scholarly journals Upaya untuk Meningkatan Hasil Belajar Matematika dan Ketrampilan Berpikir Kritis Siswa Melalui Penerapan Kontekstual dengan Model Learning Community

2019 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 167
Author(s):  
Rani Laksmita

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana metode Contextual Teaching and Learning with Learning Community mampu meningkatkan hasil belajar matematika dan keterampilan berpikir kritis siswa di SDN Salatiga 05 dan mendeskripsikan penerapan metode Learning Community. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas kolaborasi. Dan subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV di SDN Salatiga 05 yang terdiri dari 20 siswa. Penelitian ini dilakukan pada Maret 2019, yang terdiri dari pra siklus, siklus satu, dan siklus dua.. Instrumen penelitian untuk mengumpulkan data seperti lembar observasi dan tes evaluasi dianalisis secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar bagi siswa. Dan itu menyetujui hasil akademik, dari pra-siklus ke siklus satu ada peningkatan 00%. Dan itu juga menunjukkan hasil yang signifikan pada siklus dua yang meningkat 00%.. Kondisi proses pembelajaran sedikit demi sedikit kondusif sampai siswa benar-benar menikmati dan penggemar bergabung dalam kegiatan. Para siswa menunjukkan peningkatan selama siklus satu ke siklus dua dengan melakukan pekerjaan yang baik pada peran mereka. Dengan demikian metode Learning Community diterapkan untuk siswa dan mendapatkan hasil yang baik untuk hasil belajar dan pemikiran kritis siswa.

2013 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 146-157
Author(s):  
Syarfuni

The goal of this writing is to explore the learning speaking through learning community. Learning community is of element of contextual teaching and learning. Contextual teaching and learning (CTL) is approaches to be most effective in student learning, teachers must plan, implement, reflect upon, and revise lessons. Such plans are based on CTL principles and approaches that require teachers to serve in the following roles: facilitator, organizer of the teaching/learning/assessment process, role model, learning mentor, content specialist, and knowledge dispenser. A learning community is a model of teaching and learning that has been consistently shown to improve students’ speaking. The reason why learning community can enhance the students’ in expressing idea because it has the meaning as follows: 1).Group of learning which communicate to share the idea and experience, 2).Working together to solve the problem and 3).The responsibility of each member of learning group.


2018 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 129-140
Author(s):  
Iyam Maryati

Artikel ini menyajikan apa itu pembelajaran kontekstual dan apa saja karakteristiknya? Apa itu kemampuan penalaran statistis? Mengapa pembelajaran kontekstual dapat mengembangkan kemapuan penalaran statistis siswa Sekolah Menengah Pertama? Kemampuan penalaran statistis sangat penting dimiliki oleh siswa Sekolah Menengah Pertama, karena dengan kemampuan penalaranr statistis ini siswa dapat memiliki kompetensi dalam hal: 1) memahami informasi-informasi statistis yang tersurat maupun yang tersirat pada setiap permasalahan yang dihadapi. 2) Pemahaman yang baik terhadap bagaimana cara memilih, menyajikan, mererduksi, dan mempresentasikan data yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan yang ada. 3) pemahaman dan penalaran yang baik terhadap proses statistis secara keseluruhan termasuk setiap perhitungan yang terlibat dalam proses tersebut. 4) pemahaman untuk memecahkan masalah secara statistis berdasarkan data yang ada, dan menginterprestasikannya dalam pengambilan keputusan yang dapat berlaku secara umum. Oleh karena itu untuk mengembangkan kemampuan penalaran statistis tersebut harus mempertimbangkan pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk siswa Sekolah Menengah Pertama. Model pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk siswa Sekolah Pertama salah satunya adalah pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Pendekatan pembelajaran kontekstual ini mengambil permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari atau permasalahan yang disimulasikan dengan dialog, diskusi,, tanya jawab, dan representasi. Aktivitas pengajaran kontekstual yang dikembangkan adalah: a) belajar berbasis masalah, b) belajar dengan multi konteks, c) belajar mandiri, d) penilaian otentik, dan e) masyarakat belajar.This article presents a contextual learning what it is and what are its characteristics? What is the statistical reasoning skills? Why contextual learning can develop statistical reasoning Traffic junior secondary students? Reasoning ability is very important statistical owned by junior high school students, because of the ability of these statistical penalaranr students may have competence in terms of: 1) understand the statistical information expressed or implied in any problems faced. 2) A good understanding of how to choose, present, mererduksi, and present data that will be used to address existing problems. 3) understanding and reasoning that both the statistical process as a whole including any calculations involved in the process. 4) understanding to solve the problem of statistically based on existing data, and interpret it in decision-making that can be applied generally. Therefore, to develop the statistical reasoning skills should consider learning approach used for junior secondary students. Model learning approach that is appropriate for school students first one of which is a contextual learning approach (Contextual Teaching and Learning). This contextual learning approach to take problems in daily life or simulated problems with dialogue, discussion ,, question and answer, and representation. Contextual teaching activities developed are: a) problem-based learning, b) learning with multi context, c) self-learning, d) authentic assessment, and e) a learning society.


