scholarly journals PENGARUH PERUBAHAN AKTIVITAS PADA KAMPUNG WISATA TERHADAP SENSE OF PLACE WARGA

BORDER ◽  
2019 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 107-122
Author(s):  
Annisa Nur Ramadhani

Program perbaikan kampung di Surabaya dinilai berhasil dalam memperbaiki perumahan dan permukiman berbasis pembangunan berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan adanya beragam pengembangan kampung wisata berbasis tematik yang memiliki nilai konservasi budaya baik tangible maupun intangible. Pengembangan kampung wisata ini memiliki tujuan positif untuk meningkatkan kesejahteraan sosio-ekonomi masyarakat kampung. Namun di sisi lain, terjadi perubahan fungsi dan makna kampung dari sebuah sistem permukiman dengan aksesibilitas sosial rendah menjadi permukiman dengan aksesibilitas yang terbuka untuk umum terutama wisatawan. Perubahan aktivitas ini juga dapat mempengaruhi persepsi sense of place masyarakat yang tinggal di dalam kampung tersebut. Strategi penelitian ini menggunakan mixed method yakni menggabungkan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif melalui kuisioner yang dianalisis dengan teknik cross tabulation dan data kualitatif dengan kajian pustaka dan in depth interview yang selanjutnya ditriangulasikan untuk mendapatkan kesimpulan akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif pengembangan kampung wisata terhadap peningkatan persepsi sense of place masyarakat ditinjau dari aspek aktivitas. Sense of place sendiri erat kaitannya dengan tingkat partisipasi masyarakat dan keberlanjutan dalam pembangunan kampung. Sehingga penelitian ini memiliki kontribusi penting untuk pengembangan teori sense of place yang dapat menjadi arahan bagi trilogi pembangunan permukiman seperti pemerintah, pihak swasta dan masyarakat setempat dalam menentukan konsep pengembangan kampung wisata yang berkelanjutan, khususnya di Kota Surabaya.


2016 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 209
Author(s):  
Dwi Wulan Pujiriyani ◽  
Sri Suharyono ◽  
Ibnul Hayat ◽  
Fatimah Azzahra

Abstract : Nowadays, regeneration crisis of manpower for farming has become an alert for many countries, both poor and developing countries. In Indonesia, this crisis is seen in the decreasing number of agriculture labour, especially for the youth age. Cikarawang is one of many villages which experienced crises of youth employments in farming sector. This research was aimed to explore possible aspects for the youth to allow them remain working in farming sector. Bonding and pushing factors for the youth to remain working in farming sector are the main aspects that were focused in this research. This research used the concept of “gerontocracy and land access for the youth” by Ben White. This research was conducted using mixed method, by integrating quantitative and qualitative approaches. Qualitative approach was performed by observation and an in-depth interview. Quantitative approach was conducted by implementing survey of 40 youths in Cikarawang Village as respondents, with the age of 16 – 35 as the samples. Qualitative data were analysed using Nvivo, while quantitative data were analysed using cross tabulation technique. The results show that land possession, farming skill and marital status were the main factors for the youth to remain working in farming sector. Whilst, factors that eliminates the youth to leave agricultural sector were education and the capabilities of non-farming skills. Keywords : Youth, Farming, Land Possession, Gerontocracy, Regeneration, laborIntisari : Krisis regenerasi tenaga pertanian menjadi persoalan di banyak negara saat ini, baik negara-negara miskin maupun negara berkembang. Dalam konteks Indonesia, krisis regenerasi tenaga pertanian di desa secara nyata terlihat dari penurunan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian yang terjadi pada kelompok umur pemuda. Cikarawang merupakan salah satu desa yang mengalami krisis tenaga muda di sektor pertanian. Penelitian ini diarahkan untuk menggali aspek yang memungkinkan pemuda untuk tetap tinggal dan terjun di sektor pertanian. Aspek-aspek ini secara khusus difokuskan pada faktor pengikat dan pendorong bagi pemuda untuk bertahan di sektor pertanian. Perspektif teori yang digunakan dalam tulisan ini adalah konsep gerontokrasi dan akses lahan untuk pemuda dari Ben White. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode campuran yaitu dengan mengintegrasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan menggunakan observasi dan metode wawancara mendalam terhadap informan. Sementara itu, pendekatan kuantitatif dilakukan melalui survei dengan mengambil 40 responden berusia 16-35 tahun sebagai sampel dari seluruh pemuda di Desa Cikarawang. Teknik analisa data dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan Nvivo dan kuantitatif dengan menggunakan tabulasi silang. Hasil Penelitian menunjukan bahwa kepemilikan lahan, keahlian bertani, dan status perkawinan adalah faktor yang mengikat pemuda untuk bertahan di sektor pertanian. Sementara itu faktor yang mendorong pemuda untuk keluar dari sektor pertanian adalah pendidikan dan keahlian non pertanian. Kata Kunci: pemuda, pertanian, kepemilikan lahan, gerontokrasi, regenerasi, tenaga kerja



