Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

11
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Warmadewa

2581-2211, 2338-0454

Author(s):  
Ni'mal Maulana Rizqi ◽  
Putra Fajar ◽  
Taslim Septia Prima ◽  
Dedi Hantono

Pasar Sumur batu merupakan pasar yang tumbuh karena keberadaan pasar modern yang terlampau jauh. Pasar ini memiliki banyak pedagang kaki lima karena lokasinya yang ramai saat malam hari. Perbedaan penjual pada pagi hingga sore dan sore hingga malam membuat pasar ini menarik untuk diteliti. Ini terjadi karena pedagang yang berdagang di kedua waktu tersebut yang berbeda dan pergerakan masyarakat terhadap kedua waktu tersebut yang berbeda pula. Penelitian yang akan dilakukan dilaksanakan dengan menggunakan pengamatan pribadi, sehingga menimbulkan dokumentasi yang dikomunikasikan secara desain dan tekstual. Hasil dari penelitian ini akan memunculkan hasil analisis terhadap zonasi pedagang yang berpengaruh kepada pola pergerakan pembeli, yang mana keduanya akan memberikan keuntungan dan kerugian tersendiri terutama dalam menimbulkan kepadatan pada jalan yang menyebabkan kemacetan. Keywords: Aktivitas, Sirkulasi Pasar, Pedagang Kaki Lima, Pasar Informal.



Author(s):  
I Gede Ramsa Wahyu Alam Sari ◽  
I Wayan Runa ◽  
Ni Wayan Meidayanti Mustika
Keyword(s):  

Tujuan perencanaan dan perancangan Hotel Resort ini adalah untuk mengembangkan hotel yang adil yang mengarah ke timur, utara dan barat Bali. Karena kesenjangan pembangunan antara pembangunan fasilitas pariwisata yang akan terkonsentrasi di Bali Selatan, maka perlu untuk menyamakan daerah lain di Bali seperti Bali timur, barat dan utara. Ini juga bertujuan untuk mengembangkan pendapatan daerah sebagai tujuan wisata domestik dan asing. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah, metode studi literatur, yang merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengambil data yang diperlukan dari literatur terkait. Entah itu dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan, mengenai masalah yang sedang ditinjau. Dengan melompat langsung ke lokasi dan melihat kondisi fisik daerah itu sendiri. Serta metode dokumentasi, yaitu mengambil gambar untuk memperkuat dan memperjelas data teoritis dengan mengambil foto langsung ke objek. Konsep perencanaan lokasi akan mengacu pada konsep tata ruang berorientasi timur-barat. Implementasinya akan membentuk nilai-nilai area utama, menengah dan transparan. Baik konsep sebagai terbit dan terbenamnya matahari dan utara selatan dihubungkan dengan gunung dan laut dalam pengaturan zonasi, tata letak pintu masuk atau pintu masuk, bentuk dasar massa, sistem massa, pola massa yang akan menghasilkan orientasi dari massa bangunan, sirkulasi dan ruang angkasa. Konsep perencanaan bangunan dimana dalam konsep ini bentuk bangunan resort hotel telah hampir diwujudkan dalam bentuk konsep ruang interior atau disebut interior bangunan yang menampilkan dimensi ruang, bahan dan fungsi dari ruang itu sendiri, di mana ruang dalam akan menghasilkan penampilan bangunan atau wajah fasad eksterior resor hotel ini. Konsep sistem utilitas tidak luput dari bangunan seperti manusia sebagai wadah untuk bangunan utilitas sebagai saluran untuk saraf saluran manusia atau bangunan sehingga sistem utilitas tidak dapat dipisahkan dari yang terhubung ke bangunan seperti untuk sistem utilitas yang kemudian sebagai referensi dasar untuk pembangunan resor hotel ini atau sebagai distribusi pengembangan pariwisata dan meningkatkan pendapatan asli dari wilayah khususnya Kabupaten Karangasem Kata kunci: Hotel Resor; Rekreasi; Tropis modern



Author(s):  
I Putu Surya Mitra ◽  
I Wayan Parwata ◽  
I Wayan Widanan

Perencanaan dan Perancangan Fasilitas Penunjang Pagelaran Budaya Desa Wisata ini bertujuan untuk mengoptimalkan Desa Wisata di Desa Baha bisa lebih baik dari sebelumnya. Upaya untuk membuat Fasilitas Penunjang Pagelaran Budaya Desa Wisata di desa Baha yang nantinya diharapkan dapat mengembangkan atau meningkatkan kualitas dan fungsi berbagai potensi yang ada, dari banyaknya potensi yang dimiliki desa Baha, maka timbulah sebuah gagasan untuk lebih meningkatkan dan menguatkan keberadaan desa wisata di Desa Baha ini dengan sebuah perencanaan dan perancangan yang nantinya dapat menjadi sebuah tempat Wisata berbasis potensi yang ada. Jadi konsep atau ide untuk permasalahan ini yaitu Fasilitas Penunjang Pagelaran Budaya yang dapat menunjang potensi-potensi yang dimiliki untuk memajukan desa wisata. Sehingga dalam perencanaan dan Perancangan Fasilitas Penunjang Pagelaran Budaya Desa Wisata ini akan terdapat paket wisata bernuansa alam, seni, budaya, sejarah, dan spiritual. Kata kunci: Arsitektur Lokal; Desa Wisata Baha; Konsep Dsain



