Berkala Arkeologi SANGKHAKALA
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

112
(FIVE YEARS 112)

H-INDEX

1
(FIVE YEARS 1)

Published By Badan Penelitian Dan Pengembangan Kemdikbud

2580-8907, 1410-3974
Updated Thursday, 10 June 2021

2021 ◽  
Vol 24 (1) ◽  
pp. 31-43
Author(s):  
Gendro Keling

Tamblingan is an area in Bali which is located at an altitude of 1,350 meters above sea level. Tamblingan also known as an archaeological site because it holds many archaeological remains, especially during the ancient Balines era.The problem that would revealed and solved are how the landscape at Tamblingan is ideal as a settlement, supported by archaeological evidence to strengthen it. The purpose of this study is to identify the landscape in the Tamblingan area so that this area was chosen as a settlement in the past. Data collection is done by literature study, both search for internet sources and e-journals that focusing discuss of Tamblingan Site. Tamblingan area is a fertile plateau, its morphology is in the form of a mountain range with Lake Tamblingan as an old caldera containing rainwater. the topography also varies and allows it to be used as a settlement. From the results of the study conducted it was proven that the Tamblingan area is a fertile land area, besides that also the forest and Lake Tamblingan provide various needs to support daily life. Tamblingan merupakan satu wilayah di Bali yang berada di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Tamblingan juga dikenal sebagai situs arkeologi karena menyimpan banyak tinggalan arkeologi terutama dimasa Bali Kuno. Dalam penelitian ini permasalahan yang ingin diungkap dan dipecahkan adalah bagaimana bentanglahan atau lanskap kawasan Tamblingan sehingga daerah ini ideal untuk dijadikan sebagai lokasi hunian atau permukiman, ditunjang dengan bukti-bukti arkeologis untuk menguatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lanskap di wilayah Tamblingan sehingga daerah ini dipilih sebagai kawasan hunian dimasa lalu. Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal cetak dan online yang mengulas mengenai Situs Tamblingan. Kawasan Tamblingan adalah dataran tinggi yang subur, morfologinya berupa deretan pegunungan dengan Danau Tamblingan sebagai kaldera tua yang berisi air hujan. topografinya juga bervariasi dan memungkinkan untuk digunakan sebagai permukiman. Dari hasil studi yang dilakukan terbukti bahwa kawasan Tamblingan merupakan wilayah yang memiliki lahan yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.


2021 ◽  
Vol 24 (1) ◽  
pp. 1-14
Author(s):  
Ambo Asse Ajis

The 11th century AD Armenian text entitled A Journals of the South China Sea refers to the tofonim Peureulak  by the name Poure (Armenian) as a rich and valuable port. Marco Polo (1293 / late 13th century AD) was called Ferlec (Portuguese), which was a settlement with an Islamic population that was regularly visited by Islamic traders. The Negarakertagama manuscript of the 14th century AD mentions the name Parllak (Javanese) as one of the vassals of the Majapahit Kingdom. Likewise local texts, especially Hikayat Raja-Raja Pasai, mention that the existence of the Peureulak  Kingdom ended when it merged into the power of the Samudera Pasai Kingdom (1297 AD) through the process of marriage. This paper aims to see whether the records of the above improvements have the support of archaeological remains, especially the pre-Pasai Ocean era. The research method is descriptive by comparing information with the existence of archaeological remains of two pieces of data that have the same space and time dimensions, namely the rise of the pre-13th century AD and archaeological remains in the form of ancient pre-Samudera Pasai tombstones. The final conclusion is that the results of the comparison of space and time dimensions show that there is a synchronization that confirms the record that saw the Muslim population in Peureulak  before the establishment of the kingdom of Samudera Pasai, which is one of the earliest Islamic cities in Southeast Asia. Teks berbahasa Armenia abad ke-11 Masehi berjudul Suatu Catatan Perjalanan di laut Cina Selatan menyebut toponim Peureulak dengan nama Poure (bahasa Armenia) sebagai pelabuhan yang kaya dan berharga. Marco Polo (1293/akhir abad ke-13 M) menyebutnya Ferlec (bahasa Portugis) yakni sebuah lokasi permukiman berpenduduk Islam yang rutin disinggahi pedagang Islam. Naskah Negarakertagama abad 14 menyebut nama Parllak (bahasa Jawa) sebagai salah satu vasal Kerajaan Majapahit. Demikian juga naskah lokal, khususnya Hikayat Raja-Raja Pasai menyebut eksistensi Kerajaan Peureulak  berakhir ketika melebur ke dalam kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai (1297 M) melalui proses pernikahan. Tulisan ini bertujuan ingin melihat apakah catatan para pelancong di atas memiliki dukungan tinggalan arkeologis khususnya era sebelum Samudera Pasai. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan cara melakukan komparasi informasi dengan keberadaan tinggalan arkeologis dua buah data yang memiliki kedudukan dimensi ruang dan waktu yang sama, yakni catatan pelancong abad sebelum abad 13 dan tinggalan arkeologis berupa nisan-nisan kuno era sebelum Samudera Pasai. Kesimpulan akhirnya bahwa dari hasil perbandingan dimensi ruang dan waktu menunjukan ada singkronisasi membenarkan catatan para pelancong melihat adanya penduduk Islam di Peureulak  sebelum berdirinya kerajaan Samudera Pasai, yakni satu kota paling awal yang terislamisasi di Asia Tenggara.


