Majalah Geografi Indonesia
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

155
(FIVE YEARS 58)

H-INDEX

3
(FIVE YEARS 1)

Published By Universitas Gadjah Mada

2540-945x, 0215-1790

2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Aries Kristianto ◽  
Usman Efendi

Abstrak Jakarta khususnya daerah pesisir sangat rentan dengan adanya permasalahan lingkungan berupa rob. Pemetaan daerah yang berpotensi terdampak rob sangat diperlukan guna menyusun upaya mitigasi. Pada penelitian ini dilakukan prediksi tinggi muka laut dengan model Delft3D dan digunakan untuk memprediksi daerah tergenang rob menggunakan model LISFLOOD FP pada tanggal 18 – 20 November 2019 di pesisir Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi tinggi muka laut memiliki akurasi yang baik, dengan koefisien korelasi pada tingkat kuat sebesar 0,93 dan nilai RMSE sebesar 0,13 meter. Sementara itu, prediksi rob model LISFLOOD FP menunjukkan luas maksimum yang terjadi 2 hingga 3 jam setelah fase puncak tinggi muka laut dan menggenangi 8 kecamatan di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Abstract Jakarta region especially the coastal areas are very vulnerable to environmental problems such as coastal inundation. Mapping of areas potentially affected by coastal inundation is needed to arrange mitigation efforts. In this study, sea level prediction was estimated using the Delft3D model and used to predict coastal inundation areas using the LISFLOOD FP model on 18-20 November 2019 on the coast of Jakarta. The results showed that the sea-level prediction model has good accuracy, with a correlation coefficient at a strong level of 0.92 and an RMSE error value of 0.13 meters. Meanwhile, coastal inundation prediction from the LISFLOOD FP model inundated 8 sub-districts in North Jakarta and West Jakarta and showed the maximum area in 2 to 3 hours after the peak phase of sea level. 


2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Nurwita Mustika Sari

Abstrak Pertumbuhan fisik perkotaan dapat ditandai dengan bertambahnya jumlah bangunan yang ada di wilayah tersebut. Bangunan di perkotaan dapat berupa bangunan untuk pemerintahan, perkantoran, permukiman penduduk dan industri. Sebagai lokasi keberadaan ibukota Negara Republik Indonesia, Provinsi DKI Jakarta mengalami pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Seiring bertambahnya bangunan di wilayah ini sementara kebutuhan lahan terus meningkat, maka diperlukan pemantauan terhadap sebaran bangunan agar selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap sebaran bangunan dan kesesuaiannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta. Metode yang diusulkan dalam penelitian ini adalah analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan data bangunan eksisting yang diperoleh secara bebas dari Open Street Map (OSM) dan RTRW Jakarta. Hasil analisis SIG kemudian dilanjutkan dengan validasi bangunan yang tidak selaras dengan RTRW menggunakan interpretasi visual data penginderaan jauh SPOT. Hasil menunjukkan bahwa terdapat bangunan seluas 1.016,08 hektar yang tidak selaras dengan RTRW yang seharusnya menjadi kawasan peruntukan fungsi lindung, kawasan peruntukan terbuka hijau budidaya, kawasan peruntukan pertanian dan kawasan peruntukan terbuka non hijau (Ruang Terbuka Biru).    Abstract Urban physical growth can be indicated by the increase of buildings in the area. Buildings in urban areas can be in the form of buildings for government, offices, residential areas and industry. As the location of the capital city of Indonesia, Jakarta Province is experiencing very rapid physical growth. As there are more buildings in this area while the need for land continues to increase, it is necessary to monitor the distribution of buildings so that they are in line with the Regional Spatial Planning (RTRW) of Jakarta Province. The purpose of this study is to analyze the distribution of buildings and their compliance with the Jakarta Regional Spatial Planning (RTRW). The method proposed in this study is a Geographical Information System (GIS) analysis using existing building data which is freely obtained from the Open Street Map (OSM) and Jakarta Regional Spatial Planning. The results of the GIS analysis were then continued with the validation of buildings that were not in line with the Jakarta Regional Spatial Planning using a visual interpretation of the SPOT remote sensing data. The results show that there are buildings with an area of 1,016.08 hectares that are not in line with the Jakarta Regional Spatial Planning, which should be designated as protected areas, open green cultivation areas, agricultural areas and non-green open areas (Blue Open Space).


