Jurnal Ilmu Lingkungan
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

347
(FIVE YEARS 261)

H-INDEX

3
(FIVE YEARS 3)

Published By Institute Of Research And Community Services Diponegoro University (Lppm Undip)

1829-8907

2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 219-230
Author(s):  
Erik Febriarta ◽  
Muh Aris Marfai ◽  
Dhandhun Wacano ◽  
Ajeng Larasati ◽  
Dyah Rahmawati Hizbaron

Fomasi litologi akuifer batugamping mempunyai karakteristik media aliran berupa celah, rekahan, dan lorong pelarutan, sehingga memiliki potensi mengalirkan airtanah dengan kecepatan tinggi. Produktivitas yang tinggi ini mengakibatkan sumber pencemar di permukaan dapat dengan cepat meresap ke sistem akuifer dan bercampur dengan airtanah; kondisi inilah yang memicu kerentanan tinggi. Salah satu langkah pengelolaan airtanah pesisir adalah penentuan zona kerentanan airtanah terhadap pencemaran. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerentanan airtanah pesisir terhadap pencemaran di formasi batugamping menggunakan metode COP dengan pendekatan intrinsik dan metode EPIK dengan pendekatan perkembangan karst. Hasil penilaian menggunakan kedua metode tersebut menunjukkan tingkat kerentanan rendah hingga sangat tinggi. Pemetaan metode COP menghasilkan dua kelas kerentanan: rendah (95% dari luas wilayah) dan sedang (4%), sedangkan metode EPIK menghasilkan zona indeks kerentanan yang lebih panjang dengan empat kelas kerentanan, yaitu rendah (1,23%), sedang (17,82%), tinggi (17,82%), dan sangat tinggi (21,65%). Dibandingkan dengan COP, EPIK menghasilkan kelas kerentanan yang lebih tinggi karena pengaruh koefisien pembobot pada formula penghitungannya. Hasil penilaian kerentanan divalidasi dengan indikator limbah domestik berupa senyawa nitrat (NO3). Uji laboratorium menunjukkan kandungan nitrat (NO3) airtanah yang bervariasi dari 0,12 mg/l (terendah) hingga 9,80 mg/l (tertinggi). Variasi ini masih berada di bawah baku mutu air minum tetapi di atas baku mutu air limbah domestik atau melebihi kadar nitrat di alam. Berdasarkan hasil validasi, zona kerentanan berkorelasi dengan kandungan nitrat (NO3). Pada zona kerentanan yang tinggi, ditemukan kadar nitrat yang tinggi pula.ABSTRACTA limestone aquifer is lithologically characterized by three flow media: fissures, fractures, and dissolution channels, thus creating the potential to drain groundwater at a high rate. This high productivity, however, means that the groundwater is highly vulnerable to pollution. If a pollutant source is present on the surface, it can quickly seep into and mix with the subsurface system. Among the widely proposed management strategies is groundwater vulnerability zoning. This study was intended to determine the degrees of coastal groundwater vulnerability to pollution in a limestone formation with two methods: COP intrinsic vulnerability) and EPIK (karst development-based vulnerability). The assessment results showed that the vulnerability produced with both methods varied from low to very high. In the mapping, COP produced two levels: low (95% of the total area) and medium (4%), while EPIK generated a longer vulnerability index zone with four levels: low (1.23%), medium (17.82%), high (17.82%), and very high (21.65%). Compared to COP, EPIK results in a higher vulnerability class due to the weighting values in its vulnerability assessment. The results were validated with a domestic waste indicator: the presence of nitrate (NO3). Laboratory tests showed NO3 concentrations in the range 0.12 of 9.80 mg/l. These figures are still below the quality standard for drinking water but above that of domestic wastes or exceeding the maximum NO3 content found in nature. The validation revealed that the vulnerability zone is correlated with NO3 levels: the higher the vulnerability class of the zone, the higher the nitrate content.


