Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

20
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Poltekkes Kemenkes Makassar

2715-7288, 2086-5937

2020 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 32
Author(s):  
Siti Muthiah ◽  
Hasbiah Hasbiah ◽  
Nurul Fajriah

Myofacial pain upper trapezius adalah suatu kondisi nyeri otot pada upper trapezius yang ditandai adanya taut band pada serabut otot dan bila ditekan akan timbul nyeri hebat bahkan kadang-kadang menyebar dalam pola tertentu.Telah dilakukan penelitian di Poli Fisioterapi Rumah Sakit Umum Daya Kota Makassar selama 2 (dua) bulan yakni bulan Agustus – September 2013 untuk melihat  pengaruh muscle energy technique dan strain counterstrain terhadap nyeri tengkuk pada penderita myofacialis upper trapezius.  Sebuah penelitian quasi-experiment dengan desain pre-post test two group design.Sampel dalam penelitian ini sebanyak 20 orang yang ditarik dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dari 20 orang sampel tersebut kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama diberikan muscle  energy technique dan kelompok kedu diberikan strain conterstrain, masing-masing diuji dengan uji t-perpasangan. Kemudian kedua kelompok perlakuan dibandingkan dengan uji t-tidak perpasanga.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok  muscle energy technique terjadi penurunan nyeri sebesar 2,56 dan kelompok strain conterstrain terjadi penuruna sebesar 1,87. Pada uji t- tidak berpasangan di dapat nilai p=0,521 (p>0,05).Kesimpulan bahwa tidak ad beda pengaruh yang bermakna antara muscle energy technique dengan strain counterstrain  terhadap penurunan nyeri tengkuk pada penderita myofacialis upper trapezius. Kata kunci : muscle energy technique, strain conterstrain, myofacialis upper trapezius, nyeri.



2020 ◽  
Vol 12 (1) ◽  
pp. 39
Author(s):  
Muhammad Awal ◽  
Sri SadiyahL ◽  
Andi Halimah ◽  
Siti Nurul Fajriah

Gangguan keseimbangan terjadi sebagai akibat adanya kelemahan pada otot-otot yang berperan dalam memelihara keseimbangan terutama keseimbangan duduk, seperti otot trunk dan pelvic. Latihan bridging dan strengthening adalah dua teknik latihan yang dapat meningkatkan kekuatan otot pada trunk maupun pelvic.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan pengaruh pemberian latihan Bridging dan strengthening terhadap Keseimbangan Duduk pada Penderita Pasca Stroke Non-Haemoragik. Penelitian ini adalah quasy eksperimen menggunakan pretest-posttest two group design. Populasi penelitian adalah semua pasien pasca stroke yang berkunjung di Klinik Politeknik Kesehatan  Makassar jurusan Fisioterapi selama penelitian berlangsung. Sampel penelitian penderita pasca stroke non haemorragik yang berkunjung di Klinik Politeknik Kesehatan  Makassar Jurusan Fisioterapi selama penelitian berlangsung.Hasil penelitian diperoleh adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian bridging exercise dengan selisih rata-rata nilai keseimbangan duduk 1.40 + 0.52 menit dengan hasil uji wilcoxon p=0.004 < α= 0.05. Sedangkan pada intervensi strengthening exercise diperoleh selisih rata-rata keseimbangan duduk 1.00 + 0.67 menit engan hasil uji wilcoxon p= 0.008< α= 0.05. Pada uji Mann-Whitney diperoleh perbedaan yang tidak signifikan diantara kedua perlakuan, pada nilai rata-rata keseimbangan duduk dengan p= 0.247> α= 0.05.Kesimpulan penelitian ini adalah ada perubahan keseimbangan duduk sebelum dan sesudah pemberian bridging exercise dan strengthening exercise pada penderita pasca stroke non haemorragik. Tidak ada perbedaan perubahan keseimbangan duduk diantara kedua kelompok perlakuan. Kata Kunci : Bridging exercise, strengthening exercise, stroke non-haemoragik.



