Jurnal Sistem Kesehatan
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

104
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

1
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Padjadjaran

2460-819x, 2460-8831

2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Elsi Rahmini ◽  
Deni Kurniadi Sunjaya ◽  
Guswan Wiwaha

Registri psikotik dapat memberikan informasi tentang penyakit jiwa yang mudah diakses serta menjadi alat perencanaan perawatan dan penanganan pasien psikotik. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi potensi, menggali struktur registri dan membangun kerangka konsep registri psikotik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat.Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan pendekatan riset operasional. Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam, Focus Group Discussion dan observasi pada 17 responden. Analisis data melalui koding, kategorisasi, penyusunan tema dan interpretasi data.Potensi registri psikotik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat terdiri dari komponen input dan process yaitu: kualitas SDM, SOP, jaringan, pembiayaan, data klinik awal, sarana penunjang (input); perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (process). Struktur registri berupa input yang terdiri dari kualitas SDM, SOP, software, jaringan, pembiayaan, serta data klinik awal. Kerangka konsep registri psikotik berupa perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Ketiga proses tersebut memerlukan input berupa kualitas SDM, SOP, software, jaringan, pembiayaan, data klinik awal dan sarana penunjang, output berupa data demografi, data administrasi dan data klinik. Outcome registri psikotik berupa manajemen klinik dan riset data informasi.Kerangka konsep yang dibangun dapat menjadi dasar implementasi riset. Registri psikotik yang dibangun akan mendukung kebijakan pengelolaan gangguan jiwa di Provinsi Jawa Barat dan nasional.Kata kunci: Pengembangan, Psikotik, Registri



2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Orlena Dharmantary Kartika ◽  
Sinta Sari Ratunanda ◽  
Teti Madiadipoera
Keyword(s):  

Prevalensi penyakit alergi semakin meningkat di seluruh dunia, tetapi hubungan dan pengaruhnya dengan penyakit tiroid autoimun khususnya hipertiroidisme masih belum banyak dibahas dan dimunculkan kasusnya. Kasus ini diajukan untuk memberikan gambaran bahwa rinosinusitis alergi dan penyakit tiroid autoimun khususnya hipertiroidisme memiliki satu mata rantai yang saling berhubungan dari segi patofisiologi dan akan menentukan morbiditas hipertiroidisme tersebut. Dilaporkan dua kasus rinosinusitis alergi disertai hipertiroidisme. Kasus pertama wanita usia 64 tahun dengan benjolan di leher anterior, dan kasus kedua pasien pria usia 61 tahun yang dikonsulkan dari Poliklinik Endokrinologi Penyakit Dalam dengan keluhan utama hidung tersumbat. Pada kedua pasien dilakukan pemeriksaan skor total gejala hidung, penilaian kualitas hidup dengan SNOT-22, pemeriksaan nasoendoskopi dan Tes Kulit Tusuk (TKT), serta pemantauan kadar hormon tiroid dan konsumsi obat antitiroid, kemudian dilakukan tata laksana rinosinusitis alergi dengan pemberian cuci hidung, antibiotik, kortikosteroid intranasal, dan antihistamin generasi kedua. Didapatkan hasil penurunan skor total gejala hidung, perbaikan kualitas hidup, perbaikan secara nasoendoskopi, penurunan kadar hormon tiroid, serta penurunan konsumsi obat antitiroid. Rinosinusitis alergi pada hipertiroidisme harus ditangani dengan baik karena dengan mengatasi rinosinusitis alergi maka akan menurunkan morbiditas hipertiroidisme.Kata kunci: rinosinusitis alergi, penyakit tiroid autoimun, hipertiroidisme



2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Susi Oktowaty ◽  
Elsa Pudji Setiawati ◽  
Nita Arisanti
Keyword(s):  

