Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

135
(FIVE YEARS 58)

H-INDEX

2
(FIVE YEARS 1)

Published By Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (Bppt)

2549-1121, 1411-4887

2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 85-94
Author(s):  
Rini Mariana Sibarani ◽  
Halda Aditya Belgaman ◽  
Ibnu Athoillah ◽  
Samba Wirahma

Intisari Selama ini Jakarta dikenal dengan kota berpolusi dengan indeks pencemaran udara yang cukup tinggi. Salah satu penyebab pencemaran udara adalah polutan partikulat (PM2.5) dan gas CO yang berasal dari pembakaran tidak sempurna. Pada masa pandemi Covid-19, pemerintah menerapkan  kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan jumlah penularan virus Covid-19. Jakarta Pusat sebagai salah satu kota yang melaksanakan kebijakan PPKM mewajibkan perkantoran yang ada untuk menerapkan Work From Home (WFH). Jumlah konsentrasi polusi udara PM2.5 pada periode WFH Maret 2020 tidak jauh berbeda dibandingkan lima tahun sebelumnya. Sedangkan konsentrasi CO pada periode yang sama mengalami penurunan dibandingkan lima tahun sebelumnya. Hasil analisis hubungan antara pengaruh parameter cuaca dengan konsentrasi polutan menunjukkan pengaruh parameter cuaca kurang signifikan terhadap konsentrasi PM2.5 dan gas CO. Nilai R-Square adj antara beberapa parameter cuaca terhadap konsentrasi PM2.5 dan konsentrasi CO cukup kecil. Hal ini menunjukkan bahwa pengurangan nilai konsentrasi PM2.5 dan gas CO bukan dipengaruhi oleh parameter cuaca. Faktor lain yang diduga memengaruhi konsentrasi PM2.5 dan gas CO adalah kegiatan manusia seperti WFH sehingga terjadi pengurangan aktivitas masyarakat untuk pergi ke kantor. Abstract Jakarta is known as a polluted city with a high air pollution index. One of the air pollution causes is particulate pollutants (PM2.5) and CO from incomplete combustion. During the Covid-19 pandemic, the government implemented a policy of Community Activity Restrictions, known as PPKM, to reduce the number of transmissions of the Covid-19. As one of the cities implementing the PPKM policy, Central Jakarta requires offices to implement Work From Home (WFH). The total PM2.5 air pollution concentration in the March 2020 WFH period was not much different from the previous five years. However, the CO concentration in the same period decreased compared to the last five years. Relationship analysis between the influence of weather parameters and pollutant concentrations shows that weather parameters are less significant on PM2.5 and CO concentration. The R-Square adj between several weather parameters on the concentration of PM2.5 and the concentration of CO is small. It means that weather parameters do not influence the reduction in the concentration of PM2.5 and CO. It is assumed that the PM2.5 and CO concentrations decreased due to fewer human activities in the office and public areas.


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 41-49
Author(s):  
Siti Najma Nindya Utami ◽  
Rista Hernandi Virgianto ◽  
Dzikrullah Akbar

