scholarly journals PENINGKATAN KEMAMPUAN PUBLIC SPEAKING SEBAGAI UPAYA UNTUK MENJADI WARGA NEGARA GLOBAL BAGI GENERASI MUDA

2021 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 127
Author(s):  
Asep Rudi Casmana ◽  
Dwi Afrimetty Timoera ◽  
Iqbal Syafrudin ◽  
MuhammadA Ageza Pratama ◽  
Aldi Wahyu Pradana
Keyword(s):  

Kemampuan public speaking memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi sebuah profesi terkhusus pada generasi muda untuk menjadi warga negara global. Generasi muda yang terhimpun dalam Paguyuban Mojang Jajaka Kabupaten Subang berada dalam naungan Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Subang memiliki tugas untuk menjadi seorang public speaker. Namun dengan pergantian pengurus Mojang Jajaka disetiap tahunnya menyebabkan penurunan kemampuan public speaking. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan mengenai teknik public speaking dan diharapkan pengurus Mojang Jajaka baru dapat memiliki pengetahuan serta pengalaman agar meningkatkan rasa percaya diri. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah deskriptif kualitatif dengan  melakukan tahapan pendekatan, praktik, dan pendampingan. Hasil dari pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan public speaking Mojang Jajaka. Kegiatan serupa harus lebih digiatkan pada lingkup yang lebih luas sehingga generasi muda kedepannya dapat memiliki kemampuan public speaking untuk menjadi bagian dari warga negara global.

2020 ◽  
Vol 63 (10) ◽  
pp. 3311-3325
Author(s):  
Brittany L. Perrine ◽  
Ronald C. Scherer

Purpose The goal of this study was to determine if differences in stress system activation lead to changes in speaking fundamental frequency, average oral airflow, and estimated subglottal pressure before and after an acute, psychosocial stressor. Method Eighteen vocally healthy adult females experienced the Trier Social Stress Test (TSST) to activate the hypothalamic–pituitary–adrenal axis. The TSST includes public speaking and performing mental arithmetic in front of an audience. At seven time points, three before the stressor and four after the stressor, the participants produced /pa/ repetitions, read the Rainbow Passage, and provided a saliva sample. Measures included (a) salivary cortisol level, (b) oral airflow, (c) estimated subglottal pressure, and (d) speaking fundamental frequency from the second sentence of the Rainbow Passage. Results Ten of the 18 participants experienced a hypothalamic–pituitary–adrenal axis response to stress as indicated by a 2.5-nmol/L increase in salivary cortisol from before the TSST to after the TSST. Those who experienced a response to stress had a significantly higher speaking fundamental frequency before and immediately after the stressor than later after the stressor. No other variable varied significantly due to the stressor. Conclusions This study suggests that the idiosyncratic and inconsistent voice changes reported in the literature may be explained by differences in stress system activation. In addition, laryngeal aerodynamic measures appear resilient to changes due to acute stress. Further work is needed to examine the influence of other stress systems and if these findings hold for dysphonic individuals.


1990 ◽  
Vol 67 (6) ◽  
pp. 515 ◽  
Author(s):  
JENNIFER SLOAN

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document