2019 ◽  
Vol 13 (2) ◽  
pp. 379
Author(s):  
Astri Hanjarwati ◽  
Jamil Suprihatiningrum ◽  
Siti Aminah

 This research was conducted to investigate the perceptions of persons with disabilities and stakeholders regarding the promotion and development of Friendly and Inclusive Communities in Bantul Regency, DIY and Kendari City, Southeast Sulawesi. The study was designed using transformative mixed-method, with the framework of KIPA (Knowledge, Inclusion, Participation, and Access) as a theoretical framework core. The first step was carried out by an empirical survey through distributing questionnaires to 48 respondents in Bantul Regency and 52 respondents in Kendari City. The results of data analysis from questionnaire contents were processed through descriptive statistics to describe respondents' perceptions quantitatively. Quantitative results are used as a reference in qualitative data collection, namely through in-depth interviews with selected respondents. The results of the study show that both persons with disabilities and stakeholders have a positive perception of the promotion and development of a friendly and inclusive community in their area. Although knowledge about disability, inclusion and the issues that surround it is still limited, but both persons with disabilities and stakeholders claim the need for a Friendly and Inclusive Community to be realized. Repondents of persons with disabilities also added that participation and access to development by and for persons with disabilities needs to be improved both in terms of quantity and quality.Penelitian ini dilakukan untuk menginvestigasi persepsi penyandang disabilitas dan stakeholders mengenai promosi dan pengembangan Komunitas Ramah dan Inklusif di Kabupaten Bantul, DIY dan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Penelitian didesain menggunakan transformative mixed-method, dengan kerangka KIPA (Knowledge, Inclusion, Participation, and Access) sebagai core theoretical framework. Langkah pertama dilakukan dengan survey empiris melalui penyebaran kuesioner kepada 48 responden di Kabupaten Bantul dan 52 responden di Kota Kendari. Hasil analisis data dari isian kuesioner diolah melalui statistik deskriptif untuk menggambarkan persepsi responden secara kuantitatif. Hasil kuantitatif dijadikan sebagai rujukan dalam pengambilan data secara kualitatif, yaitu melalui in-depth interview kepada responden terpilih. Hasil penelitian menunjukkan baik penyandang disabilitas maupun stakeholders memiliki persepsi yang positif terhadap promosi dan pengembangan Komunitas Ramah dan Inklusif di daerah mereka. Meskipun pengetahuan mengenai disabilitas, inklusi dan isu-isu yang melingkupinya masih terbatas, namun baik penyandang disabiltias dan stakeholders mengaku perlunya Komunitas Ramah dan Inklusif untuk diwujudkan. Reponden penyandang disabilitas juga menambahkan bahwa partisipasi dan akses pembangunan oleh dan untuk penyandang disabilitas perlu ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas.   



Author(s):  
Relevancis Krista Zagoto ◽  
Mangatas Silaen ◽  
Ivansri Marsaulina Panjaitan