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 325-334
Author(s):  
Danastri Ratna Nursinta Dewi ◽  
Singgih Saptadi ◽  
Heru Prastawa

Economic growth can be assessed through industrial development. However, problems arise regarding the discharge of waste into lakes or rivers, leading to biodiversity loss and endangering human health. A study conducted in the UK stated that small and medium enterprises (SMEs) were the largest contributor to waste and pollution. This was because they ignored the regulations governing environmental management. As happened in the Bekonang alcohol industry center, the waste from the alcohol production process polluted the Bengawan Solo tributary as the Water Supply Corporation (WSC). In order to overcome these problems, we need a measurement that can increase production efficiency. Eco-efficiency is a concept that combines efficiency and economy based on efficiency principles. The different models are proposed to measure the eco-efficiency of production, namely with a weighting system that aggregates environmental results. The Data Envelopment Analysis (DEA) enables aggregation without the need for subjective or normative judgments about weights. Although DEA does not require subjective or normative judgments, weight restrictions can be incorporated into the framework. The purpose of this study was to determine the eco-efficiency of the Bekonang alcohol production process using the economic results of the production process and the environmental impact assessed through a life cycle assessment (LCA). There were three products, namely 30% alcohol for consumption, 90% alcohol for medical purposes, and hand sanitizer. The environmental impact was assessed from a life cycle assessment, while the economic assessment was determined by calculating the net profit for each product at a capacity of 100 liters/day. Economic assessment can be divided into two perspectives, namely the Social Perspective (SP) and Company Perspective (CP). From the modeling results, the most eco-efficient production process was hand sanitizer with an eco-efficiency value of 1.ABSTRAKPertumbuhan ekonomi dapat dinilai melalui perkembangan industri, tetapi masalah muncul terkait pembuangan limbah ke danau atau sungai yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati yang membahayakan kesehatan manusia. Penelitian yang dilakukan di Inggris menyatakan, jika penyumbang limbah dan polusi terbesar adalah dari usaha kecil menengah (UKM), karena mereka mengabaikan peraturan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan. Seperti yang terjadi di sentra industri alkohol Bekonang, limbah hasil proses produksi alkohol mencemari anak sungai Bengawan Solo sebagai suplai air PDAM. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu pengukuran yang dapat meningkatkan efisiensi produksi. Eko-efisiensi merupakan konsep yang menggabungkan efisiensi dan ekonomi berdasarkan prinsip efisiensi. Model yang berbeda diusulkan untuk mengukur eko-efisiensi pada suatu produksi, yaitu dengan sistem pembobotan yang mengagregasi hasil lingkungan. Analisis data envelopment analysis (DEA) memungkinkan agregasi tanpa membutuhkan penilaian subjektif atau normatif pada bobot. Meskipun DEA tidak memerlukan penilaian subjektif atau normatif, pembatasan bobot dapat dimasukkan ke dalam kerangka kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai eko-efisiensi proses produksi alkohol Bekonang, menggunakan hasil ekonomi dari proses produksi dan dampak lingkungan, yang dinilai melalui life cycle assessment (LCA).Terdapat tiga produk yang dianalisi, alkohol 30% untuk konsumsi; alkohol 90% untuk keperluan medis; dan hand sanitizer. Dari hasil pemodelan yang telah dilakukan, proses produksi yang paling eko-efisien adalah hand sanitizer dengan nilai eko-efisiensi adalah 1.


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 302-315
Author(s):  
Amarulla Octavian ◽  
Marsetio Marsetio ◽  
Abimanyu Hilmawan ◽  
Rizqi Rahman