Fungsi keluarga merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan kualitas hidup pasien penyakit kronis. Memiliki kualitas hidup yang baik akan mengurangi risiko terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk keadaan. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan fungsi keluarga dengan kualitas hidup pasien penyakit kronis degeneratif yang tergabung dalam komunitas Program Pengelolaan Penyakit Kronis Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau Prolanis BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang ini dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2017 dengan menggunakan kuesioner dari WHO Quality of Life - BREF (WHOQOL-BREF) dan APGAR Keluarga. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling sebanyak 128 peserta Prolanis di Klinik Pratama Mitra Sehati yang kontrol rutin dalam 3 bulan terakhir. Pada penilaian APGAR keluarga didapatkan 52,3% peserta memiliki keluarga disfungsional sedang dan 43,8% sangat fungsional. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup peserta Prolanis (p value=0,014) sedangkan pengaruh fungsi keluarga terhadap kualitas hidup peserta Prolanis sebesar 8,8% (R2=0,088). Hal ini menjadi salah satu aspek penting bagi dokter di layanan primer agar lebih melibatkan peran fungsi keluarga dalam mengelola pasien penyakit kronis.Kata kunci: fungsi keluarga, kualitas hidup, pasien penyakit kronis degeneratif



2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Helmi Ismunandar ◽  
Yoyos Dias Ismiarto
Keyword(s):  

Cerebral palsy (CP) disebabkan oleh gangguan perkembangan otak. CP tipe spastik merupakan tipe tersering. Spastisitas merupakan kelainan motorik utama. Spastisitas mengganggu aktivitas keseharian seperti berjalan dan makan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara tingkat spastisitas pergelangan kaki dengan kualitas hidup pada anak dengan CP tipe spastik quadriplegia.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan di Klinik Ortopedi dan Traumatologi RSHS pada bulan April 2018. Sebanyak 31 anak dengan CP tipe spastik quadriplegia dilibatkan. Orang tua mereka diminta untuk mengisi kuesioner CP-QOL. Tingkat spastisitas pergelangan kaki dinilai dengan modifikasi skala Ashworth. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I merupakan subjek dengan skor Ashworth ≤ 2. Kelompok II adalah subjek dengan skor Ashworth > 2. Uji stastistik dilakukan dengan uji Spearman.Ada korelasi signifikan antara spastisitas dengan kualitas hidup pada domain kesejahteraan sosial dan penerimaan (p: 0.000); perasaan mengenai fungsi (p: 0.000); partisipasi dan kesehatan fisik (p: 0.000); kesejahteraan emosional dan kepercayaan diri (p: 0.000); rasa sakit dan dampak dari disabilitas (p: 0.002).Dapat disimpulkan bahwa ada korelasi antara spastisitas pergelangan kaki dengan kualitas hidup anak dengan CP tipe spastik quadriplegia.Kata kunci: cerebral palsy, kualitas hidup, spastik quadriplegia, spastisitas



2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Fanny Yudhiono ◽  
Shinta Fitri Boesoerie

Mikrotia didefinisikan sebagai malformasi daun telinga yang memperlihatkan kelainan bentuk ringan sampai berat dengan ukuran kecil sampai tidak terbentuk sama sekali (anotia). Saat ini penggunaan tandur tulang rawan iga autologus masih menjadi baku emas untuk rekonstruksi mikrotia. Prosedur ini diketahui memiliki komplikasi yang sangat jarang, meskipun begitu masih terdapat literatur yang melaporkan terdapat komplikasi berupa infeksi dan reaksi penolakan tubuh pada prosedur tersebut. Kasus ini diajukan untuk menunjukan keberhasilan tahap pertama rekonstruksi mikrotia dilihat dari tanda infeksi dan reaksi penolakan tubuh terhadap tandur tulang rawan iga.  Studi ini merupakan suatu laporan kasus mengenai rekonstruksi telinga dengan prosedur aurikuloplasti tahap 1 pada wanita 17 tahun dengan mikrotia bilateral derajat 3 dan laki laki usia 15 tahun dengan mikrotia unilateral derajat 3 di Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin tahun 2016.  Evaluasi lokasi rekonstruksi pada saat kedua pasien pulang menunjukkan tidak adanya tanda infeksi maupun reaksi penolakan tubuh. Penggunaan tandur autologus masih mejadi pilihan utama dalam penatalaksaanaan operasi mikrotia. Prosedur yang tepat serta perawatan yang baik dapat mengurangi angka kejadian kejadian infeksi dan terhindar dari reaksi penolakan tubuh terhadap jaringan. Pada kasus ini toleransi telinga terhadap tekanan jangka panjang memiliki respon yang cukup baik.Kata kunci: aurikuloplasti, graft, mikrotia, rekonstruksi



2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Yoyos Dias Ismiarto ◽  
Anita Kurniawati ◽  
Arnold David Pardamean

