receive signal
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

38
(FIVE YEARS 3)

H-INDEX

4
(FIVE YEARS 0)

Author(s):  
Raemon Syaljumairi ◽  
Sarjon Defit ◽  
S Sumijan ◽  
Yusma Elda

Teknologi wireless saat ini bisa dimanfaatkan untuk menentukan posisi pengguna di dalam ruangan. Pemanfaatan sinyal strength WiFi dari Access Point (AP) bisa memberikan informasi posisi pengguna yang berada di dalam ruangan. Alternatif penentuan posisi pengguna di dalam ruangan menggunakan Receive Signal Strength (RSS) WiFi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkalasifikasian jarak Euclidean Distance antara data training dengan data testing pengguna terhadap hotspot dengan mengukur tingkat akurasi pengklasifikasian jarak pengguna dengan hotspot menggunakan metode K-Nearest Neighbour. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan jarak antar pengguna terhadap 2 atau lebih AP menggunakan Teknik Euclidean Distance. Teknik Euclidean Distance digunakan sebagai kalkulator jarak dimana ada dua titik dalam bidang 3 dimensi dengan mengukur panjang segmen yang menghubungkan dua titik. Teknik ini paling baik untuk merepresentasikan jarak antara pengguna terhadap AP. Pengumpulan data RSS menggunakan teknik Fingerprinting. Data RSS tersebut dikumpulkan dari 20 AP yang terdeteksi menggunakan aplikasi wifi analizer, dari hasil scanning tersebut didapatkan data RSS sebanyak 709 data RSS. Nilai RSS tersebut dijadikan sebagai data training. K-Nearest Neighbor (KNN) saat mengelompokkan data uji yang baru yang digunakan adalah neighbourhood clasification sehingga K-NN mampu mengklasifikasikan jarak terdekat dari data uji yang baru dengan nilai data training yang ada. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh tingkat akurasi sebesar 95% dengan K adalah 3. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa dengan menggunakan metode K-NN diperoleh persentase tertinggi pada k = 3 sebesar 95% dan nilai error minimum sebesar 5%



2021 ◽  
Vol 9 (1) ◽  
pp. 108-115
Author(s):  
Laroma Larumbia ◽  
Susanti H Hasan ◽  
Seh Turuy

Penelitian ini bertujuan untuk optimalisasi jaringan nirkabel dari titik buta atau blind spot di lingkungan kampus AIKOM Ternate. Area-area titik buta ini membuat pengguna jaringan nirkabel (dosen, staf, dan mahasiswa) tidak nyaman dikarenakan harus mendekat ke sumber jaringan (access point (AP)) terdekat agar dapat mengakses jaringan internet ataupun intranet. Dengan optimalisasi jaringan nirkabel ini, area jangkauan jaringan nirkabel disesuikan dengan kebutuhan agar tidak ada lagi titik buta. Penggunaan aplikasi Wireless Monitoring (Wirelessmon) untuk mendeteksi area jangkauan dari setiap AP yang dipasang, yang diukur adalah receive signal strength indicator (RSSI), termasuk penentuan penggunaan kanal dari setiap AP agar tidak tumpang tindih atau overlapping dalam penggunaan kanal pada setiap AP dan data rate yang mengalami peningkatan dan penurunan menyesuaikan dengan kualitas sinyal yang diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan setelah dilakukannya optimalisasi dengan memasang AP pada lima titik. Optimalisasi jaringan nirkabel pada kampus AIKOM Ternate berhasil dengan RSSI -61dBm sampai dengan -44dBm, RSSI termasuk dalam kategori sangat bagus (very good). Disarankan pengukuran RSSI menggunakan software lebih dari satu sehingga dilakukan perbandingan, melakukan perbandingan RSSI yang diterima dengan throughput yang dihasilkan pada perangkat yang berbeda, dan pengelola jaringan dapat menggunakan hasil penelitian ini akan tetapi penggunaan perangkat dengan spesifikasi yang berbeda dengan yang digunakan dalam penelitian ini maka disarankan untuk melakukan pengambilan data ulang agar hasilnya maksimal.



2020 ◽  
pp. 68-74
Author(s):  
Johanis F. M. Bowakh ◽  
Beby H. A. Manafe

The services of Telkomsel celullar have not evenly spread throughout the entire region of Lembata Regency. Furthermore the quality of the coverage area of the service that has not maximized results in frequent failed calls or disconnected communications. This research aims to determine location of signal ditribution and quality in each Telkomsel BTS in order to improve and expand the quality of service. This measurement used the drive test method with the G-Net Track application to measure receive signal level (Rxlev). The drive test based on four directions of each BTS with 3 km distance in each direction. The result then analyzed and mapped with Google Earth. The result is not absolute because the antenna sensitivity of the receiver signal varies based on the type of handphone. The result of 800 measurement points for RxLev in Lembata county region show that 327 points or 40.875% is very good category, 170 points or 21.25% is good category, 147 point or 18.375% is medium category, 110 point or 13.75% is bad category, and 46 point or 5.75% is very bad category. It is only ± 36,98% of the total area of Lembata Regency has coverage by Telkomsel services.



