scholarly journals Tramadol 2.5 mg·kg−1 appears to be the optimal intraoperative loading dose before patient-controlled analgesia

2003 ◽  
Vol 50 (1) ◽  
pp. 48-51 ◽  
Author(s):  
Wei-Wu Pang ◽  
Hurng-Sheng Wu ◽  
Chien-Chiung Tung

2018 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 74
Author(s):  
Arie Faishal Madjan ◽  
Widya Istanto Nurcahyo

Latar Belakang: Operasi Modified Radical Mastectomy menimbulkan nyeri derajat sedang hingga berat pasca operasi. Sebagian pasien yang mendapat kombinasi anagetik tramadol dan ketorolak secara berkala, masih mengeluh nyeri. PCA merupakan metode baru pemberian analgetik. Penggunaan PCA fentanil dan PCA morfin diharapkan dapat lebih efektif dalam mengatasi nyeri pasca operasi MRM.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas, efek samping dan tingkat kepuasan pasien antara penggunaan PCA fentanil, PCA morfin dan tramadol intravena sebagai analgetik pasca operasi MRM.Metode:Dilakukan uji klinis tersamar ganda terhadap 36 pasien rencana operasi MRM yang memenuhi kriteria penelitian. Setelah dilakukan anestesi umum, pasien dibagi dalam 3 kelompok perlakuan pemberian analgetik pasca operasi: (1) kelompok PCA fentanil dengan fentanil loading dose 50 mcg, demand dose 20 mcg, lockout interval 10 menit, limitdose 70 mcg/jam, background infusion 30 mcg/jam; (2) kelompok PCA morfin dengan morfin loading dose 4 mg, demand dose 1 mg, lockout interval 10 menit, limit dose 6 mg/jam, tanpa background infusion; (3)kelompok tramadol yang mendapat tramadol intravena 100 mg/8jam. Dilakukan penilaian berkala skor NRS, RASS, tanda vital, efek samping dan tingkat kepuasan pasien selama 24 jam pasca operasi. Data dianalisa dengan Shapiro-Wilk dilanjutkan Kruskal-Wallis atau One way ANOVA, dianggap bermakna bila p< 0,05.Hasil:Efektivitas terbaik pada PCA fentanil, diikuti PCA morfin lalu tramadol. Skor RASS PCA fentanil dan PCA morfin lebih rendah dari tramadol (p=0,000). Terdapat efek samping mual, muntah dan dizziness yang secara statistik tidak berbeda bermakna. Tingkat kepuasan pasien tertinggi pada kelompok PCA fentanil, sedangkan antara kelompok PCA morfin dan tramadol tidak berbeda bermakna(p=0,009).Simpulan: PCA fentanil dan PCA morfin lebih efektif dibandingkan tramadol. PCA fentanil memberikan tingkat kepuasan pasien yang lebih tinggi dibanding PCA morfin dan tramadol. Terdapat efek samping mual, muntah dan dizziness namun secara statistik tidak berbeda bermakna.



2010 ◽  
Vol 58 (6) ◽  
pp. 565 ◽  
Author(s):  
Hyun Sik Chung ◽  
Eun Sung Kim ◽  
Young June You ◽  
Chul Soo Park


2014 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 34-41
Author(s):  
Asyikun Nasyid Room ◽  
Andi Husni Tanra ◽  
Muhammad Ramli Ahmad ◽  
Syafri Kamsul Arif ◽  
Ilhamjaya Ilhamjaya

Latar Belakang : Ketamin telah digunakan sebagai analgesia perioperatif sejak lama. Namun cara pemberian yang efektif masih belum jelas.Tujuan : membandingkan efek pemberian ketamin prainsisi, selama operasi dan 24 jam pascabedah dengan pemberian ketamin selama 24 jam pascabedah terhadap kebutuhan morfin pascabedah.Metode : Penelitian ini merupakan uji tersamar acak ganda. Total sampel 50 dibagi dalam 2 kelompok pasien dengan operasi ortopedi ekstremitas bawah dengan anestesi spinal. Kelompok pertama, mendapatkan ketamin 0,15 mg/kgBB IV prainsisi + 0,1 mg/kg/jam selama operasi dan 24 jam pascabedah.  Kelompok kedua mendapatkan ketamin 0,15 mg/kgBB IV pascabedah + 0,1 mg/kg/jam selama 24 jam pascabedah. Kedua kelompok mendapatkan analgesia pascabedah morfin via patient-controlled analgesia dengan loading dose 2 mg, bolus dose 1 mg dan lockout interval 7 menit. Jangka waktu pemberian morfin pertama pascabedah dihitung dari akhir operasi hingga saat pemberian morfin loading dose atas permintaan pasien; konsumsi morfin pascabedah dihitung dalam 24 jam.Hasil : Tidak ada perbedaan yang bermakna di antara kedua kelompok baik dalam waktu pemberian analgesik pertama (p=0,055) maupun konsumsi morfin dalam 24 jam (p=0,351).Simpulan : Ketamin tidak memiliki efek analgesia preventif pada pasien yang menjalani anestesi spinal.



1982 ◽  
Vol 47 (03) ◽  
pp. 230-231 ◽  
Author(s):  
N K Sharma ◽  
P A Routledge ◽  
M D Rawlins ◽  
D M Davies

SummaryThe validity of a previously described technique for predicting warfarin requirements based on the anticoagulant response to a fixed loading dose was assessed prospectively in 57 patients. There was a close relationship between the predicted and initially observed daily warfarin dose required to maintain the patient within the therapeutic range for anticoagulation. The significant relationship between predicted and observed maintenance dose persisted at 4 and 12 weeks although it decreased with increasing time.The relationship between observed and predicted maintenance requirement of warfarin was not affected by the concomitant use of intermittent intravenous injections of heparin when 9 hr was allowed to elapse between the previous dose of heparin and the thrombotest estimation on which the prediction was based.It is concluded that the method is valuable in predicting an individual’s warfarin requirement, although it does not obviate the need for regular monitoring of anticoagulant control.



2006 ◽  
Vol 19 (1) ◽  
pp. 91
Author(s):  
Si Ra Bang ◽  
Hee Suk Kim ◽  
Ji Hyeok Kim ◽  
Woo Seok Sim ◽  
Mi Sook Gwak ◽  
...  


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document