Luka terinfeksi menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan morbiditas pasien ortopedi, termasuk mempengaruhi lamanya rawat inap, biaya, kepuasan pasien, keberhasilan pasca operasi, dan komorbiditas terkait lainnya. Resistensi antibiotik menyebabkan penyembuhan luka menjadi terhambat. Tujuan penelitian ini menemukan pengobatan alternatif untuk menangani luka yang terinfeksi dengan meminimalkan penggunaan antibiotik.Disain penelitian prospektif eksperimental dengan Rancang Acak Lengkap (RAL) menggunakan 16 kelinci Selandia Baru dengan luka yang diinokulasi Staphylococcus aureus. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang hanya diberi antibiotik (A) dan kelompok yang diberi gabungan argumentum (Ag) dan LIDC (B). Hasil diperoleh pada hari ke-6 dan ke-14 dengan mengukur kadar FGF-2, FGF-7, jumlah fibroblas dan laju kontraksi luka. Data diolah secara statistik menggunakan Uji Kruskal Wallis dengan SPSS 2.0. Penelitian ini dilakukan pada September 2017 di Rumah Sakit Hasan Sadikin BandungTerdapat peningkatan yang signifikan dari kadar FGF-2, FGF-7, dan laju kontraksi luka dengan menggunakan kombinasi Ag dan listrik. Selain itu, penggunaan Ag dan kombinasi listrik dapat menekan pertumbuhan koloni bakteriPengelolaan luka terinfeksi dengan menggunakan Ag dan LIDC menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pengobatan menggunakan antibiotikKata Kunci: Argentum, FGF-2, FGF-7, LIDC, Laju Kontraksi Luka



2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Erfen Gustiawan Suwangto ◽  
Yoni Fuadah Syukriani ◽  
Insi Farisa Arya

   Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait pendidikan Dokter Layanan Primer (DLP), terdapat konsep program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi dokter yang telah berpraktik lebih dari lima tahun untuk melalui Pendidikan Masa Transisi selama enam bulan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai proses supervisi terhadap peserta didik dalam program singkat ini. Di luar negeri, proses supervisi untuk peserta program spesialis kedokteran mulai dikembangkan dengan program bernama Entrustable Professional Activities (EPAs). Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif berdasarkan analisis data secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah deskripsi tentang proses kredensial Mahasiswa Program DLP Masa Transisi di wahana pendidikan, deskripsi asas-asas perlindungan hukum terkait Mahasiswa Program DLP Masa Transisi, dan jawaban bahwa asas perlindungan hukum akan terpenuhi dengan integrasi EPAs ke dalam proses kredensial antara Mahasiswa Program DLP dengan wahana pendidikan. Diskusi penelitian ini adalah tentang gambaran proses kredensial Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis berdasarkan aturan yang telah ada, jika diterapkan bagi Mahasiswa Program DLP Masa Transisi di wahana pendidikan yang memakai EPAs dalam sistem supervisinya, gambaran asas perlindungan hukum yang terkait dengan Mahasiswa Program DLP Masa Transisi, serta menjawab apakah integrasi EPAs dalam proses kredensial Mahasiswa Program DLP Masa Transisi akan memenuhi asas perlindungan hukum bagi mereka.Kata kunci: perlindungan hukum, Entrusted Professional Activities, Program Dokter Layanan Primer Masa Transisi



2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Siska Armeinesya ◽  
Rasmia Rowawi ◽  
Muhammad Ersyad Hamda

Kasus human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) telah menjadi masalah kesehatan dunia. High active antiretroviral therapy (HAART) telah menurunkan angka kematian dan kesakitan pada pasien HIV. Pasien HIV memilki risiko tinggi mengalami erupsi alergi obat dibandingkan masyarakat umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi manifestasi erupsi alergi obat ARV pada pasien HIV/AIDS periode 2005–2014 di Klinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien HIV/AIDS dengan erupsi alergi obat ARV di Klinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2005–2014. Dalam penelitian ini didapatkan sebanyak 111 pasien HIV/AIDS mengalami erupsi alergi obat karena ARV. Erupsi alergi obat ARV banyak terjadi pada wanita (55%) dan pada rentang usia 20-29 tahun (55%). Jumlah CD4 pada pasien HIV/AIDS dengan erupsi alergi obat saat pertama kali terdiagnosis HIV terbanyak adalah <200 sel/mm3 (55%). Manifestasi kulit yang paling umum terjadi adalah ruam makulopapular (89,7%). Reaksi erupsi alergi obat umumnya disebabkan oleh nevirapin (82,5%). Dari penelitian ini didapatkan bahwa ruam makulopapular merupakan manifestasi erupsi alergi obat ARV yang paling sering muncul. Obat yang paling banyak ditemukan menyebabkan erupsi alergi obat adalah nevirapin. Kata kunci: erupsi alergi obat, HIV/AIDS, obat ARV



