Sriwijaya Bioscientia
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

15
(FIVE YEARS 5)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Biology Department, Faculty Of Mathematics And Natural Sciences, Sriwijaya University

2722-0680

2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 29-34
Author(s):  
Ratna Claudya Naomi Hutagalung ◽  
Christina Nugroho Ekowati ◽  
Salman Farisi ◽  
Sumardi Sumardi ◽  
Achmad Arifiyanto

Actinomycetes dengan kode isolat RH dan AF diisolasi dari tanah mangrove Hanura, Lampung Timur dan tanah rizosfer Sidoarjo. Kedua isolat diidentifikasi secara mikroskopis dan makroskopis. Isolat diseleksi berdasarkan aktivitas antibakteri, uji tantang terhadap Vibrio sp., dan didukung dengan uji patogenitas untuk mengetahui sifat patogen dari isolat tersebut.  Zat antibakteri dari isolat diperoleh melalui ekstraksi dengan pelarut metanol dan etil asetat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat RH dan AF mampu menghambat pertumbuhan Vibrio sp. resisten antibiotik. Pada uji tantang terhadap Vibrio sp. resisten antibiotik terbentuk zona jernih diantara kedua isolat yang menunjukkan bahwa isolat RH memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan Vibrio sp. resisten antibiotik. Pada uji patogenitas kedua isolat Actinomycetes RH tidak menunjukan kemampuan hemolisis apapun yang dibuktikan dengan tidak terbentuknya zona jernih pada medium agar darah, namun pada isolat AF menunjukan kemampuan β-hemolisis yang dibuktikan dengan terbentuknya zona jernih pada medium agar darah.



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 23-28
Author(s):  
Fitria Noor Rahmawati ◽  
Harmida Harmida ◽  
Nita Aminasih

Masyarakat suku Rawas yang bermukim di Desa Jajaran Baru I, Kecamatan Megang Sakti Kabupaten MusiRawas, telah menggunakan berbagai jenis Zingiberaceae sebagai bahan obat tradisional. Namun dalam hal ini data tersebut belum terdokumentasi dengan baik dan jelas, untuk perlu diketahui jenis apa sajakah dari Zingiberaceae tersebut yang digunakan untuk pengobatan  oleh masyarakat suku Rawas tersebut. .Untuk itu telah dilakukan penelitian pada bulan  November 2019 sampai Februari 2020,  dengan tujuan  untuk mengetahui jenis tumbuhan  Zingiberaceae yang berkhasiat obat  dan bagaimana cara pemanfaatannya pada suku Rawas. Metoda yang digunakan adalah survey deskriptif,dengan melakukan tehnik observasi dan tanyajawab kepada batra (dukun). Pada penelitian ini didapatkan 9 jenis tumbuhan Zingiberaceae, yaitu : Spesies tumbuhan obat Zingiberaceae:urcuma xanthorrhiza Roxb.,  Kaempferia galanga L.,  Curcuma domestica Val., Alpinia galangal L. , Zingiber offchinale Rosc.,                                       C. zedoaria (Berg.) Roscoe, Curcuma aeruginosa Roxb., Zingiber zerumbet (L.) Smith.,  Zingiber purpureum Roxb. Tumbuhan obat ini digunakan untuk menyembuhkan batuk, demam meriang, jamu setelah melahirkan, masuk angin, menghilangkan bau amis pada ASI , penambah nafsu makan, sakit kepala dan sakit gigi, keseleo, dan kolesterol. Penggunaan tumbuhan ini biasanya bisa secara tunggal, atau dicampur dengan jenis jahe-jehean lain dan dapat juga dengan bahan tambahan lain, seperti beras, gula merah dan kapur sirih.



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 1-7
Author(s):  
Rahma Dila ◽  
Nina Tanzerina ◽  
Nita Aminasih

Pandanus  merupakan  salah  satu tumbuhan  yang  dapat hidup  di  daerah rawa. Pandan wangi memiliki  dua bentuk pertumbuhan yang jelas berbeda yakni bentuk pertumbuhan kecil  dan bentuk  pertumbuhan  besar. Penelitian  dilaksanakan pada bulan  Januari 2019 hingga Februari 2020. Penelitian  ini  menggunakan  metode deskriptif  yaitu  metode yang  menguraikan hasil pengamatan secara kualitatif. Pembuatan preparat dengan metode Parafin dan Whole mount. Hasil  penelitian  morfologi  diketahui  habitus  pandan  wangi besar termasuk perdu dengan  tinggi batang 106-299 cm,  terbentuk 3 spirostik. Batang  condong ke atas, daun  berbentuk pita duduk memeluk  batang,  terdapat duri  berwarna putih  pada  tepi  dan  tulang  daun  permukaan  bawah, memiliki  akar  tunjang yang besar. Hasil  penelitian  anatomi diketahui  pada sayatan paradermal, stomata dan kristal tersebar di epidermis atas daun, sedangkan pada epidermis bawah daun stomata dan papila tersusun dalam satu baris. Berkas pembuluh, serat dan kristal rafida dan drus tersebar di stele akar tunjang.