Sexual behavior is any behavior that is driven by sexual desire, whether done alone, with the opposite sex or of the same sex, from feeling attracted, dating, flirting, and having sex. Dating status and sexual behavior are closely related. The increasing age of dating adolescents has an impact on increasing opportunities for sexual behavior. This study aimed to analyze the effect of dating status on sexual behavior in Grade XI at SMA XYZ Medan in 2020.This research was mixed method. The population was 413 adolescents, the sample used accidental sampling technique. For quantitative, there are 80 teenagers, including 39 boys and 41 girls. And 6 qualitative informants including teenagers who are dating, peers and teachers. Quantitative data were analyzed by using statistical tests with univariate, bivariate and triangulation. The results showed that the cross-tabulation value of the effect of dating status on sexual behavior in adolescents was p (0.000) <α (.05). There was an effect of dating status on sexual behavior in adolescents. Based on the qualitative results, the key informants stated that they were dating and had committed various sexual behaviors with their boyfriends, while the supporting informants, namely peers, stated that they were close friends with the key informants, knew the dating status and had seen sexual behavior carried out by the key informants.The conclusion that sexual behavior in adolescents at SMA XYZ was found. It is hoped that adolescents will maintain a friendly environment in social interactions and be more active in positive activities, so that unbeneficial activities such as those related to dating and sexual behavior can be avoided.



2016 ◽  
Vol 78 (5) ◽  
Author(s):  
Bambang Karsono ◽  
Deni Deni ◽  
Cut Azmah Fithri

Physical modifications in urban environment can change the meaning of place, whether positive or negatively. Relationship between physical features and activities in urban environment can create functional dependencies and emotional feeling to place. Functional and emotional pattern in a place will influence the level of place attachment. Considering this issue, the research focused to assess the pattern of functional and emotional attachment in Malacca Riverfront Promenade (MRP), a popular urban space corridor along theMalaccaRiverwell-known as the historic promenade corridor located inMalacca,Malaysia. Mixed method is used to identify the pattern of attachment. Questionnaires were directed to 165 respondents and in depth interview were done to 18 street vendors and shop owner. Observation through photographic and written documents of physical features and activities were executed. The findings indicate that the pattern of functional and emotional arises from several indicators which are important for maintain the place attachment.



Proyeksi ◽  
2021 ◽  
Vol 16 (1) ◽  
pp. 72
Author(s):  
Dewi Puspita Sari

Latar belakang dari penelitian ini yaitu kurangnya kesadaran individu terhadap kepatuhan terhadap pemutusan mata rantai covid-19 dapat mengakibatkan mengalami kenaikan jumlah pasien yang terpapar. Jika penanganan tidak maksimal dan masyarakat belum sepenuhnya mematuhi anjuran keras untuk stay at home (WFH) dan menjaga jarak sosial (social distancing), virus corona akan terus meluas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi hubungan antara illness representation dengan kepatuhan mengikuti anjuran pemerintah dalam rangka memutus rantai pandemi covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method, dimana peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dan metode kualitatif untuk mengukur responden. Responden dalam penelitian ini sebanyak 244 responden, yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Ada dua skala yang digunakan untuk mengukur penelitian ini yaitu, skala kepatuhan dan skala IPQ-R. Teknik analisa data yang dipakai adalah teknik korelasi� purposive sampling dan observasi serta depth interview dengan pendekatan fenomenologis. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif signifikan antara nilai r = 0,260 dan p<0,01, yang berarti bahwa adanya hubungan positif signifikan antara illness representation dengan kepatuhan� mengikuti anjuran pemerintah dalam rangka memutus mata rantai coronavirus disease 2019 (covid-19). Penelitian ini memiliki implikasi teoritis adalah sebagai pengembangan pengetahuan psikologis mengenai virus covid-19 dan pengembangan factor-faktor yang lain memengaruhi illness representation dan kepatuhan mengikuti anjuran pemerintah. Selain implikasi teoritis, implikasi praktis dalam penelitian ini adalah membantu mengedukasi masyarakat agar lebih mematuhi anjuran dari pemerintah terkait pemutusan mata rantai pandemic Covid-19.�



2021 ◽  
Vol 9 (1) ◽  
Author(s):  
Hilda Carmitha Panjaitan ◽  
Theresia Pratiwi Elingsetyo Sanubari ◽  
Fiane De Fretes

