387 article(s) in Jurnal Teknologi Lingkungan

Pengujian Zeolit Alam Mordenit Sebagai Penjerap Proses Pendegradasian Kandungan Amonium Di Dalam Air Tambak

abstractindonesia has an abundant quantity of natural zeolites that have not yet been utilized maximally. on the other hand, fishpond farmers have a problem regarding the presence of ammonium in the fishpond water which will negatively impact to survival of fish, especially small fish. to solve this problem, this research was utilizing natural zeolite to degrade ammonium in the fishpond water. this research aimed to test mordenite natural zeolite from bayah as an adsorbent to collaborate some variables impact to reach more maximal adsorption. the variables that were used to be observed were: mordenite natural zeolite from bayah as an adsorbent which has been activated by 1-7 n h2so4 and the other was without activation, ammonium concentration of 80-800 ppm, the particle size of adsorbent of 80 and 150 mesh, stirring speed of 600 and 800 rpm, and without stirring by duration adsorption time of 60 minutes. the research results showed that mordenite natural zeolite after activated was able to adsorb of 100% ammonium, while for the mordenite natural zeolite from bayah without stirring was of 80%, by the same absorption time. these results will give significant benefits for fishpond farmers to increase their productivity because of the increase in fish survival.keywords: adsorption, adsorbent, zeolite, amoniumabstrakkandungan zeolit alam di indonesia cukup melimpah dan belum termanfaatkan secara maksimal. pada sisi lain petani tambak dihadapkan pada masalah terdapatnya kandungan amonium di dalam air tambak, yang akan berdampak negatif bagi keberlangsungan hidup ikan, terutama ikan yang masih kecil. penelitian ini mencoba memanfaatkan zeolit alam guna mendegradasi kandungan amonium dalam air tambak. tujuan penelitian ini adalah melakukan pengujian terhadap zeolit alam mordenit dari bayah sebagai adsorben, baik dilakukan dengan pengadukan maupun tanpa pengadukan, serta mengkolaborasi beberapa variabel yang berpengaruh agar hasil adsorpsi lebih maksimal. observasi dilakukan dengan zeolit alam mordenit dari bayah yang telah diaktivasi dengan 1-7 n h2so4 maupun tanpa aktivasi, rentang konsentrasi larutan amonium 80-800 ppm, ukuran partikel adsorben 80 dan 150 mesh, kecepatan pengadukan 600 dan 800 rpm, dan tanpa pengadukan serta lamanya waktu penyerapan 60 menit. hasil penelitian menunjukan hasil yang sangat baik, dan secara umum zeolit alam mordenit bayah teraktivasi telah mampu melakukan adsorpsi amonium sebesar 100%, sedangkan untuk zeolit alam mordenit bayah tanpa pengadukan sebesar 80% pada waktu adsorpsi yang sama.kata kunci: adsorpsi, adsorben, zeolit, amonium Show More ... ... Show Less

  • Natural Zeolite
  • The Other
  • Particle Size
  • Ammonium Concentration
  • Small Fish
Kualitas Air Danau Toba Di Wilayah Kabupaten Toba Samosir Dan Kelayakan Peruntukannya

abstractthis research was conducted to determine the status of lake toba water quality in the area of toba samosir (tobasa) regency and the feasibility of its use. this study revealed that bod, cod, iron and free cl2 of lake toba tobasa regency exceed water quality criteria for class i and class ii based on governor decree no. 1 year 2009 on raw water quality of lake toba in north sumatera. high cod and bod values imply that lake toba water was polluted by organic matter presumably originated from floating net cages (kja), while free cl2 is thought to originate from domestic waste activities in parapat city and its surroundings. in general, it was concluded that the water of lake toba in the tobasa regency did not meet the criteria for clean water and water tourism.keywords: lake toba, raw water, pollution, water qualityabstrakpenelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air danau toba wilayah kabupaten toba samosir (tobasa) dan kelayakan peruntukannya. penelitian ini mengungkapkan bahwa air danau toba wilayah kabupaten tobasa memiliki bod, cod dan konsentrasi besi dan cl2 bebas melebihi kriteria mutu air kelas i dan kelas ii pada peraturan gubernur sumatra utara no 1 tahun 2009. tingginya nilai cod dan bod mengisyaratkan bahwa perairan danau toba tercemar oleh bahan organik yang diduga berasal keramba jaring apung (kja), sedangkan cl2 bebas diduga berasal dari limbah domestik kegiatan kota parapat dan sekitarnya. secara umum disimpulkan bahwa air danau toba di wilayah kabupaten tobasa tidak/belum memenuhi kriteria untuk air baku air minum  dan wisata air.kata kunci: danau toba, bahan baku air, pencemaran, baku mutu Show More ... ... Show Less

  • Water Pollution
  • Organic Matter
  • Raw Water Quality
Estimasi Beban Cemar Dan Laju Dekomposisi Bahan Organik Di Waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat

abstractir. h. djuanda or jatiluhur reservoir as a multifunction water body with one of utilization as fish cultivation activity. uneaten feed and fish excretion were organic matter sources. the number of floating net cages was increasing and it caused increasing in organic matter load. the objective of the research was to known organic matter load and decomposition rate (k) and bod (biochemical oxygen demand) ultimate (lo) at jatiluhur reservoir. the research was done in february and august 2018 at three locations were astap, pasir canar and pulau aki. the result of the research shown was organic load from cultivation activity was 70,595 tons/year. the decomposition rate of organic matter around 0.10-0.25 per day with bod ultimate around 6.80-8.11 mg/l. the value of lo was affected by organic matter concentration.keywords: ir. h. djuanda reservoir, organic matter, decomposition rate, bod ultimateabstrakwaduk ir. h. djuanda atau yang dikenal dengan waduk jatiluhur merupakan waduk multifungsi yang salah satu pemanfaatannya untuk kegiatan budidaya ikan. sisa pakan yang terbuang dan ekresi ikan merupakan sumber masukkan bahan organik. jumlah keramba jaring apung (kja) yang semakin bertambah akan menyebabkan beban masukkan bahan organik meningkat. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beban masukkan bahan organik dari kegiatan budidaya dan laju dekomposisi bahan organik (k) serta bod (biochemical oxygen demand) ultimate (lo) di waduk jatiluhur. penelitian dilakukan pada bulan februari dan agustus 2018 pada tiga lokasi yaitu astap, pasir canar dan pulau aki. pendekatan yang digunakan dalam penentuan nilai k dan lo adalah metode grafik thomas. hasil penelitian menunjukkan bahwa beban masukkan bahan organik dari kegiatan budidaya sebesar 70.595 ton/tahun. beban masukkan bahan organik telah melebihi daya dukung perairan. nilai k untuk dekomposisi bahan organik di waduk jatiluhur berkisar 0,10-0,25 per hari dengan nilai lo berkisar 6,80-8,11 mg/l. nilai lo dipengaruhi oleh konsentrasi bahan organik di perairan.    kata kunci: waduk ir. h. djuanda, bahan organik, laju peluruhan, bod ultimate Show More ... ... Show Less

  • Organic Matter
  • Decomposition Rate
  • Biochemical Oxygen Demand
  • Water Body
Pengaruh Interval Waktu Panen Terhadap Produksi Biomassa Chlorella Sp. Dan Melosira Sp. Untuk Penangkapan Karbon Secara Biologi

abstractthe aim of this study was to determine the effect of harvesting frequency on the growth of chlorella sp. and melosira sp. and on their total biomass production to estimate the amount of carbon fixed during 11 days of culture. chlorella sp. and melosira sp. were cultured in f/2 medium in seawater. the biomass was harvested at harvesting intervals of every day (p1), every 2 days (p2) and every 3 days (p3). the biomass of chlorella sp. harvested at p1, p2 and p3 were 0,49 g/l, 0,43 g/l, and 0,35 g/l, respectively. the highest total biomass production of chlorella sp. after 11 days of cultivation was obtained from p1 (8,80 g/l), while total biomass production at p2 and p3 were 52% (4,59 g/l) and 30% (3,25 g/l) of that p1, respectively. the biomass harvested at p1, p2 and p3 were 2,41 g/l, 1,40 g/l, and 1,63 g/l. total biomass production of melosira sp. during 11 days of cultivation for p1, p2 and p3 were 34,56 g/l, 17,33 g/l, 11,20 g/l, respectively. our results showed that the highest total biomass production of both chlorella sp. and melosira sp. were obtained from harvesting every day. the estimated value of co2 bio-fixation based on biomass production by chlorella sp. and melosira sp. were 1,5 g/l/day and 5,9 g/l/day, respectively.keywords: biomass, microalgae, chlorella sp, harvesting interval, melosira sp, carbon capture abstrakpenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interval waktu panen biomassa mikroalga terhadap pertumbuhan chlorella sp. dan melosira sp., dan perolehan total biomassanya untuk estimasi co2 yang difiksasi selama kultur 11 hari. chlorella sp. dan melosira sp. dikultivasi dalam media air laut yang berisi nutrien f/2. biomassa mikroalga dipanen dengan interval waktu panen tiap hari (p1), tiap 2 hari (p2) dan tiap 3 hari (p3). sebagai kontrol (p0), biomassa mikroalga dipanen hanya pada akhir percobaan yaitu di hari ke-11. kelimpahan sel kultur chlorella sp. pada perlakuan p1, p2 and p3 masing-masing adalah 2,38x106 sel/ml, 2x106 sel/ml,1,5x106 sel/ml, sedangkan total biomassa yang diperoleh masing-masing adalah 0,49 g/l, 0,43 g/l, dan 0,35 g/l. total produksi biomassa chlorella sp. tertinggi yang diperoleh selama 11 hari kultivasi dijumpai pada perlakuan p1 (8,80 g/l), sedangkan total produksi biomassa pada p2 dan p3 hanya 52% (4,59 g/l) dan 30% (3,25 g/l) dari total biomassa p1. kelimpahan sel melosira sp. yang dipanen dengan interval p1, p2 dan p3 masing-masing adalah 4,28x106 sel/ml, 2,22x106 sel/ml, dan 2,36x106 sel/ml, dan biomassa yang diperoleh masing-masing adalah 2,41 g/l, 1,40 g/l, dan 1,63 g/l. total produksi biomassa melosira sp. yang diperoleh selama 11 hari kultivasi untuk perlakuan p1, p2 dan p3 masing-masing adalah 34,56 g/l,17,33 g/l, dan 11,20 g/l. hasil percobaan ini menunjukkan bahwa total produksi biomassa tertinggi pada chlorella sp. dan melosira sp.dijumpai pada kultur yang dipanen setiap hari. estimasi serapan karbon berdasarkan biomasa yang dihasilkan oleh chlorella sp dan melosira sp. masing-masing adalah 1,5 g/l/hari dan 5,9 g/l/hari.kata kunci: biomassa, mikroalga, chlorella sp., interval panen, melosira sp., penangkapan karbon Show More ... ... Show Less

  • Chlorella Sp
  • Biomass Production
  • Total Biomass
  • Carbon Capture
  • Harvesting Intervals
Studi Kemampuan Adsorpsi Ion Logam Cr6+ Oleh Tanah Vulkanik “Studi Kasus Wilayah Industri Penyamakan Kulit, Garut

abstractthe leather tanning industry in sukaregang, garut regency, produces liquid waste containing chromium and is discharged directly into the ciwalen river without a waste treatment process. the content of cr6+ as metal ions in the waste can also contaminating groundwater. the movement of cr6+ will pass through the soil media before entering to the groundwater wells. the capability of the soil to adsorb the contaminant will reduce the impact on groundwater. the purpose of this study was to determine the ability of the soil in adsorbing and inhibiting the movement of cr6+ into groundwater. the study was carried out at sukaregang, garut regency and conducting adsorption experiments with a batch system. the analysis was carried out using the langmuir and freundlich isotherm model. the experimental results showed that cr6+ adsorbed ranged from 38% to 57% of the initial concentration. the results from langmuir isotherm were: the distribution coefficient (kads) was 0.45 l/mg and the maximum adsorption capacity (qm) was 2.44 mg/100g sorbent with r2 = 0.959 and freundlich isotherm was: qm was 2,86 mg/100g sorbent and kads was 0,35 l/mg with r2 = 0,860. this large adsorption capacity is caused by soil texture and soil organic content. the soil in sukaregang tanning industries has a high adsorption capacity towards cr6+ contaminants.keywords: adsorption, chromium, cr6+, contaminant, volcanic soil, garutabstrakindustri penyamakan kulit di wilayah sukaregang, kabupaten garut, menghasilkan limbah cair yang mengandung kromium dan dibuang ke sungai ciwalen tanpa proses pengolahan limbah. kandungan ion logam cr6+ pada limbah dapat mencemari air tanah. pergerakan ion logam cr6+ akan melalui media tanah sebelum memasuki sumur-sumur penduduk. beberapa jenis tanah mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi ion pencemar sehingga tidak semua limbah yang meresap ke dalam tanah mencemari air tanah. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan tanah dalam menghambat pergerakan ion logam cr6+ ke dalam air tanah. penelitian dilaksanakan dengan pengambilan sampel tanah di daerah sukaregang, garut, dan melakukan percobaan adsorpsi dengan sistem batch. sementara analisis dilakukan dengan menggunakan model isotherm langmuir dan freundlich. hasil percobaan menunjukkan konsentrasi cr6+ yang teradsorpsi berkisar 38 – 57 % dari konsentrasi awal. kads sebesar 0,45 l/mg dan qm sebesar 2,44 mg/100g tanah dengan nilai r2 = 0,959 menggunakan isoterm langmuir dan isoterm freundlich memberikan nilai qm sebesar 2,86 mg/100 g sorbent dan kads sebesar 0,35 l/mg dengan r2 = 0,860. tingginya daya adsorpsi ini disebabkan oleh tekstur tanah dan kandungan bahan organik. tanah di wilayah penelitian memiliki daya adsorpsi yang besar terhadap kontaminan cr6+.kata kunci: adsorpsi, kromium, cr6+, kontaminan, tanah vulkanik, garut Show More ... ... Show Less

  • Freundlich Isotherm
  • High Adsorption Capacity
  • Model Isotherm
  • Groundwater Wells
Sistem Pemantauan Kapasitas Sampah Berbasis Iot (Sikasit) Untuk Pencegahan Banjir Di Wilayah Sungai Citarum Bojongsoang Kabupaten Bandung

abstractthe needs of flood disaster management encourage various efforts from all scientific disciplines of science, technology, and society. this article discusses the efforts to prevent flooding due to the habit of disposing of their waste into rivers through an innovative waste management system using the approach and application of internet-based technology (iot). previous research has produced a prototype of the waste level monitoring system. in this research, the prototype was developed into a practical technology, called sikasit (iot based trash capacity monitoring system). this technology aims to assist janitor in monitoring, controlling and obtaining information about trash capacity and disposal time easily through an application on the smartphone in real-time and online. the system was made using a level detection sensor integrated with nodemcu and wi-fi, mqttbroker-protocol and android-based application. furthermore, the system was implemented in bojongsoang adjacent to the citarum river, where the water often overflowed due to the high rainfall and volume of trash around it. the results of system testing in the field shown good performance with value ranges of reliability is (99,785 - 99,944)% and availability is (99,786 - 99,945)%. sikasit has several advantages over other similar systems. first, there is an application on the user's smartphone to monitor the capacity of trash and notification for full-bin. second, the ability to operate on a small-bandwidth internet network because the throughput time is only around 0.59 kbps, thereby saving internet bandwidth consumption. this system has also helped overcome the problem of community trash management in kampung cijagra, where 60% of them gave feedback "agree" and the rest "strongly agree".keywords: waste, iot, monitoring, flooding, riverabstrakkebutuhan penanggulangan bencana banjir mendorong berbagai upaya dari semua disiplin ilmu baik dari bidang sains, teknologi dan sosial. dalam artikel ini, penulis membahas upaya pencegahan banjir akibat kebiasaan membuang sampah ke sungai melalui inovasi sistem manajemen sampah menggunakan pendekatan dan penerapan teknologi berbasis internet of things (iot). pada riset sebelumnya telah dihasilkan sebuah prototype sistem monitoring level sampah. kemudian pada riset ini prototype tersebut dikembangkan menjadi suatu teknologi tepat guna, dinamakan dengan sikasit (sistem pemantauan kapasitas sampah berbasis iot). teknologi ini bertujuan untuk membantu petugas kebersihan dalam memantau, mengontrol dan memperoleh informasi tentang kapasitas sampah dan waktu pembuangan sampah dengan mudah melalui aplikasi di smartphone secara real time dan online. sistem dibuat dengan menggunakan sensor deteksi ketinggian sampah yang diintegrasikan dengan nodemcu dan wi-fi, protokol mqtt broker dan aplikasi berbasis android pada smartphone. selanjutnya sistem diimplementasikan di daerah bojongsoang yang berdekatan dengan sungai citarum yang airnya sering meluap akibat tingginya curah hujan dan volume sampah di sekitarnya. hasil pengujian sistem di lapangan menunjukkan kinerja yang baik dengan kisaran nilai reliability adalah (99,785 – 99,944) % dan availability adalah (99,786 – 99,945) %. sikasit memiliki beberapa kelebihan dibanding sistem serupa lainnya. pertama, adanya aplikasi di smartphone pengguna untuk memonitor kapasitas sampah dan notifikasi saat tempat sampah penuh. kedua, sistem mampu beroperasi pada jaringan internet bandwith kecil karena waktu throughput-nya hanya sekitar 0,59 kbps sehingga menghemat konsumsi bandwith internet. sistem ini juga telah membantu menanggulangi permasalahan pengelolaan sampah masyarakat kampung cijagra, dimana 60% masyarakat memberi feedback “setuju” dan sisanya “sangat setuju”.kata kunci: sampah, iot, monitoring, banjir, sungai Show More ... ... Show Less