2021 ◽  
Vol 24 (1) ◽  
pp. 15-30
Author(s):  
Ery Soedewo

Aru Sultanate was a state in Sumatra Island cited by numerous local and international sources between 13th and 16th centuries CE. In the middle of 16th century CE, the sovereignty of Aru was threatened by Aceh Sultanate’s aggression to its neighbouring states in Sumatra. Aru Sultanate’s strategic moves to deal with that aggression is the subject matter of this article. The discussion of such strategies is aimed at revealing what options came to surface by the defensive side to counter the aggressor. Historical reviews of two main records of the Portuguese Tomé Pires and Ferna-O Mendes Pinto revealed the potential strength and strategies adopted by Aru Sultanate to repel Aceh Sultanate’s attack. The presence of the fort as a supporting defensive factor allows Aru Sultanate to deploy a defensive strategy in Aru War I. The defensive stance, however, turned into offensive one in Aru Wars II and III as a strong ally, Johor Sultanate came to assist. Despite more alliances were formed with more states, victory ultimately belonged to Aceh Sultanate. Kesultanan Aru adalah salah satu negeri di Pulau Sumatera yang disebut oleh sumber-sumber tertulis lokal dan mancanegara sejak abad ke-13 – ke-16 M. Pada pertengahan abad ke-16 M, kedaulatan Kesultanan Aru terancam oleh agresi Kesultanan Aceh ke negeri-negeri tetangganya di Pulau Sumatera. Langkah-langkah strategis apa yang ditempuh oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi agresi Kesultanan Aceh, merupakan permasalahan yang diulas dalam karya tulis ini. Pembahasan tentang strategi yang dipakai oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi agresi Kesultanan Aceh bertujuan mengungkap pilihan strategi yang diterapkan oleh pihak yang bertahan dalam menghadapi agresi dari luar.  Melalui kajian historis terhadap data utama berupa dua catatan bangsa Portugis yakni Tome Pires dan Ferna-O Mendes Pinto, diungkap potensi kekuatan dan strategi yang diterapkan oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi serangan Kesultanan Aceh. Keberadaan benteng sebagai salah satu unsur kekuatan negara, membuat Kesultanan Aru memilih strategi yang defensif pada Perang Aru I. Strategi Kesultanan Aru berubah dari defensif menjadi ofensif -saat Perang Aru II dan Perang Aru III- setelah memperoleh sekutu yang kuat yakni Kesultanan Johor. Meskipun jalinan persekutuan telah dibentuk oleh Kesultanan Aru dengan sejumlah negeri, namun kejayaan akhirnya menjadi milik Kesultanan Aceh.