Intisari Kekeringan merupakan bencana kompleks yang dapat menyebabkan kerugian masyarakat di berbagai sektor. Salah satu wilayah yang berisiko tinggi mengalami kekeringan adalah Pulau Lombok. Wilayah ini memiliki lahan yang berisiko terkena kekeringan seluas 405.985 ha. Tingkat keparahan kekeringan meteorologis dapat diukur dengan Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI). Salah satu karakteristik kekeringan adalah kondisi vegetasi tanaman yang buruk, oleh karena itu Standardized Vegetation Index (SVI) digunakan sebagai acuan dalam monitoring kekeringan agrikultural. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara SPEI dengan SVI untuk setiap pos hujan di Pulau Lombok tahun 2001-2018. Penelitian ini menggunakan data bulanan tahun 2001-2018 yang meliputi data observasi curah hujan, suhu maksimum, suhu minimum, penginderaan jauh Normalized Differences Vegetation Index (NDVI) dengan resolusi 0,05°, model FLDAS kecepatan angin yang juga didapatkan dengan resolusi 0,5°, lama penyinaran matahari, lintang, dan elevasi. Metode yang digunakan yaitu menghitung indeks kekeringan SPEI dan SVI, kemudian menghitung korelasi dan signifikansi untuk kedua indeks kekeringan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa SPEI1 lebih tinggi berkorelasi dengan SVI+1 dengan kategori cukup kuat. Untuk SPEI3, SPEI6, dan SPEI12 berkorelasi cukup kuat hingga kuat dengan SVI0. Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan jangka panjang akan langsung mempengaruhi kekeringan agrikultural atau kekeringan vegetasi saat itu juga. Nilai korelasi yang lebih tinggi untuk setiap indeks tersebar di pos hujan yang terletak di tengah-tengah Pulau Lombok, karena pengaruh kondisi geografis dan demografis Abstract Drought is a complex disaster because it can cause loss to society in various sectors. One of the high-risk areas of drought is Lombok Island. This area has 405,985 ha of drought risk. The severity of meteorological drought can be measured by the Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI). One of the characteristics of drought is the poor condition of plant vegetation, therefore the Standardized Vegetation Index (SVI) is used as a reference in monitoring agricultural drought. This study aims to determine the relationship of SPEI with SVI for each rainfall post in Lombok Island from 2001-2018. This study uses monthly data from 2001-2018, including observation data of rainfall, maximum temperature, minimum temperature, remote sensing Normalized Differences Vegetation Index (NDVI) 0.05 °, FLDAS model of wind speed 0.5 °, length of the day, latitude, and elevation. The use method is to calculate SPEI and SVI, then calculate the correlation and significance for the two drought indices. The result shows that SPEI1 is higher in correlation with SVI+1, which is in a strong enough category. For SPEI3, SPEI6, and SPEI12, the correlation is strong enough to strong with SVI0. This suggests that long-term drought will directly affect agricultural drought or immediate vegetation drought. The higher correlation values ??for each index are spread over the rain posts located in the middle of Lombok Island because geographic and demographic conditions influence them.  


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 51-59
Author(s):  
Adikusuma Bimaprawira ◽  
Hasti Amrih Rejeki

Intisari Jawa Timur merupakan wilayah yang memiliki variasi curah hujan yang dipengaruhi oleh fenomena cuaca global dan regional seperti Dipole Mode, El Nino Southern Oscillation (ENSO), Intertropical Convergence Zone, Madden Julian Oscillation, dan monsun. Topografi yang beragam juga menjadi faktor yang memengaruhi curah hujan di daerah Jawa Timur. Berbagai indeks digunakan untuk melihat aktivitas-aktivitas fenomena cuaca tersebut, seperti DMI untuk aktivitas Dipole Mode, NINO 3.4 untuk aktivitas ENSO, Indeks RMM untuk aktivitas MJO, WNPMI dan, AUSMI untuk aktivitas monsun. Pada penelitian ini digunakan analisis spektral dengan menggunakan metode Fast Fourier Transform untuk melihat periodisitas indeks masing-masing terhadap periodisitas curah hujan dari data 11 pos hujan yang terbagi menjadi 6 pos hujan daerah pesisir dan 5 pos hujan daerah pegunungan. Hasil dari penyeragaman periodisitas fenomena cuaca dengan curah hujan antara lain Dipole Mode (periodisitas 18 bulan), ENSO (periodisitas 18 dan 40 bulan), dan MJO (periodisitas 2 dan 3 bulan). Fenomena yang memengaruhi curah hujan di daerah pesisir maupun pegunungan secara dominan adalah fenomena monsun dengan diikuti ITCZ. Fenomena lain yang memengaruhi di daerah pesisir antara lain dominan MJO, serta fenomena ENSO dan Dipole Mode yang memengaruhi daerah Lamongan, Bunder, dan P3GI dengan kecenderungan lebih kuat pada fenomena Dipole Mode. Sementara itu, fenomena yang memengaruhi hujan di daerah pegunungan secara dominan adalah ENSO. Adapun fenomena lain yang memengaruhi hujan di daerah pegunungan antara lain fenomena MJO di daerah Tosari, serta daerah Kebon Teh Wonosari yang memiliki kecenderungan dipengaruhi oleh fenomena Dipole Mode meskipun pengaruhnya tidak signifikan.   Abstract East Java is a region whose variations in rainfall are influenced by global and regional weather phenomena such as Dipole Mode, El Niño Southern Oscillation (ENSO), Intertropical Convergence Zone, Madden Julian Oscillation, and monsoons. Diverse topography is also a factor affecting rainfall in the area of East Java. Various indices are used to observe the activities of the weather phenomenon, such as DMI for Dipole Mode activities, NINO 3.4 for ENSO activities, RMM Index for MJO activities, as well as WNPMI and AUSMI for monsoon activities. In this study, spectral analysis was used by utilizing the Fast Fourier Transform method to see the periodicity of each index against the periodicity of rainfall from the 11 rainwater data points, which were divided into 6 coastal data points and 5 mountainous data points. Uniformity of weather phenomena with rainfall result among others Dipole Mode (18 months periodicity), ENSO (18 and 40-month periodicity), and MJO (2 and 3-month periodicity). Phenomena that affect rainfall in coastal and mountainous areas predominantly are monsoon, followed by ITCZ. Other phenomena affecting the coastal area include MJO dominant, and the ENSO and Dipole Mode phenomena that affect the Lamongan, Bunder, and P3GI regions with a stronger tendency to the Dipole Mode phenomenon. Another phenomenon that influences rain in the mountainous area is dominantly ENSO, while other phenomena include MJO phenomena in the Tosari area and Kebon Teh Wonosari region which has a tendency to be influenced by the Dipole Mode phenomenon despite the insignificant effect.


