MATHEdunesa
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

109
(FIVE YEARS 109)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Negeri Surabaya

2301-9085, 2301-9085

MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 162-171
Author(s):  
Firnanda Muharrima ◽  
Janet Trineke Manoy

Kemampuan matematika siswa Indonesia pada PISA menempati peringkat ke 72 dari total 78 negara, hal ini menunjukkan bahwa siswa Indonesia belum mampu menyelesaikan soal berupa masalah yang memerlukan keterampilan berpikir tingkat tinggi diantaranya keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispikan kemampuan berpikir kreatif siswa SMP yang diberikan scaffolding sesuai gaya belajar dalam menyelesaikan soal HOTS (High Order Thinking Skills) materi kesebangunan dan kekongruenan. Subjek penelitian diambil dari 3 siswa kelas 9 SMP Negeri 31 Surabaya, dimana setiap siswa mewakili gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Teknik pengumpulan data menggunakan tes gaya belajar, tes kemampuan berpikir kreatif, dan wawancara. Scaffolding diberikan kepada siswa yang tidak kreatif atau tidak mampu menyelesaikan Tes Kemampuan Berpikir Kreatif (TKBK I). Setelah diberikan scaffolding sesuai gaya belajar, subjek dapat menyelesaikan TKBK I, TKBK II, serta menggunakan cara lain yang berbeda. Kemampuan berpikir kreatif matematis subjek dengan gaya belajar kinestetik meningkat dari tidak kreatif menjeadi cukup kreatif, subjek dengan gaya belajar audio dan visual meningkat dari tidak kreatif menjadi kreatif. Pada proses pemberian scaffolding, subjek dengan gaya belajar visual dan audio lebih cepat menerima dan memahami bantuan dari peneliti, sedangkan subjek dengan gaya belajar kinestetik membutuhkan waktu yang lebih lama dan penjelasan yang lebih rinci. Disimpulkan bahwa scaffolding sesuai gaya belajar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa.


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 157-161
Author(s):  
Evan Bagus Armanda Putra
Keyword(s):  

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra yang digunakan terhadap pemahaman konsep, berpikir kritis, dan penalaran adaptif pada siswa. Penelitian ini dilakukan pada pokok bahasan, transformasi geometri yaitu pada materi translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi untuk siswa kelas XI IPA 1 SMA Amanatul Ummah Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode Pre-Experimental Design dengan jenis rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 25 siswa dan diberi perlakuan berupa pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra dengan diberikannya Pretest dan Posttest pada pembelajaran sebelum menggunakan GeoGebra dan setelah menggunakan GeoGebra. Lembar Pretest dan Posttest, lembar observasi aktifitas siswa, dan angket respon siswa digunakan sebagai instrumen dalam penelitian ini. Berdasarkan uji Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada hasil penelitian ini yang berupa peningkatan pada kemampuan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan penalaran adaptif siswa. Hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan menunjukkan aktivitas siswa yang aktif selama pelaksanaan pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra. Hasil angket respon siswa menunjukkan respon yang positif terhadap pembelajaran pengajuan masalah berbantuan GeoGebra dari semua aspek.  Kata Kunci: Pembelajaran Pengajuan Masalah, Pemahaman Konsep, Berpikir Kritis, Penalaran Adaptif, GeoGebra.


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 147-156
Author(s):  
Firdausin Nuzula ◽  
Endah Budi Rahaju
Keyword(s):  

Number sense berperan penting dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diperoleh dari pengalaman belajar sejak usia dini. Number sense merupakan kemampuan seseorang dalam memahami bilangan dan operasinya serta menggunakannya untuk menyelesaikan masalah secara fleksibel. Setiap individu memiliki number sense yang berbeda, salah satu penyebabnya adalah gaya kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan number sense siswa pada materi eksponen ditinjau berdasarkan gaya kognitif reflektif dan impulsif. Subjek dalam penelitian ini adalah satu siswa bergaya kognitif reflektif dan satu siswa bergaya kognitif impulsif kelas X dengan peminatan Ilmu Pengetahuan Alam berjenis kelamin sama dan berkemampuan matematika setara. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi Tes Gaya Kognitif (TGK), Tes Kemampuan Matematika (TKM), Tes Number Sense (TNS), dan pedoman wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, subjek reflektif dan impulsif mampu menjelaskan definisi eksponen akan tetapi subjek impulsif tidak mengetahui hubungan bentuk akar dengan eksponen. Kedua subjek mampu mengubah bentuk eksponen dengan nilai ekuivalen. Subjek reflektif mampu menggunakan sifat perkalian, pembagian, dan perpangkatan eksponen. Sedangkan subjek impulsif dapat menggunakan sifat perkalian dan perpangkatan eksponen meskipun membuat beberapa kesalahan. Subjek reflektif dan impulsif menggunakan metode perhitungan mental dan kertas. Subjek reflektif mampu memberi alternatif lain penyelesaian TNS, namun tidak dengan subjek impulsif. Subjek reflektif mengecek kembali jawabannya, sedangkan subjek impulsif tidak mengecek kembali padahal ia telah melakukan beberapa ketidaktelitian. Kata Kunci: number sense, reflektif, impulsif, eksponen.


