Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

22
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Ngudi Waluyo

2621-1254

Author(s):  
Oktavina Permatasari ◽  
Aryanti Setyaningsih

Abstrak Perkembangan zaman pada era globalisasi dapat memberikan pengaruh pada remaja. Salah satu permasalahan yang terjadi adalah pemilihan makanan karena remaja tidak lagi didasarkan pada kandungan gizi, tetapi lebih banyak sekedar sosialisasi dengan teman sebayanya, untuk kesenangan dan agar tidak kehilangan status. Konsumsi makanan instan yang berlebihan dan jangka waktu yang lama dapat menimbulkan penimbunan zat aditif yang terkandung dalam makanan instan pada tubuh mereka, hal tersebut dapat menyebabkan status gizi pada remaja cukup beragam. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan adanya pendidikan kesehatan dan pemahaman tentang pola makan sehat dan dampak negatif yang bisa disebabkan jika konsumsi makanan instan secara berlebihan. Kegiatan ini dilaksanakan di SMK PGRI 2 Surakarta dimana di sekolah tersebut tidak menyediakan kantin sehat dan lokasi SMK yang strategis menyebabkan banyak penjual makanan instan maupun makanan yang kurang sehat di lingkungan sekolah, selain itu belum pernah dilakukan pendidikan kesehatan terkait bahaya konsumsi makanan instan. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dampak negatif konsumsi makanan instan dan membuat siswa mampu mengurangi konsumsi makanan instan berlebihan. Pre-test dan post-test dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa mengenai dampak negatif dari konsumsi makanan instan berlebihan. Metode yang dilakukan adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada siswa dengan metode ceramah dan pemberian leaflet untuk memudahkan siswa dalam memahami dampak negatif konsumsi makanan instan berlebihan. Hasil perhitungan rata-rata nilai pre-test adalah 62,5 dan setelah dilakukan pemaparan materi, rata-rata tingkat pemahaman meningkat menjadi 74,0 dengan selisih nilai pre-test dan post-test sebesar 11,50. Dapat disimpulkan pelaksanaan pendidikan kesehatan tentang dampak negatif konsumsi makanan instan berlebihan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai zat yang terkandung dalam makanan instan, dampak negatif konsumsi makanan instan berlebihan terhadap kesehatan, dan dapat meningkatkan kesadaran untuk mengurangi makanan instan. Abstract The era of globalization can influence adolescent, one problem that occurs is the selection of food because do not understand based on nutritional information but just socializing with their peers. Excessive instant foods consumption and long periods can cause the accumulation of additives contained in their bodies, which can cause nutritional status in adolescents is quite diverse. Based on these problems there is a need for health education and understanding of healthy food and the negative effect that can be caused if excessive consumption of instant foods. Education activities at SMK PGRI 2 Surakarta, because the school did not have a healthy canteen and strategic location caused many instant food sellers and unhealthy, there was never educated about the negative effect of instant food consumption. Therefore efforts should be made to increase knowledge of the negative effects of instant food consumption and make students able to reduce the consumption of excessive instant food. Pre-test and post-test were conducted to determine the level of student understanding of the negative effects of excessive instant food consumption. The method is health education explains, discussion, leaflets to facilitate students in understanding the negative effects of excessive instant food consumption. The results of the calculation of the average pre-test value were 62.5 and after health education increased to 74.0 with the difference between the pre-test and post-test values ​​of 11.50. It can be concluded that the implementation of health education about the negative effects of consumption of instant food can increase the knowledge about substances contained in instant food, the negative impact of excessive consumption of instant food on health, and can increase awareness to reduce instant food.



Author(s):  
Aini Alifatin ◽  
Ririn Harini Ririn Harini2 ◽  
Erna Retnaning Raharjeng ◽  
Bambang Kurnadi