  • Real Time
  • Monitoring System
  • Internet Of Things
  • Bandwidth Consumption
  • Level Monitoring
Isolasi Bakteri Pelarut Fosfat Genus Pseudomonas Dari Tanah Masam Bekas Areal Perkebunan Karet Di Kawasan Institut Teknologi Sumatera

abstractphosphorus (p) is a nutrient that is needed by plants. the availability of this element is greatly influenced by soil ph. as for ultisol soils classified as acid soils, most of the p in the soil is not available and is bound to fe and al. pseudomonas, a phosphate solubilizing bacteria are soil microbes that can improve the availability of p in acid soils. this study aims to obtain pseudomonas indigenous, a phosphate solubilizing bacteria from the acid soil formerly used by rubber plantations in the institut teknologi sumatera. the study was conducted from april to june 2018 which included soil chemical analysis, isolation of the genus pseudomonads on specific media, testing of phosphate solubility on solid pikovskaya medium and simple pathogenicity test on potato tubers. the results showed that the sample soil was acidic with a ph of 4.09 with a p-availability of 0.78 ppm. from the soil samples, four potential isolates were obtained from the genus pseudomonas, namely gsp 01, gsp 13, gsp 15 and gsp 06, with phosphate solubility indexes of 0.885, 0.639, 0.619 and 0.568, respectively. isolates have the best phosphate solubilizing index on days 4 through 7. the four potential isolates are not pathogenic, so they can be used as isolates to improve the availability of soil nutrients, especially phosphorus needed by plants.keywords: acid soil, phosphate solubilizing bacteria, phosphate availability, pseudomonasabstrakfosfor (p) merupakan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. ketersediaan unsur ini sangat dipengaruhi oleh ph tanah. pada jenis tanah ultisol yang digolongkan sebagai tanah masam, sebagian besar dari p di tanah dalam bentuk yang tidak tersedia untuk diserap oleh tanaman dan berikatan dengan fe dan al. pseudomonas pelarut fosfat merupakan mikroba tanah yang dapat memperbaiki ketersediaan p pada tanah masam. penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pseudomonas pelarut fosfat indigenous dari tanah masam bekas lahan perkebunan karet di kawasan institut teknologi sumatera. penelitian dilaksanakan pada bulan april sampai juni 2018 yang meliputi analisis kimia tanah, isolasi bakteri genus pseudomonads pada medium spesifik, uji kemampuan pelarutan fosfat pada medium pikovskaya padat serta uji patogenitas sederhana pada umbi kentang. hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah sampel bersifat masam dengan ph 4,09 dengan p tersedia sebesar 0,78 ppm. dari sampel tanah diperoleh empat isolat potensial yang diperoleh merupakan genus pseudomonas yaitu gsp 01, gsp 13, gsp 15 dan gsp 06, dengan indeks pelarutan fosfat berturut-turut sebesar 0,885, 0,639, 0,619 dan 0,568. isolat memiliki indeks pelarutan fosfat terbaik pada hari ke-4 hingga hari ke-7. keempat isolat potensial tidak bersifat patogen sehingga mampu dijadikan sebagai isolat yang dapat digunakan untuk memperbaiki ketersediaan unsur hara tanah terutama fosfor yang dibutuhkan oleh tanaman.kata kunci: bakteri pelarut fosfat, fosfat tersedia, pseudomonas, tanah masam Show More ... ... Show Less

  • Phosphate Solubilizing Bacteria
  • Acid Soils
  • Rubber Plantations
Amplifikasi Gen Resistensi Tembaga (Cur) Pada Bakteri Yang Diisolasi Dari Limbah Industri Di Surabaya

abstractcopper pollution is one of the serious environmental problems in indonesia. higher concentration of copper is toxic so that threat living organism. bio-remediation using copper resistant bacteria is effective for solving heavy metals pollution because the bacteria adapt easily when applied in environment. using bacteria containing gene encoded copper resistance could help effort of copper bio-remediation. the purpose of this research is to isolate and characterize copper resistant bacteria from industrial sewage in surabaya also to amplification of gene encoded resistance to copper (cur). bacteria was grown on salts base solution medium with addition of appropriate concentration of copper. resistance to copper was determined based on minimum inhibitory concentration of cuso4. molecular characterization was done based on 16s rdna gene analysis using universal primer. amplification of cur gene was done using specific primer of gene orf3, orf4, orf5 from lactoccocus lactis. three highly copper resistant bacteria have been isolated with the mic of 2.5-7.5 mm cuso4 encoded irc1, irc2, and irc4. isolate irc4 is the highest copper resistant bacteria with the mic of 7.5 mm. resistance mechanism may be through accumulation copper inside the cells with the total of 371 mg/g dry weight of cells. the three bacteria have plasmid with the size of 21 kb. isolate irc4 have 96.99% similarity with cupriavidus pauculus. amplification of copper-resistance (cur) gene demonstrated that a single band of 0.9 kb was obtained from isolate c4. the finding of indigenous resistant bacteria encoded cur gene may give better solution for pollution problem in indonesia.keywords: bacteria, copper, isolate irc4, lactococcus lactis, resistantabstrakpencemaran tembaga di indonesia merupakan salah satu masalah lingkungan yang serius sehingga perlu diatasi. tembaga pada konsentrasi yang tinggi bersifat toksik sehingga mengancam kehidupan organisme. bioremediasi menggunakan bakteri resisten tembaga yang diisolasi dari lingkungan tercemar terbukti efektif mengatasi pencemaran logam berat karena lebih mudah beradaptasi ketika diterapkan di lingkungan. pemanfaatan bakteri yang mengandung gen penyandi resistensi tembaga dapat menunjang keberhasilan usaha bioremediasi tembaga. penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri resisten tembaga dari limbah industri di surabaya serta melakukan amplifikasi gen yang menyandi resistensi bakteri tersebut terhadap tembaga (cur).  isolasi bakteri dilakukan menggunakan medium salt base solution dengan penambahan cuso4. uji resistensi ditentukan berdasarkan nilai minimum inhibitory concentration (mic) terhadap cuso4. karakterisasi molekular dilakukan berdasarkan analisis gen 16s rdna menggunakan primer universal. amplifikasi gen cur dilakukan dengan menggunakan primer yang spesifik terhadap gen orf3, orf4, orf5 dari gen cur pada lactobacillus lactis. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga isolat bakteri yang paling resisten dengan nilai mic= 6.5-7.5 mm, yaitu isolat irc1, irc2, dan irc4. isolat irc4 merupakan isolat bakteri yang paling resisten dengan nilai mic sebesar 7.5 mm. mekanisme reistensi isolat irc4 adalah dengan cara mengakumulasi tembaga di dalam sel selitar 371 mg/g berat kering sel. ketiga isolat memiliki plasmid berukuran sekitar 21 kb. analisis gen 16s rdna menunjukkan bahwa isolat irc4 memiliki kemiripan 96,99% dengan cupriavidus pauculus. gen cur pada isolat irc4 sepanjang 0.9 kb berhasil diamplifikasi dengan menggunakan primer spesifik gen orf3 yang menyandikan pengikatan tembaga. penemuan bakteri indigen indonesia yang menyandikan gen resisten tembaga diharapkan dapat menunjang keberhasilan penanganan masalah pencemaran tembaga di indonesia.kata kunci:  bakteri, isolat irc4, lactobacillus lactis, resisten, tembaga Show More ... ... Show Less

  • Resistant Bacteria
  • 16S Rdna
  • Copper Resistance
  • Minimum Inhibitory Concentration
  • Cupriavidus Pauculus
Aplikasi Proses Anammox Dalam Penyisihan Nitrogen Menggunakan Reaktor Up-Flow Anaerobic Sludge Blanket

abstractanammox process is a more practical alternative in biological nitrogen removal compared to conventional nitrification-denitrification processes. this process conducted at the optimum temperature of 370c. indonesia, as a tropical country, has the potential for the application of anammox processes to remove nitrogen in wastewater. the purpose of this study was to analyze the efficiency of nitrogen removal in the anammox process using the up-flow anaerobic sludge blanket (uasb) reactor at ambient temperature with variations in the hydraulic retention time (hrt) of 24 hours and 12 hours, at the laboratory scale. samples are measured twice a week using a uv-vis spectrophotometer. as a seeding sludge for start-up, the reactor was inoculated with granular anammox bacteria genus candidatus brocadia. at the stable operation, the ratio of δno2--n:δnh4+-n and δno3--n:δnh4+-n approach the stoichiometry of the anammox process were 1.20 and 0.21, respectively. the performance of nitrogen removal with 24-hour hrt obtained a maximum nitrogen removal rate (nrr) of 0.113 kg-n/m3.d with nitrogen loading rate (nlr) 0.14 kg-n/m3.d, and at 12-hour hrt, maximum nrr  of 0.196 kg-n/m3.d with nlr 0,28 kg-n/m3.d. ammonium conversion efficiency (ace) and nitrogen removal efficiency (nre) maximum for hrt 24 hours were 82% and 77%, respectively while hrt 12 hours were 72% and 68%, respectively. the anammox process operated stably in the tropical temperature with a temperature range of 23-280c on a laboratory scale using the uasb reactor.keywords: anammox, nitrogen, temperature, tropical, uasb.abstrakproses anammox menjadi alternatif yang lebih efektif dalam penyisihan nitrogen secara biologi dibandingkan dengan proses konvensional nitrifikasi-denitrifikasi. proses ini berlangsung optimum pada suhu 370c. indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi untuk aplikasi proses anammox untuk menghilangkan nitrogen pada air limbah. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efesiensi penyisihan nitrogen pada proses anammox menggunakan up-flow anaerobic sludge blanket (uasb) reaktor pada suhu ambien dengan variasi waktu tinggal hidrolik (wth) 24 jam dan 12 jam, pada skala laboratorium. sampel diukur dua kali setiap minggu menggunakan spektrofotometer uv-vis. sebagai seeding sludge (lumpur biakan) untuk start-up (memulai) reaktor digunakan bakteri anammox genus candidatus brocadia berbentuk granular. berdasarkan hasil pengukuran, didapatkan nilai rasio δno2--n:δnh4+-n dan δno3--n:δnh4+-n mendekati stoikiometri proses anammox yaitu 1,20 dan 0,21. kinerja penyisihan nitrogen dengan wth 24 jam didapatkan nilai tingkat penyisihan nitrogen (tpyn ) maksimum 0,113 kg-n/m3.h pada tingkat pemuatan nitrogen (tpn) 0,14 kg-n/m3.h, dan wth 12 jam nilai tpyn  maksimum 0,196 kg-n/m3.h pada tpn 0,28 kg-n/m3.h. nilai efisiensi konversi amonia (eka) dan efisiensi penyisihan nitrogen (epn) maksimum pada wth 24 jam berturut-turut adalah 82% dan 77%, sedangkan pada wth 12 jam berturut-turut adalah 72% dan 68%. penelitian membuktikan bahwa proses anammox dapat berlangsung stabil pada daerah tropis dengan suhu terukur 21-290c pada skala laboratorium menggunakan uasb reaktor. kata kunci: anammox, nitrogen, temperatur, tropis, uasb Show More ... ... Show Less

  • Nitrogen Removal
  • Anammox Process
  • Anaerobic Sludge Blanket
  • Laboratory Scale
Pemantauan Konsentrasi PM2.5 Dan CO2 Berbasis Low-Cost Sensor Secara Real-Time Di Cekungan Udara Bandung Raya

abstractfield observation of pm2.5 and co2 concentrations and meteorological conditions using low-cost sensors in real-time was carried out in the greater bandung air basin on mar. 12 – apr. 25, 2019. pm2.5 and co2 sensors, as well as detectors of meteorological parameters, have been calibrated in the laboratory. the instruments were placed in two locations (±300 m apart horizontally and ±20 m vertically), namely tokong nanas building (location 1 / l1) and deli building (l2), telkom university, bandung. data was stored in the data logger and sent to the cloud database every 2-min through the gsm module. the results show that the same air mass in both locations has identified, except for some events that are affected by anthropogenic activities (those concentrations in l2 > l1) and wind speed/direction (time delay). the daily-average pm2.5 and co2 concentrations at l1 and l2 are 52 µg m-3 and 580 ppm, and 70 µg m-3 and 809 ppm. pm2.5 and co2 mass concentrations relatively higher (±172 µg m-3 and 916 ppm) at night due to a stable atmosphere (potential temperature, dθ/dz > 0, typical data from 20:00 to 3:00 local time), lower planetary boundary layer, and mixed local emissions and transboundary air pollutants. meanwhile, lower co2 concentrations in daytime mostly occur due to the activity of vegetation, which actively absorbs co2 in the photosynthesis process. the fluctuation of those concentrations due to polluted air suggests that the performances of low-cost sensors can be adequately used properly for ambient air quality monitoring. keywords: co2, low-cost sensors, pm2.5, potential temperatureabstrakpemantauan konsentrasi pm2.5 dan co2 serta kondisi meteorologi berbasis low-cost sensors secara real-time di cekungan udara bandung raya telah dilakukan pada 12 maret-25 april 2019. sensor pm2.5 dan co2, serta detektor parameter meteorologi telah dikalibrasi di laboratorium. alat ukur ditempatkan di dua lokasi dengan perbedaan jarak ±300 m dan ketinggian ±20 m, yaitu gedung tokong nanas (lokasi 1 / l1) dan gedung deli (l2), universitas telkom, bandung. komunikasi data menggunakan modul gsm (sim900a) dan data disimpan di data logger dan dikirimkan ke cloud database per 2 menit. hasil pengukuran menunjukkan bahwa massa udara di kedua lokasi memiliki tren data konsentrasi pm2.5 dan co2 yang relatif homogen, kecuali pada beberapa kejadian yang dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik (konsentrasi pm2.5 dan co2 di l2 > l1) serta arah dan kecepatan angin (adanya perbedaan konsentrasi massa pm2.5 akibat penundaan waktu). rerata harian konsentrasi pm2.5 dan co2 di l1 dan l2 berturut-turut adalah 52 µg m-3 dan 580 ppm serta 70 µg m-3 dan 809 ppm. konsentrasi massa pm2.5 dan co2 yang relatif lebih tinggi (±172 µg m-3 dan 916 ppm) di malam hari akibat atmosfer yang lebih stabil (temperatur potensial, dθ/dz > 0, tipikal dari pukul 20:00-03:00), penurunan planetary boundary layer, dan terjadinya pencampuran partikulat lokal dengan polutan udara lintas batas. sedangkan, konsentrasi co2 yang relatif lebih rendah di siang hari sebagian besar terjadi akibat aktivitas vegetasi yang aktif menyerap co2 pada proses fotosintesis. fluktuasi konsentrasi karena udara tercemar menunjukkan bahwa kinerja low-cost sensors dapat digunakan dengan baik untuk memantau kualitas udara di atmosfer.kata kunci: co2, low-cost sensor, pm2.5, temperatur potensial Show More ... ... Show Less

  • Low Cost
  • Real Time
  • Co2 Concentrations
  • Boundary Layer
  • Cloud Database
Peningkatan Kualitas Air Baku Dari Sungai Surabaya Dengan Proses Biofiltrasi

abstractsurabaya river is a source of raw water for the needs of the community in surabaya and its surrounding areas, including for industrial and the surabaya water supply company. along with the rapid growth of settlements and the development of the industrial sector, the surabaya river pollution level has increased so that the quality of the water does not meet the quality standards required as raw water for drinking water. the most potential parameter that causes the level of pollution is organic pollutants. the concentration of some water quality parameters including organic pollutants in the surabaya river has exceeded class i water quality standards based on government regulation (pp) no. 82 of 2001, namely for allotment of raw water for drinking water. the purpose of this study was to improve the raw water quality such as parameters of suspended solids (tss), organic substances, detergents and manganese (mn) through the application of biofilter technology. the study was conducted by operating a biofilter pilot plant consisting of a lamella-type settling tank and a biofilter reactor filled with wasp-type nesting media. the results showed that the biofilter process used can reduce the concentration of tss, organic matter, detergents and mn in raw water. in general, the longer the hydraulic residence time (hrt) in the biofilter pilot plant, the greater the efficiency of removing tss, organic matter, and detergent in raw water. the experiments results at the conditions of the shortest total hrt of 81 minutes, including hrt of 36 minutes in the settling tank and hrt of 45 minutes in the biofilter reactor, could obtain tss removal efficiency of 46.92%, 15.97% for organic matter, and 55% for detergent, where the concentration of these parameters meets the quality standards for drinking water.keywords: biofiltration, hrt, drinking water, water qualityabstraksungai surabaya merupakan sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat di wilayah surabaya dan sekitarnya, termasuk untuk kebutuhan industri dan air baku pdam kota surabaya. seiring pesatnya pertumbuhan pemukiman dan perkembangan sektor industri, mengakibatkan tingkat pencemaran sungai surabaya semakin tinggi sehingga kualitas airnya tidak memenuhi ketentuan baku mutu yang dipersyaratkan sebagai air baku air minum. parameter yang paling potensial menyebabkan tingkat pencemaran tersebut adalah polutan organik. konsentrasi beberapa parameter kualitas air termasuk polutan organik di sungai surabaya telah melebihi baku mutu air kelas i berdasarkan peraturan pemerintah (pp) no 82 tahun 2001, yakni untuk peruntukan air baku air minum. tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan peningkatan kualitas air baku seperti parameter padatan tersuspensi (tss), zat organik, deterjen dan mangan (mn) melalui penerapan teknologi biofilter. penelitian dilakukan dengan mengoperasikan pilot plant biofilter yang terdiri dari bak pengendap tipe lamella dan reaktor biofilter yang diisi dengan media plastik tipe sarang tawon. hasil penelitian menujukkan bahwa proses biofilter yang digunakan dapat menurunkan konsentrasi tss, zat organik, deterjen dan mn di dalam air baku. secara umum semakin lama waktu tinggal di dalam pilot plant biofilter, efisiensi penghilangan tss, zat organik, dan deterjen di dalam air baku semakin besar. hasil percobaan pada kondisi total waktu tinggal terpendek (total hrt) 81 menit, meliputi hrt di bak pengendap 36 menit dan hrt di reaktor biofilter 45 menit, didapatkan efisensi penghilangan tss 46,92 %, zat organik 15,97 %, dan deterjen 55 %, dimana konsentrasi parameter-parameter tersebut memenuhi baku mutu untuk air minum.kata kunci: biofiltrasi, hrt, air minum, kualitas air Show More ... ... Show Less