Kerusakan pesisir dan pulau-pulau kecil akibat abrasi dan dampak perubahan iklim di Provinsi Sumatera Barat sudah di tingkat yang mengkhawatirkan. Kondisi geografis Sumatera Barat yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia membuat sifat tumbukan gelombang di pesisir relatif kuat sehingga abrasi berlangsung dengan cepat. Kerusakan ekosistem mangrove akibat penebangan, alih fungsi lahan, pencemaran muara, dan kerusakan terumbu karang akibat penggunaan bom, potas, dan pemutihan karang, turut mempercepat terjadinya abrasi. Kerusakan pesisir dan pulau-pulau kecil perlu dicegah karena dapat mengurangi keunggulan strategis pertahanan di wilayah terluar, mengganggu efektivitas fungsi infrastruktur sipil dan militer di pesisir, mengganggu stabilitas ekonomi dan mengurangi ruang hidup masyarakat, membahayakan navigasi, dan mengancam keanekaragaman hayati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sumberdaya dan upaya pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat dalam melindungi pesisir dan pulau-pulau kecil dari abrasi dan dampak perubahan iklim. Penelitian dilaksanakan pada 15-23 September 2019 di Kota Padang dan di Pulau Sipora. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, dan wawancara mendalam kepada pejabat instansi pemerintah daerah dan warga di sekitar pesisir. Data dianalisis menggunakan teknik data condensation, data display, dan conclusion drawing. Hasil penelitian menunjukkan instansi-instansi daerah memiliki keunggulan uniknya masing-masing dalam mendukung pencegahan abrasi dan adaptasi perubahan iklim, namun upaya-upaya yang dilaksanakan masih bersifat sporadis, reaktif, tidak terkoordinasi, dan tidak berkelanjutan. Sumber daya bahan baku untuk pencegahan abrasi dan adaptasi perubahan iklim tersedia melimpah di Sumatera Barat, namun sumber daya keorganisasian yang dimiliki instansi daerah relatif terbatas. Kondisi ini membuat abrasi dan dampak perubahan iklim tidak dapat dicegah secara efektif.ABSTRACTWest Sumatera Province has an alarming rate of coastal and small islands destruction caused by abrasion and the effect of climate change. Geographical characteristic of West Sumatera Province which directly face Hindia Ocean quickly have it’s coastal area eroded with abrasion caused by a strong wave. The destruction of mangrove forest and coral reefs further made the abrasion process worse. Coastal and small islands destruction need to be stopped because it could reduce military strategic advantage in national outer areas, reducing the effectiveness of military and civilian infrastructures, destabilizing economy and narrowing the living space of people, endangering the safety of ship navigation, and threatening nature’s biodiversity. The aim of this research is to understand the resources and actions of West Sumatera Province’s local government of how it protect the coastal area and small islands from abrasion and to adapt to the effects of climate change. The research was conducted in September 15 to 23 in 2019 at Padang City and Sipora Island of Kepulauan Mentawai Regency. Data collected by field observation and in-depth interview to officials from local government and the locals. Data analyzed by using data condensation, data display, and conclusion drawing analytical technique. The research shows that each provincional departments under West Sumatera Province local government have it’s own unique approach and technique to prevent abrasion and adapt to the effects of climate change, but the action taken usually implemented sporadically, reactive, uncoordinated, and not sustainable. Natural resources needed to prevent abrasion and to adapt to climate change are abundant, but the Province’s organisational resources is limited, causing the coastal area and small islands innefectively protected 


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 316-324
Author(s):  
Dany Hernowo ◽  
Mona Lestari ◽  
Novrikasari Novrikasari ◽  
Widya Lionita ◽  
Adisyah Fitrah Rahmadini ◽  
...  

