Madago Nursing Journal
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

15
(FIVE YEARS 7)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Poltekkes Kemenkes Palu

2746-9263, 2746-9271

2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 27-32
Author(s):  
Sinta Wijayanti

Chronic renal failure (CRF) is the final stage of failure of the nephrons to maintain their function due to the progressive destruction of nephrons which are irreversible and require renal therapy. One of the renal therapy is hemodialysis. Hemodialysis is a therapy used when the kidneys are unable to carry out their function to remove uremic toxins and talk about body electrolytes and have complications of hypertension. In hemodialysis patients, uncontrolled hypertension can increase the prevalence of cardiovascular disease so it is a very important factor in the prognosis of cardiovascular complications in chronic chronic failure patients with hypertension. Many non-pharmacological therapies that have been developed in the world of nursing include classical music therapy. The goal of this therapy is to identify and analyze the patient's blood pressure before and after being given classical music therapy. The design of this study used the applied research approach method once a day for 6 days. The number of samples taken was 10 samples that fit the inclusion criteria. The research instruments used were MP3 Player, Mozart classical music entitled Eline Kleine Nachtmusik, K. 525: I. Allegro, headphones, sphygnomanometer clock observation sheet, and stethoscope. The results of this study show that there is a change in pressure after being given classical music therapy because music can easily be accepted by the hearing organs and easily captured by the brain so that it makes a person more relaxed which causes blood vessels to dilate so that it can lower blood pressure. The conclusion of the results of this study is to present classical music therapy in lowering blood pressure, which is effective in lowering blood pressure.



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 22-26
Author(s):  
Madepan Mulia Madepan ◽  
Julita Sari ◽  
Dewi Damayanti

Introduction: Mental disorders are brain disorders characterized by disruption of emotions, thought processes, behavior and perceptions. Auditory hallucinations are hearing voices or noises in the form of less loud noises to clear words talking about the client, even to a complete conversation between two or more people where the client is told to do something that is sometimes dangerous. Useful Aim: This study aims to see the signs and symptoms of auditory hallucinations and the ability to overcome hallucinations in schizophrenic patients after being given psychoreligious therapy: dhikr in the Abung Kunang Community Health Center, North Lampung Regency. Research Methods: Using the method of giving nursing actions in the form of psychoreligious therapy: remembrance of 2 schizophrenic patients who experienced auditory hallucinations nursing problems. Reported in the form of case studies. Results: The results obtained were a decrease in signs and symptoms of hallucinations and an increase in the patient's ability to cope with hallucinations. Suggestion: Nurses are expected to provide the optimal application of psychoreligious therapy: dhikr to patients who have auditory hallucinations nursing problems.



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 9-14
Author(s):  
Amir Amir ◽  
Nirva Rantesigi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan, baik yang bersifat total atau sebagian. Fraktur yang bersifat total apabila seluruh tulang patah sedangkan fraktur yang bersifat sebagian tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. Akibat yang muncul pada pasien fraktur umumnya akan merasakan nyeri. Rasa nyeri bisa timbul hampir pada setiap area fraktur, bila tidak diatasi akan menimbulkan efek yang membahayakan. Sehingga perlu penanganan yang terus menerus untuk meminimalkan nyeri yang dialami oleh pasien. Intervensi yang dapat digunakan untuk menangani nyeri fraktur adalah aromaterapi lemon dan guided imagery. Untuk mengetahui pengaruh penerapan Aromaterapi Lemon dan Guided Imagery terhadap penurunan skala nyeri pada pasien dengan fraktur ekstremitas di RSUD Poso. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan Quasi-experimental dengan rancangan penelitian post test control group designe. Terdapat perbedaan rata-rata Skor nyeri sebelum dan setelah diberikan intervensi aromaterapi lemon & guided imagery dengan p-value 0,005. Penggunaan aromaterapi lemon dan guided imagery dapat dijadikan salah satu intervensi mandiri perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien  dengan masalah nyeri



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 15-21
Author(s):  
Arifuddin Arifuddin ◽  
Helena Pangaribuan
Keyword(s):  
T Test ◽  