  • Raw Water
  • Pilot Plant
  • Water Quality
  • Drinking Water
  • Organic Matter
Peranan Konsorsium Isolat Bakteri Resisten Logam Berat Untuk Menurunkan Kandungan Zn, Fe, Dan Mg Pada Cumi, Udang, Dan Ikan

abstractincreased contamination of heavy metals in aquatic products such as shrimp, squid, and fish can occur due to industrial waste. heavy metals cannot be digested so they will accumulate in the body of animals and humans. excess heavy metals in the body can cause death. bioremediation using bacteria can reduce heavy metal contamination. some microorganisms have the ability to resist heavy metals such as, acinetobacter sp. irc1 and acinetobacer sp. irc2 which were isolated from the activated sludge of the rungkut-surabaya industry, indonesia. this study aims to determine the role of the consortium acinetobacter sp. irc1 and acinetobacer sp. irc2 in reducing the concentration of zn, fe, and mg in squid, shrimp, and fish. research methods include: 1) making a bacterial growth curve, 2) analysis of heavy metals in shrimp, squid, and fish, 3) testing the ability of a bacterial consortium to reduce metal concentration in squid, shrimp, and fish, 4) analysis of decreasing heavy metal concentration by using a bacterial isolate consortium. the results show that the selected comparison between consortium of acinetobacter sp. irc1 dan acinetobacter sp. irc2 was 66.66%:33.33% which can reduced heavy metals of zn, fe, dan mg in shrimps, squid, and fish with the range of 91.69% to 99.82%.other heavy metal contained in the aquatic products of shrimp, squid, and fish were cd, co, cr, cu, and hg.keywords: acinetobacter sp, bacteria, fish, shrimp, squidabstrakpeningkatan cemaran logam berat pada hasil perairan seperti udang, cumi, dan ikan dapat terjadi karena limbah industri. logam berat tidak dapat dicerna sehingga akan terakumulasi di dalam tubuh hewan maupun manusia. kelebihan logam berat di dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian. bioremediasi dengan menggunakan bakteri dapat mengurangi cemaran logam berat. beberapa mikrorganisme mempunyai kemampuan resistensi terhadap logam berat seperti, acinetobacter sp. irc1 dan acinetobacer sp. irc2 yang diisolasi dari lumpur aktif industri rungkut-surabaya, indonesia. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan konsorsium acinetobacter sp. irc1 dan acinetobacer sp. irc2 dalam menurunkan kandungan zn, fe, dan mg pada cumi, udang, dan ikan. metode penelitian meliputi: 1) pembuatan kurva pertumbuhan bakteri, 2) analisis logam berat pada udang, cumi, dan ikan, 3) uji kemampuan konsorsium bakteri dalam menurunkan kandungan logam pada cumi, udang, dan ikan serta  4) analisis penurunan kandungan logam berat dengan menggunakan konsorsium isolat bakteri. hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan konsorsium acinetobacter sp. irc1 dan acinetobacter sp. irc2 terpilih adalah 66,66%:33,33% dengan nilai presentase penurunan logam berat (zn, fe, dan mg) pada hasil perairan udang, cumi, dan ikan memiliki interval 91,69% hingga 99,82%. acinetobacter pittii memiliki nilai presentase penurunan logam berat zn, fe, dan mg pada hasil perairan udang, cumi, dan ikan yang lebih rendah, yaitu memiliki interval 87,87% hingga 99,50%. kandungan logam berat lain yang terkandung di dalam hasil perairan udang, cumi, dan ikan adalah cd, co, cr, cu, dan hg.kata kunci: acinetobacter sp., bakteri, cumi, ikan, udang Show More ... ... Show Less

  • Acinetobacter Sp
  • Heavy Metals
  • Metal Concentration
  • The Body
Identifikasi Gosong Karang Mengggunakan Citra Satelit Sentinel 2A (Studi Kasus: Perairan Pesisir Nias Utara

abstractthe waters of northern nias, north sumatra province have a great potential for natural resources, one of which is the reef which is often used as a fishing ground. this study aims to identify and monitor the distribution of coral reefs around the waters of northern nias. the location of study is limited by coordinates 97° 0'31'' - 97° 16'54'' e and 1° 29'2'' lu - 1° 6'24'' n. the study locations were grouped in 6 (six) areas including mardika reef, wunga reef, mausi1 reef, mausi2 reef, tureloto reef and senau reef. the data used were sentinel 2a imagery acquisition on 19 september 2018 and field observations made on 6-12 september 2018. data processing includes geometric correction, radiometric correction, water column correction and classification using pixel-based and object-based methods as well as by delineating on the image. one classification method will be chosen that is most suitable for the location of the reef. the results show sentinel 2a was very helpful in mapping the distribution of coral reefs compared to direct observation in the field. the use of image classification method rightly is very helpful in distinguishing coral reef objects from surrounding objects. the estimated area of coral reefs was 1,793.20 ha with details of the mardika reef 143.27 ha, wunga reef 627.06 ha, mausi1 reef 299.84 ha, mausi2 reef 141.873 ha, tureloto reef 244.73 ha, senau reef 336.44 ha. the existence of coral reefs have a high potential as a fishing ground and a natural tourist attraction.keywords: coral reefs, sentinel 2a, lyzenga 1978, image classification, northern niasabstrakperairan nias utara yang terletak di provinsi sumatra utara memiliki potensi kekayaan alam yang besar dimana salah satunya adalah gosong karang yang sering dijadikan lokasi penangkapan ikan oleh nelayan. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan monitoring sebaran gosong karang di sekitar perairan nias utara. lokasi penelitian dibatasi dengan koordinat 97°0’31’’ - 97°16’54’’ bt dan 1°29’2’’lu – 1°6’24’’  lu. untuk mempermudah dalam pengolahan data maka lokasi kajian dikelompokkan dalam 6 (enam) kawasan diantaranya gosong mardika, gosong wunga, gosong mausi1, gosong mausi2, gosong tureloto dan gosong senau. data yang digunakan adalah citra satelit sentinel 2a hasil perekaman tanggal 19 september 2018 dan hasil pengamatan lapangan yang telah dilakukan pada tanggal 6 - 12 september 2018. pengolahan data meliputi koreksi geometrik, koreksi radiometrik, koreksi kolom air dan klasifikasi menggunakan metode klasifikasi berbasis piksel dan berbasis objek serta deliniasi citra. dari ketiga metode klasifikasi tersebut akan dipilih satu metode klasifikasi yang sesuai dengan lokasi gosong karang. hasil penelitian menunjukkan citra sentinel 2a sangat membantu dalam memetakan sebaran gosong karang dibandingkan dengan pengamatan langsung di lapangan. pemilihan metode klasifikasi citra satelit yang tepat sangat membantu dalam membedakan objek gosong karang dengan objek di sekitarnya. estimasi total luasan gosong karang di perairan nias utara adalah 1,793.20 ha dengan rincian luasan gosong karang mardika 143.27 ha, gosong wunga 627.06 ha, gosong mausi1 299.84 ha, gosong mausi2 141.873 ha, gosong tureloto 244.73 ha, gosong senau 336.44 ha. keberadaan gosong karang memiliki potensi yang tinggi sebagai lokasi penangkapan ikan dan memiliki daya tarik sebagai tempat wisata alam.kata kunci: gosong karang, sentinel 2a, lyzenga 1978, klasifikasi citra, nias utara Show More ... ... Show Less

  • Sentinel 2A
  • Coral Reefs
  • Image Classification
  • Classification Method
  • Fishing Ground
Efektivitas Pengolahan Air Yang Mengandung Amonia Konsentrasi Tinggi Menggunakan Konsorsium Probiotik Komersial Dan Bakteri Sedimen Kolam Lele

abstractnitrification is one of the most widely used methods to reduce ammonia concentration in wastewater.the purpose of this study was to determine the effectiveness of high-concentrated ammonia nitrification by the consortium between commercial probiotics and bacteria from the sediment of the catfish pond. the study was conducted on batch system bioreactors with a working volume of 1 liter containing 100 mg/l ammonia solution and 50 grams sediment of catfish pond. this study used a treatment variation of the concentration of commercial probiotics and the bacterial isolate from the catfish pond sediment using glucose as the carbon source. the variations of commercial probiotics added to the bioreactor were 5 ml/l, 10 ml/l and 15 ml/l. the variations of glucose concentration were 0 g/l and 3,9 g/l. analysis of ammonia concentration was carried out by spectrophotometry using the phenate method. the highest removal efficiency of ammonia was 92.35% in the bioreactor with a mixture of 15 ml/l commercial probiotics and 3.9 g/l glucose with the fastest ammonia rate was on the third day of the experimental period. the addition of glucose in the bioreactors could increase ammonia removal by 57.39%. the result of statistical analysis indicated that variations in the concentration of commercial probiotic indicated no statistically significant difference in ammonia removal (p> 0.05), while variations in glucose concentration showed a statistically significant difference in ammonia removal (p <0.05). three isolates were successfully isolated on specific media for nitrifying bacteria. the result of bacterial identification showed that three isolated bacteria were bacillus sp., aeromonas salmonicida, and burkholderia cepacia.keywords: ammonia, nitrification, sediment of catfish pond, commercial probioticabstraknitrifikasi merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk mengurangi konsentrasi amonia pada limbah cair. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan sedimen kolam lele dan probiotik komersial dalam nitrifikasi amonia konsentrasi tinggi. penelitian menggunakan bioreaktor sistem batch dengan volume kerja 1 liter yang berisi larutan amonia 100 mg/l dan 50 gram sedimen kolam lele. perlakuan pada penelitian ini terdiri dari pemberian variasi konsentrasi probiotik komersial dan sedimen kolam lele dengan sumber karbon glukosa. variasi probiotik komersial yang ditambahkan pada bioreaktor adalah 5 ml/l, 10 ml/l dan 15 ml/l sedangkan variasi konsentrasi glukosa adalah 0 g/l dan 3,9 g/l. analisis konsentrasi amonia dilakukan secara spektrofotometri menggunakan metode fenat. hasil penurunan rata-rata amonia tertinggi adalah sebesar 92,35% pada bioreaktor dengan campuran probiotik komersial 15 ml/l dan glukosa 3,9 g/l dengan laju penurunan ammonia tercepat pada hari ke-3 periode eksperimen. penambahan glukosa pada bioreaktor mampu meningkatkan penurunan amonia sebesar 57,39%. analisis statistik menunjukkan bahwa variasi konsentrasi probiotik komersial tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada penurunan amonia (p>0,05) sedangkan variasi konsentrasi glukosa menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap penurunan amonia (p<0,05). tiga isolat berhasil diisolasi menggunakan media spesifik bakteri nitrifikasi. hasil identifikasi dari tiga bakteri menunjukkan bahwa isolat tersebut adalah bacillus sp., aeromonas salmonicida dan burkholderia cepacia.kata kunci: amonia, nitrifikasi, sedimen kolam lele, probiotik komersial Show More ... ... Show Less

  • Commercial Probiotics
  • Ammonia Removal
  • Glucose Concentration
  • Aeromonas Salmonicida
  • Significant Difference
Laju Deoksigenasi Sungai Bedadung Hilir Akibat Pencemar Organik

abstractbedadung stream, located at rambipuji, balung, wuluhan, and puger, is downstream where dilution of organic wastes occurred and affects its water quality. microorganisms decompose organic wastes and lead to depletion of dissolved oxygen in the water. the aim of this research was to analyze the deoxygenation rate of bedadung downstream. the raw data was obtained by measuring stream flows and its water quality parameters (temperature, do and bod) at 5 observed stations. the laboratory analysis consisted of bod5 and long-term bod2,4,6,8,10. increasing the value of bod for 10 days had a tendency of polynomial pattern order 3 with a coefficient of determination r 0.8987 – 0.9781. the 10 days bod reactions were used to determine deoxygenation constant k (using least square method) with the result of ranged value 0.043 – 0.372 /day and ultimate bod 1.487 – 8.683mg/l. the values of deoxygenation rate at 5 stations were 0.182, 7.997, 7.236, 2.192, and 1.083 mg/l.day. the deoxygenation values were had a similar tendency with the amount of organic waste in the water column and its reduction rate due to the decomposition process.keywords: bedadung, bod, deoxygenation rate, doabstraksungai bedadung yang terletak di kecamatan rambipuji, balung, wuluhan dan puger, merupakan sungai bagian hilir dimana zat pencemar organik bercampur, sehingga mempengaruhi kualitas perairan. pencemar organik tersebut didekomposisi oleh mikroorganisme perairan sehingga menurunkan do perairan. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji deoksigenasi sungai bedadung hilir. data primer diperoleh dari pegukuran debit dan kualitas air (temperatur, do, dan bod) di 5 (lima) titik pantau. pengamatan bod5 dan bod2,4,6,8,10 dilakukan secara laboratorium. peluruhan nilai bod selama 10 hari cenderung memiliki tren polinomial dengan koefisien determinan berada pada nilai 0,8987 – 0,9781. nilai peluruhan digunakan untuk menentukan nilai k (menggunakan metode least square) dan bod ultimat. nilai k di lima titik pantau menunjukkan rentang nilai 0,043 – 0,372 /hari dan bod ultimat 1,487 – 8,683 mg/l. sedangkan laju deoksigenasi di lima titik pantau menunjukkan nilai berturut-turut 0,182; 7,997; 7,236; 2,192; dan 1,083 mg/l./hari. besar nilai deoksigenasi sangat ditentukan oleh banyaknya kandungan pencemar organik dalam air dan kecepatan reaksinya saat proses dekomposisi.kata kunci: bedadung, bod, laju deoksigenasi, do Show More ... ... Show Less

  • Water Quality
  • Organic Wastes
  • Least Square
  • Dissolved Oxygen
  • Water Column
Penentuan Temperatur Optimal Pembakaran Boiler Untuk Karbonisasi Hidrotermal Sampah Organik Melalui Model Semi-Analitik Perpindahan Panas

abstractboiler is the one of the importance main equipment in the hydrothermal carbonization process. steam produced from boiler is used to hydrothermal carbonization of organic waste in the reactor. this steam is produced due to the thermal displacement resulting from fuel combustion. the effectiveness of thermal displacement affects the amount of the fuel consumed and the air emissions produced by the combustion process. the study of the thermal transfer in a water tube typed boiler through rayleigh-benard convection semi-analytic modeling was carried out in this study. the boiler is modeled as a cylinder of two-dimensions with degrees of freedom of radius and height of the cylinder. semi-analytic solutions are obtained by applying the galerkin method where ordinary nonlinear differential equation systems are solved using the 4th order runge-kutta method. the results show that the amplitude that is function of the stream and thermal dispersion will oscillate sharply at the start of the heating process and then periodically oscillate with small variability as quasi patterns. simulation shows that the rolling condition starts with a large rolling radius and then shrinks that is followed by uniformly distributed rolling and thermal spread throughout the boiler. the simulation results show the optimal temperature is around 300 oc. at this temperature, steam meets the conditions needed during the hydrothermal carbonization process of organic waste and fuel consumption can be adjusted to reduce air emissions resulting from combustion.key words: boiler, convective, heat transfer, hydrothermal carbonization, rayleigh-benard.abstrakboiler atau ketel uap merupakan salah satu peralatan utama yang sangat penting pada proses karbonisasi hidrotermal. uap air (steam) yang dihasilkan dari boiler dibutuhkan untuk proses karbonisasi hidrotermal sampah organik dalam reaktor. produksi uap disebabkan oleh perpindahan panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar. efektifitas perpindahan panas mempengaruhi jumlah bahan bakar yang dibutuhkan dan emisi udara yang dihasilkan oleh proses pembakaran tersebut. kajian perpindahan panas dalam boiler bertipe water tube melalui pemodelan semi analitik konveksi rayleigh-benard dilakukan dalam penelitian ini. boiler dimodelkan sebagai silinder dua dimensi dengan derajat kebebasan jari jari dan tinggi silinder. solusi semi analitik diperoleh dengan menerapkan metode galerkin dimana sistem persamaan diferensial biasa nonlinier model dipecahkan menggunaan metode runge-kutta orde 4. hasilnya menunjukkan bahwa amplitude yang merupakan fungsi aliran (stream) dan dispersi panas akan berosilasi secara tajam pada awal waktu proses pemanasan dan kemudian secara periodik berosilasi dengan variabilitas yang kecil mengikuti pola kuasi. simulasi menunjukkan bahwa kondisi rolling dimulai dengan jari jari rolling yang besar dan kemudian mengempis yang diikuti dengan tersebar meratanya rolling dan panas secara seragam di seluruh boiler. hasil simulasi menunjukkan suhu optimal adalah sekitar 300oc. pada suhu tersebut, steam memenuhi kondisi yang dibutuhkan selama proses karbonisasi hidrotermal sampah organik dan konsumsi bahan bakar bisa diatur untuk mengurangi emisi udara yang dihasilkan dari pembakaran.kata kunci: boiler, karbonisasi hidrotermal, konvektif, perpindahan panas, rayleigh-benard Show More ... ... Show Less