Konversi lahan dari fungsi aslinya mengakibatkan dampak negatif berupa kebakaran akibat aktivitas penebangan untuk membuka lahan yang dilakukan manusia. Salah satu lokasi kebakaran lahan basah di Provinsi Sumatera Selatan terjadi pada area seluas 3,925 ha di Kabupaten Ogan Ilir di tahun 2018. Kelalaian manusia yang seringkali melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar menyebabkan kebakaran lahan basah. Kurangnya pengetahuan, informasi dan sanksi juga menjadi alasan masyarakat tidak perduli terhadap dampak yang ditimbulkan dari kegiatan membakar lahan. Dalam theory of planned behavior, perilaku tersusun dari keyakinan dan evaluasi seseorang untuk menumbuhkan sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku sebagai mediator terbentuknya niat. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu mengkaji dan menganalisis persepsi masyarakat terhadap kejadian kebakaran di lahan basah Ogan Ilir Sumatera Selatan. Informan penelitian berjumlah 16 orang yang terdiri dari 12 informan kunci dan 4 informan ahli. Informan kunci dipilih berdasarkan kriteria kepemilikan tanah, lokasi tempat tinggal dan mata pencaharian utama yang berdomisi di Desa Palem Raya dan Kelurahan Timbangan, Kecamatan Indralaya Utara. Empat orang informan ahli ialah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Camat Indralaya Utara, dan dua orang kepala desa/lurah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol mendorong terbentuknya niat masyarakat Kecamatan Indralaya Utara untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Sejak 2019, masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan cara dibakar karena sudah ada peraturan pemerintah yang tegas sehingga dapat mengendalikan perilaku masyarakat dalam membakar lahan.ABSTRACT Land conversion from its original function resulted in negative impacts in the form of fires due to logging activities to clear land by humans. One of wetland fires located in South Sumatera Province is happened to 3,925 ha area on Ogan Ilir District in 2018. Human negligence which often clears land by burning caused of wetland fires. Lack of knowledge, information and sanctions are also reasons why people don't care about the impact of land burning activities. The theory of planned behavior states that behavior is composed of individual belief and evaluation to foster attitudes, subjective norms, and behavioral control as mediators of intention. The research design used in this study is qualitative with a descriptive approach, which is to examine and analyze public perceptions of the occurrence of fires in the Ogan Ilir wetlands of South Sumatera. The research informants are 16 persons consisted 12 key informants and 4 expert informants. Key informants are choosen by land ownership, the main livelihood, and residence location which all come from Palem Raya and Timbangan Village. Four expert informants are the representative of Regional Disaster Management Agency (BPBD), Subdistrict Head of North Indralaya, and two Village Head. The results showed that attitudes, subjective norms, and behavioral control encourage community’s intention in North Indralaya for not doing land fire anymore. Since 2019, community did not open the land by burning because of the strict regulation by government so that can control behavior related land fire.


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 279-290
Author(s):  
Wina Waniatri ◽  
Muslihudin Muslihudin ◽  
Sri Lestari

Permasalahan dan isu strategis daerah pada bidang energi dan sumber daya mineral yang mempengaruhi kerusakan lingkungan hidup berdasarkan pada Rancangan Primer RPJMD 2018-2028 Kabupaten Kuningan  yaitu kegiatan penambangan pasir ilegal dan perubahan lahan. Salah satu lokasi pertambangan di Kabupaten Kuningan berada di Desa Luragung Landeuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses  kegiatan  pertambangan pasir;  serta mengetahui dampak negatif pertambangan pasir terhadap kualitas lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Kesimpulan penelitian ini adalah proses  kegiatan  pertambangan  pasir PT. Anggun Jaya Mandiri di  Desa  Lurangung  Landeuh Kecamatan Luragung Kabupaten Kuningan terdiri dari tahap pra-kontruksi, kontruksi, operasi, produksi, dan rencana pasca tambang. Dampak negatif kegiatan pertambangan pasir terhadap lingkungan adalah kebisingan, debu yang bertebaran, kerusakan infrastruktur jalan; Dampak positif kegiatan pertambangan pasir PT.AJM memberikan peningkatan peluang kerja, memperbaiki fasilitas desa, serta meningkatkan kas Desa Luragung Landeuh. Pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020 telah mempengaruhi dalam penyelesaian konflik antara masyarakat dan pihak perusahaan pertambangan.ABSTRACTRegional strategic problems and issues in the field of energy and mineral resources that affect environmental damage based on the Primary Draft RPJMD 2018-2028 Kuningan Regency, namely illegal sand mining activities and land changes. One of the mining locations in Kuningan Regency is in Luragung Landeuh Village. This research was conducted to determine the process of sand mining activities; as well as knowing the negative impact of sand mining on environmental quality. This study uses a qualitative descriptive analysis method. The conclusions of this study are: (1) The process of sand mining activities of PT. Anggun Jaya Mandiri in Lurangung Landeuh Village, Luragung District, Kuningan Regency consists of pre-construction, construction, operation, production, and post-mining planning stages. The negative impacts of sand mining activities on the environment are noise, scattered dust, damage to road infrastructure; (2) The positive impact of PT.AJM's sand mining activities provides increased job opportunities, improves village facilities, and increases the cash flow of Luragung Landeuh Village. The Covid-19 pandemic at the beginning of 2020 has affected the resolution of conflicts between the community and the mining company.