2021 ◽  
Vol 24 (1) ◽  
pp. 64-75
Author(s):  
Najla Anggraini

Pottery is a human creation in the form of objects or containers made of clay which are burned at a burning temperature of 3500C-10000C. The pottery tradition began to be discovered during the cultivation period, in Indonesia pottery became known around 6000 BC, since then pottery has become one of the most important tools in human life. Pottery artifacts are often found at archaeological sites, either intact or in fragments. From the pottery data, there are several aspects that can be studied both in terms of form, decoration and function. The method used in this research is in the form of a special analysis, namely, by observing the attributes of decorative motifs on pottery at the Kampai Island Site, North Sumatra. The data used in this study were the findings of pottery from the excavation of the North Sumatra Archeology Center in 2013. The total number of pottery analyzed in total amounted to 974 shards. The purpose of this study was to determine the typology of decorative pottery motifs at the Kampai Island Site. The results of the research on the analysis of Kampai Island pottery motifs show that there are various decorative motifs so that the classification process of pottery decorative motifs is carried out which can produce several types or typologies of pottery decorative motifs in the Kampai Island Site, namely the types of motifs of lines, squares, circles, and triangles. Tembikar merupakan suatu hasil karya cipta manusia berupa benda atau wadah yang terbuat dari tanah liat yang dibakar pada suhu pembakaran 3500 C-10000 C. Tradisi tembikar mulai ditemukan pada masa bercocok tanam, di Indonesia tembikar mulai dikenal sekitar 6000 SM, yang sejak saat itu tembikar menjadi salah satu alat perlengkapan yang penting di kehidupan manusia. Artefak tembikar sering ditemukan pada situs arkeologi, baik utuh maupun pecahan. Data tembikar juga dapat diteliti dari beberapa aspek baik dari segi bentuk, hiasan maupun fungsi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa Analisis Khusus yaitu, dengan mengamati atribut motif hias pada tembikar Situs Pulau Kampai, Sumatera Utara. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa temuan tembikar dari hasil ekskavasi Balai Arkeologi Sumatera Utara tahun 2013. Jumlah tembikar yang dianalisis secara keseluruhan berjumlah 974 pecahan. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui tipologi motif hias tembikar Situs Pulau Kampai. Hasil penelitian analisis motif hias tembikar Pulau Kampai menunjukan bahwa terdapat motif hias yang beragam sehingga dilakukan proses klasifikasi motif hias tembikar yang dapat menghasilkan beberapa tipe-tipe atau tipologi motif hias tembikar Situs Pulau Kampai, yaitu tipe motif garis, kotak, lingkaran, dan segitiga.


2021 ◽  
Vol 24 (1) ◽  
pp. 44-63
Author(s):  
Jusman Mahmud

This paper investigates variety of role and collaboration of stakeholders involved with heritage tourism development in Siwa Plateau Area, Special Region of Yogyakarta Province in order to better understand whether and how those roles and collaborations reflect an effort to find a balance related to inherent contradictions in the concepts of heritage (conservation/preservation) and tourism (change/development). The method used was qualitative inductive with primary data obtained by survey, interview and observation. The variety of role and collaboration forms of stakeholders reflects at least three main aspects with variety of nuance. First is heritage protection and development control. Second is being partners in managing heritage as a tourist attraction/destination. Third is that there are active efforts to involve local communities as key players in heritage tourism development in the region. Artikel ini menggali bentuk-bentuk peran dan kolaborasi stakeholder yang terlibat pada perkembangan pariwisata heritage di Kawasan Siwa Plaetau (KSP) Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk lebih memahami apakah dan bagaimana peran dan kolaborasi yang berlangsung tersebut mencerminkan upaya-upaya mencari keseimbangan dalam kontradiksi inheren yang terdapat di dalam konsep heritage (preservasi/stabilitas) dan pariwisata (pembangunan/perubahan). Penelitian dilakukan secara induktif kualitatif dengan data-data utama diperoleh dari survei, wawancara dan observasi. Ragam bentuk peran dan kolaborasi tersebut mencerminkan setidaknya tiga aspek utama dengan beragam nuansa di dalamnya, yaitu pelindungan heritage dan kontrol pembangunan, kerjasama atau mitra dalam mengelola heritage sebagai objek wisata, dan upaya-upaya untuk melibatkan komunitas-komunitas lokal sebagai pemain kunci dalam perkembangan pariwisata heritage di dalam kawasan.