2019 ◽  
Vol 15 (1) ◽  
pp. 46-51
Author(s):  
F. Fadhilah ◽  
Z. M. Effendi ◽  
R. Ridwan ◽  
M. Alias

There is the fact that the students' learning outcome in Applied Physics course related to the application of the mining industry is unsatisfactory. Based on the results of the final score, the rate of successful students was only around 40%. Moreover, students' understanding application is also not by the desired competencies. In this research, a learning model was developed from the Contextual Teaching and Learning Model (CTL), i.e., DILA model which consists of four syntaxes (Display, Inquiry, Learning Community, and Authentic Assessment). The effectiveness of the DILA learning model was investigated to improve students’ learning outcomes in the Applied Physics course. This research employed the quasi-experimental design where the experimental class was treated by DILA model based on Contextual Teaching and Learning; whereas control class was not treated by the model. Data were obtained from the results of the pre-test and post-test scores; then it was analyzed by a parametric with an independent t-test, related t-test, and the effect size. The results indicate that there was a significant increase in students’ learning outcomes in the experimental class compared to the control class. In conclusion, DILA model can improve students’ learning outcomes in the Applied Physics course effectively.Hasil belajar Fisika Terapan yang diperoleh mahasiswa yang terlihat dari nilai akhir semester dan penerapan pada industri pertambangan pada umumnya tidak memuaskan. Tingkat kelulusan mahasiswa hanya sekitar 40%. Sehingga pemahaman mahasiswa dalam penerapannya juga tidak sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Model DILA merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dari Model Contextual Teaching and Learning (CTL). Model DILA terdiri atas empat sintaks yaitu: Display, Inquiry, Learning Community, dan Authenthic Assessment. Penelitian ini ditujukan untuk mengukur efektifitas Model Pembelajaran DILA guna meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada matakuliah Fisika Terapan. Penelitian ini merupakan quasi eksperiment dimana kelas eksperimen diberikan pembelajaran dengan Model DILA berbasis Contextual Teaching and Learning. Data diperoleh dari hasil pre-test dan post-test dan diolah secara parametric dengan t test sample independent dan t test related serta effect sizenya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran DILA yang diterapkan pada matakuliah Fisika Terapan di Jurusan Teknik Pertambangan adalah efektif. Ini berarti model Pembelajaran DILA dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada matakuliah Fisika Terapan.


2018 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 21
Author(s):  
Samanik Samanik

This paper describes poetry as an alternative to implement Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL places learning and learning activities in a real-life context, incorporating not only what is learned but also why students should learn it. Meanwhile, poetry is chosen for its authenticity, in which, all nations have their own record on poetry. The classroom activities which involve poetry are poetry production (writing), poetry performance (reading), and poetry appreciation (speaking). By using poetry, learning processes are expected to meet the seven main components of effective learning: constructivism, questioning, inquiry, learning community, modeling, and authentic assessment. Moreover, the learning process can develop not only language skills but also critical thinking skill.  Keywords: Contextual Teaching and Learning (CTL), poetry, components of ideal teaching and learning