2018 ◽  
Vol 3 (4) ◽  
Author(s):  
Dani Fedrian ◽  
Ascobat Gani

Tersedianya pelayanan kesehatan primer yang berkualitas dan memadai adalah elemen penting dalam menyukseskan Program Jaminan Kesehatan Nasional. Kurangnya minat dari mahasiswa kedokteran dalam memilih karier sebagai dokter yang bekerja di layanan kesehatan primer akan berdampak terhadap kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan nasional. Tujuan penelitian ini adalah diperolehnya informasi mendalam tentang motivasi Mahasiswa PSPD FK Unpad dalam berkarier di layanan kesehatan primer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Informan adalah Mahasiswa PSPD FK Unpad periode Februari 2016 – Juli 2017 yang telah melewati stase/rotasi klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat maupun Ilmu Kedokteran Keluarga. Untuk meningkatkan validitas data dilakukan triangulasi sumber, metode, data, dan analisis. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis. Hasil penelitian yang didapatkan melalui 13 wawancara mendalam dan 1 diskusi kelompok terarah menunjukkan bahwa motivasi yang ditemukan pada Mahasiswa PSPD FK Unpad yang tertarik dalam berkarier di layanan kesehatan primer adalah berkaitan dengan beban kerja dan waktu kerja (intrinsic process motivation); nilai orientasi sosial, tanggung jawab, dan kepedulian (goal internalization); konsep diri supel (internal self concept-based motivation); dan penerimaan masyarakat (external self concept-based motivation). Dari hasil ini, FK Unpad diharapkan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa melalui kurikulum dan lingkungan akademis yang mendukung tumbuhnya minat untuk berkarier di layanan kesehatan primer.Kata kunci:FK Unpad, Layanan Kesehatan Primer, Motivasi, Pemilihan Karier, Pendidikan Dokter



2018 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Rini Meiandayati ◽  
Sefita Aryati Nirmala ◽  
Didah Didah ◽  
Ari Indra Susanti
Keyword(s):  

Permasalahan pernikahan usia dini di masyarakat pada kenyataannya masih banyak terjadi di negara berkembang terutama di pelosok terpencil. Menikah usia dini menjadi pencetus terjadinya resiko pada kehamilan yang dapat meningkatkan kesakitan bahkan kematian bagi ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Karakteristik dan Sosial Budaya yang Mempengaruhi Pernikahan Usia Dini di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Tahun 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif dengan pendekatan Cross sectional. Waktu pembuatan penelitian dan tempat dilakukan di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang sejak Oktober 2013 sampai dengan Juli 2014. Jenis Pengambilan sampel menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dijadikan sampel sebanyak 44 orang. Hasil penelitian pernikahan usia dini terbanyak terjadi pada usia 19−20 tahun (56,41%), pendidikan SMP (61,54%), pekerjaan responden saat menikah tidak bekerja (71,79%), pendapatan suami saat menikah ≤Rp.1.300.000 (92,31%), pendapatan responden saat menikah yaitu tidak ada pendapatan (71,79%), pendapatan orang tua responden ≤Rp.1.300.000 sebanyak (92,3%), perilaku sosial budaya dari faktor individu yang melakukan (61,54%), faktor keluarga (82,05%), dan faktor masyarakat lingkungan (64,10%). Kejadian pernikahan usia dini masih banyak terdapat di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Salah satu penyebab terjadinya pernikahan usia dini adalah perilaku sosial budaya yang meliputi faktor individu, faktor keluarga dan faktor lingkungan masyarakat.Kata Kunci : Pernikahan Usia Dini, Perilaku Sosial Budaya (Faktor Individu, Keluarga, Lingkungan Masyarakat).



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document