2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Hadis Tian ◽  
Cahyadi Setiawan ◽  
Aris Munandar

Proses terjadinya konversi lahan pertanian dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap perubahan luas lahan. Faktor penduduk dan perekonomian diketahui sebagai faktor eksternal penyebab terjadinya konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Salah satu wilayah yang mengalami konversi lahan pertanian ialah di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor eksternal yang mempengaruhi konversi lahan pertanian. Metode penelitian menggunakan kuantitatif asosiatif dengan teknik analisis data statistik melalui model Geographically Weighted Regression. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei instansional untuk mendapatkan data sekunder dari laporan atau publikasi instansi terkait penelitian. Hasil menunjukkan besaran nilai setiap variabel berbeda di tiap kecamatan serta perbedaan variabel yang mempengaruhi konversi lahan pertanian. Variabel laju pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk berpengaruh terhadap konversi lahan pertanian di 24 kecamatan. Terdapat lima kecamatan yang hanya variabel kepadatan penduduk berpengaruh terhadap konversi lahan pertanian. Rumah tangga miskin diketahui tidak berpengaruh nyata terjadap konversi lahan pertanian di seluruh kecamatan.


2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Fahrul Hidayat ◽  
Munawaroh Munawaroh ◽  
Tia Rizka Nuzula Rachma

Abstrak Terhitung sejak 1945 – 2017, baru sekitar 48% dari 977 segmen batas daerah di Indonesia yang disahkan melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang batas daerah. Pengelolaan batas wilayah daerah sangat penting untuk berbagai urusan pembangunan misalnya        pengelolaan sumber daya alam. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pendekatan baru untuk mendukung pengelolaan batas wilayah yang efisien yaitu melalui segmentasi berbasis tipologi batas wilayah. Tahapan analisis meliputi: membandingkan, memotong, dan mengelompokkan garis batas. Single Buffer Overlay Method digunakan untuk membandingkan unsur geografis pada Peta Rupabumi          Indonesia (data referensi) dan garis batas 2017 (data yang diuji). Selanjutnya, dilakukan pemotongan garis sesuai hasil perbandingan. Pada akhirnya, garis tersebut dikelaskan berdasarkan tipologinya (igir, jalan, dan sungai) menggunakan metode SQL (Structured Query Language). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (41,8%) batas daerah di Indonesia tidak menggunakan unsur geografis tertentu sebagai penanda batasnya, sedangkan persentase penanda batas berupa sungai 35,9%, igir 16,4%, dan jalan 5,8%.   Abstract Since 1945 – 2017, only 48% of 977 regional borderlines of Indonesia were legalized by The Ministry of Home Affairs. Properly  managed intra-national boundaries are fundamental for development purposes e.g. natural resource management. Therefore, this research proposed a new approach to help managing the boundary efficiently through typology-based borderlines segmentation which was conducted by some stages: compare, split, and classify lines. Single Buffer Overlay Method used for comparison purpose by utilizing some geographical features on a topographic map as a referenced dataset and boundary line (2017 database) as a tested dataset. Then we split the lines based on the comparison result. Finally, each split line was classified into border typologies (road, ridge, and stream) by using the SQL (Structured Query Language) method. We found that most of The Indonesian administrative boundary segments (41.8%) did not use a geographical    feature, while the boundary on the rivers 35.9%, ridges 16.4%, and roads 5.8%.   


2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Qurrata A'yun Kartika ◽  
Rahmat Hidayat ◽  
Rista Hernandi Virgianto

Abstrak Pulau Jawa mengalami peningkatan jumlah penduduk dari waktu ke waktu. Peningkatan ini berdampak pada tingginya aktivitas antropogenik yang menghasilkan emisi yang diantaranya dapat menyebabkan perubahan suhu udara. Suhu udara sangat berkaitan dengan thermal stress yang mempengaruhi kenyamanan bahkan kesehatan manusia. Thermal stress dapat diukur dengan Temperature Humidity Index (THI) dengan suhu udara rata-rata permukaan dan Relative Humidity (RH) sebagai variabel bebas. Penelitian ini menganalisis sejauh mana perubahan suhu udara permukaan, RH dan THI terhadap waktu. Kemudian daerah dengan perubahan THI yang paling besar akan dianalisis keterkaitannya jumlah penduduk menggunakan korelasi Pearson. Berdasarkan hasil penelitian diketahui terjadi perubahan suhu udara udara permukaan sebesar -0.27 hingga 1.17⁰C diikuti perubahan RH sebesar -2.21% hingga 0.77% dan terjadi perubahan THI hingga 0,72⁰C sejak 1981 hingga 2019 terutama di pesisir utara bagian barat Pulau Jawa. Selain itu, THI di sekitar DKI Jakarta juga memiliki nilai korelasi simultan yang tinggi dengan jumlah penduduk sebesar 0,81, korelasi lag 1 tahun sebesar 0,69, sementara korelasi lag 2 tahun sebesar 0,67. Temuan ini mengindikasikan peningkatan jumlah penduduk berdampak terhadap peningkatan THI pada DKI Jakarta. Abstract Java has experienced an increase in population from time to time. This increase has an impact on high anthropogenic activity which results in emissions, which can cause changes in air temperature. Air temperature is closely related to thermal stress which affects comfort and even human health. Thermal stress can be measured by the Temperature Humidity Index (THI) with the average surface air temperature and Relative Humidity (RH) as the independent variable. This study analyzes the extent of changes in surface air temperature, RH and THI with time. Then the areas with the greatest THI changes will be analyzed for their correlation using the Pearson correlation. Based on the research results, it is found that there has been a change in surface air temperature of -0.27 to 1.17⁰C followed by changes in RH from -2.21% to 0.77% and there has been a change in THI to 0.72⁰C from 1981 to 2019, especially on the north coast of the western part of Java. In addition, THI around DKI Jakarta also has a high simultaneous correlation value with a population of 0.81, a 1-year lag correlation of 0.69, while a 2-year lag correlation of 0.67. These findings indicate an increase in population has an impact on increasing THI in DKI Jakarta. 