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 271-278
Author(s):  
Funty Septiyawati Polapa ◽  
Rahmawati Nur Annisa ◽  
Rahmawati Nur Annisa ◽  
Dewi Yanuarita ◽  
Dewi Yanuarita ◽  
...  

Kota Makassar merupakan pusat kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki aktifitas wilayah pesisir, seperti pemanfataan industri, pariwisata, transportasi laut serta memiliki dua sungai besar yang muara di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasilogam berat dalam air dan sedimen serta menentukan status mutunya. Pengamatan dilakukan pada 10 lokasi strategis sumber pencemar seperti pabrik, hotel, muara sungai serta pelabuhan dengan mengambil sampel air dan sedimen dan selanjutnya dianalisis di laboratorium untuk logam berat Cd, Cr, Hg, Zn, Cu dan Pb. Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang ada. Metode Indeks Pencemar dan Storet (Storage and Retrieval) digunakan untuk menentukan status mutu air dan sedimen dari logam berat untuk biota laut. Hasil penelitian ini menunjukkan perairan Kota Makassar tergolong dalam kategori “Cemar Ringan” berdasarkan hasil perhitungan indeks Pencemar sedangkan status mutu perairan tergolong “Cemar Berat”. Parameter logam berat di kolom perairan yang melampaui baku mutu adalah Krom (0,016±0,005) dan Tembaga (0,112±0,035). Sedangkan untuk parameter logam berat sedimen secara keseluruhan masih berada dalam ambang batas baku mutu yang telah ditentukan. Kondisi tercemar berasal dari aktifitas reklamasi pantai serta sumber alami dan limbah domestik dari aktifitas masyarakat cukup tinggi.ABSTRACTMakassar City is the city center in South Sulawesi Province which has coastal area activities, such as the use of industry, tourism, sea transportation and has two large rivers that estuary into the waters. This study aims to determine the concentration of heavy metals in water and sediment and determine their quality status. Observations were made at 10 strategic locations of pollutant sources such as factories, hotels, river mouths, and ports by taking water and sediment samples and then analyzed in the laboratory for heavy metals Cd, Cr, Hg, Zn, Cu, and Pb. Descriptive statistics are used to analyze the existing data. The Pollutant Index and Storet (Storage and Retrieval) method is used to determine the status of water and sediment quality of heavy metals for marine biota. The results of this study indicate that the waters of Makassar City are classified as "Lightly Polluted" based on the results of the calculation of the Pollutant index while the status of the water quality is classified as "Heavy Polluted". Parameters of heavy metals in the water column that exceed the quality standard are chromium (0,016±0,005) and copper (0,112±0,035). Meanwhile, the parameters of the sediment heavy metals as a whole are still within the specified quality standard. Polluted conditions derived from coastal reclamation activities as well as natural sources and domestic waste from community activities are quite high.