2020 ◽  
Vol 12 (1) ◽  
pp. 31
Author(s):  
Muh Ihsan ◽  
Anshar Anshar
Keyword(s):  

Latar Belakang. Syndrome piriformis merupakan sekumpulan gejala-gejala termasuk nyeri pinggang atau nyeri bokong yang menyebar ke tungkai. Masih ada perbedaan pendapat dari para ahli, apakah  merupakan kondisi yang jelas ada dan menyebabkan nyeri myofacial dari paha, hypertrofi dan nyeri tekan pada otot piriformis, atau apakah  merupakan kondisi kompresi dari saraf sciatic yang menyebabakan nyeri neuropatik.Metode : Penelitian ini termasuk penelitian quasi eksperimen yaitu penelitian percobaan semu yang melibatkan variabel perlakuan yaitu Contrax relax dan hold relax, sedangkan variabel respons adalah nyeri akibat Syndrome Piriformis. Penelitian adalah Quasy experiment dengan desain pretest-post test two group design. Populasi target adalah semua pasien Syndrome Piriformis selama penelitian sejumlah 20 orang, dengan menggunakan total sampling.Sampel dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, kelompok perlakuan dengan Contrax relax yang berjumlah 10 orang dan kelompok perlakuan dengan hold relax yang berjumlah 10 orang. Penelitian ini menggunakan Oswetry Disability Index (ODI) untuk mengukur nyeri sebelum dan sesudah pemberian pemberian perlakuan..Hasil. Pemberian intervensi Contrax relax memberikan pengaruh dan perubahan nyeri pada penderita Syndrome Piriformis dengan rata-rata perubahan sebesar 36,40 dari 60,40 menjadi 24,00. Pemberian intervensi hold relax  memberikan pengaruh dan perubahan nyeri pada penderita Syndrome Piriformis dengan rata-rata perubahan sebesar 33,20 dari 58,80  menjadi 25,60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contrax relax maupun hold relax memiliki pengaruh yang bermakna terhadap penurunan nyeri pada penderita Syndrome Piriformis.  Kesimpulan. Uji t independen untuk pengujian hipotesis, mulai dari nilai post ODI diperoleh nilai p= 1,000 >0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pemberian contrax relax dengan pemberian hold relax. Sebaiknya fisioterapis menerapkan contrax relax atau hold relax untuk mengurangi nyeri pada penderita Syndrome Piriformis. Kata Kunci : Contrax Relax, Hold Relax, Nyeri, Syndrome Piriformis.1 Jurusan Fisioterapi Poltekkes kemenkes Makassar



2020 ◽  
Vol 12 (1) ◽  
pp. 10
Author(s):  
Hendrik Hendrik ◽  
Suharto Suharto ◽  
Hasbiah Hasbiah

Osteoarthritis merupakan penyakit gangguan musculoskeletal yang degeneratif, dimana jumlah kejadiannya cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup penduduk. Fisioterapi merupakan salah satu faktor terpenting dalam penanganan osteoarthritis secara komprehensif.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode yang lebih efektif antara interferensi dan hold relax dengan ultrasound dan hold relax terhadap perubahan  nyeri penambahan jarak gerak sendi akibat osteoarthritis sendi lutut. Penelitian ini adalah quasy eksperimen menggunakan pretest-posttest two group design. Populasi penelitian adalah semua pasien osteoarthritis yang berkunjung di Poliklinik Fisioterapi RSUD Salewangan Maros  dari bulan Juni sampai dengan September 2013 yang berjumlah 31 orang. Sampel penelitian diperoleh dengan teknik purposive sampling sehingga jumlah sampel 20 orang yang dibagi atas dua kelompok.Hasil penelitian diperoleh adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian interferensi dan hold relax dengan selisih rata-rata nilai aktualitas nyeri 1.94 + 0.72 cm dan ROM sebesar 16.500 + 5.800 dengan hasil uji wilcoxon p=0.005 < α= 0.05. Sedangkan pada intervensi ultrasound dan hold relax diperoleh selisih rata-rata nilai aktualitas nyeri 1.41 + 0.21 cm dan ROM sebesar 10.80 + 3.150 dengan hasil uji wilcoxon p= 0.005 < α= 0.05. Pada uji Mann-Whitney diperoleh adanya perbedaan yang signifikan diantara kedua perlakuan, pada nilai rata-rata VAS dengan p= 0.029 < α= 0.05. Sedangkan pada luas gerak sendi tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok terhadap nilai  ROM dengan p= 0.74 > p= 0.05.Kesimpulan penelitian ini adalah ada perubahan aktualitas nyeri dan jarak gerak sendi (ROM) sebelum dan sesudah pemberian interferensi dan hold relax serta ultrasound dan hold relax pada pasien osteoarthritis sendi lutut. Tidak ada perbedaan perubahan jarak gerak sendi (ROM) diantara kedua kelompok perlakuan. Kata Kunci : Interferensi, Ultrasound, hold relax,  Nyeri dan Jarak Gerak Sendi Lutut  Pasien                       Osteoarthritis



