Phronesis Jurnal Teologi dan Misi
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

59
(FIVE YEARS 20)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

2723-6617, 2621-2684

2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 113-131
Author(s):  
Hasahatan Hutahaean ◽  
Thomas Pandawa Efrata Tarigan ◽  
Januaster Siringoringo ◽  
Mariani Barus

This study aims to determine the existence of meaningful contributions both partially and collectively from the interpersonal communication skills of Christian Education (CE) teachers and parental guidance to the motivation of students' CE learning. The research was conducted at Junior High School GKPI Padang Bulan. The population in this study is all Grade VII Christian students who number 61 people. The results concluded that there is a significant contribution from variable X1 (interpersonal communication skills of CE teachers) to variable Y (motivation to learn CE students). There is a significant contribution from variable X2 (parental guidance) to variable Y (student CE learning motivation). Rhitung value (0.553) (Rtabel value (0.361). The R2 determination value of the correlation calculation is 30.58%, and is meaningful, where things > ttabel (3.51 (1.701). There are contributions together from variable X1 (interpersonal communication skills of PAK teachers) and variable X2 (parental guidance) to variable Y (student PAK learning motivation). Christian education teachers need to encourage communication skills for students and fellow Teachers in various forms of formal and non-formal training in daily practice. Likewise, parents keep an eye on the frame of love in guiding the children god-given to them



2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 144-154
Author(s):  
Suleni Suleni ◽  
David Kristanto ◽  
Eliantri Putralin ◽  
Malik Malik

Konsep Mesias merupakan konsep yang kompleks dan seringkali problematik untuk dipahami baik di kalangan Kristen maupun oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen seringkali menerima konsep tersebut secara terlalu simplistik sampai-sampai kehilangan pandangan atas kontinuitas dari konsep tersebut dengan nubuat-nubuat Mesianis di dalam Perjanjian Lama. Berbeda dengan orang-orang Kristen, orang-orang Yahudi menolak konsep tersebut utamanya sebab konsep Mesianis mereka sangat berkaitan dengan kemuliaan dan kuasa namun mereka tidak memahami bahwa Mesias harus mati bahkan sampai disalib untuk menebus dosa umat-Nya. Menggunakan pendekatan teologi biblika, artikel ini berargumen bahwa konsep Mesias di dalam Alkitab harus dipahami secara utuh dalam kaitannya dengan kemuliaan dan penderitaan Sang Mesias dalam menanggung dosa. untuk memahami penderitaan dan kemuliaan dalam sebutan konsep Anak Manusia dan konsep Hamba Yang Menderita. Di dalam diri Yesus Kristus, kemuliaan dan kekuasaan sang Anak Manusia dan peran sang Hamba Yang Menderita digenapi secara bersamaan melalui perendahan diri-Nya di kayu salib dan peninggian-Nya melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Untuk tujuan tersebut artikel ini pertama-tama membahas mengenai pengharapan Mesianik di dalam Perjanjian Lama; kedua, Mesias dan Anak Manusia; ketiga, Anak Manusia dan Hamba Yang Menderita; dan kemudian ditutup dengan sebuah kesimpulan.



2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 194-210
Author(s):  
Cornelis J. Haak
Keyword(s):  

Artikel ini menjelaskan perlunya mengembangkan teologi reformed supaya dapat menarik perhatian orang yang berbudaya berbeda dengan budaya bersalah (guilt culture). Ternyata Injil berlaku untuk segala budaya, akan tetapi teologi reformed menimbulkan pertanyaan Luther yang mencari jawab tentang dasar keselamatan. Sekalipun sangat setuju bahwa Alkitab mengajar bahwa diselamatkan oleh pembenaran melalui iman, namun pengakuan ‘Sola Fide’ itu tidak mengandung keseluruhan Injil. Sebab itu arti dan dampak Injil seharusnya dipresentasikan ke budaya malu (shame culture) dan budaya takut (fear culture) secara yang lebih sesuai kepada pertanyaan dan kekhawatiran yang berlaku di dalam budaya itu. Kalau ciri khas setiap budaya dipahami dengan lebih teratur, maka juga dapat membaca Alkitab dan ajaran Injil dengan ‘kacamata’ atau ‘lensa’ yang lebih sesuai dengan kebutuhan budaya itu. Dengan cara ini berita keselamatan Injil Kristus akan bertambah kuat untuk meyakinkan para pendengar pekabaran Injil itu.



2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 132-143
Author(s):  
Meriana Zega ◽  
Yayan Indrawan

Many believers think that mercy is only for those in need or all believers. For this reason, this study aims to provide an explanation of the mercy needed by every believer to free someone from judgment according to James 2:13. The method used is a text analysis approach, which focuses on the text itself and is compared with other book texts. The results of the study stated that based on James 2:13, mercy is the key to victory over judgment from God, channeling mercy is something that is continuously done without stopping. As a person who has received God's forgiveness and mercy, he should be able to forgive others without limits. Because this is not the law of burden but the law of love that every believer must respect and implement because the proof of mercy is to do God's law, which is to love God and love your neighbor as yourself, because at the time of judgment that person will be loved by God and free from judgment.