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 252-262
Author(s):  
Dawud Abdullah Azzaki ◽  
Dian Rahayu Jati ◽  
Aini Sulastri ◽  
Robby Irsan ◽  
Jumiati Jumiati

Sampah yang meningkat tanpa adanya penanganan lebih lanjut akan mengakibatkan permasalahan serius. Penimbunan sampah dapat bertahan dengan waktu yang lama, yang disebabkan oleh lambatnya waktu dekomposisi dari timbunan sampah, khususnya sampah plastik. Penelitian bertujuan mengetahui jumlah sampah plastik yang dihasilkan, keuntungan yang dihasilkan dan keberlanjutan dari penerapan metode Buang, Pisah, Untung (Bungpitung) menggunakan sistem barcode. Penelitian mengambil metode purposive sampling. Pengumpulan data berupa data sekunder harga jual sampah plastik dan data primer timbulan sampah plastik dan wawancara. Penelitian menggunakan analisis metode gabungan (mixed methods) penelitian kuantitatif dan kualitatif. Total timbulan sampah plastik dari semua responden sebesar 136.508 gr dengan rata-rata timbulan sampah plastik 65 gr/orang/hari. Bentuk sampah plastik dominan terbanyak Gelas Bening Sablon (GBS) sebesar 35.526 gr. Bentuk sampah plastik dominan terbanyak dari total seluruh jenis yaitu Botol Bening Biru (BBB) sebesar 40.525 gr. Total keuntungan sampah plastik yang diperoleh dari semua responden sebesar Rp 128.945 dengan rata-rata keuntungan sampah plastik Rp 61,4 /hari. Tingginya nilai timbulan sampah plastik, tingginya nilai keuntungan yang dihasilkan, kontinuitas penerapan metode bungpitung, peningkatan wawasan mengenai pengelolaan sampah plastik, peningkatan perilaku dalam mengelola sampah plastik serta pendapat secara langsung oleh responden mengenai kelayakan metode Bungpitung merupakan bukti metode Bungpitung layak diterapkan pada masyarakat di masa yang akan datang.ABSTRACTIncreased waste without further handling will lead to serious problems. The landfill can last for a long time, which is caused by the slow decomposition time of the landfill, especially plastic waste. This study aims to determine the amount of plastic waste produced, the profits generated from the application of the Dispose, Separate, Profit (Bungpitung) method using a barcode system. The research took the purposive sampling method. Collecting data in the form of secondary data on the selling price of plastic waste and primary data on the generation of plastic waste and interviews. This study uses a combined analysis (mixed methods) of quantitative and qualitative research. The total generation of plastic waste from all respondents is 136,508 grams with an average plastic waste generation of 65 grams/person/day. The dominant form of plastic waste is Screen Printing Clear Plastic Cups (GBS) as much as 35.526 gr. The most common form of plastic waste of all types is Blue Clear Plastic Bottle (BBB) of 40,525 gr. The total profit from plastic waste obtained from all respondents is Rp. 128,945 with an average profit of Rp. 61.4/day for plastic waste. The high value of plastic waste generation, the increase in the value of the profits generated, the continuity of the application of the bungpitung method, increased insight into plastic waste management, increased behavior in managing plastic waste, and direct assessment by respondents about Bungpitung methods suitable for use in the community in the future.


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 231-241
Author(s):  
Tepinus Morip ◽  
Keliopas Krey ◽  
Freddy Pattiselanno

