Jurnal Agroecotania Publikasi Nasional Ilmu Budidaya Pertanian
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

12
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By "Faculty Of Education And Teacher Training, Jambi University"

2621-2854, 2621-2846

Author(s):  
Marlina ◽  
Fikrinda

Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), perlakuan terdiri dari padi mono kultur, kacang tanah mono kultur, dan tumpang sari padi- kacang tanah. Dosis mikoriza yang digunaka 0 gram pertanaman (0 g.tanaman-1) dan 10 gram pertanaman. Tiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Pupuk urea, SP36, dan KCL diberikan pada saat tanam dengan cara larikan. Pemeliharaan ,meliputi penyiraman, pengendalian gulma hama tanaman. Peubah yang diamati meliputi : ti9nggi tanaman, jumlah anakan, persentase tanaman terserang, hasil gabah kering padi, dan biji kering kacang tanah. Petak percobaan, yang masing-masing berukuran 4 x 3 meter. Padi gogo varietas Situ Bagendit ditanam dengan jarak tanam 30 x 20 cm pola monokultur, kacang tanah varietas lokal jarak tanam 30 x 20 cm pola monokultur, dan tumpangsari padi gogo- kacang tanah. Aplikasi fungi mikoriza sebanyak 10 g per lubang tanam padi gogo dan kacang tanah pada kedalaman 5 cm, kemudian ditutup dengan tanah. Benih ditanam di atasnya kemudian ditutup lagi dengan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tumpang sari padi gogo varietas Situ Bagendit dapat meningkatkan tinggi tanaman padi, jumlah, anakan, menekan perseentase tanaman terserang penyakit blast, dan meningkatkan hasil tanaman padi. Semua variabel itu lebih meningkat lagi dengan pemberian mikoriza, baik pada monokultur maupun pola tumpang sari.



Author(s):  
Ana Farida iriani ◽  
Sri Nur Widyastuti

Tanaman cincau merupakan salah satu jenis tanaman pangan yang sudah sejak dulu dimanfaatkan penduduk untuk mengobati berbagai penyakit. Kembali maraknya variasi pangan tradisional, maka dianggap perlu adanya perluasan areal sentra penanaman sehingga berakibat penambahan jumlah pengadaan bibit. Perbanyakan tanaman cincau hanya efektif melalui organ vegetatif, yaitu melalui setek batang. Upaya stimulasi keberhasilan perbanyakan melalui setek dapat dengan penggunaan zat pengatur tumbuh alami seperti air kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi berapa konsentrasi air kelapa yang tepat untuk memacu pertumbuhan setek cincau. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima perlakuan dan lima ulangan, yaitu: A konsentrasi air kelapa 0%, B konsentrasi air kelapa 15%, C konsentrasi air kelapa 30%, D konsentrasi air kelapa 45%, dan E konsentrasi air kelapa 60%. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam pada taraf uji 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air kelapa adalah positif terhadap percepatan pertumbuhan setek tanaman cincau. Perendaman setek dalam air kelapa sebelum tanam pada konsentrasi 30%, mampu menstimulasi jumlah tunas dan jumlah daun, sedangkan pada konsentrasi 45% menstimulasi jumlah akar adventif terbanyak pada tanaman cincau hijau perdu baru.



Author(s):  
Lastri Siagian ◽  
Wilyus ◽  
Fuad Nurdiansyah

Kacang hijau (Phaseolus radiatus L) umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan dan industri pakan. Saat ini permintaan pasar akan kacang hijau terus meningkat, sedangkan produksinya terus menurun. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi kacang hijau adalah serangan hama. Petani umumnya melakukan pengendalian hama dengan menggunakan pestisida sintetik tanpa mempertimbangkan dampak negatif terhadap lingkungan dan konsumen. Sitem tanam tumpangsari merupakan salah satu cara budidaya yang ramah lingkungan yang berpotensi menurunkan kerusakan tanaman akibat hama, akan tetapi informasi cara budidaya tersebut pada tanaman kacang hijau masih terbatas. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang dikelompokkan berdasarkan kemiringan lahan dan terdiri dari 4 perlakuan yaitu: P1 (Monokultur kacang hijau (kontrol)); P2 (Tumpangsari kacang hijau + bawang daun); P3(Tumpangsari kacang hijau + bunga matahari); P4 (Tumpangsari kacang hijau+bunga matahari + bawang daun). Variabel pengamatan pada penelitian adalah kelimpahan jenis serangga, fungsi ekologi serangga, persentase tanaman terserang dan produksi kacang hijau. Data dianalis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji lanjut tukey. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa nilai kelimpahan serangga pada semua perlakuan tidak berbeda, akan tetapi persentase serangan hama terendah terdapat pada perlakuan P4, sedangkan jumlah populasi musuh alami, penyerbuk dan produksi tertinggi terdapat pada perlakuan P4.



