bruguiera parviflora
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

19
(FIVE YEARS 1)

H-INDEX

11
(FIVE YEARS 0)

2021 ◽  
Vol 22 (7) ◽  
Author(s):  
Endang Hilmi ◽  
Lilik Kartika Sari ◽  
Tri Nur Cahyo ◽  
Muslih MUSLIH ◽  
Arif Mahdiana ◽  
...  

Abstract. Hilmi E, Sari LK, Cahyo TN, Muslih, Mahdiana A, Samudra SR. 2021. The affinity of mangrove species using Association and Cluster Index in North Coast of Jakarta and Segara Anakan of Cilacap, Indonesia. Biodiversitas 22: 2907-2920. The affinity of mangrove species using association and cluster index describe relationship among mangrove species. The species association and clustering explain the degree of utilization of resources and space by mangrove species. The association and cluster also describe specific species adaptation in mangrove ecosystems. This paper was aimed to analyze species affinity using association and clustering index of mangrove species. The association index used Chi-square equation and the clustered index used Euclidian distance analysis. The results showed that (i) mangrove density in Segara Anakan (166-4000 trees ha-1) > North Jakarta (220-1100 trees ha-1). (ii) Nypa fruticans, Avicennia marina, Rhizophora stylosa and Rhizophora apiculata dominated in Segara Anakan of Cilacap, and Rhizophora stylosa and Avicennia marina dominated in North Jakarta (iii) The association index had 12 pairs of negative species association and 17 pairs of positive species association, but most of mangrove vegetations had no association. (iv) mangrove ecosystem in Segara Anakan and North Jakarta had four clusters with Euclidean distance (ED score) 484 to describe cluster between Bruguiera parviflora-Bruguiera sexangula until 76430847 to describe cluster among Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Ceriops decandra, Exoecaria agallocha, Nypa fruticans, Ceriops tagal, Rhizophora stylosa, and Sonneratia caseolaris



2020 ◽  
Vol 12 (3) ◽  
pp. 875-884
Author(s):  
Anggreini D.N. Rupidara ◽  
Wilson L. Tisera ◽  
Mellissa E. S. Ledo

Studi etnobotani berguna untuk menganalisis pemanfaatan jenis dan bagian tumbuhan mangrove secara kuantitatif berdasarkan indeks signifikansi budaya (Index of Cultural Significance) masyarakat pesisir. Penelitian dilakukan di area mangrove Taman Wisata Mangrove Kelurahan Oesapa, Pantai Manikin, Pantai Sulamanda Desa Mata Air, Desa Kelapa Tinggi di Kelurahan Tarus, Desa Oebelo dan Desa Pariti. Pengumpulan data menggunakan metode survei lapangan, observasi dan teknik wawancara semi-terstruktur tentang tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan dan cara pengolahan terhadap masyarakat yang ada di sekitar hutan mangrove. Hasil wawancara diperoleh bahwa terdapat 6 (enam) spesies mangrove major, yakni: Avicennia marina, Sonneratia alba, Bruguiera parviflora, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, dan R. mucronata, dan 1 (satu) spesies mangrove asosiasi, yakni Nypa fruticans. Berdasarkan nilai Indeks Signifikansi Budaya (ICS), R. mucronata memiliki nilai ICS tertinggi (708), yaitu sebagai indikator lingkungan (340) dan bahan bangunan (320). A. marina, nilai ICS 114, terutama pemanfaatannya untuk bahan obat (108), dan S. alba bernilai ICS 54, terutama sebagai  pengganti sirih (12). Mangrove digunakan sebagai indikator lingkungan, kayu bakar, bahan bangunan, bahan obat, kegiatan pertanian, berkaitan dengan mitos, pengganti sirih, pembuatan garam, bahan perahu, pembuatan sirup dan pakan ternak.



