scholarly journals IDENTIFIKASI NEMATODA USUS SOIL TRANSMITTED HELMINTH PADA ANAK-ANAK DI KECAMATAN BARANTI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG

2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 21-25
Author(s):  
Dian Islamiati ◽  
Mujahidah Basarang ◽  
Muh. Rifo Rianto ◽  
Tuty Widyanti

Soil Transmitted Helminth atau nematoda usus adalah kelompok parasit cacing usus yang memerlukan media tanah yang basah dan lembab untuk perkembangannya. Kelompok soil transmitted helminth (STH) yakni cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) dan cacing benang (Strongyloides stercoralis). Dilihat dari kondisi lingkungan Kecamatan Baranti terdapat penggunanaan jamban yang tidak layak dan peletakan penampungan air limbah sembarangan mengakibatkan kontaminasi pada tanah yang menjadi tempat berkembangnya nematoda usus. Pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi soil transmitted helminth pada feses anak-anak di Kecamatan Baranti Kabupaten Sidenreng Rappang. Jenis pengabdian ini adalah observasi laboratorik. Sebanyak 10 sampel feses dengan menggunakan metode sedimentasi (sentrifugasi). Berdasarkan hasil pengabdian yang telah dilakukakan ditemukan 2 sampel yang positif mengandung telur cacing. Berdasarkan hasil pengabdian dapat disimpulkan bahwa ditemukan soil transmitted helminth pada anak-anak dengan jenis telur cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura.

1968 ◽  
Vol 2 (4) ◽  
pp. 169-214 ◽  
Author(s):  
Ruy Gomes de Moraes

1 - Foram examinadas as fezes de 2.666 indivíduos, operários e funcionários de duas Emprésas industriais, situadas, uma na cidade do Rio de Janeiro e outra no Estado do Rio (Brasil); 2 - Dos 2.666 indivíduos, 1941 (72.80%) estavam parasitados por um ou mais helmintos e 725 (27,20%) tinham seus exames de fezes negativos; 3 - De cada um dos 2.666 indivíduos foi feito um hemograma completo, tendo sido aproveitada a taxa de eosinófilos que, em associação com os exames de fezes, constituiu o objeto principal dêste trabalho. 4 - Na Tabela A observa-se o número de vêzes em que cada um dos vermes foi observado e seus respectivos percentuais. Embora não seja um trabalho de epidemiologia, verifica-se que 46,81% são infestados pelo Trichuris trichiura; 23,85% pelo Strongyloides stercoralis; 22,46% pelo Necator americanus e/ou Ancylostoma duodenale; 20,51% pelo Ascaris lumbricóides; 1,65% pelo Schistosoma mansoni; 0.67% pelo Enterobius vermicularis; 0,26% por Taenia solium ou T. saginata e 0,11% por Hymenolepis nana; 5 - Os exames de fezes foram feitos pelos métodos de Faust (ou de Ritchie), de Willis, de Baermann e de sedimentação; 6 - A eosinofilia anotada foi a relativa ou em seu percentual, sendo considerada hipereosinofilia uma taxa de eosinófilos igual ou superior a 5% (Eo > 5%); 7 - Foram abordados de modo conciso os fatores que provocam oscilações na eosinofilia normal tais como a idade, a raça, as horas do nictêmero, os fatores físicos, o sexo, os fatores químicos e outros; 8 - Tratou-se de modo mais extenso das diferenças entre as hipereosinofilias parasitárias e não parasitárias, tendo sido focalizada a dinâmica da eosinofilia traduzida na curva de Lavier. 9 - A distribuição dos 2.666 casos foi feita pelos diferentes graus de eosinofilia, tendo sido levantados gráficos e traçadas curvas sôbre a distribuição de cada helminto e de suas associações. 10 - Por ser necessário à explanação do assunto, foi criado o "índice eosinofilico", o qual corresponde à relação entre o número de casos de um determinado grupo com Eo > 5% e Eo < 5%. Para o total de casos positivos, ao "índice eosinofílico" denominamos "índice eosinofílico médio" em para o total dos negativos "índice eosinofílico residual"; 11 - Estabelecendo-se o "índice eosinofílico", pode-se ajuizar a capacidade eosinofilogênica de cada helminto isoladamente, bem como a de suas associações; 12 - Atenção especial foi dada aos problemas da existência da hipereosinofilia nos casos com exames coprológicos negativos para helmintos, tendo-se passado em revista vários dos aspectos biológicos que o assunto comporta; 13 - Outra questão de grande importância clínica explanada neste trabalho é a do encontro de casos de parasitismo por vermes, sem hipereosinofilia. O autor, baseado em seus dados e em outros colhidos na literatura sôbre o assunto, discute a fisiopatologia da eosinopoiese nas helmintoses e ojerece uma interpretação para êste fato ainda não defintivamente esclarecido.