Author(s):  
Ricardo Tamba ◽  
Dede Martino ◽  
Sarman

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian auksin (NAA) terhadap pertumbuhan tunas tajuk dan tunas cabang akar bibit karet okulasi mata tidur (Hevea brasillensis Muell. Arg). Penelitian ini dilaksanakan di Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Mendalo Indah, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu A0 : Tanpa Perlakuan, A1 : Pemberian Auksin (NAA) 25 ppm, A2 : Pemberian Auksin (NAA) 50 ppm, A3 : Pemberian Auksin (NAA) 75 ppm dan A4 : Pemberian Auksin (NAA) 100 ppm. Variabel yang diamati meliputi persentase mentis, hari muncul tunas, panjang tunas okulasi, diameter tunas okulasi, jumlah daun, jumlah akar, panjang total akar, bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian auksin (NAA) terhadap pertumbuhan tunas tajuk dan tunas cabang akar stum okulasi mata tidur karet menunjukkan reaksi. Pemberian Auksin (NAA) 25 ppm menunjukkan konsentrasi terbaik dibandingkan perlakuan lainya dan tanpa perlakuan pada variabel pengamatan persentase mentis, diameter tunas, jumlah daun, panjang akar dan berat kering akar.



Author(s):  
Saputra ◽  
M. Syarif ◽  
Y. Achnopha

Lahan gambut mencakup 3% dari daratan bumi dan menyimpan sebagian besar sumber daya karbon dunia yang kurang lebih setara dengan 1/3 dari karbon dalam tanah global. Selama kurun waktu 12 tahun terjadi penurunan kandungan karbon sebesar 438 juta ton di provinsi Jambi yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan, pembukaan lahan, sisem drainase dan dan kebakaran lahan gambut. Adanya penurunan jumlah cadangan karbon tersebut mengindikasikan karbon yang semula berada pada lahan gambut telah teremisi ke atmosfer sehingga berdampak pada pemanasan global. Hutan Lindung Gambung (HLG) Londerang adalah salah satu ekosistem hutan gambut tropis yang masih tersisa di Sumatera bagian tengah dengan kondisi sangat kritis akibat peristiwa kebakaran hutan, dengan demikian fungsi ekologinya tidak lagi berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi jumlah cadangan karbon bawah permukaan, mengetahui potensi emisi karbon serta memberikan arahan pengelolaan karbon di areal hutan lindung gambut Londerang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pelaksanaan penelitian ini menggunakan Metode Survei. Penentuan titik-titik pengamatan dibuat secara transek yaitu tegak lurus terhadap tanggul sungai dengan grid 500 x 1000 m sehingga diperoleh 38 titik pengamatan pada lokasi penelitian seluas 19.00 Ha. Jumlah total cadangan karbon bawah permukaan di areal penelitian seluas 19.00 Ha adalah 6.654.152,19 ton atau 3502 ton/Ha. Potensi emisi karbon yang dihasilkan akibat hilangnya gambut setebal 10 cm karena terbakar pada lahan penelitian seluas 1900 Ha adalah sebesar 12367,1 ton C atau 6,509 ton/Ha. Upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk menekan laju emisi karbon dan mempertahankan fungsi lahan gambut sebagai pengikat karbon dalam jumlah yang besar adalah dengan melakukan restorasi hidrologi dan revegetasi.



