Jurnal Teknologi Lingkungan
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

399
(FIVE YEARS 147)

H-INDEX

3
(FIVE YEARS 2)

Published By Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (Bppt)

2548-6101, 1411-318x

2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 240-248
Author(s):  
Muchammad Fauzi ◽  
Deryl Baharudin Sopandi ◽  
Verani Hartati

ABSTRACT Total transport energy use and carbon emissions in 2030 are estimated to be about 80% higher than at present. West Java's transportation sector emissions are projected to occupy the third position in the third-largest contributor to GRK emissions, amounting to 21.9 million tons of CO2. The West Java Provincial Government aims to reduce 3.18 million tons of CO2 eq for the energy sector and 1.1 million tons of CO2 eq for the transportation sector. Of course, this is a challenge for the government because the volume of truck logistic systems continues to increase, especially in Bandung. The purpose of this study is to determine the value of truck exhaust emissions produced and to know what strategies should be taken to reduce exhaust emissions based on the selection of distribution routes for rice distribution in Bandung City. This study uses an ILP model with a Matlab solver that compares the total mileage, the number of vehicles, and total transportation costs in two distribution systems, namely direct delivery and shared delivery. In this study, the scenario of the transport capacity was changed according to the use of the truck type fuso tub, changing the type of truck that has a larger capacity, and calculating the value of exhaust emissions for trucks in both new scenarios and two distribution systems. The results showed, to reduce exhaust emissions by adjusting the number of vehicles and the minimum total mileage through increased transport capacity and sharing delivery systems, this strategy can reduce exhaust emissions by 21.92% for each composition.  Keywords: transportation, rice distribution, sharing delivery, emission reduction, exhaust emission   ABSTRAK Total penggunaan energi transportasi dan emisi karbon pada tahun 2030 diperkirakan menjadi sekitar 80% lebih tinggi daripada kondisi saat ini. Pada emisi sektor transportasi Jawa Barat diproyeksikan pada tahun 2020 menempati posisi ketiga terbesar penyumbang emisi GRK sebesar 21,9 juta ton CO2. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki target menurunkan 3,18 juta ton CO2-eq untuk sektor energi dan 1,1 juta ton CO2-eq untuk sektor transportasi. Tentu hal ini menjadi tantangan pemerintah karena faktanya pada sistem logistik volume kendaraan truk terus meningkat khususnya di Kota Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai emisi gas buang kendaraan truk yang dihasilkan dan mengetahui strategi apa yang harus diambil untuk menurunkan emisi gas buang berdasarkan pemilihan rute distribusi untuk distribusi beras di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan model ILP dengan solver Matlab yang membandingkan total jarak tempuh, jumlah kendaraan, dan total biaya transportasi pada dua sistem distribusi yaitu pengiriman langsung dan pengiriman berbagi. Pada penelitian ini skenario kapasitas angkut diubah sesuai dengan penggunaan armada angkut truk jenis fuso bak, mengubah jenis truk yang memiliki kapasitas lebih besar, serta menghitung nilai emisi gas buang untuk kendaraan truk pada kedua skenario baru dan dua sistem distribusi. Hasil penelitian menunjukkan, dengan mengatur jumlah kendaraan dan total jarak tempuh minimum melalui peningkatan kapasitas angkut dan penggunaan sistem pengiriman berbagi, dapat menurunkan emisi gas buang sebesar 21,92% untuk setiap komposisinya. Kata kunci: transportasi, distribusi beras, pengiriman berbagi, reduksi emisi, emisi gas buang


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 138-146
Author(s):  
Venny Ulya Bunga ◽  
Enri Damanhuri

