Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

104
(FIVE YEARS 69)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Padjadjaran

2615-7411, 2528-4576

Author(s):  
Sunendar Sunendar ◽  
Rifki Andi Novia ◽  
Luthfi Zulkifli

AbstrakPengembangan ekonomi rakyat perlu diarahkan untuk mendorong perubahan nasional melalui pengembangan UMKM.  UMKM emping melinjo merupakan sentra unit usaha terbanyak di Kabupaten Batang. Maka perlu  analisa bisnis yang bisa diterapkan oleh wirausaha pengolahan melinjo salah satunya yaitu bisnis model kanvas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui analisa bisnis model yang  tepat dan analisa orientasi kewirausahaan. Jenis penelitian menggunakan analisa deskriptif dengan pendekatan orientasi kewirausahaan dan model bisnis kanvas. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan teknik wawancara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - Desember 2019. Respondennya yaitu pengusaha pengolahan emping melinjo sebanyak 30 Orang. Analisa menggunakan metode deskripsi dan model bisnis kanvas. Hasil peneltian menunjukan bahwa bisnis pengolahan melinjo memiliki sementasi konsumen yaitu konsumen luas. Preposisi nilai yaitu berdasarkan kinerja dengan mengutamakan kualitas agar tetap eksis dari tahun ke tahun. Saluran menggunakan pemasaran langsung dan tidak langsung. Hubungan konsumen dengan cara berkomunikasi langsung antara konsumer dengan pengusaha. Aliran uang bisnis pengolahan melinjo dari penjualan produk. Aktivitas utama dengan melalukan aktivitas produksi dan pemasaran. Sumberdaya utama yaitu bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran. Mitra utama dengan pengrajin, pengusaha kemasan dan distibutor. Struktur biaya meliputi biaya variabel dan tetap.Kata kunci: bisnis model kanvas, usaha kecil menengah, orientasi wirausahaAbstractThe development of the people's economy needs to be directed to encourage national change through the development of MSMEs. MSMEs melinjo chips is the center of the largest business unit in Batang Regency. So the business analysis that can be applied by entrepreneurs processing melinjo one of them is the canvas business model. The purpose of this research is to know the right business model analysis and analysis of entrepreneurial orientation. This type of research uses descriptive analysis with an entrepreneurial orientation approach and canvas business model. The research method used is quantitative using interview and discussion techniques. The research was conducted in August-December 2019. The respondent was 30 people. Analysis using canvas description methods and business models.  The results of the study show that melinjo processing business has customer segments namely mass customer. The value propositions are based on performance by prioritizing quality to remain exist from year to year. Channels use direct and indirect marketing. Customer relationship by communicating directly between consumers and entrepreneurs. Revenue streams the processing business from the sale of the product. Key activities by going through production and marketing activities. Key resources are raw materials, labor and marketing. Key partnership with craftsmen, packaging entrepreneurs and distibutors. Cost structure includes variable and fixed costs.Keyword: business model canvas, MSMEs, entrepreneurial orientation


Author(s):  
Faris Maulana Satria ◽  
Adi Nugraha ◽  
Eka Purna Yudha ◽  
Ernah Ernah