  • Hydrothermal Carbonization
  • Rayleigh Benard
  • Organic Waste
  • Air Emissions
  • Thermal Displacement
Analisis Debit Puncak Untuk Perencanaan Sistem Drainase Di Kawasan Teknopark Pelalawan

abstracta drainage system is an infrastructure that plays an important role for regions such as in pelalawan technopark. drainage system design needs to be carried out comprehensively to obtain the results of the predicted regional channel system analysis based on maximum daily rainfall data in the area. thus, any rain falling in each sub-watershed within the region can be properly flowed, through the channel system in the four main drainages and does not cause flooding in the area. the methodology for the analysis of drainage systems is carried out through 4 comprehensive stages, starting with delineation of the four sub-watersheds in the area and performing sub-watershed morphometry until mapping process of the main drainage system of the pelalawan technopark area. the results of peak discharge analysis is derived from the calculation of rain plan/predicted rain results in the 25-year return period, the petarik sub-watershed has value of 158.21 m3/sec, while the bedaguh guntung watershed,  the kahayan sub-watershed, and the langgam watershed have results about 53.64 m3/dt, 30.56 m3/sec, and 34.16 m3/sec respectively. if the drainage system is to be built in the technopark area, one main channel must be provided in each sub-watershed with channel capacity by the peak discharge. if the four main channels have been prepared, the technopark region will be free of flooding for the planning period from the rain with a 25 year return period.keyword: technopark, infiltration, rainfall, return periode, peak discharge, drainage capacity abstrakrancangan sistem  drainase adalah sebuah infrastruktur yang memegang peranan penting termasuk untuk kawasan seperti di teknopark pelalawan. perencanaan sistem drainase perlu dilaksanakan dengan baik untuk mendapatkan hasil analisis sistem saluran kawasan yang diprediksi berdasarkan data  hujan hujan harian maksimum dalam kawasan tersebut.  dengan demikian, setiap hujan  yang jatuh di dalam setiap sub das dalam kawasan dapat dialirkan dengan baik, melalui sistem saluran pada keempat drainase utama dan tidak menimbulkan banjir dalam kawasan. metodologi untuk analisis sistem  drainase, dilakukan melalui 4 tahap yaitu yang dimulai dengan melakukan deliniasi terhadap keempat sub das dalam kawasan dan melakukan morfometri sub das untuk mendapatkan data luas dari masing-masing sub das, kemiringan lereng, koefisien runoff, dan time of consentration (tc). hingga pemetaan sistem drainase utama  kawasan teknopark pelalawan. hasil analisis  debit puncak  pada 4 sub das  dalam kawasan teknopark yang berasal dari perhitungan hujan rencana/ hujan hasil prediksi pada periode ulang 25 tahun, untuk ke 4 adalah sub das petarik sebesar 158,21 m3/dt, sub das bedaguh guntung sebesar 53,64  m3/dt. sub das kahayan sebesar  30,56 m3/dt  dan  sub das langgam sebesar 34,16 m3/dt. apabila dalam kawasan teknopark tersebut akan dibangun sistem drainase, maka harus disediakan 1 (satu) buah saluran utama di setiap  sub das dengan kapasitas saluran sesuai dengan besarnya sesuai dengan debit puncak. jika keempat saluran utama tersebut telah disiapkan maka kawasan teknopark akan dapat terbebas dari banjir untuk periode perencanaan dari hujan dengan periode ulang 25 tahun.kata kunci: teknopark, infiltrasi, hujan, periode ulang, debit puncak, kapasitas saluran Show More ... ... Show Less

  • Drainage System
  • Peak Discharge
  • Channel System
  • Drainage Capacity
  • Maximum Daily Rainfall
Distribusi Spasial, Sumber Pencemaran, Dan Kajian Risiko Ekologi Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) Dalam Sedimen Pesisir Di Pulau Bintan, Indonesia

abstractbintan island is the small island in the riau archipelago which borders singapore and malaysia. its water is crossed by international shipping lines. therefore, water quality in this area is potentially polluted by marine activities. the present study aimed to evaluate the concentration, spatial distribution, and assessment of ecological risks of polycyclic aromatic hydrocarbons (pahs) in surface sediments from selected coastal water of bintan. surface sediments in this study were extracted by using the ultrasonic system and determined with gcms. the data were visualized with argis software for spatial distribution mapping, applied ratio diagnostic methods for the source of pah contamination, and assess their ecological risk based on sediment quality guidelines. the results showed pahs concentrations ranged from below the method detection limit (<dl) to 13.492 ng.g−1(dry weight) with the highest concentration of pahs were detected at tju 1 station as much as 13.492 ng.g-1. as many as seven types of pahs were identified in bintan water, they were naphthalene (two rings), fluorene and anthracene (three rings); fluoranthene, pyrene, benzo (a) pyrene and chrysene (five rings). based on diagnostic ratios, the sources of pahs in this coastal area were mainly from pyrogenic origins. ecological risk assessment has shown that the average value of ∑10 pah in bintan waters (5.855 ng.g-1) is lower than the corresponding erl, erm, tel, and pel value indicating that the adverse biological effects of pahs are generally low.keywords: polycyclic aromatic hydrocarbons (pahs), distribution, pollution, bintan watersabstrakpulau bintan merupakan pulau kecil di kepulauan riau yang berbatasan langsung dengan negara singapura dan malaysia serta perairannya dilintasi oleh jalur pelayaran internasional sehingga potensi pencemaran dari aktivitas di laut sangat tinggi. penelitian ini bertujuan untuk mengukur konsentrasi, distribusi spasial, sumber asal pencemaran dan analisis resiko lingkungan senyawa pah dalam sedimen permukaan di perairan pesisir pulau bintan. sedimen permukaan diekstraksi dengan sistem ultrasonik dan dianalisa akhir dengan gcms. data senyawa pah diolah dengan software argis untuk membuat peta distribusi spasial, dianalisa dengan metode diagnosa rasio untuk mengetahui sumber pencemarnya dan dibandingkan dengan nilai baku mutu sedimen untuk mengkaji resiko ekologinya. hasil analisis di setiap stasiun sampling di muara pengudang dan tanjung uban menunjukkan konsentrasi total pah (tpah) berkisar antara < limit deteksi alat (1 ngg-1) sampai 13,492 ng.g-1 berat kering dengan konsentrasi tertinggi terdeteksi di stasiun tju 1 yaitu sebesar 13,492 ng.g-1.  sebanyak tujuh jenis senyawa pah teridentifikasi di perairan bintan ini diantaranya naphthalene, (dua cincin benzene), fluorene dan anthracene (tiga cincin benzene); fluoranthene, pyrene, benzo (a) pyrene, dan chrysene (empat cincin benzene). berdasarkan analisa diagnosa rasio, sumber pencemaran pah di perairan pesisir bintan adalah berasal dari kombinasi antara sumber pirogenik. analisis resiko lingkungan menunjukkan nilai rata-rata ∑10 pah di perairan bintan (5,855 ngg-1) masih rendah dibandingkan nilai erl, erm, tel dan pel, hal tersebut mengindikasikan bahwa efek biologis senyawa pah secara umum rendah.kata kunci: polisiklik aromatik hidrokarbon (pah), sebaran, pencemaran, perairan bintan Show More ... ... Show Less

  • Spatial Distribution
  • Polycyclic Aromatic Hydrocarbons
  • Ecological Risk
  • Surface Sediments
Pengolahan Nitrifikasi Limbah Amonia Dan Denitrifikasi Limbah Fosfat Dengan Biofilter Tercelup

abstractwater pollution is a problem that often arises and gives a serious impact to the environment. therefore, it should be reduced by conventional methods or modern methods. the submerged biofilter is a biological waste treatment plant that utilizing microorganisms grown in a packing medium. the advantages of submerged biofilter as a waste treatment plant are easy to use and low energy consumption so the operational cost is cheaper. this study aims to determine the operational parameters of the submerged biofilter and to develop a model that can be used to estimate the rate of elimination of each pollutant using nitrification reactor for ammonia and denitrification reactor for phosphate. the experiments were conducted with draining the wastewater in a cylindrical bio-filter column in which the hight is 90 cm. at first, the microorganism was grown for two weeks with the residence time of one day. furthermore, the wastewater removals are conducted with hydraulic loading rate (hlr) variation of 0.44; 0.55; 0.74; 1.11; 1.66; 2.21; and 3.32 m3/m2/day. then the effluent from the outlet is analyzed using uv-vis spectrophotometer. the results showed that the optimum ammonia and phosphate removal was obtained in 0.44 m3/m2/day for ammonia removal and 1.66 m3/m2/day for phosphate removal. while the removal of ammonia and phosphate percentage from both conditions are 97.41% and 27.16% respectively. the changes of hlr will give an effect on substrate reduction rate (srr), and the percentage of substrate removal. the model developed based on efficiency factors presented a good approach to represent the concentration of substrate effluent at various hlr. keywords: wasteswater, nitrification, denitrification, submerged biofilter abstrakpencemaran air merupakan permasalahan yang sering muncul dan berpengaruh serius pada lingkungan. oleh karena itu, perlu dilakukan usaha yang berkelanjutan untuk dapat mengurangi dampak dari pencemaran tersebut, baik dengan cara-cara konvensional maupun inovasi teknologi terbaru. biofilter tercelup (submerged biofilter) adalah suatu alat pengolah limbah secara biologi dengan memanfaatkan mikroorganisme yang ditumbuhkan dalam media packing di dalamnya. kelebihan penggunaan biofilter tercelup sebagai alat pengolah air limbah adalah pengelolaannya yang mudah dan konsumsi energi yang rendah sehingga biaya operasionalnya murah. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter operasional biofilter tercelup dan mengembangkan model untuk memperkirakan laju penyisihan setiap polutan menggunakan reaktor nitrifikasi untuk limbah amonia dan reaktor denitrifikasi untuk fosfat. percobaan dilakukan dengan mengalirkan limbah pada sebuah kolom biofilter berbentuk silinder dengan ketinggian 90 cm. pada mulanya mikroorganisme ditumbuhkan dengan mengalirkan limbah selama dua minggu dengan waktu tinggal cairan satu hari. selanjutnya dilakukan penyisihan limbah dengan variasi kecepatan beban hidrolik (hlr) sebesar 0,44; 0,55; 0,74; 1,11; 1,66; 2,21; dan 3,32 m3/m2/hari. effluent dari keluaran reaktor kemudian dianalisis menggunakan spektrofotometer uv-vis. hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum penyisihan amonia dan fosfat adalah 0,44 m3/m2/hari untuk penyisihan amonia dan 1,66 m3/m2/hari untuk penyisihan fosfat. persentase removal amonia dan fosfat dari kedua kondisi tersebut berturut-turut sebesar 97,41% dan 27,16%. perubahan hlr berpengaruh terhadap kecepatan penyisihan limbah (srr), dan persentase limbah tersisihkan. model yang dikembangkan berdasarkan faktor efisiensi memberikan hasil yang cukup baik untuk merepresentasikan besarnya konsentrasi effluent limbah pada berbagai variasi hlrkata kunci: limbah cair, nitrikasi, denitrifikasi, biofilter tercelup Show More ... ... Show Less

  • Phosphate Removal
  • Waste Treatment Plant
  • Low Energy Consumption
Efektifitas Kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Gula Di Kabupaten Kediri Dan Kabupaten Sidoarjo

abstractwastewater from sugar industries has complex characteristics and depends on the production capacity. the main aim of this study is to determine the effectiveness of the waste water treatment processes (wwtp) of two sugar factories pg. kediri and pg. sidoarjo in reducing ph, bod, cod, and tss during year 2016 and 2017. wastewater influents in both factories exceeded the water quality standards of ministry of environment regulation number 5 year 2014. after treatments, water quality parameters of the effluents including ph, bod, cod and tss were significantly decreased. the effectiveness of the pg kediri wwtp in reducing bod, cod and tss was 98.52%; 98.47% and 91.51% respectively. the effectiveness of pg sidoarjo wwtp in reducing bod, cod and tss was 5-20% lower than that of pg. kediri. keywords: effectiveness performance, wwtp, sugar industry, wastewater  abstraklimbah cair yang dihasilkan oleh industri gula memiliki karakteristik yang kompleks dan bergantung pada kapasitas produksi. pengolahan limbah cair dilakukan secara fisika dan biologi untuk mengurangi konsentrasi bahan pencemar yang menjadi permasalahan lingkungan. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas kinerja ipal di pg. kediri dan pg. sidoarjo dalam menurunkan konsentrasi ph, bod, cod dan tss selama tahun 2016 dan 2017. sebelum pengolahan air limbah memiliki konsentrasi tinggi melebihi ambang batas baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh peraturan menteri lingkungan hidup ri no. 5 tahun 2014. setelah dilakukan pengolahan terjadi penurunan konsentrasi ph, bod, cod, dan tss secara signifikan yang diukur di bagian outlet ipal. besarnya efektifitas kinerja ipal di pg kediri dalam menurunkan konsentrasi bod, cod, dan tss sebesar 98,52%; 98,47%; dan 91,51%. berbeda dengan nilai efektifitas kinerja ipal di pg sidoarjo yang lebih rendah 5 sampai 20% dari efektifitas pg. kediri.kata kunci: efektifitas kinerja, industri gula, ipal, limbah cair Show More ... ... Show Less

  • Water Quality
  • Waste Water
  • Water Treatment
  • Environment Regulation
  • Industry Wastewater
Analisa Eksergi PLTU Berbahan Bakar Sampah Padat Kota Kapasitas 600 Ton Per Hari

abstractexergy analysis was conducted in evaluating the performance of muncipal solid waste fired steam power plant (pltsa) to determine the locations and quantities of exergy losses. wastes and exergy destructions in different processes of the plant were also been calculated. total exergy available at incinerator input was 60.560,54 kw, consisted of 58.242,45 kw in msw and 2.318,08 kw in the combustion air. the burning of 600 ton per day msw in the pltsa produced 8.482,83 kw net electric power, accounted for 14,01 % of the overall exergy efficiency of the power plant. the plant produced electrical energy 59.447.673 kwh/year and reduced 240.900 ton msw/year, thus contributing to co2 emission reduction. exergy efficiency of the turbine generator and condenser were 86,21 % and  78,48 % respectively. pltsa component with the largest exergy destructions was incinerator-boiler (56,53 %), far exceeded the turbine generator (8,69 %), and condenser (3,79 %).keywords: exergy, exergy destruction, steam power plant, muncipal solid waste  (msw), exergy efficiency.abstrakpentingnya analisa eksergi dalam mengevaluasi kinerja pltsa telah terbukti. analisa eksergi pltsa telah dilakukan untuk mengetahui lokasi dan jumlah kerugian eksergi. limbah dan destruksi eksergi dalam proses yang berbeda telah diindikasikan. hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa total eksergi yang tersedia pada input incenerator adalah 60560,54 kw. nilai ini terdiri dari 58242,45 kw yang terkandung dalam msw dan 2318,08 kw dalam udara pembakaran. pembakaran 600 ton per hari msw pada sistem pltsa menghasilkan  8482,83 kw daya listrik bersih dan 14,01 % efisiensi eksergi keseluruhan pembangkit. pembangkit menghaslkan energi listrik sebesar 59447673 kwh/tahun dan mengurangi timbunan sampah sebanyak 240900 ton msw/tahun, sehingga berkontribusi dalam mengurangi emisi co2. efisiensi eksergi dari sistem turbin generator dan sistem kondensor masing-masing adalah 86,21 % dan  78,48 %. komponen pltsa dimana terjadi destruksi eksergi yang terbesar berturut-turut adalah pada sistem insinerator-boiler sebesar 56,53 % , sistem turbine - generator 8,69% dan sistem kondensor 3,79%.kata kuncis: eksergi, destruksi eksergi,  pltusa, sampah padat kota (msw), efisiensi eksergi Show More ... ... Show Less

