EKSPLORIUM
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

92
(FIVE YEARS 50)

H-INDEX

2
(FIVE YEARS 1)

Published By National Atomic Energy Agency Of Indonesia (Batan)

2503-426x, 0854-1418

EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 111
Author(s):  
Priyobudi Priyobudi ◽  
Mohamad Ramdhan

ABSTRAK. Keberadaan sesar aktif dengan pola sesar naik di daerah Plampang berhasil diungkap dari sebaran hiposenter terelokasi, hasil inversi momen tensor, dan pemodelan perubahan tegangan Coulomb. Studi ini juga berhasil mengungkap sumber gempa pada sesar aktif tersebut dengan kedalaman relatif dangkal yang bisa menjadi ancaman di Pulau Sumbawa jika magnitudo maksimumnya rilis di masa yang akan datang. Hasil relokasi hiposenter menunjukkan sebaran episenter berarah barat daya–timur laut. Hal ini didukung juga oleh hasil inversi momen tensor yang menunjukkan bidang sesar berarah barat daya–timur laut (N2240E) dengan dip cukup curam (490). Penampang seismisitas vertikal pada arah dip menunjukkan adanya pola sesar naik yang semakin landai seiring bertambahnya kedalaman. Bidang sesar yang landai menunjukkan struktur decollement pada kedalaman 10–15 km dan berangsur menjadi curam sebagai struktur splay fault pada kedalaman 0–10 km. Hal tersebut konsisten dengan hasil inversi momen tensor yang menunjukkan mekanisme pergerakan sesar naik terjadi pada kedalaman 7 km. Pemodelan perubahan tegangan Coulomb menunjukkan adanya penambahan stress di luar area bidang sesar sehingga memicu terjadinya aftershocks. Sebaran gempa susulan menunjukkan adanya bidang sesar hipotetik dengan panjang 19 km dan lebar 12 km. Sesar sebesar ini berpotensi membangkitkan gempa dengan kekuatan Mw 6,4. Gempa Sumbawa 13 Juni 2020 dengan magnitudo M 5,3 disebabkan oleh sebagian kecil aktivitas dari bidang sesar tersebut.ABSTRACT. The existence of an active fault with a reverse fault mechanism in the Plampang area is successfully delineated from the distribution of the relocated hypocenter, the moment tensor inversion, and the Coulomb stress changes. This study also reveals the source of the earthquake in the active fault with a relatively shallow depth which can be a threat on Sumbawa Island if the maximum magnitude is released in the future. Seismicity from hypocenter relocation shows the distribution of the epicenter with a southwest–northeast direction. It is also supported by the moment tensor inversion result which shows the fault plane trending southwest–northeast (N2240E) with a steep dip (490). The vertical section of seismicity in the dip direction shows that the slope of the plane has a lower angle with increasing depth. The lower angle of a fault plane shows a decollement structure at a depth of 10–15 km and gradually becomes steep as a splay fault structure at a depth of 0–10 km. It is consistent with the result of moment tensor inversion which shows the mechanism of a reverse fault that occurred at a depth of 7 km. The Coulomb stress changes show the stress increasing outside the fault plane area, which triggers aftershocks. The distribution of aftershocks shows a hypothetical fault plane of 19 km long and 12 km wide. A fault of this size has the potential to generate an earthquake with a magnitude maximum of Mw 6.4. The Sumbawa earthquake on June 13, 2020, having M 5.3 was caused by a small part of the activity from the fault.


EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 99
Author(s):  
Adi Gunawan Muhammad ◽  
Rachman Fauzi ◽  
Adhika Junara Karunianto ◽  
Wira Cakrabuana ◽  
Widodo Widodo