ABSTRACT The increased activities in hospitals will increase the infectious waste generation. The infectious waste contains pathogenic organisms that can spread disease to humans and the environment. The harmful impact of infectious waste can be minimized through proper waste management, starting from waste generation. This study aims to examine the problem of infectious waste generation: the overall percentage of infectious waste generation in hospitals, the amount of infectious waste generation from each source (processing unit), and analyze factors that significantly affected its generation. This study is expected to be the basis of recommendations for hospitals in handling infectious waste. The study was conducted in four public hospitals in Bandung and Cimahi City. The data consists of infectious waste generation, non-infectious waste (general waste) generation, and hospital data as data factors analyzed for its influence on waste generation. The stepwise regression method was used for factor analysis with 95% CI. The result showed that infectious waste generation had a lower percentage than non-infectious waste, ranging from 38–47%. The treatment rooms that produce the most considerable infectious waste are haemodialysis, operating rooms and inpatients with an average infectious waste generation of 0,08–2,18 kg/patient/day. Thus, the three rooms can become a priority for infectious waste management. Factors that significantly affect the generation of infectious waste are dominated by patients and medical personnel. The importance of this factor is related to waste sorting activities. Therefore, special control by hospital management is needed for these two factors. Keywords: hospital, generation, infectious waste, treatment room, factors   ABSTRAK Peningkatan aktivitas rumah sakit akan diikuti dengan peningkatan timbulan limbah infeksius. Limbah infeksius mengandung organisme patogen yang dapat menyebarkan penyakit bagi manusia dan lingkungan. Dampak limbah infeksius dapat diminimalisir melalui kegiatan pengelolaan limbah yang tepat, dimulai dari timbulan limbah. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara mendalam hal seputar timbulan limbah infeksius, dimulai dari persentase timbulan limbah infeksius rumah sakit secara keseluruhan, besaran timbulan limbah infeksius dari setiap sumber (unit perawatan) serta analisa terhadap faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap timbulan limbah. Kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi untuk pengelolaan limbah infeksius rumah sakit. Penelitian dilakukan di empat rumah sakit umum area Kota Bandung dan Cimahi. Data penelitian terdiri atas timbulan limbah infeksius dan non-infeksius (limbah umum) serta data atribut rumah sakit sebagai data faktor yang dianalisis pengaruhnya terhadap timbulan limbah. Analisis faktor menggunakan metode stepwise regression dengan signifikansi 0,05 (95% CI). Hasil penelitian menunjukkan limbah infeksius memiliki persentase timbulan yang lebih kecil dibandingkan limbah non-infeksius (limbah umum) yaitu kisaran 38–47%. Unit perawatan yang menjadi penghasil limbah infeksius terbesar berasal dari unit haemodialisa, kamar operasi serta rawat inap dengan kisaran rata-rata besaran timbulan limbah infeksius sebesar 0,08–2,18 kg/pasien/hari. Dengan demikian, ketiga unit perawatan tersebut dapat menjadi prioritas pengelolaan limbah infeksius. Adapun faktor yang berpengaruh signifikan terhadap timbulan limbah infeksius didominasi oleh faktor jumlah pasien dan jumlah staf medis. Signifikan faktor ini berkaitan dengan kegiatan pemilahan limbah sehingga perlu pengendalian khusus poleh pihak rumah sakit terhadap kedua faktor tersebut. Kata kunci: rumah sakit, timbulan, limbah infeksius, unit perawatan, faktor


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 147-161
Author(s):  
Rahmah Arfiyah Ula ◽  
Agus Prasetya ◽  
Iman Haryanto