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 61-70
Author(s):  
Adi Mulsandi ◽  
Ardhasena Sopaheluwakan ◽  
Akhmad Faqih ◽  
Rahmat Hidayat ◽  
Yonny Koesmaryono

Intisari Iklim di wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas monsun Asia-Australia. Variabilitas kedua sistem monsun tersebut dapat direpresentasikan dengan baik masing-masing oleh indeks monsun Australian Summer Monsoon Index (AUSMI) dan Western North Pacific Monsoon Index (WNPMI). Saat ini, BMKG secara operasional menggunakan indeks AUSMI dan WNPMI untuk memonitor aktivitas monsun di wilayah Indonesia sebagai bahan prakiraan musim. Meskipun banyak literatur menyatakan bahwa wilayah Indonesia merupakan bagian dari sistem monsun Asia-Australia, namun kondisi topografi lokal yang kompleks berpotensi memodifikasi sirkulasi monsun sehingga perlu dikaji performa kedua indeks tersebut sebelum digunakan secara operasional. Penelitian ini dilakukan untuk menguji performa indeks monsun AUSMI dan WNPMI dalam menggambarkan variasi antartahunan (interannual), variasi dalam musim (intraseasonal), dan siklus tahunan (annual cycle) hujan monsun Indonesia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kedua indeks memiliki performa yang sangat baik hanya di wilayah dimana indeks tersebut didefinisikan namun kurang baik untuk wilayah Indonesia seperti yang ditunjukan oleh nilai koefisien korelasi yang tidak signifikan dari hasil uji statistik antara kedua indeks dengan curah hujan dari Global Precipitation Climatology Project (GPCP) pada periode 1981-2010. Selain itu, kedua indeks juga memperlihatkan karakteristik siklus tahunan yang berbeda dengan karakteristik siklus tahunan hujan wilayah Jawa sebagai wilayah kunci monsun Indonesia. Hasil ini mengindikasikan perlunya pendefinisian indeks sendiri untuk memonitor aktivitas monsun di wilayah Indonesia.    Abstract  The climate of Indonesia is strongly affected by the Asian-Australian monsoon system. The variability of the two monsoon systems can be well represented by the Western North Pacific Monsoon Index (WNPMI) and the Australian Summer Monsoon Index (AUSMI) respectively. For producing seasonal forecast, BMKG uses the WNPMI and AUSMI monsoon index to monitor monsoon activity in Indonesia. Although most literature states that the Indonesian region is part of the Asian-Australian monsoon system, the complex local topography may modify the monsoon circulation. Hence, it is necessary to assess the performance of the two indices before they are operationally used. This study was conducted to evaluate the performance of the AUSMI and WNPMI monsoon indices in describing the annual cycle, intraseasonal and interannual variability of the Indonesian monsoon rainfall. The results revealed that the two indices only performed very well in the areas where the index was defined but lack of skill for the Indonesian region because of insignificant linear correlation based on a statistical significance test between the two indices and the Global Precipitation Climatology Project (GPCP) rainfall in the 1981-2010 period. In addition, both monsoon indices and Java rainfall showed different characteristics of the annual cycle. These results indicate that it is necessary to define a specific index for monitoring monsoon activity in Indonesia.