ABSTRAKKakao merupakan salah satu komoditas yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Indonesia. Kakao memiliki potensi hilirisasasi yang sangat baik, dimana produk hilir kakao sangat beragam dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pemerintah menetapkan bubuk kakao dan lemak kakao sebagai produk hilir utama yang dihasilkan Indonesia. Perkembangan dapat dilihat pada perubahan jenis produk kakao yang diekspor. Ekspor biji kakao terus mengalami penurunan, sementara ekspor bubuk kakao dan lemak kakao terus mengalami peningkatan. Perkembangan pada industri juga dapat dilihat pada peningkatan impor biji kakao oleh Indonesia yang mengindikasikan peningkatan pada konsumsi biji kakao oleh industri hilir domestik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis trend perubahan produksi biji kakao, konsumsi biji kakao oleh industri, dan produksi produk hilir dengan menggunakan analisis trend dan grafik, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan industri hilir domestik terhadap biji kakao menggunakan analisis regresi linier berganda metode Ordinary Least Square (OLS) dengan bantuan software SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan volume ekspor biji kakao mengalami penurunan, sementara produksi produk hilir dan konsumsi biji kakao oleh industri meningkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan industri hilir terhadap biji kakao secara signifikan adalah harga biji kakao, harga lemak kakao, harga bubuk kakao, dan produksi bubuk kakao.Kata Kunci: Bubuk Kakao, Lemak Kakao, Trend Perubahan, Permintaan Industri, Ordinary Least SquareABSTRACTCocoa has one of the highest contribution towards Indonesian economy among other agricultural commodities. Cocoa has huge potential in the downstream sector, reflected by the many variations of cocoa-based products with high economic value. Government of Indonesia declared cocoa powder and cocoa butter as the main product of downstream cocoa industry. Development of the cocoa industry downstream sector is indicated in the shift of cocoa based-products exported to various countries around the world, from raw cocoa seeds to cocoa powder and cocoa butter. Increase in Indonesian import of cocoa beans shows that there is an increase in the industry’s consumption of raw cocoa beans. The purpose of this research is to analyze the trend and dynamics of Indonesia’s cocoa bean production, cocoa bean export, downstream sector’s production, and downstream sector’s cocoa bean consumption, and to identify factors that affect downstream cocoa industry’s demand of cocoa beans using Ordinary Least Squares regression analysis. The result of this research shows that Indonesia’s cocoa bean export and production is trending downward, while downstream production and consumption shows a positive developing trend. Factors that affect the cocoa downstream industry’s demand are prices of cocoa bean, cocoa butter, cocoa powder, and the amount of cocoa powder produced by the industry.Keywords: Cocoa Powder, Cocoa Butter, Trend, Dowsntream Industry’s Demand, Ordinary Least Square


Author(s):  
Risky Al Hamdhan

AbstrakPorang menjadi komoditi ekspor unggulan Desa Klangon Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun. Tanaman porang  memiliki harga jual yang tinggi dan merupakan komoditi utama sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, serta kemakmuran masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak usahatani komoditas porang terhadap kesejahteraan masyarakat yang dilihat dari kelembagaan dan biaya produksi, pemasaran dan penerimaan serta pendapatan petani. Objek lokasi penelitian dipilih berdasarkan pertimbangan bahwasannya Desa Klangon merupakan sentral produsen porang di Kabupaten Madiun dan sekaligus endemik porang Indonesia yang diberi dengan Madiun-1. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, ditinjau dari tingkat kesejahteraan rakyat di Desa Klangon ini mayoritas pada tingkat level sedang, dengan persentase 40,9% atau sebanyak 738 KK yang dalam kriteria menengah keatas. Dengan menggunakan analisis data deskriptif kualitatif melalui proses reduksi data dan perhitungan, maka produksi awal (investasi awal) usahatani porang dengan luas lahan satu hektar dengan biaya Rp.87.660.000, rata-rata pendapatan pertahun yang diperoleh petani ialah Rp.260.340.000. Melihat potensi dan besarnya keuntungan dalam budidaya porang terhadap kesejahteraan masyarakat desa, untuk itu perlu adanya campur tangan Pemerintah Kabupaten Madiun guna melakukan pemilihan lokasi baru untuk budidaya porang. Serta perlu adanya peningkatan investasi pada komoditas tersebut karena mengingat masih sangat mungkin untuk ditingkatkan.Kata kunci: porang, klangon, kesejahteraan masyarakat, analisis usahataniAbstractPorang is the leading export commodity in Klangon Village, Saradan District, Madiun Regency. The porang plant has a high selling price and is the main commodity as a source of regional income, as well as the people's welfare. This study aims to describe the impact of porang commodity farming on community welfare as seen from the institutional and production costs, marketing and income and farmer income. The object of the research location was chosen based on the consideration that Klangon Village is the central producer of porang in Madiun Regency and at the same time is endemic to Indonesian porang given Madiun-1. The results of the study reveal that, in terms of the welfare level of the people in Klangon Village, the majority are at the medium level, with a percentage of 40, 9% or as many as 738 households in the upper middle criteria. By using qualitative descriptive data analysis through the process of data reduction and calculation, the initial production (initial investment) of porang farming with a land area of one hectare at a cost of Rp. 87,660,000, the average annual income earned by farmers is Rp. 260,340,000. Seeing the potential and the magnitude of the benefits in cultivating porang for the welfare of the village community, it is necessary for the Madiun Regency Government to intervene in selecting a new location for porang cultivation. And there needs to be an increase in investment in these commodities because it is still possible to increase it.Keywords: porang, klangon, community walfare, economic analysis of farming