Author(s):  
S El Yumin ◽  
Abdi Khamarullah

Perancangan Jaringan GSM Indoor ini dilakukan di area basement gedung Pasar Festival Jakarta yangberada di Kuningan, dimana area ini memiliki luas lantai 20.381 m 2 . Tujuan dilakukannya perancangan adalahuntuk mendapatkan cakupan sinyal yang maksimal pada area basement. Perancangan ini diawali dengan prosespengukuran awal untuk mengetahui kondisi cakupan sinyal di area basement dengan metode drive test, dimanapengukuran dilakukan dengan menggunakan laptop yang telah terinstalasi oleh software TEMS Investigationversi 4.1 serta didukung perangkat seperti handphone, kabel data dan peta ruangan. Setelah dilakukanpengukuran, didapatkan nilai Rx Level >= -80dBm hanya memiliki presentase sebesar 3.8 %, sementara untuk RxQual dengan kriteria 0 < x < 5 hanya mencapai 94.3 %, dan untuk SQI dengan kriteria 22 < x < 30 hanyamencapai 1.5 %. Persentase Rx Level, dan SQI demikian kecil, maka pada basement perlu dilakukanperencanaan untuk pemasangan antena baru. Perancangan dilakukan memasang 3 antena omni dan 5 antenamicrocell dengan 3 konfigurasi, dan melalui proses simulasi menggunakan software simulator RadiowavePropagation Simulator (RPS 53), dipilih konfigurasi optimal yang digunakan sebagai referensi untukpemasangan antena di area basement. Setelah itu dilanjutkan dengan perhitungan-perhitungan parameterlainnya seperti Link Budget, Free Space Loss, Receive Signal Level. Kemudian dilanjutkan dengan prosespemasangan instalasi antena pada area basement, dan dilakukan proses pengukuran kembali dengan metodeyang sama yaitu drive test. Hasil pengukuran memperoleh nilai Rx Level >= -80dBm memiliki presentasesebesar 100 %, sementara untuk Rx Qual dengan kriteria 0 < x < 5 mencapai 99.10 %, dan untuk SQI dengankriteria 22 < x < 30 mencapai 81.8 %, dimana nilai persentase cakupan sinyal yang terukur dari hasilpemasangan antena baru tersebut lebih maksimal dibandingkan dengan cakupan sinyal sebelumnya.



2020 ◽  
Author(s):  
Corey Tan ◽  
Ryosuke Hiwa ◽  
James L. Mueller ◽  
Vivasvan Vykunta ◽  
Kenta Hibiya ◽  
...  

ABSTRACTAg stimulation (signal 1) triggers B cell activation and proliferation, and primes B cells to recruit, engage, and respond to T cell help (signal 2). However, failure to receive signal 2 within a defined window of time results in an abortive round of proliferation, followed by anergy or apoptosis. Although the molecular basis of T cell help has been extensively dissected, the mechanisms that restrain Ag-stimulated B cells, and enforce dependence upon co-stimulation, are incompletely understood. Nr4a1-3 encode a small family of orphan nuclear receptors that are rapidly induced by B cell receptor (BCR) stimulation, yet little is known about their function in humoral immune responses. Here we use germline and conditional loss-of-function mouse models to show that Nr4a1 and Nr4a3 play partially redundant roles to restrain both the survival and proliferation of B cells that receive signal 1 in the absence of co-stimulatory signals, and do so in part by repressing expression of BATF and consequently c-MYC. Correspondingly, Ab responses to TI-2 immunogens are enhanced in the absence of Nr4a1, but are unaltered in response to immunogens that incorporate co-stimulatory signals. Unexpectedly, we also identify a role for the NR4A family in restraining B cell access to T cell help by repressing expression of the T cell chemokines CCL3/4, as well as CD86 and ICAM1, and show that this is relevant under conditions of competition for limiting T cell help. Our studies collectively reveal a novel negative feedback loop mediated by the NR4A family that increases B cell dependence upon T cell help and restrains strongly Ag-activated B cell clones from monopolizing limiting amounts of T cell help. We speculate that this imposes B cell tolerance and dampens immunodominance to facilitate preservation of clonal diversity during an immune response.





2019 ◽  
Vol 1284 ◽  
pp. 012055
Author(s):  
Juan Zhou ◽  
Chao Chen ◽  
Yajuan Xue ◽  
Ying Shen ◽  
Meng He
Keyword(s):  


Author(s):  
MUNTAQO ALFIN AMANAF

IT Telkom Purwokerto (ITTP) merupakan salah satu perguruan tinggi yang memanfaatkan jaringan WiFi untuk civitas akademiknya. Namun pada beberapa area masih terdapat pengguna yang mendapatkan kuat sinyal dengan kategori buruk. Dari jumlah access point (AP) existing sebanyak 15 AP masih terdapat area yang belum ter-cover jaringan WiFi dengan baik. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil simulasi AP existing yang menunjukan nilai Receive Signal Level (RSL) pada lantai 2 dan lantai 3 sebesar -74 dBm dan -79 dBm dimana nilai RSL tersebut dikategorikan buruk sehingga perlu dilakukan optimasi penempatan access point pada gedung penelitian. Penelitian ini melakukan perhitungan coverage (cakupan wilayah) dengan metode COST 231 Multi wall model dan capacity (kapasitas pengguna) dengan metode OBQ untuk mendapatkan jumlah AP. Berdasarkan perhitungan, didapatkan jumlah AP sebanyak 26 AP dari perhitungan coverage dan 20 AP dari perhitungan capacity. Dari jumlah AP yang didapatkan kemudian disimulasikan menggunakan simulator RPSv5.4 dengan frekuensi 2,4 GHz dan model propagasi COST 231 Multiwall. Untuk mengetahui jumlah AP dan penempatan AP yang optimal maka dilakukan perbandingan 4 skenario penempatan dengan melihat hasil parameter RSL dan Signal Interference Ratio (SIR). Hasil yang didapat berdasarkan perhitungan, terdapat penambahan jumlah AP dari 15 AP menjadi 26 AP serta pergeseran letak AP agar seluruh area ter-cover dengan baik. Dari hasil RSL dan SIR pada simulasi optimasi, jumlah AP yang optimal yaitu 26 AP dengan posisi AP ditempatkan ditepi bagian depan dengan hasil RSL pada keseluruhan lantai sebesar -27,27 dBm dan SIR sebesar 4,05 dB.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document