asean regional forum
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

100
(FIVE YEARS 4)

H-INDEX

14
(FIVE YEARS 0)

2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 205
Author(s):  
Nila Febri Wilujeng ◽  
Yoedhi Swastanto ◽  
Thomas Gabriel Joostensz

<p>Terrorism is a threat that not only jeopardizes a country's security, but also the survival of ASEAN as a regional organization, the security of peace and stability, and the region's overall economic possibilities. This research aimed to examine the implementation of Counter-terrorism (CT) cooperation in the ASEAN Regional Forum (ARF) from the perspective of Indonesia's defense diplomacy. The research method used was the qualitative method which is based on the combination of interviews and literature review regarding ASEAN’s or ARF’s Counter-terrorism cooperation and Indonesia’s defense diplomacy from the year 2015-2019. The findings showed that CT cooperation is less discussed in the mechanism of the ARF since the current focus of ARF is on Trafficking in Person (TIP) and threats of Chemical, Biological, Radiological, and Nuclear (CBRN). Meanwhile, from the perspective of defense diplomacy, Indonesia has successfully initiated ARF Statement on Preventing and Countering Terrorism and Violent Extremism Conducive to Terrorism (VECT) with Australia and New Zealand in 2019. However, it is undeniable that CT cooperation through the ARF mechanism remains difficult to achieve due to several obstacles, including the differences of national interests and legal framework, the principle of non-interference, and the existence of mutual distrust between participating countries.</p>



2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 254
Author(s):  
Dedy Obet ◽  
Suharto Suharto ◽  
Henri Mujoko

<div><p class="Els-history-head">The COVID-19 pandemic has a given significant impact on both economics and internet-based digital services in Southeast Asia. It also applied to cross-border nontraditional security issues such as cyber-attacks that evolve continuously. The complexity of prevention acts towards cyber threats in Southeast Asia is quite complicated. Therefore, the ASEAN countries should form strong cooperation due to many anonymous and impromptu attacks. This research aims to analyze cyber cooperation within the ASEAN framework. The method applied in this article is the qualitative method, by accumulating data through earlier literature and studies. The outcome of this analysis shows the mechanism to perform cyber cooperation is through the ASEAN regional forum known as ARF (ASEAN Regional Forum) as the organizer of ASEAN countries' interactions in eliminating cyber-attacks. This research gives conclusions that the proposed mechanism should be flexible, multi-dimensional, and taking accounts from the economics point of view. </p></div>



2021 ◽  
Vol 9 (1) ◽  
Author(s):  
I Gusti Bagus Dharma Agastia

How does ASEAN fare in addressing maritime security problems? This paper examines the shifting character of maritime security cooperation in Southeast Asia. In doing so, this paper looks at the outcomes of three maritime security-oriented fora that exist within the ASEAN regional framework: the ASEAN Regional Forum, the ASEAN Defence Ministers’ Meeting, and the ASEAN Maritime Forum. By compiling and analysing data on the forms and frequency of existing cooperative activities from 2003 gathered from publicly available sources, this paper finds that maritime security cooperation among ASEAN members continue to be largely dialogue-based, with few instances of practical cooperation. By comparing the three fora, this paper argues that the organisational design of these forums tends to affect the forms of cooperation. This paper concludes that despite ASEAN showing progress in adopting practical security cooperation, there remain hurdles in achieving regional maritime security.



2021 ◽  
Author(s):  
Yanti Lewerissa ◽  
Flora. Kalalo ◽  
Lusy. Gerungan ◽  
Herlyanty. Bawole


Global Mind ◽  
2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 1-15
Author(s):  
Henike Primawanti ◽  
Sidik Pangestu