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 71-84
Author(s):  
Sindy Maharani ◽  
Hasti Amrih Rejeki

Intisari Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan osilasi gelombang submusiman di wilayah tropis yang berpropagasi ke arah timur dari Samudera Hindia melewati Benua Maritim Indonesia (BMI) hingga Samudera Pasifik. Propagasi MJO dapat meningkatkan konvektivitas dan curah hujan pada wilayah yang dilewatinya. Lampung merupakan salah satu wilayah di BMI bagian barat yang berbatasan dengan Samudera Hindia sebagai tempat awal kemunculan MJO. Posisi Lampung tersebut menyebabkan perbedaan insolasi antara daratan dan lautan secara diurnal sehingga siklus diurnal ikut berperan dalam pembentukan cuaca. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh propagasi MJO dari Fase 3-5 pada tahun 2018 terhadap siklus diurnal dinamika atmosfer dan curah hujan di Lampung. Siklus diurnal dianalisis dengan membagi empat periode waktu yaitu dini hari (00.00-06.00 LT), pagi hari (06.00-12.00 LT), siang hari (12.00-18.00 LT) dan malam hari (18.00-00.00 LT). Berdasarkan rata-rata komposit data Reanalysis ECMWF, GSMaP, dan curah hujan observasi didapatkan bahwa selama penjalarannya MJO menguat ketika Fase 3-4 dan melemah ketika Fase 5. Secara diurnal konvektivitas yang kuat dan curah hujan tinggi terjadi di perairan pada dini hari hingga pagi hari, di daerah pesisir pada siang hari, dan di daratan pada malam hari yang meningkat dari Fase 3-4 dan melemah pada Fase 5. Hujan menjalar dari Lampung bagian barat menuju Lampung bagian tengah dengan jeda waktu selama 2-5 jam ketika Fase 3, 4-7 jam ketika Fase 4, dan 1-2 jam ketika Fase 5. Pada Fase 3-5 hujan terjadi di Lampung bagian timur dengan perbedaan waktu 1-3 jam dari Lampung bagian tengah.   Abstract Madden Julian oscillation (MJO) is a sub-seasonal wave oscillation in the tropics that propagates eastward from the Indian Ocean through the Indonesian Maritime Continent (IMC) until the Pacific Ocean. MJO propagation can increase convective and rainfall in the regions it passes. Lampung is one of the regions in the western IMC which near the Indian Ocean for the MJO first appeared. The Lampung position causes different insolation between land and sea diurnally, so the diurnal cycles play an important role in weather formation. Therefore, this study aims to determine the effect of MJO propagation phases 3-5 in 2018 on the diurnal cycle of atmospheric dynamics and rainfall in Lampung. The diurnal cycle was analyzed by dividing four periods of time, in the early morning (00-06 LT), morning (06-12 LT), afternoon (12-18 LT), and night (18-00 LT). Based on the average composite of ECMWF, GSMaP, and precipitation observations data were obtained that propagation MJO strengthens during phase 3-4 and weakens during phase 5. Diurnal strong convective and high rainfall occur in the oceans from early morning to morning, in coastal during the day, and on land at night which increases from phase 3-4 and weakens in phase 5. Rain propagates from western Lampung to central Lampung with a time lag of 2-5 hours during phase 3, 4-7 hours when phases 4, and 1 -2 hours during phase 5. In the 3-5 phase, rain occurs in eastern Lampung with a time difference of 1-3 hours from central Lampung.  