ABSTRACT The primary municipal waste treatment in Tuban Regency, East Java, was landfilling, besides the small amount of the waste was turned to compost. Landfilling causes global warming, which leads to climate change due to CH4 emission. This environmental impact could be worst by the population growth that increases the amount of waste. This study aimed to evaluate the environmental impact on waste management in the Gunung Panggung landfill in Tuban Regency and its alternative scenarios using Life Cycle Assessment (LCA). Four scenarios were used in this study. They are one existing scenario and three alternative scenarios comprising landfilling, composting, and anaerobic digestion. The scope of this study includes waste transportation to waste treatment which is landfilling, composting, and anaerobic digestion (AD). The functional unit of this analysis is per ton per year of treated waste. Environmental impacts selected are global warming potential, acidification potential, and eutrophication potential. The existing waste management in Gunung Panggung landfill showed the higher global warming potential because of the emission of CO2 and cost for human health, which is 6.379.506,17 CO2 eq/year and 5,92 DALY, respectively. Scenario 3 (landfilling, composting, and AD; waste sortation 70%) showed a lower environmental impact than others, but improvements were still needed. Covering compost pile or controlling compost turning frequency was proposed for scenario 3 amendment. Keywords: environmental impact, landfill, life cycle assessment, waste management   ABSTRAK Landfill merupakan pengelolaan sampah utama di tempat pemrosesan akhir (TPA) Gunung Panggung Kabupaten Tuban. Selain landfill, pengomposan diterapkan untuk mengolah sebagian kecil sampahnya. Landfill menghasilkan gas metana yang menyebabkan pemanasan global dan memicu perubahan iklim. Pertambahan penduduk memperbanyak sampah yang perlu diolah di TPA dan dapat memperparah dampak lingkungan yang ditimbulkan. Tujuan penelitian ini adalah menilai dampak lingkungan dari pengelolaan sampah eksisting di TPA Gunung Panggung Kabupaten Tuban Jawa Timur beserta skenario alternatifnya menggunakan Life Cycle Assessment (LCA). Terdapat satu skenario eksisting dan tiga skenario alternatif pengelolaan sampah yaitu landfilling, pengomposan, dan fermentasi anaerob (anaerobic digestion). Ruang lingkup studi meliputi pengangkutan sampah, pengelolaan sampah dengan cara pengomposan, Anaerobic Digestion (AD), dan landfill. Satuan fungsional yang digunakan yakni ton sampah yang diolah per tahun. Dampak lingkungan yang dipelajari di antaranya: pemanasan global, asidifikasi, dan eutrofikasi. Dampak lingkungan skenario eksisting menunjukkan nilai tertinggi terutama pada pemanasan global (6.379.506,17 CO2eq/tahun) dan kerugian pada kesehatan manusia (5,92 DALY). Skenario alternatif 3, yang meliputi pengelolaan secara landfill, pengomposan, dan AD menunjukkan dampak lingkungan yang kecil, namun memerlukan perbaikan. Perbaikan untuk skenario 3 yaitu dengan menambahkan penutup pada tumpukan kompos atau mengontrol frekuensi pembalikan kompos untuk mengurangi emisi NH3. Kata kunci: dampak lingkungan, life cycle assessment, pengelolaan sampah, tempat pemrosesan akhir


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 231-239
Author(s):  
Joko Prayitno Susanto ◽  
Agung Riyadi ◽  
Yudhi Soetrisno Garno

ABSTRACT In the area of North Tapanuli Regency, a special economic zone for Taman Bunga Tourism will be developed; so that in the future this area will require large amounts of clean water for consumption and water tourism facilities. In order to anticipate this water demand, a research was carried out to determine the feasibility of Lake Toba water in the North Tapanuli Regency area for drinking water raw water and water tourism infrastructure. This research was carried out with in-situ observations and water sampling for analysis in the laboratory according to the procedures of ISO 5667-6:2014 and ISO 5667-3:2012. This study suggests that Lake Toba water in the North Tapanuli Regency area is not yet suitable to be used as raw water for drinking water and water tourism infrastructure because it still has parameters of BOD, COD, Iron, and Barium that do not meet (exceed) the water quality criteria; according to Attachment Number VI to Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management Keywords: Lake Toba, North Tapanuli, raw water, water recreation, water quality standard.   ABSTRAK Di wilayah Kabupaten Tapanuli utara akan dikembangkan kawasan ekonomi khusus Pariwisata Taman Bunga, sehingga pada saatnya nanti kawasan ini akan memerlukan air bersih dalam jumlah besar untuk konsumsi dan sarana wisata air. Dalam rangka mengantisipasi kebutuhan air tersebut maka dilaksanakan penelitian untuk mengetahui kelayakan air Danau Toba di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara untuk air baku air minum dan sarana prasarana wisata air. Penelitian dlaksanakan dengan pengamatan in-situ dan pengambilan sampel untuk analisis laboratorium sesuai prosedur ISO 5667-6:2014 dan ISO 5667-3:2012. Penelitian ini mengisaratkan bahwa air Danau Toba di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara tidak layak untuk dijadikan air baku air minum dan sarana prasarana rekreasi air karena masih memiliki parameter BOD, COD, total fosfat, besi, dan barium yang tidak memenuhi nilai baku mutu yang berlaku. Untuk memanfatkan air Danau Toba di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara diperlukan upaya penurunan konsentrasi parameter-parameter tersebut. Kata kunci: Danau Toba, Tapanuli Utara, bahan baku air, wisata air, baku mutu.