  • Solid Waste
  • Exergy Efficiency
  • Turbine Generator
  • Steam Power Plant
Inovasi Sistem Pemisah Logam Dalam Mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLT Sampah

abstractin the waste to energy (wte) pilot plant system, the garbage feed has high diverse content including various type of metal. a metal separation system plays an important role during waste pretreatment process before the garbage entering the incinerator. this system is aimed to prevent performance degradation of the combustion system and to gain added value of the reuse metals in the waste. the wte pilot plant in bantargebang, constructed in 2018, is a large project and is expected to contribute significantly in overcoming waste problems in indonesia. the performance of the wte pilot plant system increases significantly if supported by a metal separator system integrated to the existing pretreatment system. this paper evaluates new design of metal separation system from the waste inputs. in general, metal separator system was designed as a permanent unit with a stand alone or integrated electromagnetic lifting. in this paper, the metal separator system was designed by using a combination of permanent ferrite and neodymium magnetic cores to create a combined force able to pull scraps mixed in waste at a considerable distance and was easily removed and collected. to optimize the system, a metal separator system was attached to a crane system installed in a double cabin car. thus, the flexibility of this system was increasingly high. tests results showed that the metal separator system with a combination of ferrite and neodymium was able to pull metals in the waste from a distance up to 20 cm despite of blocking by non-magnetic wastes, and able to attract almost 100% of the exisiting metals. key words: wte, metal separator, ferrite, neodymium, waste, mobile systemabstrakpada sistem pembangkit listrik tenaga sampah (plt sampah), di mana umpan sampah memiliki keberagaman yang tinggi, termasuk keberadaan logam di dalamnya, sistem pemisahan logam sebagai tahapan pretreatment sampah sebelum masuk ke dalam sistem insinerator akan memegang peranan yang cukup penting. sistem ini bertujuan untuk mencegah penurunan kinerja sistem pembakaran serta untuk meningkatkan nilai dari penggunaan ulang logam yang tercampur ke dalam sampah. pembangunan pilot plt sampah di bantargebang yang dimulai pada tahun 2018 merupakan suatu proyek besar dan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengatasi permasalahan sampah di indonesia. kinerja sistem plt sampah ini akan lebih baik jika didukung oleh sistem pemisah logam yang dapat diintegrasikan dengan sistem pretreatment yang telah ada. inovasi sistem ini dirancang untuk melakukan pemilahan terhadap input sampah yang masuk ke dalam sistem plt sampah yang berupa logam sehingga sampah logam tidak turut terbakar. pada umumnya, pemisah logam dibuat sebagai unit permanen dengan menggunakan magnet pengangkat berupa elektromagnet yang berdiri sendiri atau bisa terintegrasi. namun pada sistem ini, sistem pemisah logam dirancang dengan menggunakan magnet permanen yang menggabungkan inti magnet ferrite dan neodymium sehingga akan menciptakan kombinasi antara sistem yang dapat menarik scrap yang tercampur dalam sampah pada jarak yang cukup jauh namun bisa dilepaskan dengan mudah untuk dikumpulkan. untuk membuat sistem ini bekerja optimal, sistem pemisah logam dibuat secara mobil dengan memadukannya dengan sistem derek yang terpasang pada sistem mobil kabin ganda. dengan demikian, fleksibilitas sistem ini menjadi semakin tinggi. uji yang telah dilakukan menunjukkan sistem pemisah logam dengan kombinasi ferrite- neodymium ini dapat menarik logam yang tercampur pada sampah hingga jarak 20 cm meskipun terhalang sampah yang lain (non-magnet), dan menarik hampir 100% dari logam yang tersedia.kata kunci : plt sampah, pemisah logam, ferrite, neodymium, sampah, sistem mobil Show More ... ... Show Less

  • Pilot Plant
  • Separation System
  • Plant System
  • Metal Separation
  • Magnetic Cores
Uji Kinerja Instalasi Daur Ulang Air Limbah Industri Kaleng Di Jakarta

abstractthe need for clean water consumption continues to increase in line with the current population and industry growth. the canned industry is one of the industries that consume a considerable amount of water for the production process, while the availability of clean water sources is very limited, both in quantity and quality. one alternative solution to the problem above is by building a wastewater treatment plant into reusable water (recycling) to meet the needs of the washing process in the industry. this paper discusses the testing of wastewater recycling installations into clean water in a canned industry in jakarta. the process of recycling wastewater is divided into several stages, namely chemical processes for ph control, biological processes of activated sludge, biofilter, and filtration. afterward, the wastewater is filtered using a reverse osmosis membrane. the test results show that the water quality of recycling wastewater and filtered wastewater using ro membranes could produce pure water quality. the use of water for the process in the canned industry is large enough for canned washing processes. therefore, by using the recycling technology, the use of water, especially for the washing process, can be saved up to 100%.keyword : wastewater reuse, reverse osmosis, can industriesabstrakkebutuhan akan konsumsi air bersih terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan industri saat ini. industri kaleng merupakan salah satu industri yang mengkomsumsi air dalam jumlah yang cukup banyak untuk proses produksi, sedangkan  ketersediaan sumber air bersih sangat terbatas, baik secara kuantitas maupun kualitas. salah satu alternatif solusi permasalahan di atas yaitu dengan membangun instalasi pengolahan air limbah menjadi air yang dapat digunakan kembali (daur ulang) guna memenuhi kebutuhan proses pencucian di industrinya. makalah ini membahas tentang pengujian instalasi daur ulang air limbah menjadi air bersih di salah satu industri kaleng di jakarta. proses pengolahan daur ulang air limbah terbagi dalam beberapa tahap yaitu proses pengolahan air limbah produksi dengan proses kimia untuk kontrol ph, proses biologis lumpur aktif dan biofilter serta filtrasi. kemudian berikutnya dengan proses filtrasi menggunakan membran reverse osmosis. hasil pengujian menunjukkan bahwa kualitas air pengolahan daur ulang air limbah dan penyaringan dengan menggunakan membran ro menghasilkan kualitas air yang murni. pemakaian air untuk proses di industri kaleng yang cukup besar adalah untuk proses pencucian kaleng. sehingga dengan adanya teknologi daur ulang, maka pemakaian air khususnya untuk proses pencucian dapat dihemat sampai 100%.kata kunci : daur ulang air limbah, reverse osmosis, industri kaleng Show More ... ... Show Less

  • Reverse Osmosis
  • Clean Water
  • Water Quality
  • Washing Process
  • Recycling Technology
Efisiensi Penggunaan Grey Water Dan Air Hujan Dalam Rangka Menurunkan Tingkat Penggunaan Air Baku

abstractthe population growth rate in big cities such as jakarta and its satellite cities has a correlation that is directly proportional to the level of clean water consumption. the biggest consumption of clean water is generally used for domestic household needs. however, the use of clean water is still not efficient. therefore, the efficiency of water-saving needs to be carried out by utilizing sources that have not been optimally used, for example, greywater and rainwater. the purpose of this study is to determine the level of water usage in 3 (three) types of housing and the level of efficiency of utilization of domestic wastewater (greywater) and rainfall (ch) in reducing the use of clean water. this research was performed in the villa bintang mas residential area in the city of south tangerang, the villa bintang mas residential area in the city of depok, and the selakopi hijau/forestry residential area in the city of bogor. data collection was conducted by a series of surveys using a questionnaire on the sample of a household. the results show that the data processing needs of clean water in three residentials range of values between ± 158.84 liters/person/day up to ± 215.38 liters/person/day. the level of efficiency of the utilization of greywater and rainwater in reducing the usage of clean water in three housing ranges from 21.12% to 58.47%.keywords: domestic waste, the use of clean water abstraktingkat pertumbuhan penduduk di kota-kota besar seperti jakarta dan kota-kota satelitnya memiliki korelasi yang berbanding lurus dengan tingkat konsumsi air bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat. konsumsi air bersih terbesar adalah untuk kebutuhan domestik rumah tangga. penggunaan air bersih saat ini masih belum mengikuti kaidah efisiensi dalam penggunaannya, untuk itu efisiensi penghematan air perlu segera dilakukan dengan memanfaatkan sumber-sumber lain yang belum termanfaatkan, antara lain air limbah domestik rumah tangga (grey water) dan air hujan. tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat pemakaian air di 3 (tiga) tipe perumahan,serta tingkat efisiensi pemanfaatan air limbah domestik rumah tangga (grey water) serta curah hujan (ch) dalam menurunkan pemakaian air bersih. penelitian ini dilaksanakan di perumahan villa bintang mas, kota tangerang selatan, perumahan permata depok, kota depok, dan perumahan selakopi hijau/kehutanan, kota bogor. pengambilan data dilakukan dengan cara survei menggunakan kuesioner pada rumah tangga yang menjadi sampel. hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa kebutuhan air bersih di tiga perumahan berkisar pada rentang nilai antara ±158,84 liter/orang/hari sampai dengan ± 215.38 liter/orang/hari. tingkat efisiensi pemanfaatan grey water dan air hujan dalam mengurangi pemakaian air bersih di tiga perumahan berkisar antara 21,12% hingga 58,47%.kata kunci: limbah domestik, penggunaan air bersih Show More ... ... Show Less

  • Clean Water
  • Grey Water
  • Residential Area
  • The City
  • Range Of Values
Studi Karakterisasi Sampah Landfill Dan Potensi Pemanfaatannya (Studi Kasus Di TPA Sukawinatan Dan Bantargebang

abstractlandfills contain materials that can be recovered to be recycled or used as an energy source. the purpose of this study is to conduct waste characterization that has long been buried in landfill which includes analysis of composition, proximate analysis, and ultimate analysis. then the waste is analyzed for its use as recycled material and energy sources. the study was conducted at the sukawinatan landfill (palembang) and the bantargebang landfill (bekasi). sampling was carried out on garbage that had been buried in landfills by digging at depths of up to 5 m using an excavator. furthermore, the samples are dried in the sun, sifted with rotary screen, and sorted manually. some samples were taken by quartering to be analyzed in the laboratory. the results of the research and analysis showed that (i) landfill waste was dominated by compost material (31-47%) and plastic combustible material (32-43%) and nonplastic combustible material (32-43%); (ii) shaped material such as compost has the potential as a substitute for landfill cover and as soil conditioner; (iii) potentially recycled materials such as plastic waste need intensive sorting and cleaning; (iv) landfills excavated waste can be potentially used as an energy source or refuse-derifed fuels (rdf) with a heating value between 7.31-15.61 mj / kg; (v) landfills excavated waste has the potential to be used as fuel for incinerators; (vi) utilization of landfill waste for the cement industry still faces several obstacles such as high chlorine content and water content.keywords: landfill, waste characterization, composition, proximate, ultimate abstraktpa mengandung material yang dapat diambil untuk didaur ulang atau dimanfaatkan sebagai sumber energi. tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan karakterisasi sampah yang telah lama tertimbun di tpa yang  meliputi analisis komposisi, analisis proksimat, dan analisis ultimat. kemudian sampah tersebut dilakukan analisis pemanfaatannya sebagai bahan daur ulang dan sumber energi. penelitian dilakukan di tpa sukawinatan (palembang) dan di tpa bantargebang (bekasi). pengambilan sampel dilakukan terhadap sampah yang sudah tertimbun di landfill dengan cara menggali pada kedalaman hingga 5 m menggunakan excavator. selanjutnya sampel dijemur, diayak dengan penyaring berputar (rotary screen), dan dipilah secara manual. sebagian  sampel diambil dengan metode perempatan (quartering) untuk kemudian dianalisa di laboratorium. hasil dari penelitian dan analisisnya memperlihatkan bahwa (i) sampah galian tpa didominasi oleh material kompos (31-47%) dan material combustible plastik (32-43%) serta combustible nonplastik (32-43%); (ii) material berbentuk seperti kompos memiliki potensi sebagai pengganti soil cover tpa dan sebagai material pembenah tanah (soil conditioner); (iii) material yang potensial didaur ulang seperti sampah plastik perlu pemilahan dan pembersihan yang intensif; (iv) sampah galian tpa potensial dimanfaatkan sebagai sumber energi atau rdf (refuse-derifed fuels) dengan nilai kalor antara 7,31-15,61 mj/kg; (v) sampah galian tpa berpotensi digunakan sebagai bahan bakar insinerator pltsa; (vi) pemanfaatan sampah galian tpa untuk industri semen masih menghadapi beberapa kendala seperti tingginya kandungan klorin dan kadar air.kata kunci: landfill, karakterisasi sampah, komposisi, proksimat, ultimat Show More ... ... Show Less

  • Energy Source
  • Combustible Material
  • Soil Conditioner
  • Waste Characterization
  • Recycled Material
Purifikasi Gas Metana (CH4) Dari TPA Sampah Menggunakan Metode Water Scrubber

abstracthigh population growth rate has stimulated the increase of energy consumption. therefore, the use of renewable energy sources such as methane gas from landfill has also been encouraged. it is necessary that landfill methane gas is purified to increase its concentration. common method to purify methane gas is water scrubber method. the aim of this research was to evaluate the effectiveness of landfill methane gas purification using a spray water scrubber (water scrubber method), a water column scrubber (bubbling methods) and the combination of both methods to increase the content of landfill methane. the experiment was conducted in the dry season and rainy season. results of the study concluded that water scrubber was the most effective method for increasing methane gas concentration. the average increase of methane gas in the dry season were 33.32% (water scrubber) and 23.79% (combination of bubbling and water scrubber), and in the rainy season 8.89% (water bubbling) and 2.75% (combination of water scrubber and water bubbling). the increase in methane gas was due to a decrease in co2 gas. in addition, there was an increase of h2o content in biogas from landfill after the purification process.keywords: landfill, methane gas, purification, water scrubberabstraktingginya laju pertumbuhan penduduk telah memacu konsumsi energi yang terus meningkat. oleh karena itu diperlukan upaya pemanfaatan sumber energi terbarukan, yang salah satunya adalah gas metana yang berasal dari tpa sampah. keinginan untuk meningkatkan kandungan gas metana tpa diperlukan upaya purifikasi, menggunakan metode water scrubber. penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui efektivitas purifikasi gas metana tpa dengan menggunakan metode pengaliran gas dalam percikan air (water scrubber) dan metode pengaliran gas dalam air atau water bubbling (serta kombinasi keduanya) untuk meningkatkan kandungan gas metana tpa, yang dilakukan pada musim kemarau dan musim penghujan. hasil penelitian menyimpulkan bahwa water scrubber merupakan metoda yang paling efektif untuk meningkatkan kandungan gas metana. rata-rata peningkatan gas metana pada musim kemarau dan musim penghujan, berturut-turut sebesar 33,32% (water scrubber), 23,79 (kombinasi water bubbling dan water scrubber), 8,89% (water bubbling) dan 2,75% (kombinasi water scrubber dan water bubbling). peningkatan gas metana tersebut terjadi karena adanya penurunan gas co2. selain itu, terjadi peningkatan kandungan h2o pada biogas dari tpa setelah proses purifikasi.kata kunci: tpa, gas metana, purifikasi, water scrubber Show More ... ... Show Less

  • Water Scrubber
  • Methane Gas
  • Rainy Season
  • Dry Season
  • Gas Purification
Jejak Ekologis Kawasan Regional Bandung

abstractthis paper aims to explain the application of ecological footprint method as an approach for finding out the carrying capacity of the region. case study was conducted in bandung basin area that called as the bandung regional area. ecological footprint analysis was done by using the workbook and guidebook national footprint account 2008 that prepared by the global footprint network (gfn). results of the analysis showed that the ecological footprint of bandung regional has been deficit of 1.31 gha/capita (ef consumption is 1.37 gha/capita and biocapacity is 0.06 gha/capita). thus, the supply-demand ratio is 0.04. this value ratio is less than one so it is categorized as the overshooting status. this status indicates that the carrying capacity of resources has been overloaded in the bandung regional. therefore, it requires the number of efforts including regulation that can alter the consumption pattern and create metabolic utilization of natural resources which is more circular than linear. in addition, it needs a good cooperation among stakeholders in the surrounding area of regional bandung to meet the demands of all communities in bandung region.keywords: bandung regional, carrying capacity, ecological footprint, overshoot  abstrakmakalah ini bertujuan menjelaskan hasil aplikasi metode jejak ekologis sebagai salah satu pendekatan untuk mengetahui daya dukung lingkungan suatu kawasan. studi kasus dilakukan di kawasan cekungan bandung yang disebut juga sebagai regional bandung. analisis jejak ekologis dilakukan dengan memanfaatkan workbook dan guidebook national footprint account tahun 2008 yang disediakan oleh global footprint network (gfn). hasil analisis menunjukkan bahwa jejak ekologis regional bandung mengalami defisit sebesar 1.31 gha/kapita dengan nilai jejak ekologis konsumsi (ef consumption) sebesar 1.37 gha/kapita dan biokapasitasnya sebesar 0,07 gha/kapita. dengan demikian rasio supply-demand sebesar 0.04. nilai rasio supply-demand kurang dari satu dikategorikan sebagai status overshoot. status ini mengindikasikan bahwa daya dakung sumber daya alam di kawasan regional bandung telah terlampaui. oleh karena itu diperlukan berbagai upaya termasuk regulasi yang dapat merubah pola konsumsi dan menciptakan metabolisme pemanfaatan sumber daya alam yang lebih bersifat sirkuler daripada linier. selain itu perlu dilakukan kerjasama yang baik diantara pemangku kepentingan di wilayah sekitarnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakat di regional bandung. kata kunci: daya dukung, jejak ekologis, regional bandung, terlampaui Show More ... ... Show Less