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 21-25
Author(s):  
Dian Islamiati ◽  
Mujahidah Basarang ◽  
Muh. Rifo Rianto ◽  
Tuty Widyanti

Soil Transmitted Helminth atau nematoda usus adalah kelompok parasit cacing usus yang memerlukan media tanah yang basah dan lembab untuk perkembangannya. Kelompok soil transmitted helminth (STH) yakni cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) dan cacing benang (Strongyloides stercoralis). Dilihat dari kondisi lingkungan Kecamatan Baranti terdapat penggunanaan jamban yang tidak layak dan peletakan penampungan air limbah sembarangan mengakibatkan kontaminasi pada tanah yang menjadi tempat berkembangnya nematoda usus. Pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi soil transmitted helminth pada feses anak-anak di Kecamatan Baranti Kabupaten Sidenreng Rappang. Jenis pengabdian ini adalah observasi laboratorik. Sebanyak 10 sampel feses dengan menggunakan metode sedimentasi (sentrifugasi). Berdasarkan hasil pengabdian yang telah dilakukakan ditemukan 2 sampel yang positif mengandung telur cacing. Berdasarkan hasil pengabdian dapat disimpulkan bahwa ditemukan soil transmitted helminth pada anak-anak dengan jenis telur cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura.


2021 ◽  
Vol 9 (2) ◽  
pp. 138-149
Author(s):  
Tr Mulyo Wati

Soil Transmitted Helminth (STH) merupakan nematoda usus penyebab infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah untuk perkembangan menjadi bentuk infektif. Spesies yang termasuk nematoda usus golongan STH yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, Necator americanus dan Strongyloides stercoralis. Manusia dapat terinfeksi apabila tidak sengaja menelan telur cacing atau melalui penetrasi kulit akibat kontak langsung dengan tanah tanpa APD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase petani sawah di Desa Munggur Kecamatan Manyaran Wonogiri yang terinfeksi nematoda usus STH. Metode penelitian ini menggunakan metode jenis observasional dengan pendekatan cross sectional. Pemeriksaan pada sampel feses menggunakan metode langsung dengan larutan NaCl 0,9% dan larutan lugol 1-2%, sedangkan sampel kuku menggunakan metode sedimentasi dengan larutan NaOH 0,25% ditambah larutan lugol 1-2%. Hasil pemeriksaan pada sampel feses ditemukan adanya telur nematoda usus STH, sedangkan pada kotoran kuku tidak ditemukan adanya telur nematoda usus STH. Simpulan penelitian ini adalah adanya telur nematoda usus STH pada sampel feses nomor 12,13 dengan ditemukannya telur Hookworm. Persentase hasil pemeriksaan pada sampel feses dinyatakan positif sebesar 10% dan sampel feses negatif dinyatakan negatif sebesar 90% sedangkan sampel kotoran kuku dinyatakan positif 0% dan sampel negatif dinyatakan 100%.   Kata kunci : Soil Transmitted Helminth, feses, kotoran kuku. 


2019 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
Author(s):  
Elis Anita Farida ◽  
Siti Zainab Salim ◽  
Acivrida Mega Charisma ◽  
Khurin In Wahyuni

Infeksi cacing merupakan penyakit endemik kronik yang di akibatkan satu atau lebih cacing yang masuk kedalam tubuh manusia, dengan prevalensi tinggi terdapat pada anak-anak. Infeksi cacing yang menjadi masalah utama adalah kelompok Soil Transmitted Helminths (STH) diantaranya Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah siswa SDN 1 Kedamean terinfeksi telur cacing Soil Transmitted Helminth (STH) dan untuk mengetahui adanya hubungan personal kebersihan dengan prevalensi kecacingan pada feses anak SDN 1 Kedamean. Penelitian ini menggunakan teknik Random Sampling yaitu semua siswa kelas 3 SD sampai kelas 5 SD yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Banyaknya sampel penelitian ini adalah 30 sampel yang diambil dari kelas 3, 4, dan 5 dan dianalisis menggunakan Statistika  fisher exact. Pada penelitian ini diperoleh 5 siswa yang terinfeksi telur cacing Soil Transmitted Helminth (STH) yang ditemukan yaitu telur cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan Hookworm. Yang terinfeksi Soil Transmitted Helminth (STH) lebih banyak menginfeksi laki-laki (10%) sedangkan pada anak perempuan (6,7%). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara infeksi cacing dengan kebersihan personal siswa SDN 1 Kedamean.