2020 ◽  
Vol 23 (2) ◽  
pp. 107-118
Author(s):  
Repelita Wahyu Oetomo

Selama ini terdapat anggapan bahwa pemakaian atap genting di nusantara dikenalkan oleh Belanda pada sekitar abad ke- 20, namun bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa penggunaan genting telah dikenal jauh sebelumnya. Hal ini diketahui dari beberapa temuan genting di bekas kerajaan Samudera- Pasai, Padang Lawas, Muaro Jambi dan di bekas ibukota kerajaan Majapahit. Tidak banyak informasi yang didapat untuk melihat seberapa jauh penggunanan genting sebagai atap di Sumatera dan Jawa pada masa-masa klasik, serta bangunan-bangunan seperti apa yang menggunakan atap genting pada saat itu, mengingat jumlahnya temuannya sangat terbatas. Beberapa fragmen genting berhasil ditemukan dalam penelitian arkeologis yang dilakukan, selanjutnya temuan tersebut, dianalisis serta dibandingkan dengan temuan-temuan di tempat serta dibandingkan dengan beberapa temuan bangunan pada masa belakangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui fungsi, tata cara penggunaan serta bagaimana kemungkinan struktrur bangunan pendukungnya. Penggunaan genteng pada masa lalu masih sangat terbatas, mengingat ketersediaan bahan-bahan organis untuk atap masih banyak tersedia. Penggunaan genting pada masa lalu terbatas hanya untuk bangunan-bangunan penting karena genting masih dianggap sebagai komoditas yang cukup mahal. Belakangan penggunaan genteng di nusantara semakin umum karena penggunaan atap genteng dianggap lebih efisien, rapi, awet dan lebih murah karena bahan-bahan organis semakin sulit didapat


2020 ◽  
Vol 23 (2) ◽  
pp. 83-92
Author(s):  
Ketut Wiradnyana

Masyarakat Nias menganut pola kekerabatan patrilineal, yang dalam berbagai aspek kebudayaannya sangat terkait dengan garis keturunan laki-laki. Konsep patrilineal tersebut sangat terkait dengan ide konsepsi pemujaan terhadap leluhur. Konsepsi pemujaan terhadap leluhur itu merupakan salah satu konsepsi religi pada budaya Megalitik dan  berkaitan dengan konsepsi ekonomi dan sosial. Berkenaan dengan itu maka konsepsi pemujaan leluhur menjadi sangat berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Jadi, upaya memahami kebudayaan masyarakat Nias itu diantaranya dapat juga dikenali melalui pemahaman tentang eksistensi leluhur, dengan berbagai peranannya di masyarakat. Pencapaiannya melalui alur pemikiran deskriptif-kualitatif yang dilakukan atas hasil penelitian arkeologis, etnografis dan juga mikrobiologi, pada akhirnya data yang terhimpun dianalisis dan dibandingkan dengan berbagai aspek pada kebudayaan dalam kaitannya dengan konsep leluhur pada masyarakat tradisional lainnya. Metode itu akan membantu mengidentifikasi berbagai aspek yang berkaitan dengan leluhur masyarakat Nias, seperti halnya aspek asal muasal dan waktu migrasinya ke Pulau Nias beserta berbagai peran konsepsi leluhur pada kehidupan masyarakatnya.


2020 ◽  
Vol 23 (2) ◽  
pp. 73-82
Author(s):  
Elwyn Bastian Sinaga ◽  
Hariati br Sembiring

Gua Putri Hijau di Seberaya, kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo adalah tempat kelahiran Putri Hijau. Putri Hijau memiliki dua orang saudara, yaitu Nini Naga dan Nini Meriam. Peninggalan Putri Hijau yang ada di Desa Siberaya sebagai bukti sejarah yang diyakini masyarakat mengandung nilai sejarah. Nilai tersebut sangat berhubungan dengan  kehidupan masayarakat Seberaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan mendeskrpsikan peningalan-peningalan Putri Hijau yang masih ada saat ini di Desa Seberaya, Kabupaten Karo serta mengetahui pandangan masyarakat Seberaya terhadap peingalan-peniggalan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Metode ini diguakan untuk melukiskan keadaan objek peninggalan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Data penelitian ini diproleh dari hasil observasi dan wawancara kepada tiga informan. Observasi dilakukan dengan mengujungi lokasi keberadaan objek. Wawancara dilakukan kepada informan-informan yang mengetahui cerita Putri Hijau. Berdasarkan hasil penelitian diketahui ada tiga peninggalan yang masih ada, yakni Permandian Putri Hijau, Gua Putri Hijau, dan tempat Permainan Putri Hijau.


