scholarly journals KORELASI ANTARA HITUNG TROMBOSIT DENGAN JUMLAH CD4 PASIEN HIV/AIDS

Author(s):  
M. I. Diah Pramudianti ◽  
Tahono Tahono

The Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) is the presence of symptoms caused by Human Immunodeficiency Virus (HIV)which belongs to human retroviruses (retroviridae). Thrombocytopenia is a common finding in patients with HIV infection. HIV infectionmay induce thrombocytopenia through immune and non-immune mechanisms, autoimmune combination and inhibition of plateletproduction. The aim of this study is to analyze the correlation between thrombocyte and CD4 count in HIV/AIDS patients. This studyuses a cross sectional design with a total of 17 patients. The subject of this study is HIV/AIDS patients who came to and examined atVCT clinic, dr. Moewardi Hospital Surakarta. To analyze this result the researchers used Spearman (r) correlation with p<0.05, andconfidence interval 95%. Patients’ median age was 30 (21–49) years, 11 (64.7%) men and 6 (35.3%) women. The subjects with AIDSwere 11 (64.7%), and HIV were 6 (35.3%) patients. The duration of antiretroviral (ARV) was 7.5 (4–20) months in 10 subjects.The median of thrombocyte count was 203 (143–327)×103/μL, CD4 absolute 207 (5.0–734)/μL, and CD4 (% lymphocytes) 13.0(2.0–29.0)%. The thrombocyte count was not correlated with CD4 absolute (r=0.456; p=0.066) and CD4% (r=0.218; p=0.400). InHIV patients, low platelet counts will be the result of a host of problems and complications that are associated with the progressive HIVinfection or its management.

2021 ◽  
Vol 8 (1) ◽  
pp. 139
Author(s):  
Ni Kadek Putri Silvia Maha Dewi ◽  
Made Pasek Kardiwinata

ABSTRAK Persepsi adalah proses individu melakukan pengamatan melalui penginderaan terhadap objek tertentu yang kemudian diseleksi, diatur, serta diinterpretasikan untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti. Persepsi yang negatif dapat berpengaruh terhadap sikap dan penerimaan seseorang yang dapat memunculkan stigma dan diskriminasi. Tujuan penelitian ini mengetahui persepsi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan design penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional pada 102 responden yang dipilih secara non-probability sampling yaitu accidental sampling. Hasil univariat penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar mahasiswa FK Unud berada pada tingkat persepsi negatif yaitu sebesar 52,94%. Kemudian, variabel yang lebih besar proporsinya memiliki persepsi baik yaitu variabel jenis kelamin laki-laki, program studi kesehatan masyarakat, semester delapan, mahasiswa yang pernah berinteraksi dengan ODHA, mahasiswa yang pernah mengikuti organisasi terkait ODHA, dan mahasiswa yang memiliki status interaksi baik.  Didapatkan juga bahwa tingkatan semester dan intensitas interaksi memiliki hubungan yang signifikat dengan persepsi mahasiswa terhadap ODHA. Oleh karena itu, disarankan bahwa pihak Fakultas Kedokteran maupun Program Studi menyediakan program peningkatan pengetahuan mahasiswa FK tentang HIV/AIDS dengan cara mengintegrasikan ke acara-acara mahasiswa untuk dapat meningkatkan persepsi mahasiswa terhadap pasien khususnya ODHA. Kata Kunci: Persepsi, ODHA, Mahasiswa Fakultas Kedokteran.


2021 ◽  
Vol 33 (3) ◽  
pp. 156
Author(s):  
Afif Nurul Hidayati ◽  
Citra Dwi Harningtyas ◽  
Damayanti Damayanti ◽  
Maylita Sari ◽  
Linda Astari ◽  
...  