Tanpa mencerdaskan dan memberdayakan partisipasi dan peran masyarakat, upaya kesehatan sulit memberikan perubahan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pengembangan posyandu Balita dan Lansia, peningkatan terhadap ketahanan pangan, peningkatan kesadaran masyarakat dengan kemandirian kader kesehatan, Pembuatan program reward keluarga sehat, Pembentukan sarana edukasi kesehatan melalui warung informasi, memberikan harapan penanaman nilai perilaku hidup bersih dan sehat kepada semua kalangan, adalah kegiatan utama yang dapat meningkatkan kualitas SDM dalam ketahanan kesehatan. Menjadikan tradisi konsumsi sayur melalui posyandu Balita dan Lansia, akan menanamkan pola hidup sehat bagi keluarga. Sayuran organic menjadi daya tarik karena selalu di jadikan bonus bagi peserta yang hadir. Budidaya sumber alam (sayuran organic) selain sebagai unsur peningkatan gizi keluarga, juga mendukung perekonomian dalam bentuk penyadaran mastarakat akan manfaat tanaman organic: budidaya sayuran dan tanaman organic berupa nuggetz sayur, bakso bayam, dan lain-lain. Budidaya tersebut dapat sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pelatihan packaging, penyimpanan dalam freeser dan pemasaran baik melalui media online, social media maupun menjalin networking dengan badan badan usaha di sekitar. Budidaya sumber alam (sayuran organic) dan pembentukan UMKM inilah yang akan menunjang ekonomi kesehatan keluarga. Desa Komis akan menjadi kawasan sehat, dan sentra pembangunan kesehatan serta peningkatan perekonomian warga sebagai hasil dari PKW Desa Sehat Terpadu.



Author(s):  
Aryanti Setyaningsih ◽  
Nastitie Cinintya Nurzihan

Abstrak Remaja merupakan kelompok kesehatan prima namun rentan karena mengalami perubahan perilaku berisiko sehingga akan menentukan status kesehatan pada saat dewasa. Salah satu permasalahan kesehatan yang meningkat pada remaja adalah meningkatnya penyakit tidak menular pada remaja, misalnya obesitas, hipertensi, diabetes dan hiperkolesterolemia. Remaja perlu mendapatkan pemaparan mengenai penyakit tidak menular perlu diberikan kepada remaja guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman remaja mengenai risiko, dampak, dan deteksi dini penyakit tidak menular pada remaja. Oleh karena itu, perlu diberikan pendidikan kesehatan sebagai dasar penerapan hidup sehat dan cara deteksi dini yang dapat dilakukan oleh remaja guna pencegahan penyakit tidak menular pada remaja. Kegiatan ini dilaksanakan di di SMK 2 PGRI Surakarta yang dilakukan selama 2 hari pada Bulan Juli 2019. Metode kegiatan adalah pendidikan kesehatan dan pemeriksaan komposisi tubuh dengan pengukuran indeks massa tubuh. Tiga puluh dua siswa mengikuti kegiatan ini. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan penyakit tidak menular dan kemampuan siswa dalam memahami status gizi mereka melalui pengukuran komposisi tubuh sebagai bagian dari deteksi dini penyakit tidak menular. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran peserta kegiatan dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit tidak menular remaja. Abstract Adolescents are a prime health group but are vulnerable because they experience changes in risky behavior that will determine their health status as adults. One of the increasing health problems in adolescents is the increase in non-communicable diseases in adolescents, such as obesity, hypertension, diabetes, and hypercholesterolemia. Adolescents need to get exposure to non-communicable diseases to increase awareness and understanding of the risks, impacts, and early detection of non-communicable diseases in adolescents. Therefore, it is necessary to provide health education as a basis for implementing a healthy lifestyle and early detection that can be done by adolescents to prevent non-communicable diseases in adolescents. This activity was carried out at SMK 2 PGRI Surakarta which was conducted for 2 days in July 2019. The method of the activity was health education and examination of body composition by measuring body mass index. Thirty-two students participated in this activity. Evaluation results show an increase in knowledge of non-communicable diseases and the ability of students to understand their nutritional status thro   ugh measurement of body composition as part of early detection of non-communicable diseases. Thus, it can be concluded that there is an increase in the knowledge and awareness of participant activities in the prevention of adolescent non-communicable diseases.