Author(s):  
Siti Fatmawati

Model pembelajaran adalah salah satu syarat dalam meningkatkan pembelajaran siswa, baik dalam hal yang berkaitan dengan minat siswa di kelas, hingga kreatifitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang lagi tren saat ini adalah contextual teaching and learning. Penelitin ini membahas bagaimana pengembangan model pembelajaran contextual teaching and learning di MIS Tarbiyatul Mubtadiin Labruk Lor Lumajang sehingga mampu meningkatkan kreativitas siswa. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field study) dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriftif. Hasil penelitian menunjukan pengembangan Model Pembelajaran contextual teaching and learning dilakukan dengan beberapa cara; pengembangan melalui Constructivisme, pengembangan melalui questioning, dan melalui Learning Community.


2018 ◽  
Vol 7 (3) ◽  
pp. 1576 ◽  
Author(s):  
Hobri . ◽  
Ice Septiawati ◽  
Antonius Cahya Prihandoko

This research aimed to develop Mathematics instructional instruments by using Contextual Teaching and Learning (CTL) Based on Lesson Study for Learning Community (LSLC) on “Sequence and Series” Learning Material for the tenth grade students of vocational school as well as to know its effect on the students’ high-order thinking skill. The method used is mixed methods with concurrent triangulation strategy model namely research and development method with Thiagarajan model combined with quantitative method using non equivalent control group design quasi experimental pretest-posttest. The research subjects were the students of SMKN 1 Panji of Situbondo regency, from which two classes were chosen as research sample, class X Accounting 2 as the control class and class X Accounting 3 as the ex-perimental class. High-order thinking skill is measured by using essay test. Assumption test of normality and homogeneity of variance was tested before analyzing the data. The result of the first test showed that the data were not normally distributed. Therefore, the data were ana-lyzed by using Mann-Whitney analysis. The research results showed that: (1) the instructional instruments resulted is valid, the implementa-tion of the instructional instruments is in practical and effective; (2) the significance value (2-tailed) is 0.000 (p < 0.05), which indicated that the application of learning by using CTL Based on LSLC had a significant effect on the students’ high-order thinking skill.  


Biosfer ◽  
2018 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 32-44 ◽  
Author(s):  
Astri Lestari ◽  
Evi Amelia ◽  
Pipit Marianingsih

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKS (lembar kerja siswa) berbasis  CTL (Contextual Teaching and Learning) sebagai bahan ajar siswa SMA/MA kelas XII subkonsep teknik kultur in vitro.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan model 3D yang terdiri dari pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop). Lembar kerja siswa teknik kultur in vitro berbasis CTL ini dikembangkan berdasarkan penelitian pendahuluan terkait pengamatan pertumbuhan tanaman cocor bebek terhadap berbagai media kultur alternatif, yang dijadikan konten (isi) LKS, serta menerapkan tujuh komponen CTL yaitu constructivisme, inquiry, questioning, learning community, modelling, reflection, dan authentic assesment yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan angket penilaian untuk uji kelayakan LKS. Instrumen penilaian LKS menggunakan skala penilaian 1 sampai 5 yang didalamnya terdapat 8 kriteria. Uji kualitas LKS dilakukan oleh 2 orang dosen jurusan Pendidikan Biologi Untirta dan 3 orang guru Biologi SMA. Berdasarkan hasil uji kelayakan LKS berbasis  CTL (Contextual Teaching and Learning) sebagai bahan ajar siswa SMA/MA kelas XII subkonsep kultur in vitro memperoleh nilai rata-rata 4,3 (skala likert) yang termasuk kedalam katagori sangat layak.