Penelitian ini bertujuan mengidentiifikasi pengaruh terapi kelompok terapeutik terhadap peningkatan perkembangan psikososial dan emosi, hal ini dilakukan dengan melihat perubahan perkembangan psikososial sebelum dan sesudah dilakukan terapi kelompok terapeuti pada kelompok perlakuan serta menganalisis perbedaan perkembangan psikososisal emosi antara kelompok intervensi yang diberikan terapi kelompok terapeutik dan kelompok kontrolTerapi kelompok adalah suatu bentuk terapi dimana sekelompok klien bertemu secara bersama-sama dengan seorang terapis (Nevid, Rathus, & Greene, 2008). Terapi kelompok terapeutik adalah terapi yang fokus utamanya untuk mencegah gangguan dengan cara mengajarkan cara yang efektif untuk mengatasi stres emosional pada satu situasi atau krisis perkembangan, ( Townsend, 2014). Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi eksperimen  dengan pendekatan pre test – pos test control group ( Sudigdo, 1995).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan  skor perkembangan psikosiial sebelum dan sesudah diberikan terapi kelompok terapeutik  dengan signifikansi  dan  terdapat perubahan  skor perkembangan emosi  sebelum dan sesudah diberikan terapi kelompok terapeutik dengan signifikansi  lebih kecil dari , Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan  skor perkembangan psikososial kemampuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan hasil uji T berpasangan (paired –sampel T test ) , bahwa tidak terdapat perubahan  skor perkembangan kemampuan emosi sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan hasil uji T berpasangan ( paired –sampel T test ) , terdapat perbedaan  selisih  skor pre test dan post test  perkembangan psikososial yang bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol,   Berdasarkan uji t tidak berpasangan (independent-sampel t test)  menunjukkan nilai t hitung sebesar 5,793 dan nilai signifikansi 0,000 oleh karena t hitung > t tabel  (5,793 > 2,110) dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.



2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 1-8
Author(s):  
Dewi Siti Oktavianti ◽  
Siti Anzani

Introduction: Gout arthritis is a type of arthritis that caused too much uric acid in the blood and accumulation of uric acid crystals and causing pain. This pain will interfere with activities. The study aims to determine the effect of warm compresses of Boiled lemon Grass reduce the intensity pain of gout. Method: This research used Quasi Experiment design, pre-test and post-test without control. The research samples were 20 respondents who feel pain gout arthritis and have increased levels of uric acid in the blood. The instruments used were the observation sheet and pain intensity scale measurement sheet with Numeric Rating Scale (NRS). The statistical test used the Paired T Test. Results: The results showed that differences in the pain intensity before and after intervention with p value 0.005, meaning  there was a significant effect  warm compressed of Boiled lemon Grass to reduce pain in Gout arthritis. Conclusion: The warm compresses of Boiled lemon Grass can be used as a non-pharmacological therapy to reduce the pain of gout arthritis.  



2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 37-43
Author(s):  
Regita Putri Cahyani ◽  
Pujiarto Pujiarto ◽  
Nandita Wana Putri

Pendahuluan: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit yang ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran nafas (paru-paru) yang tidak sepenuhnya reversibel. Orang dengan PPOK akan mengalami kelemahan otot inspirasi dan disfungsi otot yang berkontribusi terhadap terjadinya sesak nafas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi keefektifan posisi condong ke depan (CKD) dan latihan pernafasan pursed lip breathing (PLB) terhadap peningkatan saturasi oksigen pasien PPOK yang dirawat di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Bandar Lampung. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan penelitian terapan (Applied Research).Subyek penelitian yang diambil 2 orang yang sesuai dengan  kriteria inklusi.Intervensi penelitian ini menggunakan pulse oxymeter, SOP latihan pursed lip breathing dan SOP latihan posisi condong kedepan. Penelitian ini menunjukkan bahwa setelah diberikan intervensi penerapan posisi condong ke depan dan latihan pursed lip breathing selama 3 hari berturut-turut pada responden pertama Tn.A terdapat peningkatan saturasi oksigen yaitu dari 95% menjadi 98% dan pada responden kedua Tn.K juga terjadi peningkatan saturasi oksigen yaitu dari 94% menjadi 98%. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini terdapat pengaruh terhadap peningkatan saturasi oksigen kedua responden setelah diberikan terapi posisi condong ke depan dan latihan pursed lip breathing. Saran: Dapat menerapkan intervensi posisi condong ke depan dan latihan pursed lip breathinguntuk meningkatkan saturasi oksigen pada pasien PPOK.



2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 29-31
Author(s):  
Dafrosia Darmi Manggasa ◽  
Ni Made Ridla Nilasanti Parwata ◽  
Nirva Rantesigi ◽  
Ulfa Sufyaningsi

Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) diartikan sebagai penyakit metabolisme yang termasuk dalam kelompok gula darah yang melebihi batas normal atau hiperglikemia (lebih dari 120 mg/dl), karena itu DM sering disebut juga dengan penyakit gula. Penyakit diabetes melitus  adalah masalah kesehatan yang besar. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah penderita diabetes dari tahun ke tahun. Berdasarkan faktor resiko DM terbagi menjadi 2 tipe yaitu: tipe I dan tipe II. Individu yang menderita DM tipe I memerlukan suplai insulin dari luar (eksogen insulin). sedangkan individu dengan DM tipe II resisten terhadap insulin. Tujuan: Untuk mengetahui penerapan relaksasi otot progresif terhadap tingkat ansietas pada asuhan keperawatan dengan kasus diabetes melitus di ruangan interna RSUD Poso. Metode Penelitian: Yaitu dengan menggunakan metode pemberian tindakan Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tingkat Ansietas Pada Asuhan Keperawatan Dengan Kasus Diabetes Melitus. Hasil Penelitian: Setelah dilakukan implementasi selama 4 hari 2 kali penerapan relaksasi otot progresif, tingkat ansietas pasien tampak berkurang. Setelah dilakukan tindakan Relaksasi Otot Progresif selama 4 hari diharapkan tingkat ansietas pasien dapat berkurang dengan kriteria: tingkat ansietas hanya ringan, dan selalu menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas. Saran: diharapkan perawat yang ada di rumah sakit dapat memberikan penerapan relaksasi otot progresif secara optimal kepada pasien yang mengalami ansietas pada kasus diabetes melitus.