2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 182-193
Author(s):  
Adi Putra ◽  
Filmon Berek

Penelitian ini tentang kajian teologis terhadap pandangan Gereja Katolik Roma tentang konsep Kerajaan Allah yang disamakan dengan Gereja. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, khususnya kajian literatur, maka ditemukan beberapa kekeliruan terhadap konsep ini. Pertama, sebuah kekeliruan apabila menyamakan Gereja dengan Kerajaan Allah seperti yang dipahami oleh kelompok Katolik Roma. Kedua, sangat setuju apabila mengatakan bahwa Gereja adalah pemerintahan Kristus. Namun perlu dicatat bahwa dalam konteks kerajaan Allah (perhatikan konsep PL dan PB yang sebelumnya telah dibahas) pemerintahan Allah mencakup seluruh ciptaan dan alam semesta. Sehingga kelompok KR telah mempersempit cakupan dari pemerintahan Allah dalam Kerajaan Allah apabila hanya berpendapat bahwa cakupan pemerintahan Allah hanya dalam lingkup gereja saja. Ketiga, menyangkut tentang hirarki keselamatan dan Paus selaku wakil Kristus, di mana dalam konteks kerajaan Allah di bumi, maka Paus adalah wakil tertinggi. Sekali lagi pandangan ini pun terlalu berlebihan dan dipaksakan. Dengan demikian, dapat disimpulkan adalah kekeliruan besar untuk menyamakan Kerajaan Allah dengan Gereja.



2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 167-181
Author(s):  
Jonidius Illu ◽  
Dyulius Thomas Bilo ◽  
Yublina Kasse

Perkembangan kognitif dipengaruhi oleh lingkungan termasuk di dalamnya adalah gadget sehingga jika anak penggunaan gadget yang berlebihan bisa memengaruhi perkembangan kognitif. Itu sebabnya penggunaan gadget selama pembelajaran daring jika digunakan dengan benar dan efektif maka gadget berguna dalam meningkatkan kognitif anak juga sebaliknya, jika gadget digunakan selama pembelajaran daring dengan tujuan yang bukan pada porsi pembelajaran daring maka akan mengganggu perkembangan kognitif yang dapat berdampak pada kehidupan anak. Salah satu problem yang berdampak pada kognitif anak adalah faktor pembelajaran daring. Oleh karena banyak anak yang tidak menggunakan waktu yang efektif selama pembelajaran daring. Perkembangan kognitif telah dipengaruhi oleh gadged. Problem ini disebabkan oleh games online yang muncul saat pembelajaran daring, penyajian materi yang tidak menarik dari seorang guru, kejenuhan anak selama pembelajaran daring dan banyaknya waktu yang tidak efektif selama pembelajaran daring akibatnya banyak waktu yang dipakai anak untuk bermain gadget. Hampir selama dua tahun ini (2019-2021), ada orang tua yang mengalami kesulitan mengontrol gadget yang digunakan anak, sehingga melalui tulisan ini diharapkan dapat mengetahui apakah pengaruh gadget pada pembelajaran daring terhadap perkembangan kognitif anak usia 7-11 tahun, baik dampak positif atau dampak negatif. Metode dalam penulisan ini adalah kualitatif artinya dengan menggunakan penelitian kepustakaan yaitu mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk mendapatkan informasi guna menemukan informasi yang sesuai untuk dipergunakan. Tujuan dari tulisan ini, diharapkan agar dapat memperoleh informasi terkait pengaruh gadget pada pembelajaran daring terhadap perkebangan kognitif anak usia 7-11 tahun. Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian ini perlu karena penggunaan gadget yang salah selama pembelajaran daring. Di sinilah peran orang tua dalam melakukan pendampingan sehingga anak menggunakan gadget yang baik agar tidak berdampak buruk pada perkembangan kognitif anak.



2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 155-166
Author(s):  
Widya Wahyuni ◽  
Yosep Iswanto Padabang
Keyword(s):  

Mencari kebahagiaan dalam hidup ini adalah sesuatu yang selalu didambakan oleh semua orang namun dalam mencari dan menemukannya seseorang perlu dibimbing dan didorong oleh suatu motivasi yang benar, sehingga kebahagiaan yang diperoleh dapat dinikmati dengan baik, bukan untuk memuaskan keinginan daging semata yang pada akhirnya membuat manusia tersebut binasa dengan dunia ini. Sebagaimana yang diajarkan dalam Alkitab bahwa manusia sebaiknya selalu hidup mencari dan menyenangkan hati Tuhan, namun pada kenyataannya yang terlihat saat ini adalah, ada begitu banyak orang yang hidup mencari kebahagiaan untuk memuaskan keinginannya bukan keinginan Tuhan. Lalu bagaimana dengan kehidupan orang Kristen saat ini? Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, sedangkan terkait dengan kajian teologi dalam kaitannya dengan gaya hidup hedonisme, penulis mengaitkan penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif dalam konteks fenomenologi dengan metode kualitatif yang bersifat library research. Yang mana untuk menganalisis kandungan makna yang terdapat dalam sebuah narasi atau teks, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, penulis menggunakan analisis naratif. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa orang percaya sebaiknya selalu hidup menurut keinginan Tuhan, yaitu melakukan hal-hal yang memperlihatkan kasih kepada Allah. dan menjauhkan diri dari Perbuatan yang bersumber dari keinginan daging. serta selalu mengejar kebahagiaan yang abadi bukan kebahagiaan sementara yang diajarkan dalam paham hedonisme.