Background: The main target of human immunodeficiency virus (HIV) is cluster of differentiation 4 (CD4) T lymphocytes and several other immune cells that have CD4 receptors. They are also present in skin and mucosa, such as Langerhans cells (LC). Mucocutaneous lesions are one of the first clinical presentations of immunosuppression in HIV seropositive patients that manifest at different stages of the infection and require early diagnosis and prompt treatment. Purpose: To determine the clinical characteristics and the pattern of various mucocutaneous manifestations in Human immunodeficiency virus/Acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) patients at Intermediate Care and Infectious Diseases Dr. Soetomo General Academic Hospital Surabaya. Methods: This is a descriptive retrospective study with a cross-sectional design. The study subject was classified as all HIV-AIDS patients with mucocutaneous manifestations treated in Intermediate Care and Infectious Diseases Dr. Soetomo General Academic Hospital Surabaya in 2019. Result: Out of the 614 patients who participated in the study, 72.1% were males. The majority of patients were in the age group 25–49 years (75.4%). The most common risk factor was heterosexuality (41.7%). Based on the distribution of mucocutaneous manifestations, the most common mucocutaneous manifestation was candidiasis mucocutan 387 patients (49.4%) followed by the pruritic papular eruption (PPE) 118 patients (15.1%) and human papillomavirus infection 57 patients (7.3%). Conclusion: Mucocutaneous manifestations occur throughout the course of HIV infection, and they can be considered as good clinical indicators for the progression of the disease and underlying immune status in resource-poor settings.


2019 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 97
Author(s):  
Valentina Meta Srikartika ◽  
Difa Intannia ◽  
Restu Aulia

ABSTRAK             Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tatalaksana terapi HIV/AIDS adalah dengan pemberian antiretroviral (ARV) seumur hidup sehingga kepatuhan mengkonsumsi obat merupakan faktor penting untuk keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi  kepatuhan pasien HIV/AIDS alasan pasien tidak patuh mengkonsumsi obat. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara faktor keyakinan, faktor dukungan sosial, faktor pendidikan, efek samping obat yang dialami pasien dengan kepatuhan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Penelitian dilakukan di poliklinik VCT RS Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Kepatuhan pasien diukur dengan menggunakan kuesioner MMAS-8 dan faktor kepatuhan diukur dengan kuesioner ACTG. Hasil analisis kepatuhan pada penelitian menunjukkan bahwa 32 (51,6%) pasien memiliki nilai kepatuhan yang tinggi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pasien memiliki keyakinan yang tinggi sebanyak 34 pasien (54,8%), pasien memiliki dukungan sosial yang tinggi sebanyak 45 pasien (72,6%), pasien yang tidak merasakan efek samping sebanyak 33 pasien (53,2%), dan alasan pasien lupa mengkonsumsi obat tertinggi adalah pasien merasa keadaan yang dialaminya baik-baik saja sebanyak 14 orang (46,6%). Terdapat korelasi yang signifikan antara kepatuhan dengan efek samping obat (p=0,002, r= -0.326). Kata kunci: kepatuhan, faktor yang mempengaruhi kepatuhan, MMAS-8, ACTG, HIV/AIDS     ABSTRACT Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) is a set of illness symptoms, which is caused by Human Immunodeficiency Virus (HIV). As the HIV/AIDS therapy has to be consumed over a lifetime for the patients, the compliance on taking antiretroviral (ARV) medications is essential. This study aims to evaluate the compliance of HIV/AIDS outpatients and the reasons of patients incompliance. This study also examine the correlation between the beliefs, social support, education, and adverse medication events factors with ARV medication’s incompliance. The study design was cross sectional study design. The research was done in policlinic of VCT Dr. H.MOCH.SALEH hospital, Banjarmasin. The incompliance was obtained by having the ACTG questioners. The results of the compliance analysis in this study was 32 (51,6%) patients have a high compliance score. The result also showed that 34 patients (54.8%) had great belief, 45 patients (72.6%) had great social support and 33 patients (53.2%) did not get the drug side effects. Furthermore, the reason not to comply with the medicine was due to their conditions which were considered fine without medication (34 patients (37.4%)). The correlation between compliance and the drug side effects was significance (p=0,002, r= -0.326) Keywords: compliance, affected factors compliance, MMAS-8, ACTG, HIV/AIDS