e-CliniC ◽  
2014 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
Author(s):  
Muhammad Fachrurrozy Basalamah ◽  
Viviekenanda Pateda ◽  
Novie Rampengan

Abtract: Intestinal worm infections are transmitted via soil (soil-transmitted helminth) is a global problem, especially in developing countries. The main worm infections caused by Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, and hookworm (necator americanus and Ancylostoma duodenale). Worm infections affect the digestion, absorption, and metabolism of food could result in loss of protein, carbohydrates, fats, vitamins and large amounts of blood as well as lower mean hemoglobin concentration. The purpose of this study was to determine the relationship of helminth infection with hemoglobin levels of elementary school children GMIM Buha Manado. This research was an observational analytic cross-sectional approach. Sebjek study as many as 80 children. Results showed that children infected with worms very significant effect on levels of hemoglobin (p < 0.001). Children who are infected with worms had lower hemoglobin levels when compared with children who are not infected with the worm. Children who are infected with the worm hemoglobin level falls to 9.5 g/dl. Keywords: elementary school children - a worm infection - hemoglobin.   Abstrak: Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminth) merupakan masalah dunia terutama di negara sedang berkembang. Infeksi cacing utama disebabkan oleh ascaris lumbricoides, trichuris trichiura, dan cacing tambang (necator americanus dan ancylostoma duodenale). Infeksi cacing berpengaruh terhadap pencernaan, penyerapan, serta metabolisme makanan yang dapat berakibat hilangnya protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan darah dalam jumlah besar serta menurunkan konsentrasi hemoglobin rerata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan infeksi cacing dengan kadar hemoglobin anak sekolah dasar GMIM Buha Manado. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebjek penelitian sebanyak 80 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terinfeksi cacing berpengaruh sangat bermakna terhadap kadar hemoglobin (p < 0,001). Anak-anak yang terinfeksi cacing memiliki kadar hemoglobin lebih rendah bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terinfeksi cacing. Anak-anak yang terinfeksi cacing kadar hemoglobinnya turun hingga mencapai 9,5 g/dl. Kata kunci: anak SD - infeksi cacing - kadar hemoglobin


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 31
Author(s):  
Andréia Lívia Gonzalez Napoli ◽  
Allan Eurípedes Rezende Napoli

Introdução: A alta prevalência das parasitoses no Brasil deve-se as condições sócioeconômicas precárias da maioria da população. A Síndrome de Loeffler é caracterizada por uma pneumonia eosinofílica, causada por parasitas intestinais com ciclo pulmonar obrigatório na qual evidencia-se infiltrado pulmonar migratório na radiografia de tórax e eosinofilia detectada no hemograma, em pacientes com tosse seca, dispnéia, sibilos e febre baixa. Objetivo: O estudo teve como objetivo buscar na literatura os aspectos clínicos, parasitológicos e o desenvolvimento da Síndrome de Loeffler, dada a alta prevalência destas parasitoses no Brasil. Materiais e métodos: Trata-se de uma revisão bibliográfica de artigos em inglês, espanhol e português, extraídos das bases de dados MEDLINE, PUBMED e Google Acadêmico. Os descritores utilizados foram "Síndrome de Loeffler” AND “pneumonia eosinofílica” AND “parasitose intestinal", Resultados: A Síndrome de Loeffler representa uma pneumonite eosinofílica transitória causada, principalmente, pelos helmintos: Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Strongyloides stercoralis e Ascaris lumbricoides, destacando-se o último. Especificamente, o contágio do Ascaris inicia-se com a ingestão de ovos de vermes encontrados em água e alimentos contaminados. No intestino delgado, os ovos eclodem em larvas que penetram a parede do intestino e migram via circulação porta até o fígado e, em seguida, via circulação sistêmica até os pulmões. As larvas introduzem nas paredes alveolares, deslocam-se até a garganta e são deglutidas. Posteriormente, retornam ao intestino e se transformam em vermes adultos, iniciando a reprodução, reiniciando o processo. Outrossim, o desenvolvimento da infecção pelos parasitas dura cerca de 2 a 6 semanas e os sintomas, quando presentes, iniciam-se após 7 a 14 dias do contágio. O diagnóstico da Síndrome de Loeffler é realizado por uma avaliação clínica, na qual pode-se observar sintomas respiratórios característicos, achados radiológicos de tórax, mostrando um infiltrado alvéolo-intersticial de caráter migratório, e, laboratorialmente, a síndrome é caracterizada por eosinofilia sanguínea. Conclusão: Para um adequado diagnóstico da Síndrome de Loeffler, é necessário associar à uma anamnese detalhada dados radiológicos e laboratoriais, acarretando assim em uma correta e precoce investigação do caso. Ademais, medidas sanitárias são importantes para reduzir a alta prevalência das parasitoses no Brasil.