Author(s):  
Mochamad Rafi Chuluqy

AbstrakPenelitian ini memiliki tujuan untuk menggambarkan mekanisme sistem bagi hasil yang ada pada sektor pertanian khususnya pada tanaman jeruk siam (Citrus nobilis), dan juga manfaat mekanisme ini bagi masyarakat. Kerjasama dengan menggunakan sistem bagi hasil sudah dilakukan masyarakat daerah pedesaan sejak dulu. Dalam sistem bagi hasil, ada berbagai mekanisme kerjasama antara pemilik lahan, dan penggarap, mekanisme kerjasama itu antara lain Maro, Mertelu, dan Merpat. Penelitian dalam artikel ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan di Desa Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi. Teknik observasi serta wawancara digunkan untuk memperoleh data di penelitian ini. Dalam penelitian ini diperoleh hasil yang menyatakan bahwa sistem bagi hasil juga dapat menumbuhkan solidaritas dan integrasi sosial, selain menunjukan peningkatan perekonomian yang menjadi tujuan utama sistem ini. Hal itu dibuktikan dengan adanya rasa peduli, saling percaya, saling membantu antara pemilik lahan dan penggarap jika mengalami kesulitan. Meskipun demikian, peran serta pihak lain seperti pemerintah juga tetap diperlukan agar hubungan baik antara kedua belah pihak dapat tetap terjaga.Kata kunci: Pertanian, Sistem Bagi Hasil, Solidaritas, Integrasi Sosial.AbstractThis study aims to describe the production sharing system in agriculture, especially in the Citrus nobilis plant, and its benefits in community life. The profit-sharing system is a form of cooperation that has existed and been carried out by the village community for a long time. In the profit-sharing system, there are various cooperation mechanisms between landowners and tenants. The cooperation mechanisms include Maro, Mertelu, and Merpat. The research in this article is a qualitative research conducted in Tegalsari Village, Tegalsari District, Banyuwangi Regency. Data collection was carried out by interview and observation techniques. The results of this study indicate that the implementation of the cooperation agreement with the profit-sharing system not only improves the economy, but also fosters solidarity and social integration in society. This is evidenced by a sense of care, mutual trust, and mutual assistance between landowners and tenants when experiencing difficulties. Even so, the participation of other parties such as the government is still needed so that good relations between the two parties can be maintained.Keywords: Agriculture, Profit Sharing, Solidarity, Social Integration.