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 15-22
Author(s):  
Doni Setiawan ◽  
Ina Aprillia ◽  
Guntur Pragustiandi ◽  
Rio Firman Saputra ◽  
Winda Indriati ◽  
...  

Kupu-kupu memiliki peran ekologis yang cukup penting dalam menjaga keseimbangan eksosistem yaitu  sebagai bagian dari rantai makanan dan penyerbuk tumbuhan berbunga sehingga perlu untuk dijaga kelestariannya. Kawasan Taman Patih Galung Kota Prabumulih yang merupakan kawasan ruang terbuka hijau yang sering digunakan sebagai arena rekreasi oleh masyarakat setempat namun pengelolaannya belum optimal  oleh karena  itu sebagai wujud kepedulian terhadap perlindungan keanekaragaman hayati maka Pihak PT. Perta Samtan Gas melakukan pengelolaan kawasan dan kajian melalui penelitian yang bertujuan untuk mengetahui  keanekaragaman dan komposisi jenis kupu-kupu di dalam kawasan Taman Patih Galung apakah terjadi peningkatan atau penurunan sejak tahun 2018. Penelitian ini  telah dilaksanakan pada bulan oktober 2019 sampai dengan bulan maret 2020. penelitian ini menggunakan metode jelajah dan kupu-kupu di koleksi dengan menggunakan teknik sweeping net. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 372 individu yang terdiri dari  54 jenis kupu-kupu termasuk ke dalam 5 famili yaitu Nymphalidae, Papilionidae, Pieridae, Lycaenidae dan Hesperiidae. Presentase kupu-kupu terbanyak yaitu dari famili Nymphalidae dengan 78%, dan paling sedikit dari famili Hesperiidae dengan  5%. Terdapat peningkatan jumlah spesies dari tahun ke tahun dengan jumlah yang cukup signifikan   sejak 2018 sampai 2020 terdapat penambahan 33 jenis, dan terjadi peningkatan nilai indeks keanekaragaman yang tinggi setiap tahunnya H’>3 (H’ = 3,33 sampai dengan 3,60) artinya keberadaan populasi kupu-kupu di kawasan Taman Patih Galung sudah mencapai kestabilan komunitas yang stabil  sehingga kawasan tersebut masih dapat  mendukung kehidupan kupu-kupu didalamnya.



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 8-14
Author(s):  
Rika Aulina N ◽  
Nina Tanzerina ◽  
Sri Pertiwi Estuningsih ◽  
Singgih Tri Wardana ◽  
Juswardi Juswardi
Keyword(s):  

Air asam tambang (AAT) menjadi masalah sebagai pencemaran lingkungan dari penambangan cara tambang terbuka. Pengolahan air asam tambang yang ramah lingkungan diantaranya melalui fitoremediasi. Fitoremediasi menggunakan petai air (Neptunia olearacea Lour.) telah diteliti dengan tujuan mempelajari respons pertumbuhan N. olearacea pada fitoremediasi AAT batubara yang selanjutnya dikembangkan sebagai model in situ pengolahan AAT pada lahan basah buatan (constructed wetlands). Hasil penelitian menunjukkan N. olearacea masih mampu tumbuh pada fitoremediasi AAT konsentrasi 100%, pH 2,69 dengan laju pertumbuhan relatif (LPR) 0,0091 g/hari, dengan potensi meningkatkan pH 0,0322/hari. Respons pertumbuhan N. oleracea pada fitoremediasi AAT batubara perlu diteliti tentang respons anatomi dan fisiologi sebelum diujikan sebagai vegetasi pada lahan basah buatan.



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 48-56
Author(s):  
Gathot Winarso ◽  
Muhammad Kamal ◽  
Mohammad Syamsu Rosid ◽  
Wikanti Asriningrum ◽  
Jatna Supriatna

The mangrove area of the world has been decreasing and Indonesia has lost 1.6 million ha of mangrove during the period 1980-2005. In 2015 the status of Indonesia's mangroves was 3.5 million ha with 48% in good condition and 52% in degraded conditions. Therefore, mangrove forests should be conserved properly and utilized sustainably. Assessment of the status of mangrove conditions is essential in conservation planning and management so that it can be done better. However, the method for assessing the condition of mangrove forests is still diverse and has not been standardized, so a literature review and review of how to assess the condition of mangrove ecosystems from various literature needs to be done. The results of the study of various literatures, in general there are two types of assessments. The first assessment used canopy density indicators, tree density, structure and composition of vegetation including diversity index and environmental parameters which are used singly or a combination of some or all parameters and some that be correlated with ecological integrity. For the second assessment, using a comparison between the existing mangrove forest and the potential area to be overgrown with mangroves. There is a difference when assessing the potential area, there is the opinion of the area potentially seen by the status of the area whether or not the forest area, from the landsystem, the level of abrasion, pond area and the comparison of the coastline length overgrown with mangrove with a total coastline length. Both assessments with each indicator can be used in accordance with the objectives of the assessment of the condition.