2005 ◽  
Vol 35 (4) ◽  
pp. 487-490 ◽  
Author(s):  
Ana Felisa Hurtado-Guerrero ◽  
Fernando Hélio Alencar ◽  
José Camilo Hurtado-Guerrero

Foi realizado um estudo para avaliar a prevalência de enteroparasitas em um grupo de idosos ribeirinhos, moradores do Município de Nova Olinda do Norte, Estado do Amazonas Brasil, no período de abril e agosto de 1999. Por meio de um estudo de corte transversal foram analisados 81 exames, através do método de Sedimentação Espontânea (Método de Hoffman et al., 1934). Foi constatada positividade em 72,8% dos idosos, predominando o monoparasitismo (43,2%). Os helmintos foram os mais freqüentes (70,4%), destacando-se: Ascaris lumbricoides (35,2%), Trichuris trichiura (16,0%), Ancylostoma duodenale (9,0%) e Strongyloides stercoralis (9,0%). Dentre os protozoários (29,5%), a ocorrência de Entamoeba coli foi de 18,2%, Giárdia lamblia de 7,0% e Entamoeba histolytica 4,5%. Não houve associação estatisticamente significativa entre sexo e grau de parasitismo e entre faixas etárias e condição parasitária. Estes resultados evidenciam um quadro de alta prevalência de parasitas intestinais nesta população e discordam dos reportados por outros pesquisadores quando afirmam que a intensidade da infestação por parasitas diminui na idade avançada. Os achados anteriores exigem das autoridades governamentais medidas de controle e educação para melhorar a qualidade de vida desses idosos, considerando a grave repercussão que esses parasitas tem no estado nutricional dos gerontes de baixa renda.


Biomédica ◽  
2017 ◽  
Vol 37 (3) ◽  
pp. 368 ◽  
Author(s):  
Julián A. Fernández-Niño ◽  
Claudia I. Astudillo-García ◽  
Laura María Segura ◽  
Natalia Gómez ◽  
Ángela Skantria Salazar ◽  
...  

Introducción. Las infecciones parasitarias y el poliparasitismo intestinal son muy prevalentes en las poblaciones más vulnerables de los países en desarrollo debido a la existencia de factores ambientales, biológicos y sociales determinantes en la transmisión de parásitos. La población entre uno y 15 años de edad es la más afectada por dicha situación.Objetivo. Describir las prevalencias y los perfiles del poliparasitismo intestinal en la población de uno a 15 años de edad de comunidades indígenas de la Amazonia colombiana.Materiales y métodos. Se hizo un muestreo no probabilístico de 300 niños entre uno y 15 años de edad, procedentes de varios asentamientos rurales y de la cabecera urbana de Puerto Nariño, Amazonas, quienes participaron voluntariamente en el estudio. Las muestras de materia fecal se analizaron mediante el método directo (solución salina al 0,85 % y lugol) y la técnica de Kato-Katz. Se determinaron los perfiles más prevalentes de poliparasitismo intestinal con el coeficiente kappa de Cohen y un intervalo de confianza de 95 %.Resultados. La prevalencia de poliparasitismo, definida como la presencia de, por lo menos, dos parásitos intestinales patógenos, fue de 84 % (IC95 %: 79,35-87,96). Los casos con presencia de dos o tres agentes incluyeron los parásitos Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Blastocystis sp., los ancilostomídeos Ancylostoma duodenale y Necator americanus, así como Entamoeba histolytica, E. dispar y E. moshkovskii del complejo Entamoeba, y fueron los de mayor prevalencia.Conclusión. Se encontraron varios perfiles de poliparasitismo intestinal, aunque la mayoría de los casos involucraron menos de seis especies. Una mejor estimación de la prevalencia y los factores determinantes del poliparasitismo intestinal permitirían priorizar y orientar los recursos para su control.