2020 ◽  
Vol 12 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Tiar Erawan ◽  
Arpandjaman Arpandjaman

Gangguan pada sendi bahu seperti capsulitis adhesive yang terlambat penanganannya akan menimbulkan kondisi yang lebih berat yang ditandai dengan keterbatasan gerakan baik aktif maupun pasif pada seluruh gerakan sendi bahu.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh pemberian microwave diathermy dengan ultrasound pada penerapan traksi translasi  terhadap perubahan luas gerak abduksi sendi bahu akibat frozen shoulder. Penelitian ini adalah quasy eksperimen menggunakan pretest-posttest two group design. Populasi penelitian adalah semua pasien yang mengalami gangguan gerak abduksi bahu akibat frozen shoulder yang berkunjung di Poliklinik Fisioterapi Rumah Sakit Umum Hikmah Makassar selama penelitian.. Sampel penelitian Pasien frozen shoulder  yang berkunjung di Poliklinik Fisioterapi Rumah Sakit Umum Hikmah Makassar selama penelitian  yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan oleh peneliti.Hasil penelitian diperoleh adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian MWD dan traksi-translasi dengan selisih rata-rata nilai ROM abduksi sendi bahu sebesar 13.800 + 1.460 dengan hasil uji wilcoxon p=0.005 < α= 0.05. Sedangkan pada intervensi ultrasound dan traksi-translasi diperoleh selisih rata-rata nilai ROM sebesar 10.800 + 3.150 dengan hasil uji wilcoxon p= 0.005 < α= 0.05. Pada uji Mann-Whitney tidak diperoleh adanya perbedaan yang signifikan ROM abduksi sendi bahu diantara kedua perlakuan, dengan p= 0.684 > α= 0.05.Kesimpulan penelitian ini adalah ada perubahan jarak gerak sendi (ROM) abduksi sendi bahu sebelum dan sesudah pemberian MWD dan traksi-translasi  serta ultrasound dan traksi-translasi pada pasien gangguan gerak abduksi bahu akibat frozen shoulder. Tidak ada perbedaan perubahan jarak gerak sendi (ROM) abduksi sendi bahu diantara kedua kelompok perlakuan.



2020 ◽  
Vol 12 (1) ◽  
pp. 23
Author(s):  
Feraya Melinda Farza ◽  
Andi Rahmaniar

ABSTRAK Latar Belakang. Dalam pencak silat dibutuhkan kemampuan biomotor yang baik dalam rangka meningkatkan performa, salah satunya adalah komponen daya ledak dan kelincahan yang sangat menentukan keberhasilan dalam melancarkan serangan dan melibatkan gerakan-gerakan eksplosif. Cedera muskuloskeletal dapat menyebabkan menurunnya kemampuan biomotor pada atlet, salah satunya adalah functional ankle instability (FAI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara FAI dengan kemampuan biomotor daya ledak dan kelincahan pada atlet pencak silat. Metode : . Metode yang digunakan adalah metode penelitian korelatif dengan menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan sampel dengan jumlah sampel 20 orang atlet (16 orang atlet dengan FAI dan 4 orang atlet tidak dengan FAI). Variabel independen yang diukur adalah FAI melalui kuesioner Cumberland Ankle Instability Tool. Variabel dependen yang diukur adalah kemampuan biomotor daya ledak dan kelincahan melalui tes vertical jump dan tes side step Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara FAI dengan kemampuan biomotor daya ledak dengan nilai signifikansi yaitu 0,483 (p>0,005). Kemudian hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara FAI dengan kemampuan biomotor kelincahan dengan nilai signifikansi yaitu 0,764.  Kesimpulan. Tidak ada hubungan yang bermakna antara FAI dengan kemampuan biomotor daya ledak dan kelincahan pada atlet pencak silat.Disarankan atlet yang mengalami FAI sebaiknya melakukan latihan-latihan seperti latihan proprioseptif, strengthening, koordinasi untuk meningkatkan kestabilan ankle, dapat digunakan peralatan berupa wobble boards, ankle disks, atau peralatan serupa lainnya. Kata kunci: Functional Ankle Instability, Kemampuan Biomotor, Pencak Silat1Jurusan Fisioterapi Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin2Dosen Fisioterapi Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin



2019 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Hasnia Ahmad ◽  
Tiar Erawan ◽  
Darwis Durahim

Cervical facet syndrome merupakan salah satu kondisi nyeri tengkuk yang bisa menjalar ke occiput, upper thoracal, shoulder, atau middle thoracal tergantung pada segmen cervical yang terkena. Penelitian ini adalah  quasi eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh Mc.Kenzie Cervical dan Muscle Energy Technique (MET) terhadap peningkatan lingkup gerak sendi (LGS) cervical pada penderita cervical facet syndrome. Sebuah  penelitian yang dilakukan di Poliklinik Fisioterapi RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo. Sampel adalah penderita cervical facet syndrome. Pengambilan sampel secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 20 orang yang dibagi kedalam 2 kelompok masing-masing 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan  cervical facet syndrome terbanyak usia 40 – 44 tahun,yaitu   4 orang (40%) dan usia 45 – 50 tahun yaitu 8 orang (80%),  lebih banyak perempuan yaitu 11 orang dan laki-laki  9 orang. Uji  Wilcoxon bahwa Mc.Kenzie berpengaruh  bermakna terhadap peningkatan LGS ekstensi dan rotasi cervical dengan rata-rata peningkatan sebesar 2,80 dan nilai p = 0,004 (p < 0,05) untuk ekstensi, serta 5,50 dan nilai p = 0,005 (p < 0,05) untuk rotasi, kemudian pemberian Muscle Energy Technique dapat menghasilkan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan LGS ekstensi dan rotasi cervical dengan rata-rata peningkatan sebesar 2,70 dan nilai p = 0,004 (p < 0,05) untuk ekstensi, serta 5,40 dan nilai p = 0,005 (p < 0,05) untuk rotasi. Berdasarkan hasil analisis Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh yang bermakna antara Mc.Kenzie dengan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan LGS ekstensi dan rotasi cervical dengan nilai p = 0,651 (p > 0,05) untuk ekstensi dan nilai p = 0,841 (p > 0,05) untuk rotasi. Dengan demikian  tidak ada perbedaan pengaruh  bermakna antara Mc.Kenzie dengan Muscle Energy Technique terhadap peningkatan LGS ekstensi dan rotasi cervical. Kata Kunci : Mc.Kenzie, Muscle Energy Technique, LGS Cervical



2019 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 15
Author(s):  
Hasnia Ahmad ◽  
Intan Permatasari ◽  
Fahrul Islam
Keyword(s):  

ABSTRAKLatar Belakang. Tinggi lompatan merupakan hal yang sangat penting bagi seorang pemain bola volli. Tinggi lompatan seringkali membuat perbedaan dalam permainan bola voli terutama dalam pukulan, dan loncatan pada saat Smash maupun blok.Metode. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beda pengaruh latihan standing jump dan hurdle hopping terhadap perubahan daya ledak otot tungkai pada siswa pemain bola voli.  Penelitian ini termasuk penelitian quasi eksperimen dengan desain pretest-post test two group design yaitu penelitian percobaan semu yang melibatkan variabel perlakuan yaitu standing jump dan hurdle hopping, sedangkan variabel respons adalah tinggi lompatan. Populasi Penelitian adalah semua pemain Bola Voli SMA Negeri 6 Makassar dan SMA Negeri 18 Makassar yang berjumlah 30 orang. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik total sampling. Sampel dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, kelompok perlakuan dengan standing jump yang berjumlah 15 orang dan kelompok perlakuan dengan hurdle hopping yang berjumlah 15 orang. Penelitian ini menggunakan Vertikal Jump untuk mengukur tinggi lompatan sebelum dan sesudah pemberian latihan fisik 2 kali seminggu selama 1 bulan.Hasil. Hasil penelitian menunjukkan pemberian standing jump menghasilkan peningkatan tinggi lompatan sebesar 1,67 cm. Sedangkan pada pemberian hurdle hopping terjadi peningkatan sebesar 2,20. Pada Uji beda pengaruh didapatkan nilai beda nilai Disarankan kepada pelatih agar memberikan latihan fisik untuk meningkatkan tinngi lompatan pemain Bola Voli SMA Negeri 6 Makassar dan SMA Negeri 18 Makassar.Kesimpulan. Hasil uji Mann Whitney pada perbandingan antara kelompok diperoleh nilai p = 0,345 < 0,05 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan standing jump dan hurdle hopping..Kata Kunci : Pliometrik standing jump, pliometrik hurdle hopping, tinggi lompatan, pemain volli.1 Mahasiswa Jurusan Fisioterapi Poltekkes kemenkes Makassar