2021 ◽  
Vol 22 (1) ◽  
pp. 25-33
Author(s):  
Ni Putu Tiana Verayanti ◽  
I Kadek Nova Arta Kusuma

Intisari Turbulensi yang dialami oleh pesawat komersial rute Jakarta-Medan telah dilaporkan mengalami Clear Air Turbulence (CAT) di atas Sumatera Utara pada tanggal 24 Oktober 2017. Namun berdasarkan data citra satelit Himawari dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia menyebutkan bahwa di sekitar lokasi turbulensi terdapat awan kumulonimbus. Penelitian ini memanfaatkan model WRF-ARW dengan resolusi spasial dan temporal tinggi untuk mengetahui secara detail proses yang terjadi pada awan konvektif penyebab Near Cloud Turbulence (NCT). Turbulensi tersebut disebabkan oleh bilangan Richardson rendah yang terbentuk di wilayah udara jernih (clear air) yang berjarak 300-700 m di atas puncak awan dan diperkuat dengan adanya Turbulensi Energi Kinetik (TKE) mencapai 4,4 m2 / s2 dan geser angin vertikal (VWS) oleh arus keluar awan konvektif.  Abstract Turbulence encountered by commercial aircraft Jakarta-Medan routes has been reported that experienced Clear Air Turbulence (CAT) over North Sumatra on October 24th, 2017. However, based on Himawari satellite imagery data produced by Agency for Meteorology, Climatology, and Geophysics (BMKG), Indonesia stated that there was a cumulonimbus cloud around the turbulence location. This study utilizes WRF-ARW models with a high spatial and temporal resolution to find out in detail the processes that occur in convective clouds causing Near Cloud Turbulence (NCT). The turbulence was caused by a low Richardson number formed in the clear-air area, which has a distance of 300 - 700 m above the cloud top and reinforced by the existence of Turbulence Kinetic Energy (TKE) reaching 4,4 m2/s2 and vertical wind shear (VWS) by deep convection’s outflow.


2021 ◽  
Vol 22 (1) ◽  
pp. 35-39
Author(s):  
Dini Harsanti ◽  
Krisna Adhitya ◽  
Safrizal Safrizal

Abstract Hygroscopic cloud seeding, which uses giant cloud condensation nuclei (GCCN) particles with diameters between 2-5 µm, has been known to be 100 times more effective compared to those that use hygroscopic flares. Micronisation through jet milling has been recognized as the most common and ubiquitous method used to obtain particles with such a narrow size (2-5 µm) distribution. This research has successfully developed and identified 2-5 µm NaCl powders mixed with 10% cab-o-sil anticaking agent and 2 (two) times jet milling frequency as a potential GCCN (hygroscopic) seeding material. We use a combination of jet mill micronisation, rough milling with a Cross-Beather Mill, and analytical sieving to produce powders with those mentioned above (2-5 µm) size distribution. We varied the anticaking agent percentage in the mixture and the jet milling process frequency to identify which parameters would result in the 2-5 µm size distribution. We then confirmed the micronisation results particle size distribution with a particle size analyzer (PSA) and its morphology with a scanning electron microscope (SEM) machine. The materials with the 10% cab-o-sil agent mixture were confirmed to have the aforementioned size distribution from the characterization results. Intisari Penyemaian awan higroskopis menggunakan partikel giant cloud condensation nuclei (GCCN) dengan diameter 2-5 m telah diketahui 100 kali lebih efektif dibandingkan dengan yang menggunakan flare higroskopis. Mikronisasi melalui jet milling telah dikenal sebagai metode yang paling umum dan banyak digunakan untuk mendapatkan partikel dengan distribusi ukuran sempit (2-5 µm). Penelitian ini berhasil mengembangkan dan mengidentifikasi serbuk NaCl 2-5 µm yang dicampur dengan 10% anti gumpal berupa Cab-O-Sil dan frekuensi jet milling 2 (dua) kali sebagai bahan penyemaian GCCN (higroskopis) potensial. Pada penelitian ini telah digunakan kombinasi mikronisasi jet mill, penggilingan kasar dengan Cross-Beather Mill, dan ayakan analitik untuk menghasilkan serbuk dengan distribusi ukuran yang disebutkan di atas (2-5 µm). Telah divariasikan pula persentase bahan anti gumpal dalam campuran dan frekuensi proses jet milling untuk mengidentifikasi parameter yang akan menghasilkan distribusi ukuran 2-5 µm. Distribusi ukuran partikel hasil mikronisasi tersebut kemudian dikonfirmasi dengan alat analisa ukuran partikel (PSA) dan morfologinya dengan mesin scanning electron microscope (SEM). Dari hasil karakterisasi, material dengan campuran anti gumpal Cab-O-Sil sebanyak 10% dipastikan memiliki sebaran ukuran tersebut.


