Jurnal Pancasila dan Bela Negara
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

12
(FIVE YEARS 12)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

2775-5886

2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Muhammad Bayu Al Ghifari

This study aims to describe the views of the younger generation of Indonesia on the existence of Pancasila as the ideology of the Indonesian nation. The existence of Pancasila is something that is very valuable for this nation, especially for the younger generation of Indonesia who will then continue the baton of struggle to realize an advanced and prosperous Indonesia and realize the ideals of its predecessors. But nowadays, the younger generation of Indonesia no longer adheres to the values of Pancasila as the state ideology and then applies them in their daily lives. The method used in this study uses a qualitative approach. The data used in this study were obtained from scientific journals, news, and previous research results. Analysis of the data used in this study using analytical descriptive analysis. The results of this study indicate that the younger generation actually has knowledge about the practice of Pancasila but lacks in its implementation. The younger generation is still unable to implement and live the values of Pancasila because they are distracted by various kinds of national problems which are certainly not in line with the noble values of Pancasila.



2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Tiara Puspita Arumningtyas ◽  
Rukha Heny Pramubinasih

Pancasila adalah salah satu elemen terpenting negara Indonesia karena Pancasila merupakan pondasi utama atas berdirinya negara Indonesia secara kokoh. Dalam dunia pendidikan, Pancasila merupakan filsafat pendidikan di Indonesia dalam mencapai tujuan bangsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia agar sesuai dengan nilai – nilai luhur. Oleh karena itu, diberlakukanlah mata kuliah pendidikan Pancasila di perguruan tinggi. Namun, berlakunya pendidikan Pancasila di perguruan tinggi mengalami pasang surut dan dalam penyelenggaraannya tidak serta merta diimplementasikan dengan baik. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan dasar hukum yang mengatur berlakunya pendidikan Pancasila di perguruan tinggi dan persepsi pengembang kurikulum di masing-masing perguruan tinggi yang terus berganti. Pasal 35 ayat (5) Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan bahasa Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa negara berkehendak agar pendidikan Pancasila dilaksanakan dan wajib dimuat dalam kurikulum perguruan tinggi sebagai mata kuliah yang berdiri sendiri. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif menggunakan sample purposive dengan teknik sampling proportional stratified random sampling. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana peran mata kuliah pendidikan Pancasila terhadap perilaku positif mahasiswa Polbangtan Yogyakarta. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa berperan mata kuliah pendidikan Pancasila yang dilaksanakan secara daring sehingga mampu menciptakan mahasiswa yang berperilaku positif dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, kampus, ataupun masyarakat. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa mata kuliah pendidikan Pancasila yang dilaksanakan secara daring di Polbangtan Yogyakarta sudah terlaksana dengan baik sehingga mahasiswa mampu memahami makna Pancasila. 



2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Hanifah Budi Novitasari

Penyimpangan akan nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila sampai detik ini masih sering terjadi di sekitar kita. Penyelenggaraannya terkadang masih tidak sesuai dengan isi dan hakikat yang seharusnya. Tidak sedikit juga masyarakat yang tidak sepenuhnya mengerti akan penting dan betapa fatalnya penyimpangan akan nilai-nilai dasar pancasila ini bila terjadi. Kesatuan negara menjadi salah satu hal yang terdampak jika penyimpangan akan nilai pancasila di Indonesia terus terjadi. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran sekaligus kesadaran akan pentingnya hal tersebut dan apa hal yang harus dilakukan masyarakat dan negara untuk mengatasinya menggunakan metode analisis kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yang berfokus pada kasus ketika penyelidikan dilakukan, memproses dan menganalisis temuan, dan menarik kesimpulan atas kasus tersebut. Hasil penyelidikan dan analisis menunjukan bahwa masih banyak sekali kasus-kasus dan konflik akan penyimpangan nilai pancasila dalam kehidupan bermasyarakat serta bernegara pada setiap niali-nilai dasar sila-sila dalam pancasila sehingga harus disikapi dengan lebih tegas lagi oleh seluruh warga negara Indonesia. 



2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Fara Azkiya Okta Faharani

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus falsafah atau pandangan hidup bangsa Indonesia yang lahir melalui proses yang panjang. Pancasila mulai diterapkan dalam kurikulum pembelajaran sejak tahun 1957 pada saat pemerintahan Ir. Soekarno dengan sebutan pelajaran Kewarganegaraan. Kemudian mengalami perubahan pada tahun 1961 menjadi civics. Pada tahun 1968 berubah kembali menjadi Pendidikan Kewargaan Negara. Hingga perubahan terakhir yaitu pada kurikulum 2013. Selama masa perubahan itu, Pendidikan Pancasila mengalami perubahan-perubahan baik dari nama ataupun cakupan bahasannya. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan sejarah serta urgensi pendidikan Pancasila dalam kurikulum pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi pustaka. Pendidikan Pancasila menjadi salah satu ‘tameng’ awal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menhadapi ancaman dan tantangan lunturnya nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Pendidikan Pancasila bukanlah sebagai simbolisasi melainkan suatu hal yang penting dalam mempertahankan pondasi bangsa ini. Pendidikan Pancasila hendaknya dapat dipertahankan dalam kurikulum dengan menyesuaikan tren pembelajarannya. Selain itu, pengembangan metode pembelajaran juga sangat diperlukan guna meningkatkan mutu dari Pendidikan Pancasila yang dipelajari oleh peserta didik.