2019 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 41
Author(s):  
Sitti Nurmin ◽  
Anwar Sarman
Keyword(s):  

Stretching merupakan teknik untuk menurunkan kontraksi ketegangan otot secara fisiologis, untuk mengurangi aktifitas saraf simpatis yang mengembalikan tubuh dalam keadaan seimbang. Stretching merupakan suatu bentuk latihan yang dilakukan dengan tujuan mengulur otot agar dapat menjadi lebih rileks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stretching terhadap perubahan fleksibilitas otot Pemain Futsal Cherubim Fc. Penelitian ini termasuk penelitian quasi eksperimen yaitu penelitian percobaan semu yang melibatkan variabel perlakuan yaitu stretching, sedangkan variabel respons adalah fleksibilitas otot. Desain penelitian adalah Quasy experiment dengan desain pretest-post test two group design. Populasi target adalah pemain futsal Cherubim Fc sebanyak 20 orang, sedangkan sampel adalah semua pemain futsal Cherubim Fc dengan teknik total sampling. Sampel dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, kelompok perlakuan yang berjumlah 10 orang dan kelompok kontrol yang berjumlah 10 orang. Penelitian ini menggunakan sit and reach test untuk mengukur fleksibilitas sebelum dan sesudah pemberian stretching 2 kali seminggu selama 1 bulan.  Pemberian stretching menghasilkan peningkatan fleksibilitas sebesar 4,70 ± 0,823 sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan sebesar 3,80 ± 0,422, pada Uji Mann whitney didapatkan nilai beda nilai p = 0,003 < 0,05. Ada perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kontrol. Disarankan kepada pelatih agar memberikan streching untuk meningkatkan fleksibilitas otot pemain futsal Cherubim Fc.Kata Kunci : Stretching, fleksibilitas, pemain futsal.



2019 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 24
Author(s):  
Yonathan Ramba ◽  
Hendrik Hendrik
Keyword(s):  

troke adalah terjadinya gangguan fungsional otak fokal maupun global secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam, akibat gangguan aliran darah otak. Stroke terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Stroke Non Hemoragik (NHS) dan Stroke Hemoragik (HS). Stroke Non Hemoragik (NHS) adalah jenis stroke yang disebabkan oleh trombosis akibat plak arterosklerosis dari arteri otak atau yang memberi vaskularisasi pada otak atau suatu embolus dari pembuluh darah di luar otak yang tersangkut di arteri otak.Tujuanpenelitianadalahuntuk mengetahui pengaruh antara pemberian bridging exercise terhadap spastisistas pada pasien pasca Stroke Non Hemoragik  di  Makassar.Penelitian ini merupakan penelitian  pra-eksperimental  dengan  Desaign  One Group Pretest – Post Test  untuk mengetahui perbedaan spastisitas sebelum dan sesudah pemberian  bridging exercise pada pasien pasca Stroke Non-Hemoragik di Makassar.  Populasi dalam  penelitian ini adalah seluruh pasien Stroke Non Hemoragik yang datang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Daya Kota Makaassar, Klinik Physio Sakti dan Klinik Medisakti.Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan Uji Wilcoxon ditunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada pasien pasca Stroke Non Hemoragik antara pengukuran pre test, dan setelah 6 kali pemberian bridging exercise. Jadi dengan pemberian bridging exercise pada pasien pasca Stroke Non Hemoragik dapat memberikan efek perubahan penurunan spastisitas.Setelah 6 kali pemberian bridging exercise, penurunan spastisitas semakin nyata,  3 orang responden dengan kategori  Modified Skala Ashwort normal(17,6%) , 12 orang responden dengan kategori Modified Skala Ashwort sangat ringan (70,6%), dan 2 orang  responden dengan kategori Modified Skala Ashwort ringan (11,8%). Kata kunci : Bridging exercise, Spastisitas, Pasca Stroke Non-Hemoragik.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document