2020 ◽  
Vol 18 (3) ◽  
pp. 515-521
Author(s):  
Satya Agustina Laksananny ◽  
Erny Poedjirahajoe ◽  
Ris Hadi Purwanto ◽  
Muh Taufik Tri Hermawan

Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu daerah yang potensial hutan mangrovenya baik dari segi hasil hutan kayunya (HHK) maupun hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekologisnya, yang meliputi substrat, suhu, pH dan salinitas air. Lokasi penelitian ini di Desa Dampala Jaya dan Bumi Lapero, Kecamatan Kulisusu Barat, Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :1) untuk mengetahui jenis vegetasi mangrove di lokasi pnelitian; 2) untuk mengetahui struktur vegetasi penyusun hutan mangrove di lokasi penelitian;3) untuk mengetahui Indeks Nilai Penting mangrove di lokasi penelitian; 4) untuk mengetahui Indeks keanekaragaman mangrove. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan kombinasi desain jalur dan metode garis berpetak (Onrizal, 2008). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di lokasi penelitian terdapat 5 (lima) jenis vegetasi mangrove, yaitu Bruguiera gymnorrhyza, Rhizophora stylosa, Xylocarpus granatum, Heriteria littoralis, Bruguiera parviflora. Indeks Nilai Penting di Desa Dampala Jaya yang tertinggi adalah spesies Bruguiera gymnorrhyza  baik pada tingat semai (100,05), tiang atau pancang (93,93) dan pohon (95,75); sedangkan Indeks Nilai Penting terendah di tingkat semai Heriteria littoralis (12,71), tingkat tiang atau pancang dan tingkat pohon adalah spesies Bruguiera parviflora,masing-masing dengan nilai 17,71 dan 17,93. Indeks Nilai Penting tertinggi di Desa Bumi Lapero tingkat semai yaitu adalah Bruguiera gymnorrhyza  yaitu 82,28, tingkat pancang atau tiang Rhizophora stylosa yaitu 114,07, tingkat pohon Bruguiera gymnorrhyza yaitu 106,04. Indeks Nilai Penting terendah adalah spesies Bruguiera parviflora baik pada tingkat semai (8.00), tingkat tiang atau pancang (12,66) dan tingkat pohon (22,78). Indeks keanekaragaman (H’) di Desa Dampala Jaya tertinggi pada tingkat semai yaitu spesies Bruguiera parviflora (0,21), sedangkan tingkat tiang atau pancang terdapat pada spesies Bruguiera gymnorrhyza dan Rhizophora stylosa masing-masing 0,37 begitu juga pada tingkat pohon terdapat pada spesies Bruguiera gymnorrhyza dan Rhizophora stylosa dengan nilai masing-masing 0,37. Indeks Nilai Penting vegetasi mangrove menggambarkan pentingnya peranan satu jenis spesies mangrove dalam ekosistem hutan mangrove. Jika Indeks Nilai Penting vegetasi mangrove tinggi nilainya, maka spesies mangrove itu sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem hutan mangrove. Nilai Indeks Keanekaragaman di Desa Dampala yang tertinggi adalah Rhizophora stylosa pada tingkat semai yaitu 0,36, tingkat pancang atau tiang Bruguiera gymnorrhyza  dan Rhizophora stylosa yaitu 0,37, tingkat pohon Bruguiera gymnorrhyza  dan Rhizophora stylosa yaitu 0,37. Nilai indeks keanekaragaman di Desa Bumi Lapero yang tertinggi pada tingkat semai adalah Rhizophora stylosa yaitu 0,36, pada tingkat pancang atau tiang Bruguiera gymnorrhyza yaitu 0,37, pada tingkat pohon Rhizophora stylosa yaitu 0,37. Berdasarkan kriteria keanekaragaman Barbour et al. (1987) dalam Syamsuddin, N., (2019); H’= 1-2 (rendah), H’=2-3 (sedang), H’= 3-4 (tinggi), H’= >4 (sangat tinggi), sehingga Nilai Indeks Keanekaragaman di Desa Dampala Jaya dan Desa Bumi Lapero tergolong rendah.



2020 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
pp. 1-10
Author(s):  
Agus Putra A. Samad ◽  
Pitri Agustina ◽  
Mus Herri