Author(s):  
Mahra Arari Heryanto ◽  
Eddy Renaldi Suryatmana

AbstrakAgroindustri gula memiliki peran yang penting dan strategis bagi ekonomi masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda sampai dengan saat ini. Produksi gula mengalami stagnasi sejak tahun 1994, ditandai dengan produksi yang menurun sementara permintaan terus bergerak naik. Sementara itu, impor gula terus dilakukan dan cenderung meningkat seiring dengan permintaan yang terus bertambah. Artikel ini menganalisis kompleksitas persoalan yang mengakibatkan berbagai dinamika dalam agroindustri gula terutama stagnasi produksi gula nasional. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan analisis sistem berdasarkan data sekunder dan literatur mengenai berbagai indikator yang terkait dengan agroindustri gula. Hasil pembahasan menunjukan bahwa dinamika agroindustri gula Indonesia yang cenderung mengalami kemunduran diakibatkan oleh inefisensi usahatani tebu, inefisiensi usaha pabrik gula/PG, dan distorsi oleh pasar gula internasional. Inefisiensi usahatani tebu berdampak langsung kepada inefisiensi PG dalam rantai agroindustri gula. Sementara itu, persoalan kompetisi penggunaan lahan antara tanaman padi dan tebu secara tidak langsung berimplikasi kepada inefisiensi PG. Inefisiensi agroindustri gula kemudian menjadi lebih kompleks dengan adanya distorsi harga gula di pasar internasional yang menjatuhkan harga gula dunia. Guna mengatasi dinamika persoalan di atasm pengembangan industri tebu sebaiknya dilakukan oleh pihak swasta dengan mengoptimalkan lahan pertanian di luar Jawa.Kata Kunci: tebu, analisis sistem, impor gula, usahatani, hargaAbstractSugar agroindustry has an important and strategic role for Indonesia since from the Dutch colonial era until present. Sugar production has been stagnating since 1994, indicated by decreasing production while demand continues to rise. Meanwhile, sugar import continues and tended increasing in line with growing demand. This article analyses the problems complexity of that have resulted various dynamics in sugar agroindustry, especially the stagnation of national sugar production. The method used is a systems analysis approach which based on secondary data and literature review on various indicators related to sugar agroindustry. The result show that the dynamics of Indonesia's sugar agroindustry which tends to decline caused by inefficiency in sugarcane farming, inefficiency of sugar factories/PG, and distortion by the international sugar market. Inefficiency in sugarcane farming has a direct impact on the inefficiency of PG in the sugar agroindustry chain. Meanwhile, the issue of land use competition between rice and sugar cane, indirectly has implications for PG inefficiency. Sugar agroindustry inefficiency then became more complex with the distortion of sugar prices on the international market which dropped international sugar prices. In order to overcome the problems, the development of sugarcane industry should be carried out by private sector by optimizing agricultural land outside Java.Keywords: sugarcane, system analysis, imported sugar, farming, price


Author(s):  
Ziva Arsiatul Isna ◽  
Sugihardjo Sugihardjo ◽  
Eny Lestari

Abstrak Kabupaten Boyolali merupakan pusat populasi sapi perah tertinggi di Jawa Tengah. Wilayah yang memiliki populasi sapi perah berada di Kecamatan Cepogo. Berdasarkan mutasi anggota KUD Cepogo tidak semua anggota KUD aktif dalam unit usaha susu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo, menganalisis faktor-faktor pembentuk persepsi terhadap unit usaha susu KUD Cepogo, dan menganalisis pengaruh antara faktor-faktor pembentuk persepsi terhadap unit usaha susu KUD Cepogo. Analisis data menggunakan Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67% anggota memiliki persepsi yang baik terhadap unit usaha KUD Cepogo. Faktor-faktor pembentuk persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo meliputi: pendidikan formal, pendidikan non formal, pengalaman, pendapatan, dan motivasi. Faktor-faktor pembentuk persepsi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota unit usaha susu KUD Cepogo. Secara parsial variabel pengalaman, pendapatan, dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota, sedangkan variabel pendidikan formal dan pendidikan non formal tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo.Kata kunci: Unit Usaha Susu, KUD Cepogo, PersepsiAbstract Boyolali Regency is the highest dairy population center in Central Java. The area that has a dairy population is in Cepogo Subdistrict. Based on cepogo kud member mutation, not all kud members are active in milk business unit. This study aims to analyze the perception of members of the cepogo kud milk business unit, analyze the factors that shape the perception of the cepogo kud milk business unit, and analyze the influence between the factors that shape the perception of the cepogo kud milk business unit. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results showed that 67% of members have a good perception of cepogo kud business unit. Factors that shape members' perception of Cepogo's dairy business unit include: formal education, non-formal education, experience, income, and motivation. The perception-forming factors simultaneously have a significant effect on the perception of members of the Cepogo KUD dairy business unit. Partial variables of experience, income, and motivation have a significant effect on members' perceptions, while the variables of formal education and non-formal education have no significant effect on members' perception of cepogo's dairy business unit.Keywords: Dairy Business Unit, Kud Cepogo, Perception