ABSTRAK Teknologi merupakan sebuah anugerah tetapi juga merupakan sebuah ancaman yang nyata. Dunia maya  dan teknologi internet misalnya, dunia maya maupun internet yang mampu menghubungkan jutaan orang, telah diakui sangat berguna dan mendukung hampir setiap bidang kehidupan. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Indonesia dalam berdiplomasi demi meningkatkan keamanan siber melalui ASEAN regional Forum. Penelitian ini menjelaskan latar belakang negara indonesia ikut serta dalam ASEAN Regional Forum serta seperti apa diplomasi yang dilakukan oleh negara Indonesia dalam upaya meningkatkan keamanan siber negara.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alasan yang melatarbelakangi Indonesia dalam ASEAN regional Forum adalah karena keadaan Cybersecurity  indonesia yang masih memiliki banyak celah, kepentingan nasional  berupa kebutuhan keamanan yang bersifat mutlak dan ancaman-ancaman yang berasal dari ruang siber. Dalam melakukan diplomasi di ASEAN Regional Forum, Indonesia mengusulkan  empat poin khusus yaitu adanya kontak poin, dibentuknya study group untuk perumusan kurikulum dalam peningkatan capacity building, transisi penggunaan Internet Protocol version 4 (IPv4) ke IPv6, pembentukan badan atau lembaga khusus terkait cyber di negara masing-masing.Indonesia menginisiasi negara-negara ASEAN untuk menjalankan usulan tersebut. Dua poin diantaranya berhasil di terima dan dituangkan dalam  ASEAN Regional Forum Work Plan on Security of and in The Use of Information and Communications Technologies (Ict’s). Dalam upaya pembangunan dan peningkatan keamanan siber diperlukan adanya keselarasan antara hukum, teknis dan tindakan prosedural, struktur organisasi, capacity building, dan kerja sama internasional.  Kata Kunci: Cybersecurity, Cyber Crime, ASEAN Regional Forum, Diplomasi



2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 22-31
Author(s):  
Aloysius Efraim Leonard

ASEAN oleh banyak pihak telah dianggap sebagai salah satu dari organisasi regional di dunia yang dapat mempertahankan stabilitas dan keamanan wilayahnya dengan menggunakan nilai – nilai Asia mereka, yang dikenal oleh banyak orang sebagai ‘The ASEAN Way’. Dengan menggunakan konsep pembentukan komunitas keamanan oleh Adler dan Barnett, tulisan ini menjelaskan bagaimanakah peran the ASEAN Way dapat membentuk komunitas kemanan Asia – Pasifik, ASEAN Regional Forum (ARF). Proses pembentukan komunitas keamanan dibagi menjadi tiga: adanya faktor internal dan eksternal; kekuatan dan kesamaan persepsi serta hubungan yang terus berlanjut; dan rasa percaya serta identitas bersama. Dalam pembentukannya, ARF didasari oleh keinginan ASEAN untuk menjaga stabilitas di Asia – Pasifik setelah Perang Dingin dan juga mempromosikan nilai – nilai ASEAN ke cakupan yang lebih luas. Kemudian, the ASEAN Way juga sangat berperan sebagai soft power dan persepsi yang menjadi dasar hubungan antarpartisipan ARF. Sehingga, sebuah rasa saling percaya dapat dimiliki oleh partisipan ARF dan juga ARF memiliki identitas bersama yaitu sebagai komunitas keamanan Asia-Pasifik beranggotakan negara besar dan kecil yang membawa prinsip – prinsip the ASEAN Way



2020 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 305-321
Author(s):  
Nurliwedie Nurdin Kanan ◽  
Rira Nuradhawati
Keyword(s):  

Dewasa ini, kerjasama keamanan bilateral dianggap tidak cukup untuk menangani peningkatan interdependensi regional dan lingkup ketidakpastian keamanan di Asia tenggara. Hal ini membawa pada terciptanya proposal promosi multirateral. Pada akhirnya ASEAN memutuskan untuk membentuk ARF (ASEAN Regional Forum) sebagai bentuk multirateralisasi dikarenakan beberapa motivasi seperti, regional mengalami perubahan lingkungan yang akan menekan negara-negara ASEAN untuk mempertanyakan keamanan regionalnya. Oleh karena itu dibutuhkan suatu kerjasama multirateral di dalam asosiasi untuk menangani masalah keamanan. Motivasi lain yang menguatkan ASEAN membentuk ARF adalah keinginan anggotanya untuk lepas dari ikatan ketergantungan terhadap Cina, Jepang, dan Amerika. Demikian juga dengan terbentuknya ASC tidak dimaksudkan untuk menggagas suatu pakta pertahanan atau aliansi militer seperti NATO. ASC dibentuk dengan tujuan untuk memperkuat kapasitas nasional dan regional guna memberantas terorisme dan kejahatan lintas batas lainnya. Berkaitan dengan hal tersebut, dewasa ini, kerjasama keamanan bilateral dianggap tidak cukup untuk menangani peningkatan interdependensi regional dan lingkup ketidakpastian keamanan di Asia tenggara. Hal ini membawa pada terciptanya proposal promosi multirateral. Pada akhirnya ASEAN memutuskan untuk membentuk ARF (ASEAN Regional Forum) sebagai bentuk multirateralisasi dikarenakan beberapa motivasi seperti, regional mengalami perubahan lingkungan yang akan menekan negara-negara ASEAN untuk mempertanyakan keamanan regionalnya. Kata Kunci : kerjasama, keamanan, bilateral, ASEAN



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document