2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Bowo Susilo ◽  
Mirza Rizal Afani ◽  
Safira Ihdanisa Hidayah

Abstrak Analisis spasial  adalah metode analisis yang mempunyai ciri spesifik karenanya banyak digunakan dalam berbagai bidang kajian. Perkembangan kota adalah salah satunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola perkembangan kota dan faktor determinannya menggunakan integrasi analisis spasial dan statistik. Area di dalam jalan lingkar Yogyakarta dipilih sebagai daerah penelitian. Peta penggunaan lahan tahun 1993 dan 2014 digunakan sebagai data utama. Kombinasi analisis spasial dan statistik digunakan untuk mengidentifikasi faktor determinan perkembangan kota. Pertambahan lahan terbangun digunakan sebagai indikator perkembangan kota. Hasil penelitian menunjukkan, selama periode kajian, lahan terbangun bertambah kurang lebih 766,35 hektar. Secara umum pola perkembangan kota adalah merata namun ada kecenderung lebih intensif di bagian Timur Laut daerah penelitian. Hasil analisis terhadap tujuh variabel yang diduga berhubungan dengan perkembang kota, menunjukkan hanya 2 variabel yang mempunyai signifikan dan dapat disebut sebagai determinan perkembangan kota. Variabel tersebut adalah jarak terhadap jalan lingkar Yogyakarta (ring road) dan jarak terhadap jalan lokal.  Abstract : Spatial analysis is often termed as special analysis therefore widely used in various studies. The study of urban growth is one among them. Identifying the pattern of urban growth and its determinant factors was the objective of this research. The study was located in the inner area of the ring road of Yogyakarta. Multitemporal land use data i.e. 1993 and 2014 were used as main data in this study. Spatial analysis was utilized to identify the distribution as well as the pattern of urban growth. A combination of spatial and statistical analysis was used to identify the determinant factor of urban growth. This study shows that during 199 and 2014, about 766,4 hectares of non-built-up land in the study area had been converted into built-up land. The pattern of urban growth was dispersed in general but the direction tends to the northeast of the study area. Transportation network, particularly the ring road and local roads were considered as the main determinants of urban growth.     


2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Lely Adriani Nasution ◽  
Suratman Suratman ◽  
Sudrajat Sudrajat