Author(s):  
Gregorius Gehi Batafor ◽  
Yason Edison Benu

Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisa rantai nilai dan mengkaji nilai tambah komoditi cabai rawit. Metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif, sedangkan teknik analisis data menggunakan metode hayami dan analisis biaya pokok. Hasil analisis rantai nilai menunjukkan bahwa tingkat keuntungan pada pedagang pengumpul sebesar Rp. 5.306 per kg, dan pada pedagang pengecer mencapai Rp. 10.806 per kg, sedangkan keuntungan petani Rp. 1.806 per kg. RC rasio yang dihasilkan yaitu 1,14 pada tingkat petani, 1,31 pada tingkat pedagang pengumpul dan 1,45 pada tingkat pedagang pengecer. Hasil analisis biaya pokok, penyimpanan dingin selama 3 bulan membutuhkan biaya sebesar Rp. 708,146 per kg. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan penyimpanan konvensional sebesar Rp. 1.372  per kg. Berdasarkan wawancara mengenai prediksi harga 3 bulan ke depan dan nilai susut terdapat perbedaan signifikan antara penyimpanan konvensional dengan penyimpanan dingin. Keuntungan penyimpanan dingin lebih besar dari pada penyimpanan konvensional, yaitu Rp. 13.417 per kg selama penyimpanan 3 bulan sedangkan penyimpanan konvensional Rp. 3000 per kg. Peningkatan tersebut diperoleh dengan asumsi harga sebelum disimpan Rp. 22.250 per kg, dan  harga jual setelah disimpan Rp. 35.000 per kg.Kata Kunci: Rantai Nilai, Teknologi Penyimpanan Dingin AbstractThis study aims to analyze the value chain and assess the added value Soe tangerine products. The results of the value chain analysis show that the level of profit for the trader is IDR 5,306 per kg, and retailers reach IDR 10,806 per kg, while the farmers' profit is IDR 1,806 per kg. The resulting RC ratio is 1.14 at the farmer level, 1.31 at the collector trader level and 1.45 at the retailer trader level. The results of the analysis of basic costs, cold storage for 3 months requires a fee of IDR 708,146 per kg. This value is lower compared to conventional storage of IDR 1,372 per kg. Based on interviews regarding price predictions for the next 3 months and shrinkage values there is a significant difference between conventional storage and cold storage. The advantage of cold storage is greater than conventional storage, which is IDR 13,417 per kg for 3 months storage while conventional storage is IDR 3,000 per kg. The increase was obtained assuming the price before being saved IDR 22,250 per kg, and the sale price after saving is IDR 35,000 per kg.Keywords: Value Chain, Cold Storage Technology  


Author(s):  
Citra Ayni Kamaruddin ◽  
Muhammad Imam Ma'ruf ◽  
Marhawati . ◽  
Amar Basra ◽  
Dewi Rahmawati

AbstrakAlih fungsi lahan menyebabkan semakin berkurangnya luas areal tanam sehingga dibutuhkan solusi mengenai hal ini. Salah satu solusi permasalahan tersebut adalah sistem budidaya dengan hidroponik, namun diperlukan analisis terkait keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha hidroponik Delta Farm dengan pendekatan titik impas atau Break Even Point (BEP). Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha pertanian yang menggunakan sistem hidroponik dalam membudidayakan tanaman, yakni Delta Farm. Pemilihan lokasi ini didasarkan secara purposive sampling dilihat lama usaha yang dijalankan karena Delta Farm merupakan perintis usahatani sayuran secara hidroponik di Kota Makassar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 di Makassar, Sulawesi Selatan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah penelusuran pustaka, observasi dan wawancara. Data yang digunakan merupakan data primer hasil wawancara dengan Ibu Fenny, S.T., S.Pd. selaku pemilik Delta Farm. Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa usaha Delta Farm dalam budidaya sayuran hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) skala kecil menguntungkan. Hal ini dapat terlihat dari jumlah produksi yang melebihi BEP produksi sebanyak 7,75 kg, tingkat harga yang melebihi BEP harga sebesar Rp 6.039,02/kg, dan penerimaan yang melebihi BEP penerimaan senilai Rp 542.680,09.Kata kunci: hidroponik, titik impasAbstractThe conversion of land functions causes a reduction in the planted area, so a solution is needed. One solution to this problem is a hydroponic cultivation system, but an analysis is needed regarding the benefits obtained by using this system. This study aims to determine Delta Farm's hydroponic business's feasibility using the break-even point (BEP) approach. This study's population was agricultural entrepreneurs who use hydroponic systems in cultivating plants, namely Delta Farm. The location selection is based on purposive sampling based on the length of time the business has been running because Delta Farm is a hydroponic vegetable farming pioneer in Makassar City. This research was conducted in October 2020 in Makassar, South Sulawesi. This study used a literature search, observation, and interviews for data collection. Primary data from interviews with Ms. Fenny, S.T., S.Pd. as the Delta Farm owner are used in this study. This study's findings indicate that Delta Farm's efforts in small-scale Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic vegetable cultivation are profitable. It can be seen from the production amount that exceeds the production BEP of 7.75 kg, the price level that exceeds the BEP price of IDR 6,039.02 / kg, and the revenue that exceeds the BEP of IDR 542,680.09.Keywords: hydroponic, break-even point  


