Jurnal Riset Teknik Industri
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

5
(FIVE YEARS 5)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Islam Bandung (Unisba)

2798-6349

2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 36-42
Author(s):  
Krida Cipta N ◽  
Aviasti ◽  
Dewi Shofi Mulyati

Abstract. Quality control is activities to be able to improve, maintain and improve the quality of the products produced. Because it controls the quality, it is very important to improve the quality of the products produced. Can improve the quality expected by all elements of the company can be obtained as expected. CV. X is a company established in the city of Bandung in 2003, Jakarta, Bogor and Central Java. The company is engaged in the production of various laboratory equipment such as erlenmayer, test tubes, drip pipettes, measuring flasks and measuring cups. The number of pumpkin production in 2016 was 2218, in 2017 as many as 2429 and in 2018 as many as 2871. Of the total production, the level of defect of pumpkin products measured an increase in 2016 of 3.5%, in 2017 amounted to 4.3% and in 2018 of 5.3%. The level of product defect exceeds the target or determined by the company for smoothness of 2%, it is necessary to improve the quality of product defects in the flask. Fault Tree Analysis (FTA) and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) can be used to analyze and provide solutions to improve the quality of defective products. Based on the processing and analysis of the data obtained on the type of defective form is not appropriate is the operator who is not careful with the value of RPN 120, the cause of screen printing defects that consider cleanliness, less careful, dirty work area, the user uses the operator to reverse the setting with the RPN value 144, causing damage back / broken ie operator settings change, less careful and less tidy work station with a value of RPN 240. Abstrak. Pengendalian kualitas merupakan aktivitas-aktivitas untuk dapat menjaga, mempertahankan dan dapat meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkan. Oleh karena hal tersebut pengendalian kualitas memiliki peranan sangat penting dalam terciptanya produk yang berkualitas. Sehingga tujuan yang diharapkan oleh seluruh elemen perusahaan dapat tercapai. CV. X merupakan perusahaan yang didirikan di Kota Bandung pada tahun 2003, berbasis usaha kecil menengah dengan pangsa pasar meliputi wilayah Bandung, Jakarta, Bogor dan Jawa Tengah. Perusahaan ini bergerak dalam produksi berbagai macam alat-alat laboratorium seperti erlenmayer, tabung reaksi, pipet tetes, labu ukur dan gelas ukur. Jumlah produksi labu ukur pada tahun 2016 adalah 2218, pada tahun 2017 sebanyak 2429 dan pada tahun 2018 sebanyak 2871 . Dari jumlah produksi tersebut, tingkat kecacatan produk labu ukur mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2016 sebesar 3.5%, tahun 2017 sebesar 4,3% dan tahun 2018 sebesar 5,3%. Tingkat kecacatan produk sudah melewati ambang batas dari yang diharapkan perusahaan sebesar 2 % sehingga diperlukan upaya unuk mengatasi masalah kecacatan produk pada labu ukur . Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dapat digunakan untuk menganalisis dan memberikan solusi terhadap perbaikan kualitas produk cacat. Hasil dari data yang telah diolah dan dianalisa, faktor penyebab kecacatan bentuk tidak sesuai yaitu operator kurang hati-hati dengan nilai RPN 120, penyebab cacat sablon yaitu perhatian terhadap kebersihan kurang, kurang hati-hati, stasiun kerja kotor, intensitas penggunaan alat tinggi, kurangnya pengawasan dan operator mengabaikan setting dengan nilai RPN 144, penyebab cacat retak/pecah yaitu operator mengabaikan aturan setting, kurang hati-hati dan stasiun kerja kurang rapi dengan nilai RPN 240.


2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 28-35
Author(s):  
Shifa Salimatusadiah ◽  
Nur Rahman As’ad ◽  
Puti Renosori