2018 ◽  
Vol 6 (3) ◽  
pp. 29
Author(s):  
Alfi Anafidah ◽  
Sarwanto Sarwanto ◽  
Mohammad Masykuri

<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) karakteristik modul fisika berbasis CTL; (2) kelayakan modul fisika berbasis CTL; dan (3) efektivitas modul fisika berbasis CTL pada materi dinamika partikel. Metode penelitian yang digunakan adalah <em>Research and Development</em> (R&amp;D). Pengembangan modul mengacu pada model Thiagarajan yang terdiri dari empat tahap yang dikenal dengan model 4-D <em>(four D model)</em> dengan tahapan <em>Define, Design, Develop,</em> dan <em>Disseminate. </em>Tahap <em>define</em> berupa analisis kebutuhan, tahap <em>design</em> berupa penyusunan draf modul, tahap<em> develop </em>berupa validasi draf modul oleh 2 dosen, 2 guru fisika, dan 2 <em>peer review</em>, setelah valid dilakukan uji coba kecil pada 12 siswa dan diimplementasikan pada skala luas. Tahap terakhir yaitu <em>disseminate</em> yang dilakukan pada 5 guru fisika di kabupaten Ngawi Jawa Timur. Pengumpulan data menggunakan angket, lembar observasi, lembar validasi, dan instrumen tes. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa dianalisis dengan uji <em>paired sample</em> <em>t-test</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) modul fisika berbasis CTL dikembangkan dengan model 4-D dengan tujuh karakteristik pembelajaran CTL yaitu <em>con</em><em>s</em><em>tructivism, inquiry, questioning, learning community, modelling, reflection</em> dan <em>autentic assessment</em><em>; </em>(2) kelayakan modul fisika berbasis CTL berkategori sangat baik setelah dilakukan validasi; (3) keterampilan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan modul fisika berbasis CTL sebesar 0,36 dengan kategori sedang.<strong></strong></p>


2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 123-133
Author(s):  
KISMATUN KISMATUN

This paper aims to pay attention to the development of Islamic education based on Contextual Teaching and Learning (CTL) theory as a solution to the crisis experienced by Islamic education. In fact, Islamic education is sidelined in public schools because it uses conventional learning methods that are boring and do not provide a significant educational product. Previous research found that the accuracy of lecture-based conventional learning only gave 11% level of meaning for students. This fact is in contrast to the theory of CTL or contextual learning and teaching which emphasizes the contextualization of knowledge. In the end, this study found that CTL learning emphasizes the process of involving students in finding the material being studied and connecting it to real-life situations. This learning model encourages students to be able to apply it in everyday life. There are six characteristics of CTL learning, namely: meaningful learning, application of knowledge, higher order thinking, curriculum which is symbolized by standards, responsiveness to culture, and authentic assessment. In addition, CTL has seven principles that underlie the implementation of the learning process using the CTL learning model, namely: constructivism, inquiry, questioning, learning community, modeling, reflection, and real assessment. CTL learning is very necessary, especially in efforts to develop Islamic education, because it invites students to be more active in learning. ABSTRAKMakalah ini bertujuan memberi perhatian kepada pengembangan Pendidikan Agama Islam berbasis teori Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai solusi dari krisis yang dialami Pendidikan Agama Islam. Kenyataannya, Pendidikan Agama Islam dikesampingkan di sekolah umum karena menggunakan metode pembelajaran konvensional yang membosankan dan tidak memberi produk pendidikan yang signifikan. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa akurasi pembelajaran konvensional berbasis ceramah hanya memberi 11% tingkat kebermaknaan bagi siswa. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan teori CTL atau pembelajaran dan pengajaran kontekstual yang menekankan kontekstualisasi pengetahuan. Pada akhirnya, penelitian ini menemukan pembelajaran CTL menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata. Model pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-sehari. Terdapat enam karakteristik pembelajaran CTL, yaitu: pembelajaran bermakna, penerapan pengetahuan, berpikir tingkat tinggi, kurikulum yang dilambangkan berdasarkan standar, reponsif terhadap kebudayaan, dan penilaian autentik. Selain itu, CTL memiliki tujuh asas yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran CTL, yaitu: konstruktivisisme, inquiry, bertanya, masyarakat belajar, modelling, refleksi, dan penilaian nyata. Pembelajaran CTL sangat diperlukan terutama dalam upaya pengembangan pendidikan agama Islam, karena bersifat mengajak peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document