2021 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 53-72
Author(s):  
Pitri Sartika Sihotang ◽  
Hermanto Sihotang ◽  
Risa Ariska Tarigan

This study investigates the influence of Christian religious education in families and worship activities in schools on moral formation for students. Researchers have noticed that PAK teaching activities in families are a separate asset in the field of PAK. An activity that has a tremendous impact on future generations. Besides, routine worship activities in schools also need attention from all parties, namely parents, teachers, and the community. Of course not forgetting for the students themselves. Meanwhile, moral which is often equated with the formation of one's cognition, affection, and ethical behavior cannot be taken for granted. This must be formed in a time trajectory that requires energy, time thought, energy, money, and concentration to achieve an ideal moral form, especially from a Christian perspective. The method used is field research with post ex facto. From the data entered, it was found that the variable tendency was high, namely PAK Keluarga (X1) by 91%, student worship routines (X1) by 94%, and 97% for the formation of student morality (Y). Thus the proposed hypothesis has been answered through research. Therefore, religious education activities in the family and worship in schools need to be carried out regularly to obtain good morality for students. All parties should take this effort more seriously from the perspective of Christian morality formation.



2021 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 73-87
Author(s):  
Marthen Luther Mau

Di dalam artikel ini, penulis menarasikan tentang Yesus mengimplementasikan misi di Galilea yakni mengajar pengajaran yang benar, mengkhotbahkan Kabar Baik Kerajaan Allah, menyembuhkan orang-orang sakit, dan melayani orang-orang yang mengalami kelemahan fisik. Misi Yesus di seluruh daerah yang terletak di Galilea bertujuan agar umat manusia yang telah lama terhilang dapat mendengarkan pengajaran benar yang diajarkan dan Kabar Baik yang diproklamirkan, sehingga bagi mereka yang percaya dan menerima Yesus dapat disembuhkan setiap penyakit dan kelemahan fisik yang telah lama mereka derita. Untuk mengetahui misi Yesus menurut teks Matius 4:23, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan kajian eksegesis. Proses analisis yang dilakukan penulis adalah mengeksegesis teks Alkitab dan menganalisis sumber-sumber sekunder yang terpercaya untuk menghasilkan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil dari kajian ini menemukan bahwa para pelayan Yesus Kristus harus mengajarkan pengajaran yang benar, memberitakan Kabar Baik Kerajaan Allah/Surga, menyembuhkan orang-orang sakit, dan melayani orang-orang yang menderita kelemahan fisik dalam kehendak-Nya. Jadi melalui kajian eksegesis untuk memperoleh maksud penulis dari teks bahasa aslinya, sehingga teks tersebut dapat dimengerti pembaca masa kini supaya dapat diimplementasikan oleh para pelayan Yesus Kristus secara terus-menerus pada semua tempat pelayanan, baik di gereja, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.



2021 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 14-29
Author(s):  
Surya Harefa

Artikel ini membahas beberapa tanggapan orang-orang Kristen Injili di Jepang terhadap bahaya nasionalisme Jepang yang cenderung bersifat fasis dan terlihat dari gerakan amandemen. Sementara mengapresiasi mereka yang berjuang dalam meresponi masalah yang rumit ini, dengan menggunakan metode pendekatan kontekstualisasi kritis dari disiplin teologi interkultural, artikel ini juga menunjukkan keterbatasan mereka dalam menghasilkan solusi bagi kebuntuan yang terjadi antara kubu yang memperjuangkan revisi konstitusi dan kubu yang menolak amandemen yang diusulkan. Tokoh Injili yang menggunakan prinsip-prinsip Kuyperian seperti wawasan dunia Kristen, anugerah umum, dan kedaulatan ruang lingkup menghasilkan respons yang lebih komprehensif dan berpotensi diterima juga di kalangan orang bukan Kristen, termasuk kubu revisionis.  Kepada kaum Injili Jepang yang cenderung menarik diri dari partisipasi dalam masalah sosial politik, penulis mendorong penggunaan saran-saran eklesiologis dari Abraham Kuyper. Khususnya, penekanannya  terhadap penjagaan independensi gereja terhadap negara dan pembedaan Kuyper terhadap aspek gereja sebagai organisme dan institutusi, bermanfaat untuk melanjutkan dan mengembangkan partisipasi dalam meresponi masalah amandemen beserta isu-isu terkait nasionalisme yang lainnya.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document