Abstract. CV. X is a company engaged in the convection of women's bags and mini backpacks. CV. X uses the make to order process. In the process of making a mini backpack, the activities are carried out in a sitting position according to the standard, namely the sewing process, while for the process of the pattern, the cutting process, and the process of installing the accessories are done in a sitting position on the floor without a base. Based on the results of interviews with operators, it was found that the most complaints with the working conditions of the neck bowed, back bent, sat barefooted with legs crossed occurred in the operator mounting accessories. The method used is the OWAS method and the Nordic Body Map Questionnaire. Based on the results of interviews and the Nordic Body Map questionnaire, complaints were felt that consisted of neck, lower back and lower legs, knees, buttocks, and ankles. The following conditions cause muscle injury, musculoskeletal disorders. The results of the determination of work risk using the Ovako Working Analysis System (OWAS) method obtained all work elements in the process of installing accessories with the second level category, namely the process of gluing spots, cutting relief materials, linking relief and hurdles, linking spots, uniting all elements, and installing accessories. Abstrak. CV. X merupakan perusahaan yang bergerak dibidang konveksi tas wanita dan mini backpack. CV. X menggunakan proses make to order. Pada proses pembuatan tas mini backpack yang aktivitasnya dikerjakan dengan posisi duduk sesuai standar yaitu proses penjahitan, sedangkan untuk proses pola, proses potong, dan proses pemasangan accesories dikerjakan dengan posisi duduk dilantai tanpa alas dilakukan secara berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang lama. Berdasarkan hasil wawancara dengan operator didapatkan bahwa keluhan terbanyak dengan kondisi kerja leher menunduk, punggung membungkuk, duduk tanpa alas dengan kaki menyilang terjadi pada operator pemasangan accesories. Metode yang digunakan yaitu metode OWAS dan Kuisioner Nordic Body Map. Berdasarkan hasil dari wawancara dan kuisioner Nordic Body Map diperoleh keluhan yang dirasakan terdiri dari bagian leher, punggung atas dan bawah, lutut, bokong/paha, dan pergelangan kaki.. Hasil dari penentuan risiko kerja menggunakan metode Ovako Working Analysis System (OWAS) didapat seluruh elemen kerja pada proses pemasangan accesories dengan kategori level dua yaitu proses merekatkan bintik, menggunting bahan lega, mengaitkan lega dan gawang, mengaitkan bintik, menyatukan semua elemen, dan pemasangan accesories.


2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 14-27
Author(s):  
Irsyad Ali Syahid ◽  
Nur Rahman As’ad ◽  
Puti Renosori

Abstract. CV. X is a textile company that manufactures sarong, napkin rags and other fabric materials. The core production process is carried out by the company with several process elements carried out by the company's business partners (subcontract). The fabrication process of a sarong product is carried out with a semi-automatic machine that is operated by an operator with some process elements that are carried out by a conventional operator. Based on the identification of work risks using the Quick Exposure Checklist (QEC) questionnaire, that operator works in a limited body posture condition so as to produce a score of more than 50% and the need for action in the near future. These results indicate how high this risks experienced by finishing work station operators. The condition of the operator working in a folded or squatting sitting position, forearm reach, dynamic hand movements plus limited operator motion because sitting without proper facilities is a major problem. If this is not treated as soon as possible it can have a negative impact on the operator such as physical fatigue, decreased operator performance to skeletal muscle injury (mosquletal disorder). Quick Exposure Checklist show that the occupational risk level of work is at level 3 (three) which shown a high score level that action is needed as soon as possible to minimize the risk of work. The proposed action to minimize the risk is to design an ergonomic work facility in accordance with the needs of the operator at the finishing work station using the Anthropometry method. Abstrak. CV. X merupakan perusahaan tekstil yang memproduksi kain sarung, lap serbet serta bahan kain lainnya. Proses produksi inti dilakukan oleh perusahaan dengan beberapa elemen proses yang dilakukan oleh mitra usaha perusahaan (subcont). Proses pabrikasi produk kain sarung dikerjakan dengan mesin-mesin semi otomatis yang dioperasikan operator dengan beberapa elemen proses yang dikerjakan operator secara konvensional. Berdasarkan identifikasi dan observasi resiko kerja menggunakan kuesioner Quick Exposure Checklist (QEC), operator bekerja pada kondisi postur tubuh yang terbatas sehingga menghasilkan hasil skor lebih dari 50% dan diperlukannya tindakan dalam waktu dekat. Hasil ini menunjukan besarnya resiko kerja yang dialami operator stasiun kerja finishing. Kondisi operator yang bekerja pada posisi duduk terlipat maupun jongkok, jangkauan tangan kedepan, pergerakan tangan yang dinamis ditambah terbatasnya gerak operator karena duduk tanpa ditunjang fasilitas yang layak menjadi faktor masalah utama. Jika hal ini tidak ditangani sesegera mungkin dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap operator seperti kelelahan fisik, penurunan kinerja operator hingga cedera otot rangka (mosquletal disorder). Hasil penilaian resiko kerja Quick Exposure Checklist menunjukkan bahwa level resiko kerja pekerjaan berada pada level 3 (tiga) yang menunjukan level skor tinggi sehingga perlu dilakukannya tindakan dalam waktu dekat guna meminimasi besarnya resiko kerja. Tindakan yang diusulkan guna meminimasi resiko tersebut yaitu dengan merancang fasilitas kerja yang ergonomis sesuai dengan kebutuhan operator pada stasiun kerja finishing dengan menggunakan metode Antropometri.