Author(s):  
Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta Putri ◽  
Anak Agung Gede Raka Gunawarman ◽  
Ni Luh Anik Puspa Ningsih
Keyword(s):  

Industri kerajinan perak di Desa Celuk, Gianyar merupakan sentra kerajinan perak terbesar kedua di Indonesia setelah kota Gede Yogyakarta. Keunggulan kerajinan perak di desa Celuk adalah pada desain perhiasan yang unik dan masih melalui proses pengerjaan secara tradisional (handmade) sekaligus menjadi destinasi wisata. Selain itu, keadaan sekitar Desa Celuk terlihat mengalami perkembangan pesat dalam hal daerah tujuan wisata (DTW). Keberadaan destinasi tersebut berpeluang untuk mengoptimalkan permukiman perajin perak tradisional sebagai akomodasi wisata. Perlu adanya penelitian tentang kriteria standar akomodasi wisata, kebijakan, serta tata kelola kedepan menjadi luaran hasil dari penelitian ini. Draft naskah akademik yang dapat menjadi acuan untuk mengeluarkan standarisasi dan aturan-aturan adat atau dinas diharapkan dapat mendorong Desa Celuk menjadi destinasi wisata yang terbaik di Kabupaten Gianyar yang secara mandiri dan mampu memenuhi kesejahteraan warga desanya melalui potensi wisata yang ada. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif eksploratif, ditemukan potensi permukiman perajin perak di Desa Celuk dimana selain terdapat ruangan untuk tinggal dan bekerja, terdapat area yang bisa difungsikan sebagai guest house atau homestay. Kata kunci: permukiman; pariwisata; potensi



Author(s):  
Made Wahyu Anggareza Sumarna ◽  
Ni Wayan Meidayanti Mustika ◽  
I Wayan Wirya Sastrawan

Agrowisata hadir sebagai objek wisata dengan pemanfaatan sumber daya alam meliputi pertaian dan peternakan, pemberdayaan masyarakat desa dengan pekerjaan sebagai petani memiliki wadah untuk meningkatkan produksi dari hasil pertanian maupun peternakan yang mampu mendongkrak sosial ekonomi mereka. Desa Madenan, Kabupaten buleleng merupakan wilayah yang berpotensi pada sektor agropolitan. Dari sekian banyaknya agrowisata yang ada di Bali Budidaya Lebah Madu pada Desa Madenan ini sangat berpeluang, selain terbilang unik dampak pada sosial ekonomi beserta lingkungan akan sangat terasa, terlebih pemerintah mendukung akan hal ini dalam bentuk bantuan Lebah Madu unggul, namun pengelolaannya belum tepat sehingga berdampak kepada turunnya produksi. Upaya mewadahi petani dalam budidaya Lebah Madu, Agrowisata merupakan suatu jawaban untuk memecahkan permasalahan secara arsitektural mengenai produksi dan pengelolaan. Konsep edu – tourism akan menjadi daya tarik pada agrowisata ini dengan wujud bangunan yang beradaptasi kepada iklim yang akan diterapkan. Arsitektur Tropis dengan penyesuaian kondisi iklim yang lembab dengan topografi pegunungan akan menjadi suatu solusi arsitektur pada wilayah Desa Madenan. Kata kunci: agrowisata, budidaya lebah madu, edu – tourism, tropis



Author(s):  
. Adityo

Indonesia Art Institute of Yogyakarta is one of well- known art college in Indonesia. This institution has graduated many Indonesian famous artists. Located at Sewon, Bantul, this institution has a significant effect on the suburban area development of the institution surrounding area. The art atmosphere of surrounding area shaped by Art-activities that happened there. Many formal or informal artspace also located there stimulate the activities to become intense and sustain. Beside that One thing that enriching the art atmosphere is mural drawing that done in private properties in the public spaces. The mural drawing spreading around the suburban area surrounding the college building. 20 mural has been recorded only in one village, and its enrich the visual aspect of the sub-urban area and beautifully blending to the suburban area. The mural draws also expresses a message for people who have seen it as a sightseeing object and makes the suburban area as a public artwork gallery. This research aims to know the factors how the mural drawing can be blend to the area and strengthen the place identity of the area by knowing the relationship between mural drawing and where it is made. Observation has been done in the sub-urban area surrounding the Indonesia art institute of Yogyakarta. The concept of the mural is contextual to the site. Its usually represent the social or environmental issue that happens there. The space and sensitivity of selection the mural drawing theme not only make the artwork blended naturally with the area but improve place-identity of the area. Furthermore the phenomena have potential to be a theme of this suburban area development.