Langsa merupakan salah satu kota pesisir Aceh yang memiliki kawasan mangrove yang  sangat  potensial.  Kota  ini  memiliki  panjang  garis  pantai  16  km dengan luas kawasan mangrove sebesar 7.837 Ha. Keberadaan mangrove di wilayah ini menjadi aset strategis untuk dikembangkan menjadi basis kegiatan ekonomi untuk memakmurkan masyarakat dan meningkatkan pendapatan  asli  daerah. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk melestarikan potensi sumberdaya ekosistem mangrove yang ada di Kota Langsa agar dapat memberikan fungsi ekologis dan ekonomis secara berkesinambungan kepada masyarakat disekitarnya. Kajian ini dilakukan menggunakan metode survei, analisa laboratorium dan observasi lapangan. Hasil pengamatan terhadap komposisi jenis tumbuhan yang terdapat di ekosistem mangrove menunjukkan 8 jenis tumbuhan mangrove yaitu: jenis Avicennia lanata, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Rhizophora apiculata, Rhizophora  mucronata, Sonneratia Caseolaris dan Xylocarpus granatum. Nilai rata-rata parameter kualitas air di ekosistem mangrove secara beturut-turut adalah DO (6.3 ppm),salinitas (27 ‰), pH tanah dasar (6.0), pH tanah permukaan (5.08), pH air (7.33), suhu (30 oC) dan kecerahan (5 m).  Perhitungan terhadap nilai manfaat ekosistem mangrove meliputi: 1) Nilai manfaat langsung perikanan tangkap: Rp. 8.710.000.000 per tahun, 2) Nilai manfaat budidaya tambak: Rp. 93.940.000.000,- per tahun, 3) Nilai penahan abrasi dan banjir: Rp. 300.000.000,- per hektar per tahun, 4) Nilai sebagai penyediaan unsur hara: Rp. 28.634.000,- per tahun, 5) Nilai manfaat pilihan: Rp. 210.000.000,- per tahun dan 6) Nilai manfaat keberadaan: Rp. 1.464.493.000,- per tahun.  Nilai keberadaan ekosistem mangrove yang dinilai adalah Nilai Keaslian = 70 % (lebih dari asli), Nilai Keindahan Alam = 74 % (lebih dari indah), Nilai Kenyamanan = 66% (kondisi lebih dari nyaman),  dan Nilai Aspirasi masyarakat = 98 % (sangat didukung masyarakat). Alternatif  pengelolaan  dan  pemanfaatan  ekosistem  mangrove  yang diperkirakan cocok secara ekonomi dan ekologis terdiri dari beberapa kegiatan pilihan yaitu budidaya ikan, udang, tiram dan kepiting, budidaya ikan kerapu dan kakap, pengolahan buah dan daun mangrove, dan pengembangan obyek wisata.



2017 ◽  
Vol 8 (1) ◽  
pp. 48-54
Author(s):  
Cecep Kusmana ◽  
Zulkifli Abidin Chaniago

Species site matching activities very useful to support the success of cultivation of the land, because this activity will be known the suitability of a plant species and its environment. Specifically for mangrove, factors that need to be considered to do species site mathing are salinity, frequency of flooding, soil texture and acidity of waters. Mangrove area in Bulaksetra, Desa Babakan Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran on 17th July 2006 ever experienced tsunami disaster. Mangrove forest which is located in that area having damage that result mangrove vegetation on some terrace in that area already lost. Therefore, that area must be rehabilitation so that ecological functions of the area can return. This research was conducted to know mangrove species who suitable to plant in that area, which do the measurement activity mangrove land suitability parameters consisting of salinity, frequency of flooding, soil texture and acidity of waters. Research result provide information that the appropriate species planted in the damaged mangrove areas include Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris and Avicennia spp. are major mangrove species and Xilocarpus granatum and Heritiera littoralis are minor mangrove species. Then the dominant vegetation area is Nypa fruticans, the appropriate type among others are Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera parviflora, Sonneratia alba, and Avicennia spp.Key word: Bulaksetra, land suitability, mangrove, rehabilitation



2008 ◽  
Vol 255 (1) ◽  
pp. 179-182 ◽  
Author(s):  
Mahmood Hossain ◽  
Saberi Othman ◽  
Japar Sidik Bujang ◽  
Misri Kusnan


ChemInform ◽  
2005 ◽  
Vol 36 (33) ◽  
Author(s):  
Parinuch Chumkaew ◽  
Shigeru Kato ◽  
Kan Chantrapromma
Keyword(s):  


2005 ◽  
Vol 53 (1) ◽  
pp. 95-96 ◽  
Author(s):  
Parinuch Chumkaew ◽  
Shigeru Kato ◽  
Kan Chantrapromma
Keyword(s):  


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document