2019 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 20-31
Author(s):  
Sumiati Bedah ◽  
Adelina Syafitri

Infeksi kecacingan usus adalah salah satu penyakit yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit Cacing dapat disebabkan oleh nematoda usus  yang disebut Soil Transmitted Helminths (STH) seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus). Kebersihan pribadi yang buruk adalah faktor yang memfasilitasi transmisi cacing. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besarnya jumlah infeksi yang disebabkan oleh  nematoda usus dan hubungannya dengan perilaku kebersihan anak pada usia 8-14 tahun di RW 007 Tanjung Lengkong, Desa Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dan desain penelitian survei cross-sectional. Populasi ini diambil dari semua anak usia 8-14 tahun di RW 007 Tanjung Lengkong, Desa Bidaracina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Pemeriksaan yang dilakukan dengan teknik konsentrasi metode tidak langsung adalah sedimentasi, kemudian diperiksa di bawah mikroskop.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat infeksi dengan nematoda usus yang ditularkan melalui tanah adalah 6.67% (9/135). Jenis telur cacing yang ditemukan adalah Ascaris lumbricoides yaitu 33,3% (3/9) Trichuris trichiura yaitu 66,7% (6/9). Tingkat infeksi nematoda usus  tidak ada hubungannya dengan usia dan jenis kelamin tetapi ada hubungan dengan perilaku kebersihan diri.  Kata Kunci : Nematoda usus, Kebersihan diri


2017 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 110
Author(s):  
Rahmayanti Rahmayanti ◽  
Razali Razali ◽  
Mudatsir Mudatsir

Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah Soil Transmitted Helminths (STH) masih merupakan masalah penting pada kesehatan masyarakat, khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Cacing penyebab kecacingan yang ditularkan melalui tanah yang sering dijumpai pada anak usia Sekolah Dasar yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Hookworm (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan dengan infeksi STH murid kelas 1, 2 dan 3 SDN Pertiwi Lamgarot Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Jenis penelitian ini adalah desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah murid kelas 1, 2 dan 3 SDN Pertiwi sebanyak 125 orang, sampel berjumlah 95 orang murid diambil secara proportional sampling. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan serta dilakukan juga pemeriksaan tinja responden (murid) dengan menggunakan metode Kato-Kazt. Data diolah menggunakan uji Chi Square untuk melihat hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan dengan infeksi STH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 32 responden positif terinfeksi STH dengan tingkat prevalensi 33,68%. Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh bahwa ada hubungan antara pengetahuan, sikap dan tindakan dengan infeksi STH pada murid kelas 1, 2 dan 3 SDN Pertiwi Lamgarot. Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Tindakan, dan Soil Transmitted Helminths. Intestinal worm infections that are transmitted through the soil so called Soil Transmitted Helminthes (STH) is still an important public health problem, particularly in developing countries including Indonesia. Worms that caused intestinal infections which are transmitted through soil are often found in in elementary school-age children namely Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura and hookworm (Ancylostoma duodenale and Necator americanus). This study tried to find out the relationship of knowledge, attitudes and actions to STH infection at grade 1, 2 and 3 of SDN Pertiwi Lamgarot Ingin Jaya Aceh Besar district. This is a cross-sectional design research. The population of this study was all students grade 1, 2 and 3 of SDN Pertiwi for about 125 students. There were 95 samples were selected by using proportional sampling. The data were collected by using questionnaires about knowledge, attitudes and actions, and also by examining students’ faeces by using Kato-Kazt. The data were processed by using Chi Square to see the relationship of knowledge, attitudes and actions with STH infection. The results showed that 32 students were positively infected with STH prevalence rate 33.68%. Based on the results of the Chi Square test, it was showed that there were relationships among knowledge, attitudes and actions with STH infection at students grade 1, 2 and 3 of SDN Pertiwi Lamgarot Ingin Jaya Aceh Besar district. Keyword: Problem Based Learning, Critical Thinking, Human System Respiratory


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document