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 178-189
Author(s):  
Mila Dirgawati ◽  
Gita Nur Apriani ◽  
Astien Arsten Asyari ◽  
R. Triyogo

ABSTRAK Kebisingan lalu lintas adalah salah satu ancaman bagi kesehatan masyarakat perkotaan. Paparan bising memberikan efek kesehatan jangka pendek dan panjang, dan efeknya berpotensi lebih buruk pada anak-anak yang belajar di sekolah pinggir jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi kebisingan lalu lintas jalan di sekolah-sekolah yang terletak di jalan-jalan utama di Bandung, Indonesia serta memberikan rekomendasi mitigasi dan adaptasi untuk pengendalian kebisingan. Kebisingan lalu lintas diperoleh di dua sekolah pinggir jalan terletak di dua jalan utama (Jalan Suci dan Djuanda), beserta data volume dan komposisi lalu lintas, serta kecepatan kendaraan. Pengukuran dilakukan antara jam sekolah selama satu hari yang mewakili lokasi trotoar jalan, depan sekolah, dan halaman sekolah. Parameter tingkat kebisingan yang penting (Leq, L10, L50, L90) diukur, dan dilakukan analisis korelasi antara masing-masing parameter kebisingan. Model CoRTN digunakan untuk memprediksi kebisingan lalu lintas pada jarak tertentu dari jalan raya. Sepeda motor merupakan jenis kendaraan dominan secara berturut 79,1% dan 67,1% dari total volume kendaraan di ruas jalan Suci dan Djuanda. Kendaraan berat menyumbang <1%. Mayoritas kebisingan lalu lintas yang diukur sebagai Leq, L10, L50, L90 melebihi batas maksimum untuk pinggir jalan dan zona sekolah menurut standar internasional dan nasional <55 dBA). Model tersebut berkinerja lebih baik di ruas jalan Djuanda daripada Suci. Jumlah lokasi dan waktu pengukuran yang lebih banyak dapat memberikan penilaian paparan tingkat kebisingan lalu lintas yang lebih baik dengan menggunakan model CoRTN. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kebijakan berbasis pengetahuan bagi pemerintah kota dan lembaga untuk mengurangi dampak bising bagi anak didik. Kata kunci: kebisingan lalu lintas jalan, tingkat kebisingan, Model CoRTN   ABSTRACT Noise from road traffic is one of the most ubiquitous threats to the public health in urban setting. Its exposures have proven short-and long-term health effects. and potentially worse for vulnerable population such as children studying at roadside schools. This study aimed to characterize the road traffic noise at schools located at major roads in Bandung, Indonesia. Traffic noise were obtained at 2 roadside schools located at two major roads (Suci and Djuanda roads), along with data on traffic volume and composition, and vehicles speed. The measurement was conducted between school hours during one day-time only at locations representative of roadside, front of the schools, and schoolyard. Important noise level parameters such as Leq, L10, L50, L90 were recorded, and correlation analysis between each parameter was conducted. The CoRTN model was then applied to predict the traffic noise at particular distances from the road. Motorcycles were the predominant vehicle type on both road segments: 79.1% and 67.1% of the total vehicle volume on Suci on Djuanda segments, respectively.  Conversely, heavy vehicles accounted <1%. The majority of measured traffic noise determined as Leq, L10, L50, L90 exceeded the maximum limit for roadside and school zone set by the international and national standard (>55 dBA). The model performed better in Djuanda road segment than in Suci segment. More measurement locations and time could provide better assessment of exposure to traffic noise levels at roadside schools using the CoRTN model. Keywords: road traffic noise, noise level, CoRTN model


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 162-169
Author(s):  
Taufiq Ihsan ◽  
Tivany Edwin ◽  
Vira Elza