Author(s):  
Efran Sitohang ◽  
Sosiawan Nusifera ◽  
Helmi Salim

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemangkasan reproduktif dengan interval bervariasi pada komponen hasil dan hasil ubi bengkuang. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Jambi, Mendalo Indah Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari satu faktor. Perlakuan yang diberikan terdiri atas 5 interval waktu peamngkasan reproduktif yaitu = Tanpa pemangkasan, = Pemangkasan dengan interval 3 hari, = Pemangkasan dengan interval 6 hari, = Pemangkasan dengan interval 9 hari dan = Pemangkasan dengan interval 12 hari. Parameter yang diamati adalah jumlah ubi pertanaman, bobot ubi per tanaman, diameter ubi (cm), panjang ubi (cm), volume ubi (ml), biomasa tanaman (g), indeks panen (%) dan bobot ubi bengkuaang pertanaman (g). Data dianalisis dengan menggunakan analisis varians. Sebelumnya data diuji asumsi normalitasnya dengan mengunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Selanjutnya, data yang telah teruji normal dianalisis dengan menggunakan Uji Duncan pada taraf alpa 5%, Jika asumsi kenormalan data tidak terpenuhi maka dilakukan transformasi data sebelum melakukan analisis varians. Untuk mendapatkan interval pemangkasan yang optimum, dilakukan analisis regresi dengan menggunakan model regresi. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemangkasan reproduktif dengan interval bervariasi pada komponen hasil dan hasil ubi bengkuang (Pachyrhizus erosus L. Urban) pada diameter ubi, panjang ubi, volume ubi, indeks panen ubi dan bobot ubi bengkuang per tanaman kecuali pada jumlah ubi pertanaman dan biomassa tanaman. Sedangkan interval pemangkasan yang optimum memberi komponen hasil dan hasil ubi bengkuang terbaik pada percobaan ini adalah dengan interval pemangkasan 7 hari dengan bobot ubi adalah 1.063,54 g per ubi.



Author(s):  
Mapegau Mapegau ◽  
Asrizal Paiman ◽  
Marlina Marlina
Keyword(s):  

Penelitian lapangan yang bertujuan untuk mempelajari karakter agronomi ratun dari beberapa varietas padi lokal pasang surut Tanjung Jabung Timur(Tanjabtim) telah dilaksanakan di lahan petani Desa Lambur Luar Kecamatan Sabak Timur, Kabupaten Tanjabtim.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok  (RAK) tiga ulangan. Lima varietas padi lokal pasang surut berupa tanaman induk yang digunakan sebagai perlakuan adalah: Temon, Dawi, Sere, Minang, dan Pulo. Bibit padi yang telah berumur 3 minggu dipersemaian ditanam pada petakan berukuran 3 x 2 m dengan jarak tanam 30 x 25 cm. Tinggi pemotongan rumpun tanaman induk 20 cm dari permukaan tanah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratun tertinggi diperoleh dari tanaman induk varietas Pulo (101,07 cm) dan varietas Minang (87,60 cm). Ratun dengan tinggi terendah diperoleh dari tanaman induk varietas Sere (51,23 cm). Jumlah anakan ratun tertinggi diperoleh pada tanaman induk Varietas Sere yaitu 58,04 batang/rumpun, tetapi yang produktif 27,28 batang/rumpun atau 47%.  Tanaman induk Variets Pulo  menghasilkan ratun dengan jumlah anakan 40,87 batang/rumpun dan yang produktif sebanyak 37,98 batang/rumpun atau 92,93%, sedangkan tanaman induk Varietas Minang menghasilkan anakan ratun sebanyak  45,33 batang/rumpun dan yang produktif 40,22 batang/rumpun atau 88,73%. Malai terpanjang diperoleh pada ratun dari varietas Minang dan Pulo masing-masing 22,61 cm dan 22,20 cm. Sedangkan malai terpendek diperoleh pada ratun dari tanaman induk varietas Sere (15,58 cm). Jumlah gabah per malai tertinggi diperoleh pada varietas Pulo (161,45 butir) dan yang berisi sebanyak 92,12 butir (57,06%). Varietas Minang menghasilkan gabah per malai 154,13 butir dan yang berisi 106,13 (68,86%), varietas Sere 100,54 butir per malai yang berisi 14,87 butir (14,79%). Jumlah gabah per malai varietas Dawi adalah sebanyak 107,68 butirdan yang berisi 77,68 butir (72,14%), varietas Temon 105,10 butir per malai dan yang berisi 50,10 butir (47,67%). Ratun dari tanaman induk Varietas Minang dan Pulo lebih mampu mempertahankan kehijauan daun dan pangkal batang dan bentuk sudut daun yang lebih tegak.   Kata kunci: Ratun, karakter agronomi, padi pasang surut.