ABSTRAK. Evaluasi tapak merupakan tahap penting dalam penentuan lokasi calon tapak PLTN skala komersial di Indonesia. Aspek–aspek yang dikaji dalam evaluasi tapak berdasarkan peraturan yang berlaku antara lain aspek geoteknik dan aspek dispersi zat radioaktif. Untuk mendukung kajian aspek tersebut maka perlu adanya kajian karakterisasi hidrogeologi daerah sekitar tapak. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik hidrogeologi daerah sekitar tapak PLTN di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan aspek geologi dan geofisika. Metode yang dilakukan adalah pemetaan geomorfologi, pemetaan geologi, pemetaan hidrogeologi, pengukuran geolistrik, serta analisis terpadu. Secara morfologi, daerah penyelidikan dibagi menjadi tiga satuan, yaitu dataran aluvial, bukit terisolasi, dan dataran pantai. Secara stratigrafi, satuan batuan yang ditemukan berurutan dari tua ke muda adalah andesit, granodiorit, diorit, endapan pasir kuarsa, endapan pantai, dan endapan aluvial. Pengukuran geofisika menggunakan metode geolistrik dilakukan pada 12 lintasan dengan masing-masing panjang lintasan 470 m dan spasi elektroda 10 m. Pada penampang geolistrik ditemukan beberapa anomali pada kompleks batuan beku yang mengalami frakturasi atau tubuh diorit yang menerobos satuan andesit. Nilai anomali ini berkisar antara 300 Ωm dan >8000 Ωm. Nilai resistivitas yang sangat rendah (<30 Ωm) diinterpretasikan sebagai endapan aluvial yang jenuh air dengan ketebalan mencapai ±100 m. Daerah penelitian dapat dibagi menjadi tiga satuan hidrogeologi; akuifer dengan aliran melalui ruang antarbutir kelulusan tinggi, akuifer dengan aliran melalui ruang antarbutir kelulusan sedang, dan akuifug setempat berarti. Secara umum pola aliran tanah bebas mengalir relatif dari SSW ke NNE.ABSTRACT. Site evaluation is an important phase of site selection for commercial-scale nuclear power plants (NPP) in Indonesia. Geotechnical and radioactive material dispersion aspects are some of the aspects which are assessed in site evaluation under provisions of laws and regulations. To support those aspect evaluations, it is necessary to conduct hydrogeological characterization in the vicinity of the NPP site. The purpose of this study is to determine the hydrogeological characteristic of the vicinity of the NPP site in Bengkayang Regency, West Kalimantan Province based on geological and geophysical aspects. The methods of this study consist of geomorphological mapping, geological mapping, hydrogeological mapping, geoelectric measurement, and integrated analysis. The study area consists of three morphological units: alluvial plain, isolated hills, and coastal plain. Stratigraphically, the lithology units of the study area, from the oldest to the youngest, consist of andesite, granodiorite, diorite, quartz sand deposits, coastal deposits, and alluvial deposits. The geophysical measurement used is the geoelectric method which is conducted at 12 electrode arrays with 470 m length and spacing of 10 m. In the geoelectrical section, it can be seen that several anomalies can be interpreted as the fractured body of igneous rocks or the diorite intrusion in andesite. These anomaly values are ranged from 300 Wm to >8000 Wm. The relatively low resistivity values (<30 Wm) are interpreted as water saturated-alluvial deposits that could have a thickness of ±100 m. There are three hydrogeological units in the study area: aquifers in which flow is intergranular with high permeability, aquifers in which flow is intergranular with moderate permeability, and aquifug of local importance. Generally, the groundwater in the study area flows from SSW to NNE.


EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 119
Author(s):  
Dwi Haryanto ◽  
Yoshi Rachael ◽  
Dhatu Kamajati ◽  
Gagah Hari Prasetyo ◽  
Heri Syaeful ◽  
...  