Abstrak. Penambangan intan di Kecamatan Cempaka telah ada sejak dulu dan dikelola langsung oleh masyarakat serta tergolong sebagai tambang rakyat yang berskala kecil. Keberadaan tambang intan memunculkan permasalahan pada lingkungan berupa kerusakan. Kerusakan yang ditimbulkan mencakup seluruh aspek seperti abiotik, biotik dan kultural. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian terkait bagaimana kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Tujuan pada penelitian ini berupa, (1) mengidentifikasi jenis kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan intan, (2) menganalisis tingkat kerusakan lingkungannya, (3) merumuskan strategi pengelolaan yang sesuai untuk kerusakan lingkungan akibat pertambangan intan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian merupakan metode gabungan antara kuantitatif berupa skoring dan perhitungan kelas interval serta kualitatif berupa wawancara mendalam, yang mengacu pada kriteria dari Buku I Kerusakan Lahan Akses Terbuka Akibat Tambang Rakyat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi jenis kerusakan lingkungan memiliki kesesuaian dengan parameter yang ada pada ketentuan KLHK tahun 2015. Analisis tingkat kerusakan menunjukkan bahwa titik pengamatan 4 di Kelurahan Sungai Tiung menjadi titik dengan tingkat kerusakan yang berat. Perumusan strategi pengelolaan menunjukkan bahwa pengalihfungsian lokasi pertambangan menjadi tujuan wisata adalah upaya pengelolaan yang paling tepat.   Abstract .Diamond mining in Cempaka Subdistrict existed for a long time ago and was handled by community groups and included as small-scale artisanal mining. The existence of diamond mining causes a problem to the environment like environmental damage. The damage caused covers all aspects such as abiotic, biotic, and cultural. Thus, it needs to carry out a study related to how these activities cause the damage. The purposes of the research are, (1) Identify the types of environmental damage, (2) analyze the level of environmental damage, (3) formulate the appropriate management strategies for environmental damage caused by diamond mining. The research method uses mix method between quantitative like scoring and calculation an interval class, and qualitative, with an in-depth interview, which references Book I Open Access to Land Damage due to Artisanal Mining by the Ministry of Environmental and Forestry 2015. The results showed that identifying the environmental damage type was in accordance with the parameters in 2015 of KLHK references. Analyze an environmental damage level shows the heavy damage level found in observation point 4 in Sungai Tiung. Formulation of a management strategy shows that mining sites' conversion to tourism destinations is the most appropriate.  


2021 ◽  
Vol 35 (2) ◽  
Author(s):  
Rezky Yunita ◽  
Mangapul Parlindungan Tambunan ◽  
Rudy P. Tambunan

Abstrak Beberapa negara di dunia memberlakukan pembatasan sosial dan karantina wilayah sebagai upaya untuk menekan laju penularan wabah virus COVID-19. Pembatasan sosial dan karantina wilayah memberikan dampak negatif bagi perekonomian, namun juga dapat berdampak positif bagi perbaikan kondisi lingkungan khususnya kualitas udara di suatu wilayah. Selama periode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta tahun 2020, aktivitas penduduk di luar rumah menurun secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kuantitatif perubahan parameter kualitas udara berupa PM2.5 dan visibility di Jakarta selama periode sebelum (2019) dan setelah pandemi (2020) menggunakan metode statistik. Pengaruh mobilitas penduduk dan distribusi spasial konsentrasi polutan juga dianalisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan selama masa pandemi COVID-19, terdapat pengurangan konsentrasi polutan pada tahun 2020 hingga lebih dari 100 persen dibandingkan tahun 2019. Jarak pandang mendatar di Jakarta juga meningkat hingga 11 persen selama PSBB. Mobilitas penduduk mempengaruhi konsentrasi polutan di Jakarta sebesar 30 persen dan distribusi spasial menunjukkan adanya fluktuasi konsentrasi PM2.5 sebelum dan setelah diberlakukannya PSBB. Abstract Countries worldwide have implemented some sort of lockdowns to slow down COVID-19 infection and mitigate it. Lockdown due to COVID-19 has drastic effects on social and economic fronts. However, this lockdown also has some positive effects on the natural environment, especially on air quality. During the 2020 PSBB period in Jakarta, outdoor activity decreased significantly. This study quantitatively analyzes air quality parameters of PM2.5 and visibility changes in Jakarta during the period before (2019) and after the pandemic (2020) using statistical methods. The impact of mobility to polution also become a concern in this study. The results confirmed an improvement in air quality due to the implementation of social restrictions during the COVID-19 pandemic. PSBB has an impact on reducing pollutant concentrations by more than 100 percent during PSBB compared to 2019. The horizontal visibility in Jakarta also increased by 11 percent during the PSBB. Mobility has affected PM2.5 concentration by 30 percent in Jakarta, and spatial distribution of PM2.5 shows evidence of fluctuation during and before PSBB enacted. 


2021 ◽  
Vol 35 (1) ◽  
pp. 84
Author(s):  
Chafda Larasati ◽  
Aji Wijaya Abadi ◽  
M Galih Prakoso ◽  
Novanna Dwi S ◽  
Venny Vivid F ◽  
...  