Author(s):  
Poppy Oktania ◽  
Husda Marwan ◽  
Asniwita Asniwita

Bacillus merupakan rizobakteri yang dapat menghambat patogen tanaman dengan mekanisme antagonis berupa antibiosis. Bacillus spp. dapat mengendaliakan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii pada tanaman kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri Bacillus spp. dari rizosfer tanaman kedelai untuk mengendalikan penyakit rebah kecambah pada tanaman kedelai. Pelaksanaan pengujian bakteri dilakukan secara in vitro dan in planta. Pengujian secara in planta menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 14 perlakuan terdiri atas 2 perlakuan kontrol (sehat dan sakit), 1 perlakuan menggunakan fungisida, dan 11 perakuan menggunakan isolat bakteri Bacillus spp. Hasil pengujian menunjukan bahwa perlakuan bakteri Bacillus spp. berpengaruh nyata terhadap persentase rebah kecambah. Terdapat beberapa isolat mampu menekan penyakit rebah kecambah sebelum muncul kepermukaan tanah dan semua bakteri Bacillus spp. mampu menekan penyakit rebah kecambah setelah muncul kepermukaan tanah pada tanaman kedelai. Kata kunci : rizobakteri, Bacillus spp., penyakit rebah kecambah, Sclerotium rolfsii



Author(s):  
Gandhi Ihza Fadli ◽  
Rainiyati Rainiyati ◽  
Mukhsin Mukhsin

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa jenis mikoriza terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di polybag dan untuk mendapatkan jenis mikoriza yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di polybag. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium dan Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Desa Mendalo Indah, Kecamatan Jambi Luar Kota, Muaro Jambi selama 4 bulan yaitu dari 26 Agustus sampai dengan bulan 28 Desember 2017. Perlakuan yang di uji yaitu Glomus sp1, Glomus sp2, Glomus sp3, Glomus sp4, Glomus sp5, dan gabungan Glomus sp1 sampai sp5 dengan pemberian dosis sebanyak 20 g per tanaman dan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh jenis Mikoriza (Glomus sp) terhadap beberapa parameter pengamatan, yaitu pada parameter jumlah polong pertanaman dan jumlah polong berisi pertanaman, pada parameter bobot tajuk, bobot akar, bobot 100 biji, hasil per tanaman, infeksi akar dan serapan P tanaman belum ditemukan pengaruh yang signifikan pada tanaman kedelai. Pemberian jenis Glomus sp2 dan Glomus sp3 memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan tanaman kedelai.



Author(s):  
Akhir Sabri Harahap ◽  
Sarman Sarman ◽  
Rinaldi Rinaldi

The management of the umbrella rubber plant of a clone PB 260 in the former mine is considered to be one of the main alternative solutions to overcome the unproductive lands with the provision of a solid decanter. This research was conducted at Teaching and Research Farm Faculty of Agriculture, University of Jambi from June to September 2017 with the aim to know the best decanter dose of rubber seed growth on the former land of coal mine in polybag. This research used a Completely Randomized Design (RAL) with 6 levels of treatment (a0) Without the solid decanter, (a1) 400 g/polybag, (a2) 500 g/polybag, (a3) 600 g/polybag, (a4) 700 g/polybag, (a5) 800 g/polybag. Each treatment consisted of 4 replications, and each replication consisted of 4 plants and 2 plants used as samples.Based on the result of this research, it can be concluded that the provision of solid decanter to the growth of rubber seedlings (Hevea brasiliensis Muell. Arg) one umbrella with soil media used for coal mining area gives better growth to diameter, number of leaf, dry weight of crown, and root dry weight than seed rubber without a solid decanter and generally a solid decanter treatment with a dose of 500 g / polybag showed improved rubber seed growth better than other treatments.   Keyword: rubber seedlings the first umbrella,coal mine, solid decanter.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document