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 48-54
Author(s):  
Tasnim Tasnim ◽  
Nirva Rantesigi ◽  
Ulfa Sufyaningsi ◽  
Putri Pratiwi

Pendahuluan: Gout Athitis merupakan penyakit metabolic yang di sebabkan oleh kelebihan kadar senyawa urat di dalam tubuh, baik karna produksi berlebih, eliminasi yang jarang, atau peningkatan asupan purin. Salah satu terapi non-farmakologis untuk menurunkan skala nyeri otot adalah dengan terapi Herbal Compress Ball yang efeknya berasal dari konduksi panas yang dapatmeningkatkan aliran darah regional ke daerah nyeri, efek analgesik berasal dari bahan-bahan herbal dan minyak asiri aromaterapi memberi efek relaksasi.Tujuan:Dapat mengidentifikasi pengaruh Herbal Compress Ball dalam menurunkan nyeri GoutArthritis. Metode Penelusuran: basis data yang digunakan dalam studi literatur yaitu Publish Or Perish, Google Scholar, dan Google.Hasil jurnal: Herbal Compress ball lebih efektif daripada terapi standar yang direkomendasikan pada pasien dengan  masalah  muskuloskelektal pengobatan dengan herbal compress ball dapat mengurangi tingkat rasa nyeri serta dapat meningkatkan kualitas hidup. Ini dapat dianggap sebagai opsi alternatif untuk memperbaiki gejala kondisi ini terutama ketika efek samping dari perawatan lain seperti NSAID. Kesimpulan: Setelah dilakukan review dari beberapa jurnal didapatkan bahwa herbal compress ball dapat menggurangi nyeri muskuloskletal dan mebuat relaksasi.Saran: diharapkan hasil penelitian ini bisa menambah pengetahuan dan wawasan peneliti selanjutnya tentang intervensi keperawatan yang dapat mengurangi nyeri pada gout arthritis.



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 43-47
Author(s):  
Dewi Nurviana Suharto ◽  
Agusrianto Agusrianto ◽  
Dafrosia Darmi Manggasa ◽  
Firsya Dita Maulinda Liputo

Pendahuluan: Congestive heart failure adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient. Masalah yang sering muncul pada pasien congestive heart failure salah satunya yaitu gangguan tidur. Penatalaksanaan gangguan tidur diantaranya mengunakan pendekatan farmakologis dan non farmakologis. Salah satu pendekatan non farmakologis adalah pengaturan posisi tidur lateral kanan dan semifowler. Tujuan penulisan mengidentifikasi studi literatur tentang posisi tidur dalam meningkatkan kualitas tidur pada pasien congestive heart failure. Metode penelusuran database yang digunakan dalam studi literature ini yaitu database elektronik seperti ScienceDirect dan website: google dan google scholar. Hasil penelitian ada 7 jurnal yang diidentifikasi dan diterbitkan dari 2015-2019. Hasil dari jurnal menunjukan bahwa pengaturan posisi tidur lateral kanan dan semifowler efektif mengatasi masalah gangguan tidur pada pasien CHF. Saran: diharapkan peran perawat dan peneliti selanjutnya agar dapat menerapkan intervensi pemberian posisi tidur lateral kanan dan semifowler untuk meningkatkan kualitas tidur pasien CHF.



2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 32-36
Author(s):  
Rusmala Dewi ◽  
Alila Andani ◽  
Madepan Mulia

Pendahuluan: Postpartum atau masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir saat alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Salah satu permasalahan pada ibu postpartum adalah inkontinensia urin. Inkontinensia urine merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya urine. Kegel exercise adalah tindakan non farmakologi yang dapat digunakan untuk memperkuat otot-otot dasar panggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pemberian intervensi kegel exercise terhadap inkontinensia urin pada ibu postpartum di Wilayah Kerja Puskesmas Gedong Air Bandar Lampung. Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif. Penelitian ini melibatkan dua partisipan yaitu dua ibu postpartum. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar kuesioner International Consultant Incontinence Questionnaire-Urine Incontinence Short Form (ICIQ-UISF). Hasil penelitian menunjukkan pada partisipan pertama tidak terjadi inkontinensia urin di hari keenam dan partisipan kedua tidak mengalami inkontinensia urin pada hari ketujuh. Berdasarkan hasil penelitian didapakan hasil bahwa teknik kegel exercise dapat direkomendasikan untuk mencegah terjadinya inkontinensia urin pada ibu postpartum. Saran: Direkomendasikan latihan kegel exercise pada ibu postpartum dapat diberikan untuk mencegah atau mengatasi inkontinensia urin.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document