ABSTRACT Wastewater from the tanning industry of UPTD XX has entered the waters of Batang Anai River, West Sumatra. This wastewater quality exceeds the established quality standards and can be harmful to tilapia as a river biota. This study aimed to analyze the effect of sublethal tannery wastewater on food conversion ratio (FCR) and the specific growth rate (SGR) of tilapia. This study was conducted in three conditions: zero wastewater exposure (control), 1.85%, and 3.69% wastewater exposure. Each situation was set in triplo and observed for 28 days. We analyzed the correlation between duration exposure to the FCR and SGR by using regression and correlation analysis. Results showed an increase in the FCR value during observation in both wastewater exposure variations of 1.85% and 3.69%, with FCR values consecutively 1.19 and 1.75. At the same time, the control experiment showed a decreasing value of FCR. On the contrary, SGR values were decreased during observation in both wastewater exposure variations of 1.85% and 3.69%, consecutively 3.09% and 3.72%. While increasing SGR value was observed in the control experiment. A reliable correlation was obtained between the FCR and SGR ratio of tilapia to the exposure duration (r = 0.99). Furthermore, multivariate analysis showed a significant difference between the FCR and SGR to the variation and period of direction. It can be concluded that the longer the exposure time and the higher the concentration of exposure, decreasing the food uptake of tilapia and reducing the specific growth rate. Keywords: tilapia, ratio growth rate, tannery wastewater, feed conversion, West Sumatra   ABSTRAK Limbah cair dari industri penyamakan UPTD XX, Sumatera Barat telah memasuki perairan Sungai Batang Anai, Sumatra Barat. Kualitas air limbah ini melebihi standar kualitas yang ditetapkan dan dapat berbahaya bagi nila sebagai salah satu biota sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh air limbah penyamakan kulit terhadap Rasio Konversi Pakan (Food Conversion Ratio/FCR) dan Laju Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate/SGR) pada ikan nila. Penelitian ini dilakukan dalam tiga variasi, yakni tanpa paparan air limbah (uji kontrol), paparan air limbah 1,85% dan 3,69%. Setiap variasi dilakukan secara triplo dan diamati selama 28 hari. Korelasi antara lama paparan dengan rasio FCR serta SGR, dianalisis dengan menggunakan regresi dan analisis korelasi. Selanjutnya analisis multivariat menggunakan ANOVA two-way untuk melihat perbedaan signifikan FCR dan SGR terhadap variasi dan durasi paparan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai FCR di kedua variasi paparan air limbah 1,85% dan 3,69% dengan nilai FCR berturut-turut 1,19 dan 1,75. FCR dalam uji kontrol menunjukkan penurunan nilai FCR. Sebaliknya, nilai SGR cenderung menurun selama pengamatan pada kedua variasi paparan air limbah 1,85% dan 3,69%, dengan nilai SGR berturut-turut 3,09% dan 3,72%, sementara peningkatan nilai SGR terjadi pada uji kontrol. korelasi yang sangat kuat diperoleh dari nilai FCR dan SGR terhadap durasi paparan (r = 0,99). Selanjutnya, uji signifikansi ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan antara rasio FCR dan SGR dengan variasi dan durasi paparan air limbah. Dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu paparan dan semakin tinggi konsentrasi paparan air limbah, mengurangi serapan pakan ikan nila dan mengurangi tingkat pertumbuhan. Kata kunci: ikan nila, laju pertumbuhan, limbah cair penyamakan kulit, rasio konversi pakan, Sumatra Barat


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 199-205
Author(s):  
Iva Yenis Septiariva ◽  
I Wayan Koko Suryawan ◽  
Ariyanti Sarwono

