya untuk memprediksi pasang surut 6 dan 12 jam ke depan dapat modelkan menggunakan jaringan sarat tiruan berbasis metode pembelajaran propagasi balik. Hasilnya, unjuk kerja pengujian model prediksi sangat memuaskan dengan rata-rata akurasi di atas 90% serta nilai MSSE(mean sum square error) yang rendah.



Oseanika ◽  
2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 13-22
Author(s):  
Endro Soeyanto ◽  
Agus Sudaryanto ◽  
Rizki Adi Nugroho
Keyword(s):  

Upaya pemantauan lingkungan termasuk kondisi oseanografi dan interaksinya dengan atmosfer adalah penting dalam upaya untuk memberikan basis data bagi pemanfaatan, perlindungan dan pengelolaan lingkungan maritim.  Pemenuhan sistem pemantauan yang cepat, terus-menerus dan mendekati real-time menjadi suatu kebutuhan. Kabupaten Penajam Paser Utara (Kab. PPU) telah direncanakan sebagai lokasi Pembangunan Pusat Riset dan Inovasi Teknologi Kelautan atau National Science Technopark Maritime (NSTP-M) yang diantaranya dilengkapi pusat pemantauan maritim.  Dengan menggabungkan berbagai subsistem, termasuk akuisisi data, pendistribusian data dan daya, serta pengelolaan catu daya, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran sistem pemantauan yang dikembangkan dan data yang telah dihasilkan dari stasiun observasi maritim untuk rencana NSTP-M. Sebagai hasil, stasiun observasi maritim telah dapat memantau parameter cuaca, pasang surut dan arus permukaan secara kontinu dan near real time (nRT) dengan mengadopsi survei Meteorologi-oseanografi (Met-Ocean) dan terintegrasi dalam proses pengelolaan dan pengolahan data di pusat kendali dan penerima data RDS (read down station), BPPT.



Oseanika ◽  
2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 48-64
Author(s):  
Athur Yordan Herwindya ◽  
Hendra Kurnia Febriawan ◽  
Adam Budi Nugroho ◽  
Arnold Dannari
Keyword(s):  

Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu tujuan wisata utama di Indonesia dan juga sebagai kawasan konservasi alam. Hal tersebut disebabkan karena wilayah tersebut kaya akan keanekaragaman hayati, kenampakan dan sumber daya alam, serta budaya. Pada tahun 2014, pemerintah Indonesia menyelenggarakan kegiatan Sail Raja Ampat sebagai bagian promosi pembangunan di wilayah tersebut. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berperan dalam kegiatan Sail tersebut dengan menggunakan KR Baruna Jaya IV untuk melakukan survei kelautan maupun kegiatan diseminasi teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kegiatan survei hidro-oseanografi di perairan Raja Ampat sebagai bagian kegiatan Sail Raja Ampat. Kegiatan survei dilakukan pada dua area utama yaitu Teluk Kabui dan Selat Sagewin. Hasil menunjukkan bahwa survei tersebut mampu memberikan gambaran morfologi di kedua area tersebut. Secara batimetri perairan Teluk Kabui memiliki kedalaman antara 18 – 53 meter, sedangkan kedalaman perairan Selat Sagewin berkisar antara 104  - 508 meter. Rata – rata suhu di perairan Raja Ampat diketahui berkisar antara 28? – 29?C dan memiliki salinitas berkisar antara 32.5 - 35 psu. Litologi berupa batupasir, batugamping, dan lempung juga berhasil diketahui dari survei tersebut. Data – data ilmiah kebumian tersebut bermanfaat untuk melengkapi data – data yang sudah ada ataupun sebagai dasar perencanaan kegiatan penelitian selanjutnya. Disamping itu, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui karakteristik alam di perairan Raja Ampat sebagai pendukung kegiatan pembangunan di wilayah tersebut.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document