Selain sebagai penyedia air bersih, potensi flora dan fauna Taman Wisata Alam Gunung Meja (TWA Gunung Meja), sangat menjanjikan. Karena letaknya yang mudah diakses serta lokasinya yang berada di dalam kota Manokwari, interaksi yang terjadi antara masyarakat dengan kawasan ini juga sangat tinggi dan berdampak terhadap potensi keanekaragaman hayatinya.  Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bentuk interaksi antara kelompok etnik Dani dengan TWA Gunung Meja serta merekam informasi etnobiologi mereka dan melakukan penilaian deskriptif dampak pemanfaatan terhadap kondisi lingkungan TWA Gunung Meja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik observasi, wawancara dan studi kepustakaan dan semua hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Pendekatan kontekstual digunakan untuk menjelaskan situasi di lapangan untuk melengkapi deskripsi lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh spesies tumbuhan dari enam famili dan enam spesies hewan dari enam famili dimanfaatkan oleh kelompok etnik Dani di kawasan TWA Gunung Meja. Tujuan pemanfaatannya bervariasi untuk kebutuhan sandang, pangan, energi dan pengobatan medis dan asesori budaya. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan berragam terdiri dari batang, ranting, dahan, daun, buah dan kulit, sedangkan daging, lemak, empedu, kulit, cakar dan taring adalah bagian tubuh hewan yang dimanfaatkan kelompok etnik Dani sesuai tujuan pemanfaatannya.ABSTRACTApart from being a provider of clean water, the potential of flora and fauna of the Gunung Meja Nature Tourism Park (TWA Gunung Meja) is very promising. Due to its easily accessible and its location within the city of Manokwari, the interaction that occurs between the community and this area is also very high and creates impact on its biodiversity potential. This study aims to study the form of interaction between the Dani ethnic group and TWA Gunung Meja as well as record their ethnobiological information. We conduct a descriptive assessment of the impact of utilization on the environmental conditions of TWA Gunung Meja. This research is a descriptive study with observation, interview and literature study techniques and all observations and interviews obtained in this study were analyzed using descriptive statistics. A contextual approach is used to explain the situation in the field to complete the description of the research location. The results showed that there were seven plant species from six families and six animal species from six families used by the Dani ethnic group in the TWA Gunung Meja area. The purpose of its use varies for the needs of clothing, food, energy and medical treatment and cultural accessories. The various parts of the plant used consist of stems, twigs, branches, leaves, fruit and skin, while meat, fat, gall, skin, claws and fangs are animal body parts used by the Dani ethnic group according to their intended use


2022 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 291-301
Author(s):  
Dharma Wangsa ◽  
Vera Surtia Bachtiar ◽  
Slamet Raharjo

Penelitian ini bertujuan untuk menguji model AERMOD dalam memprediksi sebaran PM10 di udara ambien kawasan PT Semen Padang. Lokasi penelitian sebanyak 32 titik berdasarkan 8 arah mata angin dengan jarak 0,5 km, 1 km, 1,5 km dan 2 km dari PT Semen Padang. Pengukuran PM10 menggunakan EPAM 5000 Real Time Particulate Air Monitor dilanjutkan pemetaan dengan software Surfer 11. Waktu pengukuran dibagi menjadi 4 shift, yaitu shift 1 (00.00 – 05.59 WIB), shift 2 (06.00 – 11.59 WIB), shift 3 (12.00 – 17.59 WIB) dan shift 4 (18.00 – 23.59 WIB). Pengambilan data meteorologi (temperatur udara, tekanan udara, kelembapan, kecepatan angin dan arah angin) menggunakan alat Meteorological Station PCE-FWS-20 untuk input data pada AERMET, dilanjutkan prediksi sebaran PM10 menggunakan software AERMOD View 8.9.0. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi PM10 dengan EPAM 5000 berkisar antara 21,0 – 79,0 µg/m3 dengan rata-rata 24 jam sebesar 41,7 µg/m3. Konsentrasi PM10 dengan AERMOD berkisar antara 3,5 sampai 68,0 µg/m3 dengan rata-rata 24 jam sebesar 10,6 µg/m3. Jika dibandingkan dengan baku mutu untuk Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, lokasi 11 dengan koordinat S 0°56'52.46" dan E 100°27'41.88"  pada  jarak 1 km kawasan Barat PT Semen Padang tidak memenuhi baku mutu. Model mendekati ideal atau dikatakan sempurna yaitu lokasi arah Timur dan Timur Laut karena elevasi yang lebih tinggi dari sumber emisi dan merupakan arah angin dominan pada siang hari.ABSTRACTThis study aims to test the AERMOD model in predicting the distribution of PM10 in the ambient air of the PT Semen Padang area. The research locations were 32 points based on eight cardinal directions with a radius of 0.5 km, 1 km, 1.5 km, and 2 km from PT Semen Padang. PM10 measurement using EPAM 5000 Real-Time Particulate Air Monitor followed by mapping with Surfer 11 software. The measurement time is divided into four shifts, namely shift 1 (00.00 – 05.59 WIB), shift 2 (06.00 – 11.59 WIB), shift 3 (12.00 – 17.59 WIB), and shift 4 (18.00 – 23.59 WIB). Meteorological data retrieval (air temperature, air pressure, humidity, wind speed and wind direction) using the Meteorological Station PCE-FWS-20 for data input to AERMET, followed by prediction of PM10 distribution using AERMOD View 8.9.0 software. The results showed that the concentration of PM10 with EPAM 5000 ranged from 21.0 – 79.0 g/m3 with a 24-hour average of 41.7 g/m3. The concentration of PM10 with AERMOD ranged from 3.5 - 68.0 g/m3 with a 24-hour average of 10.6 g/m3. When compared with the quality standard for Government Regulation no. 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management, location 11 with coordinates S 0°56'52.46" and E 100°27'41.88" at a distance of 1 km west of PT Semen Padang does not meet the quality standards. The model is close to ideal or is said to be perfect, namely the location of the East and Northeast directions because of the higher elevation of the emission source and the dominant wind direction during the day.