2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 43-48
Author(s):  
Mochammad Iqbal Syidik ◽  
M Dzikron ◽  
Iyan Bachtiar

Abstract. CV. X is a company engaged in the leather industry that manufactures wallets, bags and key chains. The company experienced a decrease in sales volume due to a decrease in product quality from defective products in the company. Leather bags have an average percentage of disability of 2.39% in 2017-2018 from the company's disability limit of 2%. The existence of these defective products requires companies to improve product quality to reduce the occurrence of defects. The method used to solve the problems that are being faced by the company is the Seven Tools Quality Control method to identify the causes of product defects, while the Rezhenija Izobretatelskih Zadach (TRIZ) method is used to design a product quality improvement plan. The result of data processing which becomes the main priority is defect cutting. The causes of cutting defects include decreased work concentration, inadequate workers, poor physical condition, no machine maintenance, blunt cutting machines, high cutting machine use intensity, work environment, hot room temperature, lack of work space lighting. All causes of product defects are designed to improve the quality of leather bag products by creating visual controls, forms for worker health, cutting knife replacement machines, installing air conditioners, and adding lights to the sewing machine. Abstrak. CV. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri kulit yang memproduksi dompet, tas, dan gantungan kunci. Perusahaan mengalami penurunan volume penjualan yang disebabkan karena adanya penurunan kualitas produk dari produk cacat di perusahaan. Tas kulit memiliki rata-rata persentase kecacatan sebesar 2,39% pada tahun 2017-2018 dari batas kecatatan yang ditetapkan perusahaan sebesar 2%. Adanya produk cacat tersebut mengharuskan perusahaan melakukan perbaikan kualitas produk untuk mengurangi terjadinya kecacatan. Metode yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan yaitu metode Seven Tools Quality Control untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya kecacatan produk, sedangkan metode Teorija Rezhenija Izobretatelskih Zadach (TRIZ) digunakan untuk membuat rancangan perbaikan kualitas produk. Hasil pengolahan data yang menjadi prioritas utama yaitu cacat potong. Penyebab cacat potong diantaranya yaitu konsentrasi kerja menurun, pekerja kurang hati-hati kondisi fisik kurang baik, tidak ada perawatan mesin, mesin potong tumpul, intesitas penggunaan mesin potong tinggi, lingkungan kerja, suhu ruangan panas, pencahayaan ruang kerja kurang. Semua penyebab cacat produk dibuat rancangan perbaikan untuk meningkatkan kembali kualitas produk tas kulit dengan membuat visual control, form untuk kesehatan pekerja, mesin penggantian pisau potong, pemasangan AC, serta penambahan lampu pada meisn jahit.


2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 1-13
Author(s):  
Saeful Nurochim ◽  
Nur Rahman As’ad ◽  
Asep Nana Rukmana

Abstract. Product design is a stage in the process of making products based on certain shapes, sizes, and colors. Industrial Home industry is a company engaged in the bag manufacturing industry that has its own product brand, Kaboa. The problem with this is that Kaboa waistbag products have experienced a decline in sales by the significance associated with several problems, namely (1) There are no new models or innovations in Kaboa waistbag products, (2). The objectives of this study are (1) To identify the needs and demands of customers who are priorities and prove to be a variable in the quality of waistbag product designs, (2) Make waistbag product designs according to customer desires and needs to be able to meet customer demand and search. In this study, the method used to develop and request waistbag products to suit customer needs is the Quality Function Deployment (QFD) method. The parameters used in the Kaboa waistbag product design process are 13 quality variables used as references. The best alternative product design options are products made from condura fabric with the cheapest production costs, good quality, strong and durable, with patterned colors according to the consumer and the company's target market with the company's ability. Abstrak. Perancangan produk merupakan tahapan dalam proses menciptakan sebuah produk berdasarkan model bentuk, ukuran, dan warna tertentu. Home industri Kindustries merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri pembuatan tas yang memiliki brand produk sendiri yaitu Kaboa. Permasalahan yang dihadapi adalah produk waistbag Kaboa telah mengalami penurunan penjualan secara signifikan yang disebabkan beberapa permasalahan yaitu (1) Belum banyaknya model atau inovasi baru pada produk waistbag Kaboa, (2) Pangsa pasar sempit yang hanya di fokuskan kepada kalangan orang yang senang melakukan kegiatan outdoor. Tujuan pada penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang menjadi prioritas dan menerjemahkannya menjadi variabel kualitas rancangan produk waistbag, (2) Membuat usulan rancangan produk waistbag sesuai keinginan dan kebutuhan pelanggan untuk dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan upaya memperluas pasar untuk meningkatkan penjualan. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk mengembangkan dan merancang produk waistbag agar sesuai kebutuhan dengan keinginan pelanggan adalah metode Quality Function Deployment (QFD). Parameter yang digunakan dalam proses desain produk waistbag yaitu berupa 13 variabel kualitas yang digunakan sebagai acuan. Alternatif desain produk pilihan terbaik rancangan produk berbahan kain condura dengan biaya produksi paling murah, berkualitas baik, kuat dan tahan lama, dengan warna bermotif sesuai penilaian konsumen dan target pasar perusahaan serta kemampuan perusahaan.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document