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 121-136
Author(s):  
Aulia Rohmatul Hidayah

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah matematika kontekstual ditinjau dari kemampuan matematika dan jenis kelamin pada materi persamaan linear dua variabel (SPLDV) kelas VIII. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek diambil dari 50 siswa yang diberikan tes kemampuan matematika. Melalui hasil tes, diperoleh enam siswa dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang masing-masing jenis kelamin terdiri dari tiga kategori kemampuan matematika, tinggi, sedang dan rendah sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa siswa laki-laki dan perempuan berkemampuan matematika tinggi melakukan semua tahap proses berpikir, yaitu menerima, menyimpan, mengolah, dan memanggil kembali informasi pada setiap tahap pemecahan masalah. Siswa laki-laki berkemampuan matematika sedang tidak memanggil kembali informasi saat memahami masalah, tidak mengolah informasi saat melaksanakan rencana penyelesaian, dan tidak melakukan tahap memeriksa kembali. Sedangkan  siswa perempuan tidak memanggil kembali informasi saat memahami masalah dan tidak mengolah informasi pada tahap memeriksa kembali. Siswa laki-laki berkemampuan matematika rendah saat memahami masalah melakukan proses menerima, menyimpan, mengolah, dan memanggil kembali informasi, dan pada tahap memeriksa kembali melakukan proses memanggil kembali informasi . Sedangan siswa perempuan tidak memanggil kembali informasi saat memahami masalah, dan tidak mengolah informasi saat merencakan penyelesaian. Urutan tahapan dan proses berpikir yang dilakukan masing-masing siswa berbeda. Dengan adanya perbedaan tersebut, guru diharapkan dapat mengenali proses berpikir dan urutan yang dilakukan siswa serta dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan proses berpikir siswa pada masing-masing kategori kemampuan matematika dan jenis kelamin, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematika. Kata Kunci: Proses Berpikir, Pemecahan Masalah Kontekstual, Kemampuan matematika, Jenis Kelamin


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 137-146
Author(s):  
Rizcha Handini Setiani

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran daring pada materi persamaan dan fungsi kuadrat. Keefektifan pembelajaran ditinjau dari empat aspek, yakni: kegiatan guru, kegiatan peserta didik, ketuntasan belajar peserta didik, dan reaksi peserta didik terhadap pembelajaran. Suatu pembelajaran dikatakan efektif jika paling sedikit tiga dari empat aspek di atas terpenuhi, dengan ketentuan aspek ketuntasan belajar peserta didik terpenuhi. Learning Management System (LMS) yang digunakan untuk penelitian ini adalah Google Meet, Google Classroom, dan Google Jamboard. Penelitian ini ialah penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini yakni peserta didik kelas XI Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM) 2 yang terdiri dari 35 peserta didik yang diambil secara acak. Setelah penelitian ini dilakukan maka dapat disimpulkan pembelajaran daring pada materi persamaan dan fungsi kuadrat dikatakan tidak efektif karena tidak tuntasnya hasil belajar peserta didik dan kurang positifnya reaksi peserta didik terhadap pembelajaran. Perihal ini diakibatkan bermacam aspek, antara lain minimnya uraian yang komprehensif serta sederhana dari guru, rendahnya aspek afektif serta psikomotorik pada pembelajaran, sinyal internet, rendahnya atensi peserta didik terhadap pembelajaran daring, serta pembelajaran daring belum diterapkan sepenuhnya di sekolah. Kata Kunci : Efektivitas, Pembelajaran Daring.