Author(s):  
Sigit Ambar Widyawati

Abstrak Merokok merupakan kegiatan membakar tembakau kemudian asapnya diihisap.  Kecanduan rokok bisa terjadi pada berbagai kelompok usia. konsumsi rokok di Indonesia meningkat tujuh kali lipat dari 33 milyar batang menjadi 217 milyar batang. Perokok biasanya mulai merokok sejak usia remaja. Salah satu pencegahan penyakit akibat rokok adalah pencegahan merokok pada usia muda. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan strategi penanggulangan bahaya merokok. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat ini  menggunakan  metode pendekatan Probem Solving atau gambaran mengenai kesehatan pada masyarakat dan faktor-faktor yang berpengaruh terhdap kesehatan masyarakat setempat baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hasil dalam pemberdayaan yaitu tercapainya penerapan program ktr di lingkungan kelurahan, lomba poster tema bahaya merokok, gerakan rumah bebas asap rokok “gerumbesar”, pembentukan remaja siaga rokok. Kesimpulan meningkatkan prokduktivitas kerja yang optimal, mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih, bebas dari asap rokok, menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula, dan mewujudkan generasi yang sehat. Abstract Smoking is an activity to burn tobacco and then smoke. Cigarette addiction can occur in various age groups. Cigarette consumption in Indonesia has increased seven times from 33 billion cigarettes to 217 billion cigarettes. Smokers usually start smoking since their teens. One of the prevention of diseases caused by smoking is the prevention of smoking at a young age. Community service activities aim to carry out smoking prevention strategies. This method of implementing community service uses the Probem Solving approach or a description of the health of the community and the factors that affect the health of the local community both quantitatively and qualitatively. The results in empowerment were the achievement of the implementation of the KTR program in the neighborhood, the poster competition with the theme of the dangers of smoking, the "big bang" smoke-free house movement, the formation of teen smoking standby. Conclusions improve optimal work productivity, realize healthy and clean air quality, free of cigarette smoke, reduce the number of smokers and prevent novice smokers, and create a healthy generation.



Author(s):  
Yuliaji Siswanto ◽  
Alfan Afandi

Abstrak Remaja yang mengalami hipertensi dapat terus berlanjut pada usia dewasa dan memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Salah satu faktor yang diduga sangat berperan terhadap kejadian hipertensi adalah gaya hidup yang tidak sehat, yaitu kurangnya aktifitas fisik, perilaku merokok, minum-minuman beralkohol, dan pola makan buruk yang dapat memicu obesitas.   Sampai saat ini banyak masyarakat yang beranggapan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang menyerang kelompok usia dewasa atau lanjut. Apalagi remaja, mereka menganggap tidak mempunyai masalah dan tidak menyadari arti penting mengetahui tekanan darah, bahaya penyakit hipertensi, faktor-faktor yang berkaitan dengan kejadian hipertensi dan bagaimana mengurangi kemungkinan kejadian hipertensi.  Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada remaja di SMK Bhakti Nusantara Mranggen dalam 3 tahap kegiatan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap persiapan dilakukan pengukuran karakteristik dan pengetahuan awal, selanjutnya dilakukan penyusunan materi pendidikan kesehatan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan/ceramah, diskusi, dan leaflet. Pada tahap evaluasi dilakukan pengukuran pengetahuan tahap akhir, pengukuran tekanan darah  dan dilakukan uji beda pengetahuan sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan.  Hasil pengumpulan data awal mendapatkan sepertiga responden mempunyai pengetahuan yang belum baik tentang hipertensi. Beberapa hal yang belum diketahui oleh semua remaja adalah: hipertensi tidak hanya terjadi pada lansia dan dewasa (33,3%), faktor penyebab dan pencegah hipertensi, serta tanda dan gejala hipertensi. Setelah dilakukan kegiatan berupa penyuluhan mendapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pengetahuan tentang hipertensi pada remaja sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan. Abstract Adolescents who experience hypertension can continue into adulthood and have a high risk of morbidity and mortality. One of the factors that is thought to play a major role in the incidence of hypertension is an unhealthy lifestyle, namely lack of physical activity, smoking, alcoholic, and poor diet that can trigger obesity. Until now, many people who think that hypertension is a disease that attacks the adult or advanced age group. Especially teenagers, they assume do not have a problem and do not realize the importance of knowing blood pressure, the dangers of hypertension, factors related to the incidence of hypertension and how to reduce the likelihood of hypertension.   Community service activities are carried out for teenagers at SMK Bhakti Nusantara Mranggen in 3 stages of activity, namely preparation, implementation and evaluation. In preparation stage, the characteristics and initial knowledge are measured, then the preparation of health education materials is carried out. The community service activities are carried out using counseling/lecture, discussion and leaflet methods. In the evaluation phase, the final stage of knowledge measurement, blood pressure measurement and a different knowledge test before and after health education are measured. Preliminary data collection results found that one third of respondents had poor knowledge about hypertension. Some things that are not yet known by all adolescents are: hypertension does not only occur in the elderly an adults (33,3%), causes and prevention of hypertension, as well as signs and symptoms of hypertension. After conducting activities in the form of counseling, it was faound out that there were significants differences in knowledge about hypertension among adolescents before and after the provision of health education.