2022 ◽  
Vol 20 (1) ◽  
pp. 45-57
Author(s):  
Muh Sri Yusal ◽  
Ahmad Hasyim

Pesisir merupakan kawasan yang rentan mengalami penurunan kualitas perairan akibat masuknya bahan-bahan pencemar hasil aktivitas antropogenik dari daratan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengkaji kualitas perairan berdasarkan keanekaragaman meiofauna dan parameter fisika-kimia di pesisir Losari, Makassar. Selain itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh parameter fisika-kimia terhadap keanekaragaman meiofauna di dasar perairan. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan teknik pengambilan data secara purposive sampling. Status kualitas perairan di pesisir Losari dikategorikan sebagai perairan yang tercemar berat, hal ini didasarkan pada tingkat keanekaragaman spesies meiofauna yang sangat rendah dan sebagian besar parameter fisika-kimia perairan yang tidak memenuhi baku mutu yang telah ditentukan oleh pemerintah RI melalui Kep. MLH. No. 51 Tahun 2004. Kecerahan, DO, Suhu, kedalaman, salinitas, dan nitrat sedimen merupakan parameter fisika-kimia yang berkorelasi positif atau berpengaruh terhadap tingkat keanekaragaman meiofauna. Adapun parameter lingkungan perairan yang berkorelasi negatif terhadap tingkat keanekaragaman meiofauna di pesisir Losari, diartikan sebagai hubungan yang tidak menguntungkan. Kondisi ini terjadi akibat meiofauna merasa terganggu atas sebaran fosfat sedimen, nitrat air laut, fosfat air laut, dan pH yang tidak memenuhi baku mutu air laut.ABSTRACTThe Coastal zone are susceptible to decreasing water quality due entry of pollutants from anthropogenic activities in the mainland. This study assessed water quality based on meiofauna diversity and physical-chemical parameters in the Losari coast, Makassar. Furthermore, this study was to analyze the physical-chemical parameters effect on the diversity of meiofauna at the seabed. It employed a quantitative approach with purposive sampling technique. Water quality status on the Losari coast categorized as heavily polluted waters, this based on low level of meiofauna species diversity and most of the physical-chemical parameters does not meet the quality standards determined by Indonesian government through Kep. MLH. No. 51 of 2004. Brightness, DO, temperature, depth, salinity, and sediment nitrate are physical-chemical parameters positively correlated or influenced of meiofauna diversity level. The aquatic environmental parameters negatively correlated with meiofauna diversity level in the Losari coast are interpreted as an unfavorable relationship. This condition occurs because the meiofauna feel disturbed by distribution of sedimentary phosphate, seawater nitrate, seawater phosphate, and pH that does not meet seawater quality regulations.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document