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 110-120
Author(s):  
YULIANA DWI RAHMAWATI ◽  
Masriyah Masriyah

Mathematical reasoning is the ability to think about mathematical problems, namely by thinking logically about mathematical problems to get conclusions about problem solutions. There are several factors that can affect students' mathematical reasoning, including mathematical abilities. Dissimilarity of students' mathematical abilities allows for dissimilarity in their mathematical reasoning abilities. So, this research intends to describe students' mathematical reasoning abilities in solving social arithmetic problems based on dissimilarity in mathematical abilities. The purpose of this research was to describe qualitative data about the mathematical reasoning abilities of students with high, medium, or low abilities in solving social arithmetic problems. The instrument used was the Mathematical Ability Test to determine the three research subjects, followed by a Problem Solving Test to get qualitative data about students' mathematical reasoning abilities, then interviews to get deeper data that was not obtained through written tests. Thus, the research data were analyzed using mathematical reasoning indicators. From the result of data analysis, it was found that all students understood the problem well. Students with high and medium mathematical abilities are determining and implementing problem solving strategies properly, namely writing down the step for solving them correctly and making accurate conclusions by giving logical argumens at aech step of the solution. However, students with low mathematical abillities have difficulty in determining and implementing problem solving strategies because they do not understand the concept, thus writing the steps to solve the problems incorrectly and not giving accurate conclusions about the correctness of the solution. Keywords: mathematical reasoning, problem solving, mathematical abilities


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 95-109
Author(s):  
Maya Firdaustita Hawai

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal PISA kategori HOTS beserta scaffoldingnya. Proses berpikir matematis siswa ditinjau dari fase berpikir matematis yang dikembangkan oleh Mason, dkk. Pemberian scaffolding berdasarkan level scaffolding Anghileri.  Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 3 siswa kelas IX yang dipilih dari 31 siswa. Sebanyak 31 siswa mengerjakan tes kemampuan matematika. Selanjutnya dipilih 3 siswa yang terdiri dari satu siswa berkemampuan matematika tinggi, satu siswa berkemampuan matematika sedang dan satu siswa berkemampuan matematika rendah. Selanjutnya subjek terpilih diberi tes yang terdiri dari 3 soal PISA kategori HOTS dan dilakukan wawancara serta pemberian scaffolding. Scaffolding diberikan ketika siswa mengalami stuck pada proses berpikir matematisnya. Hasil penelitian menunjukan: (1) Proses berpikir matematis siswa berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan soal nomor 1 dimulai dengan fase entry dengan memenuhi aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try, maybe, dan why. Proses berpikir matematis siswa berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan soal nomor 2 dimulai dengan fase entry dengan melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try, maybe, dan why. Kemudian dilanjutkan dengan fase review dengan memenuhi aspek check, reflect, dan extand.  Proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal nomor 3 dimulai dengan fase entry dengan melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try dan maybe kemudian fase review dengan memenuhi aspek check, reflect, dan extand dan berulang dengan fase attack. (2)  Proses berpikir matematis siswa berkemampuan sedang dalam menyelesaikan soal nomor 1 dimulai dengan fase entry melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try, maybe, dan why. Proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika sedang dalam menyelesaikan soal nomor 2 dan 3 dimulai dimulai dengan fase entry melalui aspek know, want, dan introduce, dilanjutkan dengan fase attack dengan melalui aspek try dan maybe(3) Proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika rendah dalam menyelesaikan soal nomor 1 dimulai dan berakhir pada fase entry dengan memenuhi aspek know dan want. Dalam menyelesaikan soal nomor 2 dan 3, proses berpikir matematis siswa berkemampuan matematika rendah dimulai pada fase entry dengan memenuhi aspek know dan want. Proses ini berakhir pada fase attack dengan memenuhi try. (4) Setelah pemberian scaffolding, siswa berkemampuan tinggi,  siswa berkemampuan sedang, dan siswa berkemampuan rendah memenuhi fase berpikir matematis dan menyelesaikan soal PISA kategori HOTS dengan benar. Kata kunci: berpikir matematis, HOTS, kemampuan matematika, PISA, scaffolding.


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 79-94
Author(s):  
Puspita Anggraini Setyaningrum
Keyword(s):  