The earthquake occurring in Indonesia caused various problems, especially the decreased degree of human health caused by insufficient food availability. It makes victims of natural disasters need assistance from government programs. One case of a natural disaster in 2018 was an earthquake in Central Sulawesi. Unfortunately, disaster survival has the challenge to continue their living caused by program absences from the government in post-disaster. This study aimed to explore disaster survival's resilience after one year of the earthquake disaster in Sidera village, Sigi regency, in response to government programs, especially nutrition, sanitation, and food fulfillment response. This research used mixed-method approaches with a cross-sectional design. Data collection was done with questionnaires, in-depth interviews, and anthropometric measurements. The study was conducted from February to April 2020 with 30 refugees in the temporary shelter in Sidera village as respondents. The study results found that people still need to initiate countermeasures related to sanitation and fulfillment of food. Government programs in health services produce good conditions related to normal nutritional status at the age of 5 years (40%), 5–18 years (100%), and 18 years (41%). The conclusion is that the government program is not sustainable, which makes the community still need to initiate countermeasures related to sanitation and food fulfillment. The program recommendations are to ensure clean water availability and guide the community to fulfill their food need. TANGGAPAN SIGI TERHADAP PROGRAM BENCANA: GIZI, SANITASI, DAN PEMENUHAN PANGANGempa bumi yang terjadi di Indonesia menyebabkan berbagai masalah, secara khusus penurunan derajat kesehatan manusia dikarenakan oleh ketersediaan pangan yang tidak tercukupi. Hal tersebut membuat korban bencana alam membutuhkan bantuan dari program pemerintah. Salah satu kasus bencana alam tahun 2018 adalah gempa bumi di Sulawesi Tengah. Namun, hingga pascabencana, korban bencana alam masih tinggal di pengungsian tanpa program. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi daya lenting pengungsi pasca-satu tahun bencana gempa bumi di Desa Sidera, Kabupaten Sigi sebagai tanggapan dari program pemerintah khususnya gizi, air bersih, dan pemenuhan pangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan desain cross-sectional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner, in depth interview, serta pengukuran antropometri. Penelitian dilakukan pada 30 responden yang merupakan pengungsi di hunian sementara (huntara) Desa Sidera. Penelitian dilakukan selama bulan Februari hingga April 2020. Hasil penelitian menemukan bahwa masyarakat masih perlu melakukan inisiasi penanggulangan terkait air bersih dan pemenuhan pangan. Program pemerintah terkait pelayanan kesehatan menghasilkan kondisi yang baik terkait status gizi normal pada usia ≤5 tahun (40%), 5–18 tahun (100%), dan ≥18 tahun (41%). Simpulan dari penelitian ini adalah program pemerintah tidak memiliki keberlanjutan, hal tersebut membuat masyarakat masih perlu melakukan inisiasi penanggulangan terkait air bersih dan pemenuhan pangan. Rekomendasi program yang dapat diberikan adalah ketersediaan air bersih serta pemantauan program dalam membimbing masyarakat agar dapat memenuhi kebutuhan pangan.



2016 ◽  
Vol 15 (2) ◽  
Author(s):  
Zulfiani Zulfiani ◽  
Yanti Herlanti ◽  
Ahmad Sofyan

This study aims to find a collaborative assistance model of Classroom Action Research between universitiy and school (CAR Collaborative). Research was done at Biology Education Departement UIN Syarif Hidayatullah partner schools that located in South Jakarta, Bogor, and South Tangerang. Research have done for 10 months in February  to November 2015. The Mixed Method was used in this reserach. Some instrument for data collecting are questionnaire, depth interview guide, and note field. The results showed three  CAR assistance models of collaboration i.e Model I (dominant teachers-oriented), Model II (moderate-teacher oriented), and Model III (resesive teacher-oriented). Model I teacher and  lecturers do PTK, students act as observer, Model II, student and teacher think the problem solving in class, teacher implemented the solution and student observed, lecture did monitoring and guiding. Model III, teacher and students or only student formulating the solving of problem in the class, student applied the solution, teachers and lectures did monitoring and guiding. Lecturers, students and teachers positively response to the implementation of the CAR collaboration, but Expert judgment showed Model II as ideal model for collaboration between university and school. 