Author(s):  
Kartika Dian Pertiwi

Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat walaupun telah dikendalikan lebih dari 20 tahun dengan berbagai upaya. Peran serta masyarakat sangat besar dalam upaya pengendalian sehingga pemberdayaan masyarakat penting dilakukan untuk mengurangi kejadian penyakit DBD. Pemberdayaan masyarakat akan sangat membantu pemerintah dalam menyukseskan upaya preventif DBD sehingga DBD dapat dikendalikan. Kecamatan Bergas menempati peringkat ke 3 dengan jumlah penderita demam berdarah terbanyak di Kabupaten Semarang. Desa Gebugan merupakan penyumbang penderita demam berdarah terbanyak di wilayah Kecamatan Bergas. Kompleksitas permasalahan DBD membutuhkan upaya penyelesaian yang terintegrasi, dalam hal ini pengusul melakukan program pengembangan masyarakat, dimana kegiatan ini dilakukan bersama, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat, sehingga masyarakat memiliki peran dan fungsi vital dalam lingkungannya sendiri yang disebut dengan Combat Degue. Combat Dengue ini adalah pengembangan masyarakat, dimana disini kami memberdayakan masyarakat untuk dapat secara mandiri menerapkan prinsip-prinsip PHBS yang berhubungan dengan pemberatasan sarang nyamuk DBD, serta menghimbau masyarakat melalui kader kesehatan untuk mempergunakan sumber daya local yang dapat digunakan sebagai pengusir nyamuk yang dapat memutus rantai perkembangan nyamuk DBD. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap praktik pencegahan DBD dan peningkatan ABJ di Desa Gebugan. Abstract Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is still a public health problem even though it has been controlled for more than 20 years with various efforts. Community participation is very large in the control effort so that community empowerment is important to reduce the incidence of DHF. Community empowerment will greatly help the government in the success of preventive measures so that DHF can be controlled. Bergas District is ranked 3rd with the highest number of dengue fever sufferers in Semarang Regency. Gebugan Village is the largest contributor to dengue patients in the District of Bergas. The complexity of the DHF problem requires an integrated resolution effort, in this case the proposer conducts a community development program, where this activity is carried out together, by the community, and for the community, so that the community has a vital role and function in their own environment called Combat Degue. Combat Dengue is a community development, where we empower people to be able to independently implement the PHBS principles relating to the restriction of dengue mosquito nests, and encourage the community through health cadres to use local resources that can be used as mosquito repellent that can break the chain development of DHF mosquitoes. The results of the activity showed an increase in public knowledge about the practice of preventing DHF and an increase in ABJ in Gebugan Village.



Author(s):  
Himmah Taulany ◽  
Nufitriani Kartika Dewi ◽  
Swantyka Ilham Prahesti

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi pendidik PAUD di Kecamatan Ungaran Barat yang terhimpun dalam organisasi Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah ditujukan agar membantu pendidik PAUD dalam menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan bagi anak usia dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diajukan setelah mengamati dan menganalisis permasalahan yang ada di lapangan yaitu perlunya bahan ajar dalam pendidikan kewirausahaan yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Bahan ajar yang diajukan sebagai solusi permasalahan tersebut adalah kewirausahaan dengan pendekatan mikroekonomi. Bahan ajar ini memuat konsep-konsep mikroekonomi yaitu produksi, distribusi dan konsumsi yang dikemas dalam bentuk buku. Agar sesuai dengan karakterisktik anak usia dini yang lebih menyukai informasi dalam bentuk gambar, maka buku ajar kewirausahaan anak usia dini ini menampilkan lebih banyak gambar-gambar. Bentuk kegiatan kepada masyarakat ini adalah pelatihan tentang bahan ajar kewirausahaan bagi anak usia dini dengan pendekatan mikroekonomi bagi pendidik PAUD dan pendampingan penerapan pelatihan pada anak didik di lembaga masing-masing. Hasil pelatihan adalah adanya penambahan pengetahuan dan pemahaman  pendidik PAUD tentang bahan ajar kewirausahaan bagi anak usia dini dengan pendekatan mikroekonomi dan kesiapan pendidik dalam menerapkan hasil pelatihan. Hasil akhir dari pendampingan hasil pelatihan adalah adanya peningkatan hasil belajar kewirausahaan anak dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dan peningkatan keaktifan anak dalam pembelajaran dengan demikian besar harapan tercapainya tujuan akhir dari pendidikan kewirausahaan ini yaitu tumbuhnya jiwa kewirausahaan anak sejak dini agar dapat menjadi anak bangsa yang kuat dan mampu bersaing dalam kancah kehidupan selanjutnya.