  • Carrying Capacity
  • Case Study
  • Ecological Footprint Analysis
  • Basin Area
Struktur Komunitas Fitoplankton Di Area Tambang Timah Dan Perairan Sekitar Kabupaten Bangka Barat

abstracttin mining in the coastal waters of west bangka regency is known to affect water quality, which has an impact on the phytoplankton community structure. this research aims to study phytoplankton communities in mining tin areas and outside of mining areas (non-mining areas). sampling was carried out in 22 sampling stations with 7 stations in the tin mining area. phytoplankton samples were taken by the vertical haul method. zooplankton sampling and measurement of water parameters in the form of temperature, ph, and salinity were also conducted to determine the relationship of these parameters with the phytoplankton community. based on the density of phytoplankton in the water column, the coastal waters of west bangka are generally in the category of oligotrophic with cell densities ranging from 3.6 × 105 - 1.6 × 107 cells.m-3. the results of the is-id analysis showed a difference of 56% in phytoplankton community structures in the mining and non-mining areas of west bangka coastal. although no differences were found in the number of phytoplankton genus present, phytoplankton cell density in the waters around the tin mining area was found to be lower compared to the waters in the non-mining area. differences in community structure and phytoplankton cell density in mining and non-mining areas are thought to be related to mining activities in the coastal. however, further studies are needed to study the magnitude of the influence and exact cause of the emergence of differences in community structure and phytoplankton density.keywords: tin mining, spatial distribution, phytoplankton community, bray-curtis clustering abstrakpenambangan timah di perairan pesisir kabupaten bangka barat diketahui dapat mempengaruhi kualitas perairan sehingga berdampak pada struktur komunitas fitoplankton. penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komunitas fitoplankton di kawasan tambang timah pesisir (mining) dan di luar area tambang (non-mining) di pesisir bangka barat. pengambilan sampel dilakukan pada bulan oktober 2012 di 22 stasiun sampling, termasuk 7 stasiun sampling yang berada di area penambangan timah. sampel fitoplankton diambil dengan metode vertical haul menggunakan jaring kitahara (mata jaring 80 µm). pengambilan sampel zooplankton dan pengukuran parameter air berupa suhu, ph, dan salinitas juga dilakukan untuk mengetahui hubungan parameter tersebut dengan komunitas fitoplankton di area kajian. berdasarkan densitas fitoplankton di kolom air, perairan pesisir bangka barat secara umum berada dalam kategori oligotrofik dengan densitas sel berkisar antara 3,6×105 – 1,6×107 sel.m-3. komunitas fitoplankton di bangka barat terdiri atas 28 genus, mencakup 23 genus diatomae dan 5 genus dinoflagellata, dengan bacteriastrum, chaetoceros, thalassiothrix, rhizosolenia, dan pseudo-nitzschia sebagai genera paling dominan di perairan. hasil analisis is-id menunjukkan perbedaan sebesar 56% pada struktur komunitas fitoplankton di area mining dan non-mining perairan bangka barat. meskipun tidak ditemukan perbedaan pada jumlah genus fitoplankton yang hadir, densitas sel fitoplankton di perairan sekitar kawasan mining timah ditemukan lebih rendah dibandingkan dengan perairan yang ada di kawasan non-mining kabupaten bangka barat. perbedaan struktur komunitas dan densitas sel fitoplankton di area mining dan non-mining diduga terkait dengan aktivitas penambangan di perairan pesisir bangka barat. namun diperlukan kajian lebih lanjut untuk mempelajari besar pengaruh dan penyebab pasti munculnya perbedaan struktur komunitas dan densitas fitoplankton tersebut. kata kunci: tambang timah, distribusi spasial, komunitas fitoplankton, bray-curtis clustering Show More ... ... Show Less

  • Phytoplankton Community
  • Mining Areas
  • Community Structure
  • Cell Density
Penghematan Listrik Rumah Tangga Dalam Menunjang Kestabilan Energi Nasional Dan Kelestarian Lingkungan

abstractthe government efforts to maintain national energy stability program through the increase energy supply and saving must be supported by all levels of society. several energy observers and experts stated that the contribution of the domestic or household sector in the activities of energy saving program is quite significant because the percentage of household customers are relatively high. this paper analyzes the potential of providing research data on the percentage of electricity savings in the domestic or household sectors towards saving electricity nationally. the results of the study show that electrical devices commonly used in households still have the potential to be saved. electrical devices that are often used at households and have great saving potentials are air conditioners and refrigerators. if each household customer saves 30% of electricity consumption, then the national electricity supply that can be saved will be around 5,679 gw, equivalent to 83.3 trillion rupiah. the saving program resulted in savings of electricity consumption of around 6% of all household consumers or around 2.9% of total national electricity consumption.keywords: electrical energy, savings, households abstrakupaya pemerintah dalam menjaga kestabilan energi nasional melalui program peningkatan pasokan dan penghematan energi harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. para pengamat dan pakar energi menyatakan bahwa kontribusi sektor domestik atau rumah tangga dalam program penghematan konsumsi energi listrik cukup signifikan karena persentase jumlah pelanggan rumah tangga yang relatif tinggi. penelitian ini menganalisis tentang potensi persentase penghematan energi listrik sektor domestik atau rumah tangga terhadap  penghematan listrik secara nasional. hasil penelitian menunjukkan bahwa piranti listrik yang biasa digunakan pada rumah tangga masih memiliki potensi untuk dilakukan penghematan. piranti listrik yang sering digunakan pada rumah tangga dan memiliki potensi penghematan yang besar adalah alat pendingin ruangan (ac) dan kulkas. bila setiap pelanggan rumah tangga melakukan penghematan konsumsi energi listriknya sebesar 30%, maka pasokan listrik nasional yang dapat dihemat adalah sekitar 5.679 gw atau setara dengan 83,3 trilyun rupiah. upaya ini menghasilkan penghematan konsumsi listrik sekitar 6% dari seluruh konsumen rumah tangga atau sekitar 2,9 % dari total konsumsi energi listrik nasional.kata kunci: energi listrik, penghematan, rumah tangga Show More ... ... Show Less

  • Electricity Consumption
  • Electrical Devices
  • Energy Saving
  • Energy Supply
  • Electricity Supply
Studi Karakterisasi Tanah Terkontaminasi Minyak Berat

abstractthe study of the characteristics of hazardous and toxic waste materials from samples of heavy oil contaminated soil containing total petroleum-hydrocarbon (tph) with a range between 1 - 2%. this study aimed to evaluate the hazard category of heavily oil contaminated soil based on organoleptic test results and toxicity characteristic leaching procedure (tclp). organoleptic tests carried out include explosive, igniteable, reactive (reactive) and corrosive (corrosive) and potentially toxic through tclp. leaching tests performed by using method based of the united states environmental protection agency (us epa) sw 846-1311. based on the results of organoleptic observations, the samples contaminated with heavy oil that were studied did not fulfill the elements that were required to be classified as hazardous waste category 1. meanwhile, based on tclp test results, there were 5 parameters of heavy metals (as, be, cd, pb and se) as well as 2 organohalogen parameters (aldrin + dieldrin, and vinyl chloride) whose results are inconclusive because the quality standard values are below the detection limit of the determination method for the seven parameterskeywords: heavy oil contaminated soil, organoleptic test, toxicity characteristic leaching procedure, tph 1-2%abstraktelah dilakukan studi karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun dari sampel tanah terkontaminasi minyak berat mengandung tph dengan kisaran antara 1 – 2%. tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi kategori bahaya dari tanah yang terkontaminasi minyak berat berdasarkan data hasil uji organoleptik dan tclp. uji organoleptik yang dilakukan meliputi uji kemudahan meledak (explosive), menyala (igniteable), perilaku reaktif (reactive) dan korosif (corrosive) serta potensial toksik melalui uji pelindian karakteristik beracun (toxicity characteristic leaching procedure – tclp). uji pelindian dilakukan dengan mengacu kepada united state environmental protection agency (us epa) sw 846-1311. berdasarkan hasil pengamatan organoleptik sampel tanah terkontaminasi minyak berat yang dikaji tidak memenuhi unsur-unsur yang menjadi persyaratan untuk digolongkan sebagai limbah b3 kategori 1, sedangkan berdasarkan hasil uji tclp, terdapat 5 parameter logam berat (as, be, cd, pb dan se) serta 2 parameter organohalogen (aldrin + dieldrin, dan vinyl chloride) yang hasilnya adalah inconclusive dikarenakan nilai baku mutunya berada di bawah limit deteksi dari metode penetapan untuk ketujuh parameter tersebut. kata kunci: tanah terkontaminasi minyak berat, tph 1-2%, uji organoleptik, uji pelindian karakterisitik beracun Show More ... ... Show Less

  • Heavy Oil
  • Contaminated Soil
  • Toxicity Characteristic Leaching Procedure
  • Environmental Protection
Batas Ekologi Untuk Pembangunan Berkelanjutan Menggunakan Metode Uets Di Wilayah Utara Propinsi Mie, Jepang

abstrakperencanaan penggunaan lahan yang berkelanjutan memerlukan analisis mendalam tentang sumber daya alam yang ada (localizer, features, kepekaan terhadap pembangunan) dan pemahaman tentang karakteristik pembangunan (kebutuhan sumber daya dan side effecs) untuk mengidentifikasi penggunaan sumber daya alam pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis. dalam konteks ini, beberapa metode menggunakan konsep ambang batas (thresholds concept) untuk menetapkan batas kemampuan lingkungan untuk mendukung pengembangan pembangunan yang direncanakan sumber daya alam yang tidak akan merugikan kehidupan generasi masa depan. salah satu metode ini adalah uets (ultimate environmental thresholds) yang dikembangkan dan diterapkan dengan tujuan mengidentifikasi ambang batas akhir kemampuan lingkungan untuk pembangunan. integrasi uets dan gis dikembangkan dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi ambang batas lingkungan untuk pengembangan daerah pemukiman di wilayah utara propinsi mie, jepang. hasil dari penelitian ini adalah penilaian ambang batas toleransi hutan terhadap pembangunan pemukiman perkotaan.kata kunci: pembangunan berkelanjutan, nilai ekologi, ambang batas, uets dan gis abstractsustainable land use planning is essential to determine the most efficient use of existing natural resources that will not prejudice future development. there is a need to analyze relationships between natural resources and development to assess development possibilities which are based ecologically. some methods use thresholds concept to establish the limits environment ability to support planned development. one of these methods is the ultimate environmental thresholds (uets) which develop and apply with the aim of identifying the environmental thresholds for development. the integration uets method and gis was developed as a means of identifying of this study areas and development level to which various forms of residential areas should be confined on the northern region of mie prefecture, japan. the outcome of this study that is the territorial thresholds of forest tolerance to urban development have established. keywords: sustainable development, ecological value, thresholds, uet and gis Show More ... ... Show Less

  • Natural Resources
  • Land Use
  • Sustainable Development
  • Urban Development
  • Future Development
Kondisi Kualitas Air Sungai Surabaya Studi Kasus: Peningkatan Kualitas Air Baku PDAM Surabaya

abstractthe disposal of domestic and industrial waste to surabaya river continues to increase, resulting in worse physical condition and severe pollution. the existence of surabaya river is very important for the sustainability of the economy and the survival of society, industry, and commerce around the riverbank. in addition, surabaya river becomes the raw water source of pdam surabaya and more than 3 million consumers of surabaya pdam depend on the water quality condition of surabaya river. the purpose of this activity is to know the current condition of surabaya river’s water quality and to determine the technology that can improve the water quality of pdam. the conclusion that can be drawn from the water quality condition of surabaya river is the high concentration of organic matter pollutants. moreover, it is increasing in the dry season. with the increasingly poor quality of raw water coming from surabaya river, consequently, the cost of processing will become more expensive. therefore, conventional processing is not able to eliminate the pollutant compounds. one alternative technology to improve the quality of raw water is to apply a pretreatment process with the process biological by using biofilter technology. keywords: water quality in surabaya river, surabaya municipal waterworks (pdam), biofilter technology abstrakpembuangan limbah domestik dan industri di sepanjang kali surabaya terus meningkat, mengakibatkan kondisi fisik sungai semakin memburuk dan mengalami pencemaran semakin berat. keberadaan kali surabaya sangat penting bagi keberlangsungan perekonomian dan kelangsungan hidup bagi masyarakat, industri, dan niaga di sekitar bantaran kali. selain itu kali surabaya menjadi sumber air baku pdam surabaya dan lebih dari tiga juta konsumen pdam surabaya bergantung pada kondisi kualitas air kali surabaya. tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas air kali surabaya dan menentukan teknologi yang dapat meningkatkan kualitas air baku pdam. kesimpulan yang dapat diambil dari kondisi kualitas air kali surabaya adalah tingginya konsentrasi polutan zat organik yang semakin meningkat pada musim kemarau. dengan semakin buruknya kualitas air baku yang berasal dari kali surabaya, akibatnya biaya pengolahan akan menjadi semakin mahal dan pengolahan secara konvesional tidak mampu menghilangkan senyawa polutan tersebut salah satu teknologi alternatif untuk meningkatkan kualitas air baku pdam adalah dengan menerapkan proses pengolahan awal (pretreatment) dengan proses biologis menggunakan teknologi biofilter. kata kunci: kualitas air kali surabaya, pdam surabaya, teknologi biofilter Show More ... ... Show Less

  • Raw Water
  • Water Quality Condition
  • Organic Matter
Kajian Terbentuknya Scaling Pada Komponen Turbin Uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Skala Kecil

abstractscaling and corrosion are two major problems in operation of the small scale geothermal power plant. this paper discusses some results of the study that was conducted to assess the scaling formation in the kamojang 3 mw small scale geothermal power plant. the result of the study concluded that scaling occurred on the nozzle and steam turbine blade where the main minerals contained in sample a (solid) are tridymate (sio2), pyrite (fes2) and chlorite (clo2). while in sample b (sand) where the main mineral contained in the sample is tridymate (sio2), pyrite (fes2), plagioclase (na,ca)(si, al)4o8 and chlorite (clo2). the analysis of this scaling was done by xrd (x-ray diffraction) method.  scaling of the nozzle of the steam turbine causes the steam flow rate to decrease, thus lowering the power that the small-scale geothermal power plant generates because the power generated by the small-scale geothermal power plant is directly a function of the steam flow rate and the enthalpy difference between the inlet side and the outlet side of the turbine. however, scaling does not occur on the exit side of the wellhead kmj 68 because the concentration of silica is very small that is 0.05 ppm at geothermal steam temperature 200.5°c.keywords: geothermal steam, scaling, corrosion, small scale geothermal power plant abstrakscaling dan korosi merupakan dua masalah yang sangat serius ditemukan pada pengoperasian pltp skala kecil. tulisan ini membahas sebagian hasil studi yang dilakukan untuk mengkaji pembentukan scaling pada pltp skala kecil kamojang 3 mw dan pengaruhnya pada daya listrik yang dihasilkan oleh pltp skala kecil. dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa scaling terjadi pada nozzle dan sudu-sudu turbin dimana mineral utama yang terdapat didalam sampel a (berupa endapan/padat) adalah tridymate (sio2), pyrite (fes2) dan chlorite (clo2). sedangkan pada sampel b (endapan lepas/pasiran) dimana mineral utama yang terdapat didalam sampel adalah tridymate (sio2), pyrite (fes2), plagioclase (na,ca)(si,al)4o8 dan chlorite (clo2). analisis scaling ini dilakukan dengan menggunakan metoda xrd.(x-ray diffraction). scaling yang terjadi pada bagian nozzle dari turbin uap menyebabkan laju aliran uap berkurang sehingga menurunkan daya yang dihasllkan pltp skala kecil karena daya yang dihasilkan pltp skala kecil secara langsung merupakan fungsi dari laju aliran uap dan perbedaan entalpi antara sisi masuk dan sisi keluar dari turbin. akan tetapi, tidak terjadi scaling pada sisi keluar kepala sumur kmj 68 karena kosentrasi silika sangat kecil yaitu sebesar 0,05 ppm pada temperatur uap panas bumi 200,5oc .kata kunci : uap panas bumi, scaling, korosi, pltp skala kecil Show More ... ... Show Less

  • Small Scale
  • Geothermal Power Plant
  • Steam Turbine
Kajian Kualitas Air Tanah Dan Sungai Pada Kawasan Rawan Banjir Di Kabupaten Serang Kaitannya Dengan Penyediaan Air Bersih

abstractserang district is one of the flood-prone areas, that about 20 subdistricts were affected by the flood in serang district. problems of clean water necessity occurred in the flood area, especially water quality in both of surface water and groundwater. to know the condition of clean water in serang district, it is necessary to study the quality of water both surface water and groundwater in the flood-prone areas. the study was conducted by water sampling and in-situ water quality measurements at 28 open-pit points used by communities and river bodies in the potential flood in 2012-2015. in-situ physical water quality measurements are performed during sampling of well water and river water using multiparameter quality checker equipment. water quality parameters that were measured in-situ are total dissolved solids (tds) and turbidity. laboratory tests of water samples were performed for suspended solids (tss), ammonium (nh3-n), iron (fe), manganese (mn) and total hardness parameters. the standard method of water quality analysis of these parameters is carried out using indonesian national standard sni 06-6989.3-2004 water and wastewater. turbidity tends to increase towards the downstream of the river indicating additional sediment material is transported downstream. the high total suspended solids in the river, especially in kragilan, is caused by the waste from high domestic, commercial, and industrial activities in the area. generally, groundwater and surface water in the flood areas at the study sites still largely indicate that quality is still feasible for consumption by the community, except for high fe and mn content and nh3-n in some wells due to the influence of surface water entering groundwater.keywords: serang district, water quality, flood areas, water supply abstrakkabupaten serang termasuk wilayah yang rawan banjir, dari 29 kecamatan yang ada sekitar 20 kecamatan pernah terkena dampak banjir. permasalahan kebutuhan air bersih terjadi pada kawasan banjir tersebut, terutama kualitas air baik air permukaan maupun airtanah. untuk mengetahui secara rinci kondisi air bersih di kabupaten serang, maka perlu dilakukan kajian kualitas air baik air permukaan maupun airtanah pada kawasan rawan banjir tersebut. kajian dilakukan dengan pengambilan sampel air dan pengukuran in-situ kualitas air pada 28 titik sumur terbuka yang digunakan oleh masyarakat dan badan air sungai pada wilayah potensial genangan banjir tahun 2012-2015. pengukuran kualitas air fisik secara in-situ dilakukan pada saat pengambilan sampel air sumur dan air sungai dengan menggunakan peralatan multiparameter quality checker, adalah: zat padat terlarut (total dissolved solids/tds) dan turbiditas/kekeruhan. sedangkan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air dilakukan untuk parameter zat padat tersuspensi (total suspended solid/tss), amonia bebas nh3-n), besi (fe), mangan (mn) dan kesadahan total. metode standard analisis kualitas air terhadap parameter-parameter tersebut dilaksanakan menggunakan standard nasional indonesia sni 06-6989.3-2004 air dan air limbah. kekeruhan cenderung meningkat ke arah hilir sungai menunjukkan adanya tambahan material sedimen tertransport pada bagian hilir. tingginya zat padat tersuspensi pada sungai khususnya di kragilan akibat dampak limbah dari aktivitas domestik, komersial dan industri yang tinggi di daerah tersebut. secara umum airtanah dan air permukaan pada daerah banjir di lokasi penelitian sebagian besar masih menunjukkan kualitas yang masih layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat, kecuali kandungan fe dan mn yang tinggi serta nh3-n pada beberapa sumur penduduk akibat pengaruh air permukaan termasuk air banjir masuk ke dalam airtanah.kata kunci: kabupaten serang, kualitas air, kawasan banjir, penyediaan air bersih Show More ... ... Show Less