ABSTRAK. Pemerintah Indonesia dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017–2045, menetapkan beberapa bidang utama yang akan menjadi prioritas penelitian nasional, salah satunya adalah bidang energi. Dalam tema riset teknologi kelistrikan berbasis energi baru dan terbarukan rendah/nol karbon terdapat topik riset teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) skala komersial. Pada topik riset tersebut, ditetapkan bahwa dalam jangka waktu penelitian tahun 2020–2024, dihasilkan purwarupa PLTN. Pada penelitian ini, karakterisasi geoteknik tapak PLTN dilakukan dengan menggunakan metode seismik refraksi guna melengkapi data penelitian sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil perlapisan batuan bawah permukaan untuk estimasi pekerjaan terkait fondasi PLTN. Pemetaan geologi dan akuisisi data geofisika, pengolahan, serta interpretasi tanah/batuan berdasarkan parameter kecepatan gelombang kompresi (Vp). Hasil pemetaan geologi menunjukkan adanya 2 satuan batuan beku yaitu diorit kuarsa dan andesit. Hasil pengolahan dan interpretasi data seismik refraksi menghasilkan model penampang Vp pada lapisan batuan bawah permukaan. Terdapat 3 lapisan batuan di lokasi penelitian yaitu lapisan tanah (Vp = 361–715 m/s), lapisan batuan beku lapuk (Vp = 1.386–2.397 m/s), dan lapisan beku segar (Vp = 3.789–6.133 m/s). Perkiraan densitas batuan beku segar berdasarkan perhitungan adalah 2,43–2,74 g/cm3. Hasil pemodelan dapat menunjukkan kedalaman dan struktur bawah permukaan lapisan batuan beku segar yang dapat menjadi fondasi bangunan PLTN.ABSTRACT. Presidential Regulation (Perpres) number 38 of 2018 concerning the National Research Master Plan for 2017–2045, the Government of Indonesia establishes several main areas that will become national research priorities, one of which is the energy sector. In the research theme of electricity technology based on new and renewable low/zero carbon energy, there is the topic of research on commercial-scale Nuclear Power Plant (NPP) technology. On the research topic, it was determined that within the research period of 2020–2024, a prototype nuclear power plant would be produced. Research related to the geotechnical characterization of the nuclear power plant site using the seismic refraction method was carried out to complement the previous research data. The purpose of this study was to determine the subsurface rock layer profile for estimation of work related to nuclear power plant foundations. Geological mapping and geophysical data acquisition, processing, as well as soil/rock interpretation based on the compression wave velocity (Vp) parameter are carried out to achieve this goal. The results of geological mapping show that there are 2 igneous rock units, namely quartz diorite and andesite. The results of processing and interpreting seismic refraction data produced a cross-sectional model of Vp in the subsurface rock layers. There are 3 rock layers in the research location, namely soil layer (Vp = 361–715 m/s), weathered igneous rock layer (Vp = 1.386–2,396 m/s), and fresh igneous layer (Vp = 3.789–6.133 m/s). The estimated density of fresh igneous rock based on calculations is 2.43–2.74 g/cm3. The modeling results can show the depth and structure of the subsurface layer of fresh igneous rock that can be the foundation of nuclear power plants.


EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 141
Author(s):  
Novita Sari Fatihah ◽  
Mutia Anggraini ◽  
Afiq Azfar Pratama ◽  
Kurnia Setiawan Widana

ABSTRAK. Monasit merupakan mineral hasil samping pengolahan timah yang mengandung fosfat, logam tanah jarang, dan unsur radioaktif berupa uranium dan torium. Unsur-unsur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal jika terpisah satu dengan yang lainnya melalui proses pengolahan. Pengolahan monasit meliputi proses dekomposisi, pelarutan parsial, dan pengendapan. Pemisahan unsur logam tanah jarang dari unsur radioaktif dalam monasit dilakukan melalui proses pelarutan parsial, akan tetapi pemisahan tersebut belum optimal sehingga diperlukan proses lebih lanjut untuk meningkatkan perolehan unsur-unsur tersebut. Pada penelitian ini, proses tersebut dilakukan melalui dua metode yaitu pelarutan total dengan asam klorida (HCl) yang bertujuan untuk melarutkan semua unsur dalam endapan dan pengendapan dengan ammonium hidroksida (NH4OH) yang bertujuan untuk memisahkan unsur radioaktif dan unsur logam tanah jarang. Kedua metode tersebut dilakukan pada kondisi optimum proses dengan berbagai variasi pH, suhu, dan waktu. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa kelarutan optimum masing-masing unsur sebesar 67,6% uranium, 15,3% torium, dan 50,8% LTJ pada kondisi proses pelarutan pH 1, pada suhu 80°C selama 2 jam. Sedangkan pada proses pengendapan diperoleh recovery pengendapan masing-masing unsur sebesar 57% uranium, 75,7% torium, 4,8% logam tanah jarang pada kondisi pH 6. Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa uranium, torium, dan logam tanah jarang dapat larut pada kondisi proses pelarutan pH 1, suhu 80°C selama 2 jam, dan dapat dipisahkan pada kondisi pH pengendapan 6.ABSTRACT. Monazite is a by-product of tin processing containing phosphate, rare earth elements, and radioactive elements such as uranium and thorium. These elements can be utilized optimally if separated from one another through processing. Monazite processing includes decomposition, partial dissolution, and precipitation processes. The separation of rare earth elements from radioactive elements in monazite is carried out through a partial dissolution process, but the separation is not optimal so that further processes are needed to increase the recovery of these elements. In this study, the process was carried out using two methods, namely total dissolution with hydrochloric acid (HCl) which aims to dissolve all elements in the precipitate and precipitation with ammonium hydroxide (NH4OH) which aims to separate radioactive elements and rare earth elements. Both methods were carried out under optimum process conditions with various variations in pH, temperature, and time. Based on observations, it was found that the optimum solubility of each element was 67.6% uranium, 15.3% thorium and 50.8% LTJ under the dissolving process conditions of pH 1, at 80°C for 2 hours. While in the deposition process, the precipitation recovery of each element is 57% uranium, 75.7% thorium, 4.8% rare earth metals at pH 6 conditions. Based on these data, it can be concluded that uranium, thorium, and rare earth elements can be dissolved at pH 1, at 80°C for 2 hours, and can be separated at pH 6 precipitation conditions.


EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 91
Author(s):  
Muchamad Ocky Bayu Nugroho ◽  
Yody Rizkianto ◽  
Riyan Ranggas Yuditama ◽  
Akbar Ryan ◽  
Agam Maulana

EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 77
Author(s):  
Windi Anarta Draniswari ◽  
Fadiah Pratiwi ◽  
Ngadenin Ngadenin ◽  
I Gde Sukadana ◽  
Tyto Baskara Adimedha ◽  
...  

EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 131
Author(s):  
Rahmi Mulyasari ◽  
Suharno Suharno ◽  
Nandi Haerudin ◽  
Hesti Hesti ◽  
Ida Bagus Suananda Yogi ◽  
...  

ABSTRAK. Bandar Lampung merupakan wilayah perkotaan padat penduduk yang terdiri atas daratan dan perairan dengan beberapa dataran tinggi dan pegunungan yang terbentang di wilayah ini. Untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di sebuah kawasan kota diperlukan konsep penataan wilayah yang mempertimbangkan segala aspek, salah satunya adalah aspek potensi bencana. Salah satu bencana yang berpotensi terjadi di Bandar Lampung, khususnya di Kecamatan Panjang, adalah gerakan massa/longsoran. Berdasarkan penelitian sebelumnya, daerah ini terekam memiliki beberapa titik sejarah longsor tetapi belum ada mitigasi/penanggulangan yang diaplikasikan khusus untuk jenis bencana tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui susunan batuan yang berada pada zona rawan longsor Kecamatan Panjang menggunakan metode geolistrik resistivitas serta untuk mengetahui hasil penilaian keteknikan tanah yang diperoleh dari hasil analisis litologi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil analisis dua lintasan geolistrik mengindikasikan adanya tiga lapisan litologi pada daerah penelitian, yaitu sedimen tuf dengan nilai resistivitas dan kedalaman antara (1–40 Ωm; 0,4–4 m), zona kontak atau bidang gelincir (40–120 Ωm; 2–4 m), dan breksi padu dengan komponen batuan beku (> 120 Ωm; 2–22 m). Selanjutnya berdasarkan hasil analisis penilaian keteknikan tanah, sedimen tuf sebagai lapisan permukaan yang mengalami longsoran diidentifikasi memiliki sifat keteknikan litologi yang rentan karena telah mengalami oksidasi dan pelapukan yang cukup intensif. Data yang diperoleh ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai data dukung penataan wilayah berbasis potensi bencana.ABSTRACT. Bandar Lampung is a densely populated urban area consisting of land and water with several plateaus and mountains that stretch across this region. To support sustainable development in a city area, it is necessary to have a regional arrangement concept that considers all aspects, one of which is the potential disaster aspect. One of the potential disasters in Bandar Lampung, especially in Panjang District is a mass movement/landslide. Based on previous research, this area has been recorded as having several historical points of landslides, but there is no mitigation/response specifically for this type of disaster. The purpose of this study was to determine the arrangement of rocks that are in the landslide-prone zone in Panjang District using the geoelectric resistivity method and to analyze the soil engineering assessment obtained from the results of lithological analysis using X-Ray Diffraction (XRD). The results of the geoelectric analysis indicate that there are three lithological layers in the study area; namely tuff sediments with resistivity values and depths between (1–40 Ωm; 0.4–4 m), clay sand (40–120 Ωm; 2–4 m), and solid breccias with igneous rock components (>120 Ωm; 2–22 m). Furthermore, based on the results of the analysis of soil engineering assessments, tuff sediment as a surface layer that has experienced landslides has been identified as having susceptible lithological engineering properties because it has undergone quite intensive oxidation and weathering. The data obtained is expected to be used as supporting data for disaster potential-based regional planning.


EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 149
Author(s):  
Neneng Laksminingpuri Sanusi ◽  
Moch Faizal Ramadhani ◽  
Nurfadhlini Nurfadhlini ◽  
Lies Aisyah

ABSTRAK. Telah dilakukan penentuan komposisi bahan bakar nabati (BBN) dalam bahan bakar minyak campuran (BBMC) dengan metode direct counting C-14. Penentuan komposisi BBN dalam BBMC dilakukan dengan cara memipet 10 mL BBMC ke dalam vial gelas kemudian ditambahkan 10 mL larutan sintilator Ultima Gold F (UGF) ke dalamnya. Vial tersebut dikocok agar campuran menjadi homogen kemudian dicacah menggunakan LSC (Liquid Scintillation Counter) Elmer Perkin 2900TR selama 20 menit sebanyak 30 siklus. Hasil pencacahan ditampilkan dalam bentuk tSIE (transformed external standard spectrum) dan cpm (cacahan permenit). Hasil analisis memperlihatkan nilai cpm yang meningkat seiring kenaikan persentase BBN dalam BBMC. Nilai cpm terendah dan tertinggi untuk sampel bensin, avtur, dan solar berturut-turut adalah 14,2363 dan 62,0343, 10,664 dan 44,535, serta 9,410 dan 61,789. Terdapat korelasi kuat antara nilai tSIE dan nilai cpm pada bensin dan solar tapi tidak pada avtur. Hasil analisis terhadap sampel uji menunjukkan bahwa sampel tersebut berada di luar grafik deret sampel. Metode direct counting ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam uji mutu BBMC.ABSTRACT. The composition of biofuel (BF) in mixed oil fuel (MOF) has been determined using the C-14 direct counting method. Determination of the composition of BF in MOF was carried out by pipetting 10 mL of BBMC into a glass vial and then adding 10 mL of Ultima Gold F (UGF) scintillator solution into it. The vial was shaken so that the mixture became homogeneous and then counted using the Elmer Perkin 2900TR LSC (Liquid Scintillation Counter) for 20 minutes for 30 cycles. The results of the counting are displayed in the form of tSIE (transformed external standard spectrum) and cpm (counts per minute). The results of the analysis show that the value of cpm increases with the increase in the percentage of BF in MOF. The lowest and highest cpm values for gasoline, avtur, and diesel samples were 14.2363 and 62.0343, 10.664 and 44.535, and 9.410 and 61.789, respectively. There is a strong correlation between tSIE and cpm values for gasoline and diesel but not for avtur. The results of the analysis of the test sample indicate that the sample is outside the sample series graph. This direct counting method is expected to be a reference in the BBMC quality test.


EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (1) ◽  
pp. 39
Author(s):  
Eko Rudi Iswanto ◽  
Theo Alvin Riyanto ◽  
Hadi Suntoko

ABSTRAK Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan daerah dengan aktivitas kegempaan yang tinggi. Fenomena ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik sebagai akibat pertemuan Lempeng Eurasia-Australia (zona subduksi) di bagian selatan dan Sesar Flores di bagian utara serta adanya keberadaan sesar-sesar lokal. Terkait dengan rencana pengembangan kawasan Samota di Pulau Sumbawa, NTB, perlu dilakukan suatu kajian kegempaan. Tujuan penelitian ini adalah memetakan indeks kerentanan seismik (Kg) melalui pengukuran mikrotremor dengan analisis menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR). Hasil penelitian berupa peta kerentanan seismik daerah Plampang yang menunjukkan bahwa sisi utara lokasi penelitian memiliki indeks kerentanan seismik rendah yang ditandai dengan nilai amplifikasi kurang dari tiga jika dibandingkan daerah lainnya. Geologi sisi utara lokasi penelitian tersusun oleh batuan gunung api dengan karakteristik batuan keras, ketebalan sedimen sangat tipis, dan tersusun atas batuan Tersier atau lebih tua. Peta kerentanan seismik berguna sebagai acuan dalam mitigasi gempa bumi untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan. ABSTRACT Nusa Tenggara Barat (NTB) Province is an area with intense seismic activity. This phenomenon is caused by tectonic activity as the result of the convergency of the Eurasia-Australia Plates (subduction zone) in the south and the Flores Fault in the north as well as the presence of local faults. Regarding the plan to develop the Samota area in Sumbawa Island, NTB, a study concerning earthquakes should be done. The purpose of this study is to map the seismic vulnerability index (Kg) through microtremor measurement by using the Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) analysis method. The result of the study is a seismic vulnerability map of the Plampang area which its northern part has a low seismic vulnerability index indicated by the amplification factor value of less than three compared to other areas. The geology of the northern part of the Plampang area consists of volcanic rocks which has hard rock characteristic, very thin sediment thickness, and composed of Tertiary or older rocks. Seismic vulnerability maps can be useful as a reference for earthquake mitigation to reduce its risks.