Author(s):  
Made Suryanatha Prabawa ◽  
Made Yaya Sawitri ◽  
I Ketut Darma

The road corridors in the Tegenungan Waterfall Tourism Area are composed of various kinds of buildings, all of which accommodate the same function of trade or trade functions. The trade function is present to meet the needs of visiting tourists. These needs are food, drinks, souvenirs, transportation, etc. related to tourism. However, over time the development of the tourist area makes the growth of buildings along the road corridor in the Tegenungan Waterfall Tourism Area increasingly uncontrollable. The purpose of this study is to identify the facade components of the existing activity support buildings along the corridor of the road leading to the waterfall. The research method used is a qualitative-descriptive method, with the implementation phase of the method being a field survey accompanied by observations of buildings along the corridor road to Tegenungan Waterfall and supported by literature studies. The results of the study provide the final conclusion that the appearance of the facade of the majority of buildings uses a facade formed or arranged as a result of commodities traded based on tourist needs.



Author(s):  
Nimas Sekarlangit ◽  
L.V. Ratna Devi S.

At present, the villages that have local wisdom in architecture Bali have undergone several changes. The change in the shape of the building caused because local people began to migrate to urban areas so that they had a changing lifestyle, and the difficulty of finding traditional materials. This problem generalizes the building style. However, tourism development in Bali is needed; therefore, branding can be carried out in architectural buildings which have local wisdom. Bali needs for the branding of architectural buildings containing speakable and writeable elements, a spirit of the brand, internal back-up, personality, and the story of glory with the power of local wisdom. Development of tourism based on the essence Hinduism, which was developed through the customer in the era of connectivity based on the principle of marketing 4.0. Marketing 4.0 is used to recognize the transitional role of traditional marketing and digital marketing in building customer involvement and advocacy. This study raises the question of architectural branding that has local wisdom in developing tourism 4.0. This study uses qualitative methods to look at comparison methods and marketing mixes. The output of this research is the traditional architecture of the Panglipuran and Tenganan traditional villages is a unique attraction for the village's tourism. It can increase tourist interest by adding an understanding of the local wisdom that underlies the building. So tourists will encourage other tourists to visit the traditional villages of Panglipuran and Tenganan.



Author(s):  
Putu Bulan Ratna Anggraeni ◽  
Fery Asta Wibowo

Tourism activities can never be separated from the history of a city and the influence of the development of the city itself. Aspects of tourism are very dependent on culture and public understanding of a tourist attraction in a city. Kampong Semut is one of the historical relics of the city of Surabaya which has the potential to become a tourist facility. The potential is due to the fact that Kampong Semut has a potential in the form of community attachment to the location. The community's attachment to a Kampong Semut, changing the form and function of the village itself from a large-scale activity center to an urban village that is not conserved. The purpose of this study is to understand more deeply the place attachments that exist in Kampong Semut and see what potential can be developed back into a tourism potential to be able to return the Kampong Semut to its former glory. This study uses an urban analysis method to see the shape of the city and the layers of the city in Kampong Semut to see the changes brought by the people in Kampong Semut to the place attachments.



Author(s):  
Raka Gunawarman ◽  
Ni Luh Anik Puspa Ningsih ◽  
Made Suryanatha Prabawa

The group of Silver Craftsman Cipta Karya Pertiwi Br. Karang Dalem I of the Bongkasa Pertiwi Village, Abiansemal-Badung has the potential to be developed as a tourist destination. This potential is still not able to be processed properly considering the declining silver crafters that do exist in Br. Karang Dalem I. A fundamental problem that needs special attention is that the traditional silver crafters will not become extinct because they are defeated by silver artisans with machines in other areas. The residential environment owned by Br. Karang Dalem I has also become an asset that has a high sale value with a unique atmosphere of a traditional Balinese residential environment. It just needs a little touch so that the face of this region is increasingly supportive as a tourist destination with productive economic products. Lack of understanding and awareness of partner groups about products, management, and the environment are fundamental issues raised in this PKM. The solutions offered are divided into 3 parts: solutions for products, management and environmental management. The output of the solution in the aspect of product production is a change in the mechanism of the production process without reducing production details and traditions. The output of management solutions is improving business performance and community welfare. The output of settlement settlement structuring solutions is the changing face of a stronger environment into a tourism-worthy environment with architectural and landscape elements.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document