  • Water Quality
  • In Situ
  • Surface Water
  • Flood Prone Areas
  • Quality Measurements
Isolasi Bakteri Indigineous Dari Limbah Cair Tahu Dalam Mendegradasi Protein Dan Melarutkan Fosfat

abstractthe tofu industry in indonesia is growing rapidly along with the consumption needs. this amount affects the production of the tofu wastewater that will be discharged into the environment. the waste contains high levels of bod, cod, and high protein organic substances. the discharged of the tofu wastewater without going through a good process of separation and treatment caused odor and pollution in the water and the soil environment. this study aims to examine the amount of production, a chemical characteristic, and bacterial potential (the genus of pseudomonas and aeromonas, proteolytic bacterial isolates, and potential phosphate solvent bacteria) which can be used as a reference for bioconversion of higher tofu wastewater. the method used in this study was water sampling, chemical characteristic testing (bod, cod, total protein, and ph), the bacterial isolation of pseudomonas and aeromonas using gsp media, isolation of proteolytic bacteria using nutrient agar + skim milk media and testing the solubilizing phosphate ability in pikovskaya media. the results showed the production of the tofu liquid waste reached 4000 liters/day with bod, cod, total protein and ph content is 3210 mg/ l, 7102 mg/l, 20.74% and 5, respectively. the amount of indigenous bacteria in wastewater from pseudomonas were 72 x 102 cfu/ml), aeromonas were 18 x 102 cfu/ml), and total proteolytic bacteria were 23.7 x 105 cfu/ml). proteolytic bacteria obtained in this research were 28 isolates with diverse proteolytic abilities. in addition, 17 of the 28 proteolytic bacteria isolates have the ability to soluble phosphate on pikovskaya medium. these results show that the production of the tofu liquid waste is quite high. therefore, the chemical character and the presence of bacteria in it have the potential to be developed and can be used as a reference for bioconversion of waste before being discharged into the environment.keywords: aeromonas, proteolytic bacteria, tofu wastewater, phosphate solubilizing bacteria, pseudomonas abstrakindustri tahu di indonesia berkembang sangat pesat seiring dengan kebutuhan konsumsi masyarakat indonesia. jumlah ini berpengaruh terhadap produksi limbah cair tahu yang akan dibuang ke lingkungan. limbah tersebut memiliki kandungan bod, cod dan bahan organik berupa protein yang cukup tinggi. limbah cair tahu jika dibuang lingkungan tanpa melalui proses pemisahan dan perlakuan yang baik dapat menimbulkan bau dan pencemaran di lingkungan air dan tanah. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jumlah produksi, karakteristik kimia dan potensi biologi (bakteri genus pseudomonas dan aeromonas, isolat bakteri proteolitik dan bakteri pelarut fosfat potensial) yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan biokonversi limbah cair tahu yang semakin tinggi. metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengambilan sampel, pengujian karakteristik kimia (bod, cod, total protein dan ph), isolasi bakteri genus pseudomonas dan aeromonas pada media gsp, isolasi bakteri proteolitik di media nutrien agar + skim milk dan pengujian kemampuan melarutkan fosfat pada media pikovskaya. hasil menunjukkan bahwa limbah cair yang diproduksi setiap harinya mencapai 4000 liter/hari dengan kandungan bod, cod, total protein dan ph berturut-turut sebesar 3210 mg/l, 7102 mg/l, 20.74 % dan 5. jumlah bakteri indigeous dalam limbah cair tahu dari genus pseudomonas adalah 72 x 102 cfu/ml, genus aeromonas adalah 18 x 102 cfu/ml dan total bakteri proteolitik adalah 23.7 x 105 cfu/ml. bakteri proteolitik yang diperoleh berjumlah 28 isolat dengan kemampuan proteolitik yang cukup beragam. selain itu, 17 dari 28 isolat bakteri proteolitik tersebut memiliki kemampuan melarutkan fosfat pada media pikovskaya. hasil ini menunjukkan bahwa produksi limbah cair tahu yang cukup tinggi, karakteristik kimia serta keberadaan bakteri didalamnya memiliki potensi untuk dikembangkan dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk biokonversi limbah sebelum dibuang ke lingkungan.kata kunci: aeromonas, bakteri proteolitik, limbah cair tahu, bakteri pelarut fosfat, pseudomonas Show More ... ... Show Less

  • Proteolytic Bacteria
  • Total Protein
  • Liquid Waste
  • Skim Milk
  • Chemical Characteristic
Keseimbangan Biomassa Dan Pemanenan Energi Pada Pengolahan Limbah Cair Kelapa Sawit

abstractprocessing of palm oil mills effluent (pome) consumes considerable amounts of energy. pome contains organic materials that can be converted into methane gas as an energy source. this study aimed at the development of energy self-sufficiency concept in the pome processing by harvesting the energy contained in the generated biogas. the development of this concept was carried out by analyzing the chemical oxygen demand (cod) balance in pome processing, assessing energy potential, calculating energy requirements, and constructing an energy-independent pome treatment model. the results of this study showed that the electrical energy that can be generated from the processing of pome was 70 kw per hour, while the energy requirement is 39 kwh. the energy potential can meet the energy needs, with an energy surplus of 30 kw per hour. this study explained that the processing of pome can be self-sufficient by degrading organic matter into methane gas using upflow anaerobic sludge blanket reactor (uasbr). keywords: methane, pome, cod model, closed system, electricity, uasbr.abstrakpengolahan limbah cair kelapa sawit menggunakan energi dalam jumlah besar. limbah cair kelapa sawit mengandung bahan organik yang dapat dikonversi menjadi gas metana sebagai sumber energi. penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep mandiri energi pada pengolahan limbah cair kelapa sawit dengan memanen energi yang terdapat dalam biogas yang terbentuk selama pengolahan limbah cair. pengembangan konsep ini dilakukan dengan menganalisis keseimbangan cod di dalam limbah cair, mengkaji potensi energi, menghitung kebutuhan energi, dan membangun pengolahan limbah cair kelapa sawit mandiri energi. hasil studi ini menunjukkan bahwa energi listrik yang dapat dihasilkan dari proses pengolahan limbah cair kelapa sawit adalah sebesar 70 kw per jam, sedangkan kebutuhan energi adalah sebesar 39 kwh. potensi energi tersebut dapat memenuhi kebutuhan energi, bahkan terdapat surplus energi sebesar 30 kw per jam. studi ini menjelaskan bahwa pengolahan limbah cair kelapa sawit dapat mandiri energi dengan mendegradasi bahan organik menjadi gas metana menggunakan upflow anaerobic sludge blanket reactor (uasbr).kata kunci: gas metana, limbah cair sawit, model cod, sistem tertutup, listrik, uasbr Show More ... ... Show Less

  • Upflow Anaerobic Sludge Blanket Reactor
  • Energy Potential
  • Methane Gas
Informasi Sebaran Titik Panas Berbasis Webgis Untuk Pemantauan Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Indonesia

abstractthe remote sensing application center – lapan has resulted in information on hotspot spreading. availability of information monitoring the distribution of hotspots latest rapid, precise and accurate can improve the remote sensing application to support the management of forest resources and establish a monitoring system that is accountable and can be a reference in the organization of activities of forest fire control and land at the same time participate in managing, maintaining safety as well as the preservation of indonesia’s natural resources is sustainable. given the importance of information and communication in disaster crisis management, efforts to facilitate the implementation of dissemination of hotspots distribution information to the wider community should properly be realized. one application is to develop a web-based dissemination system geographic information system with geonode application. the method used in this research is a prototype with open technology. geonode can integrate that information to the layers with web mapping systems and the internet. the opensource geoportal system is built, the result of a combination of django framework and python programming language that is capable of providing dynamic spatial visualization interactively and connected to other electronic information networks. this dissemination system can be used for decision makers in preparation of planning, development, monitoring, and response to an emergency disaster of forest and land fires in indonesia, as well as a reference in the field of innovative technology and application of geospatial information.keyword: hotspots, forest fires, emergency response, geonode, dissemination, web applications  abstrakpusat pemanfaatan pengideraan jauh-lapan telah menghasilkan informasi sebaran titik panas. ketersediaan informasi pemantauan sebaran titik panas terkini yang cepat, tepat dan akurat dapat meningkatkan pemanfaatan penginderaan jauh untuk mendukung pengelolaan sumber daya kehutanan dan membangun sistem pemantauan yang akuntabel dan dapat menjadi acuan dalam penyelenggaraan kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan sekaligus ikut serta dalam pengelolaan, menjaga keselamatan serta kelestarian sumber daya alam indonesia yang berkelanjutan. mengingat pentingnya informasi dan komunikasi dalam penanggulangan krisis akibat  bencana, maka upaya memudahkan pelaksanaan penyebarluasan informasi sebaran titik panas masyarakat luas dengan baik perlu diwujudkan. salah satu pengaplikasiannya adalah dengan mengembangkan sistem diseminasi berbasis web sistem informasi geografis dengan aplikasi geonode. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purwarupa dengan teknologi terbuka. geonode dapat mengintegrasikan informasi tersebut dalam layer-layer sistem pemetaan web dan internet. geonode merupakan sebuah sistem geoportal opensource gabungan antaran framework django dan bahasa pemograman python yang mampu menyajikan visualisasi spasial dinamis secara interaktif dan terhubung ke jaringan informasi elektronik lainnya. sistem diseminasi ini dapat dipakai untuk pengambilan keputusan dalam persiapan perencanaan, pembangunan, pengawasan, dan respon terhadap keadaan darurat bencana kebakaran hutan dan lahan di indonesia, serta sebagai referensi dibidang teknologi inovatif dan penerapan informasi geopasial.kata kunci: titik panas, kebakaran hutan, tanggap darurat, geonode, diseminasi, aplikasi web Show More ... ... Show Less

  • Remote Sensing Application
  • Dissemination System
  • Mapping Systems
Kajian Level Dan Dampak Senyawa Polybrominated Diphenyl Ethers (Pbdes) Pada Ikan Kerapu Budidaya Dan Kerapu Liar Dari Lampung

abstract in regard to food security and safety, the need for evaluation of the risks and benefits of fishery products due to environmental contamination by polybrominated diphenyl ethers (pbdes) has become a matter of concern. in this study, pbdes were determined in farmed and wild groupers obtained from a mariculture area in lampung to understand the contamination status and its differences between farmed and wild groupers, and to evaluate the proportion of their congeners as well as risks and benefits of consuming contaminated fish. fourteens pbde congeners from mono- to deca bde were analyzed from samples stored in es-bank using gas chromatography equipped with mass spectrometry detector (gc-ms). pbdes were detected in all the samples of the present study, with the levels being significantly higher (p<0.01) in farmed (1.1–6.2 ng/g lipid wt) than in wild groupers (0.20–1.1 ng/g lipid wt). analysis of fish feeds indicated that the higher level of contaminants in farmed groupers most likely came from the commercial fish feed which they consumed. the study confirms relatively high concentrations of these compounds in farmed than wild fish. however, the levels still bellow to those farmed fish reported worldwide but have similar composition pattern of congeners being bde-47 as predominant congener. the evaluation of pbdes concentration in groupers showed that the levels were still bellow than fish tissue guideline. furthermore, the estimated daily intake of pbdes was also far bellow the reference dose values (rfds) and/or minimum risk levels (mrl), indicating minimum risk caused by these pollutants to groupers as well as to indonesian from consuming fish.  keywords: contamination, pbdes, farmed grouper, wild grouper, health risk. abstrak berkaitan dengan isu ketahanan dan keamanan pangan, evaluasi terhadap resiko dan manfaat dari produk perikanan terhadap pencemaran lingkungan dari polybrominated diphenyl ethers (pbdes)  telah menjadi perhatian.  pada penelitian ini, pbdes dideterminasi pada ikan kerapu budidaya dan kerapu liar dari daerah lampung untuk mengetahui status kontaminasi dan perbedaan diantara dua kelompok kerapu, mengevaluasi proporsi konjener penyusun serta risiko dan manfaat dari mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi. empat belas konjener pbdes dari mono- sampai ke deka bde dianalisis dari sampel yang tersimpan di es-bank menggunakan kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor spektrometri massa (gc-ms). pbdes terdeteksi di semua sampel kerapu, dengan konsentrasi secara signifikan lebih tinggi (p<0,01) pada kerapu budidaya (1,1–6,2 ng / g lipid wt) daripada di kerapu liar (0,20–1,1 ng / g lipid wt). analisis pakan ikan menunjukkan bahwa tingkat kontaminan yang lebih tinggi di kelompok kerapu budidaya ini kemungkinan berasal dari pakan ikan komersial yang mereka konsumsi. studi ini menegaskan bahwa ikan budidaya mempunyai konsentrasi pbdes yang lebih tinggi daripada ikan liar. namun demikian, kadar konsentrasi pbdes pada kerapu budidaya ini masih lebih rendah daripada yang dilaporkan pada beberapa ikan budidaya di seluruh dunia, tetapi memiliki pola komposisi konjener yang sama dimana bde-47 merupakan konjener yang dominan. evaluasi konsentrasi pbdes pada kerapu memperlihatkan bahwa kadarnya masih di bawah standar rujukan untuk konsentrasi pada jaringan ikan. selanjutnya, perkiraan asupan harian pbdes juga masih jauh di bawah nilai rujukan dosis referensi (rfds) dan/atau tingkat risiko minimum (mrl), menunjukkan potensi dampak yang rendah pada jaringan ikan itu sendiri maupun kesehatan orang indonesia karena mengkonsumsi kerapu. kata kunci: kontaminasi, pbdes, kerapu budidaya, kerapu liar, resiko kesehatan Show More ... ... Show Less

  • Polybrominated Diphenyl Ethers
  • Minimum Risk
  • Risks And Benefits
  • Fish Feeds
Proses Untuk Menurunkan Konsentrasi Sianida Bebas Dalam Air Limbah Pertambangan Emas Skala Kecil

abstractthe processing of gold by cyanidation has an impact on the release of free cyanide into the environment contained in the tailings. free cyanide is very dangerous because it has very high toxicity. the process to remove free cyanide from tailings is the oxidation-precipitation using a mixture of sulfur and oxygen catalyzed by copper (ii). this process can reduce the concentration of free cyanide as well as heavy metals. free cyanide is oxidized to cyanate and heavy metals are deposited as metal-hydroxide. the optimum parameter of these methods on tailing cyanidation from gold ore lebak situ village-lebak gedong district-lebak regency-banten province are the ratio of the weight of so2/cn- is 7; the catalyst dose is 75 mg/l; ph is 9 and the processing time is 4 hours. application tests of the optimum parameter were able to reduce free cyanide concentration from 95.8 mg/l to 0.25 mg/l. wastewater from the processing with this process has fulfilled the specified quality standards. the wastewater pollution index value before the treatment process is 136.32, changing to 0.36 after processing. these changes indicate that the oxidation-precipitation process has been able to change the condition of cyanidation wastewater from heavily polluted to better conditions.keywords: cyanidation, tailing, oxidation, optimum parameter, aplication test, pollution index abstrakpengolahan emas dengan sianidasi berdampak pada pelepasan sianida bebas ke lingkungan yang terkandung di dalam tailing. sianida bebas sangat berbahaya karena mempunyai toksisitas yang sangat tinggi. salah satu proses untuk menghilangkan sianida bebas dari tailing adalah oksidasi-presipitasi menggunakan campuran gas sulfur dan oksigen terkatalisis tembaga (ii). proses ini mampu menurunkan konsentrasi sianida bebas sekaligus logam berat.  sianida bebas dioksidasi menjadi sianat dan logam berat diendapkan sebagai logam-hidroksida. parameter optimum proses tersebut pada tailing sianidasi bijih emas lebak situ kecamatan lebak gedong kabupaten lebak provinsi banten adalah rasio berat so2/cn- 7; dosis katalis 75 mg/l; ph pengolahan 9 dan waktu pengolahan 4 jam. uji aplikasi parameter optimum tersebut mampu menurunkan konsentrasi sianida bebas dari 95,8 mg/l menjadi 0,25 mg/l. air limbah hasil pengolahan dengan proses tersebut telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan. nilai indeks pencemaran air limbah sebelum proses pengolahan adalah 136,32 berubah menjadi 0,36 setelah dilakukan proses pengolahan. perubahan tersebut menunjukkan bahwa proses oksidasi-presipitasi telah mampu mengubah kondisi air limbah sianidasi dari tercemar berat menjadi kondisi lebih baik.kata kunci: sianidasi, tailing, oksidasi, parameter optimum, uji aplikasi, indeks pencemaran Show More ... ... Show Less