ABSTRAK Umumnya, industri tekstil menggunakan berbagai pewarna sintetis yang menghasilkan air limbah yang sangat berwarna. Oleh karenaitu, air limbah tekstil ini harus diolah sebelum dibuang ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyisihan warna dengan teknik adsorpsi menggunakan karbon aktif. Metode ini dianggap sebagai teknologi berbiaya rendah dan perawatan yang mudah untuk pengolahan air limbah. Proses adsorpsi batch dilakukan dengan waktu kontak yang berbeda yaitu 5–60 menit dan variasi konsentrasi awal yang mengandung Reactive Black 5 (RB-5) sebesar 5 mg/L; 10 mg/L; 15 mg/L; dan 20 mg/L. Azo-Reactive Black-5 adalah material pewarna yang digunakan untuk membuat air limbah artifisial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adsorpsi menurunkan kadar konsentrasi warna masing-masing sebesar 86,21%, 85,21%, 84,29%, dan 71,07% selama 60 menit. Peningkatan konsentrasi zat warna dalam air limbah menyebabkan efisiensi penghilangan warna yang rendah. Selain itu, penelitian mengevaluasi efektivitas adsorpsi batch oleh karbon aktif karena efisiensi penghilangan warna dapat mencapai lebih dari 50% setelah waktu kontak 30 menit. Hal ini terlihat pada konsentrasi awal 5 mg/L dan 20 mg/L dengan efisiensi penyisihan sebesar 66,18% dan 53,97%. Kinetika adsorpsi yang sesuai untuk pendekatan pemodelan pada penelitian ini adalah Langmuir isotherm dengan nilai r2 yang lebih besar dan mendekati nilai 1 yaitu 0,9756. Estimasi kapasitas adsorpsi maksimum yang diperoleh dari model sebesar 4,353 mg/g. Kata kunci: Air limbah tekstil, warna, adsorpsi, efisiensi penyisihan   ABSTRACT Generally, the textile industry uses various synthetic dyes that produced a large amount of highly colored wastewater. This research aims to investigate the color removal by adsorption using powdered activated carbon. This method is considered viable due to cost effective and ease of maintenance for wastewater treatment. The batch adsorption process was carried out at different contact times of 5–60 minutes and varied initial dye concentration containing azo-Reactive Black 5 (RB-5) of 5 mg/L; 10 mg/L; 15 mg/L; and 20 mg/L. A synthetic RB-5 was prepared  as the artificial wastewater to simulate the actual wastewater. The adsorption  proceeded initially with higher rates and gradually slowed down until reached a constant value due to the carbon surface's saturation with increasing contact time.The results showed that, at different initial dye concentration, the adsorption process decreased color concentration for 60 minutes by 86.21%, 85.21%, 84.29%, and 71.07% respectively. The increase of initial dye concentration lowers color removal efficiency. Besides, the effectiveness of adsorption by activated carbon was found more than 50% after 30 minute of contact time. The efficiency removal presented initial concentration of 5 mg/ and 20 mg/L was 66.18% and 53.97%, respectively. Langmuir and Freundlich isotherm were also plotted to assess the kinetics of adsorption. Langmuir isotherm gave the best modelling approach for adsorption kinetics as indicated by higher coefficient of determination (r2) of 0.9756. An estimated maximum adsorption capacity obtained from the model was 4.353 mg/g. Keywords: Textile wastewater, color, adsorption, removal efficiency


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 215-221
Author(s):  
Luluk Edahwati ◽  
Sutiyono ◽  
Rizqi Rendri Anggriawan