2021 ◽  
Vol 22 (1) ◽  
pp. 1-8
Author(s):  
Abdullah Ali ◽  
Mangapul P. Tambunan ◽  
Rudy P. Tambunan

Intisari Akhir tahun 2019 menjadi awal dari menyebarnya Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19) ke seluruh dunia. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina karena banyaknya pasien dengan gejala pneumonia, yang diduga berasal dari pasar seafood di Wuhan. Sejak tanggal 2 Maret 2020, kasus Covid-19 pertama kali terkonfirmasi di Provinsi DKI Jakarta, dan menjadi kasus pertama di Indonesia. Hingga bulan Desember 2020, kasus positif  Covid-19 terus mengalami kenaikan. Banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui sifat virus, transmisi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi transmisinya, salah satunya adalah faktor meteorologi. Hasil penelitian di Cina dan Iran yang merupakan negara sub tropis menunjukkan bahwa unsur temperatur dan kelembaban relatif memiliki kaitan dengan penambahan jumlah kasus positif. Begitu juga hasil penelitian di Brazil yang merupakan negara tropis menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif antara intensitas radiasi matahari dengan kasus positif. Di Indonesia, penelitian mengenai pengaruh faktor meteorologi terhadap transmisi Covid-19 belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji transmisi Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta dari sudut pandang meteorologi. Hasil kajian dari data selama 6 bulan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara unsur-unsur meteorologi dengan transimisi Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta. Distribusi spasial kenaikan kasus harian tidak mengikuti pola perubahan angin, dan nilai koefisien korelasi Pearson untuk unsur kelembaban, temperatur, dan intensitas radiasi matahari memiliki nilai yang sangat kecil.   Abstract The end of 2019 was the beginning of Coronavirus 2019 (Covid-19) spread throughout the world. This virus was first discovered in Wuhan, China, where many patients showed symptoms of pneumonia and are thought to have originated in a seafood market in Wuhan. Since March 2, 2020, the first positive patient was confirmed in DKI Jakarta and became the first case in Indonesia. Until December 2020, positive cases of Covid-19 continued increasing. Many studies have been carried out to find the virus behaviors, transmission, and the factors that influence the transmission, one of which is meteorological factors. Research in China and Iran, which are subtropical countries, shows that temperature and relative humidity strongly correlate with the increasing number of positive cases. Likewise, the research results in Brazil, which is a tropical country, show a negative correlation of solar radiation to positive cases. In Indonesia, research on the influence of meteorological factors on the transmission of Covid-19 has not been widely carried out. This study aims to examine the transmission of Covid-19 in DKI Jakarta from a meteorological perspective. The study results from 6 months of data show no significant influence between meteorological elements and the Covid-19 transmission in DKI Jakarta. The spatial distribution of daily rate increases does not follow the pattern of wind direction changes, and the Pearson correlation coefficient ??for temperature, temperature, and radiation has very small values.


2021 ◽  
Vol 22 (1) ◽  
pp. 17-24
Author(s):  
Achmad Fahruddin Rais ◽  
Ahmad Kosasih ◽  
Soenardi ◽  
Yamin Saleh Saidu ◽  
Sanya Gautami ◽  
...  