  • Free Cyanide
  • Optimum Parameter
  • Heavy Metals
  • Pollution Index
  • Very High
Pengamatan Efek Pratritmen Tandan Kosong Sawit Sebelum Proses Konversi Biogas Dengan Analisis Mikroskopi

abstractconversion of lignocellulosic biomass such as oil palm-empty fruit bunch (op-efb) into bioenergy is a promising solution to mitigate the impact of climate change and avoid an energy crisis that have been globally anticipated. the abundance amount of op-efb as a biomass waste from oil palm processing in indonesia has opened more chance to produce bio-energy and other valuable products without having competition with the food sector. it has a high content of cellulose and hemicellulose that can be processed generating bio-energy such as biogas or bioethanol. however, to be processed into bio-energy, and other products, efb should be pretreated first to break the recalcitrant characteristic and increase the yield and conversion rate. alkaline pretreatment is widely known for its effectivity on lignin removal to open more access of the lignocellulose, especially for the anaerobic digestion (ad) process. there are several ways to evaluate pratritmen performance before the ad process, for example by chemical analysis as well as visual observation using a microscope. visual observation emphasizes the change in microstructure or morphology of the pretreatment process so that it can be a method for physically explaining what is happening at the microscopic level. this research’s objective is to perform microscopy observation on the op-efb component’s changes during the low concentrated alkaline pretreatment using naoh 6% and mixture of nh4oh and (nh4)2co3 10% as long as 24 hours. the result from using clsm shows the process of delignification, while sem shows 3 major visual changes i.e. silica bodies removal, surface degradation and the enhanced bacteria’s affinity to the op-efb’s surface.keywords: microscopy analysis, oil palm empty fruit bunch, alkaline pretreatment, anaerobic digestion, visual changes  abstrakkonversi biomasa lignoselulosa seperti tandan kosong sawit (tks) menjadi bioenergi adalah solusi yang menjanjikan untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menghindari krisis energi yang telah diantisipasi secara global. jumlah kelimpahan tks sebagai residu dari proses produksi minyak kelapa sawit telah membuka banyak peluang untuk menghasilkan bioenergi dan produk nilai lainnya tanpa bersaing dengan sektor pangan. tks memiliki kandungan selulosa dan hemiselulosa tinggi yang dapat diproses menghasilkan bioenergi seperti biogas atau bioetanol. namun, untuk diproses menjadi bio-energi, dan produk lainnya, substrat ini harus dipratritmen terlebih dahulu untuk mengatasi karakteristik rekalsitransi yang menjadi penghambat utama dalam proses biokonversi. pratritmen dengan menggunakan reagent basa (alkalin) secara luas dikenal karena efektifitasnya pada penghilangan lignin untuk membuka lebih banyak akses lignoselulosa, terutama untuk proses produksi biogas (ad). terdapat beberapa cara untuk mengevaluasi kinerja pratritmen sebelum proses ad, misalnya dengan analisis kimia juga pengamatan visual dengan menggunakan mikroskop. observasi visual menekankan adanya perubahan mikrostruktur atau morfologi dari proses pratritmen sehingga bisa menjadi metode untuk menjelaskan secara fisik apa yang terjadi dalam tataran mikroskopis. tujuan dari penelitian adalah melakukan analisis mikroskopi dengan menggunakan confocal dan sem pada tks sebelum dan setelah dilakukan pratritmen dengan alkalin naoh 6% dan campuran nh4oh dengan (nh4)2co310% selama 24 jam juga tks hasil pratritmen yang digunakan untuk proses produksi biogas. hasil dari confocal memperlihatkan adanya perubahan dari tks sebelum dan setelah pretreatmen yaitu terjadinya proses delignifikasi, sementara hasil sem memperlihatkan 3 perubahan visual utama yang dapat dianalisis yaitu penghilangan silika, degradasi permukaan dan peningkatan afinitas bakteri pada permukaan tks yang dilakukan pratritmen.kata kunci : analisis mikroskopi, tandan kosong kelapa sawit, pratritmen alkalin, anaerobic digestion, perubahan visual Show More ... ... Show Less

  • Anaerobic Digestion
  • Oil Palm
  • Alkaline Pretreatment
  • Empty Fruit Bunch
  • Visual Changes
Pengembangan Sistem Sampling Air Untuk Mengatasi Gangguan Lumpur Pada Sistem Online Monitoring Kualitas Air Sungai

abstracthigh sedimentation and domestic waste that pollute rivers in indonesia is one of the problems that arise in the application of online water quality monitoring in rivers. this problem can cause a rapid decline in the performance of sensor equipment that can be proven through sensor measurement results and it has shortened the treatment time. to deal with this problem, a water sampling technique is needed on rivers that contain a lot of mud. this study aims to ensure the performance of sensor devices to work optimally, to extend the maintenance time and calibration of the probe device on the sensor. this study developed a direct immersed method of river water sampling and automatic pumping methods by making direct system prototypes and testing of rivers. the results of the tests on the river indicate that the sampling system with the two methods developed can extend sensor maintenance time and produce better data. the sensor treatment period that was initially carried out 2 weeks after immersion, but can be longer between 4 to 6 weeks after immersion.keywords: river sedimentation, domestic waste, calibration sensor, water sampling system, online monitoring abstraksedimentasi yang tinggi dan sampah domestik yang mencemari sungai-sungai di indonesia merupakan salah satu masalah yang muncul pada penerapan pemantauan kualitas air online di sungai. masalah ini dapat menyebabkan cepat menurunnya kinerja peralatan sensor yang dapat dibuktikan melalui hasil pengukuran sensor dan hal tersebut telah memperpendek waktu perawatannya. untuk menangani masalah ini diperlukan teknik sampling air pada sungai yang banyak mengandung lumpur. hal ini bertujuan untuk menjamin kinerja perangkat sensor agar dapat bekerja secara optimal. selain itu agar dapat memperpanjang waktu perawatan serta kalibrasi perangkat probe pada sensor. penelitian ini mengembangkan metode sampling air sungai secara langsung (direct immersed) dan metode pemompaan otomatis dengan pembuatan prototipe sistem dan pengujiannya sungai secara langsung. hasil dari ujicoba di sungai menunjukkan bahwa sistem sampling dengan kedua metode yang dikembangkan dapat memperpanjang waktu perawatan sensor dan menghasilkan data yang lebih baik. periode perawatan sensor yang semula dilakukan 2 minggu setelah pencelupan dapat menjadi lebih lama antara 4 sampai 6 minggu setelah pencelupan. kata kunci : sedimentasi sungai, sampah domestik, kalibrasi probe sensor, sistem sampling air, pemantauan online Show More ... ... Show Less

  • Water Sampling
  • Online Monitoring
  • Domestic Waste
  • Sampling System
  • Maintenance Time
Model Analisis Risiko Bencana Transportasi Bahan Beracun Dan Berbahaya Industri Di Kabupaten Serang, Provinsi Banten

abstractpulo ampel industrial zone in serang regency is an industrial zone with a high level of threat from a technological hazard. one possible route this threat can be manifested is in the form of explosion potential from the storage and transport tanks of toxic and dangerous materials e.g. ethylene and butadiene gases. within the framework of disaster risk reduction, disaster risk analysis is carried out which includes the analysis of threats and vulnerabilities along the path of transport of these hazardous materials. to determine the level of explosion hazard, due to the occurrence of transportation accidents, modeling using aloha® (areal locations of hazardous atmospheres) software, which was developed by the united states environmental protection agency (us epa), was carried out. the model used in this study was the bleves (boiling liquid expanding vapor explosions) scenario during gas transportation using iso tank, which represents the worse possible scenario. meanwhile, disaster vulnerability analysis is calculated based on social vulnerability aspect which includes population density and vulnerable group parameters by utilizing the scoring method in accordance to head of bnpb decree no.2 of 2012. based on the hazard and vulnerability level, disaster risk maps are obtained along the ethylene and butadiene transport lines covering the information related to the area of the explosion which intersected with population settlement in serang regency, banten province.keywords: risk reduction, trasportation, hazardous materials, vulnerabilities, explotionabstrakzona industri pulo ampel di kabupaten serang merupakan zona industri dengan ancaman bencana kegagalan teknologi yang relatif tinggi. ancaman bahaya yang dapat ditimbulkan diantaranya berupa potensi ledakan dari tangki-tangki penyimpanan maupun tangki transportasi bahan  berbahaya dan beracun (b3) terutama gas etilena maupun butadiena. dalam rangka pengurangan risiko bencana, maka dilakukanlah analisis risiko bencana terhadap tangki transportasi b3 yang meliputi analisis ancaman dan kerentanan di sepanjang jalur transportasi b3 tersebut. untuk menentukan salah satu tingkat bahaya yang berupa ledakan akibat kecelakaan transportasi gas dilakukanlah pemodelan dengan menggunakan perangkat lunak modeling aloha® (areal locations of hazardous atmospheres) yang dikembangkan oleh united states environmental protection agency (us epa). model yang digunakan di dalam kajian ini menggunakan skenario ledakan terburuk berupa skenario bleves (boiling liquid expanding vapor explosions) pada saat transportasi gas menggunakan iso tank. sementara analisis kerentanan bencana dihitung berdasarkan aspek kerentanan sosial yang meliputi parameter kepadatan penduduk dan kelompok rentan dengan menggunakan metode skoring sesuai perka bnpb no. 2 tahun 2012. berdasarkan tingkat bahaya dan kerentanan tersebut diperolehlah peta risiko bencana di sepanjang jalur transportasi gas etilena dan butadiena yang meliputi informasi terkait luas area permukiman penduduk terdampak ledakan di kabupaten serang, provinsi banten.kata kunci: pengurangan risiko, transportasi, bahan beracun dan berbahaya, kerentanan, ledakan Show More ... ... Show Less

  • Disaster Risk
  • Risk Reduction
  • United States Environmental Protection Agency
Pengolahan Palm Oil Mill Effluent (POME) Menjadi Biogas Dengan Sistem Anaerobik Tipe Fixed Bed Tanpa Proses Netralisasi

abstractpalm oil mill wastewater or pome is currently not fully utilized. pome waste treatment generally uses covered lagoon technology using the anaerobic system, which generally operates well in neutral waste conditions with a ph of 7 and uses mesophilic processes at temperatures around 35oc. so it is necessary to cool down and neutralize before pome is fed to the reactor, by mixing it with pome which has been degraded inside the reactor, where the ph condition has to turn into a base. it is useful to ensure that the pome temperature before being fed into the reactor is near the ambient temperature and the acidity of pome is near neutral (ph = 7). pome treatment using a covered lagoon reactor usually need 30 days residence time. the fixed bed anaerobic reactor is capable to treat waste with a low ph waste, so pome which has a ph of 4 does not need to be neutralized before treating using fixed bed reactor. this will simplify the processing process, reduce investment costs and operating costs. the purpose of this research is to process pome waste using an anaerobic type fixed bed reactor without neutralization stage. the method processing using fixed bed type reactor is divided into two stages of a process that is bacteria inoculation process and pome waste adaptation process. the results of the research can reduce the hrt to 2o days, with optimal pome feeding at 150 liters/day. the percentage of methane gas measured was 66%. the methane gas yield is 0.52 liters/gram of cod or greater than the results of using the covered lagoon, which is 0.35 liters/ gram cod.key word: palm oil mill effluent (pome), anaerobic, fixed bed, biogas, neutralizationabstraklimbah cair industri minyak kelapa sawit atau pome saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal. pengolahan limbah pome umumnya menggunakan teknologi covered lagoon dengan sistem anaerobik, dimana umumnya teknologi ini beroperasi baik pada kondisi limbah yang netral dengan ph 7 dan menggunakan proses mesopilik pada suhu sekitar 35oc.  sehingga diperlukan tahap pendinginan dan tahap netralisasi terlebih dahulu sebelum pome diumpankan ke reaktor, yaitu dengan mencampurkannya dengan pome yang sudah terdegradasi di dalam reaktor, karena sifatnya  sudah berubah menjadi basa. hal ini berguna untuk memastikan bahwa suhu pome sebelum masuk reaktor sudah mendekati suhu lingkungan dan tingkat keasaman pome sudah mendekati netral (ph =7). pengolahan pome menggunakan covered lagoon umumnya memerlukan waktu tinggal di dalam reaktor(hrt) sekitar 30 hari. reaktor anaerobik tipe fixed bed mampu mengolah limbah dengan ph rendah, sehingga pome yang mempunyai ph 4, tidak perlu dinetralkan terlebih dahulu. hal ini akan menyederhanakan proses pengolahan, menurunkan biaya investasi dan biaya operasi. tujuan penelitian ini adalah mengolah limbah pome dengan menggunakan reaktor anaerobik tipe fixed bed tanpa tahap proses netralisasi. metode pengolahan anaerobik dengan menggunakan reaktor tipe fixed bed, terbagi menjadi dua tahapan proses yaitu proses inokulasi bakteri dan proses adaptasi limbah pome. hasil penelitian dapat menurunkan hrt menjadi 20 hari, dengan pengumpanan pome optimal pada 150 liter/hari. persentase gas metana adalah 66%. hasil produksi gas metana adalah 0,52 liter/gram cod atau lebih besar dari hasil proses menggunakan covered lagoon, yaitu 0,35 liter/ gram cod.kata kunci: palm oil mill effluent (pome), anaerobik, fixed bed, biogas, netralisasi Show More ... ... Show Less

  • Palm Oil Mill Effluent
  • Fixed Bed Reactor
Pengurangan Emisi CO2 Dari Pemanfaatan Limbah Pelepah Kelapa Sawit Pada Produksi Batako Serat

abstractpalm oil midrib waste has not been utilized so far, so it has potentially contributed co2 emissions into the atmosphere. the area of oil palm plantations in riau province in 2015 was 2,400,900 hectares and in 2016 increased by 2,430,500 hectares. the oil palm midrib waste produced by 148 trees per hectare is 3.108 tons/month or 37.296 tons/year. it means that with 2,430,500 hectares of palm plantations, the resulting waste is 90,647,928 tons/year. the waste can affect the environment. if the palm oil midribs that have been cut and then stacked or burned will contribute large co2 emissions to the environment. one of the efforts to utilize palm oil midrib waste is to use the fiber as an added material in the brick making. the purpose of this study is to calculate the reduction of co2 emissions by utilizing palm oil midrib waste on fiber-brick production. the method used in this research is a descriptive method. the research carried out is quantitative with an experimental approach and laboratory research. the findings of this study are that the utilization of palm oil midrib fibers which are used as additives to the manufacture of fiber-brick concrete can reduce carbon dioxide (co2) emissions by 231,420.06 tons/year. the conclusion of this study is that co2 emissions produced from fiber-brick production machines in 1 m3 are 0.00179 ton and co2 emissions that can be reduced by utilizing palm oil midrib fiber as an additive to fiber-brick production by 231,420.06 tons/year. keywords: co2, emissions, oil palm, midribabstraklimbah pelepah kelapa sawit selama ini masih belum dimanfaatkan, sehingga berpotensi menyumbangkan emisi co2 ke udara. luas perkebunan kelapa sawit yang ada di provinsi riau tahun 2015 adalah 2.400.900 hektar dan pada tahun 2016 meningkat sebesar 2.430.500 hektar. limbah pelepah kelapa sawit yang dihasilkan oleh 148 pohon per hektar adalah 3,108 ton/bulan atau 37,296 ton/tahun. artinya, dengan luas perkebunan sawit 2.430.500 hektar, maka limbah yang dihasilkan sebesar 90.647.928 ton/tahun. limbah tersebut dapat berpengaruh terhadap lingkungan. apabila pelepah kelapa sawit yang telah dipotong lalu ditumpuk atau dibakar akan menyumbangkan emisi co2 yang besar terhadap lingkungan. salah satu upaya memanfaatkan limbah pelepah kelapa sawit adalah memakai seratnya sebagai bahan tambah dalam pembuatan batako. tujuan penelitian ini untuk menghitung pengurangan emisi co2 dengan dimanfaatkannya limbah pelepah kelapa sawit pada produksi batako-serat. metode yang digunakan adalah metode deskriptif. penelitian yang dilaksanakan bersifat kuantitatif dengan pendekatan eksperimental dan riset laboratorium. temuan penelitian ini adalah bahwa pemanfaatan serat pelepah kelapa sawit yang dijadikan sebagai bahan tambah pada pembuatan batako-serat dapat mengurangi emisi karbon dioksida (co2) sebesar 231.420,06 ton/tahun. kesimpulan penelitian ini adalah bahwa emisi co2 yang dihasilkan dari mesin produksi batako-serat dalam 1 m3 adalah 0,00179 ton/m3 dan emisi co2 yang dapat dikurangi dengan memanfaatkan serat pelepah kelapa sawit sebagai bahan tambah pada produksi batako-serat sebesar 231.420,06 ton/tahun.kata kunci: co2, emisi, kelapa sawit, pelepah Show More ... ... Show Less

  • Co2 Emissions
  • Palm Oil
  • Oil Palm
  • Carbon Dioxide
  • Descriptive Method