2020 ◽  
Vol 1 (5) ◽  
pp. 418-429
Author(s):  
Roby Christian Hutasoit
Keyword(s):  

Pengkajian ”Evaluasi Layanan Kesehatan bagi Narapidana, Tahanan, dan Anak Didik Pemasyarakatan” bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai Pelaksanaan Layanan Kesehatan pada Rumah Tahanan Negara, Lembaga Pemasyarakatan, dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak serta untuk mengetahui koordinasi dengan instansi terkait dalam pelaksanaan layanan kesehatan pada Rumah Tahanan Negara, Lembaga Pemasyarakatan, dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Kajian ini dilaksanakan pada tahun 2018 dengan lokus di Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode mixed method. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner survei, studi pustaka dan wawancara mendalam (in-depth interview). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan kesehatan baik pelayanan kesehatan promotif; pelayanan kesehatan preventif; dan pelayanan kesehatan kuratif; maupun pelayanan kesehatan rehabilitatif sudah dilakukan dengan baik terbukti dengan kepuasan penerima pelayanan kesehatan tahanan, narapidana, dan anak didik pemasyarakatan. Hal yang harus diperhatikan adalah keterbatasan sarana dan prasarana pada Unit Teknis Pemasyarakatan begitu juga dengan ketersediaan obat-obatan. Klinik kesehatan baik pada Lembaga Pemasyarakatan maupun Rumah Tahanan Negara di daerah belum memiliki sumber daya manusia kesehatan seperti dokter, dokter gigi, apoteker dan izin praktik dokter serta klinik tersebut belum memiliki izin. Hal lain yang juga harus mendapat perhatian adalah masih banyaknya tahanan, narapidana, dan anak didik pemasyarakatan yang belum memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) sehingga menyulitkan ketika tahanan, narapidana dan anak didik pemasyarakatan sakit dan di rujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang lebih intensif. Pola koordinasi yang dilakukan selama ini adalah hasil kreativitas dari pimpinan di daerah dengan instansi terkait dibidang pelayanan kesehatan terutama untuk mendapatkan obat.Rekomendasi yang dapat diberikan untuk jangka pendek antara lain adalah agar Direktorat Jenderal Pemasyarakatan membuat Surat Keputusan Bersama antara Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Sosial RI tentang Pelayanan Kesehatan Bagi Tahanan dan Narapidana. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan juga perlu meningkatkan sarana dan prasarana pada klinik kesehatan di semua Unit Teknis Pemasyarakatan baik Lembaga Pemasyarakatan maupun Rumah Tahanan Negara terutama terkait pengadaan obat-obatan, dan juga ambulance. Selain itu, Para medis yang ada di Unit Teknis Pemasyarakatan baik Lembaga Pemasyarakatan maupun Rumah Tahanan Negara secara periodik agar memberikan sosialisasi layanan kesehatan kepada tahanan, narapidana dan anak didik pemasyarakatan untuk meningkatkan pemahaman mereka terkait dengan layanan kesehatan.



2021 ◽  
Vol 8 (1) ◽  
pp. 267-276
Author(s):  
Bosu Seo ◽  
Krystal Lowney

This paper explores Syrian refugees’ experience in terms of settlement and participation in Canadian labour market. It discusses the findings of research on labour market integration in Canada of racialized immigrants and refugees, as well as the state of economic insecurity among newcomers, to identify systemic patterns of discrimination and policy implications. A mixed method approach with in-depth interview and questionnaire surveys were used for an analysis. Long-term benefit, second-generation success, and reliance on government support were commonly observed. Language barrier, lack of host country’s experience, and lack of transportation were cited as common barriers to employment. This research confirms that there is no uniform process for refugees entering into a host country. Canadian government needs to create a structured program to be implemented in each province and deliver the same process for every refugee entering.



2020 ◽  
Vol 12 (8) ◽  
pp. 3211
Author(s):  
Andrés Ried ◽  
María Jesús Monteagudo ◽  
Pelayo Benavides ◽  
Anne Le Bon ◽  
Stephanie Carmody ◽  
...  

The main objective of this research was to contribute to the understanding of leisure experiences in protected wilderness areas. This was pursued through the interpretation and analysis of three variables; the personal notion of “Nature”, perception of benefits, and senses of place put forward by resident and non-resident visitors to three protected wilderness areas in southern Chile. Through a post hoc qualitative, in-depth interview with 36 subjects, connections between the aforementioned variables were established. Among the results, the strength with which the romantic notion of Nature appears linked with leisure experiences was highlighted. With the latter, leisure experiences in protected wilderness areas were identified as the generators of “benefits” and “sense of place”. Finally, four key dimensions of leisure experiences in protected wilderness areas emerged: transcendence, perception of well-being, connection and environmental awareness.



Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document