Intisari Keberadaan pergeseran puncak curah hujan diurnal (DR) terhadap Madden-Julian Oscillation (MJO) aktif di Maritime Continent (MC) masih diperdebatkan sehingga studi ini bertujuan untuk menginvestigasi perubahan tersebut. Selain itu, intensitas rata-rata dan amplitudo DR juga dikaji dalam penelitian ini berbasis GSMaP Gauge-Calibrated V7. Komposit anomali intensitas rata-rata (Ra), amplitudo (Rax) DR MJO aktif dan perbandingan fase puncak DR MJO aktif terhadap klimatologinya (Pax-Pm) pada periode Desember-Januari-Februari (DJF), Maret-April-Mei (MAM), Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) digunakan dalam tulisan ini dengan uji-z 80%. MJO aktif berbasis rekonstruksi outgoing longwave radiation (OLR) dari kedua indeks realtime multivariate MJO (RMM). Hasil memperlihatkan bahwa MJO aktif memodulasi peningkatan intensitas rata-rata dan amplitudo DR di lautan dan mempengaruhi pergeseran puncak DR menjadi lebih cepat 1 jam dari klimatologi musimannya. Abstract The occurrence of peak phase shift of diurnal rainfall (DR) to active Madden-Jullian Oscillation (MJO) has been debatable, so this study is aimed to investigate the change. Moreover, the mean and amplitude intensity of DR were also analyzed in this study based on GSMaP Gauge-Calibrated V7. The composite of the mean (Ra) and amplitude (Rax) intensity anomaly of DR, and the comparison of DR peak phase during the active MJO to its climatology (Pax-Pm) in the period December-January-February (DJF), March-April-May (MAM), June-July-August (JJA), and September-October-November (SON) were used in the study with the z-test of 80%. The active MJO was based on reconstructed outgoing longwave radiation (OLR) of two real-time multivariate MJO (RMM) indexes. The results showed that active MJO modulated the increased mean and amplitude intensity of DR over the ocean and influenced the DR peak phase shift to be faster than its seasonal climatology by one hour.


2021 ◽  
Vol 22 (1) ◽  
pp. 9-16
Author(s):  
Sara Aisyah Syafira ◽  
Nyayu Fatimah Zahroh ◽  
Saraswati Dewi ◽  
Findy Renggono

Intisari Beberapa penelitian terkait kejadian hujan menggunakan beberapa jenis alat seperti Micro Rain Radar (MRR) dan Disdrometer. Kombinasi kedua instrument tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih  komprehensif mengenai kejadian hujan mulai dari lapisan atas atmosfer hingga permukaan. Penelitian ini mengamati beberapa kejadian hujan pada puncak musim hujan tahun 2017 dan pergantian tahun 2019/2020 di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan dengan menggunakan instrumen MRR dan Disdrometer untuk mengetahui karakteristik distribusi ukuran butir air hujan. Hasil penelitian ini menunjukkan pola sebaran butir air hujan yang berbeda, antara kejadian hujan dengan intensitas sangat lebat dan sangat ringan hingga lebat, baik pada lapisan atas atmosfer maupun permukaan. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian hujan sangat lebat berasal dari kumpulan awan konvektif dengan durasi hujan selama 15-60 menit. Sedangkan, kejadian hujan ringan hingga sedang pada umumnya berasal dari kumpulan awan nimbostratus di level menengah atmosfer dengan durasi hujan sekitar 2-3 jam. Abstract Several studies used some equipment types to observe rain events, such as the Micro Rain Radar (MRR) and Disdrometer. Combining the two can provide a more comprehensive picture of rain events from the upper atmosphere to the surface. This study observed several rain events at the peak of the rainy season in 2017 and the turn of the year 2019/2020 in the Puspiptek Serpong Area, South Tangerang, using MRR and Disdrometer instruments to determine the characteristics of the droplet size distribution. This study's results indicate a different droplet size distribution pattern, between the incidence of rain with very heavy intensity and very light to dense, both in the upper atmosphere and surface. Besides, this study's results indicate that the very heavy rain events come from convective clouds with a 15-60 minutes rain duration. Meanwhile, light to moderate rain events generally come from a group of nimbostratus clouds in the medium-level atmosphere with a rain duration of roundabout 2-3 hours.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document