Abstrak Sumberdaya air penting untuk pemenuhan kebutuhan semua makhluk hidup termasuk manusia. DAS Bodri menyediakan suplai air permukaan melalui sungai-sungai yang ada dalam DAS, yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar. Seiring berjalannya waktu, DAS Bodri mengalami perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan air dan terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air permukaan. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mengetahui keseimbangan antara kebutuhan air di masa yang akan datang dengan ketersediaan air permukaan di DAS Bodri tahun 2040. Perhitungan keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air permukaan dilakukan dengan membandingkan antara kebutuhan air total dan ketersediaan air permukaan. Parameter kebutuhan air total terdiri dari kebutuhan air domestik, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan, perkantoran, industri, pertokoan dan pasar, warung makan, peternakan, irigasi, dan tambak. Kebutuhan air di tahun mendatang diketahui melalui proyeksi secara eksponensial dan tetap dari data jumlah dalam perhitungan parameter. Kebutuhan air untuk aktivitas domestik dan nondomestik diestimasikan mencapai 2,44 miliar m3 pada tahun 2040. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa status neraca air DAS Bodri tahun 2010-2019 mengalami defisiensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi sumberdaya air permukaan masih belum mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan air di DAS Bodri hingga tahun 2040. Abstract Water resources play an important role in meeting the needs of all living things, including humans. The Bodri watershed provides surface water supply through rivers on the watershed, which the local residents can use and utilize. Over time, the Bodri watershed underwent landuse change, which led to an increase in water demand, resulting in an imbalance between water demand and surface water availability. Calculation of the balance between demand and surface water availability is done by comparing the total water demand and the surface water availability. This study aims to determine the balance between future water demand and surface water availability in the Bodri watershed in 2040. The parameters used to determine total water demand consist of water needs of the following sectors; domestic, health facilities, educational facilities, religious facilities, offices, industry, shops and markets, food stalls, livestock, irrigation, and ponds. In the coming year, water demand is known through projections exponentially and permanently from the amount of data in the calculation of parameters. Water demand for domestic and non-domestic activities is estimated to reach 2.44 billion m3 in 2040. The water balance analysis results show that the status of the Bodri watershed water balance in 2010-2019 is deficient. The potential for surface water resources is still insufficient to meet the water needs in the Bodri watershed until 2040.  


2021 ◽  
Vol 35 (1) ◽  
pp. 75
Author(s):  
Bernadetta Indri Dwi Astuti ◽  
Agung Laksono ◽  
Dzakwan Taufiq Nur Muhammad ◽  
Intan Fatin Nurbaiti ◽  
Noverita Nur Hanifah ◽  
...  

Abstrak Pemantauan garis pantai akibat adanya proses akresi dan abrasi merupakan salah satu upaya untuk menjaga batas wilayah wilayah di Kabupaten Kendal. Lima multitemporal citra Landsat 7 ETM+ dalam periode tahun 20 tahun (2000-2020) digunakan untuk menganalisis perubahan garis pantai di Kabupaten Kendal.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan garis pantai dan menganalisis dampak serta upaya mitigasi dalam menangani perubahan garis pantai di Kabupaten Kendal. Digital Shoreline Analysis System (DSAS) digunakan untuk menganalisis perubahan garis pantai dengan metode Net Shoreline Movement (NSM), End Point Rate (EPR), dan Linear Regression Rate-of-Change (LRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tertinggi dari Linear Regression Rate-of-Change (LRR) selama periode 20 tahun adalah sebesar 50,9 m/tahun sedangkan nilai terendah sebesar -35,81 meter/tahun. Nilai rata-rata EPR dan NSM selama periode 20 tahun adalah sebesar -0,07 m/tahun dan -1,14 meter. Berdasarkan studi ini, dampak dari perubahan garis pantai yang disebabkan abrasi dan akresi adalah adanya peningkatan dan penurunan luas wilayah. Bentuk mitigasi perubahan garis pantai di Kabupaten Kendal yakni dengan pembangunan breakwater dan penanaman hutan mangrove. Abstract Monitoring shoreline change due to accretion and abrasion processes is one of the efforts to protect the maritime boundary of Kendal Regency. Five multi-temporal Landsat 7 ETM + images spanning 20 years (2000-2020) is used in the tudy for the analysis of shoreline change in Kendal Regency. This study aims to investigate the shoreline change, analyze the impact, and propose mitigation of shoreline change in Kendal Regency as well. Digital Shoreline Analysis System (DSAS) is utilized for the analysis of the shoreline change through Net Shoreline Movement (NSM), End Point Rate (EPR), and Linear Regression Rate-of-Change (LRR). The result shows that the highest value of the Linear Regression Rate (LRR) for 20 years is 50.09 m/year and the lowest value of LRR is -35.81 m/year. The average EPR and NSM are -0.07 m/years and -1.14 m. From this study, it can be observed that the impact of shoreline change induced by accretion and abrasion are the addition and subtraction of the predetermined area. The impacts can be mitigated by building breakwaters and planting mangroves.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document