EKSPLORIUM ◽  
2021 ◽  
Vol 42 (1) ◽  
pp. 47
Author(s):  
Huzaely Latief Sunan ◽  
Akhmad Khahlil Gibran ◽  
Maulana Rizki Aditama ◽  
Sachrul Iswahyudi ◽  
Fajar Rizki Widiatmoko ◽  
...  

ABSTRAK Keberadaan struktur geologi sering dikaitkan dengan bencana tanah longsor dan gempa bumi. Daerah Kalibening merupakan lokasi yang cukup menarik untuk dilakukan penelitian terkait hal tersebut. Daerah ini tersusun atas satuan batuan berumur Pleistosen dan Resen. Berdasarkan stratigrafinya, batuan tersebut terpotong oleh struktur sesar. Hal ini berarti menjadikan sesar di daerah tersebut termasuk dalam kategori sesar aktif. Morfologi yang tinggi dengan suatu cekungan di tengahnya mengindikasikan bahwa daerah tersebut pembentukannya dipengaruhi oleh sesar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola struktur geologi yang mengontrol daerah penelitian. Untuk menentukan pola struktur geologi, digunakan metode pemetaan struktur Fault Fracture Density (FFD) yang dikombinasikan dengan peta residual anomali Bouguer dan peta kelurusan hillshade. Secara umum, hal yang paling penting dalam mempelajari struktur geologi adalah geometri elemen struktur. Model konseptual struktur geologi selanjutnya digunakan untuk menganalisis potensi likuefaksi yang ada pada daerah penelitian. Interpretasi struktur menunjukkan adanya sesar mendatar dekstral yang diikuti sesar-sesar penyerta dan cekungan pull-apart yang diduga merupakan hasil pensesaran normal yang timbul dari mekanisme strike-slip. Sesar mendatar dekstral ini menghasilkan cekungan yang terisi oleh sedimen lepas yang rentan mengalami likuefaksi jika terjadi gempa bumi dan gerakan tanah. Kajian ini menyimpulkan bahwa daerah Kalibening rentan terjadi likuefaksi karena adanya pergerakan sesar mendatar dekstral, sedimen lepas yang mendominasi daerah penelitian, dan muka air tanah yang dangkal. ABSTRACT The existence of geological structures is often associated with landslides and earthquakes. The Kalibening area is an interesting location for research on that purpose. This area is composed of Pleistocene and Recent rocks units. Based on its stratigraphy, the rocks in the area are truncated by fault structure. It means that the fault in the area is categorized as an active fault. The high morphology and a basin existence on its center indicate that the area formation was controlled by faults. The research is carried out to determine the trend of the geological structures that control the study area. To determine the trend of the geological structure, a structural mapping method of Fault Fracture Density (FFD) map combined with the Bouguer anomaly residual map and hillshade lineaments map is used. In general, the most important thing in the study of structural geology is the geometry of the structural elements. The conceptual model of geological structures is subsequently used to analyze the liquefaction potential of the study area. The interpretation of the structures shows the existence of dextral strike-slip fault followed by companion faults and pull-apart basin that is inferred as the result of normal faulting in the strike-slip mechanism. The dextral strike-slip fault produces a basin filled with loose sediment that is prone to liquefaction in the event of an earthquake and ground motion. This study concludes that the Kalibening area is prone to liquefaction due to the existence of the movement of dextral strike-slip fault, loose sediments that dominate the study area, and shallow groundwater table.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document