2020 ◽  
Author(s):  
VISIA LUH GITA

Human immunodeficiency virus (HIV) dan Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan salah satu sorotan dalam pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs). Ibu hamil dengan HIV akan berisiko menularkan kepada bayinya. Tes HIV merupakan gerbang pembuka status HIV yang sangat penting dilakukan pada ibu hamil. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa ibu hamil banyak yang tidak melakukan test HIV/AIDS pada masa kehamilannya , ini tentunya merupakan tantangan terberat bagi pemerintah khususnya petugas kesehatan, untuk itu perlu adanya kerjasama yang baik anatara pemerintah, petugas kesehatan dan lintas sektor terkait dalam pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs).


2018 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
Author(s):  
Fahruddin Kurdi

Pekerja Seks Komersial (PSK) merupakan kelompok yang sangat beresiko tertular dan menularkan HIV/AIDS. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi hambatan pencegahan penularan HIV/AIDS oleh PSK di Lokalisasi Klubuk Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian ini adalah Pekerja Seks Komersial di Lokalisasi Klubuk Kabupaten Jombang pada tahun 2016, dengan kriteria telah bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial selama minimal 1 (satu) tahun di Lokalisasi. Jumlah partisipan yang diambil adalah 5 (lima) PSK yang berumur 19-38 tahun pada saat pengambilan data dari 130 (seratus tiga puluh) orang Pekerja Seks di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pekerja Seks Komersial mengakui bahwa mereka paham bahwa pemakaian kondom dapat mencegah penularan, tetapi ketika beraktivitas seksual kondom tidak selalu mereka gunakan. Kekerasan fisik dan psikologis kadang mereka dapatkan. Bargaining power mereka masih lemah dalam negosiasi pemakaian kondom dengan pelanggannya. Dukungan dalam upaya pencegahan HIV/AIDS mereka dapat dari kelompok sebaya dan petugas. Perlu kerjasama lintas sektoral dan dinas terkait untuk memberikan intervensi pada komunitas Pekerja Seks Komersial ini sehingga peningkatan kasus HIV/AIDS di Jombang dapat ditekan.


2019 ◽  
Vol 9 (1) ◽  
pp. 59
Author(s):  
Rahmah Fitrianingsih ◽  
Yulia Irvani Dewi ◽  
Rismadefi Woferst

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus yang mudah menular dan mematikan juga merusak sistem kekebalan tubuh.Kelompok yang rentan adalah IRT. Hal ini disebabkan perilaku pencegahan yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk  menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS dengan desain penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 100 orang responden yang diambil berdasarkan kriteria inklusi menggunakan teknik cluster sampling.Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reabilitas. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan analisa bivariat menggunakan uji Chi Square untuk variabel faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS. Hasil penelitian analisis univariat menunjukkan mayoritas IRT berada dalam rentang usia 26-35 tahun (37%), beragama Islam (94%), pekerjaan wiraswasta (46%), istri yang tidak melakukan pemeriksaan HIV/AIDS (88%), dan suami yang tidak melakukan pemeriksaan HIV/AIDS (95%). Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan pengetahuan (p value 0.023) dan pendidikan ( p value 0.004) terhadap perilaku pencegahan. Variabel yang tidak berhubungan adalah sikap (p value 0.199), ekonomi (p value 0.641) dan lama menikah (p value 0.275) terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan IRT lebih peduli terhadap kesehatannya dengan melakukan upaya pencegahan HIV/AIDS.


Author(s):  
Christian W. McMillen

HIV/AIDS had been percolating in central Africa since the early twentieth century, but it appeared in its now recognizable form in the spring of 1981. Doctors in America spotted a strange increase in rare infections and Kaposi’s sarcoma, especially in sexually active gay men. In 1982, it was named acquired immune deficiency syndrome (AIDS). ‘HIV/AIDS’ explains that soon afterward the virus was identified as the human immunodeficiency virus (HIV), a complex retrovirus with several different identities. HIV makes its way into the body via infected fluids and can affect all members of society. There is no vaccine, but HIV/AIDS is now treatable, although access to drugs is uneven.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document