ABSTRACT Struvite, also known as magnesium ammonium phosphate hexahydrate, is a white crystal with a chemical formula magnesium ammonium phosphate hexahydrate (MgNH4PO4.6H2O). Because of its phosphate content, struvite can be utilized as a fertilizer. Tempeh industrial effluent contains a high concentration of PO4, making it a possible struvite fertilizer producing material. The formation of struvite fertilizer is carried out by the aeration process. This process is able to increase the pH and homogeneity of the solution. The solution of Magnesium Ammonium Phosphate (MAP) is prepared by reacting tempeh industrial wasterwater, Magnesium Chloride (MgCl2), and Ammonium Hydroxide (NH4OH). The MAP ratios used are 1:1:1 and 3:1:1. The temperature was set at 30 °C and pH 9, the airflow rate was carried out at a rate of 0.25 - 1.25 liters per minute. Struvite crystals were analyzed using X-ray Fluorescence (XRF) and Scanning Electron Microscope (SEM). The best struvite fertilizer content is magnesium by 40.3% and phosphorus by 43.9% at an air flow rate of 1.25 liters per minute and a ratio of 3:1:1. Further development can be done by applying struvite fertilizers to plants.  Keywords: aeration, crystallization, tempeh industrial wastewater, struvite   ABSTRAK Struvite adalah kristal putih yang secara kimiawi dikenal sebagai magnesium amonium fosfat heksahidrat (MgNH4PO4.6H2O). Struvite dapat dimanfaatkan menjadi pupuk karena kandungan fosfat (PO4) di dalamnya. Limbah cair industri tempe memiliki kandungan PO4 yang cukup tinggi, menjadikan limbah cair industri tempe adalah bahan pembentuk pupuk struvite yang potensial. Pembentukan pupuk struvite dilakukan dengan proses aerasi. Proses ini mampu meningkatkan pH dan homogenitas dari larutan. Larutan MAP (Magnesium Amonium Fosfat) dibuat dengan cara mereaksikan limbah cair industri tempe, Magnesium Klorida (MgCl2), dan Amonium Hidroksida (NH4OH). Rasio MAP yang digunakan adalah 1:1:1 dan 3:1:1. Temperatur ditetapkan sebesar 30°C dan pH 9, laju alir udara dilakukan dengan laju 0,25 - 1,25 liter per menit. Kristal struvite dianalisis menggunakan Floresensi sinar-X (XRF) dan Mikroskop Pemindai Elektron (SEM). Kandungan pupuk struvite terbaik adalah magnesium sebesar 40,3% dan fosfor sebesar 43,9% pada konsentrasi 3:1:1 dan laju alir udara 1,25 liter per menit. Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dengan mengaplikasikan pupuk struvite ke tanaman. Kata Kunci: aerasi, kristalisasi, limbah cair industri tempe, struvite


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 190-198
Author(s):  
Tia Agustiani ◽  
Asep Saefumillah ◽  
Hanies Ambarsari

ABSTRACT Biomass as raw material is one solution that can be developed in the management of agricultural, plantation, and industrial waste. The utilization of biomass-derived from waste can help reduce pollution and environmental pollution. This research was conducted to make Silicon Carbide (SiC) adsorbent from wood biomass using Sengon sawdust as a source of carbon and non-wood biomass, namely coconut husk, as a source of silica. SiC adsorbent is applied for ammonium adsorption, which has implications on reducing ammonia gas from wastewater, reducing odor. The research methods included isolation of silica and carbon, the production of SiC adsorbent by magnesiothermic reduction, and the characterization of SiC adsorbents with XRD and SEM-EDX. Adsorption capacities of SiC to ammonium were determined according to SiO2:C adsorbent ratios (1:3 and 5:3), adsorbent mass variations, and ammonium concentrations in simulated wastewater using the spectrophotometric method. The results showed that SiC could be used as an adsorbent because there are pores on the surface structure. The optimum SiO2:C adsorbent ratio in adsorbing ammonium was 1:3 (SiC 136) with 45% adsorbed ammonium and an adsorption capacity of 0.47 mg/g. The optimum adsorbent mass in adsorbing ammonium was 0.1 g with 41.77% adsorbed ammonium. The optimum concentration of ammonium in simulated wastewater for ammonium adsorption was 20 mg/L with 46.25% adsorbed ammonium. The adsorption isotherm pattern during the ammonium adsorption process follows the Freundlich isotherm, which means that the adsorption process occurs physically. Keywords: adsorbent, adsorption, ammonia, biomass, coconut husk, SiC   ABSTRAK Biomassa sebagai raw material merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan limbah hasil pertanian, perkebunan, dan industri. Pemanfaatan biomassa yang berasal dari limbah dapat membantu mengurangi tingkat polusi dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk membuat adsorben Silikon Carbida (SiC) dari biomassa kayu yaitu memanfaatkan serbuk gergaji kayu Sengon sebagai sumber karbon dan biomassa non kayu yaitu sabut kelapa sebagai sumber silika. Adsorben SiC diaplikasikan dalam penjerapan amonium yang berimplikasi pada potensi penurunan gas amonia dari air limbah sehingga adsorben SiC berpotensi mengurangi bau dalam air limbah. Metode penelitian meliputi isolasi silika, isolasi karbon, pembuatan adsorben SiC secara reduksi magnesiotermik dan karakterisasi adsorben SiC dengan XRD dan SEM-EDX. Penentuan daya adsorpsi SiC sebagai adsorben terhadap variasi rasio adsorben SiO2:C (1:3 dan 5:3), variasi massa adsorben, variasi konsentrasi limbah simulasi menggunakan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SiC dapat digunakan sebagai adsorben karena terdapat pori-pori pada struktur permukaan. Variasi rasio adsorben SiO2:C optimum dalam mengadsorpsi amonium ialah SiC 136 dengan amonium teradsorpsi sebanyak 45% dan kapasitas adsorpsi sebesar 0,47 mg/g. Massa adsorben optimum dalam mengadsorpsi amonium ialah 0,1 g dengan amonium teradsorpsi 41,77%. Konsentrasi optimum limbah simulasi dalam adsorpsi amonium 20 mg/L dengan amonium teradsorpsi 46,25%. Pola isoterm adsorpsi selama proses adsorpsi amonium mengikuti isoterm Freundlich, yang berarti proses adsorpsi cenderung terjadi secara fisika. Kata kunci: adsorben, adsorpsi, amonia, biomassa, sabut kelapa, SiC