2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Yesika Theresia Sinaga

Urgensi pembentukan Komponen Cadangan kerap menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Adapun demikian, program ini merupakan realisasi amanah Undang-undang tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara. Kegiatan yang bersifat sukarela ini merupakan aksi untuk mendukung kekuatan Komponen Utama dalam mengatasi ancaman dan wujud bela negara. Selain ancaman perang dan bencana alam, salah satu ancaman adalah radikalisme-terorisme hingga penyebaran ideologi anti Pancasila. Permasalahan ini memerlukan solusi yang melibatkan seluruh pihak terutama dengan adanya program pembentukan Komponen Cadangan. Tulisan ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang sumber data diperoleh dari kajian pustaka. Selain kemampuan dasar militer, dalam mengatasi ancaman nonmiliter seperti yang dibahas dalam tulisan ini, diperlukan pendampingan dan pemahaman mengenai Pancasila, wawasan kebangsaan, kondisi aktual Indonesia, untuk dapat memahami masalah dan mencari jalan keluar. Sebagai individu yang berperan sebagai anggota Komponen Cadangan yang akan dikembalikan ke lingkungan masyarakat sesuai pekerjaannya, diharapkan mampu menjadi agen perdamaian yang mencitrakan nilai bela negara dan Pancasila. Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan mampu memberi masukan kepada program pendampingan dan pendidikan Komponen Cadangan yang berasal dari generasi muda Indonesia agar mampu menjadi sosok yang inspiratif, kreatif, dan inovatif dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah kondisi global saat ini.



2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Ahmad Rifai

Penelitian ini dimaksudkan untuk menggali dan menganalisis filsafat Pancasila oleh Soekarno sebagai paradigma pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif melalui kajian kepustakaan. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan filosofis dengan menggunakan alat analisis metodis berupa kesinambungan historis, interpretasi dan heuristik atau penemuan baru. Adapun sumber primer yang digunakan adalah pemikiran-pemikiran filsafat Pancasila oleh Soekarno yang digunakan untuk membedah konsep pembangunan manusia seutuhnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa landasan utama konsep pembangunan manusia Indonesia adalah pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, dan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dalam pengaplikasiannya diperlukan langkah konkret yang memiliki kesesuaian dengan falsafah negara, yaitu Pancasila. Kedua, Pembangunan manusia Indonesia menganut konsep pembangunan manusia seutuhnya yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup penduduk baik secara fisik, mental maupun spiritual untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dalam seluruh aspek kehidupannya. Ketiga, konsep pembangunan manusia Indonesia dalam perspektif filsafat Pancasila oleh Soekarno dimaknai sebagai pembangunan yang tidak sekedar menekankan pada aspek kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong belaka, akan tetapi juga pembangunan pada aspek religiusitas.



2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
Author(s):  
Nimas Ayu Wulandari

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan generasi muda tentang Pancasila pada era milenial. Selama ini penghayatan Pancasila di kalangan generasi muda dianggap mulai hilang. Penyebab hilangnya penghayatan Pancasila di kalangan generasi muda karena beberapa faktor baik dari dalam diri generasi muda maupun faktor lingkungan. Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila secara umum dipahami sebagai kumpulan gagasan, ide-ide dasar keyakinan dan kepercayaan dalam rumusan dari segi kehidupan, berbangsa dan bernegara. Metode penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dari penelitian ini diperoleh dari Jurnal ilmiah, berita, dan wawancara terhadap generasi muda melalui melalui whatsapp (wa) atau daring. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis tekstual dan induksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa generasi muda memahami Pancasila bukan hanya sekedar dasar Negara melainkan dengan adanya Pancasila adalah sebagai pemersatu bangsa dari Sabang sampai Merauke. Namun, Pancasila belum sepenuhnya bisa dihayati dan diamalkan oleh masyarakat dan penyelenggara negara karena masih terjadi berbagai macam persoalan kebangsaan yang bertentangan dengan Pancasila.



2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
Author(s):  
Fatihatun Nisa' ◽  
Hanifa Rizqi Larasati ◽  
Yuana Berlianti Supratman