Author(s):  
Galeh Septiar Pontang ◽  
Sugeng Maryanto ◽  
Indri Mulyasari

Makanan jajanan memiliki peran penting bagi anak sekolah dalam berkontribusi terhadap asupan energi dan protein. Perilaku konsumsi makanan jajanan yang tidak sehat akan berdampak pada status gizi anak sekolah. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan dan perilaku anak sekolah dalam memilih makanan jajanan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu dengan penyuluhan dan pemberian intervensi. Penyuluhan digunakan dalam menyampaikan materi-materi gizi antara lain tentang makanan jajanan, pentingnya sarapan dan pesan gizi seimbang anak sekolah. Sedangkan pemberian intervensi berupa penyediaan makanan jajanan di kantin dengan variasi yang sebelumnya belum pernah disajikan oleh pengelola kantin. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa-siswa antusias mengikuti rangkaian kegiatan dan terdapat peningkatan pengetahuan melalui evaluasi tanya jawab. Pemberian intervensi makanan jajanan menunjukkan bahwa siswa-siswa menggemari makanan jajanan yang disajikan khususnya buah potong, jus buah dan aneka gorengan yang mengandung lauk hewani/nabati seperti arem-arem, sosis solo, tahu isi dan sarang burung. Perlu adanya kebijakan dari pengelola kantin dalam menentukan menu makanan jajanan di kantin agar makanan jajanan yang dijual mengandung zat gizi yang cukup bagi anak sekolah.



Author(s):  
Yuliaji Siswanto ◽  
Sigit Ambar Widyawati ◽  
Puji Pranowowati

The development of posyandu is the right strategy to foster child survival and development. Growth and development of toddlers who are not monitored properly and experience interference will not be repaired in the next period. In fact, only the growth of infants is monitored and evaluated continuously, but the development of children under five has not been well monitored and evaluated. The priority of the guidance program that is carried out, namely on the aspect of service quality, this service activity aims: 1) increase the knowledge of cadres about posyandu, growth and development of toddlers, as well as early detection of toddlers 'growth and development, 2) increase the cadres' ability to detect early growth and development toddler The activity was carried out with a participatory approach method, namely active involvement of the trained partners in each stage and development activities, which had been carried out through counseling, training, discussion, brain storming and mentoring. The results of service activities are increasing cadre knowledge about posyandu, growth and development of toddlers, and early detection of growth and development of toddlers; increased ability of cadres in early detection of toddler growth; the ability of cadres to provide counseling is related to nutritional status problems found in toddlers.



Author(s):  
Dian Oktianti ◽  
Sikni Retno Karminingtyas ◽  
Niken Dyahariesti

Diabetes  Mellitus merupakan penyakit degenerative yang banyak terjadi di Indonesia. Berdasarkan Profil kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2015, diabetes mellitus berada pada peringkat kedua, dengan penderita sebanyak 18,33 %.  Pada tahun  2014, penderita DM di kecamatan Ungaran Barat (Lerep) tercatat sebanyak 502 yang sebagian besar adalah penderita DM tipe 2. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit DM sehingga masyarakat melakukan pencegahan penyakit DM serta dapat menjaga kadar gula darah agar senantiasa stabil. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dalam 2 tahap, yang meliputi penyuluhan dan pemeriksaan kadar gula darah. Sebelum kegiatan peserta diberikan kuesioner sebegai pretest dan setelah kegiatan peserta mengisi kuesioner sebagai postest. Peserta yang  mengikuti kegiatan tahap 1 sebanyak 45 orang  dan pada tahap 2 sebanyak 47 orang. Hasil pretes yang dilakukan pada tahap 1, diketahui bahwa masyarakat banyak yang belum mengerti mengenai gejala, pencegahan,  pengobatannya dan pemanfaatan tanaman sebagai obat DM  Hal ini diperkuat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan setelah penyuluhan diberikan. Pada pemeriksaan 1, terdapat 7 orang peserta dengan kadar gula diatas normal dan pada pemeriksaan kedua hanya terdapat 3 orang. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai penyekit DM masih sangat kecil. Penurunan kadar gula sebelum dan setelah adanya penyuluhan belum tampak signifikan.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document