FETUS IN FETU — A CASE REPORT

2008 ◽  
Vol 11 (03) ◽  
pp. 145-149
Author(s):  
Qibin Ye ◽  
Xiaodong Pang ◽  
Jianhua Gao ◽  
Hong Wang ◽  
Lihong Ning

We report the case of a 12-year-old girl with an unusual "third upper extremity" developed in her back around the axis. Radiography, ultrasound, computed tomography scan, and magnetic resonance imaging revealed the development of a complex deformity comprised of long bones and fluid, largely resembling an upper limb; as well as a fluid-filled membrane sac whose contents favored a fetus in fetu.

2019 ◽  
Vol 8 (2) ◽  
pp. 1-5
Author(s):  
Marrakchi jihene ◽  
Mejbri Maha ◽  
Sana Mahfoudhi ◽  
Besbes Ghazi

Isolated sphenoid sinus mucocele (SSM) is a rare entity that can result in serious sequelae if diagnosis and treatment are inappropriately delayed. Typically, mucoceles are asymptomatic, and they are accidentally identified after computed tomography scan or magnetic resonance imaging of the maxillofacial area performed for other pathologic issues. We report a case of isolated SSM that only presented with headache for over a year, and also review the literature regarding surgical management of such entity.


2020 ◽  
Vol 48 (1) ◽  
pp. 3-14
Author(s):  
Joko Suprayitno ◽  
Reno Budiman ◽  
Tommy Ruchimat

Latar Belakang. Insidensi apendisitis perforasi di dunia mencapai 2 per 10.000 kelahiran hidup, untuk proporsi apendisitis perforasi sekitar 25%. Kasus apendisitis di Indonesia berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2009 sebesar 596.132 kasus dengan persentase 3.36% dan meningkat pada tahun 2010 menjadi 621.435 kasus dengan persentase 3.53%. Sedangkan insidensi  di RS Hasan Sadikin  pada tahun 2017 mencapai 83% pasien yang datang dengan keluhan apendisitis telah mengalami perforasi. Pemeriksaan radiologik seperti computed tomography scan (CT), magnetic resonance imaging (MRI) ataupun ultrasonography (USG) memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi untuk mendiagnosis perforasi apendisitis, tetapi alat–alat ini tidak selalu tersedia di institusi–institusi kesehatan negara berkembang. Fibrinogen sebagai  faktor koagulasi yang pertama kali ditemukan dalam beberapa penelitian berpotensi digunakan sebagai prediktor perforasi pada pasien apendisitis, pemeriksaan fibrinogen dapat dilakukan sewaktu-waktu, memberikan hasil yang lebih cepat dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemeriksaan penunjang lain. Metode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek pasien apendisitis periode 1 April 2018 – 31 Desember 2018 yang datang ke Installasi Gawat Darurat RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan bersedia mengikuti penelitian. Pasien yang didiagnosis kerja awal sebagai apendisitis akut atau pasien dengan appendisits perforasi dengan gejala peritonitis lokal atau peritonitis difus setelah dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Pasien dilakukan  pemeriksaan fibrinogen serum preoperatif, lalu dilakukan operasi dan dicatat hasil temuan operasi yaitu yang mengalami perforasi dan yang tidak mengalami perforasi. Dilakukan pengelompokkan data setelah jumlah subyek penelitian terpenuhi. Hasil. Sebanyak 40 pasien (25 laki-laki, 15 perempuan) terdiagnosis apendisitis berdasarkan Alvarado Score, yang terdiri dari 20 pasien apendisitis akut dan 20 pasien apendisitis perforasi. Akurasi kadar fibrinogen serum dalam memprediksi terjadinya perforasi sebesar 85%. Nilai sensitivitas 90%, nilai spesifisitas 80%. Berdasarkan analisis kurva ROC diperoleh nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,865 (p = 0,001). Menunjukkan bahwa kadar fibrinogen serum memiliki kemampuan diskriminasi yang tinggi dalam memprediksi terjadinya perforasi pada pasien apendisitis. Kesimpulan. Kadar fibrinogen serum yang meningkat dapat digunakan sebagai prediktor terjadinya perforasi pada pasien apendisitis. Kata kunci. Apendisitis perforasi, fibrinogen, prediktor (ISSN 2723-7494 J Bedah Indonesia. 2020;48:3-14)


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document