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran aljabar siswa SMP dalam menyelesaikan masalah SPLDV ditinjau dari gaya kognitif visualizer (object imagery dan spatial imagery) dan verbalizer. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.  Subjek penelitian ini terdiri dari tiga subjek kelas IX C SMP N 5 Ponorogo dengan jenis kelamin perempuan, kemampuan matematika berkategori tinggi, dan masing-masing bergaya kognitif  object imagery (OI), spatial imagery (SI), dan verbalizer (V). Instrumen penelitian yang digunakan yaitu tes gaya kognitif OSIVQ, tes kemampuan matematika (TKM), tes pemecahan masalah (TPM), dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini, semua subjek menunjukkan penalaran aljabarnya pada tahap specializing, dengan menentukan informasi yang diketahui dan hal yang ditanyakan secara lengkap. Namun, OI tidak memahami maksud dari salah satu pertanyaan dalam TPM yaitu tentang cara mengecek kembali penyelesaian dengan metode penyelesaian SPLDV yang berbeda. Pada tahap conjecturing, semua subjek menentukan permisalan variabel dari apa yang diketahui. Namun, hanya SI dan V yang dapat menentukan rencana penggunaan metode eliminasi-substitusi untuk menyelesaikan masalah SPLDV. Pada tahap generalizing, hanya SI dan V pula yang menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode eliminasi-substitusi. Meskipun demikian, seluruh subjek mampu menyusun model matematika dari soal yang diberikan dan melakukan substitusi dari nilai yang diperoleh ke model matematika yang ditanyakan. Pada tahap justifiying, hanya SI yang menentukan penyelesaian masalah SPLDV dengan metode yang berbeda yaitu metode substitusi, namun terdapat kesalahan perhitungan yang disebabkan oleh faktor ketidaktelitian, sehingga menyebabkan perbedaan hasil. Selain itu, semua subjek dapat menyimpulkan hasil dari empat pertanyaan saja dalam TPM tentang penentuan harga paket dengan kalimat yang runtut. Kata Kunci: penalaran aljabar, SPLDV, object imagery, spatial imagery, verbalizer.


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 69-78
Author(s):  
Iim Mufadilatul Chasanah

Kemampuan matematika yang dimiliki setiap siswa dapat mempengaruhi proses matematisasi siswanya dalam menyelesaikan masalah kontekstual. Dengan mengetahui proses matematisasi yang dilakukan siswa, guru dapat memahami apa yang dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses matematisasi siswa SMP dalam menyelesaikan masalah kontekstual ditinjau dari kemampuan matematika. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari tiga siswa SMP kelas IX. Data ini diperoleh dari tes kemampuan matematika, tes matematisasi dan tes wawancara. Hasil penelitian proses matematisasi siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari kemampuan matematika menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah dapat menerjemahkan masalah dunia nyata ke dalam masalah matematika, serta dapat menyelesaikan masalah matematika menggunakan konsep dan keterampilan matematika yang sudah dikuasai. Namun, pada tahap merefleksi dan menvalidasi proses yang sudah dilakukan dan hasil yang sudah didapat, hanya siswa dengan kemampuan matematika tinggi yang dapat melakukannya. Siswa dengan kemampuan matematika sedang tidak mengkritisi model dan batasannya pada tahap merefleksi dan menvalidasi proses yang sudah dilakukan dan hasil yang sudah didapat. Sedangkan siswa dengan kemampuan matematika rendah tidak merefleksi argumen matematis dan tidak menjelaskan hasil, tidak mengomunikasikan proses dan hasil, dan tidak mengkritisi model dan batasannya pada tahap merefleksi dan menvalidasi proses yang sudah dilakukan dan hasil yang sudah didapat. Kata Kunci : Kemampuan Matematika, Proses Matematisasi, Masalah Kontekstual.


MATHEdunesa ◽  
2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 59-68
Author(s):  
Dyah Ayu Puspita Ardani

This study aims to describe students' reflective thinking in solving algebraic problems with different mathematical abilities. This study used reflective thinking components by Surbeck, Han, and Moyer, including reacting, elaborating, and contemplating. This study was descriptive qualitative research that used a qualitative approach. The instruments in this study were mathematical ability tests, mathematical problem-solving tests, and interview guidelines. This study was conducted by selecting three subjects from 31 students of SMAN 1 Pacet with female gender who have high, medium, and low mathematical abilities. This study's results were at the reacting stage; the three students analyzed what was known and asked according to the information provided, analyzed the relationship between what was known and asked, and reasons. At the elaborating stage, the three students were able to analyze the theory used. High and low-ability students have encountered similar questions. Medium ability students admitted that they had never met similar questions but examined the differences. High and medium-ability students explain the results obtained in detail at the contemplating stage, check their results, and make conclusions. Low ability students only explain part of the solution because they cannot find the solution. They try to correct their mistakes but give up, so they do not make conclusions. For low-ability students, the teacher can provide practice questions that trigger reflective thinking to solve math problems correctly and improve their weaknesses. Keywords: reflective thinking, mathematics problems, high school algebra, mathematical ability.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document