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 57-65
Author(s):  
Laila Sri Pujihastuti ◽  
◽  
Nina Tanzerina ◽  
Nita Aminasih

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional telah banyak diketahui sejak lama oleh masyarakat terutama Suku Anak Dalam yang ada di Desa Sungai Jernih Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan obat, mengetahui famili dan habitus, jenis-jenis penyakit, organ tumbuhan yang digunakan, cara pengolahan dan cara penggunaan tumbuhan yang digunakan oleh etnis Suku Anak Dalam sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Metode yang dilakukan menggunakan metode survei deskriptif dengan melakukan wawancara kepada 3 orang narasumber yang merupakan pengobat tradisional (batra) untuk membantu proses pengumpulan data di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan tumbuhan yang dijadikan sebagai obat oleh masyarakat Suku Anak Dalam didapatkan sebanyak 93 jenis tumbuhan dengan 48 famili dan famili terbesar adalah Fabaceae dan Piperaceae masing-masing (6,45%) dan mampu mengobati sebanyak 47 macam jenis penyakit dengan 116 ramuan obat. Habitus tumbuhan terbesar adalah perdu (32,25%) dan sebanyak (60,21%) tumbuhan obat tumbuh secara liar baik yang tumbuh liar didalam hutan dan tumbuh liar dipekarangan rumah. Bagian organ tumbuhan yang digunakan paling banyak adalah daun (59,13%), cara pengolahan terbesar yakni dengan cara direbus (67,74%) dan cara penggunaan terbesar adalah dengan diminum (61,29%).



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 35-38
Author(s):  
Rika Nasution ◽  
Singgih Tri Wardana ◽  
Nina Tanzerina ◽  
Sri Pertiwi Estuningsih ◽  
Juswardi Juswardi

Environmental problems in coal mining activities include acid mine drainage (AMD). Efforts to overcome the impact of AMD waste can be done by means of phytoremediation. Neptunia oleracea Lour. is one type of aquatic plant that has the potential to adapt and accumulate heavy metals. So it is necessary to do research with the aim of knowing the potential of N. oleracea in AMD phytoremediation. The phytoremediation potential of N. oleracea used a completely randomized design (CRD): without AMD as control (0%), with AMD concentrations of 25%, 50%, 75% and 100%. The results showed that N. oleracea has the potential to increase pH by 0.0322/day and reduce Fe content by 0.4760 mg/l/day, Mn 0.5776 mg/l/day, sulfate 0.4809 mg/l/day and reduce TSS by 0.0818 mg/l/day, at 100% AMD concentration. It can be concluded that N. oleracea has potential as an AMD phytoremediation agent to be developed in system constructed wetlands (CWs).



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 44-47
Author(s):  
Azzikri Azzikri ◽  
Singgih Tri Wardana ◽  
Harmida Harmida

The Kerinci tribe is a traditional community that has long had close interactions with the living natural resources and its ecosystem. The lempur region is the oldest area in kerinci which is inhabited by native Kerinci tribes. Research on ethnobotany of medicinal plants in this region is still very small because there are still a number of villages that have not yet been explored and documented. Therefore, it is necessary to conduct a study to obtain data and information on the ethnobotany of medicinal plants in this region. The purpose of this study was to determine the diversity of medicinal plant species and how to use the Zingiberaceae medicinal plant by the Kerinci tribe in the Lempur region. The research method was carried out using descriptive method through field observations and interviews. Based on the research that has been done, there are 5 types of medicinal plants Solanaceae. The benefits of this plant can treat diseases such as, sore eyes, blood booster disease, hypertension, asthma, and stomach ache.  



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 39-43
Author(s):  
Doni Setiawan ◽  
Ina Aprilia ◽  
Guntur Pragustiandi ◽  
Winda Indrianti ◽  
Rio Firman Saputra

This study aims to inventory of the types on orchids found in the forest area of Tanjung Sakti Village, Tanjung Sakti Pumi District, Lahat Regency. This research was motivated by the first plan of conservation efforts by introducing several types of orchids found to the Semambu Edu-land area for conservation. This study used an exploratory method, while data collection was carried out by method of explore as far as 3 km following the path of forest areas and river flow. The results of this study found that 26 species of orchids are included in 21 genera consisting of orchids based on their habitus of 14 epiphytic orchids and 5 terrestrial orchids, and 2 orchids were found in both. Based on the IUCN Redlist category, it was found that one species of orchid whose conservation status was Endangered, namely Papiophedillum superbiens, and of the 26 species found from the initial research, 11 species of orchids were introduced in Semambu Edu-land, Pulau Semambu Village.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document