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui penerapan pancasila nilai-nilai pancasila dalam kehidupan di lingkungan sekolah, 2) Mengetetahui apakah mata pelajaran Pancasila penting dan harus tetap ada dalam mata pelajaran wajib di sekolah, 3) Mengetahui apakah nilai-nilai pancasila masih perlu dipertahankan. Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut, maka dalam penelitian ini  menggunakan metode  penelitian deskriptif kualitatif.  Subyek penelitian sebanyak 27 pelajar  di Kabupaten Purworejo.  Metode pengumpulan data menggunakan  survey dengan menyebar google formulir .Hasil penelitian sebagai berikut; (1) Mayoritas pelajar di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah sudah mengimplementasikan nilai-nilai sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. (2) Pelajaran Pancasila sangat berperan penting dalam pendidikan karakter pelajar sehingga mata pelajaran pancasila sangat perlu diterapkan di sekolah sebagai mata pelajaran wajib. (3) Nilai-nilai Pancasila masih perlu dipertahankan sebagai karakter dan budaya bangsa.  Dengan adanya pendidikan Pancasila, pelajar dapat mengetahui dasar negara, pedoman hidup dan implementasi dari nilai-nilai Pancasila yang masih perlu dipertahankan. Kata kunci : Pancasila , pelajaran, pelajar 



2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
Author(s):  
KRAP Eri Ratmanto

Kondisi masyarakat sekarang ini mengalami kebimbangan karena terdapat kelompok masyarakat yang memberikan pernyataan bahwa Pancasila adalah bagian dari 4 pilar. Menurut UUD 1945, dikatakan bahwa Pancasila adalah dasar Negara. Persoalan yang terjadi terjadi perubahan makna dan pemahaman Pancasila menjadi 4 pilar kenegaraan. Tulisan ini akan menganalisis perubahan dan perbedaan pemahaman tentang Pancasila di masyarakat. Untuk mengembalikan pengertian yang mendasar bahwa Pancasila dasar Negara Republik Indonesia, maka diperlukan berbagai macam gerakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, interpretasi, observasi, dan wawancara. Hasil ditemukan dalam kajian ini menunjukkan terjadi perbedaan pemahaman di masyarakat tentang memahami Pancasila sebagai pilar atau dasar Negara. Perbedaan ini terjadi karena ada sosialisasi yang dilakukan yang menyesatkan masyarakat dengan menyebut Pancasila sebagai bagian dari salah satu pilar kenegaraan.



2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
Author(s):  
Ani Sukawati

ABSTRAKPancasila sebagai dasar negara telah disepakati bersama sejak Indonesia merdeka. Penerapan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila serta kesadaran bela negara oleh para pemuda menjadi hal yang penting dan tidak dapat disepelekan. Dari hal tersebut, dapat diketahui bagaimana masa depan Indonesia, apakah masih eksis sebagai negara kesatuan atau malah berpotensi terpecah belah. Dalam penelitian yang dilakukan, tujuanya adalah untuk mengetahui aktualisasi pengamalan Pancasila dan bela negara oleh para pemuda alumni SMKN 1 Temanggung angkatan 43. Serta untuk mengetahui apakah terjadi singkronisasi pemikiran mengenai pemahaman mereka pada nilai-nilai baik Pancasila dengan hal yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari hari. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskripif kuantitatif dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada 30 orang responden. Responden adalah alumni SMKN 1 Temanggung angkatan 43 dari berbagai jurusan . Hasilnya, setiap pemuda sesungguhnya memiliki tekat dalam hati yang kuat untuk berbuat baik dan bersikap baik. Namun dalam kenyataanya, beberapa dari mereka masih menjadikan pemikiran atau ide-ide itu hanya ada dalam khayalan. Atau dalam kata lain, penerapan dalam kehidupan nyata masih kurang. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupu faktor eksternal. Faktor internal yang muncul dari diri sendiri sesunggunya merupakan refleksi dan akibat dari pengamatan terus menerus pada lingkungan tempat tinggal. Oleh karenanya, faktor internal dan eksternal ini saling memengaruhi satu sama lain. Pendidikan karakter memiliki andil yang besar dalam menciptakan generasi muda yang baik dalam pemikiran dan dapat menjadikan pemikiran baik tadi menjadi kenyataan dibuktikan dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan bela negara dalam kehidupan sehari hari.Kata kunci : Aktualisasi, Pancasila, Bela Negara, PemudaABSTRACTPancasila as an national principle has been mutually agreed upon since Indonesia's independence. The implementation of the values contained in Pancasila and the awareness of defending the country by the youth is important and cannot be underestimated. From this, it can be seen what the future of Indonesia is like, what its still exists as a unitary state or even has the potential to be divided. This research was conducted with the aim of knowing the actualization of the practice of Pancasila and state defense by youth alumni of SMKN 1 Temnggung class 43. As well as to find out whether there is synchronization of thoughts regarding their understanding of the good values of Pancasila with what they do in their daily lives. The research was conducted using quantitative descriptive methods by giving a number of questions to 30 respondents. The respondents were alumni of SMKN 1 Temanggung, class 43 from various departments. As a result, every youth actually has a strong determination in his heart to do good and be kind. But in reality, some people still only make those thoughts or ideas exist in delusion. Or in other words, the application in real life is still lacking. This is caused by various factors, both internal and external factors. Internal factors that arise from oneself are actually a reflection and a result of continuous observation of the environment in which they live. Therefore, these internal and external factors influence each other. Character education has a big share in creating young people who are good at thinking and can make these good thoughts a reality as evidenced by the practice of the values of Pancasila and defending the country in everyday life.Keywords: Actualization, Pancasila, State Defense, Youth



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document