2021 ◽  
Vol 22 (2) ◽  
pp. 206-214
Author(s):  
Tatan Sukwika ◽  
Said Azmi Muhammad

ABSTRACT Clean water process production by PT Aetra Air Jakarta (AAJ) emits a lot of wastewater. All this time, a sludge drying bed is used for its production activities, where the sludge produced is not proportional to the area and length of drying time, so the unsatisfied sludge is eventually dumped into the water body. In line with the need to improve the quality of operational activities, clean water service providers are trying to create zero waste. They are environmentally friendly through the use of a decanter. The research objective was to determine the amount of sludge treated in the wastewater treatment process and measure water removal efficiency in sludge using a decanter. Methods of data collection through observation and testing of wastewater treatment using a decanter. The decanter treatment process starts from taking the sludge sample before it is processed; the sludge treatment process begins entering the decanter until the sludge is finished processing. The results showed that the average volume of sludge was 24.84 m3, and the water removal efficiency was between 89–91%. The conclusion is that the set inflow rate is directly proportional to TSS while the efficiency of TSS water removal in the sludge is smaller so that the use of a decanter is greater. It recommended that the residual processing sludge be used as raw material for fertilizer production. The Pb and Zn content in the sludge does not exceed the quality standard. Keywords: decanter, clean production, TSS, sludge volume   ABSTRAK Air bersih yang diproduksi oleh PT Aetra Air Jakarta (AAJ) mengeluarkan banyak limbah cair. Selama ini, kegiatan produksinya digunakan sludge drying bed, dimana lumpur yang dihasilkan tidak sebanding dengan luas dan lamanya waktu pengeringan, sehingga lumpur yang tidak tertampung akhirnya terbuang ke badan air. Seiring kebutuhan perbaikan kualitas kegiatan operasional, penyedia layanan air bersih berupaya menciptakan zero waste dan ramah lingkungan melalui penggunaan decanter. Tujuan penelitian menentukan jumlah lumpur yang diolah pada proses pengolahan limbah cair dan mengukur efisiensi penyisihan air pada limbah lumpur menggunakan alat decanter. Metode pengumpulan data melalui pengamatan dan pengujian pengolahan limbah cair menggunakan decanter. Proses pengolahan decanter dimulai dari pengambilan sampel lumpur sebelum diolah, proses pengolahan lumpur dari awal masuk ke decanter sampai lumpur selesai diolah. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata volume lumpur sebesar 24,84 m3, dan efisiensi penyisihan air antara 89–91%. Kesimpulannya adalah set inflow rate berbanding lurus dengan TSS sedangkan efisiensi penyisihan air TSS pada limbah lumpur semakin kecil sehingga penggunaan decanter menjadi lebih besar. Direkomendasikan agar lumpur sisa pengolahan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan pupuk dengan syarat kandungan Pb dan Zn dalam lumpur tidak melebihi baku mutu. Kata kunci: decanter, produksi bersih, TSS, volume lumpur


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document