Author(s):  
Mutik Permatasari ◽  
Suminah Suminah ◽  
Sugihardjo Sugihardjo

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani, menganalisis efektivitas kelompok tani, dan menganalisis pengaruh antara faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani dengan efektivitas kelompok tani. Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik survei. Pengambilan sampel dengan metode cluster random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 67 responden. Analisis data menggunakan Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas yaitu faktor ciri kelompok, faktor fungsi tugas, dan faktor luar kelompok. Efektivitas kelompok tani di Kecamatan Mojolaban termasuk dalam kategori tinggi. Secara simultan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani. Secara parsial variabel faktor ciri kelompok dan faktor fungsi tugas berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani, sedangkan variabel faktor luar kelompok tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani.Kata kunci: Efektivitas, Kelompok Tani, ProduktivitasAbstractThis study aims to analyze the factors that influence the effectiveness of farmer groups, analyze the effectiveness of farmer groups, and analyze the influence between factors that affect the effectiveness of farmer groups with the effectiveness of farmer groups. Research using quantitative research method with survey technique. Sampling by cluster random sampling method with the number of samples as many as 67 respondents. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results showed that factors that influence effectiveness are group characteristics factors, task function factors, and factors outside the group. The effectiveness of farmer groups in Mojolaban sub-district is in a high category. Simultaneously the factors that influence the effectiveness have a significant effect on the effectiveness of farmer groups. Partially variable group character factors and task function factors have a significant effect on the effectiveness of farmer groups, while factor variables outside the group have no significant effect on the effectiveness of farmer groups.Keywords: Effectiveness; Farmer Group; Productivity 


Author(s):  
Elly Rasmikayati ◽  
Nurisa Asrienda Shafira ◽  
Yuniar Dianti Fauziah ◽  
Hanifatur Aziz Nur Ishmah ◽  
Bobby Rachmat Saefudin ◽  
...  
Keyword(s):  

Kesadaran konsumen akan pentingnya menjaga kesehatan dari sisi mengkonsumsi sayuran organik semakin meningkat dan banyak faktor yang berperan dalam menentukan tingkat pembeliannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi dari karakteristik konsumen dan hubungannya terhadap tingkat kepuasan dalam melakukan pembelian sayuran organik di Kota Medan. Desain penelitian ini dilakukan dengan pendekatan metode deskriptif kuantitatif menggunakan sampel berukuran 90 responden. Metode analisis yang digunakan untuk analisis karakteristik konsumen adalah statistik deskriptif dan analisis hubungan antara karakteristik dengan tingkat kepuasan adalah crosstab dan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa deskripsi karakteristik konsumen berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh  perempuan, berusia 31 sampai 40 tahun, berpendapatan antara 2.000.001 sampai 3.000.000 rupiah, lamanya menempuh pendidikan 16 tahun atau setara dengan S1 dan memiliki jumlah tanggungan keluarga sebanyak 2 orang. Sementara itu, hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang signifikan antara pada variabel lamanya menempuh pendidikan dengan tingkat kepuasan konsumen dalam melakukan pembelian sayuran organik di Kota Medan. Sedangkan untuk variabel-variabel karakteristik lainnya tidak terjadi hubungan yang signifikan dengan tingkat kepuasan.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document