2020 ◽  
Vol 23 (2) ◽  
pp. 93-106
Author(s):  
Moh Rosyid

Tujuan penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan bentuk akulturasi budaya yang dilakukan komunitas Samin di Kudus, Jawa Tengah terhadap tradisi muslim Nahdliyinyakni tradisi yang merespon kearifan lokal dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.Data diperoleh dengan wawancara, kajian literatur, dan observasi. Terkumpulnya data dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Budaya yang direspon Samin berupa slametan daur kehidupan dan khitan anak lelaki. Akulturasi tercipta simbiosis mutualisme karena Nahdliyin juga responsif terhadap tradisi lokal Jawa. Kekhasan yang masih dipertahankan komunitas Samin adalah memakai celana tokong, ikat kepala, berwarna serba hitam bagi lelaki, dan bagi perempuan memakai jarit. Bila menghadiri perkawinan dan melayat kematian. Bila di rumah atau di sawah memakai pakaian lazimnya warga lain. Ada pula budaya nahdliyin yang tidak direspon Samin karena menghindari keserupaan tradisi, seperti berpeci. Adapun bersarung menjadi tradisi Samin yang hanya digunakan ketika lelaki menikah. Prinsip dasar nahdliyin dalam tradisi adalah tawasuth (moderat), tawazun (keseimbangan antara akidah dengan realita), al I’tidal (tegak lurus, tak mudah terprovokasi), at tasamuh (toleran). Hanya saja, imbas urbanisasi warga Samin, budaya kota menjadi tradisinya pula seperti rambut disemir. Senior Samin pun tidak berdaya menghadapinya. Bila hal ini tidak dikendalikan maka budaya kota mengubah kekhasan Samin.


2020 ◽  
Vol 23 (2) ◽  
pp. 119-128
Author(s):  
Stanov Purnawibowo

Analisis stakeholders sumber daya arkeologi bawah air di pesisir utara Pulau Bintan merupakan bagian yang terintegrasi dari Program Penelitian Balai Arkeologi Sumatera Utara dengan judul Survey Arkeologi Di Pesisir Utara Pulau Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau yang dilaksanakan tahun 2018 dan 2019 yang berlokasi di perairan Teluk Sumpat. Stakeholders yang terkait dengan sumber daya arkeologi bawah air di lokasi penelitian diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu pemerintah, masyarakat, dan akademisi. Permasalahan yang diajukan terkait ragam jenis sumber daya arkeologi bawah air serta potensi pengelolaannya di masa mendatang. Kajian analisis stakeholders bertujuan untuk mengetahui potensi arkeologi bawah air serta kebijakan pengelolaan konflik antar stakeholders yang akan muncul. Metode yang digunakan adalah dengan mengklasifikasikan data dan isu-isu terkait dengan pengelolaan tinggalan arkeologi di pesisir utara Pulau Bintan. Isu-isu tersebut memberikan gambaran umum tentang potensi konflik yang terjadi di perairan Teluk Sumpat. Potensi konflik tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan salah satu alat analisa konflik, yaitu analisa bawang bombay. Hasil analisis stakeholders menunjukkan adanya kesamaan kebutuhan yang menjadi simpul konflik, yaitu penggunaan lahan. Pengelolaan konflik yang baik untuk jangka panjang dalam proses pengelolaan sumber daya bawah air adalah dengan negosiasi. Negosiasi dapat berupa musyawarah membuat kesepakatan bersama yang mampu mengakomodasi kepentingan stakeholders. Kesepakatan tersebut adalah terkait dengan pemberdayaan masyarakat di sekitar pesisir utara Pulau Bintan, khususnya masyarakat yang memanfaatkan kawasan pesisir dan laut di perairan Pulau Sumpat


Export Citation Format

Share Document